Keserakahan dan Pemiskinan: Ibarat Kotak Pandora

Keserakahan dan Pemiskinan: Ibarat Kotak Pandora

Oleh: Mi’raj Dodi Kurniawan

Image by Kant Smith from Pixabay
Dunia ini mencukupi untuk semua manusia.
Tapi ia tidak akan pernah memuaskan satu orang serakah.
(Mahatma Gandhi)

Apa kemiskinan? Indikator apa yang relevan untuk mengidentifikasi seseorang sebagai orang miskin? Adakah indikator universal untuk mengukurnya? Mungkinkah manusia tidak mengalami kemiskinan? Lalu, apa juga kekayaan? Parameter apa yang tepat untuk digunakan dalam menilai seseorang sebagai orang kaya? Adakah parameter yang universal untuk mengukurnya? Mungkinkah semua orang menjadi kaya? Apa juga kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural? Lantas apa pula kekayaan kultural dan kekayaan struktural?

Kendati persoalan di atas kerap dipandang sebagai pertanyaan-pertanyaan teoritis atau filosofis yang juga dipahami tidak bermanfaat secara praktis bagi kehidupan sehari-hari, namun tidak dapat dipungkiri bahwa menjawab dengan benar semua pertanyaan tadi akan mengakibatkan dahsyatnya kebenaran cara pandang manusia dalam dimensinya sebagai makhluk ekonomi (homo economicus), makhluk sosial (homo socius), dan berbagai dimensi manusia lainnya. Walhasil, akan signifikan memengaruhi tindakan dan kebijakan ekonomi di tataran praktis.

Dalam pengertiannya yang umum, kemiskinan berarti tidak dimilikinya sesuatu (berlaku dalam konteks apa pun) oleh seseorang. Istilah tidak memiliki dalam konsep kemiskinan sering dipahami sekaligus ditafsirkan dengan tidak dimilikinya harta atau materi. Padahal, kemiskinan juga berlaku pada aspek non fisik, mental, atau ruhani. Orang jahat berarti tidak memiliki sifat baik, maka ia miskin sifat kebaikan. Seorang penakut tidak punya sifat berani, ia miskin sifat keberanian. Pemalas tak punya sifat kerja keras, ia miskin sifat kerja keras.

Kemiskinan mencakup kemiskinan material dan mental. Dengan demikian tema kemiskinan dan kekayaan harus dibedakan berdasarkan kedua aspek tersebut. Tidak bisa sembarang menyatakan miskin material secara otomatis berarti miskin pula dalam mental. Orang kaya harta tidak berarti secara otomatis memiliki sifat menderma, karena ada orang kaya harta namun miskin dari sifat itu alias bersifat rakus atau serakah. Demikian pula orang kaya sifat kasih sayang tidak secara otomatis memiliki sifat menderma, karena ada orang yang kaya sifat kasih sayang, namun miskin harta. Akan tetapi, bukan pula berarti aspek material dan mental bertolak belakang dalam hubungan dua posisi yang saling bertentangan (binary opposition). Melainkan, keduanya berbeda sebagai bagian dari konsep yang lebih tinggi yakni kekayaan dan kemiskinan.

Adam Smith (1729-1790), sang pemikir ekonomi Eropa yang legendaris itu melahirkan karya fenomenal An Inquiry into The Nature and Causes of The Wealth of The Nations (1976). Dalam karyanya ini, Smith mengatakan bahwa semua manusia adalah homo economicus (manusia ekonomi). Artinya manusia adalah makhluk yang berusaha terus-menerus memenuhi kebutuhannya, selalu mengejar kemakmuran dan kepentingan untuk dirinya masing-masing. Manusia adalah makhluk ekonomi yang tidak pernah puas dengan apa yang telah diperolehnya.

Di satu sisi manusia tak pernah puas dengan apa yang telah diperolehnya, ia selalu berupaya memperoleh satu kebutuhan dan kebutuhan lainnya, sementara pada sisi yang lain, sayangnya, alat pemuas kebutuhannya juga terbatas atau langka (scarcity). Pada konteks inilah, siklus ekonomi manusia berlangsung demikian dinamis, beradaptasi dengan kenyatan ekonomi yang ada hingga melakukan beragam inovasi di bidang ekonomi demi memuaskan aneka kebutuhannya. Kecenderungan untuk memuaskan hasrat pemenuhan kebutuhan pada satu sisi dan keterbatasan atau kelangkaan (scarcity) alat pemuas kebutuhan di sisi yang lain adalah persoalan mendasar kehidupan ekonomi manusia, sekaligus batasan studi (ilmu) ekonomi.

Libido Ekonomi dan Pemberantasan Kemiskinan

Mendiang Mahatma Gandhi, pejuang dan founding father negeri Bollywood itu pernah berucap tentang betapa dahsyatnya libido ekonomi manusia di berbagai belahan bumi ini dan upaya memberantas kemiskinan yang acap gagal, melalui sebuah kalimat padat berisi. “Dunia ini mencukupi untuk semua manusia. Tapi ia tidak akan pernah memuaskan satu orang serakah” katanya. Dalam pandangan sang Mahatma, dunia ini tak perlu menanggung beban kemiskinan – apalagi kelaparan – sebagian umat manusia, karena planet ini terlampau kaya. Lantas apa sebab yang melatarbelakangi terjadinya kemiskinan dan kelaparan sebagian umat manusia di masa silam dan masa kini? Karena muncul beberapa kelompok orang serakah yang tidak pernah puas dengan kekayaan melimpah yang dimilikinya dan enggan menderma atau memberi peluang kepada yang lain untuk berkuasa menata dan memenuhi kebutuhan ekonominya.

Banyak upaya untuk menanggulangi kemiskinan namun persoalan ini masih saja ada. Ia bagai penyakit yang berakar kuat. Mulai dari sodoran sistem ekonomi kapitalisme liberal, sosialisme komunisme, sistem ekonomi campuan, emaupun sejumlah sistem ekonomi lainnya – Indonesia misalnya, menggagas sistem demokrasi ekonomi berdasar Pancasila – namun belum mujarab menanggulangi seluruh persoalan kemiskinan. Sebagian ahli, salah seorang diantaranya sejarawan dan sosiolog muslim kawakan Ibnu Khaldun mensinyalir bahwa akar persoalan terletak pada ketidaktepatan pengelolaan kekuasaan politik. Terbentuknya lingkaran kemiskinan yang tak berujung mengikuti siklus sebab-akibat yang diutarakan Ibnu Khaldun. Bahwa kekuasaan politik yang tak kompeten dan korup memperbesar kuantitas dan kualitas ketidakadilan, menyengsarakan masyarakat dan menghambat pembangunan (Dr. M. Umar Chapra, 2001: 367).

Kenyataannya kemiskinan tidak saja berdimensi material melainkan pula dalam konteks mental spiritual. Itu sebabnya, menurut Dr. M. Umar Chapra (2001: 381-362) jika visi yang kita miliki tidak semata-mata memaksimalkan pertumbuhan ekonomi, kemakmuran, dan konsumsi, tetapi juga menciptakan sebuah mayarakat dimana kemakmuran material juga diiringi oleh kemajuan spiritual, persaudaraan antar sesama manusia, keharmonisan keluarga dan sosial, keadilan sosial ekonomi dan kesejahteraan untuk semua, maka titik tolak terbaik untuk memulainya ialah seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, yaitu mereformasi manusia.

Manusia merupakan khalifah di muka bumi. Kendati identitasnya merupakan mikrokosmos dari makrokosmos (alam semesta), namun eksistensi dirinya mampu menguasai semesta, entah untuk memperbaiki atau merusak. Lokomotif utama di balik pasang surutnya setiap peradaban adalah manusia itu sendiri. Manusia dapat menjadi sumber keberkahan atau malah sebagai malapetaka, tergantung pada proses pendidikan, karakter, dan sikap mentalnya. Jika moralitas, sebagaimana pula kualitas mentalnya, tidak meningkat, maka ia bisa jadi tidak memiliki kemampuan atau motivasi untuk melakukan hal-hal penting bagi kesejahteraannya, apalagi bagi masyarakat maupun umat manusia.

Kemiskinan dapat disebabkan karena mentalitas manusianya yang enggan untuk bekerja keras. Akan tetapi selain itu, banyak kasus menunjukkan bahwa persoalan ini disebabkan adanya ketidakadilan sistem ekonomi sehingga melahirkan modus-modus pemiskinan. Domain kemiskinan yang terakhir disebutkan menunjukkan adanya konsep kemiskinan struktural yaitu kemiskinan yang tercipta lantaran terjadinya ketidakadilan dalam struktur sosial. Kemiskinan struktural maupun cultural, disebabkan oleh manusia. Manusia merupakan sentral di balik semua persoalan ini. Itu sebabnya, Muhammad SAW melakukan terobosan menanggulangi hal ini dengan mereformasi manusia. Baginda Rasul telah meneladani perlunya hidup kaya dalam segi material maupun mental spiritual.

Jika miskin harta berada dalam kontek material, maka keserakahan adalah bentuk kemiskinan dalam segi mental spiritual yang menyengsarakan, tidak saja bagi kehidupan di dunia, melainkan pula bagi kehidupan akhirat. Dengan demikian strategi jitu untuk menanggulangi kemiskinan material dan mental spiritual ialah dengan cara mentradisikan menderma (filantrofi) serta meningkatkan kemampuan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan ekonomi bagi umat manusia di muka bumi. Mendiang Mahatma Gandhi dengan kata lain berujar bahwa jika di alam ini absen dari orang serakah, maka takkan ada lagi orang miskin – apalagi kelaparan – di muka bumi ini. Pendek kata, alam ini kaya dan niscaya mencukupi kebutuhan umat manusia, kecuali – mustahil cukup – bagi orang-orang yang miskin mental spiritual dan dimiskinkan oleh struktul politik ekonomi.

Agama versus Agama

Sertifikasi Model Portofolio dan Profesionalisme Guru

You will also like

// Social icons // Facebook // VKontakte // Odnoklassniki // Twitter // Instagram // YouTube // Telegram // Search form icon (zoom icon) // Footer WordPress icon // Arrow icon // Edit icon // Rate icon