Harga Buku Lebih Mahal Dibanding VCD Porno Bajakan

Harga Buku Lebih Mahal Dibanding VCD Porno Bajakan

Oleh Mi’raj Dodi Kurniawan

Image by Marisa Sias from Pixabay
Aku ingin bisa menulis!
Menulislah, menulislah, menulislah!
Apa yang mesti ditulis? Aku nggak punya ide!
Tulislah bahwa kamu nggak punya ide! Menulislah!
Mau nulis apa? Bingung nih!
Tulislah kebingungan itu! Menulislah!
Iiih… koq maksa sih, Aku kan nggak bisa!
Tulislah bahwa kamu nggak suka dipaksa
dan juga nggak bisa menulis!
OK, aku akan menulis![1]

Busyet….pantas saja indeks kualitas SDM negeri ini menduduki ranking terbawah, lha wong penduduknya (tidak semuanya memang), kagak doyan melahap buku-buku. Apalagi menuliskan karya-karya bermutu. Pantas saja di hampir semua bidang Iptek, masih menjadi makmum. Imamnya? Ya, siapa lagi kalau bukan negara-negara maju macam Amerika, negara-negara di kawasan Skandinavia, dan Jepang.

Pada paruh kedua sampai menjelang pemerintahan Orde Baru gulung tikar, bangsa ini memang pernah bangga luar biasa, lantaran satu warganya, namanya B.J. Habibie, tercatat sebagai salah seorang disainer pesawat terbang di mata dunia internasional. Tidak sedikit pula para pelajar Nusantara menggondol juara pada perhelatan kompetisi antar pelajar tingkat dunia. Bahkan kita dapat bernafas lega dengan prestasi Susi Susanti dan Taufik Hidayat dalam olah raga bulu tangkis.

Sayangnya semua itu bersifat individual. Nyaris secara kolektif, bangsa ini terpuruk. Tidak saja dalam soal klasik: ekonomi, melainkan juga di lini pendidikan dan perkembangan Iptek. Wabilkhusus dalam dunia perbukuan: budaya membaca dan menulis bangsa ini masih lemah. Pokoke, hasil survey kiwari menunjukkan bahwa kurva minat warga Indonesia terhadap membaca dan menulis masih di barisan ekor.

Tercatat, jumlah buku yang terbit di Indonesia sekitar 3.000 judul per tahun. Di Jepang lebih dari 40.000 judul (hampir setengahnya terjemahan). Di Amerika Serikat sekitar 100.000 judul, dan di Inggris 60.000 judul. Minimnya jumlah buku yang terbit di tanah air mengisyaratkan rendahnya minat baca masyarakat kita. Fakta ini sekaligus menunjukkan sedikitnya jumlah penulis buku di Indonesia .[2]

Quo vadis Indonesia ? Hari gini masih abai terhadap kebiasaan membaca dan menulis. Ah, sungguh mengecewakan! Tambah mengecewakan manakala menengok harga buku-buku bermutu belakangan ini malah terasa tambah mahal. Jauh lebih mahal berkali lipat dibanding VCD porno bajakan di emperan. Bukannya nihil, tapi buku-buku bermutu yang dihasilkan anak negeri, harus diakui, jarang.

Bolehlah kita berbangga hati dengan karya-karya HAMKA. Atau kita juga boleh sedikit membusungkan dada, beberapa millimeter ke depan, lantaran sederet novel Pram (Pramoedya Ananta Toer) banyak dilahap orang. Bahkan diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa asing di berbagai belahan dunia. Beberapa tahun silam Habiburrahman El Shirazy juga laris manis menjajakan Ayat-Ayat Cinta.

Betapa pun Andrea Hirata, pasti, tersenyum bahagia lantaran tetralogi novel Lasykar Pelangi bikinannya best seller di pasaran, namun ia sendiri mengaku gelisah dengan budaya penulisan novel di tanah air, belakangan ini, yang nyatis sepi dari karya-karya istimewa. Menurutnya, kebanyakan penulis novel di tanah air menjadi pengekor. “Tidak sadarkah kita betapa bebalnya fenomena ini!” ucap Andrea, kurang lebih, pada suatu acara talkshow di sebuah stasiun televisi nasional.

Namun sepertinya kita harus mengerem laju caci maki yang membuncah seputar sepinya produksi karya-karya bermutu, baik itu tulisan ilmiah maupun novel, di tanah air. Kali ini, sebaiknya, kita benar-benar serius melihat, tentu dengan sorot mata tajam, pada fenomena butanya kebiasaan membaca penduduk dari ujung Pulau Weh sampai Pulau Rote. Apalagi perihal kebiasaan menulis.

Minat baca dan minat menulis bersifat timbal balik, alias – meminjam istilah Deddy Mulyana – seperti dua sisi mata uang. Artinya semakin tinggi minat baca masyarakat, semakin banyak penulis dalam masyarakat ini, demikian sebaliknya. Orang takkan tergerak untuk menulis bila mereka tidak gemar membaca. Pendek kata, “apa yang mau ditulis bila pengetahuan mereka tidak memadai?”

Membaca dan menulis, memang, bukan segala-galanya. Akan tetapi menjadi poin segalanya dalam upaya mentransformasikan pengetahuan – hal mana sangat penting dalam ikhtiar memajukan kehidupan bangsa. Sebagaimana kata Prof. Deddy Mulyana, pengetahuan memang tidak harus langsung diperoleh dari bacaan, namun bacaan akan merangsang kita untuk berefleksi dan mengamati fenomena di sekeliling kita – baik yang nyata (fenomena alam) ataupun yang lebih samar (fenomena sosial).

Selain itu, bacaan juga untuk mencari rujukan lain yang relevan, sehingga dengan pengetahuan yang kita cerap dan ilham yang kita peroleh, kita pun akan tergerak menulis, baik itu buku atau sekedar artikel. Itulah senarai manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan membaca vis a vis menulis. Persoalannya adalah, bagaimana membangkitkan semangat terhadap kedua kegiatan ini?

Semangat untuk menulis akan semakin besar bila penulis mengetahui bahwa terdapat minat baca yang tinggi di kalangan masyarakat, karena ia yakin tulisannya akan dibaca orang. Imbalan psikologis ini penting bagi penulis. Kepuasannya akan paripurna bila tulisannya juga mendatangkan imbalan materi, meskipun hal itu bukan segala-galanya. Yang pasti, hasil tulisan akan marketable di kalangan masyarakat dengan minat baca tinggi, daripada di masyarakat dengan minat baca rendah[3].

We live for now and tomorrow, not for yesterday. Persoalan masih minimnya minat baca dan menulis di tanah air sesungguhnya batu sandungan bagi bangsa ini untuk melaju menjadi negara maju. Karenanya masalah ini tidak bisa ditoleh sambil lalu. Ini menuntut perhatian optimal. Saatnya kita putuskan mata rantai problema di sekitar lini baca dan nulis.

Bayangkanlah, betapa indahnya menikmati buku atau menuliskan gagasan kita, sesederhana dan seremeh apa pun. Dengan ditemani semilir angin. Sruput…teh manis hangat atau susu sereal. Amm…yammi…roti bakar atau martabak bangka. Wuih… amboi…nikmatnya. Mak nyus! Lahaplah sebanyak-banyaknya makanan untuk ruhani, dan santapan lezat untuk jasmani kita, secukupnya.

Last but not least, hidup kita dua kali. Sekarang kali pertama. Maka janganlah membiarkan diri melewatkan hidangan aneka buku. Kemudian, the show must go on, tiba saatnya dunia melihat Indonesia . Bukan lagi karena korupsi atau menggunungnya jumlah utang luar negeri, melainkan lantaran warga Indonesia telah memiliki satu kebiasaan baru yang istimewa: gemar membaca dan menulis.

Jadi, mau dong mulai membiasakan baca dan nulis, lalu menularkannya pada lingkungan terdekat kita atau para peserta didik. Karena, hari gini gitu loch!

Kepemimpinan: Keniscayaan dan Tantangan

Agama versus Agama

You will also like

// Social icons // Facebook // VKontakte // Odnoklassniki // Twitter // Instagram // YouTube // Telegram // Search form icon (zoom icon) // Footer WordPress icon // Arrow icon // Edit icon // Rate icon