Tanya-Jawab Seputar Dunia Penulisan Bersama Setiawati Intan Savitri (Bagian II)

Tanya-Jawab Seputar Dunia Penulisan Bersama Setiawati Intan Savitri (Bagian II)

Jawaban BM Oktober 08

Mbak I-Je, mana yang lebih dibutuhkan penulis untuk membuat cerita yang menarik: tema yang kuat atau gaya bahasa yang khas? Mengapa? (Sari-Jakarta)

Sari yang baik,
Tentang tema yang kuat dan bahasa yang khas, kedua-duanya adalah hal yang penting bagi sebuah tulisan. Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita lihat dulu apa itu tema ya, tema menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pokok pikiran; dasar cerita (yang dipercakapkan dipakai sebagai dasar mengarang dan menggubah sajak), sedangkan gaya bahasa mengandung arti 1) pemanfaatan atas kekayaah bahasa oleh seseorang dalam bertutur dan menulis, 2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, 3)keseluruhan cirri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra, 4)cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan.
Nah, jika merujuk pada definisi itu, maka tema dan gaya bahasa sangat diperlukan dalam sebuah tulisan. Tentu jika ditanyakan mana yang lebih dibutuhkan, kedua-duanya dibutuhkan. Tetapi, jika pertanyaannya bisakah seorang penulis memilih mana yang akan ditonjolkan dan menjadi kekuatan sebuah tulisan, maka tentunya, bisa dipilih satu diantara keduanya. Begitu, ya.

Agar lebih mudah, saya akan mengulas sebuah contoh cerita ya. Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, ada dua pengarang yang bisa dibandingkan dalam masalah penonjolan tema atau gaya bahasa, diantaranya adalah Idrus dan Nur Sutan Iskandar. Jika Idrus menekankan pada tema yang kuat, sedangkan Nur Sutan Iskandar, lebih terkenal karena penonjolan lokalitas budaya dan gaya bahasanya yang indah.
Yuk, kita bahas satu persatu ya.

Menurut H.B.Jassin gaya penulisan Idrus disebutnya sebagai kesederhanaan baru (nieuw zakelijheid)- Ajip Rosidi menyebut gaya penulisan Idrus sebagai gaya-menyoal-baru (nieuw zakelijheid stijl) yang serba-sederhana. Nah, salah satu cerpen Idrus yang paling baik adalah roman pendeknya yang berjudul Aki (Balai Pustaka,1949), itu kata Teeuw (1980: 221). T,ema yang diambil Idrus pada roman pendeknya yang berjudul Aki itu adalah tentang kematian, tetapi Idrus mengemasnya dalam gaya satire atau lelucon, ia seperti menertawakan kematian. Ceritanya, sang tokoh yang bernama Aki mengidap penyakit TBC yang akut, sehingga menampakkan ia menjadi seorang laki-laki yang jauh lebih tua dari usianya. Usia Aki yang baru 29 tahun nampak seperti 42 tahun. Bentuk tubuh Aki yang bongkok bisa menjadi bahan tertawaan yang mengasyikkan, tetapi hal itu tidak dilakukan teman-teman kantornya, mereka bahkan sangat menghormati Aki. Pada suatu masa, penyakit TBC Aki mencapai titik kritis, puncaknya adalah ketidakbernapasan Aki untuk beberapa saat, Sulasmi istrinya terkejut, ia panik. Dan, ketika suaminya siuman, dengan tersenyum Aki mengatakan pada istrinya bahwa ia akan mati pada tanggal 16 Agustus tahun depan. Dengan sungguh-sungguh ia mengatakan pada Sulasmi, agar mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi hari kematiannya itu.

Rekan-rekan Aki di kantor menganggapnya sudah gila, demikian pula kepala kantornya. Sang kepala kantor, sedianya telah menyiapkan kenaikan pangkat dan gaji bagi Aki, pegawai kesayangannya itu. Ia kemudian menyelidiki tingkah-laku Aki, ternyata tak satupun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia gila.
Ketika hari kematian Aki tiba, Semua orang bersiap-siap. Anak-anak Aki meminta izin untuk tidak masuk sekolah, Pegawai kantor menghiasi mobil kantor dengan bunga-bungaan. Kepala Kantor berlatih melafadzkan pidato yang kelak akan dibacakan di kubur Aki. Sedangkan Aki sendiri telah mengenakan pakaian terbaiknya untuk menyambut malakul maut, pukul tiga sore nanti.

Pukul tiga lewat, Sulasmi memberanikan diri menengok kamar suaminya, nah, apa yang terjadi? Dilihatnya mata suaminya tertutup rapat. Ia kemudian memanggil-manggil nama suaminya dengan menangis, dan tidak mendapatkan jawaban lalu ia pun lari keluar kamar. Tahulah semua orang bahwa Aki telah meninggal. Saling berebut orang-orang masuk ke kamar Aki, apa yang mereka lihat? Mereka melihat Aki sedang merokok, dengan tenang.
Sejak saat itu, Aki terlihat semakin sehat dan tampak lebih muda. Justru, kepala kantornyalah yang meninggal pada saat itu, dan kemudian Aki menggantikan kepala kantornya itu.
Cerita dengan tema yang sangat menarik bukan? Nah, tentang gaya bahasa yang bagus, kita akan membicarakannya bulan depan, ya. Saran mbak I-je untuk Sari, banyak-banyaklah membaca karya sastra, sehingga jika Sari akan menulis kelak, Sari akan mudah menemukan tema yang unik dan menyusun gaya bahasa khas-mu sendiri.
Salam

tanya jawab seputar menulis

Tanya-Jawab Seputar Dunia Penulisan Bersama Setiawati Intan Savitri (Bagian I)

tanya jawab seputar menulis

Tanya-Jawab Seputar Dunia Penulisan Bersama Setiawati Intan Savitri (Bagian III)

You will also like

// Social icons // Facebook // VKontakte // Odnoklassniki // Twitter // Instagram // YouTube // Telegram // Search form icon (zoom icon) // Footer WordPress icon // Arrow icon // Edit icon // Rate icon