PENGARANG DI PADANG GERSANG

PENGARANG DI PADANG GERSANG

Gambar oleh santiagotorrescl95 dari Pixabay

Oleh: Wardjito Soeharso

Image by Pexels from Pixabay

Pengarang itu pekerjaannya mengarang. Hasil karyanya disebut karangan. Sekarang pengarang sering pula disebut penulis. Karena penulis itu pekerjaannya menulis. Hasil karyanya disebut tulisan. Mestinya ada perbedaan antara karangan dan tulisan.

Karangan itu murni hasil olah cipta pikiran yang disebut rekaan. Rekaan itu imaginatif, sesuatu yang muncul karena inspirasi yang masuk ke dalam pikiran, lalu diolah sedemikian rupa, dirangkai, disusun, dan dituangkan dalam bentuk karangan. Apakah itu berupa puisi, fiksi (cerpen, novel), atau drama. Ketiga bentuk karangan itu disebut karya sastra. Sebagai hasil rekaan imaginatif dan inspiratif, maka karya sastra dikategorikan “something invented” atau sesuatu yang “ditemukan”. Sedangkan, penulis adalah orang yang pekerjaannya menulis. Ya menulis apa saja, menulis buku, menulis berita. Menulis buku, terutama tentang ilmu pengetahuan, perlu ada landasan teori, riset dan observasi, dukungan data dan informasi yang jadi referensi, sehingga ada tanggungjawab ilmiahnya (scientific). Buku tentang ilmu pengetahuan tidak boleh dikarang seenak udelnya sendiri. Begitu pula menulis berita, harus didasarkan pada peristiwa faktual, obyektif dan menghindari opini agar berita yang ditulis bisa dipertanggungjawabkan secara jurnalistik. Oleh karena itu, karya jurnalistik disebut “something factual” atau sesuatu yang “nyata”, benar-benar terjadi.

Jadi, pengarang itu mencari sesuatu yang belum ada (dengan imaginasi) lalu menjadikannya ada dan memberikannya kepada khalayak berupa cerita fiktif-rekaan (karya sastra). Sedang penulis itu mencari sesuatu yang sudah ada (fakta sebagai data dan informasi) dan menjadikannya sesuatu yang lebih baru, kemudian memberikannya kepada khalayak berupa informasi (buku-ilmu pengetahuan) atau cerita faktual (berita).

Hanya karena dalam menuangkan karya ciptanya pengarang juga menulis, maka sering pula pengarang disebut penulis. Kalau dilihat proses dan hasil akhirnya, menulis itu lebih rumit daripada mengarang. Tapi ternyata lebih banyak orang jadi penulis daripada pengarang. Ini karena menulis itu pengetahuan yang bisa dipelajari, sedangkan mengarang itu seni yang sebagian besar muncul sebagai bakat alami.

Tapi bukan perbedaan yang tipis itu yang akan dibicarakan di sini. Baik pengarang maupun penulis sama-sama membutuhkan media sebagai tempat untuk mewadahi hasil karyanya. Banyak penerbit menerbitkan karya para penulis, dalam bentuk buku. Banyak koran dan majalah menerbitkan karya para penulis, dalam bentuk berita dan tulisan ilmiah populer. Tetapi tidak banyak penerbit yang menerbitkan karya para pengarang, dalam bentuk antologi puisi, cerpen, novel, atau naskah drama. Tidak banyak koran dan majalah yang memberikan ruang cukup untuk menerbitkan karya para pengarang, baik puisi, cerpen, novel, apalagi naskah drama.

Jadi wajar kalau pertumbuhan pengarang lebih sulit ketimbang penulis. Lahan pengarang lebih terbatas. Sudah terbatas, lahan yang tersedia adalah lahan berupa padang gersang lagi.

Pengarang memang merana. Arena geraknya sangat terbatas. Terutama media massa, seperti koran dan majalah, tidak cukup menampung karya para pengarang. Sebenarnya, banyak pengarang yang mulai muncul dan tumbuh, tetapi karena tidak memiliki lahan layak untuk terus tumbuh dan berkembang, banyak pengarang yang tersembunyi, dan akhirnya mati tidak diketahui.

Koran dan majalah hanya memberikan ruangnya kepada pengarang-pengarang yang sudah mapan, punya nama, populer, dikenal publik. Sedang untuk pengarang-pengarang muda, pemula, belum punya nama, belum dikenal publik, sulit menembus masuk ruang publik lewat koran dan majalah. Ini bisa dimengerti, mungkin karena karya para pengarang muda dan pemula, banyak yang masih mentah, dangkal, atau apapun istilahnya untuk menyebut karya mereka belum “bernilai” seni atau sastra. Persepsi seperti ini mestinya tidak selalu benar. Walaupun pengarang muda, pemula, tetapi bisa saja karyanya sudah menunjukkan kematangan, sudah memiliki “nilai” lebih dilihat dari seni dan sastra.

Tetapi begitulah. Hegemoni media dengan orientasi infotainmentnya (semua info harus ada unsur menghibur), membuat koran dan majalah lebih senang memberikan tempatnya kepada pengarang mapan. Media takut kalau pengarang muda, pemula, banyak diberi ruang dan kesempatan, publik tidak akan membacanya, dan medianya tidak laku dijual.

Apalagi dalam dunia kepengarangan, banyak dikenal berbagai paham dan aliran. Dan masing-masing paham dan aliran punya pengikut dan penikmat sendiri-sendiri. Kalau seorang pengarang mengikuti aliran dan paham ”mainstream”, yang umum, yang banyak dikenal publik, tidak masalah. Karyanya mudah diterima dan media juga lebih mudah memberikan ruangnya kepadanya. Tapi kalau seorang pengarang menganut aliran dan paham ”non-mainstream”, yang tidak umum, yang tidak banyak dikenal dan diminati publik, seperti aliran ”stream of unconciousness”, aliran sastra yang menafikan logika berpikir runtut, masalahnya menjadi lain. Pengarang dengan aliran seperti ini akan cenderung terpinggirkan oleh media. Padahal kita semua tahu, dunia seni dan sastra adalah dunia yang kaya warna, penuh keserba-mungkinan, yang tak kenal dimensi batas dalam pengembaraan imaginasi. Siapapun yang ingin jadi penikmat sejati seni dan sastra, harus mengikuti konsep ketak-terbatasan ini.

Kembali kepada pengarang dan media, keterbatasan ruang yang diberikan media perlu disikapi lebih kreatif. Koran dan majalah memang padang gersang untuk tumbuhnya pengarang. Oleh karena itu, pengarang, terutama yang muda dan pemula, perlu mencari ladang lain yang lebih subur untuk tumbuh dan berkembang. Di samping mendorong media konvensional seperti koran dan majalah agar lebih banyak mengakomodasi karya-karyanya, perlu dicari pula media alternatif sebagai wadah baru yang lebih menjanjikan.

Media online, atau cyber media, atau internet kayaknya bisa menjadi media alternatif yang cukup subur. Sudah banyak ruang ditawarkan di sana, dalam bentuk blog maupun web yang khusus menampung karya para pengarang muda dan pemula, untuk menulis tentang apa saja. Dunia online adalah dunia baru yang menawarkan apa saja termasuk menawarkan lahan persemaian dan pertumbuhan bagi para pengarang muda dan pemula.

Maka, jadi pengarang sekarang tidak boleh gaptek (gagap teknologi). Komputer dan internet sudah harus jadi sarana utama untuk meningkatkan proses kreatif kepengarangan. Itu kalau tidak ingin selamanya tumbuh kerdil di padang gersang, lho! ***

———————
*) Wardjito Soeharso, pengarang yang juga penulis, pengelola media online www.penulismuda.com. Tinggal di Semarang.

organisasi guru penulis

Organisasi Guru Penulis dan Budaya Menulis di Kalangan Guru

bahan ajar puisi

Bahan Ajar Puisi: Antara Tuntutan Kurikulum dan Kepentingan Apresiasi

You will also like

// Social icons // Facebook // VKontakte // Odnoklassniki // Twitter // Instagram // YouTube // Telegram // Search form icon (zoom icon) // Footer WordPress icon // Arrow icon // Edit icon // Rate icon