Organisasi Guru Penulis dan Budaya Menulis di Kalangan Guru

Organisasi Guru Penulis dan Budaya Menulis di Kalangan Guru

Gambar oleh 정수 이 dari Pixabay

Oleh Deni Kurniawan As’ari

Guru merupakan sebuah profesi yang ‘memungkinkan’ pelakunya untuk melakukan aktivitas menulis. Mengapa? Karena secara kapasitas intelektual memadai, pengalaman mendukung dan dari segi waktu atau kesempatan terbuka lebar. Berbagai topik dapat dipilih untuk menjadi bahan tulisan, mulai dari permasalahan pembelajaran, isu pendidikan, kebijakan pemerintah, sampai menulis buku atau artikel di media massa.

Namun, fenomena memprihatinkan muncul di lapangan, bahwa sebagian besar guru khususnya di Jawa Tengah masih enggan menulis. Data yang dikemukakan Sukartono, S.Ip., MM (LPMP Jawa Tengah, 4/2) saat membuka pertemuan guru penulis menarik dicermati, bahwa persentase guru PNS di Jawa Tengah yang sudah berhasil naik pangkat ke golongan IV-B masih sangat rendah. Untuk guru SD (0,20%), SMP (2,04%), SMA (1,65%), dan SMK (1,46%). Menurut beliau, banyaknya jumlah guru yang mentog pada golongan IV-A disebabkan karena sebagian besar guru masih mengalami kendala dalam mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi melalui penulisan karya ilmiah (Sawali Tuhusetya : http://sawali.info). Nasib serupa dialami sebagian besar guru swasta yang banyak mengalami kegagalan saat mengikuti sertifikasi karena pengembangan profesi berupa karya tulisnya masih kosong-molongpong.

Faktor Penyebab


Ditengarai ada sejumlah faktor yang menyebabkan para guru itu masih enggan menulis diantaranya:
Satu, kesibukan. Sebagian besar guru mengatakan bahwa tugas guru sangat banyak terutama terkait dengan administrasi pembelajaran, ditambah lagi kalau mendapat tugas tambahan sebagai wakil kepala, ketua jurusan, pembimbing ekstra atau wali kelas sehingga konon nyaris tidak ada waktu untuk menulis.

Dua, terjebak rutinitas kerja. Aktifitas mengajar dari pagi sampai siang, bahkan sampai malam bagi sebagian guru yang suka ngelesi (memberi pelajaran tambahan) tanpa sadar telah menjadikan guru terpola, yang hari-harinya diisi hanya untuk mengajar dan mengajar. Tiga, rendahnya motivasi menulis. Barangkali faktor ini yang paling ‘berbahaya’ ketika keinginan untuk menulis memang lemah atau sama sekali tidak ada. Empat, kemalasan. Inilah sesungguhnya yang banyak menjangkiti para guru. Ada perasaan berat dan seolah menjadi beban tersendiri ketika harus menulis. Kemalasan ini tidak hanya dalam aktivitas menulis tetapi juga membaca. Dan, ketika membaca sudah malas maka bagaimana mau menulis. Pelbagai faktor di atas, barangkali masih perlu didiskusikan lebih lanjut. Yang jelas, alasan kesibukan dan pekerjaan sebenarnya dapat disiasati ketika keinginan menulis telah tumbuh dalam diri.

Pentingnya Organisasi Guru Penulis


Salah satu cara untuk mengatasi keengganan para guru untuk menulis adalah perlunya suatu wadah yang secara simultan dan terarah menciptakan iklim dan nuansa menulis yang pada akhirnnya mampu mendongkrak animo guru untuk menulis. Secara umum ada tiga alasan pentingnya wadah guru penulis. Satu, mewujudkan budaya menulis. Organisasi yang secara khusus dan fokus dalam kepenulisan diharapkan akan menciptakan tradisi menulis di kalangan guru. Pengurus dan anggota yang tergabung dalam wadah ini dapat saling berinteraksi satu sama lain untuk mewujudkan budaya menulis.

Dua, memahami dunia kepenulisan. Melalui wadah ini dimungkinkan terbantunya para guru yang sebelumnya masih kesulitan menulis atau bahkan malas untuk mulai menulis. Berbagai kegiatan dan event yang sekiranya mendukung seperti workshop, diskusi, seminar, temu penulis, sharing, atau bedah buku dapat menjadi alternatif yang bermanfaat. Apalagi fasilitas saat ini yang dapat dimanfaakan para guru untuk belajar menulis sungguh sangat banyak, termasuk aktivitas guru ngeblog penyemaian berbagai tulisan.

Tiga, Peningkatan kesejahteraan dan karir. Melalui organisasi guru penulis akan semakin ‘membanjir’ guru yang mau dan mampu menulis. Dampaknya langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap kesejahteraan guru. Misal, ada guru yang menyusun buku dan bukunya best seller sehingga memperoleh royalti yang melebihi gajinya sendiri. Selain itu kenaikan pangkat terutama bagi guru PNS akan berjalan lancar, termasuk guru swasta yang ingin lolos sertifikasi. Tentu saja, kesejahteran dan karir bukan tujuan utama, yang paling penting justru ketika para guru uang konon sekarang telah mendapat gelar baru sebagai insan cendekia dapat memaksimalkan amal sosialnya melalui tulisan-tulisan yang mencerahkan untuk kemajuan pendidikan.

AGUPENA, Antara Tantangan dan Harapan


Salah satu organisas yangi concern di dunia kepenulisan dan di Provinsi Jawa Tengah baru terbentuk adalah Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena). Organisasi ini muncul pertama kali digagas oleh Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Doktor Fasli Jalal, pada tanggal 28 Nopember 2006 (http://agupena.org). Dalam perkembangannya, organisasi ini menghimpun para guru yang memiliki minat untuk mengembangkan diri dalam dunia kepenulisan.

Visi Agupena yaitu “melalui kegiatan menulis dan membaca, membimbing dan mendidik anak didik, menjadi manusia yang cerdas, aktif, kreatif, beriman dan bertaqwa, dan memiliki pola pikir yang cerah dan teratur”. Adapun misinya meliputi dua aspek, yaitu:
A. Aspek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Olah raga, dan Kesehatan yang diisi dengan butir-butir kegiatan, antara lain 1).Pelatihan Penulisan Silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, 2).Pelatihan Penulisan Rencana Program Pembelajaran (RPP), 3).Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah (buku pelajaran, makalah) yang terkait dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Olah raga dan kesehatan, 4).Pelatihan Penulisan Modul Bahan Ajar, 5) Penerbitan jurnal ilmiah, 6).Pelatihan menulis bagi siswa, 7).Lomba menulis dan membaca bagi guru dan siswa, 8).Dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan menulis dan relevan dengan tujuan pendidikan nasional dan pengembangan profesi guru.

B.Agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, dan estetika yang meliputi: 1) Pelatihan Penulisan karya ilmiah yang terkait dengan Agama dan Akhlak Mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, dan estetika, 2) Pelatihan Penulisan karya sastra (fiksi/non fiksi) dalam bentuk novel, puisi, cerpen, dan essay, 3) Pelatihan menulis karya sastra bagi guru dan siswa, 4) Penggalakan dan pemberdayaan majalah dinding sekolah dalam rangka membangun logika siswa lewat membaca dan menulis, 5) Dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan menulis dan relevan dengan tujuan pendidikan nasional dan pengembangan profesi guru.

Dengan mencermati visi dan misi AGUPENA, maka tidak menutup kemungkinan bahwa organisasi ini akan mampu mendorong budaya menulis di kalangan guru. Harapan ini sesungguhnya wajar saja ketika para guru yang terlibat dalam pembentukannya memiliki semangat MEMBANGUN SEMANGAT BERBAGI. Di samping itu, dukungan dari berbagai tokoh dan lembaga terhadap kelahiran organisasi sungguh luar biasa.

Barangkali tantangan yang perlu dihadapi oleh pengurus AGUPENA adalah bagaimana menjaga soliditas dan komitmen untuk selalu bekerjasama dan sama-sama bekerja. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan dan kreativitas pengurus untuk menggali dana, agar organisasi berjalan dengan baik, ketika AGUPENA telah mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi yang independen, mandiri dan lepas dari pelbagai kepentingan pribadi dan politik sekaligus tidak akan menggantungkan diri dari bantuan dana yang bersumber dari pemerintah.

Akhirnya, semoga kelahiran AGUPENA dapat turut serta bersama organisasi lain dalam upaya pembudayaan menulis di kalangan guru dan memajukan dunia pendidikan.

Wallahu a’lam bhisshowab
———————-
Deni Kurniawan As’ari, Ketua Umum Agupena Jawa Tengah

Cerita Pengalaman MENJADI KEPALA SEKOLAH BARU

penulis di padang gersang

PENGARANG DI PADANG GERSANG

You will also like

// Social icons // Facebook // VKontakte // Odnoklassniki // Twitter // Instagram // YouTube // Telegram // Search form icon (zoom icon) // Footer WordPress icon // Arrow icon // Edit icon // Rate icon