Thursday, 19 April 2012 (01:56) | Cerpen | 105 views | 1 komentar

Karya Marsus Banjarbarat Cerpenis Sumenep, Madura dan Penulis buku Bukan Perempuan (Grafindo, 2010), Lelaki yang Dibeli (Buku Litera, 2011), Riwayat Langgar (Arti Bumi Intaran, 2011). Ia menangis saat mendengar suara iba putrinya yang sudah sebelas tahun bekerja di Arab Saudi. Ia sangat terharu, tak menyangka kalau akhirnya bisa mendengar suara putri kesayangannya yang cantik itu. Dengan penuh rasa senang, Mursalam telah memperoleh kabar prihal keadaan anaknya di Arab Saudi. Ya, kabar Putri maskipun... (more...)
SRI RANGGAH RAJASA SANG AMURWABHUMI
Wednesday, 19 October 2011 (22:16) | Cerpen | 207 views | 1 komentar
Cerpen Narwan S. Kelana MATAHARI memancarkan cahaya tepat di atas ubun-ubun. Seorang pemuda dengan langkah cepat menuju utara. Di pinggangnya terselip keris tak ber-warangka, hanya dibungkus kain putih. Bungkusan itu sesekali dipegangnya. Ia memastikannya tidak jatuh, atau terlihat orang lain. Ken Arok , pemuda jelata itu, ingin segera sampai di Tumapel. Ingin ia mengabdi di Pakuwon Tumapel. Dia yakin sekali untuk mencapai cita-citanya -menjadi seorang raja- harus dimaulai dari bawah. Mulai menjadi... (more...)
Friday, 8 July 2011 (20:15) | Cerpen | 210 views | 0 komentar
Oleh : Rully Ferdiansyah Saat aku baru saja lulus kuliah dan sedang berada dalam masa-masa yang bergelora, penuh semangat, aku diterima menjadi wartawan mingguan, sebuah pekerjaan yang kelak akan mengubah cara pandangku selamanya. Sepanjang pengalamanku menjadi wartawan hanya seorang kakek tua bernama, Sokhari yang kisah hidupnya menurutku paling berkesan di hati dan akan kuingat selamanya. Jika keteguhan dan kesabaran adalah merupakan rangkaian gerakan sikap yang selalu berkelanjutan, tak berkesudahan,... (more...)
Belajar Ngaji di Pasar Tanah Abang
Monday, 18 April 2011 (06:52) | Cerpen | 124 views | 1 komentar

Oleh Rully Ferdiansyah —–Alumnus Politeknik Piksi Input Serang—– “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam menjalani hidup. Cukup dengan modal jujur dan prasangka baik, kedua modal itu sudah bisa mencukupi hidup, Allah akan menjamin segala kesejahteraan kehidupan kita,” Abah Mufassir Rustam adalah seorang lulusan pesantren salafiyah di Petir. Akan tetapi ketika ia pulang ke kampung halamannya, semua orang di kampungnya selalu menggunjingnya karena Rustam dianggap sebagai... (more...)
SURAT TERAKHIR UNTUK BU GURU DARSIH
Saturday, 19 March 2011 (03:53) | Fiksi | 303 views | 1 komentar
Oleh : Bambang Sukmadji —Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak JATENG— KADARWASIH berkali kali mengusap tas hitamnya yang ditebari debu-debu yang hinggap di kulit hitam tasnya, hingga kelihatan kumal. Lantaran debu debu itu masih saja terus beterbangan terbawa angin kemarau yang ditiupkan dari Gunung Slamet, setelah debu debu nakal itu menjelajahi hutan hutan pinus yang mulai tandus. Apalagi di tengah hari, saat matahari benar benar lurus di atas kepala, debu itu semakin liar menempel... (more...)
Saturday, 22 January 2011 (18:41) | Cerpen | 99 views | 0 komentar

Cerpen Marsus Banjarbarat* Arini baru sadar, ketika dia sedang membuka lembaran kalender, bahwa sebentar lagi—hanya tinggal menghitung jari saja perjalanan hidupnya telah memasuki pergantian tahun. Ya, dari tahun 2010 beranjak ke tahun 2011. Selama satu tahun ini, Arini hanya menjalani hidup yang tak pernah menemukan sesuatu yang terkesan dan dapat memberi warna lain dalam hidupnya. Apa lagi bisa merubah hidupnya yang setiap harinya hanya ke kampus kuliah, pulang kos seusai kuliah. Ya, hanya itu-itu... (more...)
Sunday, 19 December 2010 (20:59) | Cerpen | 5,665 views | 8 komentar

Oleh Nusrotul Bariyah (Anggota Agupena Jawa Tengah) Engkaulah minyak atar Meskipun masih tersimpan Dalam kuntum yang akan mekar (Iqbal, Javid Nama)1 Buku bertajuk cinta. Ah, buku itu begitu menarik hatiku. Apakah mungkin karena aku yang tengah dilanda cinta, ataukah aku yang sangat ingin mengerti hakikat dan makna cinta, dan mampu mendefinisikannya secara tertata. Ataukah aku yang ingin memiliki cinta dan memaknainya sebagai kata kerja, bukan kata benda, ataukah, aku yang sangat ingin menjadi pemuja... (more...)
Monday, 13 December 2010 (08:08) | Cerpen | 69 views | 2 komentar
Oleh SARDONO SYARIF -Ketua Umum Agupena Kab. Pekalongan- Domiyang adalah desa tempat tinggal Imam. Anak itu dilahirkan dari keluarga tak mampu. Bapaknya bernama Rawi. Usianya sudah hampir enam puluh tahun. Sumi, ibunya pun umurnya sudah cukup tua. Adapun Imam merupakan anak tunggal mereka. Entah oleh pengaruh siapa, setelah agak besar, Imam memiliki sifat nakal. Dia berani membantah perintah kedua orang tuanya. Bahkan sering ia menyakiti hati Pak Rawi dan Bu Sumi. Padahal ketika kecil dulu Imam... (more...)
ARCHIPELAGO Di KERETA BIRU SENJA
Friday, 10 December 2010 (04:56) | Cerpen | 79 views | 0 komentar

Penulis : Ir. Bambang Sukmadji Guru MA Futuhiyyah 1, Mranggen Demak JATENG Roda roda baja terus saja menggilas batang batang baja, yang terbujur dingin di keremangan senja, hijau tanaman padi yang dari sore terus saja berkejaran sepanjang jendela kereta yang berdebu, kini lelah dan terbungkam sepi. Hanya gertakan roda dan batang baja yang menyeruak ke telinga setiap penumpang yang tertunduk lesu. Angin sore pantai utara dengan usilnya menerobos kaca jendela kereta, dan membelai hitam rambut berderai... (more...)
Yuk, Ikut Lomba Penulisan Esai dan Cerpen AJB Bumiputera!
Friday, 27 March 2009 (11:53) | sastra | 361 views | 0 komentar

Oleh: Sawali Dalam rangka memeringati hari ulang tahunnya yang ke-97, Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 bekerjasama dengan Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam), mengundang masyarakat umum, terutama para pencinta sastra, untuk mengikuti “Lomba Penulisan Esai” dan “Lomba Penulisan Cerita Pendek (Cerpen).” Lomba Penulisan Esai Topik : “Asuransi dan Saya” Persyaratan Peserta : Para blogger di seluruh Indonesia; Memiliki blog pribadi selama minimal 3 bulan per Maret 2009; Melampirkan... (more...)
Catatan terhadap Cerpen-cerpen Sawali Tuhusetya *)
Wednesday, 18 February 2009 (06:32) | Esai, Fiksi | 608 views | 2 komentar

Oleh: Kurnia Effendi Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan pengalaman luar biasa dengan membaca cerpen-cerpen panjang (yang seolah melawan kaidah istilahnya sendiri)... (more...)
Wednesday, 18 February 2009 (06:19) | Fiksi | 347 views | 1 komentar

Cerpen: Sawali Tuhusetya Bulan sepotong semangka menggantung di bibir langit yang berkabut. Temaram. Angin malam berkesiur lembut, menaburkan hawa busuk kematian. Seisi kampung seperti tenggelam di bawah jubah gaib Malaikat Maut. Sesekali terdengar samar lolong serigala di hutan jati yang jauh seperti memanggil-manggil arwah para penghuni lembah kematian. “Sampeyan masih melihat sosok perempuan bergaun putih itu?” “Ya! Perempuan itu masih setia menunggui rembulan setiap malam di bukit itu.” “Siapa... (more...)

