<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena Jawa Tengah</title>
	<atom:link href="http://agupenajateng.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupenajateng.net</link>
	<description>Membangun Semangat Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 11:53:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sawali Tuhusetya, Sosok Blogger Guru Sejati</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/03/10/sawali-tuhusetya-sosok-blogger-guru-sejati/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/03/10/sawali-tuhusetya-sosok-blogger-guru-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 10:21:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1741</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Deni Kurniawan As&#8217;ari
Sawali Tuhusetya, itulah nama pena guru SMP di Pegandon, Kendal itu. Namanya sudah familiar di “ jagat maya “ karena aktivitas ngeblognya yang luar biasa. Saya berani berkata bahwa beliaulah satu-satunya guru di Indonesia yang sangat produktif menulis via blog dan tulisannya diminati banyak orang sehingga pantas kalau beliau mendapat julukan Blogger [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Deni Kurniawan As&#8217;ari<br />
<a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/saw1.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/saw1.jpg" alt="" title="saw" width="400" height="325" class="alignleft size-full wp-image-1744" /></a><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/sawal.jpeg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/sawal.jpeg" alt="" title="sawal" width="400" height="325" class="alignleft size-full wp-image-1746" /></a>Sawali Tuhusetya, itulah nama pena guru SMP di Pegandon, Kendal itu. Namanya sudah familiar di “ jagat maya “ karena aktivitas ngeblognya yang luar biasa. Saya berani berkata bahwa beliaulah satu-satunya guru di Indonesia yang sangat produktif menulis via blog dan tulisannya diminati banyak orang sehingga pantas kalau beliau mendapat julukan Blogger Guru Sejati. Rata-rata dalam 3 hari beliau mampu menulis untuk 10 blog yang dikelolanya sekaligus. Tulisannya sangat beragam dan tak jarang ‘berani” mengkritisi pelbagai fenomena sosial dan anomali pendidikan yang terjadi di negeri ini.</p>
<p>Pria ramah berkumis tipis sekaligus langsing ini, lahir di sebuah dusun, pada 19 Juni 1964 di Kabupaten Grobogan. Konon kabupaten itu termasuk salah satu di antara 35 kabupaten di Jawa Tengah yang telah tercitrakan sebagai kawasan yang kering, gersang, dan miskin. Sejak kecil, Sawali telah berminat dan bercita-cita menjadi guru berkat sugesti yang begitu kuat dari guru-guru SD di kampungnya yang sunyi. Selepas lulus SPG (1983), beliau melanjutkan studi ke IKIP Semarang (baca : UNNES) mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (lulus tahun 1988). Pada 1989-1995 mengabdikan diri menjadi guru Bahasa Indonesia di SMA Islam Karangrayung-Grobogan. Kemudian sejak 1995 hingga sekarang menjadi guru di SMP 2 Pegandon, Kendal, Jawa Tengah (Http://sawali.info)</p>
<p>Kini,  usia Sawali tak lagi muda. Tiga bulan lagi akan menginjak usia senja 46 (empat puluh enam). Artinya separuh lebih perjalanan hidupnya telah beliau habiskan menapaki hari-harinya di dunia yang fana bersama keluarganya tercinta.</p>
<p>Namun,  usia senja itu tidak melunturkan semangatnya untuk terus menulis dan menulis. Pelbagai tulisan beliau yang renyah dan enak dibaca, dapat ditemukan di blog berikut : Catatan Sawali Tuhusetya, MGMP BI Kendal , Serba-serbi Pendidikan, Pelangi Budaya Indonesia , Pojok Bahasa dan Sastra , Agupena Jateng , ISPI dan media online lainnya.</p>
<p>Selain mengajar dan ngeblog, jebolan pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini sering memberikan ceramah dan pelatihan seputar pembelajaran, penulisan dan tentu saja materi blog yang sangat dikuasainya. Berbagai aktivitas organisasasi tak luput dia lakoni untuk memberi warna dan pencerahan demi pendidikan Indonesia lebih baik. Saat ini beliau menjadi Ketua MGMP Bahasa dan Sastra Indonesia Kabupaten Kendal untuk periode yang kedua, Ketua II Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Provinsi Jawa Tengah dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Kendal. Di lingkungan masyarakat perumahan di mana beliau berada didapuk menjadi Ketua RT.</p>
<p>Dengan pelbagai indikator di atas, dalam kacamata subjektifitas saya, pantaslah kalau beliau dijuluki sebagai Blogger Guru sejati dan sosok guru professional. Usianya yang hampir mencapai  46 tahun telah memantapkan kiprahnya yang panjang dan lama untuk dunia pendidikan Indonesia.</p>
<p>Satu hal yang masih belum saya ketahui dari beliau, berapa duit yang diperoleh setiap bulannya dari hasil ngeblognya itu? Teman saya yang alumni pascasarjana Udinus sempat memperkirakan lebih dari gajinya sebagai guru SMP. Benarkah?</p>
<p>Tulisan ini didedikasikan buat Pak Wali yang saya harapkan untuk terus menerus menyebarkan virus menulis dan ngeblog di kalangan guru. Ahad, 14 Maret 2010, beliau akan tularkan pengalaman ngeblognya dengan mengisi <strong>Workshop Nasional Pembuatan Blog untuk Peningkatan Profesionalitas Guru dan Eksistensi Organisasi </strong>dengan mengusung tema “<em>Membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru melalui blog</em>” yang diselenggarakan oleh Agupena Purbalingga bekerjasama dengan Agupena Jawa Tengah di Owabong Purbalingga. </p>
<p>Semoga kegiatan workshop berjalan lancar dan sukses. Mohon maaf, saya tidak menghadiri karena ada acara keluarga yang tidak dapat ditinggalkan.</p>
<p>Salam Agupena!</p>
<p><strong>Deni Kurniawan As&#8217;ari<br />
</strong>Pengurus Pusat ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) dan Ketua MGMP IPS SMK Kabupaten Banyumas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/03/10/sawali-tuhusetya-sosok-blogger-guru-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengelola Mading yang Menggugah Kreativitas Siswa</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/03/09/mengelola-mading-yang-menggugah-kreativitas-siswa/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/03/09/mengelola-mading-yang-menggugah-kreativitas-siswa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 11:11:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1736</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sungkowo, S.Pd
Diakui atau tidak, kenyataan yang ditemukan di banyak sekolah, ekstrakurikuler majalah dinding (mading) tidak banyak diminati siswa. Siswa lebih menyukai ekstrakurikuler menjahit, sepak bola, basket, pencak silat, dan karya ilmiah remaja. Di benak siswa bisa jadi mading memang tidak “menjanjikan” jika dibandingkan dengan jenis ekstrakurikuler yang disebut kemudian. Yang terbayang di benak siswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Sungkowo, S.Pd<br />
<a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/mading.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/mading.jpg" alt="" title="mading" width="400" height="301" class="alignleft size-full wp-image-1737" /></a>Diakui atau tidak, kenyataan yang ditemukan di banyak sekolah, ekstrakurikuler majalah dinding (mading) tidak banyak diminati siswa. Siswa lebih menyukai ekstrakurikuler menjahit, sepak bola, basket, pencak silat, dan karya ilmiah remaja. Di benak siswa bisa jadi mading memang tidak “menjanjikan” jika dibandingkan dengan jenis ekstrakurikuler yang disebut kemudian. Yang terbayang di benak siswa adalah terampil menjahit, bisa berprofesi sebagai penjahit. Terampil sepak bola, basket, atau pencak silat bisa menjadi olahragawan. Terampil dan cerdas dalam karya ilmiah, dapat berkecimpung dalam bidang keilmuan. Sebaliknya, kalau terampil dan piawai dalam mading tidak bisa mengarah pada profesi berprospek. Ini gambaran bahwa ekstrakurikuler menjahit, sepak bola, basket, dan karya ilmiah remaja lebih “menjanjikan” daripada mading, yang di samping tak ”menjanjikan” juga cenderung menjenuhkan.</p>
<p>Menjenuhkan karena umumnya siswa yang masih memerlukan bimbingan dan arahan dari pembina ekstrakurikuler kurang mendapat perhatian karena mungkin pembina ekstrakurikuler mading kurang memahami dunia jurnalistik sehingga siswa pasif. Yang sering ditemukan, siswa hanya menggunting atau menyalin tulisan yang ada di media cetak, lalu menempelkan pada mading. Tidak banyak siswa yang mau menulis sendiri.  Kalau pun ada yang mau menulis sendiri jumlahnya tidak banyak bahkan cenderung menurun  dari waktu ke waktu karena kurangnya bimbingan, arahan, dan rangsangan. Kondisi ini berdampak siswa malas bergabung dalam ekstrakurikuler mading.</p>
<p>Mading memang harus ada di sekolah, lebih-lebih sekolah yang tidak memiliki majalah sekolah. Sebab, mading memiliki beberapa manfaat. Pertama, mading dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk mewadahi kreativitas siswa berbakat menulis dan melukis termasuk juga yang menyukai fotografi. Bakat mereka harus disalurkan lewat wahana yang tepat agar bisa berkembang dan bertumbuh maksimal. Keragaman bakat yang ada justru dapat saling membangun, mendukung, dan memotivasi. Bakat mereka sungguh akan tergali. Tentu sangat bermanfaat, baik kini maupun masa mendatang.</p>
<p>Kedua, mading sebagai media informasi yang  mencerdaskan. Karya kreasi siswa yang dimuat di mading, yang tentu telah lewat seleksi di meja redaksi, perlu mendapatkan penghargaan. Karya terpilih yang mendapat penghargaan merupakan karya yang memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan  karya lain. Karya terpilih itu menjadi sajian yang menarik bagi para siswa. Minat ketertarikan dapat mendorong keinginan untuk berkarya. Menggugah imajinasi, menggali inspirasi. Kecerdasan-kecerdasan dalam bidang menulis, melukis, dan keterampilan-keterampilan lain bisa bermunculan karena ada rangsangan dan penghargaan.</p>
<p>Ketiga, mading sebagai media rekreasi-edukasi. Muatan materi pembelajaran dan proses pembelajaran di kelas membutuhkan konsentrasi yang sungguh-sungguh. Kenyataan ini memberi beban tersendiri bagi pikiran dan emosi siswa. Oleh karena itu, mading, yang menyajikan karya-karya siswa yang ringan, lucu, dan kontekstual bisa menjadi alternatif untuk memulihkan kondisi pikiran dan emosi kembali segar. Siswa memasuki proses pembelajaran berikutnya dalam suasana menyenangkan dan menggairahkan.</p>
<p>Keempat, mading sebagai jembatan menuju ke karya kualitas media publik. Mading menjadi semacam “kawah candradimuka” karya-karya siswa. Karya-karya siswa yang lolos seleksi dengan adanya penyempurnaan oleh redaksi mading, yang telah dipajang pada mading bisa dikirim ke media publik atas bantuan redaksi mading. Kalau karya-karya siswa itu dimuat paling tidak ada dua keuntungan dapat diperoleh. 1) siswa yang karya ciptanya dimuat di media publik tentu akan semakin bergairah untuk memproduksi karya-karya baru karena ternyata jerih lelahnya membuahkan “nilai tambah”, baik intelektual maupun finansial. Dan, sekaligus ini akan menciptakan kompetisi berkarya antarsiswa. Implikasinya, para siswa akan memperkaya pengetahuan diri melalui kegiatan-kegiatan kreatif-produktif. 2) secara tidak langsung nama baik sekolah akan terangkat oleh karena prestasi siswa. Sekolah akan semakin luas dikenal masyarakat.</p>
<p>Memahami betapa mading memberi sumbngan bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa sekaligus sekolah, perlu upaya nyata mengelola mading secara lebih profesional.</p>
<p><strong>Tim redaksi yang diperkaya</strong><br />
Mengingat sering dijumpai sekadar merekrut saja sulit, maka perlu banyak pihak terlibat. Guru-guru bahasa dan seni bisa menjadi penggagas. Namun, bukan berarti guru-guru lain tidak ambil bagian. Guru-guru lain lebih-lebih yang bertalenta di bidang tulis-menulis-lukis dianjurkan berpartisipasi sejak awal. Melalui pelajaran seni lukis ada peluang luas ditemukan siswa berbakat melukis. Melalui pelajaran bahasa ada peluang luas ditemukan siswa berbakat menulis atau terampil berbicara. Melalui pelajaran teknologi informasi komunikasi (TIK) ada peluang luas ditemukan siswa yang senang menggeluti keterampilan ketik-mengetik, cetak-mencetak, fotografi, dan konumikasi. Bisa juga tanpa melalui pelajaran tertentu ditemukan siswa minat di bidang jurnalistik. Semua disatukan dalam wadah ekstrakurikuler mading.</p>
<p>Kompetensi siswa yang direkrut dalam tim redaksi mading memang relatif terbatas. Oleh karena itu, perlu tambahan pengetahuan dan motivasi. Tidak ada salahnya jika sekolah berinisiatif menghadirkan wartawan ke sekolah, misalnya, untuk memberikan pelatihan kepada para siswa utamanya yang tergabung dalam tim redaksi. Sebab, diakui atau tidak, guru-guru termasuk guru bahasa masih minim pengetahuan bidang jurnalistik. Melalui pelatihan, tim redaksi diperkaya intelektual dan keterampilan di bidang jurnalistiknya. Dan, manakala tim redaksi atau siswa bersentuhan langsung dengan praktik kerja wartawan yang penuh tantangan dan keunikan, dipastikan siswa tertarik bidang tersebut. Mereka mulai menyadari bahwa ekstakurikuler yang diikuti sebenarnya berprospek, menjanjikan, seperti halnya menjahit, sepak bola, pencak silat, dan karya ilmiah remaja.</p>
<p>Sekolah agaknya perlu juga memerhatikan sarana yang diperlukan tim redaksi mading bekerja, misalnya, kamera, tape recorder, komputer sehingga kerja mereka lebih profesional. Sekolah pada akhirnya memiliki wartawan-wartawan cilik yang dapat meliput segala kegiatan yang diadakan sekolah. Segala aktivitas sekolah akhirnya dapat terdokumentasikan dengan baik.</p>
<p><strong>Rubrik mading yang dipercantik</strong><br />
Banyak tim redaksi mading menyederhanakan tata letak papan mading. Tidak jarang ditemukan mading dengan naskah tersusun ala kadarnya. Tidak ada pembagian rubrik yang jelas. Naskah bertema sama, yang semestinya diletakkan dalam satu rubrik bisa berjauhan. Sebaliknya, naskah bertema beda terletak berdekatan. Dengan begitu, mading tampak kurang menarik untuk dibaca karena pembaca kurang dapat terfokus. Oleh karena itu, perlu penataan lebih kreatif. Papan mading perlu dipetak-petak sesuai dengan rubrik  yang disediakan. Misalnya, ada rubrik komentar pembaca, rubrik warta utama, rubrik kreasi karya siswa, rubrik psikologi, rubrik seni budaya, rubrik iptek, rubrik konsultasi, dan yang lainnya sesuai dengan kebutuhan redaksi.</p>
<p>Agar menarik, setiap nama rubrik ditulis mencolok di segi warna dan lebih besar di segi ukuran serta lebih unik di segi bentuk hurufnya. Yang tidak boleh dilupakan adalah nama mading. Tata letak nama mading harus diatur sedemikian rupa karena sebagai pusat pandangan. perlu ditulis lebih mencolok dan unik agar dari kejauhan sudah tampak jelas dan menarik.</p>
<p>Untuk memaksimalkan fungsi rubrik yang ada, perlu ada penjaga rubrik (jabrik). Jabrik dianjurkan siswa yang menguasai materi isi rubrik. Siswa berbakat menulis tentang iptek, misalnya, cocok jika diminta menjadi jabrik iptek. Siswa yang terampil dalam bidang seni budaya, tepat kalau menjabat jabrik seni budaya. Begitu seterusnya sehingga keterampilan khusus yang dimiliki jabrik-jabrik lebih tergali.</p>
<p>Akan tetapi, jabrik-jabrik tersebut bukanlah menjadi penulis utama untuk rubrik yang dijaga. Ia lebih difungsikan untuk mengelola rubrik yang dijaga itu. Naskah untuk rubrik tersebut memang menjadi tanggung jawabnya. Naskah yang masuk ke meja redaksi sesuai dengan rubrik yang dia jaga, dialah yang harus menyeleksi dan mengedit hingga terbit di mading. Agaknya perlu dimengerti juga bahwa jabrik tidak harus melulu siswa. Bisa saja guru. Keterlibatan guru BK dalam rubrik psikologi dan konsultasi, misalnya. Sangat menarik karena pembelajaran terkait dengan psikologi dan bimbingan karier dapat muncul di mading untuk dikonsumsi banyak siswa. Sehingga permasalahan beberapa siswa yang mungkin sama dapat terselesaikan meskipun hanya melalui membaca tulisan di mading. Tidak harus berkonsultasi langsung dengan guru BK. Guru BK bukan satu-satunya sumber pemecah masalah siswa. Bisa saja pengalaman nyata siswa dalam memecahkan masalahnya dituliskan untuk rubrik tersebut. Pengalaman itu mungkin lebih mujarab karena sangat kontekstual dengan alam pikiran siswa sendiri.</p>
<p>Jabrik tentu dapat lebih optimal bekerja karena tugas terfokus. Terus tertantang untuk menggali sumber naskah secara aktif. Jabrik dianjurkan terjun langsung di kegiatan-kegiatan sekolah yang ada kaitannya dengan isi rubrik yang dijaga. Ia tidak hanya meliput kegiatan tersebut, tetapi juga dapat membangun jejaring dengan orang-orang atau para siswa yang terlibat dalam kegiatan itu. Sangat baik jika kemudian di dalam kegiatan itu ditemukan orang atau siswa yang mau diajak menulis tentang aktivitasnya itu untuk dikirim pada redaksi. Dengan demikian, rubrik tidak akan kekurangan naskah. Jabrik dengan demikian lebih bisa leluasa untuk menyiapkan penerbitan mading tepat waktu secara berkala.</p>
<p>Bahwa bisa saja jabrik tidak sendiri. Artinya terdiri atas kelompok siswa karena mereka memiliki kesamaan talenta. Ini justru baik sebab mereka dapat saling mendukung. Lebih ada peluang untuk berdiskusi tentang materi setiap menjelang terbit. Kualitas muatan materi pun lebih baik.</p>
<p>Dengan adanya pembagian tugas seperti itu, antarjabrik tampaknya terpisah. Namun sejatinya mereka bersatu. Mereka  memiliki tanggung jawab sama dalam membangun eksistensi mading. Justru kebersatuan mereka tampak nyata saat mading akan diterbitkan. Mereka bertemu dalam satu meja redaksi, berdiskusi, dan memutuskan bersama mengenai bakal  terbitan. Kerja tim diuji di sini. Keberhasilan milik bersama. Kegagalan juga milik bersama. Itulah sebabnya, tidak ada sikap satu menyalahkan yang lain. Yang ada saling memotivasi. Bukan tidak mungkin lewat kegiatan ini karakter kepribadian anak-anak terbentuk.</p>
<p><strong>Pemberian penghargaan yang bermakna</strong><br />
Jerih lelah siswa pengirim naskah yang naskahnya dimuat di mading harus diberi apresiasi. Apresiasi yang diberikan tidak cukup berhenti pada memberi ucapan selamat atau bingkisan berupa alat-alat keperluan sekolah, tetapi penghargaan yang lebih bermakna. Naskah-naskah yang pernah dimuat di mading perlu didokumentasikan. Cara mendokumentasikan naskah bisa berdasarkan rubrik. Naskah-naskah rubrik komentar pembaca, misalnya, dijilid menjadi satu. Naskah-naskah di rubrik karya kreasi siswa dibukukan. Demikian juga naskah-naskah di rubrik yang lain diperlakukan secara sama. Naskah-naskah yang telah dijilid atau dibukukan tersebut dimasukkan ke perpustakaan sekolah. Tentulah dapat dimanfaatkan untuk materi pembelajaran di kelas dari tahun ke tahun disesuaikan dengan keperluan dan kepentingannya sehingga naskah lama pun masih bisa dikenal generasi siswa yang kemudian. Upaya ini di samping untuk memperkenalkan generasi pendahulu dan karyanya kepada gererasi kemudian, juga dimungkinkan dapat menggugah kreativitas generasi kemudian.</p>
<p>Selain itu, penghargaan dapat diberikan dalam bentuk membantu mengirimkan karya siswa yang pernah dimuat di mading ke media publik seperti yang telah penulis singgung di awal tulisan ini. Sebab, sering siswa bersikap malas untuk mengirimkan naskah ke media publik. Kalau toh bersedia mengirimkan kadang tidak konsisten. Tidak jarang siswa –bahkan guru dan orang dewasa juga-  malas mengirim lagi jika naskah kiriman yang dulu-dulu tidak pernah dimuat. Di sini tim redaksi mading sangat berperan untuk mensuport agar siswa tersebut tetap bergairah untuk memproduksi karya-karya baru. Tim redaksi terus membantu mengirimkan karya tanpa merasa bosan sembari memberi bimbingan agar karya-karya yang dicipta kemudian lebih berkualitas dan berpeluang dimuat di media publik. Mading dapat mengantar siswa menjadi sosok terampil yang profesional. Ini sebuah penghargaan yang bermakna.</p>
<p>Siswa yang menjadi jabrik juga memiliki peluang untuk menjadi sosok terampil yang profesional. Siapa tahu di kelak kemudian hari karena ketekunan dan semangat belajar, jabrik seni budaya di mading dapat berprofesi menjadi penulis tetap kolom seni budaya di media publik. Tekun dalam tim redaksi mading ketika sebagai siswa, menjadi wartawan saat dewasa. Semua bisa terjadi jika ada semangat dan keberanian menekuni bakat minat sendiri.     </p>
<p><strong>Jembatan menuju ke majalah sekolah</strong><br />
Sebagai sebuah media, majalah sekolah lebih luas dan jauh menjangkau konsumen ketimbang mading. Kalau mading hanya dibaca warga sekolah, majalah sekolah dapat dibaca warga masyarakat. Dengan demikian, majalah sekolah tentu lebih ampuh untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan siswa sekaligus sekolah. Majalah sekolah memiliki keberadaan yang tidak jauh berbeda dengan media publik. Keduanya membangun komunikasi dengan masyarakat luas. Oleh karena itu, penting kiranya menerbitkan majalah sekolah apabila sekolah memiliki kemampuan. Gagasan membuat majalah sekolah lebih cepat terwujud kalau mading sekolah telah terkelola secara baik. Mading dapat menjadi jembatan untuk menuju ke majalah sekolah. Tim redaksi mading pada tahap awal dianjurkan menjadi tim redaksi majalah sekolah tanpa menutup kemungkinan merekrut anggota baru jika dipandang perlu.</p>
<p>Meskipun tim redaksi mading membidani majalah sekolah, tidak serta merta terbitan mading berhenti. Mading harus tetap eksis terbit. Periode terbit mading dan majalah sekolah berbeda. Katakan saja kalau mading terbit satu bulan dua kali, karena hal baru, majalah sekolah diprogram dua bulan atau tiga bulan terbit satu kali. Dengan demikian redaksi tidak repot. Pada masa perkembangannya kemudian  -setelah melalui pengkaderan-  tim redaksi mading harus berpisah dengan tim redaksi majalah sekolah. agar masing-masing tim redaksi lebih terfokus. Akan tetapi, kerja sama harus tetap terjalin. Tidak mengurangi kewibawaan majalah sekolah andai saja karya yang pernah dimuat di mading dimunculkan lagi di majalah sekolah dan tentu setelah melalui pertimbangan matang.</p>
<p><strong>Sungkowo, S.Pd.</strong><br />
Guru SMP 1 Jati Kudus</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/03/09/mengelola-mading-yang-menggugah-kreativitas-siswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MASA DEPAN ANAK DALAM ‘MINDSET’ ORANG TUA</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/03/09/masa-depan-anak-dalam-%e2%80%98mindset%e2%80%99-orang-tua/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/03/09/masa-depan-anak-dalam-%e2%80%98mindset%e2%80%99-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 10:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1732</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : SUPANDI, S.Pd. MM 
&#8220;Sikap hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh prinsip hidup yang dianutnya&#8221;
      Masih melekat di dalam pikiran saya sebuah keyakinan yang begitu hebat yang pernah dilontarkan oleh ibu saya empat puluhan tahun yang lalu. Sebuah keyakinan yang mengobarkan energi positif terhadap diri beliau yang kemudian saya rekam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : SUPANDI, S.Pd. MM </p>
<blockquote><p>&#8220;Sikap hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh prinsip hidup yang dianutnya&#8221;</p></blockquote>
<p>      <a href="hupenattp://agjateng.net/wp-content/uploads/2010/03/supandi-300x2251-150x150.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/supandi-300x2251-150x150.jpg" alt="" title="supandi-300x2251-150x150" width="150" height="150" class="alignleft size-full wp-image-1733" /></a>Masih melekat di dalam pikiran saya sebuah keyakinan yang begitu hebat yang pernah dilontarkan oleh ibu saya empat puluhan tahun yang lalu. Sebuah keyakinan yang mengobarkan energi positif terhadap diri beliau yang kemudian saya rekam dalam pikiran bawah sadar saya sebagai salah satu warisan yang sangat berharga sekaligus sebagai ilmu dari sekolah kehidupan. Salah satu nasehat yang mengandung makna dan keyakinan yng sangat dalam yang pernah beliau sampaikan kepada kami kurang lebihnya berbunyi demikian : “Pokoke kowe kabeh kudu pada sekolah. Senajan wong tuamu wong sing ora duwe, tapi Gusti Allah sugih. Aku yakin kowe kabeh bisa sekolah. Aku ora kepengin anak-anakku ngemben pada sengsara uripe”. (Pokoknya kamu semua harus tetap sekolah. Walaupun orang tuamu orang yang tidak punya, tetapi Allah SWT Maha Kaya sehingga saya yakin kalian semua bisa sekolah. Saya tidak ingin anak-anakku hidup sengsara).</p>
<p>      Tentunya bentuk keyakinan diatas beliau lontarkan tidak didorong oleh sekedar komitmen tanpa dasar. Ada semacam emosi positif yang membakar tekad di dalam dirinya. Tekad yang terhimpun di dalam pikiran super (super mind) melalui sebuah proses perpaduan antara beberapa unsur kepentingan, seperti rasa kasih sayang kepada anak, rasa ingin membahagiakan anak, dan keinginan agar anak-anaknya hidup sukses. Unsur-unsur kepentingan tersebut kemudian bereaksi dengan nilai-nilai spiritual sehingga tersimpul dalam sebuah keyakinan.</p>
<p>      Keyakinan merupakan keadaan pikiran yang bisa dirangsang atau diciptakan oleh perintah peneguhan secara terus menerus sampai meresap ke dalam pikiran bawah sadar. Keyakinan adalah sebuah keadaan pikiran yang bisa dikembangakan sesuai dengan kemauan kita, melalui cara pengulangan perintah kepada pikiran bawah sadar dengan segenap perasaan emosi positif, sehingga pikiran bawah sadar akan menerimanya dan digunakan sebagai landasan tindakan untuk menjadikannya sebuah kenyataan (Wuryanano : 2004).</p>
<p>      Keyakinan akan memberikan kehidupan, kekuatan, dan tindakan kepada impuls pemikiran kita. Keyakinan akan memberikan kekuatan untuk mengubah getaran pemikiran biasa, dari pikiran manusia yang serba terbatas menjadi suatu padanan spiritual yang bersifat tanpa batas.</p>
<p>      Pemikiran spiritual tanpa batas muncul ketika terjadi dominasi suara Tuhan yang melekat di hati seseorang. Adapun suara Tuhan dihasilkan dari hasil meditasi melalui pengamalan-pengamalan yang berkaitan dengan proses pendekatan diri kepadaNya. Proses yang mengarah kepada upaya pendekatan diri kepada Tuhan itulah yang akan membentuk keyakinan seseorang. Pada gilirannya keyakinan tersebut akan berjalan sinergis dengan prinsip hidup.</p>
<p>      Contoh yang saya ilustrasikan tentang keyakinan dan prinsip hidup ibu saya diatas merupakan salah satu dari sekian banyak prinsip hidup dan keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang pada umumnya termasuk mungkin diri Anda.</p>
<p>      Ada satu sisi yang sangat penting Anda sikapi dalam memegang teguh prinsip hidup Anda yaitu visi hidup yang didasarkan atas prinsip-prinsip kebenaran. Dengan kecerdasan spiritual (spiritual Quotient) yang Anda miliki, Anda harus bisa menentukan prinsip hidup yang sesuai dengan fitrah manusia, yaitu fitrah kebenaran, fitrah yang didukung penuh oleh ridlo Tuhan yang bisa membawa diri dan keluarga menuju ke arah kebahagiaan hakiki, serta memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Prinsip hidup semacam ini harus menjadi pijakan dasar untuk menentukan kebijakan dalam menentukan sikap hidup.</p>
<p>      Prinsip hidup yang bersumber dari sesuatu yang tidak fitrah umumnya akan berakhir dengan kegagalan, baik kegagalan lahiriah maupun kegagalan batiniyah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip hidup yang bertentangan dengan suara hati, terbukti hanya mengakibatkan kesengsaraan atau bahkan kehancuran. Terlebih di jaman modern sekarang ini. The power of visi hidup, prinsip hidup, dan sikap hidup yang didasarkan pada nilai spiritual harus benar-benar dipegang teguh demi untuk mencapai tujuan hidup jangka panjang.</p>
<p>      Mengarahkan masa depan anak merupakan salah satu bentuk pencapaian tujuan jangka panjang. Bagaimana bentuk masa depan anak di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh visi, prinsip, dan sikap hidup orang tuanya. Orang tua harus jeli dalam menyeting masa depan anak. Hindari cara-cara yang dewasa ini sering menjangkiti kehidupan manusia-manusia modern yaitu adanya kecenderungan manusia tertarik kepada hal-hal yang serba instant. Ingin memperoleh kekayaan dengan cepat, ingin meraih popularitas dengan cepat, meraih kekuasaan dengan mudah dan cepat, dan lain sebagainya.</p>
<p>      Apabila konsep ini diperkenalkan dan dipertontonkan kepada anak dalam usahanya meraih masa depan, maka akan berakibat pada pembentukan pribadi yang rapuh. Mereka akan hidup tanpa digerakkan oleh visi hidup yang agung yang berorientasi pada nilai-nilai spiritual bagi kehidupan yang jauh ke depan. Mereka bagaikan akan mengarungi lautan luas tetapi tidak mengenal ke mana seharusnya perahu diarahkan. Mereka nantinya tidak memiliki daya atau powerless dalam bekerja dan tidak memiliki semangat juang yang tinggi dalam berusaha.</p>
<p>      Fenomena diatas tentunya pada saatnya nanti akan menjadi sebuah realita yang tidak kita harapkan. Semua orang tua sudah barang tentu mendambakan anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang tangguh, sholeh/sholehah, memiliki prinsip-prinsip kebenaran yang kokoh, serta sukses dunia akherat. Jalan menuju masa depan atau cita-cita anak terbuka lebar. Walaupun kerapkali terhalang oleh tembok yang begitu kuat, namun dengan keyakinan dan langkah pasti tembok-tembok tersebut akan bisa kita lewati. (***)  </p>
<p>Profil Penulis<br />
Nama    : SUPANDI, S.Pd, MM.<br />
Riwayat Pekerjaan      : Guru di SMP Negeri 2 Binangun – Cilacap, Guru Pemandu MGMP Bahasa Inggris,. Ketua MGMP Bahasa Inggris periode 2009 – 2011. Pengurus Agupena (Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia) Kabupaten Cilacap periode 2010-2013, Pengurus ISPI Kab. Cilacap.<br />
Motto Hidup  : Lakukan perubahan<br />
Phone    : (0282) 494921<br />
HP.    : 081391274742<br />
e-mail    : supandi_mm@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/03/09/masa-depan-anak-dalam-%e2%80%98mindset%e2%80%99-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paradigma Pendidikan Bergeser</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/03/07/paradigma-pendidikan-bergeser/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/03/07/paradigma-pendidikan-bergeser/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 07:05:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1728</guid>
		<description><![CDATA[DEPOK-Dalam Rembuk Nasional Pendidikan, Mendiknas juga menyatakan dunia pendidikan di Tanah Air telah mengalami pergeseran paradigma. Karena itu, kesempatan belajar, kesetaraan pendidikan, dan layanan komprehensif perlu lebih dicermati.
”Saya melihat  fakta di lapangan yang menunjukkan telah terjadi pergeseran-pergeseran paradigma di dunia pendidikan. Wajib belajar sembilan tahun bergeser menjadi hak belajar sembilan tahun,” paparnya.
Dia menegaskan, masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/men.jpeg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/men.jpeg" alt="" title="men" width="137" height="89" class="alignleft size-full wp-image-1729" /></a>DEPOK-Dalam Rembuk Nasional Pendidikan, Mendiknas juga menyatakan dunia pendidikan di Tanah Air telah mengalami pergeseran paradigma. Karena itu, kesempatan belajar, kesetaraan pendidikan, dan layanan komprehensif perlu lebih dicermati.</p>
<p>”Saya melihat  fakta di lapangan yang menunjukkan telah terjadi pergeseran-pergeseran paradigma di dunia pendidikan. Wajib belajar sembilan tahun bergeser menjadi hak belajar sembilan tahun,” paparnya.</p>
<p>Dia menegaskan, masyarakat mempunyai hak untuk menuntaskan sembilan tahun. Kalau itu menjadi hak maka semua pihak, termasuk pemerintah dan negara harus menyiapkan mulai dari sarana, prasarana, dan bisa dijamin bahwa siapa pun bisa menuntaskan sembilan tahun untuk belajar.</p>
<p>Dia juga menekankan tentang pentingnya pendidikan karakter. ”Bobot atau persentase tentang pendidikan karakter perlu mendapatkan perhatian khusus mulai dari jenjang prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai perguruan tinggi.” </p>
<p>Mendiknas juga menyoroti fungsi sekolah. Sekolah negeri, kata dia, akan bergeser menjadi sekolah publik. Pergeseran ini, menurutnya, akan membawa dampak yang luar biasa.</p>
<p>”Sebelumnya, sekolah negeri hanya dipakai siswa untuk aktivitas belajar dari siswa itu saja. Kalau sekolah publik, ada ekspansi fungsi dan pemanfaatan.</p>
<p>Tidak hanya siswa dari sekolah itu yang dapat memanfaatkan, tetapi pada sore hari dapat dimanfaatkan anggota masyarakat dengan koridor yang terkendali.”  (ant-45)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/03/07/paradigma-pendidikan-bergeser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENULIS TIDAK SULIT, TIDAK SULIT MENULIS</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/03/02/menulis-tidak-sulit-tidak-sulit-menulis/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/03/02/menulis-tidak-sulit-tidak-sulit-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 12:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1723</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ganjar Triadi Budi Kusuma
 Menulis bukan pekerjaan sulit. Buktinya semua orang yang telah lulus bangku SD dapat menulis. Jika lulusan SD saja mampu menulis, entah itu menulis kalimat surat, menulis puisi, menulis, cerpen, atau menulis apa saja, maka sejatinya kebiasaan menulis sudah melekat pada diri setiap orang. Menulis merupakan suatu kebutuhan. Setiap manusia butuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Ganjar Triadi Budi Kusuma<br />
<a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/anak-menulis1.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/anak-menulis1.jpg" alt="" title="anak-menulis1" width="320" height="164" class="alignleft size-full wp-image-1724" /></a> Menulis bukan pekerjaan sulit. Buktinya semua orang yang telah lulus bangku SD dapat menulis. Jika lulusan SD saja mampu menulis, entah itu menulis kalimat surat, menulis puisi, menulis, cerpen, atau menulis apa saja, maka sejatinya kebiasaan menulis sudah melekat pada diri setiap orang. Menulis merupakan suatu kebutuhan. Setiap manusia butuh menulis, sebagaimana ia juga butuh berbicara. Menulis adalah bahasa gerak tubuh, sedang berbicara adalah bahasa lisan. Baik menulis ataupun berbicara, manusia membutuhkan peran otak sebagai pusat kendali apa yang dikehendaki oleh hati nuraninya untuk disampaikan kepada orang lain di sekitarnya. Masalahnya sekarang, mengapa kebiasaan menulis tidak menjadi sesuatu yang lekat dan orang dengan kita? Mengapa menulis dianggap sesuatu yang sulit ? Lebih ironis lagi, para guru sebagai agen pembaharuan dan agen pendidikan manusia seutuhnya, banyak yang “alergi” jika disuruh menulis.</p>
<p>      Untuk menjawab pertanyaan di atas dibutuhkan sikap bijak. Kita tidak dapat menyalahkan kepada sosok manusia berprofesi sebagai guru. Memang, realitanya para guru kita masih kecil sekali persentase kemampuan menulis tentang hal-hal ilmiah. Hal tersebut tercermin dari mayoritas guru berpangkat golongan IV/a atau Pembina, seakan-akan langkahnya terhenti untuk meraih pangkat golongan di atasnya. Salah satu alasannya, karena para guru tersebut “malas” untuk menulis karya tulis ilmiah seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ataupun tulisan berbasis ilmu pengetahuan sesuai bidang studi yang diembannya. </p>
<p><strong>Sikap Malas</strong><br />
      Menulis adalah jantung dari proses pendidikan, karena hal pertama kali yang diajarkan oleh guru sejak dini kepada siswa-siswinya adalah menulis. Menulis pulalah yang mendasari kecerdasaran seseorang untuk akhirnya dapat membaca dan memperoleh ilmu yang tidak terbatas.</p>
<p>          Namun sayang sekali, dalam praktiknya kebiasaan menulis di kalangan pelajar mulai dari tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah, hingga pendidikan tinggi terasa kurang. Kalau toh mereka diajar dan diajak oleh guru untuk menulis, baru sebatas tugas menulis puisi, cerpen, atau esai di dalam pelajaran Bahasa Indonesia ataupun pelajaran lain. Hal ini menyebabkan kemampuan menulis sebuah karya dari hasil pemikiran siswa relatif rendah, tidak prospektif, dan cenderung menjadi sebuah kebiasan yang monoton.</p>
<p>      Kebiasaan menulis yang ditindaklanjuti dalam bentuk mengikuti berbagai kegiatan lomba, merupakan cara efektif untuk mengasah kemampuan, keterampilan, semangat berkompetisi, sekaligus pendidikan nyata berwiraswasta. Karena dunia tulis menulis secara nyata terbuka lebar bagi mereka yang mau bekerja dan memperoleh penghasilan cukup menjanjikan. Hal ini seiring pertumbuhan industri pers ataupun media cetak dan media elektronik yang luar biasa pesatnya.</p>
<p>Peluang untuk menambah penghasilan dari bidang tulis-menulis sebenarnya menganga, terbuka lebar. Sangat menjanjikan. Hanya saja masalahnya adalah bagaimana memulai suatu niat untuk menulis. Ya, tanpa niat yang kuat mustahil sebuah tulisan dapat diselesaikan dengan baik. Dari niat itulah seorang penulis memperoleh energi kuat untuk mengawali sekaligus mengakhiri sebuah tulisan secara utuh. Niat untuk menulis merupakan amunisi dahsyat untuk mematikan “musuh utama seorang penulis” yakni rasa malas. Rasa malas itulah yang selalu “mengalahkan sebelum berperang”, atau “ mengakhiri sebelum memulai”. Banyak orang ketika akan menuangkan ide di benaknya dalam sebuah lembar tulisan, tiba-tiba surut dan batal. Mereka sudah dibebani dan diracuni oleh kata-katanya sendiri: menulis itu sulit, tidak punya kalimat yang baik, tidak punya ide bagus, dan alasan lain.</p>
<p>      Untuk membiasakan suka menulis, harus dimulai dari membiasakan semangat untuk mengawali dan mengakhiri dalam menghasilkan sebuah produk tulisan. Mengenai persoalan mutu apakah hasil tulisan itu baik atau kruang baik, janganlah dijadikan persoalan utama. Karena seiring seringnya latihan, perlahan namun pasti persoalan mutu tulisan akan membaik. </p>
<p>      Kebetulan sejak SMA saya suka menulis, karena diajari oleh guru Bahasa Indonesia untuk rajin menulis apa saja. Ternyata nasihat itu benar, begitu lulus kuliah hingga detik ini banyak hal-hal besar saya peroleh dari kegiatan tulis menulis. Saya melakukan duplikasi kepada siswi-siswi saya (dari 1.200 siswa SMKN 2 Semarang, siswa pria hanya 24 orang) untuk rajin menulis, dan rajin mengikuti berbagai lomba menulis. Hasilnya tidak sia-sia, saya pernah membimbing siswi yang berhasil meraih Juara I lomba menulis di tingkat Kota Semarang, Juara I lomba di tingkat provinsi Jawa Tengah, dan terakhir Juara I lomba menulis esai tingkat nasional. Hadiahnya saya dan siswi tersebut diberi tiket terbang Jakarta – Sydney, Australia PP. Kami diberi fasilitas lux, mendapat uang saku setara Rp 10 juta untuk berlibur selama seminggu berkeliling di Australia. Saya telah menulis di 30 koran dan majalah di Indonesia, semua itu memberi penghasilan tambahan yang tidak kecil. Saya menulis buku biografi tokoh-tokoh di Semarang dan Jawa Tengah. Ternyata menulis dapat untuk lahan berwiraswasta. Peluang bisnis yang masih menganga lebar.</p>
<p>      Mengajak anak untuk berani berkompetisi mengikuti berbagai lomba menulis merupakan contoh sederhana namun dapat menghasilkan hal-hal besar. Modal untuk mengikuti lomba tersebut relatif sederhana. Cukup membuka internet yang cuma Rp. 4000 per jam, untuk mengakses begitu banyak jenis lomba menulis, khususnya berskala nasional. Mulai lomba menulis esai, puisi, cerpen, hingga yang serius seperti lomba menulis karya ilmiah. Di sinilah tugas seorang guru pembimbing untuk memilihkan jenis lomba tulis yang tepat bagi siswa-siswinya. Kalau toh ada kesulitan untuk mencari data ataupun materi guna melengkapi isi tulisan, di internet itu pula seluruh kebutuhan kita akan terakomodir dengan baik. Semuanya tersedia. Cara mengirimkannya juga relatif muda dan murah. Jangan pernah takut untuk kalah, karena di balik kekalahan tersembunyi peluang kemenangan. Jangan minder, karena hal itu musuh utama yang harus diberangus.</p>
<p>      Kehidupan ini berisi kompetisi, persaingan yang sehat untuk maju dan berkembang. Sejak dini para siswa-siswi kita harus dilatih, diajak, diarahkan untuk menjadi manusia-manusia yang terbiasa untuk berkompetisi. Dengan cara mengikuti berbagai lomba menulis. Setiap harinya kesempatan untuk mengikuti berbagai lomba menulis bertumpuk di halaman-halaman internet. Semua itu harus kita jadikan cara untuk mengasah pengalaman dan membidik peluang kemenangan. Karena hadiah uang dalam jumlah besar, biasanya selalu dijanjikan bagi mereka yang berhasil menang. Kalau ada tidak percaya, saya sudah berkali-kali membuktikannya. Kalau saya bisa, anda pasti lebih dari bisa. Begitu bahagia ketika saya bersama anak-anak terbang menggunakan pesawat udara untuk mengambil hadiah kejuaraan, begitu nyata kisah ini, dan begitu pula anda dapat melakukannya. </p>
<p><strong>Dukungan Institusi</strong><br />
      Guru, apapun pangkat, golongan, status, haruslah menjadi agen penghasil tulisan ilmiah. Untuk mewujudkan hal ini, lembaga pencetak profesi guru seperti IKIP atau perguruan tinggi lainnya, haruslah memberi dukungan. Pada mata kuliah khusus, para calon guru harus digelontor dengan teori dan praktik menulis. Dengan praktik menulis dalam ranah dunia ilmiah, maka mereka akan terbiasa untuk menghasilkan sebuah produk tulisan yang berasal dari hasil pemikiran masing-masing.</p>
<p>      Selama ini institusi penghasil profesi guru terlalu banyak memberikan sumbangan ilmu yang lebih bersifat teoritis. Termasuk di dalamnya ilmu untuk bidang tulis-menulis, seperti halnya panduan penyusunan karya ilmiah sampai penyusunan skripsi. Semestinya tulisan-tulisan yang harus dihasilkan oleh para calon guru tadi lebih bersifat praktis, humanis, sederhana, namun dekat dengan kehidupan mereka. </p>
<p><strong>Budaya Menulis</strong><br />
      Jika seorang guru memasuki kelas, sejak awal hingga akhir pelajaran tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya menulis dan menyampaikan pesan komunikasi pendidikan menggunakan media papan tulis, rasanya ada sesuatu yang janggal. Ada hal aneh dan tidak lazim.</p>
<p>Namun sebaliknya, jika seorang guru sejak awal hingga akhir jam pelajaran hanya berbicara, berceramah, memberikan orasi di depan kelas, tanpa sedikitpun menulis di papan tulis, rasanya biasa-biasa saja. Hal itu banyak terjadi di depan kelas.</p>
<p>      Ilustrasi di atas menggambarkan betapa budaya berbicara (lesan) lebih rekat, lekat, dan dekat dengan siswa-siswi dalam proses pembelajaran. Sedangkan budaya menulis, berada setingkat atau beberapa tingkat di bawahnya. Hal itu terjadi sejak guru mengajar di bangku TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Mereka memberikan contoh pembelajaran yang akhirnya membudaya, lebih banyak berbicara dari pada menulis.</p>
<p>      Kebiasaan itu akhirnya menjadi sebuah budaya di wajah pendidikan kita. Orang lebih banyak berbicara, dari pada menulis. Efeknya orang tidak (terlalu suka) membaca. Apalagi bacaan yang agak berat seperti halnya bacaan buku berisi ilmu pengetahuan ataupun artikel tentang suatu permasalahan dalam kehidupan di masyarakat.</p>
<p>      Secara tidak sengaja para guru dan para dosen mengajarkan kepada siwa-siswi dan mahasiswanya untuk lebih banyak berbicara dari pada menulis. Maka dunia menulis – dalam pengertian menulis artikel atau tulisan mengandung muatan ilmiah, menjadi demikian jauh. Karena jauh, dianggap sesuatu yang asing, sulit, dan tidak disukai.</p>
<p>      Untuk mengembalikan sesuatu yang “jauh” tadi, maka harus dilakukan upaya pendekatan-pendekatan. Tidak perlu untuk saling menyalahkan, tidak perlu malu-malu mengakui kekurangan ini. Secara sistematis di semua lini dan jenjang pendidikan harus ditekankan tentang pentingnya siswa-siswi hingga mahasiswa-mahasiswi untuk suka dan terbiasa menulis. Jika sedang TK atau SD sudah terbiasa menulis sesuatu yang nyata di sekitarnya, maka jenjang berikutnya tinggal menyempurnakan. Kebiasaan menulis ini harus lebih ditingkatkan bobot dan frekuensinya di bangku SMA/SMK dan Perguruan Tinggi.</p>
<p>      Sudah saatnya Dinas Pendidikan Pusat meluncurkan suatu kebijakan baru, agar lembaga pendidikan penghasil guru seperti IKIP dan lembaga pendidikan lainnya menambah jatah ilmu praktis tentang teknis menulis suatu karya ilmiah yang sederhana, mudah dilakukan, tanpa meninggalkan bobot ataupun mutu. Sudah sepatutnya pelajaran menulis suatu karya tulis berbasis ilmu pengetahuan atau karya ilmiah dibiasakan sejak dini. Hal ini akan menjadi suatu kebiasaan yang secara tidak disengaja menjadi rutinitas positif.</p>
<p><strong>BIODATA </strong><br />
1.Nama  : Ganjar Triadi Budi Kusuma, S.Pd<br />
2.Tempat,tgl.lahir : Bandung, 18 April l964<br />
3.Pendidikan  : FIPS – UNNES<br />
4.Pekerjaan  : PNS (Guru SMKN 2 Semarang)</p>
<p>Pengalaman di bidang tulis-menulis:<br />
1.Wartawan SUARA BENGAWAN (Solo)<br />
2.Koresponden majalah PERTIWI, FAMILI, SWARA KARTINI INDONESIA<br />
3.Menulis di koran SUARA MERDEKA, WAWASAN, CEMPAKA MINGGU INI, NOVA, MOP, TERUNA, LIBERTY, SUARA KARYA, KARTIKA </p>
<p>9. Menulis buku biografi:<br />
            1). Wanita dalam berita, cerita, derita (profil wanita berprestasi)<br />
            2). Dokter dalam berita, cerita, derita  (profil dokter berprestasi)<br />
            3). Biografi Dra. Hj. Endang Setyaningdyah, MM. (mantan Bupati Demak)<br />
            4). Biografi H. Sukawi Sutarip, SH.,SE. (Walikota Semarang)<br />
            5). Jejak Langkah Srikandi Demak<br />
            6). Sukawi Sutarip di Mata Masyarakat<br />
            7). Sukawi Sutarip Kembali Mengabdi untuk Rakyat<br />
            8). Biografi H. Suwanto, SE.,MM. (Direktur Penerbit Aneka Ilmu)<br />
            9).  Biografi Drs. HMS. Soedarsono, BBA.,MM. (Dirum PDAM Semarang)</p>
<p>10). Biografi Soelarno<br />
11). Biografi H. Noer Hamid Wijaya, BA. (mantan Wakil Bupati Demak)<br />
12). Biografi H. Sriyono, S.Sos. (Ketua DPRD Kota Semarang)<br />
13). PDAM Kota Semarang dari Masa ke Masa<br />
14).    Biografi Prof. Dr. H. Tubagus Chasan Shochib (tokoh masyarakat Banten)<br />
15).    Biografi Drs. H. Soeparto Danu K (Mantan Kakanwil Depdikbud Jateng)<br />
16).    Biografi Dokter H. Mohammad Basyir (Walikota Pekalongan).<br />
10. Menulis buku psikologi, seksologi, dan umum:<br />
      a.Bercerai dengan Indah (Penerbit INTISHAR, Yogyakarta)<br />
      b.Antara Dua Sisi (Penerbit SAHABAT SETIA, Yogyakarta)<br />
      c.Satu Hati Dua Bodi (Penerbit SAHABAT SETIA, Yogyakarta)<br />
      d.Dari Pelayan menjadi Majikan (Penerbit HAKA, Semarang)<br />
      e.Guritan-guritane Sudi Yatmana (Penerbit ANEKA ILMU, Semarang)<br />
      f. Remaja, Seks, Aborsi (Penerbit SAHABAT SETIA, Yogyakarta) </p>
<p>Artikel diikutkan dalam Lomba Penulisan Agupena Jateng  2009 di LPMP Jateng</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/03/02/menulis-tidak-sulit-tidak-sulit-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GURU  PENULIS DAN NYAMUK</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/03/02/guru-penulis-dan-nyamuk/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/03/02/guru-penulis-dan-nyamuk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 12:44:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1718</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Asip Kurniawan, S.Pd
Bukan hal yang biasa bila setiap kali kita membicarakan mengenai kehidupan dunia pendidikan. Karena pendidikan kini suatu bukti kesaktian akal, bahkan suatu keberhasilan seseorang, meskipun faktanya belum membuktikan. Kenyataannya kita kerap kali terburu-buru terpana akan mutu, kualitas, dan kesejahteran yang semakin lama semakin kurang menggairahkan namun terlalu menyenangkan untuk tidak membicarakannya. Pendidikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Asip Kurniawan, S.Pd<br />
<a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/fer.png" mce_href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/fer.png"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/fer.png" mce_src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/fer.png" alt="" title="fer" class="alignleft size-full wp-image-1719" width="294" height="400"/></a>Bukan hal yang biasa bila setiap kali kita membicarakan mengenai kehidupan dunia pendidikan. Karena pendidikan kini suatu bukti kesaktian akal, bahkan suatu keberhasilan seseorang, meskipun faktanya belum membuktikan. Kenyataannya kita kerap kali terburu-buru terpana akan mutu, kualitas, dan kesejahteran yang semakin lama semakin kurang menggairahkan namun terlalu menyenangkan untuk tidak membicarakannya. Pendidikan acap kali di cap sebagai kejeniusan, padahal sama sekali salah. Jika kemiskinan identik dengan kebodohan, itu juga suatu bandrol yang meleset dari pasaran, pemikiran tersebut hanya bersifat temporal. Dari satu sisi banyak yang menerima tapi dari sisi yang lain banyak yang menolak. Apakah karena faktor yang mendasar atau hanya gengsi dengan pemikirin tersebut.</p>
<p>Dimana-mana terjadi proses-proses perubahan yang dipaksakan. Ini memaksa yang dipaksa menjadi memaksakan diri dalam pemenuhan keinginan sesuai yang memaksakan. Dalam hal ini adalah kesejahteraan pengajar (bukan pendidik). Sampai akhirnya segala sesuatu menjadi seperti sebuah keterpaksaan. Terpaksa menerima upah mengajar yang relatif dianggap kurang, terpaksa mandi pagi dan dua sampai empat jam berdiri di depan kelas.<br />
Terjadinya proses-proses penyejahteraan diri yang entah karena terpaksa atau memaksa, yang jelas banyak mengundang banyak pertanyaan. Demonstrasi-demonstrasi menuntut adanya perbaikan kesejahteraan bagi pengajar baik negeri maupun yang belum negeri sebetulnya sudah delik untuk memberikan sebutan bahwa kita sebagai pengajar mengalami kemunduran mental dan kemerosotan kedisiplinan etika, atau karena banyak disebabkan oleh iklim demokrasi. Sehingga, profesi guru yang pekerjaannya identik dengan menulis dan membaca akan tetap hanya sebatas keidentikan semata. </p>
<p>Membaca maupun menulis bagi sebagian guru dirasakan terlampau memuakkan. Disamping membutuhkan waktu luang untuk menyalurkan ide maupun argumentasi, tapi juga tidak memberikan finansial yang pasti.<br />
Tanpa membaca manusia akan buta segalanya. Membaca memanfaatkan waktu luang. Mungkinkah membuat artikel tanpa membaca artikel yang dibuat orang lain? Menulis memerlukan ketrampilan khusus, tidak hanya memanfaatkan bahasa. Dalam arti bahwa menulis tidak hanya memerlukan satu buah disiplin ilmu. Karena menulis timbul dari pikiran setelah berhadapan dengan sebuah kenyataan. Namun, semuanya bisa dimulai dari keinginan mencoba dan belajar.<br />
Banyak diantara kita yang lihai menerjemahkan suatu keadaan atau menanggapi sesuatu tapi tidak pandai dalam memaparkannya. Karena apa yang kita tulis bukan hanya dapat terpahami oleh penulis tapi juga oleh pembaca. Bukankah kita menulis atas dasar keinginan agar terkomunikasikan?<br />
Budaya membaca sudah sejak lama diteriakkan oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun di lingkungan akademik. Namun sejauh ini belum menuai hasil yang signifikan. </p>
<p>Untuk menjadi seorang penulis, beberapa hal yang sifatnya material sangat berpengaruh. Seorang penulis barang tentu tidak akan dapat membuat suatu cerita pendek maupun novel tanpa mempelajarinya. Untuk itu dibutuhkan perbendaharaan buku sastra. Begitu pula dengan menulis artikel, dibutuhkan beberapa reverensi yang memadai dan sesuai. Sementara itu, kepuasan per individu penulis terlalu muluk-muluk. Bukan sekadar pada terpublikasikannya sebuah karya, tapi juga adanya unsur komersial &#8216;yang lumayan&#8217;.</p>
<p>Seperti kita ketahui sebagian besar beranggapan bahwa menulis adalah hobi. Sehingga apabila sudah menjadi sebuah hobi, maka menulis hanya akan terbentur pada waktu dan ide. Tapi, bagaimana menulis itu bisa menjadi sebuah hoby bagi guru yang sebelumnya apatis jika mendengar kata-kata &#8216;menulis&#8217; itu?</p>
<p>Di lingkungan pendidikan, khususnya guru yang suka menulis-mengarang, kesempatan menulis kerapkali tidak didapatkan karena faktor waktu. Namun waktu juga bukan menjadi kendala apabila masih adanya keinginan untuk menulis. Pada dasarnya, seorang guru yang biasa menulis dengan tanpa sadar ia tidak akan bisa berhenti menulis. Keinginan menulis itu selalu muncul dengan berbagai alasan. Salah satunya keinginan untuk memamerkan pemikiran., baik berupa karya ilmiah maupun tulisan sastra. Menulis cerpen maupun membuat penelitian tindakan kelas merupakan sebuah presentasi dari hasil kita menyimpulkan sebuah wacana yang telah ada. Jika mengenai penelitian tindakan kelas, berarti persinggungan kita dengan anak-anak didik.</p>
<p>Beberapa guru ketika disodori sebuah blangko yang berisi mengenai lomba menulis, baik karya ilmiah maupun karya fiksi, selalu menolak untuk mengetahui informasi yang ada dalam pamflet tersebut atau terlampau acuh. Sebagai seorang pendidik, hal semacam itu sangatlah wajar, apalagi dengan kondisi keuangan yang tidak mendukung mereka. Psikologinya, bagaimana mereka mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidup dengan kepastian keberhasilan 90% diluar pendapatan dari mengajar itu sendiri. Lalu, bagaimana kita bisa memberikan sugesti yang persuasif mengenai manfaat menulis agar tumbuh dan tertanam sepersit semangat menulis? Alangkah baiknya, jika dimungkinkan, kalau setiap sekolah ditempatkan seorang pendidik yang telah berhasil menjadi seorang penulis. Salah satu contohnya adalah apabila organisasi seperti Agupena Jawa Tengah meratakan seluruh anggotanya untuk ditempatkan di sekolah-sekolah di Jawa Tengah yang belum ada pendidik&nbsp; penulis. </p>
<p>Baik guru yang memang menyukai menulis dan guru yang belum menyukai pekerjaan yang disebut menulis itu sebenarnya sama-sama mempunyai kesamaan sebab tidak mau menulis, yaitu ketakutan. Takut apabila pada akhirnya nanti terbukti bahwa kita memang tidak mampu menulis seperti yang telah diyakini sebelumnya. Karena ketakutan adalah hakiki dimiliki setiap manusia. Di lain pihak, jika berhasil menjadi penulis apakah menulis dapat merubah hidup? Atau hanya sebatas menopang hidup? Hal itu sama halnya jika seorang anak kecil memberi tahu keberadaan Hp kita yang hilang, padahal Hp itu masih baru dengan nilai nominalnya yang besar, tentu kita akan mempercayai omongan anak itu meskipun ia hanya seorang anak kecil, karena memang terbukti Hp itu ditemukan kembali. Tapi apabila kemudian anak itu menasehati agar kita tidak sombong dan agar sering bersedekah, tentu saja kita tidak akan menggubrisnya, karena ia seorang anak kecil. Nah, anak kecil itu tentunya harus memberikan alasan-alasan dan dasar yang tepat, atau bukti yang autentik.</p>
<p>Sebagai seorang guru, ide muncul ketika menemui realita yang dihadapkan pada kita. Baik berupa ide untuk menentukan tindakan kelas atau mencari alternatif dalam mengambil keputusan yang tepat dan paling tidak dijadikan sebagai eksperimen. Namun ide-ide yang telah kita dapatkan kerapkali&nbsp; mengalami kesulitan ketika ingin menuangkannya dalam bentuk tulisan. Sehingga untuk merealisir sebuah ide sudah terlebih dahulu terbentur pada bagaimana kita mempresentasikan dalam bentuk tulisan itu atau bagaimana cara memulainya. Tapi, bolehlah apabila kita memulainya dengan iseng atau dengan sebatas mencari kesibukan.</p>
<p>Menulis-mengarang maupun menulis sebuah penelitian tindakan kelas bukan hanya sekedar bisa dilakukan setiap profil guru. Sering kita menemui guru yang segala sesuatu dihitung secara ekonomis, dalam arti profesi sebagai seorang guru hanya sepenggal status. Padahal dengan mengkomersilkan sebuah profesi tersebut merupakan sebuah tindakan yang kurang profesional dan proporsional. Kita bisa mengambil contoh dengan adanya guru yang membagi-bagikan foto copy yang seharusnya tidak perlu karena kurang efektif, memaksa siswa untuk membeli buku paket atau LKS dan lain-lain. Jadi untuk memulai pekerjaan yang dengan nama &#8216;menulis&#8217; itu menjadi sesuatu hal yang sangat tidak efisien dalam meraup sisi finansial. Bahkan di lingkungan guru tidak tetap, sering kali terjadi perebutan jam mengajar namun tidak balance dan kurang konsekwensif. Sebab pekerjaan untuk menjadikan anak menjadi tahu dari ketidaktahuan itu tidak terealisir. Bukankah guru secara profesional adalah pendidik bukannya pengajar? Kalau hanya mengajarkan materi bukan barang aneh jika banyak orang yang mampu melakukannya. Karena jika kita melihat dari etimologinya, profesi itu sendiri adalah sebuah pekerjaan yang didapat melalui pendidikan yang berkelanjutan dan dilakukan secara sadar.</p>
<p>Berbicara mengenai menulis, baik menulis-mengarang maupun merealisasikan sebuah ide penelitian tindakan kelas dalam bentuk tulisan belumlah pekerjaan yang banyak digemari kalangan pendidik saat ini. Bukan saja karena membutuhkan pemikiran dan waktu yang ekstra, namun juga terkendala oleh prospek atau untung ruginya, yang pada dasarnya berupa materi.</p>
<p>Meskipun kita sering sekali mendengar bahwa pekerjaan yang disebut &#8216;menulis&#8217; itu adalah jenis pekerjaan mudah yang bisa kita lakukan sejak kita mengenal tulisan. Hal-hal yang biasanya menjadi alasan mengapa kita malas-malasan untuk menulis banyak disebabkan oleh beberapa persepsi berikut ini.<br />
Pertama adalah karena kurangnya apresiasi. Apresiasi itu bisa datang dari rekan kerja maupun instansi-instansi terkait. Dengan begitu penilaian yang kita berikan untuk karya kita sendiri seakan tidak mempunyai nilai, tanpa penilaian orang lain. Sehingga mengakibatkan ketika membaca sebuah karya milik orang lain, penulis akan merasa karyanya buruk. Hal tersebut membuat penurunan semangat untuk menulis atau pun keinginan memperbaiki tulisannya. Sedangkan jalan merealisasikan keinginan untuk memamerkan karya kita pun kerap kali terhambat atau melalui prosedur pengiriman yang dirasa menyulitkan. Contohnya seperti harus dengan menggunakan CDRW atau syarat-syarat pengiriman lainnya. Bahkan kita sering mendengar adanya keterlibatan orang dalam redaksi dalam pemuatan sebuah karya tulis.</p>
<p>Yang kedua adalah mengenai bagaimana seorang penulis memelihara dan mengelola semangat menulis. Semangat menulis itu akan terus terpelihara jika penulis mendapatkan pemikiran-pemikiran baru, pengetahuan-pengatahuan baru, konsep-konsep baru. Untuk itu perlu adanya sebuah bimbingan atau pendidikan-pendidikan yang berkesinambungan atau rutin dengan menghadirkan narasumber yang kompeten. Sedangkan agenda seperti itu jarang kita temui. Bahkan seminar-seminar yang marak diadakan&nbsp; akhir-akhir ini disinyalir hanya didikuti oleh sebagian guru yang hanya ingin mendapatkan sertifikat, sebatas formalitas yang tujuannya sebagai pelengkap sertifikasi.</p>
<p>
Sedangkan yang terakhir adalah tidak adanya komunitas yang menampung kreatifitas menulis guruMedia khusus, baik berupa buletin, majalah lokal, maupun media yang setaraf nasional. Alasan guru tidak mau menulis biasanya terkendala karena hal yang ketiga ini. Meskipun penulis kerap kali cenderung mendapatkan materi yang diharapkan dari termuatnya sebuah karya di sebuah media cetak, namun sedikit banyak penulis mendapatkan kepuasan tersendiri dari termuatnya sebuah karya yang diciptakannya. Baik karangan fiksi&nbsp; maupun berupa penelitian tindakan kelas. Dari sini kita bisa melihat bahwa banyak sekali penulis yang melempar bulpennya dan meremas naskah-naskahnya karena terlalu bosan setiap kali mengirim tulisannya ke media cetak tidak pernah termuat. Padahal tidak temuatnya tulisan tersebut bukan saja karena tidak sesuai tema, tidak up to date, tapi bisa saja karena birokrasi.</p>
<p>
Komunitas yang dimaksud dalam hal ini adalah adanya sebuah tempat atau media yang khusus menyalurkan kreatifitas menulis yang dikotomikan. Seperti dalam grand prix, ada kelas 125 CC, kelas 250 CC, kelas 500 CC, kelas 650 CC, maupun kelas 750 CC, begitu juga dengan penulis. Jika penulis pemula harus bersaing dengan penulis senior dalam mendapatkan tempat dalam kolom rubrik cerpen maupun artikel di sebuah media massa yang populer, tentu saja akan kurang sebanding. Jadi, seharusnya perlu adanya media massa yang menampung kreatifitas menulis guru dari taraf pemula sampai yang lebih senior. Kita tidak bisa menyamakan kegiatan menulis itu dengan kegiatan seorang anak dua tahun yang belajar berjalan, merangkak, andan-andan, merayap dari dinding ke dinding, sampai akhirnya mampu berjalan, karena berbeda kebutuhan. Ketiga faktor tersebut memang kerap kali kita jumpai sebagai kendala yang mendasar dalam menulis. </p>
<p>Bagi sebagian guru, menulis bahkan menjadi sebuah kegiatan yang mengasyikkan, bisa dikatakan penulis tersebut sudah tercukupi secara materi atau bisa saja memang tidak terlalu memikirkan meteri. Seperti asyiknya seekor nyamuk yang asik menusuk kulit dan pelan-pelan mengumpulkan tetes demi tetes darah kita di perutnya, hingga ia tak sanggup lagi mengepakkan sayapnya ketika telapak tangan kita akhirnya kembali mengeluarkan darah itu dengan sekali tebas.</p>
<p>Nyamuk. Pada musim pancaroba, awal musim penghujan, maupun di akhir musim kemarau, adalah masa dimana nyamuk-nyamuk menyerang kita. Bertengger di kelambu, di bak sampah, di tumpukan makalah kita, maupun di balik tikar ranjang kita, menunggu kita terlena lalu menghisap darah kita, kabur, kawin, dan berbertelur. Namun bukan persoalan mengenai masa nyamuk keluar dari sarangnya, kapan musim kawinnya, maupun jenis nyamuk-nyamuk yang berbahaya yang dipermasalahkan, tetapi bagaimana cara seekor nyamuk bertahan hidup secara biologis.</p>
<p>
Pada musim tertentu nyamuk datang begitu banyaknya dengan gigitan yang sangat menyengat. Dengan begitu, otomatis manusia yang menjadi korban akan mengambil tindakan penanggulangan. Salah satunya yang sering kita jumpai adalah dengan menggunakan obat nyamuk bakar. Pada hari pertama kita menggunakan obat nyamuk bakar, mungkin skala nyamuk yang menyerang akan berkurang. Namun itu hanya akan bertahan satu sampai tiga atau empat hari. Pada hari ke-lima nyamuk akan datang sebegitu rupa banyaknya seperti sebelum kita menggunakan obat nyamuk bakar, seperti semula. Karena nyamuk dengan sendirinya akan membentuk antibody, sehingga berubah menjadi kebal dari asap obat nyamuk bakar tersebut. Penulis yang selalu siap kapan saja untuk menulis, kapan saja siap menuangkan idenya, meskipun ratusan kali mengirim tulisan namun tidak pernah dimuat serta membuang-buang prangko percuma, artinya sudah terbentuk antibody, seperti halnya seekor nyamuk. Setiap kali mengirim naskah atau tulisan ke redaksi namun tidak pernah dimuat, menjadi hal yang biasa dan menjadi makanan empuk sehari hari. Tidak memudarkan keinginan menulis dan semangat untuk tetap menulis, serta tidak bisa membendung dan menghentikan. Keberhasilan pasti akan terengkuh, dan kepuasan itu sama halnya ketika kita menempeleng nyamuk dan kena, lalu darah nyamuk menodai sarung kita.&nbsp; Karena penulis adalah nyamuk. Nyamuk super yang tidak akan mati dengan tempelengan maupun hanya dengan sebutir peluru. Artinya, mengapa penulis bisa tidak mati ditempelang maupun diberondong tembakan timah panas sama dengan ketika kita melontarkan pujian selepas membaca karya masterpiece-nya Umar Kayam atau Handtrymatika-nya Tri Budiono, karena semuanya ada sejarahnya.</p>
<p>Kita mengirim sebuah tulisan atau menawarkan sebuah ide di sebuah media. Pada awal bulan berikutnya tulisan orang lain yang ternyata terpaksa harus kita baca. Maka, tentu saja harus hanya ada cibiran yang berbau delusi dalam hati kita, sehingga keinginan untuk stop dan berhenti berkarya akan teranulir dan pergi meninggalkan benak kita. Namun, setiap kita harus tetap berada atau memilih satu sisi dari dua sisi. Dengan membuat penelitian, dengan menulis, kita bisa memberikan kemajuan pada anak bangsa, kita menymbangkan sedikit pemikiran kita yang besar manfaatnya. Atau berkutat dalam kebingungan. Jadi, bagaimana kita mengukir sejarah kita?</p>
<p>Selamat menulis.</p>
<p>Daftar Pustaka<br />
Hasnun, Anwar. 2004. Pedoman dan Petunjuk Praktis Karya Tulis.Yogyakarta:<br />
Absolut<br />
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan<br />
Malang. 1996. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Skripsi, Tesis, Disertasi,<br />
Artikel, laporan &nbsp; penelitian. Malang.</p>
<p><b>Asip Kurniawan, S.Pd</b><br />
Guru Bahasa Indonesia SMP 4 Sale, Rembang, Peserta Lomba Penulisan Artikel Pendidikan Agupena Jateng. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/03/02/guru-penulis-dan-nyamuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan yang Menggeli(sah)kan</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/03/01/pendidikan-yang-menggelisahkan/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/03/01/pendidikan-yang-menggelisahkan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 13:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1714</guid>
		<description><![CDATA[OLEH : JC TUKIMAN TARUNA
Selaku pendidik, Mochtar Buchori (Kompas, 9/2/2010) mencurahkan kegelisahannya (kegeliannya juga?) lewat tiga ”kalimat kunci”-nya.
Kalimat kunci pertama adalah ”&#8230; dalam kasus kita sekarang, krisis moral jadi sumber krisis- krisis yang lain. &#8230;. Begitu pula keributan tentang ujian nasional, hemat saya adalah dampak dari krisis moral.” Jalan keluar menerobos krisis moral itu hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>OLEH : JC TUKIMAN TARUNA</p>
<p><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/sss.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/03/sss.jpg" alt="" title="sss" width="223" height="271" class="alignleft size-full wp-image-1715" /></a>Selaku pendidik, Mochtar Buchori (Kompas, 9/2/2010) mencurahkan kegelisahannya (kegeliannya juga?) lewat tiga ”kalimat kunci”-nya.</p>
<p>Kalimat kunci pertama adalah ”&#8230; dalam kasus kita sekarang, krisis moral jadi sumber krisis- krisis yang lain. &#8230;. Begitu pula keributan tentang ujian nasional, hemat saya adalah dampak dari krisis moral.” Jalan keluar menerobos krisis moral itu hanya satu, yakni kita sendirilah yang harus mengendalikan krisis moral itu sekarang ini juga karena tidak mungkin krisis moral akan dihentikan oleh kekuatan lain/dari luar.</p>
<p>Kalimat kunci kedua, ”&#8230; krisis moral yang ada sekarang bisa menimbulkan krisis wibawa.” Jalan keluar utama yang ditawarkannya adalah hendaknya para politisi benar-benar tampil sebagai sosok yang berwibawa karena dunia politik dewasa ini adalah bidang yang pertama mengalami krisis wibawa.”</p>
<p>Adapun kalimat kunci ketiga berupa ”jawaban kunci”, yaitu kita membutuhkan pendidikan karakter supaya kehidupan politik bangsa tidak terus berjalan tertatih-tatih dan terlepas dari konteks masalah yang sedang terjadi.</p>
<p>Moralitas pendidikan</p>
<p>Alkisah, di hutan belantara yang lebat diselenggarakan sebuah sekolah untuk hewan-hewan dengan mata pelajaran utama berlari, memanjat, terbang, dan berenang mengingat empat ”ilmu” itulah yang pasti membekali hewan-hewan untuk dapat sintas. Kucing hitam memperoleh predikat summa cum laude untuk berlari dan memanjat, tetapi ia sangat sengsara dan benar-benar jelek untuk ”ilmu” berenang dan terbang. Si angsa justru kebalikannya, hanya dalam hitungan hari, ia sudah sangat mahir dalam mata pelajaran berenang dan terbang, tetapi benar-benar menderita lahir-batin untuk memanjat dan berlari (baca tulisan Kak Seto dalam Membuka Masa Depan Anak-anak Kita, Mencari Kurikulum Pendidikan Abad XXI- editor Sindhunata; Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2000).</p>
<p>Pesan moralnya jelas: setiap individu siswa pasti memiliki potensi yang mungkin sama, tetapi sangat mungkin berbeda. Ratusan, bahkan ribuan siswa sangat mungkin memperoleh predikat summa cum laude untuk mata ujian Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, tetapi sangat mungkin ada jutaan siswa yang mengalami penderitaan lahir-batin karena dua mata ujian itu. Rupanya, di situlah ribut-ribut tentang ujian nasional disebut sebagai dampak krisis moral oleh Mochtar Buchori karena ada bahaya generalisasi yang menuntut ”kucing hitam harus sepotensi dengan angsa dan sebaliknya”.</p>
<p>Moralitas pendidikan terletak pertama-tama pada model pendidikan yang berpusat pada anak/siswa, bukan berpusat pada pemerintah/kebijakan, guru, ataupun kepala sekolah. Artinya, siswa benar-benar sebagai pusat dan subyek utama semua kegiatan pendidikan, dan karena itu sangat bertentangan dengan moralitas ketika dunia pendidikan dijadikan sebagai tempat untuk hitung-hitungan dan arena bisnis. Ribut-ribut sekitar ujian nasional jangan-jangan ada aspek- aspek bisnis di balik layarnya.</p>
<p>Ketika aspek bisnis merasuki dunia pendidikan, yang muncul dan didengung-dengungkan adalah pentingnya persaingan (ketat) ataupun rivalitas antarindividu siswa, antarsekolah, dan antarinstansi. Situasi kompetitif memperlihatkan bahwa pelaku bisnis (termasuk pelaku bis nis dalam pendidikan pun) akan memperlakukan/menganggap pihak lain sebagai rival. Dampak rivalitas tersebut adalah eliminasi. ”Eliminasi terhadap kecenderungan rivalitas yang sifatnya negatif ini harus beranjak dari suatu refleksi terhadap akibat yang menjadi dampak dari perkembangan menyimpang dari seluruh masyarakat kita” (Conny Semiawan, 2000:25).</p>
<p>Jadi, tantangan terberat model pendidikan berpusat pada anak adalah terciptanya rivalitas di berbagai strata. Maraknya tawuran antarpelajar atau mahasiswa atau antarmahasiswa dengan aparat sangatlah menggelisahkan, dan hal ini harus kita catat sebagai dampak dari iklim rivalitas yang tercipta.</p>
<p>Kedua, moralitas pendidikan (termasuk krisis moralitasnya) terletak pada model pembelajaran yang seharusnya unlock the capacities, yakni gugus pembelajaran yang membuka kemampuan seoptimal mungkin yang dimiliki oleh setiap individu siswa. Karena itu, jika pembelajaran tidak membuka peluang lebar-lebar bagi berkembangnya potensi siswa, di situlah telah terjadi krisis moralitas, dan hanya tercipta robot-robot yang pandai meniru belaka. Guru dapat menjadi ”tersangka” pertama/kunci apabila proses pembelajarannya tidak mengembangkan secara opti- mal potensi siswa. Ketiga, moralitas pendidikan terletak pada right-based budget, yaitu sistem pengalokasian anggaran yang berbasis pada pemenuhan hak anak/siswa.</p>
<p>Model alokasi anggaran seperti bantuan operasional sekolah (BOS) sudah memenuhi syarat anggaran berbasis pemenuhan hak siswa secara individual karena unit analisisnya siswa. Semua alokasi anggaran pendidikan —tidak hanya BOS—seharusnya menggunakan unit analisis siswa, bukan seperti sampai sekarang dilakukan, yaitu berdasarkan perencanaan yang ”berbasis tahun lalu”. Kita semua tahu bahwa jumlah siswa ataupun karakteristik siswa selalu berbeda dari tahun ke tahun.</p>
<p>Menggelisahkan</p>
<p>Salah satu aspek pembentukan karakter terpenting, menurut C Semiawan (2000:29), adalah pendidikan harus mampu mendorong setiap individu itu melakukan pendakian terjal (the ascent of man). Dalam diri setiap siswa/anak, ada dua dorongan esensial, yaitu dorongan untuk mempertahankan diri dalam lingkungan eksternal yang ditandai oleh berbagai perubahan cepat; serta dorongan untuk mengembangkan diri, yaitu dorongan ingin belajar terus dan keinginan untuk mencapai ambisi tertentu.</p>
<p>Orang-orang semacam itulah yang (akan) memiliki karakter, tetapi, sayangnya, dunia pendidikan kita tidak serta-merta melakukan atau mengakomodasi dorongan-dorongan seperti itu. Tontonan dan informasi sehari-hari yang dilihat di televisi, atau dibaca di koran/majalah, seharusnya disadari bersama sebagai media belajar anak-anak/ siswa kita. Karena itu, selayaknya yang disajikan adalah hal-hal yang dapat mendorong anak/siswa untuk melakukan pendakian terjal tersebut. Sayangnya, yang tersaji adalah kerusuhan demi kerusuhan, demonstrasi anarkis dari satu tempat ke tempat lain; bahkan kalaupun berupa pidato tokoh, ia tampil sebagai tokoh yang tidak mempunyai sentuhan edukasi.</p>
<p>Apabila setiap hari asupan informasinya seperti itu, marilah kita semakin prihatin dan gelisah terhadap pertumbuhan karakter generasi muda kita. Gubernur Jawa Tengah pernah membagi-bagikan kaset berisi lagu-lagu nasional dan perjuangan ke sekolah-sekolah di Jawa Tengah. Setiap pagi, seperempat jam sebelum jam masuk, lagu-lagu itu diharapkan disetel keras-keras agar siswa mendengar, dan harapannya lama-kelamaan dapat menghayatinya sehingga karakter siswa terbentuk. Muluskah? Ternyata tidak.</p>
<p>Banyak sekolah yang mengeluh tidak memiliki tape recorder, apalagi pengeras suara; ada juga yang mengeluh tidak memiliki penjaga sekolah yang siap ditugasi, karena ada guru yang merasa direndahkan martabatnya ketika diminta untuk mengurusinya. Rupanya, mengeluh adalah ”karakter” bangsa kita dewasa ini. Hal itu memang menggelisahkan, tetapi juga menggelikan.</p>
<p>JC Tukiman Taruna Anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah</p>
<p>Sumber : Kompas</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/03/01/pendidikan-yang-menggelisahkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMBUDAYAKAN MENULIS DI KALANGAN GURU MELALUI  LAPORAN  KEGIATAN PEMBELAJARAN</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/02/28/membudayakan-menulis-di-kalangan-guru-melalui-laporan-kegiatan-pembelajaran/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/02/28/membudayakan-menulis-di-kalangan-guru-melalui-laporan-kegiatan-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 06:20:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1706</guid>
		<description><![CDATA[0leh : Diyono Adhi Budiyono
Sejujurnya kita sebagai guru belum memiliki budaya menulis. Kenyataan itu dapat kita amati di lapangan, bahwa belum banyak guru yang memiliki kebiasaan menulis. Guru yang memiliki kemampuan dan kemauan menulis masih dalam jumlah yang terbatas. Dalam satu kabupaten / kota jumlah penulis dari kalangan guru masih dapat kita hitung dengan jari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>0leh : Diyono Adhi Budiyono<br />
<a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/budh.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/budh.jpg" alt="" title="budh" width="197" height="172" class="alignleft size-full wp-image-1709" /></a>Sejujurnya kita sebagai guru belum memiliki budaya menulis. Kenyataan itu dapat kita amati di lapangan, bahwa belum banyak guru yang memiliki kebiasaan menulis. Guru yang memiliki kemampuan dan kemauan menulis masih dalam jumlah yang terbatas. Dalam satu kabupaten / kota jumlah penulis dari kalangan guru masih dapat kita hitung dengan jari tangan, atau dapat kita hitung dengan awangan dalam benak kita. </p>
<p>Jika muncul suatu  pertanyaan : Mengapa budaya menulis di kalangan guru masih rendah ? Jawabnya bermacam-macam. Tetapi jawaban yang sering kita dengar adalah: tidak ada waktu atau karena banyaknya tugas guru di dalam maupun di luar sekolah. Di sekolah, guru harus melaksanakan tugas pokoknya yang berupa kegiatan pembelajaran. </p>
<p>Di luar sekolah, guru harus mempersiapkan tugasnya yang berupa ; menyusun program pengajaran, menganalisis hasil evaluasi belajar/praktik, menyusun program perbaikan dan pengayaan dan lain-lain. Belum lagi ditambah tugas kemasyarakat guru.  </p>
<p>Di dalam masyarakat seorang guru biasanya memiliki banyak peran penting yang dipercayakan kepadanya. Tugas guru di dalam maupun di luar sekolah yang banyak menyita waktu itu menjadi alasan utama bagi guru enggan menulis, sehingga menyebabkan budaya menulis di kalangan guru rendah. </p>
<p>Alasan lain yang juga sering kita dengar adalah karena kegiatan menulis memang tidak gampang. Gampang-gampang sulit katanya. Gampang bagi mereka yang memiliki kompetensi menulis, sulit bagi mereka yang kemampuan menulisnya sangat terbatas. Kemampuan menulis terbatas, dan gairah belajar menulis tipis. Pada hal pemerintah sudah berusaha menggairahkan guru untuk aktif menulis dengan menetapkan karaya ilmiah menjadi unsur pendukung dalam pengembangan profesi guru. Angka kredit poin pada karya tulis cukup lumayan untuk menambah penetapan angka kredit dalam rangka kenaikan pangkat / golongan, dan wajib bagi guru yang ingin naik pangkat/golongan ke IV.b. </p>
<p>Selain itu pemerintah juga memfasilitasi penyelenggaraan Forum Ilmiah Guru ( FIG )di tiap-tiap kabupaten / kota.  Hanya sayang, keberadaan  FIG belum efektif bagi semua guru yang ada. Mestinya FIG ini dapat menjadi wadah atau wahana bagi semua guru yang ada di suatu kabupaten/kota. Kenyataannya keberadaan dan keanggotaannya masih terbatas. Anggotanya adalah guru-guru tunjukkan yang diproyeksikan akan naik pangkat/golongan ke IV.b. Karena kenaikan pangkat / golongan ke IV.b. wajib membuat karya ilmiah. Keanggotaannya belum mencakup semua guru, apalagi guru swasta yang hampir tidak pernah tersentuh dengan program-program semacam FIG. Setiap tahunnya keanggotaan Forum Ilmiah Guru ini, yang penulis dengar, hanya dibatasi sekitar 20 guru, yang siap membuat karya ilmiah untuk naik pangkat/golongan. Guru yang tidak ditunjuk, tidak akan masuk forum ilmiah guru.</p>
<p>Menulis dan karya ilmiah seakan menjadi momok bagi guru yang masih awam dengan karya ilmiah. Sebut saja guru-guru Sekolah Dasar ( SD ) yang nota bene basis akademiknya kebanyakan masih lulusan SPG, D 1, D 2, yang belum pernah membuat skripsi. Mereka kebanyakan kesulitan membuat karya ilmiah. Mereka banyak yang mentok di golongan IV.a karena kesulitan membuat karya ilmiah khususnya yang berupa PTK. Hanya mereka yang telah lulus sarjana yang percaya diri untuk mencoba membuat PTK. Itupun masih banyak dari mereka yang gagal dalam karya ilmiah ini. Karena karya mereka dianggap belum layak mendapatkan nilai. Mereka, para sarjana yang gagal tidak lolos PTK-nya berkomentar ; membuat laporan PTK ternyata lebih sulit dari pada skripsi. Pada hal menurut teori, mestinya PTK lebih sederhana dan lebih mudah daripada skripsi. Tetapi kenyataannya begitulah. </p>
<p>Karya ilmiah dianggap menjadi sandungan bagi mereka yang berkesulitan membuatnya untuk naik ke golongan IV.b. Akhirnya mereka banyak yang pasrah pada nasibnya di golongan IV.a. hingga menunggu masa pensiun tiba. </p>
<p>Dengan alasan apapun memang kita harus mengakui, bahwa di kalangan guru kita belum tercipta budaya menulis. Kemampuan dan kemauan guru untuk menulis masih terlalu rendah. Walaupun pemerintah telah merangsang bagi guru untuk aktif melakukan kegiatan menulis dengan  perolehan angka kredit. Kegiatan ilmiah dan karya ilmiah sebagai unsur pendukung pengembangan profesi guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan atau mutu pendidikan serta dalam rangka memperoleh angka kredit, belum menjadi pemacu guru untuk bergairah menulis.</p>
<p>Dalam kehidupan modern ini, ( Henry Guntur Tarigan, 1982; 4 ), ketrampilan menulis sangat dibutuhkan. Kiranya tidaklah terlalu berlebihan bila kita katakan bahwa ketrampilan menulis merupakan suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar.  Menulis dipergunakan oleh orang terpelajar untuk mencatat/merekam, meyakinkan, melaporkan/memberitahukan, dan mempengaruhi; dan maksud serta tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik apabila seseorang dapat menyusun pikirannya dan mengutarakannya dengan jelas. Kejelasan itu tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat yang baik dan teratur.</p>
<p>Di Negara maju,  menulis menjadi ciri masyarakat maju. Menurut Asep Syamsul M. Ramli, S.IP. ( 2005 : v ), Kemampuan menulis menjadi sesuatu yang dikejar. Dengan memiliki kemampuan menulis, seseorang bukan saja dapat mendapatkan penghasilan ( honor ), sebagai penghasilan sampingan atau bahkan utama ( berorientasi sebagai penulis), melainkan juga dapat aktif sebagai ‘propagandis’, pembentuk opini umum lewat tulisan-tulisannya, melakukan dakwah bil qolam, menyebarluaskan ilmu atau pemikirannya, dan tentunya turut mewarnai muatan informasi media massa. Walaupun demikian, angka ilmuwan dari kalangan guru hingga kini masih terlalu rendah dibandingkan dengan ilmuwan dari kalangan lain.  </p>
<p>Menurut Henry Margenau dkk. dalam bukunya yang berjudul ‘Ilmuwan’ ( 1986;31) bahwa angka ilmuwan guru paling kecil dibandingkan ilmuwan lainnya. Masyarakat ilmiah terdiri dari pasukan teknikus dan insinyur, suatu divisi ilmuwan dan suatu resimen guru ilmu pengetahuan alam di sekolah tinggi. </p>
<p>Daftar berikut memperlihatkan perbandingan antara keempat kelompok ilmuwan tersebut pada tahun 1970. Angkanya berubah-ubah dari tahun ke tahun. Jumlah pada tahun 1960 adalah 2,37 juta, telah tumbuh menjadi 2,7 juta pada tahun 1964 dan menjadi 3 juta pada tahun 1970. Tetapi perbandingannya kurang lebih tetap. Data yang di maksud adalah sebagai kerikut :<br />
      1. Teknikus : 1.000.000 (32.84 % )<br />
      2.  Insinyur : 1.082.000 (35.53 % )<br />
      3.  Ilmuwan :    612.000 (20.10 % )<br />
      4. Guru  :    351.000 (11.53 %  )</p>
<p>Angka di atas menunjukkan jumlah masyarakat ilmiah di seluruh dunia. Betapa kecilnya angka ilmuwan guru dibandingkan dengan ilmuwan di bidang lain. Itu pun terbatas di kalangan dosen di perguruan tinggi. Apalagi jika kita tengok ilmuwan guru di negeri kita, tentu angkanya lebih kecil lagi. </p>
<p>Bagi guru, menulis memiliki arti penting berhubungan dengan tugas dan profesinya. Menulis ilmiah merupakan unsur pendukung bagi pengembangan profesi guru yang memiliki angka kredit seperti yang tercantum dalam buku panduan, Angka Kredit bagi Jabatan Guru. Karya ilmiah  yang dimaksud adalah ; karya ilmiah di bidang pendidikan, yang berupa ; a) karya ilmiah hasil penelitian, survey dan atau evaluasi di bidang pendidikan, b) karya tulis berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan  sendiri dalam bidang pendidikan, c) makalah, d) tulisan ilmiah popular, e) Prasaran, f) buku pelajaran atau modul, g) diktat pelajaran</p>
<p>Walaupun karya ilmiah memiliki nilai / angka kredit yang dapat mengantarkan guru untuk dapat naik golongan / pangkat, namun seolah hal itu tidak menjadikan daya tarik bagi guru. Mengapa ? Karena, pertama; kempauan tulis-menulis guru sangat terbatas, kedua ; penilaian yang terlalu ketat. Sekali pun guru yang basis pendidikannya sarjana ( S1 ) bahkan S2 masih banyak yang gagal membuat karya tulis ilmiah seperti halnya laporan PTK.</p>
<p>Kedua alasan itu menyebabkan guru enggan melakukan penelitian atau membuat karya tulis. Sehingga kesulitan guru untuk memperoleh pengakuan karya tulisnya dari tim asesor itu, menjadika malas melakukan PTK. Cerita dari beberapa guru yang telah pernah gagal mengajukan karyanya, berimbas pada guru lain yang berdampak pada kemalasan untuk mencoba melakukan penelitian tindakan kelas dalam rangka pengajuan angka kredit. </p>
<p>Para guru merasa, betapa sulitnya memperoleh poin dari karya ilmiah ini. Karena kemampuan guru yang terbatas atau ketatnya penilaiannya, menjadikan guru enggan untuk mencoba menulis, sehinga mereka beranggapan mengajukan PTK yang telah menyita waktu dan tenaga, seperti halnya melakukan sesuatu yang sia-sia. </p>
<p>Berikut ini penulis menawarkan salah satu jalan keluar untuk membudayakan menulis di kalangan guru melalui penulisan laporan kegiatan profesi guru secara berkala. Maksudnya, setiap guru diwajibkan menulis laporan kegiatan tugas pokoknya sebagai guru pada setiap akhir semester. Dan laporan itu harus mendapatkan nilai kredit yang ketentuan penilaiannya agak diperlonggar. Maksudnya setiap laporan harus mendapatkan nilai, walaupun setandarnya di bawah nilai hasil penelitian tindakan kelas ( PTK ). </p>
<p>Bentuk laporan ini tidak harus menggunakan landasan teori atau kajian pustaka seperti halnya PTK. Jadi hanya melaporkan pengalaman-pengalaman yang esensial dengan segala permasalahan yang dihadapi guru. Dalam laporam, Guru boleh mengomentari permasalahan yang dijumpainya atau memberikan jalan keluar, tanpa melalui anlisis data seperti dalam PTK. </p>
<p>Dengan demikian, guru bisa mengakumulasi perolehan nilai laporan kegiatan tugasnya untuk dapat menjadi syarat naik ke golongan IV.b dan seterusnya. Misalnya, nilai laporan maksimal : 2, dan nilai minimal : 1. Jika  nilai persyaratan karya ilmiah guru untuk naik ke pangkat/golongan IV. b adalah 12, maka seorang guru yang membuat laporan dengan nilai maksimal ( 2 ) ia harus mengumpulkan nilai laporan kegiatan tugas mengajar dalam waktu 6 semester atau 3 tahun. Jika guru hanya memperoleh nilai minimal dalam setiap semesternya, untuk naik ke golongan IV.b, ia harus mengumpulkan nilai dalam waktu 12 semester atau 6 tahun. Jadi secara otomatis, setiap guru dapat naik golongan setiap 6 tahun, karena sudah terpenuhi karya  ilmiah dari pembuatan laporan kegiatan tugas mengajar.</p>
<p>Lalu seperti apa bentuk laporan itu. Menurut Gorys Keraf, ( 1980 ; 284 ), laporan adalah suatu cara komunikasi di mana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena tanggungjawab yang dibebankan kepadanya. Karena laporan yang dimaksud sering mengambil bentuk tertulis, maka dapat pula dikatakan bahwa laporan merupakan suatu macam dokumen yang menyampaikan informasi mengenai sebuah masalah yang telah atau tengah diselidiki, dalam bentuk fakta-fakta yang diarahkan kepada pemikiran dan tindakan yang akan diambil.</p>
<p>Guru mengemban tugas pokok yaitu melaksanakan pembelajaran di sekolah yang ditugaskan kepadanya. Guru mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan tugasnya itu. Guru mengetahui yang sebenarnya kondisi di sekolahnya. Guru mengetahui tentang potensi dan kelemahan yang ada di sekolahnya. Guru mengetahui sesuatu sebagai peluang atau ancaman. Guru tahu apa yang baik untuk dilakukan bagi peserta didiknya</p>
<p>Oleh sebab itu, guru bisa menceritakan semua itu dalam bentuk karangan yang panjang lebar. Tetapi semua itu tidak harus diceritakan semuannya dalam laporan. Yang diceritakan dalam laporan hendaknya hanya hal-hal yang esensial, hal-hal yang pokok yang berhubungan dengan tugas pokoknya sebagai guru dalam kegiatan pembelajaran. Apa yang dilaporkan mengenai pelaksanaan tugasnya adalah hal-hal yang penting saja. Hal ini dimaksudkan agar pihak yang  menerima laporan  segera mengetahui permasalahannya, dan agar dapat segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Guru sebagai penulis laporan hanya melaporkan hal-hal penting berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi selama melaksanakan tugasnya dalam pembelajaran, dalam satu  semester, disetiap akhir semester secara berkala.</p>
<p>Laporan merupakan salah satu bentuk dokumen yang memiliki beberapa variasi. Dari bentuk yang sederhana yang berupa angka-angka sebagai suatu gambaran mengenai perkembangan suatu persoalan, sampai kepada laporan yang terdiri dari beberapa jilid buku yang masing-masing terdiri ratusan halaman. Selain itu ada pula yang berbentuk isian formulir-formulir yang standar, ada yang berbentuk surat, ada pula yang berbentuk buku.</p>
<p>Selama ini kalau toh ada laporan berkaitan dengan tugas guru biasanya dalam bentuk isian formulir tersetandar dari pengawas atau pun dari dinas pendidikan. Dan laporan itu kebanyakan berupa angka-angka. Laporan itu bersifat masal dalam satu sekolah dan bukan setiap individu guru.</p>
<p>Apa yang dilaporkan seorang guru adalah hal-hal penting tentang tugas pokoknya sebagai guru profesional. Tugas keprofesionalan guru seperti yang dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban : a) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; b) Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. c) Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran. d) Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan e) Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.</p>
<p>Isi laporan harus apa adanya sesuai dengan fakta di lapangan. Karena ada macam laporan yang harus memenuhi permintaan dari pihak penerima laporan. Biasanya laporan itu menjawab pertanyaan; bagaimana supaya laporan itu cocok dengan kebutuhan pihak penerima laporan itu.atau dengan kata lain, laporan asal bapak senang alias ABS. Laporan untuk kepentingan kelas tidak boleh dibayangi dengan pertanyaan itu. </p>
<p>Pemberi tugas pelaporan adalah kepala dinas pendidikan lewat pengawas sekolah. Pengawas sekolah memberikan tugas pelaporan kepada guru secara perorangan mengenai pelaksanaan tugas pokoknya setiap akhir semester. Jadi laporan itu dibuat secara berkala atau secara periodik mengenai perkembangan dan keadaan pembelajaran di sekolahnya. Dalam bentuk laporan formal. Karena laporan berkala biasanya hanya mengambil bentuk laporan dalam bentuk formulis isian atau dalam bentuk surat.</p>
<p>Sifat laporan kegiatan tugas mengajar seperti halnya dengan semua jenistulisan yang lain. Sebuah laporan dianggap baik atau buruk bergantung kepada keberhasilannya dalam memenuhi fungsinya, yaitu memepengaruhi pembaca seperti yang diharapkan. Hasil yang diharapkan dapat berupaperbaikan, perubahan, bantuan, perkembangan, penegasan sikap, pengambilan keputusan sejalan dengan tujuan laporan.  </p>
<p>Struktur laporan kegiatan tugas mengajar menggunakan bentuk laporan formal. Menurut Gorys Keraf, ( 1980 : 290 ), laporan formal adalah laporan yang  memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, sedang nadanya bersifat impersonal dan mmaterinya disajikan dalam suatu pola struktur seperti yang terdapat dalam buku-buku.</p>
<p>Ciri-ciri umum laporan formal adalah sebagai berikut : 1) halaman judul, 2) surat penyerahan, 3) daftar isi,4) ikhtisar / abstrak, 5) pendahuluan, 6) isi laporan ( tanpa didahului kajian pustaka/landasan teori seperti halnya PTK, 7) kesimpulan dan saran, <img src='http://agupenajateng.net/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> bernada resmi dan bergaya impersonal. 9) boleh disertai table dan angka-angka, 10) didokumentasikan.  </p>
<p>Lalu siapa yang menerima dan menilai laporan itu. Yang menerima dan menilai laporan adalah pengawas dan tim penilai karya ilmiah. Pengawas sekolah selain bertugas pembimbingan membuat laporan juga menjadi penilai laporan kegiatan guru, khususnya dalam hal isi laporan sebagai bahan pengambilan kebijaksanaan, sedang tim penilai karya ilmiah lebih menitikberatkan pada kerasionalisan dan keilmiahan laporan. Permasalahan dalam laporan menjadi catatan bagi pengawas, yang selanjutnya menjadi titik awal pengambilan kebijakan dan kebijaksanaan demi perbaikan dan kemajuan tugas mengajar guru secara profesional. </p>
<p>Bermula dari kewajiban membuat laporan tugas mengajar yang harus dilakukan guru pada setiapakhir semester inilah, guru akan terbiasa membuat laporan atau karya tulis. Awalnya menjadi beban guru karena tugas membuat laporan kegiatan mengajar ini, karena wajib buat, lama kelamaan guru akan melakukan tugas itu dengan tanpamerasa menjadi beban lagi. Selanjutnya imajinasi guru terus berkembang untuk menggagas segala kekurangan dan kelemahan dalam melaksankan tugasnya melalui tulisan-tulisan yang bermakna bagi dirinya sendiri maupun guru lain. Lamakelamaan gairah menulis guru akan muncul dengan tidak dapat dihalang-halangi lagi. Guru akan selalu menulis setiap menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan tugasnya. Guru tidak hanya terbiasa  membuat laporang kegiatan sajatetapi tulisan-tulisan lain seperti artikel, makalah atau jenis tulisan yang lain. </p>
<p>Kebiasaan guru membuat laporan kegiatan mengajar setiap akhir semester akan berdampak pada kebiasaan menulis. Walaupun awalnya kegiatan ini sebagai suatu beban, namun pada akhirnya akan menjadi suatu kesenangan atau hobi. Seperti halnya pepatah jawa; witing trisna jalaran saka kulina, awal cinta atau kesenangan karena kebiasaan. Akhirnya, budaya menulis di kalangan guru akan tercipta. Dengan catatan pembinaan dan pembimbingan dari pihak terkait terus dilakukan secara adil dan bijaksana.<br />
*** </p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Keraf, Gorys. 1980. Komposisi, Ende Flores : Nusa Indah<br />
M. Ramli, S.IP.,Asep Syamsul 2005. Jurnalistik Praktis. Bandung : PT Rosda Karya<br />
Margenau, Henry., dkk. 1986. Ilmuwan. Jakarta. PT Tira Pustaka<br />
Trigan, Henry Guntur. 1982. Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, Bandung : Angkasa.<br />
Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.</p>
<p><strong>Diyono Adhi Budiyono</strong><br />
Guru SMA  Muhammadiyah 3 Watukelir Sukoharjo </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/02/28/membudayakan-menulis-di-kalangan-guru-melalui-laporan-kegiatan-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Guru, Belajar Menulis!</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/02/25/ayo-guru-belajar-menulis/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/02/25/ayo-guru-belajar-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 03:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1701</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Slamet Widiantoro, S.Pd
Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya secara otomatis akan berdampak terhadap posisi guru dalam jabatannya. 
Dalam Peraturan tersebut diungkapkan, bahwa guru harus mengembangkan profesinya dan mengadakan publikasi ilmiah. Salah satu point publikasi ilmiah dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Slamet Widiantoro, S.Pd<br />
<a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/mail.google.com_.png"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/mail.google.com_.png" alt="" title="mail.google.com" width="146" height="166" class="alignleft size-full wp-image-1702" /></a>Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya secara otomatis akan berdampak terhadap posisi guru dalam jabatannya. </p>
<p>Dalam Peraturan tersebut diungkapkan, bahwa guru harus mengembangkan profesinya dan mengadakan publikasi ilmiah. Salah satu point publikasi ilmiah dalam pasal 17 peraturan tersebut dikatakan bahwa guru harus membuat karya tulis. Ke depan juga pengembangan profesi melalui karya tulis ini, ternyata sudah menjadi syarat untuk kenaikan pangkat mulai dari golongan III.b menuju ke III.c. Sehingga sekarang tidak lagi hanya dari  golongan IV.a menjadi IV.b saja yang harus membuat karya tulis.</p>
<p>Dari hal di atas jelaslah bahwa guru harus memiliki semangat menulis jika tidak mau ingin mengalami stagnasi jenjang kepangkatannya. Namun semangat menulis saja tidak cukup tanpa di imbangi dengan kemauan kuat, dan kemampuan yang untuk mulai belajar menulis sejak saat ini. Walaupun sebenarnya guru sudah mendapatkan pengalaman menulis karya tulis ketika mendapatkan gelar sarjana, namun karena cepatnya perkembangan jaman ternyata pengalaman itu dirasa masih belum mencukupi apalagi ketika dulu menulis karya tulisnya masih banyak oleh orang lain.</p>
<p>Awal dari belajar menulis yang pertama adalah dengan membaca. Mengapa membaca? Karena membaca merupakan syarat utama yang dimiilki seorang yang ingin belajar menjadi penulis, hal ini yang sering kita dengarkan ketika kita mengikuti pelatihan menulis. Hal ini memang sangat benar adanya, karena dengan membaca kita akan mendapatkan banyak perbendaharaan kata dalam menulis, selain itu ide atau gagasan yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan kita dapatkan juga dari aktivitas membaca ini. Namun sayang kita mengamati dan membaca di media masih rendah minat kita sebagai guru untuk mau membaca, sehingga wajar jika guru masih sedikit yang bisa menulis. Selain membaca mengikuti seminar bagaimana cara membuat karya tulis yang baik, mengikuti workshop atau lokakarya penulisan, ataupun diklat dan pelatihan menulis, juga dapat menjadi bekal tambahan untuk membuat karya tulis yang berkualitas.</p>
<p>Bekal tambahan yang diperoleh ketika mengkituti hal di atas, tanpa mempraktekkan langsung sama juga tidak ada artinya. Maka dari itu guru harus sering berlatih untuk membuat karya tulis yang baik. Banyak media yang dapat digunakan guru untuk berlatih, mulai dengan membuat media pembelajaran seperti LKS, diktat di sekolah, menulis artikel yang diterbitkan di buletin sekolah atau media massa, ataupun membuat PTK, yang sekarang menjadi hal yang  sering dilakukan guru untuk mempercepat kenaikan pangkatnya karena memiliki point yang besar. Walau kadang guru sering mengeluh karena PTK yang sudah dibuat ini sering tidak memenuhi standar yang ada sehingga tidak diperhitungkan dalam penilaian angka kredit.</p>
<p>Ketika kita belum mampu membuat karya tulis yang bisa dipublikasikan melalui media masa, ternyata ada jalan lain yang dapat di tempuh, yaitu melalui dunia maya atau internet. Di internet ini banyak website yang dapat menampung tulisan kita, asalkan tulisan kita berkualitas. Dan jika kita masih belum bisa menembus website tersebut ternyata ada banyak jalan menuju roma. Jalan tersebut adalah dengan membuat blog sendiri, kita bisa menuangkan ide atau gagasan karya tulis kita dengan membuat blog kita. Dengan blog ini juga, tulisan kita dapat di baca oleh orang lain yang berkunjung ke blog.Selain itu kita juga bisa berlatih menulis dengan media ini. Yang insyaAllah lama-kelamaan kita akan bisa membuat karya tulis dengan baik.</p>
<p>Bergabung dengan organisasi penulis merupakan hal yang sangat perlu bagi penulis pemula, mengapa deminkian? Hal ini dikarenkan dalam organisasi penulis tentu banyak orang yang memilki kapabilitas yang tinggi dalam hal menulis, sehingga kita bisa sharing knowledge, mengenai banyak hal tentang menulis. Banyak organisasi yang menyediakan wadah ini  dan kita bisa mencari orangisasi penulis ini bisa melalui internet. Organisasi ini biasanya mempunyai website sehingga kita juga bisa ikut berpartisipasi dengan memposting apa yang kita tulis  dalam website organisasi tersebut, dengan demikian kita akan memilki arena untuk menulis. Ada sebuah pepatah yang sesuai dengan hal ini “dekatkalah dengan seorang penjual minyak wangi, maka anda akan terkena imbas dari bau minyak wanginya tersebut”.</p>
<p>Mengikuti lomba yang diadakan di berbagai organisasi atau instansi, juga dapat mengasah kemampuan kita untuk belajar menulis. Dengan mengikuti lomba ini kita bisa melihat bagaimana tulisan yang berkualitas, mencari pengalaman dari teman yang sering menulis, mendapatkan suntikan semangat untuk menulis. Selain itu kita juga mengetahui bagaimana trik-trik menulis yang baik.</p>
<p>Dengan ada guru yang memiliki kemampuan menulis, maka kita bisa melihat mereka memiliki jenjang kepangkatan yang lebih cepat dibanding dengan yang tidak memilki kemampuan ini, dan tentunya dengan mereka memilki kemampuan yang satu ini, jenjang kepangkatan mereka tidak hanya mentok sampai dengan IV A. </p>
<p>Namun tujuan kepangkatan di atas, jangan kita jadikan sebagai tujuan utama dalam belajar menulis. Ketika kita menulis hanya ingin mendapatkan tujuan singkat itu, maka sering kita terhenti untuk belajar.  Dan hal ini sesaui dengan defifinisi belajar  bahwa belajar adalah suatu proses yang berkelanjutan dan akhir dari tujuan belajar adalah adanya perubahan perilaku. Maka marilah kita mulai belajar menulis dari hati, mulai saat ini dan dengan memiliki niat untuk memperbaiki diri.</p>
<p><strong>Slamet Widiantoro, S.Pd</strong><br />
Guru IPA dan TIK di SMP Negeri 1 Gabus Pati Jawa Tengah, Anggota Agupena Jawa Tengah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/02/25/ayo-guru-belajar-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WORKSHOP NASIONAL PEMBUATAN BLOG  UNTUK PENINGKATAN PROFESIONALITAS GURU DAN EKSISTENSI ORGANISASI, OLEH AGUPENA PURBALINGGA 2010</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/02/22/workshop-nasional-pembuatan-blog-untuk-peningkatan-profesionalitas-guru-dan-eksistensi-organisasi-agupena-purbalingga-2010/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/02/22/workshop-nasional-pembuatan-blog-untuk-peningkatan-profesionalitas-guru-dan-eksistensi-organisasi-agupena-purbalingga-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1691</guid>
		<description><![CDATA[Nama dan Tema Kegiatan
a.Nama Kegiatan: Workshop Nasional Pembuatan Blog untuk Peningkatan Profesionalitas Guru dan Eksistensi Organisasi.
b.Tema Kegiatan: Membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru melalui blog.
II. 	Latar Belakang
Seiring dengan dinamika peradaban dan arus globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi di bidang informasi dan komunikasi, guru sebagai agen pembelajaran diharapkan mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi virtual untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/Brosur-hal-1.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/Brosur-hal-1.jpg" alt="" title="Brosur hal-1" width="535" height="368" class="alignleft size-full wp-image-1692" /></a><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/Brosur-Hal-2.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/Brosur-Hal-2.jpg" alt="" title="Brosur Hal-2" width="535" height="367" class="alignleft size-full wp-image-1693" /></a><strong>Nama dan Tema Kegiatan</strong><br />
a.Nama Kegiatan: Workshop Nasional Pembuatan Blog untuk Peningkatan Profesionalitas Guru dan Eksistensi Organisasi.<br />
b.Tema Kegiatan: Membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru melalui blog.</p>
<p><strong>II. 	Latar Belakang</strong><br />
Seiring dengan dinamika peradaban dan arus globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi di bidang informasi dan komunikasi, guru sebagai agen pembelajaran diharapkan mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi virtual untuk kepentingan pembelajaran dan peningkatan kompetensi diri, khususnya dalam ranah keterampilan menulis. Hal ini relevan dengan Pasal 28 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yang menyatakan bahwa guru adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat kompetensi, yakni kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian, dan sosial.</p>
<p>Kompetensi profesional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam, yang mencakupi penguasaan substansi isi materi kurikulum matapelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru. Melalui pemanfaatan teknologi di bidang informasi dan komunikasi, guru diharapkan mampu menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sehingga akan terus terpacu untuk mengikuti perkembangan informasi dan memperluas wawasan keilmuan sesuai dengan bidang keahlian yang dimilikinya melalui aktivitas menulis.</p>
<p>Salah satu media virtual yang relevan untuk meningkatkan kompetensi profesional guru dalam mengembangkan aktivitas dan budaya menulis adalah blog (weblog). Istilah blog (weblog) pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997 untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu di-update- secara terus-menerus dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri. Dalam perkembangannya, blog dapat dijadikan sebagai media virtual untuk mendokumentasikan catatan berkala yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang dapat diakses melalui web dan dapat dikelola menggunakan (basis) web. Dengan kata lain, blog merupakan sebuah aplikasi web yang memuat secara periodik tulisan-tulisan (posting) pada sebuah webpage umum. Posting-posting tersebut seringkali dimuat dalam urutan posting secara terbalik, meskipun tidak selamanya demikian. Situs web semacam itu biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.</p>
<p>Di tengah pesatnya perkembangan teknologi internet seperti saat ini, sudah saatnya guru mengoptimalkan fungsi internet sebagai media virtual yang mampu menunjang aktivitas dan budaya menulis yang sangat besar manfaatnya dalam upaya mengembangkan profesionalisme guru. Ini berarti, blog dapat dijadikan sebagai media sekaligus sumber belajar yang interaktif, aktif, inovatif, kreatif, efektif, menarik, dan menyenangkan.</p>
<p>Akan tetapi, kenyataan menunjukkan masih banyak guru yang belum memanfaatkan blog sebagai media untuk mengembangkan aktivitas dan budaya menulis. Wilayah tugas dan kinerja guru semata-mata hanya dibatasi empat dinding ruang kelas sehingga belum mampu memberikan inspirasi kepada siswa didiknya untuk menjadi generasi masa depan yang cerdas secara intelektual, emosional, maupun spiritual.</p>
<p>Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam upaya membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru, Agupena Kabupaten Purbalingga sebagai organisasi guru penulis akan mengadakan Workshop Nasional Pembuatan Blog untuk Peningkatan Profesionalitas Guru dan Eksistensi Organisasi. Workshop ini ditujukan untuk guru-guru di Jawa Tengah, dengan harapan dapat memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan profesionalitas guru dan eksistensi organisasi, serta menyosialisasikan pentingnya pemanfaatan blog sebagai media untuk mengabadikan dan memublikasikan pemikiran-pemikiran kritis, cerdas, dan kreatif.<br />
<strong><br />
III.	Tujuan Kegiatan</strong><br />
Tujuan diselenggarakannya Workshop Nasional Pembuatan Blog untuk Peningkatan profesionalitas dan Eksistensi Organisasi adalah sebagai berikut:<br />
1.mengembangkan kompetensi profesional guru dengan memanfaatkan blog sebagai media untuk mengembangkan aktivitas dan budaya menulis<br />
2.menambah informasi dan memperluas wawasan keilmuan para guru tentang media virtual sehingga dapat digunakan sebagai media ekspresi dan aktualisasi diri sesuai bidang keahliannya<br />
3.membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru melalui blog sehingga guru dapat berkiprah dalam meningkatkan kualitas pendidikan<br />
4.mengeksiskan organisasi melalui pemanfaatan blog.</p>
<p><strong>IV. Susunan Panitia Kegiatan</strong><br />
	Pelindung		: Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga (Heny Ruslanto, S.E.)<br />
	Ketua			: Rudiyanto, S.Pd., M.Si.<br />
	Wakil Ketua		: Dra. Rudi Mulyatiningsih, M.Pd.</p>
<p>	Sekretaris		: 1. Septiningsih, M.Pd.<br />
				  2. Aman Musthofa, S.Pd.<br />
	Bendahara		:  Hernani, S.Pd., M.M.<br />
	Seksi-seksi:<br />
	1. Seksi Acara : Nurul Dwi Hardiani, S.Pd. Joko Sumarno, S.Pd.<br />
	2. Seksi Humas	:  Drs. Prasetyo, Teguh Trianton, S.Pd.<br />
	3. Seksi Dokumentasi	: Harmanto, S.Pd., Drs. H. Kamson, S.H., M.H.<br />
	4. Seksi Konsumsi			: Ari Rumbini, S.Pd.,  Sri Sutati, S.Pd.<br />
	5. Seksi tempat dan perlengkapan	: Teguh Basuki, S.Pd.,Toto Endargo, S.Pd.</p>
<p><strong>V. Waktu dan Tempat Pelaksanaan</strong><br />
A. Waktu Pelaksanaan<br />
Workshop Nasional Pembuatan Blog untuk Peningkatan Profesionalitas Guru dan Eksistensi Organisasi akan dilaksanakan pada hari Minggu, 14 Maret 2010 pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB.</p>
<p><strong>B. Tempat Pelaksanaan</strong><br />
Workshop Nasional Pembuatan Blog untuk Peningkatan Profesionalitas Guru dan Eksistensi Organisasi akan dilaksanakan di Andrawina Convention Center Owabong Cottage, Jalan Raya Owabong Nomor 1, Bojongsari, Purbalingga, Jawa Tengah.</p>
<p><strong>VI. Peserta</strong><br />
1.Pengurus Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Provinsi Jawa Tengah<br />
2.Pengurus Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) kabupaten/kota se-Jawa Tengah<br />
3.Pengurus Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Kabupaten Purbalingga<br />
4.Pengurus organisasi profesi dan sosial (FIG, ISPI, PGRI, Pramuka, dll.) Kabupaten Purbalingga<br />
5.Guru TK, SD, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA Kabupaten Purbalingga<br />
6.Lembaga Pendidikan di Kabupaten Purbalingga<br />
7.Pengurus dan anggota MGMP SMP, MTs, SMA/SMK/MA<br />
8.Pengelola website sekolah di Purbalingga dan sekitarnya</p>
<p><strong>VII. Pembicara</strong><br />
1.Dedi Dwitagama (trainer dan motivator bidang pendidikan, TIK, ICT Blogs, Public Speaking, dll.) dari Jakarta<br />
2.Drs. Sawali, M.Pd. (guru, blogger, penulis buku) dari Semaran<br />
3.Keynote Speaker : Heny Ruslanto, SE (Kepala Dinas Pendidikan Purbalingga)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/02/22/workshop-nasional-pembuatan-blog-untuk-peningkatan-profesionalitas-guru-dan-eksistensi-organisasi-agupena-purbalingga-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Berjuang</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/02/22/selamat/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/02/22/selamat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 11:04:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Ucapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1677</guid>
		<description><![CDATA[


Keluarga Besar Agupena Jawa Tengah mengucapkan Selamat dan Sukses kepada Pengurus Agupena Kabupaten Cilacap, Kabupaten Semarang dan Kota Semarang yang telah dikukuhkan dan dilantik secara resmi pada hari Minggu, tanggal 14 Pebruari 2010 di LPMP Jawa Tengah.




Selamat berjuang dan semoga dapat mengemban amanah dengan sebaik-baiknya,  ikut aktif dalam mewujudkan budaya menulis di kalangan guru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/pel.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1676" title="pel" src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/pel.jpg" alt="" width="600" height="375" /></a><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/kota-semarang.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1679" title="kota semarang" src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/kota-semarang.jpg" alt="" width="600" height="375" /></a><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/kab-cil1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1674" title="kab cil" src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/kab-cil1.jpg" alt="" width="600" height="375" /></a><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/pelan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1675" title="pelan" src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/pelan.jpg" alt="" width="600" height="375" /></a><strong><br />
</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>Keluarga Besar Agupena Jawa Tengah mengucapkan Selamat dan Sukses kepada Pengurus Agupena Kabupaten Cilacap, Kabupaten Semarang dan Kota Semarang yang telah dikukuhkan dan dilantik secara resmi pada hari Minggu, tanggal 14 Pebruari 2010 di LPMP Jawa Tengah.</strong></span></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>Selamat berjuang dan semoga dapat mengemban amanah dengan sebaik-baiknya,  ikut aktif dalam mewujudkan budaya menulis di kalangan guru Jawa Tengah.</strong></span></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>Keluarga Besar Agupena Jawa Tengah</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>Deni Kurniawan As&#8217;ari<br />
Ketua Umum</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>Sawali<br />
Wakil Ketua Umum</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>Endar Yuniarti<br />
Sekretaris Umum </strong></span></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/02/22/selamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEMENTERIAN AGAMA TINGKATKAN MUTU GURU</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/02/21/kementerian-agama-tingkatkan-mutu-guru/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/02/21/kementerian-agama-tingkatkan-mutu-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 10:22:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1670</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Kementerian Agama RI telah dan akan terus melakukan berbagai program peningkatan mutu guru di lingkungan kementeriannya, karena sesuai amanat UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, semua guru harus memiliki kualitas pendidikan minimal sarjana (S1) atau diploma empat (D4). &#8220;Kementerian Agama setiap tahun menyediakan program peningkatan kualitas bagi guru yang belum memiliki ijasah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/menag.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/menag.jpg" alt="" title="menag" width="281" height="255" class="alignleft size-full wp-image-1669" /></a>JAKARTA &#8211; Kementerian Agama RI telah dan akan terus melakukan berbagai program peningkatan mutu guru di lingkungan kementeriannya, karena sesuai amanat UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, semua guru harus memiliki kualitas pendidikan minimal sarjana (S1) atau diploma empat (D4). &#8220;Kementerian Agama setiap tahun menyediakan program peningkatan kualitas bagi guru yang belum memiliki ijasah S1, baik guru pegawai negeri sipil maupun guru non-PNS,&#8221; kata Menteri Agama Suryadharma Ali pada rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Jakarta, Senin (15/2).</p>
<p>Dalam paparannya mengenai evaluasi penyelenggaraan Dana Abadi Umat (DAU), kebijakaan program pendidikan Agama Islam dan peningkatan kerukunan umat beragama itu, Menag menjelaskan bahwa berdasarkan persentase guru, jumlah guru non-PNS cukup besar, sehingga alokasi program peningkatan kualifikasi guru juga sebagian besar diberikan kepada guru non-PNS.<br />
&#8220;Peningkatan kualifikasi tersebut dilakukan dalam bentuk pemberian beasiswa penuh atau bantuan studi bagi guru yang melanjutkan pendidikan S1 atas inisiatif dan biaya sendiri,&#8221; katanya.</p>
<p>Selain itu, menurut Suryadharma Ali, Kemenag RI juga memberikan beasiswa bagi guru terpilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 pada perguruan tinggi unggulan, dan sebagian besar dari penerima beasiswa S2 tersebut adalah para guru non-PNS.</p>
<p>Mengenai program peningkatan kualifikasi akademik bagi guru-guru yang belum memenuhi standar yang ditentukan oleh UU, Kemenag RI melaksanakan program tersebut dengan dua pola, yaitu peningkatan kualifikasi akademik terprogram yang dilakukan melalui pemberian beasiswa penuh, dan bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dalam menyekolahkan guru madrasah atau guru agama Islam yang belum S1.<br />
&#8220;Hingga saat ini guru yang telah lulus S1 melalui program tersebut berjumlah 6.186 orang. Tahun 2010 ini ada sebanyak 3.500 guru yang sedang menempuh program tersebut,&#8221; katanya.</p>
<p>Sedangkan pola lainnya adalah peningkatan kualifikasi dengan pemberian bantuan studi sebesar Rp 6 juta per orang per tahun untuk mempercepat penyelesaian studi bagi yang sedang menempuh S1 dengan biaya sendiri.</p>
<p>Pada tahun 2007, pemohon bantuan studi mencapai lebih dari 435.000 guru, dan Kementerian Agama telah memberikan bantuan bagi 38.768 guru untuk tahun 2007 dan 2008, tahun 2009 sebanyak 19.000 orang, sedangkan tahun 2010 direncanakan sebanyak 10.800 orang, katanya.<br />
Kemudian untuk peningkatan kompetensi para guru, Kemenag RI pada tahun 2010 ini akan melaksanakan berbagai program peningkatan kompetensi, baik bagi guru PNS maupun non-PNS, di antaranya pengembangan proses pendidikan dengan cara dual mode system untuk 10.000 orang guru.<br />
&#8220;Bantuan beasiswa S1 program kompetensi ganda juga diberikan kepada 2.800 guru dalam jabatan untuk meningkatkan kompetensi mengajar MIPA, komputer, dan bahasa Inggris bagi guru yang berlatar belakang sarjana agama,&#8221; katanya. (kemenag)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/02/21/kementerian-agama-tingkatkan-mutu-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.801 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2010-03-11 05:11:14 -->
