<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena Jawa Tengah</title>
	<atom:link href="http://agupenajateng.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupenajateng.net</link>
	<description>Membangun Semangat Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Apr 2012 08:14:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Permohonan Bantuan Buku</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/permohonan-bantuan-buku/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/permohonan-bantuan-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 08:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3037</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Yang Terhormat Bapak/Ibu Pengurus dan Anggota Agupena Jawa Tengah Di- Tempat Assalaamu&#8217;alaikum Wr. Wb. Alhamdulillah kami ucapkan semoga bapak senantiasa dalam lindungan Allah Swt. Selanjutnya, sehubungan dengan rencana kami untuk mendirikan rumah baca dalam rangka memfasilitasi masyarakat untuk gemar membaca, maka kami mengharap bantuan bapak untuk memberikan bantuan buku yang kami sebutkan di proposal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Yang Terhormat<br />
Bapak/Ibu Pengurus dan Anggota Agupena Jawa Tengah<br />
Di-<br />
Tempat</p>
<p>Assalaamu&#8217;alaikum Wr. Wb.<br />
<img alt="" src="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/RumahbacaNurulQuran.jpg" class="alignleft" width="586" height="312" />Alhamdulillah kami ucapkan semoga bapak senantiasa dalam lindungan Allah Swt. Selanjutnya, sehubungan dengan rencana kami untuk mendirikan rumah baca  dalam rangka memfasilitasi masyarakat untuk gemar membaca, maka kami mengharap bantuan bapak untuk memberikan bantuan buku yang kami sebutkan di proposal permohonan. </p>
<p>Demikian sangat besar harapan kami akan terkabulnya permohonan ini dan atas respon positif bapak, kami sampaikan terima kasih. </p>
<p>Wassalamualaikum wr.wb…<br />
Lerankulon, 21 Pebruari 2012</p>
<p>                                                 Mengetahui,<br />
Ketua 								           Sekretaris </p>
<p>Kuswatun Kasanah.					                     Shobirin</p>
<p><strong>PROPOSAL<br />
PERMOHONAN  BUKU-BUKU<br />
</strong><br />
PENDAHULUAN<br />
<img alt="" src="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/kegiatanmembacadiRumahBacaNurulQuran1.jpg" class="alignleft" width="586" height="376" />Segala puji bagi Allah SWT. Yang atas karunia-Nya kita dapat beraktivitas melaksanakan segala bentuk kebaikan serta amanah yang kita emban keseharian. Sholawat dan salam tetap atas qudwah hasanah kita nabi Muhammad saw, yang melalui dakwahnya kita mendapatkan hidayah-Nya.</p>
<p>Dalam  rangka mewujudkan masyarakat islami yang memahami agama islam ini dengan sempurana dan baik di era zaman sekarang yang penuh dengan tantangan moral ini.	</p>
<p>Maka pada awal perkenalan saya dengan Bapak, saya mohon maaf telah menambah aktifitas dan pemikiran disela-sela kesibukan Bapak. Pada kesempatan ini saya sebagai ketua rumah baca yang mempunyai keinginan untuk memfasilitasi masyarakat dalam memahami agama islam ini dengan sempurna yang nantinya dapat di realisasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. mengharap kerjasama Bapak dalam memberikan bantuan buku-buku islam untuk rumah baca yang kami kelola.</p>
<p>DASAR<br />
Dan hendaklah takut kepada Allah  orang – orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak – anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap ( kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar  (  QS :An Nisaa’ : 9</p>
<p>TUJUAN<br />
Mewujudkan generasi muslim sholih yang  mampu memahami agama islam ini dengan baik dengan harapan bahwa mereka dapat menghidupkan kembali sunnah-sunnah Rasulullah saw dalam kehidupan mereka secara induvidu dan bermasyarakat</p>
<p>PENGAJUAN </p>
<p>1.	Buku-buku islam<br />
2.	Buku-buku cerita islami untuk anak-anak<br />
3.	Majalah Islami<br />
4.	Novel-novel islami<br />
5.	Buku kesehatan<br />
6.	Buku motivasi<br />
7.	Buku computer, dll</p>
<p>STRUKTUR PENGURUS RUMAH BACA<br />
Nama Lembaga : Rumah Baca “Nurul Qur’an”<br />
Visi : Menjelajah isi dunia dengan membaca<br />
Misi : Menciptakan masyarakat yang gemar membaca<br />
Ketua  : Kuswatun Kasanah<br />
Sekretaris : Shobirin</p>
<p>- Alamat : Dusun Kedaton RT 003 RW 009 Desa Lerankulon Kec. Palang  Kab. Tuban 62391 Jawa Timur<br />
PENGATURAN OPERASIONAL RUMAH BACA </p>
<p>Agar roda Rumah Baca bisa berjalan baik dan kontinyu, maka pengelolaan langsung kami kelola sendiri. Untuk mekanisme pengelolan Rumah Baca akan buka setiap hari dari jam 09:00 sampai jam 17:00 yang dilakukan oleh pengurus Rumah Baca		 </p>
<p>PENUTUP<br />
Demikian proposal ini disusun, semoga Allah memberi rahmat  dan berkah-Nya kepada kita semua untuk mencapai cita–cita dalam mewujudkan kerjasama dan solidaritas terhadap sesama, sehingga kebaikan dan karunia-Nya bisa kita raih untuk keberlangsungan perkembangan instansi kita. Atas bantuan buku-buku dan majalahnya kami ucapkan banyak terima kasih dan semoga Allah SWT membalasnya dengan sebaik-baiknya balasan.</p>
<p>Kontak : Shobirin ( Hp 081332043506/087753280002 )<br />
Email: fawwazs16@gmail.com</p>
<p>Bantuan buku-islami, buku cerita dan majalah, bisa langsung dialamatkan ke alamat berikut:<br />
Atas nama Kuswatun Kasanah<br />
Alamat: Dusun Kedaton RT 003 RW 009 Desa: Lerankulon Kec. Palang<br />
Kab.Tuban 62391 Jawa Timur<br />
Lerankulon, 21 Pebruari 2012<br />
Hormat kami,</p>
<p>Kuswatun Kasanah</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Catatan:<br />
Bagi pengurus dan anggota yang kepengin beramal dan berinvestasi akherat silakan kirimkan<br />
buku-buku karya saudara pada alamat di atas.</p>
<p>Terima kasih</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/permohonan-bantuan-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putri yang Terjual</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/putri-yang-terjual/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/putri-yang-terjual/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 07:56:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[marsus banjarbarat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3034</guid>
		<description><![CDATA[Karya Marsus Banjarbarat Cerpenis Sumenep, Madura dan Penulis buku Bukan Perempuan (Grafindo, 2010), Lelaki yang Dibeli (Buku Litera, 2011), Riwayat Langgar (Arti Bumi Intaran, 2011). Ia menangis saat mendengar suara iba putrinya yang sudah sebelas tahun bekerja di Arab Saudi. Ia sangat terharu, tak menyangka kalau akhirnya bisa mendengar suara putri kesayangannya yang cantik itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya <strong>Marsus Banjarbarat</strong><br />
<em>Cerpenis Sumenep, Madura dan Penulis buku Bukan Perempuan (Grafindo, 2010), Lelaki yang Dibeli (Buku Litera, 2011), Riwayat Langgar (Arti Bumi Intaran, 2011).<br />
</em><br />
<img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-dwj36Q0N1ak/TzUj3tSKYsI/AAAAAAAADgU/6ougSGcjE7c/s200/Marsus..jpg" class="alignleft" width="141" height="200" />Ia menangis saat mendengar suara iba putrinya yang sudah sebelas tahun bekerja di Arab Saudi. Ia sangat terharu, tak menyangka kalau akhirnya bisa mendengar suara putri kesayangannya yang cantik itu. Dengan penuh rasa senang, Mursalam telah memperoleh kabar prihal keadaan anaknya di Arab Saudi. Ya, kabar Putri maskipun hanya sejenak melalui telpon selama kurang lebih lima menit. Dan setelahnya, tanpa pamit tiba-tiba Putri terburu-buru mematikan telepon yang sedang digenggam erat ayahnya.</p>
<p>Selama beberapa tahun Putri pergi ke Arab Saudi. Hanya terhitung dua kali ia memberi kabar kepada ayahnya. Pertama, sewaktu Putri baru sampai ketempat kerjanya di Arab Saudi. Kedua, sewaktu ibunya meninggal dunia selang beberapa bulan dari keberangkatan Putri bekerja. Setelah itu dia tak pernah memberi kabar lagi tentang keberadaannya di sana.<br />
Kali ini Putri memberi kabar lagi untuk hitungan ketiga kali—menghubungi ayahnya. Dengan sebuah perbincangan kecil lewat telepon, Putri bercerita beberapa hal. Namun sayang, cerita itu belum bisa tertangkap jelas oleh ayahnya. Apa yang Putri maksud dalam cerita itu dan apa yang sedang ia alami di tempat kerjanya tersebut? Semuanya menjadi sebuah mesteri bagi Mursalam. Suara Putri yang terdengar dalam telepon tiba-tiba menghilang entah apa sebabnya. Namun yang pasti, sebelum Putri mengakhiri perbincangan itu, terdengar sedikit lamat-lamat jerit histeris tertangkap telinga ayahnya.<br />
***</p>
<p>“Nak&#8230;, pulanglah! Ayah dan adik-adikmu kangen ingin cepat bertemu,” ujar Mursalam sambil meneteskan air mata.</p>
<p>Putri berangkat ke Arab Saudi sudah bertahun-tahun lamanya. Ia berangkat melalui salah satu Pengarah Jasa TKI di Jakarta. Dan hingga saat ini, semua keluarganya belum tahu kejelasan nasib Putri di sana. Bernasip baik atau burukkah? Bahkan Mursalam, ayahnya pun belum pernah dikirimi uang sepeser pun dari anak gadisnya selama ia bekerja di luar negeri.</p>
<p>Karena sudah beberapa tahun Putri tidak pernah memberi kabar, apalagi mengirim uang kepada keluarganya, Sakimin, kakak sepupu Putri bermaksud untuk melaporkan masalah ini kepada pihak yang berwenang. Dia khawatir akan keadaan Putri di Arab Saudi. Sakimin menginginkan agar Putri bisa cepat-cepat pulang. Bahkan sebelum lebaran tahun ini Putri sudah datang berkumpul di kampung halaman.</p>
<p>“Percuma! Rencana itu sudah saya lakukan dua tahun lalu. Tak hanya satu-dua kali, bahkan berulangkali. Tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya. Putri tetap tak pulang-pulang. Mau dihugungi saja ingin tahu kabarnya tidak pernah bisa,” bantah Sabidin, paman Putri, yang dulu memberi kabar lowongan kerja ke Arab Saudi.</p>
<p>“Tapi kan tak ada salahnya sekarang kita coba kembali. Kita laporkan kepada Kedutaan Besar Indoesia agar mereka mendesak majikan Putri supaya Putri secepatnya dipulangkan ke Indonesia,” kata Sakimin semangat.</p>
<p>“Dulu juga begitu. Namun hingga saat ini Putri belum kunjung kembali ke Tanah Air,” bantah Sabidin lagi.<br />
Sakimin bergeming. Pikirannya kacau-balau entah apa yang sedang dipikirkan. Setelah beberapa detik, Sabidin meneruskan perbincangannya.</p>
<p>“Tahun lalu, ketua lembaga Bantuan Hukum juga telah berjanji, kalau Putri akan dipulangkan satu minggu sebelum hari lebaran saat itu. Tapi nyatanya apa? Sampai sekarang Putri belum kembali ke kampung halaman.” Sabidin kecewa.<br />
Sakimin memalingkan wajahnya, sesekali menggambarkan betapa sedih nasib Putri di Arab Saudi. Spontan Sakimin teringat akan berita-berita TKI yang sering menjadi korban penganiayaan majikannya. Tetapi anehnya, entah mengapa masih banyak orang yang belum jera, dan mereka pun dengan senang hati menerima tawaran menjadi TKI di luar negri.</p>
<p>“Lalu harus bagaimana? Apa semua ini akan dibiarkan begitu saja terus berlarut-larut? Sementara kita tidak tahu bagaimana keberadaan Putri di sana?”</p>
<p>“Kita juga tidak tahu apakah Putri masih hidup atau&#8230;.”</p>
<p>“Hussstt&#8230;, jangan ngaur  kamu,”</p>
<p>“Yakinlah dan berdoa! Putri pasti hidup senang di sana.”<br />
***</p>
<p>Bulan Suci Ramadan sudah tiba. Putri belum memberi kabar kapan dia akan kembali ke Tanah Air. Pasalnya, sewaktu dihubungi oleh pihak yang bertanggungjawab beberapa hari lalu, katanya Putri akan segera memberi kepastian untuk segera kembali ke Indonesia. Dan yang pasti, di bulana Suci ini dia akan berusaha sampai ke kampung halaman.</p>
<p>“Semoga saja Putri benar-benar cepat kembali!”</p>
<p>“Iya, aku juga berharap begitu. Kasihan sama Mursalam, dia sudah lanjut usia. Sering sakit-sakitan pula. Tak mampu bekerja untuk membiayai hidupnya.”</p>
<p>Satu hari, dua hari, hingga satu minggu Putri belum juga menghubungi pihak keluarganya. Padahal Mursalam sudah terlanjur diberi tahu kalau putrinya tak lama lagi akan segera menghubungi dan memberi kepastian kapan dia akan pulang. Dan yang jelas, Mursalam akan selalu menanti dan berharap putrinya bisa datang di bulan penuh berkah ini. Disamping Mursalam memang tinggal sendiri tak ada yang menemani. Dia juga sangat merasa kangen ingin cepat berjumpa dengan anak gadisnya yang cantik itu. Yang sudah belasana tahun pergi tak ada kabar.</p>
<p>Tak ada orang tua yang tak merindukan anaknya. Apalagi selama bertahun-tahun pergi tanpa ada ujung rimbanya. Tak terkecuali Mursalam orang tua Putri, yang selalu mendamba-dambakan bisa segera bertemu dengan anaknya. Tetapi sumua angan-angan itu sia-sia tanpa ada kepastian yang mewujudkannya.</p>
<p>“Mungkin dalam minggu ini Putri akan menghubungimu, Salam,” ujar Sabidin sewaktu Mursalam menanyakan putrinya.<br />
Mursalam hanya mengangguk pelan sembari menundukkan kepalanya. Benarkah dia akan pulang? Tanya Mursalam ragu dalam hatinya. Namun ia sesegera menghapus keraguan itu. Putri pasti pulang. Ya, dia pasti pulang ke kampung kelahiran, lanjutnya dengan suara samar. Lalu sejenak Sabidin beranjak meninggalkan Mursalam. Mursalam pun malangkah tertatih-tatih memasuki rumahnya.</p>
<p>Dua puluh tahun silam, desisinya. Dia memperhatikan gambar istri dan anaknya yang sedang berpelukan. Ya, dua puluh tahun silam, Mursalam teringat jelas saat dia hidup bersama istri dan anaknya. Dengan penuh rasa senang dan bahagia. Tapi sekarang&#8230;, ah, semuanya telah sirna. Anaknya pergi merantau tanpa ada kabar, sedang istrinya telah meninggal dunia beberapa tahun silam.<br />
***</p>
<p>Lebaran telah tampak di ujung mata. Putri belum juga memberi kabar kapan dia akan pulang. Padahal Mursalam menyimpan harapan besar agar putrinya itu bisa kembali sebelum lebaran tiba. Dan entahlah, penantian yang selama bertahun-tahun ia rasakan, akankah terwujud kali ini atau tidak? Semuanya hanya dijadikan sebuah mesteri yang tak pernah ditemukan ujung pangkalnya.</p>
<p>Saat malam tiba, Mursalam selalu duduk termangu melipat kedua tangannya. Memikirkan sang anak begitu mendalam. Sehingga kadang tanpa terasa ada setitik air bening mengalir di garis-garis pipinya. Mursalam juga selalu berandai-andai, ketika malam tiba, esok paginya akan kedatangan tamu terhormat yang ia damba-damba, tak lain adalah putrinya sendiri yang ia dambakan sudah menjadi orang besar di sana. Di Arab Saudi yang bekerja sebagai TKI.</p>
<p>Mursalam tersenyum bila teringat kepada tetangganya yang baru saja datang dari Arab Saudi. Dia datang membawa oleh-oleh sangat banyak untuk dibagi-bagikan kepada keluarga dan tetangganya. Selain itu, kabarnya dia juga membawa uang banyak dari hasil pekerjaannya di Arab Saudi. Mendengar kabar itu, Mursalam semakin tak sabar menunggu kedatangan anaknya yang juga bekerja di Arab Saudi.</p>
<p>Ya, tak lama lagi pasti merasakan kebahagiaan juga seperti yang mereka rasakan saat menyambut kedatangan anaknya yang bekerja di Arab Saudi, desis Mursalam pelan. Sesekali dia mengumbar senyum tipis menatap foto anaknya saat ia masih berumur 12 tahun.<br />
***</p>
<p>Dua hari lagi lebaran akan tiba. Wajah Mursalam terlihat sedih dan kecewa. Sebab putrinya masih belum pulang dan belum ada kabar. Lalu, ia datangi lagi rumah Sabidin, untuk menanyakan kapan putri kesayangannya itu sebenarnya akan kembali ke kampung halaman?</p>
<p>“Sabarlah, Salam&#8230;, tidak perlu khawatir. Putri masih baik-baik saja di sana,”</p>
<p>“Ini ada sedikit kiriman uang dari putrimu, untuk kebutuhanmu di hari lebaran nanti.” Lanjut Sabidin tersenyum sambil mengulurkan uang lima puluh ribuan sebanyak tiga lembar.</p>
<p>“Uang itu dikirim oleh Putri disuruh kasikan kepadamu.” Tambahnya.</p>
<p>“Sejak kapan Putri mengirim uang ini. Apa dia tidak jadi pulang lebaran kali ini?” Tanya Mursalam penasaran.</p>
<p>“Yang penting anakmu sehat-sehat saja di sana. Kamu tidak perlu khawatir! Nanti kalau dia sudah diijinkan pulang oleh majikannya pasti kukabarkan padamu.”</p>
<p>Mursalam diam bergeming. Sesekali tersenyum melihat tiga lembar uang yang sedang dipegangnya. Dia merasa senang karna anaknya sudah mengirimkan uang. Dengan begitu, berarti dia sudah sukses dan berhasil dalam pekerjaannya di sana, pikirnya. Setelah sebentar, lalu Mursalam pergi meninggalkan rumah Sabidin. Dan Sabidin pun mulai tersenyum geli mengiringi kepergian Mursalam yang telah berhasil dia bohongi.</p>
<p>Oh, tidak! Bukan hanya Mursalam sebenarnya yang dia bohongi. Putri pun yang pertama dikelabuhi. Semenjak beberapa bulan saat Putri pergi bekerja ke Arab Saudi, Sabidin mengabarkan kepada Putri, kalau ayah dan ibunya telah meninggal dunia karena kecelakaan. Dan sebab rencana licik Sabidin itulah Putri dan Mursalam terpisahkan. Putri tak pernah menghubungi orang tuanya lagi karena ia pikir mereka sudah meninggal. Dan sebagian uang hasil dari pekerjaan Putri pun ia kirimkan setiap bulan kepada Sabidin, pamannya sendiri.</p>
<p>Tak ada seorang pun yang mengetahui tentang hal ini. Tentang kelicikan Sabidin yang telah memperalat Putri untuk bekerja di luar negeri. Dan hasil pekerjaannya diam-diam agar supaya diberikan kepadanya. Dan bahkan dari saking liciknnya Sabidin, sebenarnya Putri dikirim ke luar negeri bukanlah sebagai TKI. Tetapi sebagai wanita penghibur bagi para lelaki yang haus akan melampiaskan nafsu birahinya. Ah, lebih tepatnya, Putri di jual oleh Sabidin ke luar negeri sebagai seorang pelacur!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/putri-yang-terjual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru dan Kultur Sesat Plagiarisme</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/guru-dan-kultur-sesat-plagiarisme/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/guru-dan-kultur-sesat-plagiarisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 07:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ari kristianawati]]></category>
		<category><![CDATA[plagiarisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3031</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ari Kristianawati, S.Pd Guru SMA Negeri 1 Sragen Guru adalah kunci keberhasilan capaian kualitatif pendidikan. Capaian kualitatif pendidikan yang ditakar dengan standar peningkatan Indeks pembangunan manusia (IPM) secara general dan peningkatan capaian prestasi akademik pembelajaran siswa. Upaya peningkatan kompetensi dan mutu guru, dilakukan pemerintah sejak tahun 2007 dengan proyek sertifikasi. Proyek sertifikasi yang aturan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: <strong>Ari Kristianawati, S.Pd</strong><br />
<em>Guru SMA Negeri 1 Sragen</em></p>
<p><img alt="" src="http://agupena.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/images.jpg" class="alignleft" width="99" height="98" />Guru adalah kunci keberhasilan capaian kualitatif pendidikan. Capaian kualitatif pendidikan yang ditakar dengan standar peningkatan Indeks pembangunan manusia (IPM) secara general dan peningkatan capaian prestasi akademik pembelajaran siswa.</p>
<p>Upaya peningkatan kompetensi dan mutu guru, dilakukan pemerintah sejak  tahun 2007 dengan proyek sertifikasi. Proyek sertifikasi yang aturan  setiap tahun selalu berubah, mencoba melakukan seleksi ketat terhadap guru sehingga konon guru yang lulus uji kompetensi dan sertifikasi yang memiliki kualitas edukatif.</p>
<p>Banyak guru yang kini juga memiliki spirit mengejar pendidikan paska sarjana dari jenjang S2 sampai S3. semangat belajar&#8212;-mencari gelar?&#8212;&#8211;merupakan implikasi bermata ganda dari tawaran komersialisasi pendidikan di level PT. Banyak program pendidikan paska  sarjana yang ditawarkan untuk guru yang lebih bernuansa kepentingan bisnis. </p>
<p>Tercatat banyak paket pendidikan S2 yang ditawarkan dengan sistem pembelajaran &#8220;borongan&#8221; dengan biaya yang konon bisa didiskon  untuk kepentingan akseptabilitas. Memang baik dan positif guru mengejar jenjang pendidikan paska    sarjana, karena belajar adalah sepanjang usia. demikian petuah bijak filsuf pendidikan dimasa lalu. Namun yang menjadi persoalan, dibalik  gemerlap pendidikan paska sarjana yang diikuti guru atau banyak guru yang meraih gelar S2/S3, ternyata menyuburkan praktek plagiarisme dikalangan guru.</p>
<p>Praktek ketidakjujuran akademik/intelektual, dalam bentuk penjiplakan karya intelektual orang lain menyubur dikalangan guru. Praktek plagiarisme, menjadi virus yang mempengaruhi kultur edukatif para guru. Hal tersebut memang sulit dibuktikan namun ketika kasusnya terbukti dan terungkap dimedia sangat mencengangkan. beberapa waktu yang lalu di Luar Jawa 150-an guru membuat karya PTK hasil jiplakan utuk kepentingan naik pangkat. Di Bandung, beberapa guru yang menempuh gelar S2 terbukti tesisnya menjiplak karya orang lain atau dibuatkan oleh agen pembuatan tesis dengan imbalan tertentu.</p>
<blockquote><p>Kultur plagiarisme yang menyubur dikalangan guru adalah paradoks dengan klaim capaian proyek sertifikasi yang konon membabtis guru menjadi tenaga profesional dan sekaligus memiliki wawasan intelektual.Kultur plagiarisme memerosotkan kualitas guru meski menyandar gelar doktor sekalipun.</p></blockquote>
<p>Untuk itulah sebuah catatan kritis: Guru jika ingin masih memiliki integritas dan legitimasi moral mendidik harus menghindarkan diri dari budaya plagiarisme. karena guru bergelar doktor sekalipun tanpa karya intelektual yang orisional dan hasil riset yang aktif tidak akan memiliki integritas sebagai pendidik. budaya plagiarisme adalah potret  rendahnya kualitas pendidikan, yang seolah tidak diajadikan indikator capaian keberhasilan pendidikan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/guru-dan-kultur-sesat-plagiarisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Antikorupsi dan Jarkoni</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/pendidikan-antikorupsi-dan-jarkoni/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/pendidikan-antikorupsi-dan-jarkoni/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 07:39:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[agus suwarno]]></category>
		<category><![CDATA[jarkoni]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan antikorupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3027</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Agus Suwarno, S.Pd Guru SMP Negeri 2 Baturraden, Banyumas Perang melawan koruptor sekarang ini dianggap belum menampakan hasil yang signifikan. Buktinya, bukannya berkurang malah semakin hari semakin terkuak perilaku korup petinggi negeri ini. Yang lebih mengherankan pelaku tidak lagi generasi tua yang dianggap pro status quo terhadap sistem yang cenderung korup namun juga generasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: <strong>Agus Suwarno, S.Pd</strong><br />
<em>Guru SMP Negeri 2 Baturraden, Banyumas</em></p>
<p><img alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_FZGzecmdZrM/TSKayG9ABRI/AAAAAAAAACc/jtw9sm1I-yQ/S220/DSC_4182a.jpg" class="alignleft" width="157" height="220" />Perang melawan koruptor sekarang ini dianggap belum menampakan hasil yang signifikan. Buktinya, bukannya berkurang malah semakin hari semakin terkuak perilaku korup petinggi negeri ini. Yang lebih mengherankan pelaku tidak lagi generasi tua yang dianggap pro status quo terhadap sistem yang cenderung korup namun juga  generasi muda yang terjun sebagai seorang birokrat maupun politikus.</p>
<p>Generasi muda yang diharapkan mampu menjadi pendobrak sistem birokrasi dan politik yang korup, justru terjebak dalam kubangan sistem tersebut. Begitu dahsyatnyakah sistem yang dibangun oleh para koruptor sehingga  generasi muda yang masuk dalam sisitem tersebut sulit untuk melakukakan perubahan.Tampaknya godaan materi yang begitu besar dan keinginan melanggengkan kekuasaan menjadikan mereka buta hati lupa akan tugas mulia.Bahkan saat ini ditengarai muncul generasi baru koruptor yang sistemik dengan cara kerja yang lebih canggih.</p>
<p>Berangkat dari kondisi di atas tampaknya pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud ) merasa perlu menjalankan muatan pendidikan antikorupsi di sekolah pada tahun ajaran 2012/2013, tepatnya mulai Juni mendatang.Pendidikan yang bertujuan membudayakan sikap dan perilaku antikorupsi ini akan dilekatkan pada kurikulum pendidikan karakter dan dilaksanakan sejak pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Pendidikan ini diberlakukan untuk seluruh warga sekolah dari siswa hingga kepala sekolah.</p>
<p>Dijalankannya pendidikan antikorupsi di sekolah bisa jadi merupakan indikasi munculnya anggapan bahwa pendidikan yang dijalankan saat ini tidak cukup membentuk karakter positif siswa yang antikorupsi.Bisa jadi pendidikan agama khususnya, dianggap gagal menanamkan kebencian terhadap perilaku korup. Sulit untuk diingkari bahwa pendidikan agama saat ini lebih cenderung menekankan aspek kognitif semata. Seorang siswa dinilai hanya dari seberapa banyak ayat  dan doa yang mampu dihafalnya bukan seberapa jauh mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.Namun demikian tidak adil rasanya menjadikan pendidikan agama sebagai kambing hitam atas keterpurukan pembentukan karakter bangsa ini. Bukankah pada dasarnya  pendidikan karakter tanggung jawab kita semua.</p>
<blockquote><p>Pendidikan antikorupsi di sekolah hendaknya mampu memberi fondasi mental yang kuat bagi anak bangsa untuk tidak melakukan tindakan korupsi.Munculnya generasi baru yang antikorupsi diharapkan mampu mendobrak sistem dan budaya korup yang saat ini berdiri dengan kokohnya. Yang menjadi pertanyaan seberapa efektifkah pendidikan antikorupsi mampu mengedukasi generasi muda untuk tidak berperilaku korup. Tentu saja pertanyaan ini terlalu dini, mengingat program ini belum berjalan. </p></blockquote>
<p>Pelaksanaan pendidikan antikorupsi di sekolah hendakanya dimulai dari budaya bebas korupsi oleh warga sekolah. Keteladanan perilaku bersih di lingkungan sekolah dalam pengelolaan dana pendidikan di sekolah akan menjadikan pendidikan antikorupsi di sekolah lebih efektif. Ironis jika di sekolah diterapkan pendidikan antikorupsi sementara praktek korupsi berjalan dengan bebasnya.Jika demikian yang terjadi, orang jawa sering menyebut kondisi ini dengan istilah “jarkoni” alias  “ iso ujar ora iso nglakoni”. Artinya bisa bicara tetapi tidak bisa berbuat.<br />
Sekolah bukanlah “gedung ajaib” yang mampu menyelesaikan setiap masalah yang ada di negeri ini. Untuk memerangi penyakit yang bernama korupsi ini perlu penyelesaian yang terintegrasi. Reformasi di bidang politik, birokrasi, budaya dan lingkungan sosial harus selalu terus dilakukan guna mempersempit ruang gerak setiap orang yang berniat merampok uang rakyat. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/pendidikan-antikorupsi-dan-jarkoni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanggungjawab Akademik Penulis Artikel</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/tanggungjawab-akademik-penulis-artikel/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/tanggungjawab-akademik-penulis-artikel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 07:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akademik]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wardjito Soeharso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3021</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Wardjito Soeharso Pembina Agupena Jawa Tengah Saya sangat tergelitik membaca artikel berjudul: Membiasakan Komunikasi Interpersonal, yang ditulis oleh Trimanah, di Harian ini (SM :1/3/2012). Dari artikel itu, saya memperoleh pemahaman bahwa Komunikasi Interpersonal adalah sebuah model atau paradigma komunikasi yang menjelaskan peristiwa ketika kita berbicara dengan diri sendiri untuk mengenal diri sendiri secara lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: <strong>Wardjito Soeharso</strong><br />
<em>Pembina Agupena Jawa Tengah</em></p>
<p><img alt="" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/207091_1672430697319_1433954563_31427416_2239340_n.jpg" class="alignleft" width="214" height="141" />Saya sangat tergelitik membaca artikel berjudul: Membiasakan Komunikasi Interpersonal, yang ditulis oleh Trimanah, di Harian ini (SM :1/3/2012). Dari artikel itu, saya memperoleh pemahaman bahwa Komunikasi Interpersonal adalah sebuah model atau paradigma komunikasi yang menjelaskan peristiwa ketika kita berbicara dengan diri sendiri untuk mengenal diri sendiri secara lebih mendalam. Ya, dalam pengertian si penulis artikel (Trimanah) Komunikasi Interpersonal dimaknai sebagai proses komunikasi internal, komunikasi dengan hati nurani sendiri, tanpa adanya pihak lain yang terlibat dalam proses komunikasi itu.</p>
<p>Saya tidak ingin mengomentari isi artikel itu, karena  secara substansial artikel itu hanya ingin menjelaskan apa dan untuk apa komunikasi interpersonal selayaknya dilakukan oleh setiap orang. Yang menggelitik bagi saya, dan justru yang ingin saya komentari adalah penyebutan model atau paradigma komunikasi interpersonal sebagai komunikasi internal, komunikasi dengan diri sendiri, yang dalam pemahaman saya, penyebutan itu keliru. Yang dimaksud si penulis mungkin adalah komunikasi intrapersonal, sesuai namanya memang menunjuk komunikasi internal, komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi dengan hati nurani.</p>
<p>Soeharso, Wardjito, dalam bukunya Yuk, Nulis Artikel (2010), menjelaskan dalam komunikasi dikenal ada lima paradigma atau model: (1) intrapersonal communication, (2) interpersonal communication, (3) small group atau organizational communication, (4) intercultural communication, dan (5) mass communication.</p>
<p>Intrapersonal communication adalah bentuk paling sederhana komunikasi. Model ini menunjuk ketika orang berkomunikasi dengan diri sendiri, yaitu ketika orang berdialog dengan hatinurani. Komunikasi intrapersonal terjadi ketika orang dihadapkan pada berbagai pilihan, sehingga dia harus menentukan salah satu dari berbagai pilihan itu. Atau ketika orang dihadapkan pada satu kondisi tertentu dan harus mengambil sikap atau keputusan. Kata orang bijak, hatinurani tidak pernah bohong, sehingga bila kita berkonsultasi dengan hatinurani, dia selalu memberikan pertimbangan secara jujur. Orang berdialog atau berkomunikasi dengan  hatinurani tentunya juga dengan maksud memperoleh pertimbangan yang jujur, sehingga ketika harus menentukan pilihan atau membuat keputusan, hasilnya pun akan menjadi yang terbaik baginya.</p>
<p>Karena komunikasi intrapersonal sifatnya semacam evaluasi internal yang mendalam, banyak ahli komunikasi yang masih berbeda pendapat. Ada yang berpendapat komunikasi intrapersonal sudah menjadi bagian dari paradigma komunikasi, walau pun dalam bentuk yang sangat sederhana, karena komunikasi belum melibatkan pihak lain. Sementara yang lain berpendapat, komunikasi intrapersonal tidak termasuk dalam paradigma komunikasi karena secara teoretis komunikasi selalu ada dua pihak berbeda yang terlibat. Ingat, komunikasi adalah aktifitas manusia ketika mentransfer ide, gagasan, dan atau emosi, perasaan, kepada pihak lain. Penganut paham ini melihat hatinurani bukanlah pihak berbeda dengan diri sendiri. Dengan demikian, yang namanya soliloki atau berdialog dengan diri sendiri bukan kategori komunikasi.</p>
<p>Model komunikasi berikutnya adalah interpersonal communication. Model ini menunjuk komunikasi yang terjadi antara dua pihak atau lebih, dan komunikasi berjalan secara langsung (direct).  Komunikasi model ini hanya melihat komunikasi sebagai proses penyampaian pesan (message) dari komunikator ke komunikan dengan melihat bagaimana respon yang terjadi pada komunikan. Dalam artikelnya kemarin, si penulis sepertinya masih rancu memahami dua paradigma ini.<br />
Model komunikasi yang lebih kompleks adalah small group atau organizational communication. Komunikasi kelompok kecil atau komunikasi organisasi menunjuk pada proses komunikasi yang terjadi dalam lingkup kelompok kecil atau organisasi. Dalam sebuah organisasi pasti terdapat “aturan main” yang harus ditaati oleh semua anggotanya, termasuk bagaimana tata cara berkomunikasi. Oleh karena itu, komunikasi organisasi lebih banyak mengatur dan muncul sebagai norma dan aturan yang harus ditaati oleh semua anggota organisasi. Apabila ada anggota organisasi yang tidak taat terhadap norma dan aturan, pasti akan muncul masalah di sana.</p>
<p>Model komunikasi berikutnya, yang cukup rumit adalah intercultural communication. Komunikasi lintas budaya menjadi sangat kompleks dan rumit karena budaya menjadi variabel kajian yang sangat penting untuk melihat efektifitas komunikasi. Komunikasi model ini melihat bagaimana budaya menjadi sangat berpengaruh dalam komunikasi. Budaya, yang di dalamnya terdapat nilai, dan nilai dipercaya menjadi fundamen cara berpikir, bersikap, dan berperilaku manusia, dipercaya selalu mewarnai kehidupan manusia, sesuai situasi dan kondisi lingkungan yang membentuknya. Dalam konteks ini, pemahaman terhadap budaya manusia lain sangat bermakna untuk mengurangi atau meminimalisasi munculnya kesalahpahaman (misunderstanding) antara komunikator dan komunikan dalam berkomunikasi.</p>
<p>Model komunikasi yang paling kompleks adalah komunikasi massa. Model komunikasi ini melibatkan peran media massa. Artinya, komunikasi yang dilakukan dengan memanfaatkan media massa, seperti suratkabar (media cetak), radio, televisi (media elektronik), komputer (multi media), disebut sebagai komunikasi massa. Dalam komunikasi ini media massa berfungsi sebagai jembatan atau perantara untuk menyampaikan pesan. Sesuai fungsinya, media massa dapat disebut sebagi “gate keeper” atau penjaga gawang. Ketika menyampaikan pesan kepada komunikan, komunikator harus berhubungan terlebih dahulu dengan media massa, dan media massa memiliki hak untuk menentukan komunikator dan pesan seperti apa yang boleh disampaikan melaluinya.</p>
<p>Ciri khas komunikasi melalui media massa adalah, komunikator tidak mampu lagi mengidentifikasi komunikan, karena komunikan sudah bersifat massal, umum. Jadi kalau seseorang menulis di sebuah suratkabar, dia tidak tahu lagi siapa saja yang membaca tulisannya. Begitu pula, bila seseorang tampil di radio atau televisi, dia tidak tahu lagi siapa saja yang mendengar atau menontonnya. </p>
<blockquote><p>Saya tidak bermaksud memberikan kuliah tentang komunikasi di media ini. Saya percaya, banyak pembaca yang lebih kompeten. Para akademisi di bidang komunikasi mestinya sudah sangat memahami teori ini. Saya menulis ini sekedar mengingatkan kepada siapa saja (termasuk kepada diri sendiri) bahwa menulis di media massa harus memiliki tanggungjawab akademik atas apa yang ditulisnya. Apalagi menulis artikel ilmiah (walaupun populer), bagaimana pun tidak boleh meninggalkan kaidah-kaidah penulisan ilmiah. Salah satu hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah mencari referensi apabila memang belum yakin benar tentang yang ingin ditulisnya. Dalam jaman teknologi ini, kita bisa peroleh informasi dengan sangat mudah. Tanya saja ”mbah google” yang sangat populer itu, niscaya beliau dengan cepat memberikan jawaban.
</p></blockquote>
<p>Bisa saja yang dilakukan si penulis adalah kesalahan ”kecil”, tetapi ternyata dari yang kecil itu, sekedar salah menyebutkan term, istilah, membawa pengaruh yang besar pada keseluruhan isi artikel. Saya pikir, kesalahan itu juga bukan mutlak milik si penulis. Media massa sebagai gate keeper mestinya memiliki pemahaman yang sama: kualitas artikel yang dimuat mencerminkan kualitas redaksinya.  Dan yang paling penting, setiap kesalahan akan mempertaruhkan reputasi baik si penulis maupun media yang memuatnya.</p>
<p>Penulis adalah pegiat komunitas penulismuda indonesia, alumnus FIB Undip dan College of Communication, Boston University. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/tanggungjawab-akademik-penulis-artikel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar Nasional ISPI (Redesain Sistem dan Desentralisasi Pendidikan)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/31/seminar-nasional-ispi-redesain-sistem-dan-desentralisasi-pendidikan/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/31/seminar-nasional-ispi-redesain-sistem-dan-desentralisasi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 04:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[ispi]]></category>
		<category><![CDATA[seminar nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3012</guid>
		<description><![CDATA[Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) bekerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Redesain Sistem dan Desentralisasi Pendidikan pada 21-22 Januari 2012. Acara diselenggarakan di Ruang Sidang Rektorat UNY, Jl. Colombo Nomor 1 Karang Malang, Yogyakarta. ISPI sebagai organisasi profesi yang bergerak dalam bidang pendidikan sangat berkepentingan untuk merealisasikan cita-citanya dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/41573_209907285077_5116_n.jpg" alt="" width="90" height="97" /><img class="alignleft" src="http://fairuzelsaid.files.wordpress.com/2010/01/logo_uny.gif" alt="" width="90" height="97" />Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) bekerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema <em><strong>Redesain Sistem dan Desentralisasi Pendidikan </strong></em>pada 21-22 Januari 2012. Acara diselenggarakan di Ruang Sidang Rektorat UNY, Jl. Colombo Nomor 1 Karang Malang, Yogyakarta. </p>
<blockquote><p><strong><span style="color: #0000ff;">ISPI sebagai organisasi profesi yang bergerak dalam bidang pendidikan sangat berkepentingan untuk merealisasikan cita-citanya dalam berbagai bentuk di antaranya berupa kajian konsep-konsep maupun kemungkinan aplikasi dari kebijakan pendidikan. </span></strong></p></blockquote>
<p><strong>S</strong>eminar tersebut merupakan salah satu kegiatan yang berpotensi memberikan pencerahan, analisis, dan implikasi dari semua kebijakan-kebijakan pendidikan.</p>
<p>Panitia juga membuka kesempatan bagi peserta untuk mempresentasikan makalah sesuai dengan topik.</p>
<p>Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi panitia dengan contact persons Rohmat Purwoko (0857 290 50004), Dr. Puji Yanti Fauziah (0817 549 7644), Sudaryono, S.Pd (0813 286 89377) dan T. Sulistiyono, M.Pd., M.M. (0815 686 1003) atau datang langsung ke sekretariat panitia di Gedung Pascasarjana UNY lantai 1.</p>
<p>Info lengkap klik <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/leafletPPSUNYrev24DES2011a.jpg">leaflet1</a> dan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/leafletPPSUNYrev27DES2011b.jpg">leaflet2</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/31/seminar-nasional-ispi-redesain-sistem-dan-desentralisasi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senthir</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 22:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3007</guid>
		<description><![CDATA[Senthir Cerpen Narwan S. Kelana SEBAGAI abdi pada seorang adipati, Ki Pardopo sangat tekun bekerja. Tidak pernah sekali saja ia membantah perintah. Maka wajar bila ia mendapat hadiah yang baginya sangat berlebihan. namun untuk seorang adipati hadiah tersebut sangatlah dianggap biasa saja. Ki Pardopo beserta anak dan istrinya diminta pindah dan tinggal di lingkungan kadipaten. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Senthir</strong><br />
Cerpen Narwan S. Kelana</p>
<p><img class="alignright" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/narwanskelana.jpg" alt="narwan" width="200" />SEBAGAI abdi pada seorang adipati, Ki Pardopo sangat tekun bekerja. Tidak pernah sekali saja ia membantah perintah. Maka wajar bila ia mendapat hadiah yang baginya sangat berlebihan. namun untuk seorang adipati hadiah tersebut sangatlah dianggap biasa saja. Ki Pardopo beserta anak dan istrinya diminta pindah dan tinggal di lingkungan kadipaten. Meskipun ia menganggap berlebihan, ia tak dapat menolak perintah tuannya.</p>
<p>Meskipun berada di ujung taman belakang, rumah itu tetap saja mewah bagi keluarga Ki Pardopo. Rumah cukup besar. Ada dua kamar yang berjauhan letaknya. Ada ruang tamu yang cukup luas. Seperangkat meja kursi di tengahnya. Sangat mewah memang bagi keluarga Ki Pa+&#8221;dopo. Dengan keberadaanya di sana, keluarga Ki Pardopo dianggap oleh rakyat Kadipaten Pudakwangi sebagai sentana dalem. Sebuah sebutan yang termasuk terhormat. Meski demikian Ki Pardopo dan keluarganya tetap saja bersikap seperti di kampungnya. Tekun bekerja, bersahaja dan berbudi pekerti luhur. Sifat inilah yang menjadikan Adipati Pudakwangi itu menaruh simpati yang sangat kepada keluarganya.</p>
<p>“Terimakasih Gusti Adipati. Hamba sebenarnya berat menerima semua ini. Hamba hanyalah abdi, tidak selayaknya mendapat hadiah semewah ini.”</p>
<p>“Sudahlah, Ki Pardopo. Ini semua karena jasamu pada Kadipaten Pudakwangi. Sebagai abdi yang setia. Bahkan sejak aku muda. Cuma ingat pesanku, seperti ruang-ruang yang lain, setiap ruangan jangan sampai gelap. Taruh senthir, hidupkan bila malam kalian tidur. Agar aman dari marabahaya.”</p>
<p>“Sendika, Gusti.” Jawab Ki Pardopo.</p>
<p>Keluarga Ki Pardopo pun segera menyesuaikan diri dengan kehidupan lingkungan keluarga sang adipati. Begitu juga dengan Menur, gadis tunggal Ki Pardopo, yang meskipun keluguan sebagai gadis desa tetap tampak, namun tetap menyiratkan kecantikan.<br />
****</p>
<p>Malam ini seperti biasanya, Menur melipat-lipat pakaian yang siang tadi dijemur.</p>
<p>“Sudah selesai Mbok.” Kata Menur sambil kedua tangannya meyerahkan lipatan pakaian kepada ibunya.</p>
<p>“Ya, Nduk. Sekarang kamu tidur dulu, simbok masih ingin menyiapkan sesuatu untuk besok pagi. Jangan lupasenthir-nya jangan dimatikan. Biarkan di atas meja.” Pinta Nyi Pardopo kepadanya. Menur mengiyakan dan segera berlalu menuju kamarnya.</p>
<p>Udara dingin menerobos lubang-lubang dinding. Menggerayangi sekujur tubuh Menur yang beranjak merenangi mimpi-mimpinya. Kesunyian segera menyelimuti Kadipaten. Nyi Pardopo pun sudah menyusul suaminya mengunyah mimpi. Dinginnya malam membuat mimpi-mimpi betah hinggap di alam bawah sadar penghuni Pudakwangi.</p>
<p>Tiba-tiba senthir di ruang tidur Menur berpindah tempat. Kini senthir itu di lantai sehingga tubuh Menur tak lagi terterangi. Bayangan ranjang menutupi bujur tubuh gadis berparas cantik yang sedang merenangi lautan mimpi itu. Segenggam jari mendekap mulut Menur sehingga gadis itu terbangun. Tak ada suara jerit dapat terteriakkan, tak ada ronta kuasa tergerakkan. Hanya takut yang memicu keringat sekujur tubuh. Sebuah kalimat yang ia kenal membuatnya tak berdaya melepas kebanggaan suci yang terjaga selama ini.<br />
****</p>
<p>Pagi-pagi sekali Nyi Pardopo membangunkan Menur. Ada pancaran rasa heran di wajah Nyi Pardopo.Senthir itu tidak di atas meja, namun berada di atas lantai. Nyi Pardopo menasehati Menur, tidak baik tidur di kamar dalam keadaan gelap bagi seorang gadis, juga sudah diwanti-wanti oleh Gusti Adipati. Memang benar adanya, bilasenthir diletakkan di atas meja, agar ruangan menjadi terang. Bukan di lantai yang membuat siapa yang tidur tidak kelihatan.</p>
<p>“Maaf, Mbok. Menur tidak bermaksud tidur gelap-gelapan.”</p>
<p>“Ya, sudah. Jangan diulangi lagi.”</p>
<p>Menur sebenarnya menyimpan ketakutan yang sangat. Bukan tangannya yang memindah senthir itu. Bahkan Menur semalam tidak kuasa beranjak dari ranjangnya. Hanya rasa takut dan amarah yang menggumpal, menyumbat kerongkongan. Namun pagi itu ia sembunyikan di depan ibunya.</p>
<p>Saat Menur menyapu halaman, mukanya segera ditekuk saat Gusti Kuncoro, pulang dari berkuda pagi. Kegiatan yang selalu dilakukan putra Adipati Pudakwangi itu. Ada rasa takut menatap seorang pemuda, terlebih seorang putra adipati seperti Gusti Kuncoro.</p>
<p>Sebenarnya Kuncoro sangat menaruh perhatian pada Menur. Hanya saja kadang merasa terkekang oleh aturan tradisi Pudakwangi. Ia sangat menghormati tradisi, juga kepada kedua orangtuanya. Namun cinta kadang tak memandang kasta. Meskipun seorang putra adipati, di dada Kuncoro mendesak-desak rasa dari gelitik tangan-tangan asmara yang bersemayam dalam jiwa mudanya.<br />
****</p>
<p>Malam-malam berlalu dan selalu meninggalkan senthir di lantai kamar tidur Menur. Malam-malam yang melahirkan ketakutan untuk berteriak, ketakutan untuk meronta, juga ketakutan untuk bercerita kepada siapa. Kemurungan menggelayut di roman cantik putri Ki Pardopo, kemurungan yang terukir dari gelap bayangan ranjang oleh senthir yang berpindah di lantai.</p>
<p>Malam-malam itu juga membuat Kuncoro sangat sulit memejamkan mata. Wajah Menur yang selalu hadir saat Kuncoro merebahkan tubuh di ranjang. Wajah yang seakan dekat, namun tersekat tradisi Pudakwangi. Kegelisahan di hati Kuncoro mengkristal menjadi keberanian untuk merangkai kata yang terucap di hadapan Menur. Kata yang berderet menguntai kalimat cinta. Sementara di telinga Menur, kata-kata itu semakin mengiris jiwa. Menambah beban di batinnya. Kadang ada amarah yang ingin meledak, namun apa untungnya bila ledakkan itu akan menjadi bumerang baginya, bagi keluarganya.</p>
<p>Menur begitu takut menerima untaian cinta yang dicurahkan Kuncoro. Takut melanggar tradisi, dan ia pun masih takut senthir berpindah ke lantai saat kesunyian menemani malam-malam di Pudakwangi.</p>
<p>“Apakah ada keharusan bahwa ningrat harus berjodoh sesama ningrat, sudra berjodoh dengan sudra,Rama?” Tanya Kuncoro kepada ayahndanya suatu siang.</p>
<p>“Bukan keharusan, tapi ini tradisi, anakku..” Jawab Gusti Adipati.</p>
<p>“Meski tradisi apakah mampu melarang anugerah Sang Kuasa yang bernama cinta? Maaf, Rama. Ananda sangat mencintai Menur, Rama.”</p>
<p>“Apa yang membuatmu bersikeras begitu, anakku?”</p>
<p>“Ananda tidak melihat kasta, harta, kedudukan, dan rupa,” jawab Kuncoro.</p>
<p>“Ada hal lain yang membuat Rama melarangmu berhubungan dengan Menur. Rama sangat menghormati tradisi, Rama tidak memberi restu kamu berjodoh dengan Menur.” Kata Adipati dengan nada agak tinggi.</p>
<p>Sebenarnya Adipati Pudakwangi telah menjodohkan Kuncoro dengan putri saudagar kaya, dan masih keluarga ningrat. Namun hingga saat ini belum ada jawaban kesiapan dari pihak saudagar tersebut, kapan akan dilangsungkan perkawinan putrinya dengan Kuncoro. Sebagai seorang adipati yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, tentunya tidak ingin mengingkari kesepakatan dengan saudagar tersebut.<br />
****</p>
<p>Ada bulan paruh menggantung di langit bertabur bintang. Ada dingin yang menerobos dinding rumah Ki Pardopo. Larut malam dalam simponi binatang malam, mengantarkan sekelebat sosok masuk rumah papan itu. Sejurus kemudian senthir di atas meja itu pun pindah ke lantai. Kembali ketakutan memaksa Menur meneteskan air mata. Deras. Sederas keringat sosok yang dikenalnya meski dalam gelap. Ada nafas kuda perang yang tertahan. Usai berlarian menelusuri huma dan bukit, kudapun terjerembab dalam kelelahan. Namun bergegas meninggalkan kamar dengan senthir di lantai.</p>
<p>Lagi-lagi Nyi Pardopo bersungut-sungut kepada putrinya melihat senthir di atas lantai. Tiba-tiba terhenyak melihat Menur keluar kamar sambil memegang perutnya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menutup mulutnya.</p>
<p>Perut Menur berasa mual. Bergegas ingin memuntahkannya ke kamar mandi. Nyi Pardopo tergopoh-gopoh menyusulnya.</p>
<p>“Kamu kenapa, Nduk? Sakit?”</p>
<p>Yang ditanya membisu. Matanya saja yang berair menahan rasa mual. Menahan ketakutan, dan kemarahan.</p>
<p>“Kenapa Nduk? Kamu&#8230;kamu&#8230;.”</p>
<p>“Tidak apa-apa Mbok. Menur hanya masuk angin.”</p>
<p>Ada rasa curiga pada Nyi Pardopo. Menur dihujani pertanyaan. Naluri perempuan Nyi Pardopo tidak percaya begitu saja dengan jawaban Menur. Segera Nyi Pardopo melaporkan hal itu kepada suaminya. Di hadapan ayahnya, Menur pun tetap membisu. Keributan di rumah itu sampai pula ke telinga Adipati Pudakwangi.<br />
****</p>
<p>“Ngger anakku. Apakah kamu benar-benar mencintai Menur? Apakah kamu sudah siap menerimanya sebagai istrimu? Apakah sudah kau pikirkan masak-masak bila nantinya kamu menggantikan ayahmu ini?” Tanya Adipati Pudakwangi kepada putranya.</p>
<p>“Ananda siap Rama. Menur telah menjadi pilihan ananda, meskipun dia hanya anak seorang abdi.” Jawab Kuncoro tegas.</p>
<p>“Kalau begitu, Rama akan segera mempersiapkan segala sesuatunya.”</p>
<p>“Terimakasih Rama. “</p>
<p>Sepeninggal Kuncoro. Adipati Pudakwangi memanggil abdi kesayangannya. Ki Pardopo menghadap dengan muka lain. Kali ini ada pancaran sedih dan bingung dari roman mukanya.</p>
<p>“Hamba siap menerima perintah, Gusti Adipati.”</p>
<p>“Ki Pardopo. Kali ini aku akan memberikan sesuatu kepadamu. Seperti saat aku memintamu tinggal di sini dulu. Aku minta kamu tidak menolaknya. Aku tahu kamu sangat bersedih, namun semoga pemberianku ini akan dapat mengurangi kesedihanmu.”</p>
<p>“Hamba Gusti. Gusti adipati akan memberi hamba apalagi? Yang hamba terima dari paduka selama ini sudah sangat berlebihan.”</p>
<p>“Tidak Ki Pardopo. Kamu harus menerimanya. Kuncoro anakku menginginkan Menur menjadi pendampingnya. Aku minta kamu tidak menolaknya. Aku merestui mereka berdua.”</p>
<p>“Duh Gusti Adipati. Paduka begitu baik terhadap kami. Hamba hanya abdi biasa seperti yang lain. Namun kenapa Gusti Adipati selalu memberi kami berlebihan. Hamba tidak mengerti Gusti. Ini semua hadiah atau ujian kami Gusti&#8230;” Sambil menitikkan airmata, Ki Pardopo bersujud di hadapan Adipati Pudakwangi.</p>
<p>“Sudahlah, Ki Pardopo. Sebagai adipati, aku tidak akan menarik lagi ucapanku. Apalagi menarik apa yang telah kuberikan kepadamu juga keluargamu.”</p>
<p>Pesta perkawinan Kuncoro dan Menur pun berlangsung meriah. Para petinggi Kadipaten Pudakwangi hadir. Juga tamu-tamu dari Kadipaten tetangga. Hanya saudagar yang kecewa karena batal menjadi mertua Kuncoro yang tidak tampak. Para tamu heran karena Kuncoro mencintai anak abdinya. Ki Pardopo dan istrinya juga heran dengan hadiah yang diterimanya, di saat kebingungan dengan teka-teki siapa yang membuat perut Menur mual-mual namun jelas bukan karena masuk angin. Juga bingung dengan  jawaban siapa yang memindahkan senthir di kamar tidur Menur setiap malam. Bahkan Kuncoro pun juga tidak tahu bila Menur menyimpan jawaban dari semua itu.****</p>
<p><strong>Roemah Boekoe, Desember 2011</strong><em></p>
<p>Narwan, S.Pd.<br />
Guru SD Negeri Sutopati 5<br />
Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang 56163<br />
e-mail: narwan_sk@yahoo.com<br />
blog: www.pemahatrupadhatu.blogspot.com<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru adalah Pemimpin</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/14/guru-adalah-pemimpin-2/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/14/guru-adalah-pemimpin-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 21:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[guru menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3002</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Prajna Bhadra Darmastuti, S.Si, S.Kom *) Pada saat ini, profesi guru tengah menjadi sorotan, menyusul dengan naiknya anggaran pendidikan sebesar 20 % dan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Terlebih dengan adanya program sertifikasi. Tidak jarang masyarakat menuding bahwa guru adalah `pegawai` yang dimanjakan dengan beragam fasilitas namun dengan pekerjaan yang `ringan`. Hal tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Prajna Bhadra Darmastuti, S.Si, S.Kom *)</p>
<p><img class="alignright" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/FOTO2.jpg" alt="prajna" width="200" />Pada saat ini, profesi guru tengah menjadi sorotan, menyusul dengan naiknya anggaran pendidikan sebesar 20 % dan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Terlebih dengan adanya program sertifikasi. Tidak jarang masyarakat menuding bahwa guru adalah `pegawai` yang dimanjakan dengan beragam fasilitas namun dengan pekerjaan yang `ringan`. Hal tersebut menjadikan tuntutan masyarakat terhadap guru juga semakin tinggi. Guru tidak hanya dituntut menjadi pendidik yang harus bisa mentransfer ilmu, namun juga harus membentuk akhlak dan moral yang baik pada generasi penerus bangsa. dan kerap masalah-masalah bangsa dilimpahkan begitu saja sebagai kesalahan seorang guru dalam kegagalan mendidik muridnya. </p>
<p>Menurut Sofa (2008) ada berbagai permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia.  Pertama masalah kualitas/mutu. Kedua jumlah guru yang masih kurang. Ketiga masalah distribusi guru dan keempat masalah kesejahteraan guru. Dari keempat hal tersebut yang mampu diubah oleh seorang guru secara pribadi, adalah masalah kualitas/mutu guru tersebut. </p>
<p>Guru (dari Sanskerta: yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah &#8220;berat&#8221;) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. </p>
<p>Dalam Kamus Bahasa Indonesia, definisi kualifikasi adalah keahlian yang diperlukan untuk melakukan sesuatu, atau menduduki jabatan tertentu. Jadi, kualifikasi mendorong seseorang untuk memiliki suatu “keahlian atau kecakapan khusus”. Menurut Anwar Jasin dalam Mujtahid (2010) untuk mengukur kemampuan kualifikasi guru dapat ditilik dari tiga hal. Pertama, memiliki kemampuan dasar sebagai pendidik. Kedua, memiliki kemampuan umum sebagai pengajar. Ketiga, mempunyai kemampuan khusus sebagai pelatih. Sedangkan menurut Sugito (2007) kualifikasi minimal seorang guru memiliki standar kognisi (intelektual) dan afeksi (perilaku dan sikap) diatas rata-rata. Sesuai sejarah guru dalam ekspetasi kita, guru harus memiliki kualifikasi yang melampaui sekedar penguasaan pelajaran (kognisi), tetapi juga memenuhi prasyarat untuk mampu menggarap rasa, cipta, karsa dan sikap seseorang. Hal tersebut tidaklah berbeda dengan tugas seorang pemimpin. Sehingga dapat diistilahkan bahwa profesi guru adalah profesi yang setara dengan pemimpin, bukan sebagai bawahan atau pegawai biasa. Karenanya kualifikasi dasar yang harus dimiliki oleh guru di Indonesia, tentu adalah kualifikasi seorang pemimpin bukan pegawai apalagi buruh.</p>
<p>Sebagai seorang pemimpin, maka mendidik dan mencerdaskan bangsa adalah visi pribadi bukan beban tugasnya. Mengajar sepenuh hati adalah misi-nya bukan kewajibannya. Tanpa dituntut seorang guru akan melaksanakan pendidikan secara independent dan berpusat pada murid, dan bukan berpusat pada peraturan atasan. Jikalau menurutnya peraturan atasan baik, maka akan dilaksanakan. Namun jika peraturan hanya menjadi halangan dalam mencerdaskan murid, maka akan ditinggalkan. Visi dan misi yang sudah tertanam dalam jiwanya adalah mencerdaskan bangsa, dan bukan sekedar `bekerja` untuk mendidik orang lain. </p>
<p>Ada banyak guru yang memiliki kualifikasi pemimpin dan menghasilkan generasi-generasi pemimpin. Dalam sejarah, kita mengenal Boedi Oetomo. Yang mengajar dan mendidik murid-muridnya dalam sekolah Boedi Oetomo sesuai dengan kebutuhan zamannya, yaitu pendidikan dan organisasi. Walaupun pada akhirnya sekolah tersebut ditutup, namun bekas pendidikannya terus melahirkan generasi muda yang akhirnya mampu memerdekakan bangsa. Kemudian, Soekarno sebelum menjadi seorang pemimpin, beliau pernah mengajari anak-anak mulai berhitung hingga sejarah di tempat pembuangannya, Bengkulu. Begitupun dengan Bung Hatta yang aktif menjadi guru anak-anak di lingkungannya. Beliau mengajari pengetahuan formal sekaligus non-formal, seperti organisasi dan kecintaan kepada bangsa Indonesia. Meskipun pada saat itu beliau sedang ditahan dan dilarang keras untuk mengajar, namun tetap dilakukan secara diam-diam. Karena visi dan misi para pemimpin diatas adalah mencerdaskan sesuai kebutuhan zamannya, dan bukan menuruti keinginan penguasa dan pemerintah saat itu, yaitu kolonial Belanda. Selain beliau, masih banyak pemimpin yang juga memberikan pendidikan layaknya guru mulai dari Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka, Djuanda, Nasution, bahkan Jenderal Soedirman pun pernah menjadi kepala sekolah di SD Muhammadiyah di Cilacap. </p>
<p>Keberhasilan para guru bangsa diatas, bukanlah karena mereka bekerja sebagai guru, namun karena mereka berjiwa sebagai guru. Disamping itu mereka memiliki kualifikasi pemimpin yang cukup hebat, sehingga mampu menghasilkan generasi penerus yang hebat pula. Visi dan misi mendidik ada dalam jiwa mereka, sehingga dimanapun mereka berada, ada atau tidak kesejahteraan, dalam posisi tenang atau genting, jiwa mendidik mereka tidak pernah padam. </p>
<p>Demikianlah seharusnya kualifikasi yang dimiliki oleh seorang guru. Posisi guru saat ini sedang bergeser kepada pemahaman, bahwa guru adalah seorang pengajar yang digaji oleh negara. Kualifikasi yang dimilikipun cukup sebatas yang ditentukan negara. Padahal seharusnya kualifikasi seorang guru tidaklah dibatasi oleh negara, namun lebih dari itu. Sebelum dirumuskan dalam UU Sisdiknas 2003, guru harus sudah mematri jiwanya dengan kualifikasi seorang pemimpin. </p>
<p>Al-Ghazali, menjelaskan bahwa orang alim yang bersedia mengamalkan pengetahuannya adalah orang besar di semua kerajaan langit. Mengutip kitab Ihya `Al-Ghazali yang mengatakan bahwa siapa yang memilih pekerjaan mengajar maka ia sesungguhnya telah memilih pekerjaan besar dan penting. Meski demikian, hubungan guru-murid bukanlah dalam konteks ekonomi seperti seorang pemberi ilmu dan penerima ilmu, atau seperti seorang yang memberi jasa dan penjual jasa, tetapi justru hubungan guru-murid dalam konteks keagamaan atau melakukan perintah Tuhan. Sehingga seorang murid akan menghormati dan menuruti muridnya karena apa yang diajarkan oleh seorang guru adalah ilmu dari Tuhan. Penghormatan itu sama dengan penghormatan terhadap seorang pemimpin, dimana pemimpin adalah seorang yang dianggap memiliki ilmu tentang Tuhan lebih dari rakyatnya. Kesejahteraan yang diberikan pada guru, juga merupakan bentuk penghargaan kepada seorang pemimpin, bukan sekedar gaji atau imbalan. Namun tentu, penghargaan tersebut juga harus diimbangi dengan sikap guru yang layak dihormati bukan karena materinya atau kedudukannya, tetapi karena kepemimpinannya.  </p>
<p>Tentu, seandainya guru di Indonesia mampu meningkatkan jiwa pemimpinnya, maka pendidikan di Indonesia akan semakin maju peradabannya. ***</p>
<p><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<p>http://ath-thullab.blogspot.com/2009/07/kedudukan-guru-dalam-pandangan-islam.html</p>
<p>http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/01/memahami-tentang-kualifikasi-guru.html</p>
<p>http://id.wikipedia.org/wiki/Guru</p>
<p>http://massofa.wordpress.com/2008/10/12/permasalahan-guru-di-indonesia/</p>
<p>*) Prajna Bhadra Darmastuti atau biasa dipanggil Bunda Seno, lahir di Banyumas pada tanggal 31 Januari 1982. Ibu dari Seno Aulia Wijayanto, bekerja sebagai Guru SMK di Kabupaten Kebumen. Menekuni dunia penulisan dan menjadi kontributor, antara lain di buku Mukjizat Doa Ibu (2010) dan Antologi Banyumasan (2011). Selain menulis buku, aktif dalam karya tulis ilmiah bidang psikologi pendidikan dan lingkungan. Beberapa karya tulisnya pernah menjadi finalis di lomba tingkat provinsi dan nasional. Untuk kritik dan saran dapat mengirimkan e-mail bhadra31@gmail.com. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/14/guru-adalah-pemimpin-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BEBAN PSIKOEDUKATIF GURU</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/02/beban-psikoedukatif-guru/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/02/beban-psikoedukatif-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 12:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[beban guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2991</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: YULIANI EKA SAPUTRA PNS di Kecamatan Jiwan Madiun, Jawa Timur Baru-baru ini pemerintah mewacanakan menambah jam mengajar guru dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu. Penambahan jam mengajar itu mengundang polemik di kalangan para guru. Pemerintah beralasan dengan hanya 24 jam per minggu belum sebanding dengan beban kerja aparat birokrasi pemerintah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>YULIANI EKA SAPUTRA</strong><br />
<em>PNS di Kecamatan Jiwan Madiun, Jawa Timur</em></p>
<p><img alt="" src="http://smkpancasila.ppl.fkip.uns.ac.id/files/2011/09/PPL-mendampingi-GurubPamong-Mengajar-di-Kelas.jpg" class="alignleft" width="324" height="241" />Baru-baru ini pemerintah mewacanakan menambah jam  mengajar guru dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu. Penambahan jam mengajar itu mengundang polemik di kalangan para guru. Pemerintah beralasan dengan hanya 24 jam per minggu belum sebanding dengan beban kerja aparat birokrasi pemerintah yang mempunyai jam kerja lebih dari 30 jam per minggu. Lantas apa makna penambahan jam mengajar itu bagi profesi guru?</p>
<p>Pertama, penambahan jam mengajar dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu mencerminkan guru hanya dihargai ketika mengajar. Gaji guru pun dihitung hanya berdasarkan jam mengajar kepada siswa. Jerih payah guru mengerjakan tugas lain yang mendukung pembelajaran tidak termasuk dalam pengajaran. Padahal kegiatan seorang guru tidak hanya pada saat jam mengajar. Sebagai konsekuensi dari pendidik guru juga membuat soal ujian, koreksi, menambah pengetahuan dengan pelatihan, pertemuan kelompok kerja guru (KKG).</p>
<p>Selain itu seorang guru juga diwajibkan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebelum mengajar di depan kelas. Dengan demikian guru tidak dihargai karena disamakan dengan buruh belaka. Kerja keras guru di luar kelas seperti tidak mendapat penghargaan. Semua persiapan yang melelahkan sebelum mengajar di depan kelas cenderung diabaikan. Dengan penambahan jam mengajar itu bisa saja guru kehilangan kreativitas dan proses belajar mengajar tidak menarik.</p>
<p>Kedua, guru tidak dapat disamakan dengan kompetensi profesi lain seperti pegawai kelurahan, buruh, aktivis LSM dan karyawan pabrik. Guru memiliki kompetensi khusus yang sering dikenal dengan panggilan jiwa. Tidak semua orang dapat menjadi  dapat guru sekalipun memiliki jenjang pendidikan yang sama. Jam terbang seorang guru mencerminkan kualitas pengajaran yang dilakukan. Menjadi guru membutuhkan ketekunan profesi dan kompetensi yang tidak dapat dilakukan semua orang. Begitu pun ketika berhadapan dengan beragam karakter siswa membutuhkan seni dan keterampilan tersendiri.</p>
<p>Seorang guru berperan sebagai guru tidak hanya ketika berhadapan dengan siswa dalam proses belajar mengajar melainkan dalam keseluruhan pekerjaan guru. Maka aktivitas seorang guru terjadi baik dalam keadaan mengajar maupun dalam keadaan tidak mengajar karena mengerjakan tugas-tugas lain yang mendukung pembelajaran di kelas. Nyaris tidak banyak waktu tersedia bagi seorang guru ketika menunaikan panggilan profesinya.</p>
<p>Guru pun bekerja 24 jam. Seorang guru akan selalu dipanggil dengan sebutan Pak Guru dan Ibu Guru sekalipun sedang tidak mengajar di depan kelas. Di tengah-tengah masyarakat pun guru tetap melekat panggilan profesinya sehingga guru harus mampu menjadi teladan dan panutan dalam kehidupan bermasyarakat. Tutur kata seorang guru adalah keteladanan. Karena itu kebijakan bagi guru sebenarnya akan berdampak pada pendidikan secara keseluruhan.</p>
<p>Ketiga, seorang guru ketika berangkat ke sekolah dalam otaknya sudah dipersiapkan semua materi yang hendak diajarkan kepada peserta didik. Karena itu bukan seorang guru namanya kalau tidak pernah belajar, jarang membaca,  jarang mencari informasi di internet dan terus mengembangkan diri baik dengan studi lanjutan,  berdiskusi, menghadiri pertemuan-pertemuan guru. Bukan guru namanya kalau tidak pernah membaharui alat-alat peraga pendidikan yang dipergunakan. Dan guru harus terus didorong untuk mengembangkan ilmunya melalui penelitian-penelitian.</p>
<blockquote><p>Karena itu kalau menghitung jam mengajar dan pernak-pernik lain yang mendukung pembelajaran waktu guru sudah amat terbatas. Akan menjadi seperti apa proses pembelajaran ketika jam mengajar guru ditambah dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu. Apakah beban guru tidak kian bertambah berat? Lantas kemanakah para guru yang mempunyai bobot mengajar lebih sedikit seperti Olah Raga, Pendidikan Agama, Geografi? Jelas mereka membutuhkan kelas baru untuk menambah jam mengajar hingga memenuhi standar.</p></blockquote>
<p>Itu pun artinya kalau tidak ada penambahan kelas baru akan membawa dilema. Di satu sisi proses belajar mengajar kian padat bagi siswa yang berarti harus bertatap muka dengan guru melebihi biasanya. Itu tidak hanya membosankan! Melainkan proses pembelajaran bisa kian tidak menarik karena lebih lama dan lebih membutuhkan kreativitas.  Proses belajar mengajar dapat menjadi kering karena guru hadir tanpa persiapan Tanpa kejelian guru membaca peserta didik proses ini bisa sangat membosankan bin menjenuhkan.</p>
<p>Pada sisi yang lain ketika guru-guru harus memenuhi kuota mengajar 27,5 jam per minggu dapat saja mengurangi loyalitas guru karena berarti harus mengajar di tempat lain. Guru-guru PNS harus mengajar di sekolah-sekolah swasta yang tentu akan  berdampak pada etos mengajar guru yang bersangkutan. Tuntutan di sekolah yang berbeda-beda dapat membuat guru stress hanya demi memenuhi kuota mengajar.</p>
<p>Oleh karena itu kebijakan dalam pendidikan sebenarnya hanya dapat diaplikasikan kalau berdampak positif bagi peserta didik. Kebijakan pendidikan tidak dapat lahir dalam konteks eksperimentasi atau coba-coba belaka karena yang dirugikan adalah peserta didik. Setiap bentuk perubahan dalam pendidikan selalu berdampak pada proses belajar mengajar. Dan ketika pembelajaran tidak menarik peserta didiklah yang sangat dirugikan.</p>
<p>Boleh-boleh saja Kemdiknas terus membuat kebijakan termasuk dengan guru karena memang sudah menjadi ciri penting ganti menteri ganti kebijakan. Namun jangan sampai kebijakan itu justru menjadi beban bagu guru. Lagipula kebijakan yang lahir tanpa rencana justru akan menjadi bola liar yang merugikan dunia pendidikan. Terlampau banyak aspek yang hendak diatur menyebabkan kebingungan dalam merumuskan kebijakan yang tepat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/02/beban-psikoedukatif-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEKOLAH, MAMPUKAH MENDIDIK ANTI KORUPSI?</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/02/sekolah-mampukah-mendidik-anti-korupsi/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/02/sekolah-mampukah-mendidik-anti-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 12:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[budaya korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2988</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muh. Muslih Guru MA Ma’arif Borobudur Magelang dan Ketua LP Maarif Muntilan, Magelang Jawa Tengah Adalah Mahfud MD, sang Ketua Mahkamah Konstitusi, yang sangat geram melihat kasus korupsi yang senakin tinggi.&#8221;Akibat korupsi, negara saat ini dalam bahaya.&#8221; katanya beberapa waktu yang lalu seperti dilansir dalam www.mahkamahkonstitusi.go.id (31/1/2011). Berita korupsi tiap hari menghiasi halaman media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Muh. Muslih</strong><em><br />
Guru MA Ma’arif Borobudur Magelang dan Ketua LP Maarif Muntilan, Magelang Jawa Tengah</em></p>
<p><img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d5oQmIKyuw8/S3uZS61vNAI/AAAAAAAAAAc/2diKZG8txvo/S220/foto.jpg" class="alignleft" width="165" height="200" />Adalah Mahfud MD, sang Ketua Mahkamah Konstitusi, yang sangat geram melihat kasus korupsi yang senakin tinggi.&#8221;Akibat korupsi, negara saat ini dalam bahaya.&#8221; katanya beberapa waktu yang lalu seperti dilansir dalam www.mahkamahkonstitusi.go.id (31/1/2011).  </p>
<p>Berita korupsi tiap hari menghiasi halaman media pemberitaan kita. Entah sampai kapan akan berakhir. Bertahun-tahun Indonesia menempati daftar salah satu negara terkorup di dunia. Persepsi masyarakat terhadap kasus korupsi menjadi sangat menyedihkan. Masyarakat menjadi imun alias kebal terhadap kasus korupsi. Sehingga terdapat  opini masyarakat bahwa korupsi telah menjadi budaya bangsa kita sehingga sulit dihilangkan.</p>
<p>Survei yang dilakukan majalah Intisari terhadap 1.044 pembaca mengenai kebiasaan korupsi di masyarakat memperkuat anggapan di atas. Dalam survey itu semua responden setuju bahwa korupsi tergolong tindakan tercela. Tapi sekitar sepertiga responden secara jujur mengakui bahwa mereka bersedia menyuap petugas saat mengurus SIM, KTP, atau ketika ditilang polisi (Intisari,Oktober 2011). Lalu kepada siapa kita bisa berharap untuk mencegah terjadinya korupsi? Jawaban yang paling masuk akal adalah pada sekolah.</p>
<p>Sampai saat ini sekolah masih diyakini sebagai lembaga penyemai benih-benih pengetahuan dan nilai-nilai kebaikan. Lewat pengajaran dan pendidikan ditaburkan nilai-nilai kejujuran, amanah, ketelitian, kerapian dll. Namun di sisi lain masyarakat mengenal para koruptor sebagian besar adalah produk lembaga pendidikan. Ini terlihat dari pelaku-pelaku korupsi dilakukan oleh eksekutif maupun legislative bahkan yudikatif yang nota bene orang-orang berpendidikan. Orang pun bertanya apa peran lembaga pendidikan selama ini dalam pencegahan tindak korupsi?<br />
<strong><br />
Korupsi Kecil di Sekolah</strong><br />
Harapan masyarakat pada sekolah/madrasah terhadap pencegahan korupsi sangatlah tinggi. Namun kenyataannya sekolah memang belum sepenuhnya mampu melaksanakannya. Dalam praktek sekolah sering memberikan contoh yang tidak jujur. Benarkah? Lihat saja praktek-praktek korupsi kecil di sekolah, masih ada guru-guru PNS pulang sebelum waktunya pulang. Bukankah itu korupsi waktu? Apakah para guru selalu mengoreksi PR yang telah mereka berikan pada siswa?  Hal ini penting dalam menanamkan nilai kejujuran dan sportifitas pada anak. Sebab teladan guru lebih berharga dari sekedar himbauan.</p>
<p>Selain itu dalam hal ujian, apakah urusan contek-menyontek sudah mendapat perhatian yang memadai ? Artinya antara si penyontek dan yang di contek telah diberikan pengertian yang mendalam dan mendapat sangsi. Karena tanpa disadari kebiasaan buruk mencontek akan menjadi bibit yang merugikan karakter anak nantinya. Bila tak pernah ada sangsi dari guru, maka anak yang baik dan pintar akan menjadi apatis dalam belajar sebab nilainya akan selalu di bawah mereka yang bodoh namun trampil menyontek. Dan yang bahaya anak akan mempunyai anggapan bahwa perbuatan buruk ( mencontek ) boleh saja dilakukan asal tidak ketahuan orang lain ( guru ). Mungkin para pembaca masih ingat teman-teman anda yang masih rajin menyontek, meski telah menyandang predikat mahasiswa? Atau mungkin anda sendiri pernah menjadi pelakunya? Inilah kelemahan sistem pendidikan kita. Terlalu permisif pada hal-hal yang mestinya prinsip.</p>
<p>Dan yang lebih mengerikan lagi adalah upaya sulapan nilai yang dilakukan oleh beberapa guru agar siswanya bisa lulus dalam EBTANAS tahun 1980an hingga UAN sekarang ini. Kasus yang diindikasikan sebagai upaya menyontek masal dalam ujian nasional 2011 di Surabaya beberapa waktu lalu mungkin bisa kita kaitkan dengan fakta ini. Kalau ini nampaknya sudah terstruktur, mulai dari pejabat birokrasi pendidikan hingga kepala sekolah dan guru sebagai pelaksananya. Maka jangan heran bila mutu pendidikan kita tak kunjung meningkat karena nilainya hanya sulapan saja. Jadi ibarat makan buah simalakama, dimakan bapak mati tak dimakan emak mati. Tak dilakukan banyak anak tak lulus, kalau dilakukan berarti berlaku tidak jujur. Terus kapan kita akan mendidik anak anti korupsi? Tentu jawabnya adalah sejak dini..<br />
<strong><br />
Mendidik Anti Korupsi Sejak Dini</strong><br />
Sejak anak dilahirkan mereka perlu mendapatkan pendidikan karakter atau akhlak mulia. Pembiasaan nilai-nilai keagamaan yang sarat dengan nilai-nilai anti korupsi sangat ber pengaruh dalam pembentukan karakter mereka. Sejak lahir hingga usia 8 tahun merupakan masa keemasan dalam pembelajaran. Masa itu sering diistilahkan the golden age oleh para pakar psikologi dan neurologi dimana anak paling gampang dibentuk. Di sini anak dalam taraf belajar yang paling alamiah, termasuk dalam menerima nilai-nilai anti korupsi. Guru-guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), TK dan SD bersama orang tua menjadi tulang punggung keberhasilan mendidik anti korupsi pada usia ini. Inti dari pendidikan anti korupsi adalah mengajarkan kejujuran. Sebab pangkal korupsi adalah ketidak jujuran terhadap nurani..</p>
<p>Ada tiga tingkatan dalam menerima pembelajaran, yaitu tingkatan perasaan, tingkatan pemahaman dan tingkatan ungkapan (Intisari, Mei 2004). Pada tingkatan perasaan, anak akan mendengarkan apa saja yang diberikan padanya. Anak seperti ini seolah-olah merupakan anak yang patuh, tidak neko-neko. Namun pada dasarnya anak telah mengenal rasa senang, sedih, jengkel, dll. Hati-hati dengan kebiasaan orang tua yang sering berjanji, namun tak menepati. Secara tak langsung itu adalah pembelajaran kebohongan pada anak kita. Seringkali untuk membujuk anak yang menangis orang tua berkata,”Ayo,diamlah, nak, nanti ibu belikan permen.” Setelah sang anak terdiam ternyata sang bunda lupa dengan janjinya. Kadang-kadang seorang bapak yang kecapekan pulang kerja berkata pada anaknya,” Nak, nanti kalau Pak RT datang atau telepon mengajak kerja bakti, katakan bapak sedang tidak ada, ya!. Bila sang anak sudah tak protes dengan perilaku bapaknya itu, maka berarti dalam diri anak sudah ada bisa memahami perlunya berbohong. Sebenarnya orang tua yang bijak akan mengatakan pada anaknya, “Nak, kalau ada telepon atau Pak RT datang, tolong katakana Bapak sedang capek sekali, tidak bisa ikut kegiatan saat ini.” Itu akan lebih jujur dan memberi teladan baik pada anak. Di sekolah, guru yang tak pernah mengoreksi PR siswa, akan diterima dengan perasaaan jengkel dan akan menimbulkan apatisme anak. Bila guru tidak fair sesungguhnya ia menggambarkan dirinya sebagai model yang buruk. </p>
<blockquote><p>Bila perilaku tidak jujur dan curang terus menerus diterima siswa, maka ia akan memahami bahwa tidak jujur dan curang itu kadang-kadang perlu, karena itu akan menguntunmgkan dirinya. Inilah yang dimaksud dengan tahap selanjutnya, yakni tingkatan pemahaman. Pada  tahap ini anak akan memperhatikan berbagai cara orang memberikan pelajaran. Anak mampu membedakan mana perintah yang perlu diturut atau dibantah. Dengan panca inderanya mereka mampu mengolah pelajaran bukan hanya yang diberikan namun juga bisa menggabungkan dengan apa yang mereka lihat, alami dalam kehidupan sehari-hari. Hati-hati dengan contoh-contoh buruk yang anda berikan pada mereka. Anak akan mencatatnya dengan pemahamannya sendiri. Termasuk nilai-nilai sidiq ( kejujuran ) dan amanah ( bisa dipercaya ) akan tertanam lewat pemahaman mereka atas perilaku orang tua atau guru pada mereka.</p></blockquote>
<p>Untuk tingkatan ungkapan atau ekspresi, mereka umumnya memperhatikan orang tua atau guru memberikan pelajaran dan mencari tahu makna dari pelajaran itu. Anak seperti ini tak akan tinggal diam bila yang dipelajari dan dirasakannya tidak sama. Orang dewasa kadang kewalahan menghadapi anak pada tingkatan ini. Misalnya, ketika ia harus belajar dan tak boleh menonton TV sementara orang tuanya tetap asyik memelototi TV. Pelajaran ini akan masuk dalam konsep pengetahuan si anak, bahwa perintah / larangan yang dikeluarkan ternyata tidak berlaku bagi si pembuat keputusan. </p>
<p>Demikian pula kasus guru yang tidak mengoreksi PR. Mereka akan memiliki konsep bahwa orang yang berkuasa (dalam hal ini guru) boleh melakukan sekehendak hatinya.Karena dendam, anak merindukan dirinya memiliki kekuasaan kelak dan berlaku seenaknya. Maka pada tingkatan ekspresif ini, anak yang sebenarnya baik, namun karena pengalaman dalam ulangan-ulangan yang diadakan dalam suasana permisif, teman-temannya yang mencontek justru mendapat nilai lebih baik dan tidak mendapat sangsi dari guru bisa menyebabkan si anak baik menjadi ikut curang atau kurang percaya diri. </p>
<p>Untuk itu peran guru di sekolah sangat menentukan bagi pembentukan mental anti korupsi. Ia adalah model bagi anak yang sedang menuju masa kedewasaan. Maka sungguh bijak adanya peribahasa Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari. Kalau guru sebagi model saja tidak disiplin, tidak jujur, dan tidak adil bagaimana anak didiknya? Tentu kita berharap dengan dikembangkannya pendidikan karakter mulai dari Pra-TK hingga mahasiswa menyadarkan guru untuk lebih hati-hati dalam mendidik anak-anak bangsa ini. Lebih baik mencegah korupsi daripada membasmi. Dan itulah tugas sekolah..Untuk itu sekolah sebagai tempat menyemai nilai-nilai itu tentulah harus memberikan teladan bagi siswa dalam praktek penanamannya. Keberhasilan sekolah tidak hanya terwujud dalam real curriculum ( kurikulum nampak ) seperti yang tertuang dalam nilai-nilai pelajaran mereka, namun masyarakat juga mengharapkan keberhasilan dalam hidden curriculum ( kurikulum tersembunyi ) yang tercermin dalam perilaku siswa atau lebih dikenal sebagai pendidikan karakter seperti kejujuran, amanah, sopan santun, sportif dll. Semoga sekolah bisa mewujudkan harapan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/02/sekolah-mampukah-mendidik-anti-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GURU DAN REDESAIN OTONOMI EDUKATIF</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/26/guru-dan-redesain-otonomi-edukatif/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/26/guru-dan-redesain-otonomi-edukatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 13:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ari kristianawati]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2980</guid>
		<description><![CDATA[ARI KRISTIANAWATI Guru, Koordinator Kajian Filsafat Sosial dan Anggota Agupena Jateng Peran guru dalam denyut program peningkatan kecerdasan bangsa, tidak bisa dipandang sebelah mata. Guru menjadi soko guru aktivasi edukasi publik ke arah pencerdasan kolektif masyarakat. Guru saat ini realitas kesejahteraan sosial-ekonomi mengalami peningkatan yang signifikan dengan dilaksanakannya program sertifikasi. Program sertifikasi yang memandatkan pemberian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ARI KRISTIANAWATI<br />
Guru, Koordinator Kajian Filsafat Sosial dan Anggota Agupena Jateng</p>
<p><img alt="" src="http://agupena.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/images.jpg" class="alignleft" width="99" height="98" />Peran guru dalam denyut program peningkatan kecerdasan bangsa, tidak bisa dipandang sebelah mata. Guru menjadi soko guru aktivasi edukasi publik  ke arah pencerdasan kolektif masyarakat.</p>
<p>Guru saat ini realitas kesejahteraan sosial-ekonomi mengalami peningkatan yang signifikan dengan dilaksanakannya program sertifikasi. Program sertifikasi yang memandatkan pemberian tunjangan satu kali gaji pokok bagi guru yang lulus dalam proses  penyertifikatan sebagai guru profesional. Meski dalam realitas kucuran tunjangan sertifikasi mengalami kemandegan karena faktor birokrasi.</p>
<blockquote><p>Penghargaan profesi guru dengan tunjangan sertifikasi, sayangnya mendapatkan kritik dan sinisme sosial dari berbagai kelompok sosial yang tidak memahami peran eksistensial guru dalam program pendidikan nasional. Guru yang lulus sertifikasi dibebani prasangka sosiologis sebagai tenaga edukatif yang belum profesional dengan melihat dimensi kinerja guru dalam relasi pembelajaran.</p></blockquote>
<p>Banyak pihak yang menganggap guru yang telah mengantongi lisensi profesional belum mampu mengangkat kualitas pendidikan nasional. Standar kualitas pendidikan nasional dianggap berjalan ditempat seiring dengan lambatnya peningkatan kualitas Indeks pembangunan manusia (IPM).</p>
<p>Saat ini kurang lebih 850 ribu guru dari 2,5 juta guru telah tersertifikasi sebagai tenaga edukatif yang profesional. Tenaga edukatif yang berhak menerima tunjangan profesi, meski jadwal dan besaran anggaran yang dikucurkan sering tidak akuntabel. Beda nasib dengan tunjangan remunerasi yang diterima oleh PNS kementerian keuangan, kementeran agama atau kementerian pertahanan dan keamanan yang diterima utuh setiap bulannya.</p>
<p>Masih rendahnya kualitas pendidikan nasional, sering ditimpakan beban kesalahan pada kinerja dan fungsi guru. Guru diniscayakan sebagai kekuatan edukatif yang bertanggung-jawab terhadap mutu dan produk kualitas pendidikan nasional.</p>
<p>Sebuah anggapan yangs alah kaprah karena menurun atau meningkatnya kualitas pendidikan nasional ditentukan oleh multifaktor yang sifatnya makro dan mikro. Diantaranya arah politik pendidikan nasional, strategi pembelajaran nasional, orientasi ideologi pendidikan, kualitas infrastruktur penganggaran dan fisikal pendidikan nasional.</p>
<p>Guru dalam skenario politik pendidikan hanyalah eksekutor dari kurikulum pendidikan yang telah didesain oleh pengambil kekuasaan atas kebijakan (<em>power to wisdom</em>). Guru hanyalah &#8220;robot&#8221; kurikulum yang tidak memiliki otonomi penuh untuk merangkai materi pembelajaran yang transformatif.</p>
<p>Gagasan otonomi guru sebagai elemen vital pendidikan, hanyalah dalam imajinasi sosial yang diharapkan oleh guru yang berfikir independen dan berorientasi mengabdi pada dunia pendidikan bangsa ini.</p>
<p>Otonomi guru dalam realitas dimasukkan dalam &#8220;rumah kaca&#8221; politik kurikulum yang mengadopsi kepentingan pasar dan kekuasan. Meminjam terminologi Michael Foucoult didalam pendidikan ada dimensi power (kekuasaan). Kekuasan beserta seperangkat nilainya memasung kebebasan akademik dan independensi sosial para pelaku pendidikan partisipatorik.</p>
<p>Guru saat ini memang sejahtera ekonomi&#8212;-dalam stereotype masyarakat awam&#8212;-namun belum mendapatkan kekuatan otonomi sebagai pendidik. Hak otonomi guru sebagai pendidik bukanlah semata hak guru untuk  menyusun rencana pokok pembelajaran (RPP) atau membuat inovasi bahan mentah pelajaran. Atau hak &#8220;politis&#8221; guru menjalankan kepentingan berorganisasi dan berserikat.</p>
<p>Otonomi guru yang kreatif adalah ketika guru tidak dijadikan robot kurikulum dan robot kepentingan politik kuasa atas pendidikan. Guru tidak boleh sekadar sebagai juru penyampai materi ajar yang mencontek atau menurut kerangka besar kurikulum yang telah terkuasai kepentingan kekuasaan. Guru bukan hanya sebagai pegawai pemerintah daerah atau pusat yang dipaksa untuk menyukseskan kepentingan kekuasaan yang ambisius untuk mencipta data statistik kemajuan pendidikan.</p>
<blockquote><p>Guru dalam tangkup otonomi edukatif tidak boleh lagi diperalat untuk memanipulasi hasil pembelajaran siswa, tidak boleh dijadikan alat untuk menjalankan praktek bisnis pendidikan disekolah. Guru sepenuhnya harus ditempatkan sebagai kekuatan edukatif untuk mendidik masyarakat.
</p></blockquote>
<p>Guru dalam desain otonomi edukatif memiliki peran vital sebagai tenaga penyampai ilmu pengetahuan atau transfer pengetahuan serta menjadi fasilitator pendidikan karakter bagi siswa, dengan kesuri-tauladanan subjektif. Guru ditempatkan menjadi bagian dari proses pendidikan yang liberatif. Pendidikan yang menjadikan siswa dan  elemen pendidikan sebagai komponen penting pendidikan yang membebaskan (Paulo Freire, 1983).</p>
<p>Guru kini seharusnya diposisikan menjadi kekuatan mediasi yang menjembatani kepentingan siswa dan kepentingan diseminasi ilmu pengetahuan yang membawa kemaslahatan bagi manusia dan kemanusiaan.    </p>
<p>Janganlah memberi guru &#8220;kue ekonomi&#8221; namun merampas &#8220;martabat&#8221; sosiologisnya. Tunjangan sertifikasi guru telah mencabut mitos guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, karena standar kesejahteraan yang<br />
meningkat. Namun jangan jadikan alat untuk menjadikan guru kehilangan<br />
ruh kekritisan terhadap keadaan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/26/guru-dan-redesain-otonomi-edukatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KDRT, Tersembunyi dan Menghancurkan</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/16/kdrt-tersembunyi-dan-menghancurkan/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/16/kdrt-tersembunyi-dan-menghancurkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 14:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Tria marhaeni. KDRT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2972</guid>
		<description><![CDATA[Tri Marhaeni Pudji Astuti Dosen Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Unnes. KEKERASAN dalam rumah tangga (KDRT) bukanlah masalah baru. Tampaknya usianya sama tuanya dengan usia manusia itu sendiri. Ketika pemerintah mengesahkan UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, muncul harapan pastilah tak ada lagi kekerasan yang terjadi di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Tri Marhaeni Pudji Astuti</strong></span><br />
<span style="color: #ff0000;"> <em>Dosen Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Unnes.</em></span></p>
<p><img class="alignleft" src="http://bp2munnes.com/wp-content/uploads/2011/03/IMG_04651.jpg" alt="" width="201" height="300" />KEKERASAN dalam rumah tangga (KDRT) bukanlah masalah baru. Tampaknya usianya sama tuanya dengan usia manusia itu sendiri. Ketika pemerintah mengesahkan UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, muncul harapan pastilah tak ada lagi kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga.</p>
<p>Ternyata harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Kasus KDRT masih berseliweran dalam pemberitaan media massa, dengan berbagai ragam, pola, jenis, dan bentuk penyelesaiannya.</p>
<p>Sebenarnya UU NO 23 tahun 2004 bukanlah alat atau senjata para istri untuk ’’memenjarakan’’ para suami yang melakukan kekerasan. Undang-Undang ini tujuan utamanya adalah mewujudkan keharmonisan rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan yang nondiskriminatif. Artinya, siapa pun, baik suami maupun istri dan orang-orang yang mempunyai hubungan saudara dan tinggal dalam lingkup satu rumah tangga, boleh saja mengacu pada UU No 23 tahun 2004, jika mereka mengalami KDRT.</p>
<blockquote><p>Jadi, sangat salah jika Undang-Undang tersebut hanya diperuntukkan bagi kaum perempuan saja. Faktanya yang dapat melakukan kekerasan adalah bisa saja laki-laki atau perempuan. Korbannya juga bisa laki-laki atau perempuan.</p></blockquote>
<p>Mengapa seolah-olah UU No 23 tahun 2004 diperuntukkan bagi kaum perempuan? Karena secara statistik korban terbanyak adalah perempuan. Namun undang-undang ini tidaklah diskriminatif. Laki-laki yang mengalami KDRT juga boleh memakainya.</p>
<p><strong>Konstruksi Sosial</strong><br />
Konstruksi sosial tentang kekerasan dalam rumah tangga belum beranjak dari pandangan yang sangat patriarkat. Kesan bahwa perempuan/istri adalah ’’milik’’ laki-laki —maka bebas diperlakukan apa saja oleh pemiliknya— menjadi salah satu pemicu terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga.</p>
<p>Konstruksi sosial bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi terhadap perempuan adalah karena kesalahan perempuan itu sendiri, yang dinilai sangat dominan dalam menciptakan peluang dan kesempatan, menandakan bahwa budaya patriarkat dan pemahaman masyarakat belum bergeser dari blue-print yang ada.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://batam.tribunnews.com/foto/bank/images/KDRT.jpg" alt="" width="290" height="222" /><img class="alignleft" src="http://gideonidea.files.wordpress.com/2009/04/verbal-abuse-33.jpg" alt="" width="290" height="222" />Tindak kekerasan terhadap perempuan dan terhadap siapa saja, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, adalah bentuk kejahatan kemanusiaan dan pengingkaran hak-hak atas sekelompok manusia yang menjadi korban. Banyak kendala dalam mengungkap kasus KDRT karena kasusnya bagaikan lingkaran surga dan neraka. Terkadang pada siang hari menjadi neraka bagi korban, malam hari justru pelaku menciptakan surga, sehingga melemahkan korban (yang umumnya perempuan). Masih ditambah berbagai persoalan lain, seperti tekanan keluarga, tetangga, atasan, status sosial, pristise, jabatan, pendidikan, sehingga makin menambah sulitnya korban memutus lingkaran tersebut.</p>
<p><strong>Menghancurkan</strong><br />
Berbagai macam bentuk KDRT yang dialami korban, dan ini adalah fenomena seperti ’’antara ada dan tiada’’ menjadi hal yang sangat menghancurkan. Perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga akan merasa mengalami banyak tekanan psikis, yang tak jarang tekanan ini akan menghancurkan dirinya secara fisik dan psikis.</p>
<p>Perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga menyandang beban slogan ’’ibu rumah tangga yang baik’’, ’’istri yang setia dan patuh pada suami’’, ’’istri yang menjaga kehormatan keluarga’’, serta berbagai slogan lain yang menempatkan posisi perempuan pada sudut untuk selalu mengalah dan nrima.</p>
<p>Beratnya beban slogan yang disandang perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga menjadikan mereka mengalami tekanan mental, depresi dan gamang dalam bertindak. Tak jarang mereka bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan mungkin juga sampai mengalami gangguan jiwa.</p>
<p>Terlebih lagi jika yang dialami perempuan adalah kekerasan psikis yang susah untuk dibuktikan tapi mereka mengalaminya. Seperti penghinaan dari suami yang terus menerus, pengingkaran eksistensi, cemoohan, dan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar.</p>
<p>Hal ini semakin membuat para perempuan seperti orang linglung tak tahu harus berbuat apa. Bentuk dan dampak KDRT memang beragam. Dampak fisik mungkin akan dapat disembuhkan dengan pertolongan rekonstruksi medis, akan tetapi dampak psikis akan sulit disembuhkan, tak jarang masih membekas dan menimbulkan trauma. Sementara para korban berkutat dengan penderitannya, di pundaknya tetap harus disandang slogan yang indah-indah tersebut. Ini persolaan berat bagi perempuan.</p>
<p>Ancaman lain bagi korban KDRT ketika mereka berani melaporkan kasusnya adalah banyaknya tekanan dari pihak-pihak yang berkepantingan dengan status mereka, dengan kedudukan mereka, dan dengan kelas mereka. Tekanan dan ancaman seringkali diterima perempuan korban KDRT yang berani melaporkan kasusnya, sehingga mereka terpaksa mencabut laporannya, meskipun sudah diproses oleh kepolisian.</p>
<p>Bagi saya, tetap kepentingan korban yang harus dinomorsatukan. Kalau pencabutan laporan memang membawa kebaikan dan perubahan yang berdampak terjadinya keharmonisan bagi rumah tangga korban, maka saya mendukung. Dan saya pikir aparat kepolisisan juga mendukung. Namun ternyata banyak kasus pencabutan laporan adalah karena tekanan, ancaman terhadap korban KDRT. Inilah yang saya tidak mendukung. Artinya bentuk-bentuk ancaman, tekanan, dan penganiayaan adalah bentuk-bentuk kejahatan hak asasi manusia, sehingga ini yang harus ditangani, agar rasa keadilan korban terlindungi. (24)</p>
<p>Sumber : Suara Merdeka</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/16/kdrt-tersembunyi-dan-menghancurkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

