<?xml version="1.0" encoding="UTF-7"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena Jawa Tengah</title>
	<atom:link href="http://agupenajateng.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupenajateng.net</link>
	<description>Membangun Semangat Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Apr 2013 12:02:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Menjadi Shi Fu</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2013/04/08/menjadi-shi-fu/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2013/04/08/menjadi-shi-fu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Apr 2013 11:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[profesionalisme guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3072</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sawali Tuhusetya Ketika iseng membaca sebuah artikel, tiba-tiba saya tertarik pada pepatah klasik Cina: Yi ri wei shi, zhong sheng wei fu (sehari menjadi guru, seumur hidup menjadi orang tua). Jujur saja, saya shock ketika berusaha memahami makna idiom ini. Benar-benar menohok ulu hati saya yang selama ini telanjur mengagung-agungkan guru sebagai sebuah profesi. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: <a href="http://sawali.info/" target="_blank">Sawali Tuhusetya</a></strong></p>
<p><img class="alignright" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/Sawali-vektor-vignet.jpg" alt="Sawali" width="200" /><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">K</span>etika iseng membaca sebuah artikel, tiba-tiba saya tertarik pada pepatah klasik Cina: Yi ri wei shi, zhong sheng wei fu (sehari menjadi guru, seumur hidup menjadi orang tua). Jujur saja, saya shock ketika berusaha memahami makna idiom ini. Benar-benar menohok ulu hati saya yang selama ini telanjur mengagung-agungkan guru sebagai sebuah profesi. Padahal, sejatinya guru bukanlah sebuah profesi, melainkan status.</p>
<p>Loh! Bukankah pemerintah telah menahbiskan guru sebagai profesi sebagaimana tersirat dan tersurat dalam UU Guru dan Dosen? Bukankah dengan menaikkan derajat guru menjadi sebuah profesi akan menjanjikan kesejahteraan yang lebih baik sehingga para guru tidak lagi naik sepeda kumbang di atas jalan berlobang seperti yang sering disindir oleh Iwan Fals? Bukankah tuntutan itu yang selama ini menggema di balik demo para guru sehingga terpaksa harus mangkir mengajar dan mendidik demi memperbaiki kesejahteraan hidup?</p>
<p>Tunggu dulu! Kesejahteraan guru harus lebih baik, itu jelas. Guru tidak lagi naik sepeda kumbang ketika menunaikan tugas, itu wajar. Guru tidak lagi pusing memikirkan isi periuk di dapur, itu sudah pasti. Guru tidak lagi repot harus hutang ke sana kemari ketika tiba-tiba anaknya masuk rumah sakit, itu juga sangat beralasan. Guru tidak lagi nyambi jadi tukang ojek atau penjual rokok ketengan,  itu sudah jelas masuk akal.</p>
<p>Namun, ada pesan moral yang lebih agung dan mulia di balik adagium Cina klasik itu. Guru bukan semata-mata sebuah profesi, melainkan status; sebagai Shi Fu; guru yang sekaligus berstatus sebagai orang tua. Yup, alangkah luhur dan mulianya status yang disandang oleh para guru. Mereka tak sekadar mentransfer ilmu pengetahuan an-sich, melainkan juga membangun karakter. Mereka tak hanya pintar memberikan punishment, tetapi juga bijak memberikan reward. Ada sentuhan tangan sang guru yang lembut, penuh perhatian, dan sarat nilai kasih sayang kepada para murid ketika sedang bergulat di tengah rimba belantara dunia pendidikan. Ada simpul-simpul syaraf kemanusiaan yang dengan amat sadar dialirkan ke ruang-ruang kelas, sehingga atmosfer yang terbangun menjadi lebih beradab dan berbudaya.</p>
<p>Itulah sebabnya, saya menjadi sangat shock ketika mencoba menghitung dosa-dosa saya selama menjadi guru. Betapa selama ini saya merasa cukup bangga disebut sebagai guru profesional. Betapa wibawanya saya di depan siswa didik saya yang dengan otoritas yang saya miliki, saya bisa menjadi aktor tunggal yang diperhatikan dengan puluhan sorot mata penuh ketakutan. Betapa bangganya saya bisa menakut-nakuti murid dengan ancaman tidak naik kelas atau gagal lulus, bahkan mengeluarkan mereka dari sekolah apabila mereka mau main-main dengan peraturan dan tata tertib sekolah.</p>
<p>Cobalah kita tengok sebentar suasana ruang-ruang kelas yang berlangsung selama ini. Para murid bagaikan objek mati yang gampang dikebiri melalui otoritas sang guru. Para murid hanya jadi robot. Sang gurulah pengendalinya. Para murid sekadar mengikuti sinyal remote control yang disetir sang guru. Robot-robot yang sedang error tak segan-segan dibuang dan disingkirkan. Ancaman menjadi senjata ampuh bagi sang guru dalam menegakkan wibawa dan kharismanya. Tak heran jika selepas dari ruang kelas yang angker bak kerangkeng penjara, para murid seperti terbebas dari sekapan medan karantina berbau busuk. Lantas, mereka mencari pelampiasan dengan melakukan aksi yang sesuai dengan naluri agresivitasnya. Tawuran, pesta pil setan, pergaulan bebas, dan perilaku tak terpuji lainnya gampang sekali membius mereka.</p>
<p>Betapa naifnya saya setelah pantulan dari cermin kehidupan itu menampar wajah saya yang penuh bopeng dan dosa. Saya telah berlaku biadab dan kejam terhadap anak-anak bangsa negeri ini. Mereka saya perlakukan semau gue, sesuka gaya saya. Kapan pun mau, saya bisa meminta mereka untuk menjilati tembok dinding ruang kelas yang kasar dengan lidah mereka apabila mereka nyata-nyata melanggar aturan. Saya bisa menghakimi siswa didik saya untuk menguras WC yang berbulan-bulan lamanya lupa dikuras oleh petugas sekolah. Bahkan, saya sering mempermalukan murid-murid saya dengan cara menggantung kaki sebelah ketika mereka terlambat masuk kelas. Saya jarang tersenyum karena takut kehilangan wibawa. Saya harus lebih banyak menciptakan ketegangan di ruang kelas, agar mereka memusatkan perhatian pada materi ajar yang saya sajikan. Kalau ada murid yang berotak pas-pasan, tak segan-segan saya memvonis mereka dengan label bodoh atau tolol. Celakanya, saya beranggapan, mereka hanyalah anak orang lain yang dititipkan ke sekolah, sekadar untuk cari selembar ijazah.</p>
<p>Selama ini ternyata saya bukanlah seorang guru. Saya hanya menjadi tukang ajar. Saya sering mengatakan, Saya punya ilmu, kamu punya uang! Jadilah transaksi. Sekolah jadi ladang bisnis. Tak ada nilai karakter dan budi pekerti yang saya tanamkan kepada murid-murid saya. Tugas saya semata-mata hanya mengantarkan anak-anak negeri ini bisa memperoleh ijazah. Titik. Tak ada pertautan nilai kemanusiaan yang tersalur ke dalam gendang nurani siswa didik saya. Kalau ada siswa yang berotak pas-pasan, sering saya tinggalkan begitu saja. Saya tak peduli, toh anak orang lain, salahnya sendiri bodoh! Selama ini ternyata darah yang mengalir dalam tubuh saya bukanlah darah seorang guru, melainkan darah seorang pekerja dan pencari penghasilan.</p>
<p>Bertahun-tahun lamanya, saya terpasung dalam suasana semacam itu. Idiom klasik Cina itu telah mengingatkan saya agar menjadi seorang shi fu; menjadi guru sekaligus orang tua. Guru tak hanya sebatas memainkan peran sebagai tukang ajar, tetapi juga sekaligus sebagai orang tua yang mengemban misi mendidik. Kalau ada anak yang berotak pas-pasan, sudah seharusnya diajak untuk mengembangkan potensi kecerdasannya; dbimbing dan dilatih dengan penuh sentuhan perhatian dan kasih sayang; tak ubahnya kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Kalau ada murid yang melanggar aturan, mereka perlu diajak dan dilibatkan untuk membuat kontrak sosial agar mereka patuh terhadap aturan main yang telah disepakati.</p>
<p>Guru juga tak hanya mengemban misi mencerdaskan otak siswa, melainkan juga membangun pilar-pilar karakter yang kuat agar kelak anak-anak negeri ini juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial. Sungguh, betapa dalam dan luasnya makna shi fu itu ketika saya silau oleh predikat sebagai guru profesional. Semoga, negeri ini akan bermunculan shi fu-shi fu baru yang benar-benar memiliki darah guru sejati yang memperlakukan siswa didiknya tak ubahnya seperti anak-anak kandungnya. Hanya dengan sentuhan tangan yang lembut, bijak, penuh perhatian, dan sarat belaian kasih sayang, anak-anak negeri ini akan menemukan dunianya yang beradab dan berbudaya. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2013/04/08/menjadi-shi-fu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlukah Pendidikan Seksualitas di Sekolah?</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/09/02/perlukah-pendidikan-seksualitas-di-sekolah/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/09/02/perlukah-pendidikan-seksualitas-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Sep 2012 19:59:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3060</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Suwarno, S.Pd. (Guru SMP Negeri 2 Baturraden Banyumas) Kondisi pergaulan remaja saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Terjadi peningkatan Aktivitas seks pranikah, dan penyakit seksual di kalangan remaja. Hamil di luar nikah menjadi fenomena yang biasa di masyarakat. Sikap permisif masyarakat terahadap aktivitas seksual para remaja menambah kondisi ini semakin runyam. Aktivitas seks bebas [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Agus Suwarno, S.Pd.<br />
(Guru SMP Negeri 2 Baturraden Banyumas)</strong></p>
<p><img class="alignleft" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/agussuwarno.jpg" alt="as" width="175" />Kondisi pergaulan remaja saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Terjadi peningkatan Aktivitas seks pranikah, dan penyakit seksual di kalangan remaja. Hamil di luar nikah menjadi fenomena yang biasa di masyarakat. Sikap permisif masyarakat terahadap aktivitas seksual para remaja menambah kondisi ini semakin runyam. Aktivitas seks bebas tidak hanya dilakukan oleh remaja sekolah menegah saja tetapi juga oleh anak-anak usia Sekolah Dasar. Yang lebih memprihatinkan, pada saat razia di sekolah-sekolah, tidak jarang ditemukan alat kontrasepsi di dompet pelajar.</p>
<p>Mudahnya remaja memperoleh alat kontrasepsi juga menjadikan Aktivitas seks bebas bukan lagi sesuatu yang tabu di kalangan remaja. Bahkan saat ini di minimarket-minimarket yang menjamur di perkotaan bahkan di pedesaan, di setiap meja kasir selalu tersedia alat kontrasepsi (maaf, kondom).Yang lebih memprihatinkan, alat kontrasepsi ini diletakkan berjajar dengan permen dan makanan anak-anak lainnya. Artinya anak-anak belia saat ini sudah kenal secara tidak sengaja dengan alat kontrasepsi. Ada cerita lucu atau bahkan mungkin tragis, tentang seorang anak yang merengek-rengek kepada ibunya minta debelikan alat kontrasepsi yang terpajang di dekat kasir gara-gara mengira barang tesebut permen. Maklum di bungkus alat kontrasepsi tersebut tertulis rasa buah beserta gambar buahnya.Sudah sepatutnya para pemilik minimarket untuk tidak meletakkan barang dagangan yang tidak layak diketahui anak-anak di tempat-tempat terbuka. Rasanya kurang etis meletakkan barang tersebut di tempat yang mudah dilihat dan terjangkau oleh anak-anak di bawah umur.</p>
<p>Fenomena maraknya seks bebas dia kalangan remaja di perkuat oleh survei yang dilakukan lembaga-lembaga yang berkompeten beberapa tahun yang lalu. Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia 2002-2003 menyebutkan, remaja usia 14-19 tahun yang memiliki teman, pernah berhubungan seksual sebelum menikah 34,7 persen untuk perempuan dan 30,9 persen untuk laki-laki. Survei Komisi Nasional Perlindungan anak 2008 terhadap anak SMP-SMA di 17 kota besa pernah menunjukkan, 97 persen remaja pernah menonton film porno, 93,7 persen pernah berciuman, meraba kemaluan, atau melakukan oral seks.(Kompas, 16 April 2012).</p>
<p>Berangkat dari kondisi di atas muncul gagasan dari berbagai pihak tentang perlunya pendidikan seksualitas di sekolah. Bahkan kalau perlu pendidikan seksualitas diberikan sejak SD kelas 4-6. Adapun dasar dari pemikiran ini adalah perlunya membekali remaja dengan pengetahuan yang memadai tentang seksualitas secara benar. Tanpa adanya bekal yang memadai dikhawatirkan remaja tidak dapat mengelola kebutuhan seksualnya secara benar.Selanjutnya remaja akan mudah terjebak kepada perilaku seks bebas. Akibat lebih lanjut adalah terjadinya kehamilan dini. Dan saat ini fenomena kehamilan dini semakin hari semakin meningkat. Tentu saja yang paling menjadi korban adalah remaja putri. Mereka harus rela putus sekolah dan memupus cita-cita untuk menggapai pendidikan yang lebih tinggi. Tidak itu saja pendidikan seksualitas diharapakan mampu mencegah berkembangnya penyakit seksual menular khususnya HIV.</p>
<p>Pendidikan seksualitas sudah menjadi prokontra sejak sepuluh atau bahkan dua puluh tahun yang lalu. Seksualitas sendiri saat ini masih dianggap sesuatu yang tabu dibicarakan secara terbuka apalagi di ruang kelas. Mendengar pendidikan seksualitas yang terbayang adalah pendidikan bagaimana mengajarkan siswa melakukan hubungan seksual. Berangkat dari pemahaman itu wajar jika muncul banyak pihak yang menolak adanya pendidikan seksualitas di sekolah.</p>
<blockquote><p>Pendidikan yang terkait dengan seksulitas sendiri sebenarnya sudah ada di sekolah. Memang tidak berdiri sendiri sebagai satu mata pelajaran. Pendidikan seksualitas melekat pada beberapa mata pelajaran, khsususnya IPA Bilogi dan agama. Pada pelajaran IPA Biologi bahkan di kelas 6 SD sudah diperkenlakan alat-alat reproduksi manusia. Sedang dalam pelajaran agama khususnya Pendidikan Agama Isalam misalnya diajarkan bagaimana bersuci seteleh mengalami mimpi basah atau setelah berhubungan suami istri. Sayangnya dalam menyampaikan materi tersebut tidak sedikit guru yang menekankan aspek kognitif semata. Dalam pelajaran IPA, sering siswa hanya ditekankan bagaimana menghafal bagian-bagian alat reproduksi saja tanpa disertai pesan moral dan perlunya menjaga kesehatan reproduksi . Sementara itu untuk pendidikan agama , siswa lebih ditekankan pada tata ritual mandi basah dan do’a yang menyertainya. Di sinilah perlunya sebuah inovasi pembelajaran yang dapat berdampak pada peningkatan kesadaran tentang pentingnya mengelola Aktivitas seksual secara benar, baik secara norma masyarakat maupun agama.</p></blockquote>
<p>Di negara barat pendidikan seksualitas sudah berlangsung puluhan tahun. Hal ini wajar mengingat di barat masalah seksualitas bukan hal yang tabu. Bahkan di negara barat ada kecenderung untuk melegalkan Aktivitas seks bebas. Memang dengan adanya pendidikan seksualitas berdampak pada turunnya tingkat kehamilan di usia remaja. Hal ini tentu bisa dipahami mengingat dalam pendidikan seksualitas siswa di samping diberikan pengetahuan tentang siklus menstruasi, proses kehamilan dan penyakit menular terkait Aktivitas seksual juga dibekali pengetahuan tentang metode-metode pencegahan kehamilan.Namun demikian tidak ada jaminan bahwa perilaku seks bebas remaja akan menurun setelah diberikannya pendidikan seksualitas.</p>
<p>Untuk itu jika memang pendidikan seks akan di berikan di sekolah perlu adanya format yang tepat. Pendidikan seks yang diberikan tidak hanya memberi pengetahuan tentang seks yang sehat tetapi perlu adanya muatan moral sehinga remaja tidak terjebak kepada perilaku seks bebas. Format pendidikan seksualitas di Indonesia hendaknya tidak mengadopsi pola pendidikan seksualitas ala barat. Tentu kita tidak ingin anak kita untuk belajar tentang alat reproduksi manusia harus dengan mendatangkan model aslinya, sebagaimana di negara barat bisa dilakukan. Meskipun tanpa kita ketahui bisa jadi anak-anak secara sembunyi-sembunyi telah belajar dari situs video youtube.</p>
<p>Penulis berpendapat pendidikan seksualitas tidak perlu diberikan sebagai suatu mata peajaran khusus. Saat ini pelajaran yang memuat materi seksualitas seperti IPA Biologi dan Pendidikan Agama sudah cukup memadai guna memberikan informasi yang benar kepada siswa trkait dengan pengetahuan seksulitas. Permasalahanya adalah pelajaran tersebut perlu direvitalisasi agar dapat menjawab tantangan perkembangan jaman, terkait dengan pendidikan seksualitas. Kegiatan ekstrakurikuler juga dapat menjadi wahana menyampaikan pengetahuan seksualitas yang benar dan bertanggung jawab. Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR), Kerohanian dan kegiatan ekstrakurikuler yang relevan dapat menjadi motor penggerak generasi muda anti seks bebas dan kehamilan dini. Hal ini akan lebih efektif, mengingat mobilitas dan intensitas mereka dalam pergaulan sehari-hari dengan teman sebaya.</p>
<p>Sebenarnya lembaga yang paling tepat dalam memberikan pendidkan seksualitas kepada anak sejak dini adalah keluarga. Keluargalah yang sangat bertangung jawab dalam memberikan informasi yang benar terkait dengan pengetahuan seksualitas.Konsep dosa jika berbuat zina perlu ditekankan kepada anak sejak usia dini. Namun sayangnya tidak semua orang tua mempunyai pengetahuan yang memadai. Pudarnya ikatan keluarga dan semakin melemahnya nilai-nilai keluarga menambah rumitnya permasalahan. Menurunnya kepercayaan terhadap nilai-nilai agama di masyarakat membuat masyarakat lebih toleran terhadap perilaku seks bebas di kalangan remaja. Di sinilah peran masyarakat khususnya dalam meningkatkan kepedulian terhadap kehidupan remaja perlu di tingkatkan.</p>
<p>Sekolah bukanlah gedung ajaib yang mampu memecahkan segala permasalahan bangsa ini. Sekolah dengan perangkat-perangkat yang ada bukanlah apa-apa, tanpa adanya dukungan dari lingkungan sekitarnya. Di sinilah perlu dibangun kesadaran bersama tentang pentingnya melakukan pengawasan terhadap perilaku seksual remaja. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/09/02/perlukah-pendidikan-seksualitas-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Pendidikan Perdamaian di Sekolah</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/08/28/pentingnya-pendidikan-perdamaian-di-sekolah/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/08/28/pentingnya-pendidikan-perdamaian-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2012 18:48:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3054</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yuli Prasetyowati Sugiharto *) (Guru Budi Pekerti di SMAN 1 Wonogiri) Alamat rumah: Jl. Kenanga II/8 B, Perum Wanaasri, Wonogiri Guru berperan penting dalam membina budaya damai supaya sekolah menjadi lingkungan yang sejuk dan indah tanpa kekerasan. Murid, guru, dan staf sekolah berinteraksi agar tercipta situasi yang mendukung perdamaian. Akan tetapi, segala peristiwa dapat [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Yuli Prasetyowati Sugiharto *)</strong><br />
<strong> (Guru Budi Pekerti di SMAN 1 Wonogiri)</strong><br />
Alamat rumah: Jl. Kenanga II/8 B, Perum Wanaasri, Wonogiri</p>
<p><img class="alignright" src="http://www.beritabali.com/images/STOP-KEKERASAN-REMAJA-okay.jpg" alt="stop kekerasan" width="275" />Guru berperan penting dalam membina budaya damai supaya sekolah menjadi lingkungan yang sejuk dan indah tanpa kekerasan. Murid, guru, dan staf sekolah berinteraksi agar tercipta situasi yang mendukung perdamaian. Akan tetapi, segala peristiwa dapat terjadi selama mereka berhubungan, termasuk konflik. Konflik dapat melibatkan murid dengan murid, guru dengan guru, murid dengan guru, dan unsur lain di sekolah. Konflik tidak dapat dihindarkan dan harus dikelola dengan baik supaya tidak mengalami eskalasi menjadi kekerasan terbuka.</p>
<p>Dalam praktek pendidikan, ada kecenderungan dalam proses belajar-mengajar yang perlu diperhatikan. Sebagai contoh, pendidikan di sekolah yang menekankan pengetahuan dan keterampilan akademik. Namun, dua komponen penting kurikulum lainnya, keterampilan sosial dan keterampilan hidup, sering tidak mendapatkan perhatian yang memadai.</p>
<p>Mengelola konflik secara konstruktif, menciptakan mekanisme penyelesaian masalah antarpribadi, dan membangun dialog adalah beberapa contoh kegiatan yang menekankan pada aspek pemberdayaan manusia daripada praktek-praktek tradisional yang represif. Model alternatif diyakini dapat mengembangkan kognisi dan emosi anak didik sehingga mereka menjadi orang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap persoalan sosial.</p>
<blockquote><p>Dalam konteks pendidikan perdamaian, guru memegang peranan sentral. Ini selaras dengan prinsip yang disepakati para pendidik, seperti tampak pada dokumen Pendidikan untuk Semua atau <em>Education for All.</em><em> </em>Salah satu prinsip yang tercantum dalam deklarasi yang dikeluarkan di Dakar pada 2000 itu ialah <em>the primacy of teacher</em>, guru sebagai hal yang primer dalam proses pendidikan. Guru adalah bagian dari majelis guru yang dapat memainkan peran kunci dalam pendidikan perdamaian dan resolusi konflik. Tujuannya supaya warga sekolah (khususnya peserta didik) secara fisik dan psikologis bebas dari kekerasan, mendapat kesempatan bekerja dan belajar untuk mewujudkan tujuan bersama, dan menghargai perbedaan di sekolah.</p></blockquote>
<p><strong>Survei Lakip</strong><br />
Beberapa waktu lalu Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (Lakip) menyurvei 590 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di 10 kota di Jabodetabek. Pada saat yang sama survei juga dilakukan terhadap 993 siswa beragama Islam di SMP dan SMA negeri/swasta, di tempat guru PAI tersebut mengajar.</p>
<p>Hasil survei memperlihatkan tingkat dukungan responden, baik guru PAI maupun siswa, terhadap aksi kekerasan cukup tinggi. Tidak hanya itu, tingkat kesediaan responden untuk terlibat dalam aksi kekerasan juga tinggi. Hampir 3 dari 10 responden guru PAI dan hampir 5 dari 10 responden siswa menyatakan kesediaan mereka jika ada pihak yang memobilisasi untuk terlibat dalam berbagai aksi kekerasan terkait dengan isu agama.</p>
<p>Kesediaan untuk terlibat aksi radikal berlatar belakang agama terutama disebabkan responden cenderung membenarkan aksi kekerasan tersebut. Pada gilirannya, sikap menyetujui atau membenarkan aksi kekerasan itu disumbang oleh sikap intoleran dan pandangan keagamaan konservatif.</p>
<p>Sekolah yang sehat ialah sekolah yang damai tanpa kekerasan, tempat bagi murid, guru, orang tua, bertemu, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan damai, apapun latar belakang mereka dari sudut suku, kelas, agama, dan sosial. Program pendidikan bina damai (peace building) yang melibatkan guru dan siswa sangat jarang dilakukan. Pendidikan perdamaian dan manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS) juga belum melembaga.</p>
<p><strong>Mengelola Kemajemukan</strong><br />
Dalam rangka merespons temuan-temuan hasil riset Lakip tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan terlibat aktif mengembangkan program pendidikan bina damai di sekolah. Pendidikan bina damai penting untuk segera dilakukan mengingat angka-angka kekerasan di sekolah dari waktu ke waktu meningkat tajam. Pendidikan bina damai yang diterapkan di dunia pendidikan, khususnya di kelas dan sekolah, diharapkan dapat menekan aksi kekerasan di sekolah.</p>
<p>Dalam skenario manajemen konflik berbasis sekolah, beberapa topik yang sangat relevan dengan tingginya aksi-aksi kekerasan di lingkungan siswa ialah bagaimana mengenalkan tantangan perdamaian di lingkungan sekolah, mengajarkan keterampilan resolusi konflik, mengelola kemajemukan di sekolah, serta membuat program bina damai.</p>
<p>Jika hal itu terlambat dilakukan, secara akademis maupun secara sosial akan membuat rendahnya self-esteem siswa, yang pada akhirnya menyebabkan munculnya sikap agresif yang tak terkendali. ***</p>
<p><strong>*) Yuli Prasetyowati Sugiharto</strong><strong><br />
(Guru Budi Pekerti di SMAN 1 Wonogiri)</strong></p>
<p><strong>Alamat rumah: Jl. Kenanga II/8 B, Perum Wanaasri, Wonogiri</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/08/28/pentingnya-pendidikan-perdamaian-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi Selendang Sulaiman</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/08/24/puisi-selendang-sulaiman/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/08/24/puisi-selendang-sulaiman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2012 20:12:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3051</guid>
		<description><![CDATA[Puisi Selendang Sulaiman Sajak Rindu - Ode Zainal Arifin Toha, alm.- Asbak hitam berukir itu Masih tercium abu rokok di bibirmu Dedak yang tersisa saling cumbu dalam tinta Terkenang wajahmu memuncak rindu Jauh kuterka dan kuraba Aura jidatmu, senyum ramahmu: kharismamu Semakin jauh jejak kujejaki Dan kata-kata titahmu sukar untuk kuhafal Kecuali satu: Kenang rindu Yogyakarta, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Puisi Selendang Sulaiman</strong></p>
<p><strong>Sajak Rindu</strong><br />
-<em> </em><em>Ode </em><em>Zainal Arifin Toha, alm.</em><em>-</em></p>
<p>Asbak hitam berukir itu<br />
Masih tercium abu rokok di bibirmu<br />
Dedak yang tersisa saling cumbu dalam tinta<br />
Terkenang wajahmu memuncak rindu</p>
<p>Jauh kuterka dan kuraba<br />
Aura jidatmu, senyum ramahmu: kharismamu<br />
Semakin jauh jejak kujejaki<br />
Dan kata-kata titahmu sukar untuk kuhafal</p>
<p>Kecuali satu: Kenang rindu</p>
<p><strong><em>Yogyakarta, Nopember 2008</em></strong><strong><em>-2012</em></strong></p>
<p><strong>Lelaki Hujan</strong></p>
<p>-<em>Terkenang Ayah</em><em>-</em></p>
<p>Dia sangat merindukan bulan<br />
Nasib ia peluk sebagai kembang<br />
Di dinding-dinding kesunyian dan fana<br />
Semerbak mayang menjadikannya nafas<br />
Yang mengikat sang jiwa di pohon kemarau<br />
Kupu-kupu dari timur dan utara<br />
Bertemu di ujung rambutnya<br />
Lalu bercinta saat mendung gagal<br />
Meminang langit dengan laut</p>
<p>Dia terus merindukan bulan<br />
Nasib ia peluk sebagai kembang<br />
Seperti menggumuli sepi yang melingkar<br />
Di lehernya setiap pagi dan senja<br />
Dia pula yang terlanjur akrab dengan petir<br />
Terlampau dekat dengan badai</p>
<p>Tetapi dia lupa dengan dirinya<br />
Sebab sangat merindukan bulan<br />
Dan nasib menjelma kembang<br />
Langitpun hitam bersama daun gugur<br />
Seekor kumbang bunting tertidur di jendela</p>
<p>Lelaki hujan berbisik “Aku ingin bulan!”</p>
<p><strong><em>Yogyakarta, 30 November 2011</em></strong></p>
<p><strong>Kesaksian Sang Penyair</strong><strong></strong></p>
<p><em>-</em><em>Kepada Ibu</em><em>-</em></p>
<p><em>“</em><em>Bila rindu membundar matahari dan rembulan<br />
hari dan malam adalah kata dalam sajak-sajakku<br />
mangalir teduh bersama sungai ke muara<br />
</em><em>-</em><em>Bila musim dingin menyergap alam raya<br />
hujan dan embun adalah bagian dari tubuhku<br />
yang menggigil dalam rindu yang basah<br />
</em><em>-</em><em>Bila sajak-sajakku berwangi rindu asmara<br />
dialah ibu yang berenang-renang di muara<br />
membersihkan diri atas dosa-dosaku</em><em>.”</em><br />
kenangan berenang sendiri dalam ingatan</p>
<p>menjadi sungai kecil di kepala<br />
menjadi hilir berbatu dalam keras hati<br />
menjadi muara di atas ketiadaan diri<br />
sementara, pekabar dari kampung halaman<br />
seperti hujan tanpa kenal musim<br />
seperti angin jujur sampaikan bau<br />
ia bercerita; ibu selalu setia mengiris bawang<br />
namun, mendung tebal menutup jalan pulang<br />
mendung yang mengandung anak jalang<br />
atas waktu yang aku tiduri dengan nakal<br />
waktu titipan hati ibu yang surga<br />
waktu yang kubuai dengan sia-sia</p>
<p>kini, ia lahir bernama aku ibu<br />
aku yang kau aliri dengan air teduh sumurmu<br />
aku yang kau titip pada angin di tanah rantau<br />
aku yang nakal menyebutmu dalam doa<br />
aku yang kian mengalir bersama doamu</p>
<p>ibu, kepadamu aku akan pulang<br />
biar waktu kini aku menutup pintu-pintunya</p>
<p><strong><em>Yogyakarta, 2011</em></strong><strong><em>-</em></strong><strong><em>2012</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p><strong>Ciuman </strong><strong>Tanggal Satu</strong></p>
<p>Aroma rindu di keningmu itu,<br />
iL<br />
Pertanda kecupan dari puisiku<br />
Isyarat hati dari ciuman<br />
sang penyair</p>
<p>Tak perlu kau bertanya,<br />
iL<br />
Bila kau melihat bayangan bunting<br />
Itulah bulan rindu dalam puisi<br />
:rindu kamu</p>
<p>Mengapa harus rindu,<br />
iL<br />
menjelma kata dalam sajak<br />
Bila hasrat terapung sepi<br />
dalam jarak</p>
<p>Mengapa harus rindu,<br />
iL<br />
;menyanyi luka-<br />
-menggebu biru,<br />
-mencipta duka<br />
Mengapa harus rindu<br />
iL</p>
<p>Bila<br />
terkenang nanamu<strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>Sumenep-</em></strong><strong><em> Yogyakarta</em></strong><strong><em>, </em></strong><strong><em>2007</em></strong><strong><em>-</em></strong><strong><em>2008</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p><strong>Menjahit Luka Ingatan</strong><br />
<em>- Shesilia-</em></p>
<p>Janur hijau tiba-tiba rapuh dan jatuh<br />
Anak nyiur tanggal tak menangis sebelum subuh</p>
<p>Kita disini manjahit luka ingatan<br />
Berpagar tanaman-tanaman hias pekarangan</p>
<p>Sesekali menjenguk ikan kolam meliuk-liuk<br />
Melompat ke bibirmu dan keningku tertusuk</p>
<p>Pada senja yang lalu bangau-bangau kemarau berdendang<br />
Kita tersenyum pada sayapnya yang bertukar pandang</p>
<p>Sepakat kita melepas pertemuan sebelum surup menawan<br />
Entah apa yang telah kita titipkan disana untuk kenangan</p>
<p>Tetapi kesetiaan jarum jam luput dari perkiraan janji<br />
Persis saat bibirmu yang celurit menebas urat nadi</p>
<p>Kau berteriak pedih -sampai tak sanggup mencipta tangis-<br />
Senyeri liang lukalu menimba mata air di lubuk yang amis</p>
<p>Kau masih menatap bengkak yang tak sempat aku jahit<br />
Dan aku memang tak suka jahitan dari jarum karatan</p>
<p>Aku masih menunggu; berharap kau datang<br />
Bawakan aku setusuk lidi dan menyuguh tabik tenang</p>
<p>“Aku jahit lukamu, sayang” semilir bibirmu bertiup<br />
Sementara aku tak mengira kau datang tepat waktu</p>
<p><strong><em>Yogayakarta, 24 Maret 2012</em></strong></p>
<p><strong>Sebelum Kemarau Panjang Diramalkan</strong><strong></strong></p>
<p>Sebelum kemarau panjang diramalkan dan terjadi dalam mimpi<br />
Mimpi seorang empu dan seorang hamba di kubin penjara kerajaan<br />
Hutan di mulutmu dipenuhi satwa dan marga yang terlindungi<br />
Dewa-dewa, dirawat seorang raja, di puja orang-orang kelaparan</p>
<p>Pohonan subur mengukur putaran waktu di rahin nasib dan takdir<br />
Binatang-binatang gemuk menjaga kehidupan  -bunga-bunga ranum-<br />
Tangan dan kaki menyanggah hidup di semak belukar yang meruang<br />
Di tubuh usia yang mengalir sungai sampai di perbatasan samudra</p>
<p>Danau mewaktu-meruang di perut orang-orang pemuja cinta</p>
<p>Lalu kodok-kodok menyembul keluar dari tempurung<br />
Berenang ke kali, bercinta tanpa lenguh, bertelur sampai berudu<br />
Istirah rindu bunga bakung menunggu hujan semusim<br />
Berudu ajaib anak-anak kuman di lumut-lumut tak bernama</p>
<p>Dan orang-orang merangkai batang pohonan kering<br />
Membangun gubuk kehidupan di bawah langit Tuhan<br />
Doa-doa dipanjatkan, harapan anak cucu di antar<br />
Ke meja matahari dengan sekeranjang buah-buahan</p>
<p>Tetapi hujan tetaplah hujan yang mengantar badai<br />
Dan banjir melumat segala yang hidup dan mati</p>
<p><strong><em>Yogyakarta Februari 2012</em></strong></p>
<p><strong><em>Selendang Sulaiman,</em></strong> Lahir di Pajhagungan, Sumenep 1989. Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puisinya dimuat diberbagai Media Masa: <em>Seputar Indonesia,</em> <em>Suara karya</em>, <em>Me</em><em>t</em><em>r</em><em>o Ri</em><em>a</em><em>u</em>, <em>Majalah Literasia, Advo</em><em>-pos</em><em>, Jurnal Maddana</em><em>, Buletin Sampan</em>. Dan beberapa antologi bersama; <em>Sang Penyair</em><em> </em>(Perpust <em>Press</em> 2007), <em>Mazhab Kutub</em> (Pustaka Pujangga 2010), <em>50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram</em> (GREAT! Publisher 2011), <em>Bima Membara </em>(Halaman Moeka 2012), <em>Presidin Untuk Presidenku </em>(SANY Publishing 2012),<em> Jembatan Sejadah </em>(SP 2012). Saat menjadi Lurah <em>Sanggar Jepit</em> Yogyakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/08/24/puisi-selendang-sulaiman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permohonan Bantuan Buku</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/permohonan-bantuan-buku/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/permohonan-bantuan-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 08:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3037</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Yang Terhormat Bapak/Ibu Pengurus dan Anggota Agupena Jawa Tengah Di- Tempat Assalaamu&#8217;alaikum Wr. Wb. Alhamdulillah kami ucapkan semoga bapak senantiasa dalam lindungan Allah Swt. Selanjutnya, sehubungan dengan rencana kami untuk mendirikan rumah baca dalam rangka memfasilitasi masyarakat untuk gemar membaca, maka kami mengharap bantuan bapak untuk memberikan bantuan buku yang kami sebutkan di proposal [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Yang Terhormat<br />
Bapak/Ibu Pengurus dan Anggota Agupena Jawa Tengah<br />
Di-<br />
Tempat</p>
<p>Assalaamu&#8217;alaikum Wr. Wb.<br />
<img alt="" src="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/RumahbacaNurulQuran.jpg" class="alignleft" width="586" height="312" />Alhamdulillah kami ucapkan semoga bapak senantiasa dalam lindungan Allah Swt. Selanjutnya, sehubungan dengan rencana kami untuk mendirikan rumah baca  dalam rangka memfasilitasi masyarakat untuk gemar membaca, maka kami mengharap bantuan bapak untuk memberikan bantuan buku yang kami sebutkan di proposal permohonan. </p>
<p>Demikian sangat besar harapan kami akan terkabulnya permohonan ini dan atas respon positif bapak, kami sampaikan terima kasih. </p>
<p>Wassalamualaikum wr.wb…<br />
Lerankulon, 21 Pebruari 2012</p>
<p>                                                 Mengetahui,<br />
Ketua 								           Sekretaris </p>
<p>Kuswatun Kasanah.					                     Shobirin</p>
<p><strong>PROPOSAL<br />
PERMOHONAN  BUKU-BUKU<br />
</strong><br />
PENDAHULUAN<br />
<img alt="" src="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/kegiatanmembacadiRumahBacaNurulQuran1.jpg" class="alignleft" width="586" height="376" />Segala puji bagi Allah SWT. Yang atas karunia-Nya kita dapat beraktivitas melaksanakan segala bentuk kebaikan serta amanah yang kita emban keseharian. Sholawat dan salam tetap atas qudwah hasanah kita nabi Muhammad saw, yang melalui dakwahnya kita mendapatkan hidayah-Nya.</p>
<p>Dalam  rangka mewujudkan masyarakat islami yang memahami agama islam ini dengan sempurana dan baik di era zaman sekarang yang penuh dengan tantangan moral ini.	</p>
<p>Maka pada awal perkenalan saya dengan Bapak, saya mohon maaf telah menambah aktifitas dan pemikiran disela-sela kesibukan Bapak. Pada kesempatan ini saya sebagai ketua rumah baca yang mempunyai keinginan untuk memfasilitasi masyarakat dalam memahami agama islam ini dengan sempurna yang nantinya dapat di realisasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. mengharap kerjasama Bapak dalam memberikan bantuan buku-buku islam untuk rumah baca yang kami kelola.</p>
<p>DASAR<br />
Dan hendaklah takut kepada Allah  orang – orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak – anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap ( kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar  (  QS :An Nisaa’ : 9</p>
<p>TUJUAN<br />
Mewujudkan generasi muslim sholih yang  mampu memahami agama islam ini dengan baik dengan harapan bahwa mereka dapat menghidupkan kembali sunnah-sunnah Rasulullah saw dalam kehidupan mereka secara induvidu dan bermasyarakat</p>
<p>PENGAJUAN </p>
<p>1.	Buku-buku islam<br />
2.	Buku-buku cerita islami untuk anak-anak<br />
3.	Majalah Islami<br />
4.	Novel-novel islami<br />
5.	Buku kesehatan<br />
6.	Buku motivasi<br />
7.	Buku computer, dll</p>
<p>STRUKTUR PENGURUS RUMAH BACA<br />
Nama Lembaga : Rumah Baca “Nurul Qur’an”<br />
Visi : Menjelajah isi dunia dengan membaca<br />
Misi : Menciptakan masyarakat yang gemar membaca<br />
Ketua  : Kuswatun Kasanah<br />
Sekretaris : Shobirin</p>
<p>- Alamat : Dusun Kedaton RT 003 RW 009 Desa Lerankulon Kec. Palang  Kab. Tuban 62391 Jawa Timur<br />
PENGATURAN OPERASIONAL RUMAH BACA </p>
<p>Agar roda Rumah Baca bisa berjalan baik dan kontinyu, maka pengelolaan langsung kami kelola sendiri. Untuk mekanisme pengelolan Rumah Baca akan buka setiap hari dari jam 09:00 sampai jam 17:00 yang dilakukan oleh pengurus Rumah Baca		 </p>
<p>PENUTUP<br />
Demikian proposal ini disusun, semoga Allah memberi rahmat  dan berkah-Nya kepada kita semua untuk mencapai cita–cita dalam mewujudkan kerjasama dan solidaritas terhadap sesama, sehingga kebaikan dan karunia-Nya bisa kita raih untuk keberlangsungan perkembangan instansi kita. Atas bantuan buku-buku dan majalahnya kami ucapkan banyak terima kasih dan semoga Allah SWT membalasnya dengan sebaik-baiknya balasan.</p>
<p>Kontak : Shobirin ( Hp 081332043506/087753280002 )<br />
Email: fawwazs16@gmail.com</p>
<p>Bantuan buku-islami, buku cerita dan majalah, bisa langsung dialamatkan ke alamat berikut:<br />
Atas nama Kuswatun Kasanah<br />
Alamat: Dusun Kedaton RT 003 RW 009 Desa: Lerankulon Kec. Palang<br />
Kab.Tuban 62391 Jawa Timur<br />
Lerankulon, 21 Pebruari 2012<br />
Hormat kami,</p>
<p>Kuswatun Kasanah</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Catatan:<br />
Bagi pengurus dan anggota yang kepengin beramal dan berinvestasi akherat silakan kirimkan<br />
buku-buku karya saudara pada alamat di atas.</p>
<p>Terima kasih</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/permohonan-bantuan-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putri yang Terjual</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/putri-yang-terjual/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/putri-yang-terjual/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 07:56:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[marsus banjarbarat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3034</guid>
		<description><![CDATA[Karya Marsus Banjarbarat Cerpenis Sumenep, Madura dan Penulis buku Bukan Perempuan (Grafindo, 2010), Lelaki yang Dibeli (Buku Litera, 2011), Riwayat Langgar (Arti Bumi Intaran, 2011). Ia menangis saat mendengar suara iba putrinya yang sudah sebelas tahun bekerja di Arab Saudi. Ia sangat terharu, tak menyangka kalau akhirnya bisa mendengar suara putri kesayangannya yang cantik itu. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Karya <strong>Marsus Banjarbarat</strong><br />
<em>Cerpenis Sumenep, Madura dan Penulis buku Bukan Perempuan (Grafindo, 2010), Lelaki yang Dibeli (Buku Litera, 2011), Riwayat Langgar (Arti Bumi Intaran, 2011).<br />
</em><br />
<img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-dwj36Q0N1ak/TzUj3tSKYsI/AAAAAAAADgU/6ougSGcjE7c/s200/Marsus..jpg" class="alignleft" width="141" height="200" />Ia menangis saat mendengar suara iba putrinya yang sudah sebelas tahun bekerja di Arab Saudi. Ia sangat terharu, tak menyangka kalau akhirnya bisa mendengar suara putri kesayangannya yang cantik itu. Dengan penuh rasa senang, Mursalam telah memperoleh kabar prihal keadaan anaknya di Arab Saudi. Ya, kabar Putri maskipun hanya sejenak melalui telpon selama kurang lebih lima menit. Dan setelahnya, tanpa pamit tiba-tiba Putri terburu-buru mematikan telepon yang sedang digenggam erat ayahnya.</p>
<p>Selama beberapa tahun Putri pergi ke Arab Saudi. Hanya terhitung dua kali ia memberi kabar kepada ayahnya. Pertama, sewaktu Putri baru sampai ketempat kerjanya di Arab Saudi. Kedua, sewaktu ibunya meninggal dunia selang beberapa bulan dari keberangkatan Putri bekerja. Setelah itu dia tak pernah memberi kabar lagi tentang keberadaannya di sana.<br />
Kali ini Putri memberi kabar lagi untuk hitungan ketiga kali—menghubungi ayahnya. Dengan sebuah perbincangan kecil lewat telepon, Putri bercerita beberapa hal. Namun sayang, cerita itu belum bisa tertangkap jelas oleh ayahnya. Apa yang Putri maksud dalam cerita itu dan apa yang sedang ia alami di tempat kerjanya tersebut? Semuanya menjadi sebuah mesteri bagi Mursalam. Suara Putri yang terdengar dalam telepon tiba-tiba menghilang entah apa sebabnya. Namun yang pasti, sebelum Putri mengakhiri perbincangan itu, terdengar sedikit lamat-lamat jerit histeris tertangkap telinga ayahnya.<br />
***</p>
<p>“Nak&#8230;, pulanglah! Ayah dan adik-adikmu kangen ingin cepat bertemu,” ujar Mursalam sambil meneteskan air mata.</p>
<p>Putri berangkat ke Arab Saudi sudah bertahun-tahun lamanya. Ia berangkat melalui salah satu Pengarah Jasa TKI di Jakarta. Dan hingga saat ini, semua keluarganya belum tahu kejelasan nasib Putri di sana. Bernasip baik atau burukkah? Bahkan Mursalam, ayahnya pun belum pernah dikirimi uang sepeser pun dari anak gadisnya selama ia bekerja di luar negeri.</p>
<p>Karena sudah beberapa tahun Putri tidak pernah memberi kabar, apalagi mengirim uang kepada keluarganya, Sakimin, kakak sepupu Putri bermaksud untuk melaporkan masalah ini kepada pihak yang berwenang. Dia khawatir akan keadaan Putri di Arab Saudi. Sakimin menginginkan agar Putri bisa cepat-cepat pulang. Bahkan sebelum lebaran tahun ini Putri sudah datang berkumpul di kampung halaman.</p>
<p>“Percuma! Rencana itu sudah saya lakukan dua tahun lalu. Tak hanya satu-dua kali, bahkan berulangkali. Tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya. Putri tetap tak pulang-pulang. Mau dihugungi saja ingin tahu kabarnya tidak pernah bisa,” bantah Sabidin, paman Putri, yang dulu memberi kabar lowongan kerja ke Arab Saudi.</p>
<p>“Tapi kan tak ada salahnya sekarang kita coba kembali. Kita laporkan kepada Kedutaan Besar Indoesia agar mereka mendesak majikan Putri supaya Putri secepatnya dipulangkan ke Indonesia,” kata Sakimin semangat.</p>
<p>“Dulu juga begitu. Namun hingga saat ini Putri belum kunjung kembali ke Tanah Air,” bantah Sabidin lagi.<br />
Sakimin bergeming. Pikirannya kacau-balau entah apa yang sedang dipikirkan. Setelah beberapa detik, Sabidin meneruskan perbincangannya.</p>
<p>“Tahun lalu, ketua lembaga Bantuan Hukum juga telah berjanji, kalau Putri akan dipulangkan satu minggu sebelum hari lebaran saat itu. Tapi nyatanya apa? Sampai sekarang Putri belum kembali ke kampung halaman.” Sabidin kecewa.<br />
Sakimin memalingkan wajahnya, sesekali menggambarkan betapa sedih nasib Putri di Arab Saudi. Spontan Sakimin teringat akan berita-berita TKI yang sering menjadi korban penganiayaan majikannya. Tetapi anehnya, entah mengapa masih banyak orang yang belum jera, dan mereka pun dengan senang hati menerima tawaran menjadi TKI di luar negri.</p>
<p>“Lalu harus bagaimana? Apa semua ini akan dibiarkan begitu saja terus berlarut-larut? Sementara kita tidak tahu bagaimana keberadaan Putri di sana?”</p>
<p>“Kita juga tidak tahu apakah Putri masih hidup atau&#8230;.”</p>
<p>“Hussstt&#8230;, jangan ngaur  kamu,”</p>
<p>“Yakinlah dan berdoa! Putri pasti hidup senang di sana.”<br />
***</p>
<p>Bulan Suci Ramadan sudah tiba. Putri belum memberi kabar kapan dia akan kembali ke Tanah Air. Pasalnya, sewaktu dihubungi oleh pihak yang bertanggungjawab beberapa hari lalu, katanya Putri akan segera memberi kepastian untuk segera kembali ke Indonesia. Dan yang pasti, di bulana Suci ini dia akan berusaha sampai ke kampung halaman.</p>
<p>“Semoga saja Putri benar-benar cepat kembali!”</p>
<p>“Iya, aku juga berharap begitu. Kasihan sama Mursalam, dia sudah lanjut usia. Sering sakit-sakitan pula. Tak mampu bekerja untuk membiayai hidupnya.”</p>
<p>Satu hari, dua hari, hingga satu minggu Putri belum juga menghubungi pihak keluarganya. Padahal Mursalam sudah terlanjur diberi tahu kalau putrinya tak lama lagi akan segera menghubungi dan memberi kepastian kapan dia akan pulang. Dan yang jelas, Mursalam akan selalu menanti dan berharap putrinya bisa datang di bulan penuh berkah ini. Disamping Mursalam memang tinggal sendiri tak ada yang menemani. Dia juga sangat merasa kangen ingin cepat berjumpa dengan anak gadisnya yang cantik itu. Yang sudah belasana tahun pergi tak ada kabar.</p>
<p>Tak ada orang tua yang tak merindukan anaknya. Apalagi selama bertahun-tahun pergi tanpa ada ujung rimbanya. Tak terkecuali Mursalam orang tua Putri, yang selalu mendamba-dambakan bisa segera bertemu dengan anaknya. Tetapi sumua angan-angan itu sia-sia tanpa ada kepastian yang mewujudkannya.</p>
<p>“Mungkin dalam minggu ini Putri akan menghubungimu, Salam,” ujar Sabidin sewaktu Mursalam menanyakan putrinya.<br />
Mursalam hanya mengangguk pelan sembari menundukkan kepalanya. Benarkah dia akan pulang? Tanya Mursalam ragu dalam hatinya. Namun ia sesegera menghapus keraguan itu. Putri pasti pulang. Ya, dia pasti pulang ke kampung kelahiran, lanjutnya dengan suara samar. Lalu sejenak Sabidin beranjak meninggalkan Mursalam. Mursalam pun malangkah tertatih-tatih memasuki rumahnya.</p>
<p>Dua puluh tahun silam, desisinya. Dia memperhatikan gambar istri dan anaknya yang sedang berpelukan. Ya, dua puluh tahun silam, Mursalam teringat jelas saat dia hidup bersama istri dan anaknya. Dengan penuh rasa senang dan bahagia. Tapi sekarang&#8230;, ah, semuanya telah sirna. Anaknya pergi merantau tanpa ada kabar, sedang istrinya telah meninggal dunia beberapa tahun silam.<br />
***</p>
<p>Lebaran telah tampak di ujung mata. Putri belum juga memberi kabar kapan dia akan pulang. Padahal Mursalam menyimpan harapan besar agar putrinya itu bisa kembali sebelum lebaran tiba. Dan entahlah, penantian yang selama bertahun-tahun ia rasakan, akankah terwujud kali ini atau tidak? Semuanya hanya dijadikan sebuah mesteri yang tak pernah ditemukan ujung pangkalnya.</p>
<p>Saat malam tiba, Mursalam selalu duduk termangu melipat kedua tangannya. Memikirkan sang anak begitu mendalam. Sehingga kadang tanpa terasa ada setitik air bening mengalir di garis-garis pipinya. Mursalam juga selalu berandai-andai, ketika malam tiba, esok paginya akan kedatangan tamu terhormat yang ia damba-damba, tak lain adalah putrinya sendiri yang ia dambakan sudah menjadi orang besar di sana. Di Arab Saudi yang bekerja sebagai TKI.</p>
<p>Mursalam tersenyum bila teringat kepada tetangganya yang baru saja datang dari Arab Saudi. Dia datang membawa oleh-oleh sangat banyak untuk dibagi-bagikan kepada keluarga dan tetangganya. Selain itu, kabarnya dia juga membawa uang banyak dari hasil pekerjaannya di Arab Saudi. Mendengar kabar itu, Mursalam semakin tak sabar menunggu kedatangan anaknya yang juga bekerja di Arab Saudi.</p>
<p>Ya, tak lama lagi pasti merasakan kebahagiaan juga seperti yang mereka rasakan saat menyambut kedatangan anaknya yang bekerja di Arab Saudi, desis Mursalam pelan. Sesekali dia mengumbar senyum tipis menatap foto anaknya saat ia masih berumur 12 tahun.<br />
***</p>
<p>Dua hari lagi lebaran akan tiba. Wajah Mursalam terlihat sedih dan kecewa. Sebab putrinya masih belum pulang dan belum ada kabar. Lalu, ia datangi lagi rumah Sabidin, untuk menanyakan kapan putri kesayangannya itu sebenarnya akan kembali ke kampung halaman?</p>
<p>“Sabarlah, Salam&#8230;, tidak perlu khawatir. Putri masih baik-baik saja di sana,”</p>
<p>“Ini ada sedikit kiriman uang dari putrimu, untuk kebutuhanmu di hari lebaran nanti.” Lanjut Sabidin tersenyum sambil mengulurkan uang lima puluh ribuan sebanyak tiga lembar.</p>
<p>“Uang itu dikirim oleh Putri disuruh kasikan kepadamu.” Tambahnya.</p>
<p>“Sejak kapan Putri mengirim uang ini. Apa dia tidak jadi pulang lebaran kali ini?” Tanya Mursalam penasaran.</p>
<p>“Yang penting anakmu sehat-sehat saja di sana. Kamu tidak perlu khawatir! Nanti kalau dia sudah diijinkan pulang oleh majikannya pasti kukabarkan padamu.”</p>
<p>Mursalam diam bergeming. Sesekali tersenyum melihat tiga lembar uang yang sedang dipegangnya. Dia merasa senang karna anaknya sudah mengirimkan uang. Dengan begitu, berarti dia sudah sukses dan berhasil dalam pekerjaannya di sana, pikirnya. Setelah sebentar, lalu Mursalam pergi meninggalkan rumah Sabidin. Dan Sabidin pun mulai tersenyum geli mengiringi kepergian Mursalam yang telah berhasil dia bohongi.</p>
<p>Oh, tidak! Bukan hanya Mursalam sebenarnya yang dia bohongi. Putri pun yang pertama dikelabuhi. Semenjak beberapa bulan saat Putri pergi bekerja ke Arab Saudi, Sabidin mengabarkan kepada Putri, kalau ayah dan ibunya telah meninggal dunia karena kecelakaan. Dan sebab rencana licik Sabidin itulah Putri dan Mursalam terpisahkan. Putri tak pernah menghubungi orang tuanya lagi karena ia pikir mereka sudah meninggal. Dan sebagian uang hasil dari pekerjaan Putri pun ia kirimkan setiap bulan kepada Sabidin, pamannya sendiri.</p>
<p>Tak ada seorang pun yang mengetahui tentang hal ini. Tentang kelicikan Sabidin yang telah memperalat Putri untuk bekerja di luar negeri. Dan hasil pekerjaannya diam-diam agar supaya diberikan kepadanya. Dan bahkan dari saking liciknnya Sabidin, sebenarnya Putri dikirim ke luar negeri bukanlah sebagai TKI. Tetapi sebagai wanita penghibur bagi para lelaki yang haus akan melampiaskan nafsu birahinya. Ah, lebih tepatnya, Putri di jual oleh Sabidin ke luar negeri sebagai seorang pelacur!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/putri-yang-terjual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru dan Kultur Sesat Plagiarisme</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/guru-dan-kultur-sesat-plagiarisme/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/guru-dan-kultur-sesat-plagiarisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 07:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ari kristianawati]]></category>
		<category><![CDATA[plagiarisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3031</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ari Kristianawati, S.Pd Guru SMA Negeri 1 Sragen Guru adalah kunci keberhasilan capaian kualitatif pendidikan. Capaian kualitatif pendidikan yang ditakar dengan standar peningkatan Indeks pembangunan manusia (IPM) secara general dan peningkatan capaian prestasi akademik pembelajaran siswa. Upaya peningkatan kompetensi dan mutu guru, dilakukan pemerintah sejak tahun 2007 dengan proyek sertifikasi. Proyek sertifikasi yang aturan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: <strong>Ari Kristianawati, S.Pd</strong><br />
<em>Guru SMA Negeri 1 Sragen</em></p>
<p><img alt="" src="http://agupena.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/images.jpg" class="alignleft" width="99" height="98" />Guru adalah kunci keberhasilan capaian kualitatif pendidikan. Capaian kualitatif pendidikan yang ditakar dengan standar peningkatan Indeks pembangunan manusia (IPM) secara general dan peningkatan capaian prestasi akademik pembelajaran siswa.</p>
<p>Upaya peningkatan kompetensi dan mutu guru, dilakukan pemerintah sejak  tahun 2007 dengan proyek sertifikasi. Proyek sertifikasi yang aturan  setiap tahun selalu berubah, mencoba melakukan seleksi ketat terhadap guru sehingga konon guru yang lulus uji kompetensi dan sertifikasi yang memiliki kualitas edukatif.</p>
<p>Banyak guru yang kini juga memiliki spirit mengejar pendidikan paska sarjana dari jenjang S2 sampai S3. semangat belajar&#8212;-mencari gelar?&#8212;&#8211;merupakan implikasi bermata ganda dari tawaran komersialisasi pendidikan di level PT. Banyak program pendidikan paska  sarjana yang ditawarkan untuk guru yang lebih bernuansa kepentingan bisnis. </p>
<p>Tercatat banyak paket pendidikan S2 yang ditawarkan dengan sistem pembelajaran &#8220;borongan&#8221; dengan biaya yang konon bisa didiskon  untuk kepentingan akseptabilitas. Memang baik dan positif guru mengejar jenjang pendidikan paska    sarjana, karena belajar adalah sepanjang usia. demikian petuah bijak filsuf pendidikan dimasa lalu. Namun yang menjadi persoalan, dibalik  gemerlap pendidikan paska sarjana yang diikuti guru atau banyak guru yang meraih gelar S2/S3, ternyata menyuburkan praktek plagiarisme dikalangan guru.</p>
<p>Praktek ketidakjujuran akademik/intelektual, dalam bentuk penjiplakan karya intelektual orang lain menyubur dikalangan guru. Praktek plagiarisme, menjadi virus yang mempengaruhi kultur edukatif para guru. Hal tersebut memang sulit dibuktikan namun ketika kasusnya terbukti dan terungkap dimedia sangat mencengangkan. beberapa waktu yang lalu di Luar Jawa 150-an guru membuat karya PTK hasil jiplakan utuk kepentingan naik pangkat. Di Bandung, beberapa guru yang menempuh gelar S2 terbukti tesisnya menjiplak karya orang lain atau dibuatkan oleh agen pembuatan tesis dengan imbalan tertentu.</p>
<blockquote><p>Kultur plagiarisme yang menyubur dikalangan guru adalah paradoks dengan klaim capaian proyek sertifikasi yang konon membabtis guru menjadi tenaga profesional dan sekaligus memiliki wawasan intelektual.Kultur plagiarisme memerosotkan kualitas guru meski menyandar gelar doktor sekalipun.</p></blockquote>
<p>Untuk itulah sebuah catatan kritis: Guru jika ingin masih memiliki integritas dan legitimasi moral mendidik harus menghindarkan diri dari budaya plagiarisme. karena guru bergelar doktor sekalipun tanpa karya intelektual yang orisional dan hasil riset yang aktif tidak akan memiliki integritas sebagai pendidik. budaya plagiarisme adalah potret  rendahnya kualitas pendidikan, yang seolah tidak diajadikan indikator capaian keberhasilan pendidikan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/guru-dan-kultur-sesat-plagiarisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Antikorupsi dan Jarkoni</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/pendidikan-antikorupsi-dan-jarkoni/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/pendidikan-antikorupsi-dan-jarkoni/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 07:39:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[agus suwarno]]></category>
		<category><![CDATA[jarkoni]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan antikorupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3027</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Agus Suwarno, S.Pd Guru SMP Negeri 2 Baturraden, Banyumas Perang melawan koruptor sekarang ini dianggap belum menampakan hasil yang signifikan. Buktinya, bukannya berkurang malah semakin hari semakin terkuak perilaku korup petinggi negeri ini. Yang lebih mengherankan pelaku tidak lagi generasi tua yang dianggap pro status quo terhadap sistem yang cenderung korup namun juga generasi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: <strong>Agus Suwarno, S.Pd</strong><br />
<em>Guru SMP Negeri 2 Baturraden, Banyumas</em></p>
<p><img alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_FZGzecmdZrM/TSKayG9ABRI/AAAAAAAAACc/jtw9sm1I-yQ/S220/DSC_4182a.jpg" class="alignleft" width="157" height="220" />Perang melawan koruptor sekarang ini dianggap belum menampakan hasil yang signifikan. Buktinya, bukannya berkurang malah semakin hari semakin terkuak perilaku korup petinggi negeri ini. Yang lebih mengherankan pelaku tidak lagi generasi tua yang dianggap pro status quo terhadap sistem yang cenderung korup namun juga  generasi muda yang terjun sebagai seorang birokrat maupun politikus.</p>
<p>Generasi muda yang diharapkan mampu menjadi pendobrak sistem birokrasi dan politik yang korup, justru terjebak dalam kubangan sistem tersebut. Begitu dahsyatnyakah sistem yang dibangun oleh para koruptor sehingga  generasi muda yang masuk dalam sisitem tersebut sulit untuk melakukakan perubahan.Tampaknya godaan materi yang begitu besar dan keinginan melanggengkan kekuasaan menjadikan mereka buta hati lupa akan tugas mulia.Bahkan saat ini ditengarai muncul generasi baru koruptor yang sistemik dengan cara kerja yang lebih canggih.</p>
<p>Berangkat dari kondisi di atas tampaknya pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud ) merasa perlu menjalankan muatan pendidikan antikorupsi di sekolah pada tahun ajaran 2012/2013, tepatnya mulai Juni mendatang.Pendidikan yang bertujuan membudayakan sikap dan perilaku antikorupsi ini akan dilekatkan pada kurikulum pendidikan karakter dan dilaksanakan sejak pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Pendidikan ini diberlakukan untuk seluruh warga sekolah dari siswa hingga kepala sekolah.</p>
<p>Dijalankannya pendidikan antikorupsi di sekolah bisa jadi merupakan indikasi munculnya anggapan bahwa pendidikan yang dijalankan saat ini tidak cukup membentuk karakter positif siswa yang antikorupsi.Bisa jadi pendidikan agama khususnya, dianggap gagal menanamkan kebencian terhadap perilaku korup. Sulit untuk diingkari bahwa pendidikan agama saat ini lebih cenderung menekankan aspek kognitif semata. Seorang siswa dinilai hanya dari seberapa banyak ayat  dan doa yang mampu dihafalnya bukan seberapa jauh mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.Namun demikian tidak adil rasanya menjadikan pendidikan agama sebagai kambing hitam atas keterpurukan pembentukan karakter bangsa ini. Bukankah pada dasarnya  pendidikan karakter tanggung jawab kita semua.</p>
<blockquote><p>Pendidikan antikorupsi di sekolah hendaknya mampu memberi fondasi mental yang kuat bagi anak bangsa untuk tidak melakukan tindakan korupsi.Munculnya generasi baru yang antikorupsi diharapkan mampu mendobrak sistem dan budaya korup yang saat ini berdiri dengan kokohnya. Yang menjadi pertanyaan seberapa efektifkah pendidikan antikorupsi mampu mengedukasi generasi muda untuk tidak berperilaku korup. Tentu saja pertanyaan ini terlalu dini, mengingat program ini belum berjalan. </p></blockquote>
<p>Pelaksanaan pendidikan antikorupsi di sekolah hendakanya dimulai dari budaya bebas korupsi oleh warga sekolah. Keteladanan perilaku bersih di lingkungan sekolah dalam pengelolaan dana pendidikan di sekolah akan menjadikan pendidikan antikorupsi di sekolah lebih efektif. Ironis jika di sekolah diterapkan pendidikan antikorupsi sementara praktek korupsi berjalan dengan bebasnya.Jika demikian yang terjadi, orang jawa sering menyebut kondisi ini dengan istilah “jarkoni” alias  “ iso ujar ora iso nglakoni”. Artinya bisa bicara tetapi tidak bisa berbuat.<br />
Sekolah bukanlah “gedung ajaib” yang mampu menyelesaikan setiap masalah yang ada di negeri ini. Untuk memerangi penyakit yang bernama korupsi ini perlu penyelesaian yang terintegrasi. Reformasi di bidang politik, birokrasi, budaya dan lingkungan sosial harus selalu terus dilakukan guna mempersempit ruang gerak setiap orang yang berniat merampok uang rakyat. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/pendidikan-antikorupsi-dan-jarkoni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanggungjawab Akademik Penulis Artikel</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/tanggungjawab-akademik-penulis-artikel/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/tanggungjawab-akademik-penulis-artikel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 07:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akademik]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wardjito Soeharso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3021</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Wardjito Soeharso Pembina Agupena Jawa Tengah Saya sangat tergelitik membaca artikel berjudul: Membiasakan Komunikasi Interpersonal, yang ditulis oleh Trimanah, di Harian ini (SM :1/3/2012). Dari artikel itu, saya memperoleh pemahaman bahwa Komunikasi Interpersonal adalah sebuah model atau paradigma komunikasi yang menjelaskan peristiwa ketika kita berbicara dengan diri sendiri untuk mengenal diri sendiri secara lebih [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: <strong>Wardjito Soeharso</strong><br />
<em>Pembina Agupena Jawa Tengah</em></p>
<p><img alt="" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/207091_1672430697319_1433954563_31427416_2239340_n.jpg" class="alignleft" width="214" height="141" />Saya sangat tergelitik membaca artikel berjudul: Membiasakan Komunikasi Interpersonal, yang ditulis oleh Trimanah, di Harian ini (SM :1/3/2012). Dari artikel itu, saya memperoleh pemahaman bahwa Komunikasi Interpersonal adalah sebuah model atau paradigma komunikasi yang menjelaskan peristiwa ketika kita berbicara dengan diri sendiri untuk mengenal diri sendiri secara lebih mendalam. Ya, dalam pengertian si penulis artikel (Trimanah) Komunikasi Interpersonal dimaknai sebagai proses komunikasi internal, komunikasi dengan hati nurani sendiri, tanpa adanya pihak lain yang terlibat dalam proses komunikasi itu.</p>
<p>Saya tidak ingin mengomentari isi artikel itu, karena  secara substansial artikel itu hanya ingin menjelaskan apa dan untuk apa komunikasi interpersonal selayaknya dilakukan oleh setiap orang. Yang menggelitik bagi saya, dan justru yang ingin saya komentari adalah penyebutan model atau paradigma komunikasi interpersonal sebagai komunikasi internal, komunikasi dengan diri sendiri, yang dalam pemahaman saya, penyebutan itu keliru. Yang dimaksud si penulis mungkin adalah komunikasi intrapersonal, sesuai namanya memang menunjuk komunikasi internal, komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi dengan hati nurani.</p>
<p>Soeharso, Wardjito, dalam bukunya Yuk, Nulis Artikel (2010), menjelaskan dalam komunikasi dikenal ada lima paradigma atau model: (1) intrapersonal communication, (2) interpersonal communication, (3) small group atau organizational communication, (4) intercultural communication, dan (5) mass communication.</p>
<p>Intrapersonal communication adalah bentuk paling sederhana komunikasi. Model ini menunjuk ketika orang berkomunikasi dengan diri sendiri, yaitu ketika orang berdialog dengan hatinurani. Komunikasi intrapersonal terjadi ketika orang dihadapkan pada berbagai pilihan, sehingga dia harus menentukan salah satu dari berbagai pilihan itu. Atau ketika orang dihadapkan pada satu kondisi tertentu dan harus mengambil sikap atau keputusan. Kata orang bijak, hatinurani tidak pernah bohong, sehingga bila kita berkonsultasi dengan hatinurani, dia selalu memberikan pertimbangan secara jujur. Orang berdialog atau berkomunikasi dengan  hatinurani tentunya juga dengan maksud memperoleh pertimbangan yang jujur, sehingga ketika harus menentukan pilihan atau membuat keputusan, hasilnya pun akan menjadi yang terbaik baginya.</p>
<p>Karena komunikasi intrapersonal sifatnya semacam evaluasi internal yang mendalam, banyak ahli komunikasi yang masih berbeda pendapat. Ada yang berpendapat komunikasi intrapersonal sudah menjadi bagian dari paradigma komunikasi, walau pun dalam bentuk yang sangat sederhana, karena komunikasi belum melibatkan pihak lain. Sementara yang lain berpendapat, komunikasi intrapersonal tidak termasuk dalam paradigma komunikasi karena secara teoretis komunikasi selalu ada dua pihak berbeda yang terlibat. Ingat, komunikasi adalah aktifitas manusia ketika mentransfer ide, gagasan, dan atau emosi, perasaan, kepada pihak lain. Penganut paham ini melihat hatinurani bukanlah pihak berbeda dengan diri sendiri. Dengan demikian, yang namanya soliloki atau berdialog dengan diri sendiri bukan kategori komunikasi.</p>
<p>Model komunikasi berikutnya adalah interpersonal communication. Model ini menunjuk komunikasi yang terjadi antara dua pihak atau lebih, dan komunikasi berjalan secara langsung (direct).  Komunikasi model ini hanya melihat komunikasi sebagai proses penyampaian pesan (message) dari komunikator ke komunikan dengan melihat bagaimana respon yang terjadi pada komunikan. Dalam artikelnya kemarin, si penulis sepertinya masih rancu memahami dua paradigma ini.<br />
Model komunikasi yang lebih kompleks adalah small group atau organizational communication. Komunikasi kelompok kecil atau komunikasi organisasi menunjuk pada proses komunikasi yang terjadi dalam lingkup kelompok kecil atau organisasi. Dalam sebuah organisasi pasti terdapat “aturan main” yang harus ditaati oleh semua anggotanya, termasuk bagaimana tata cara berkomunikasi. Oleh karena itu, komunikasi organisasi lebih banyak mengatur dan muncul sebagai norma dan aturan yang harus ditaati oleh semua anggota organisasi. Apabila ada anggota organisasi yang tidak taat terhadap norma dan aturan, pasti akan muncul masalah di sana.</p>
<p>Model komunikasi berikutnya, yang cukup rumit adalah intercultural communication. Komunikasi lintas budaya menjadi sangat kompleks dan rumit karena budaya menjadi variabel kajian yang sangat penting untuk melihat efektifitas komunikasi. Komunikasi model ini melihat bagaimana budaya menjadi sangat berpengaruh dalam komunikasi. Budaya, yang di dalamnya terdapat nilai, dan nilai dipercaya menjadi fundamen cara berpikir, bersikap, dan berperilaku manusia, dipercaya selalu mewarnai kehidupan manusia, sesuai situasi dan kondisi lingkungan yang membentuknya. Dalam konteks ini, pemahaman terhadap budaya manusia lain sangat bermakna untuk mengurangi atau meminimalisasi munculnya kesalahpahaman (misunderstanding) antara komunikator dan komunikan dalam berkomunikasi.</p>
<p>Model komunikasi yang paling kompleks adalah komunikasi massa. Model komunikasi ini melibatkan peran media massa. Artinya, komunikasi yang dilakukan dengan memanfaatkan media massa, seperti suratkabar (media cetak), radio, televisi (media elektronik), komputer (multi media), disebut sebagai komunikasi massa. Dalam komunikasi ini media massa berfungsi sebagai jembatan atau perantara untuk menyampaikan pesan. Sesuai fungsinya, media massa dapat disebut sebagi “gate keeper” atau penjaga gawang. Ketika menyampaikan pesan kepada komunikan, komunikator harus berhubungan terlebih dahulu dengan media massa, dan media massa memiliki hak untuk menentukan komunikator dan pesan seperti apa yang boleh disampaikan melaluinya.</p>
<p>Ciri khas komunikasi melalui media massa adalah, komunikator tidak mampu lagi mengidentifikasi komunikan, karena komunikan sudah bersifat massal, umum. Jadi kalau seseorang menulis di sebuah suratkabar, dia tidak tahu lagi siapa saja yang membaca tulisannya. Begitu pula, bila seseorang tampil di radio atau televisi, dia tidak tahu lagi siapa saja yang mendengar atau menontonnya. </p>
<blockquote><p>Saya tidak bermaksud memberikan kuliah tentang komunikasi di media ini. Saya percaya, banyak pembaca yang lebih kompeten. Para akademisi di bidang komunikasi mestinya sudah sangat memahami teori ini. Saya menulis ini sekedar mengingatkan kepada siapa saja (termasuk kepada diri sendiri) bahwa menulis di media massa harus memiliki tanggungjawab akademik atas apa yang ditulisnya. Apalagi menulis artikel ilmiah (walaupun populer), bagaimana pun tidak boleh meninggalkan kaidah-kaidah penulisan ilmiah. Salah satu hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah mencari referensi apabila memang belum yakin benar tentang yang ingin ditulisnya. Dalam jaman teknologi ini, kita bisa peroleh informasi dengan sangat mudah. Tanya saja ”mbah google” yang sangat populer itu, niscaya beliau dengan cepat memberikan jawaban.
</p></blockquote>
<p>Bisa saja yang dilakukan si penulis adalah kesalahan ”kecil”, tetapi ternyata dari yang kecil itu, sekedar salah menyebutkan term, istilah, membawa pengaruh yang besar pada keseluruhan isi artikel. Saya pikir, kesalahan itu juga bukan mutlak milik si penulis. Media massa sebagai gate keeper mestinya memiliki pemahaman yang sama: kualitas artikel yang dimuat mencerminkan kualitas redaksinya.  Dan yang paling penting, setiap kesalahan akan mempertaruhkan reputasi baik si penulis maupun media yang memuatnya.</p>
<p>Penulis adalah pegiat komunitas penulismuda indonesia, alumnus FIB Undip dan College of Communication, Boston University. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/tanggungjawab-akademik-penulis-artikel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar Nasional ISPI (Redesain Sistem dan Desentralisasi Pendidikan)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/31/seminar-nasional-ispi-redesain-sistem-dan-desentralisasi-pendidikan/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/31/seminar-nasional-ispi-redesain-sistem-dan-desentralisasi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 04:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[ispi]]></category>
		<category><![CDATA[seminar nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3012</guid>
		<description><![CDATA[Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) bekerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Redesain Sistem dan Desentralisasi Pendidikan pada 21-22 Januari 2012. Acara diselenggarakan di Ruang Sidang Rektorat UNY, Jl. Colombo Nomor 1 Karang Malang, Yogyakarta. ISPI sebagai organisasi profesi yang bergerak dalam bidang pendidikan sangat berkepentingan untuk merealisasikan cita-citanya dalam [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/41573_209907285077_5116_n.jpg" alt="" width="90" height="97" /><img class="alignleft" src="http://fairuzelsaid.files.wordpress.com/2010/01/logo_uny.gif" alt="" width="90" height="97" />Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) bekerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema <em><strong>Redesain Sistem dan Desentralisasi Pendidikan </strong></em>pada 21-22 Januari 2012. Acara diselenggarakan di Ruang Sidang Rektorat UNY, Jl. Colombo Nomor 1 Karang Malang, Yogyakarta. </p>
<blockquote><p><strong><span style="color: #0000ff;">ISPI sebagai organisasi profesi yang bergerak dalam bidang pendidikan sangat berkepentingan untuk merealisasikan cita-citanya dalam berbagai bentuk di antaranya berupa kajian konsep-konsep maupun kemungkinan aplikasi dari kebijakan pendidikan. </span></strong></p></blockquote>
<p><strong>S</strong>eminar tersebut merupakan salah satu kegiatan yang berpotensi memberikan pencerahan, analisis, dan implikasi dari semua kebijakan-kebijakan pendidikan.</p>
<p>Panitia juga membuka kesempatan bagi peserta untuk mempresentasikan makalah sesuai dengan topik.</p>
<p>Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi panitia dengan contact persons Rohmat Purwoko (0857 290 50004), Dr. Puji Yanti Fauziah (0817 549 7644), Sudaryono, S.Pd (0813 286 89377) dan T. Sulistiyono, M.Pd., M.M. (0815 686 1003) atau datang langsung ke sekretariat panitia di Gedung Pascasarjana UNY lantai 1.</p>
<p>Info lengkap klik <a href="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/leafletPPSUNYrev24DES2011a.jpg">leaflet1</a> dan <a href="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/leafletPPSUNYrev27DES2011b.jpg">leaflet2</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/31/seminar-nasional-ispi-redesain-sistem-dan-desentralisasi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senthir</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 22:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3007</guid>
		<description><![CDATA[Senthir Cerpen Narwan S. Kelana SEBAGAI abdi pada seorang adipati, Ki Pardopo sangat tekun bekerja. Tidak pernah sekali saja ia membantah perintah. Maka wajar bila ia mendapat hadiah yang baginya sangat berlebihan. namun untuk seorang adipati hadiah tersebut sangatlah dianggap biasa saja. Ki Pardopo beserta anak dan istrinya diminta pindah dan tinggal di lingkungan kadipaten. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Senthir</strong><br />
Cerpen Narwan S. Kelana</p>
<p><img class="alignright" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/narwanskelana.jpg" alt="narwan" width="200" />SEBAGAI abdi pada seorang adipati, Ki Pardopo sangat tekun bekerja. Tidak pernah sekali saja ia membantah perintah. Maka wajar bila ia mendapat hadiah yang baginya sangat berlebihan. namun untuk seorang adipati hadiah tersebut sangatlah dianggap biasa saja. Ki Pardopo beserta anak dan istrinya diminta pindah dan tinggal di lingkungan kadipaten. Meskipun ia menganggap berlebihan, ia tak dapat menolak perintah tuannya.</p>
<p>Meskipun berada di ujung taman belakang, rumah itu tetap saja mewah bagi keluarga Ki Pardopo. Rumah cukup besar. Ada dua kamar yang berjauhan letaknya. Ada ruang tamu yang cukup luas. Seperangkat meja kursi di tengahnya. Sangat mewah memang bagi keluarga Ki Pa+&#8221;dopo. Dengan keberadaanya di sana, keluarga Ki Pardopo dianggap oleh rakyat Kadipaten Pudakwangi sebagai sentana dalem. Sebuah sebutan yang termasuk terhormat. Meski demikian Ki Pardopo dan keluarganya tetap saja bersikap seperti di kampungnya. Tekun bekerja, bersahaja dan berbudi pekerti luhur. Sifat inilah yang menjadikan Adipati Pudakwangi itu menaruh simpati yang sangat kepada keluarganya.</p>
<p>“Terimakasih Gusti Adipati. Hamba sebenarnya berat menerima semua ini. Hamba hanyalah abdi, tidak selayaknya mendapat hadiah semewah ini.”</p>
<p>“Sudahlah, Ki Pardopo. Ini semua karena jasamu pada Kadipaten Pudakwangi. Sebagai abdi yang setia. Bahkan sejak aku muda. Cuma ingat pesanku, seperti ruang-ruang yang lain, setiap ruangan jangan sampai gelap. Taruh senthir, hidupkan bila malam kalian tidur. Agar aman dari marabahaya.”</p>
<p>“Sendika, Gusti.” Jawab Ki Pardopo.</p>
<p>Keluarga Ki Pardopo pun segera menyesuaikan diri dengan kehidupan lingkungan keluarga sang adipati. Begitu juga dengan Menur, gadis tunggal Ki Pardopo, yang meskipun keluguan sebagai gadis desa tetap tampak, namun tetap menyiratkan kecantikan.<br />
****</p>
<p>Malam ini seperti biasanya, Menur melipat-lipat pakaian yang siang tadi dijemur.</p>
<p>“Sudah selesai Mbok.” Kata Menur sambil kedua tangannya meyerahkan lipatan pakaian kepada ibunya.</p>
<p>“Ya, Nduk. Sekarang kamu tidur dulu, simbok masih ingin menyiapkan sesuatu untuk besok pagi. Jangan lupasenthir-nya jangan dimatikan. Biarkan di atas meja.” Pinta Nyi Pardopo kepadanya. Menur mengiyakan dan segera berlalu menuju kamarnya.</p>
<p>Udara dingin menerobos lubang-lubang dinding. Menggerayangi sekujur tubuh Menur yang beranjak merenangi mimpi-mimpinya. Kesunyian segera menyelimuti Kadipaten. Nyi Pardopo pun sudah menyusul suaminya mengunyah mimpi. Dinginnya malam membuat mimpi-mimpi betah hinggap di alam bawah sadar penghuni Pudakwangi.</p>
<p>Tiba-tiba senthir di ruang tidur Menur berpindah tempat. Kini senthir itu di lantai sehingga tubuh Menur tak lagi terterangi. Bayangan ranjang menutupi bujur tubuh gadis berparas cantik yang sedang merenangi lautan mimpi itu. Segenggam jari mendekap mulut Menur sehingga gadis itu terbangun. Tak ada suara jerit dapat terteriakkan, tak ada ronta kuasa tergerakkan. Hanya takut yang memicu keringat sekujur tubuh. Sebuah kalimat yang ia kenal membuatnya tak berdaya melepas kebanggaan suci yang terjaga selama ini.<br />
****</p>
<p>Pagi-pagi sekali Nyi Pardopo membangunkan Menur. Ada pancaran rasa heran di wajah Nyi Pardopo.Senthir itu tidak di atas meja, namun berada di atas lantai. Nyi Pardopo menasehati Menur, tidak baik tidur di kamar dalam keadaan gelap bagi seorang gadis, juga sudah diwanti-wanti oleh Gusti Adipati. Memang benar adanya, bilasenthir diletakkan di atas meja, agar ruangan menjadi terang. Bukan di lantai yang membuat siapa yang tidur tidak kelihatan.</p>
<p>“Maaf, Mbok. Menur tidak bermaksud tidur gelap-gelapan.”</p>
<p>“Ya, sudah. Jangan diulangi lagi.”</p>
<p>Menur sebenarnya menyimpan ketakutan yang sangat. Bukan tangannya yang memindah senthir itu. Bahkan Menur semalam tidak kuasa beranjak dari ranjangnya. Hanya rasa takut dan amarah yang menggumpal, menyumbat kerongkongan. Namun pagi itu ia sembunyikan di depan ibunya.</p>
<p>Saat Menur menyapu halaman, mukanya segera ditekuk saat Gusti Kuncoro, pulang dari berkuda pagi. Kegiatan yang selalu dilakukan putra Adipati Pudakwangi itu. Ada rasa takut menatap seorang pemuda, terlebih seorang putra adipati seperti Gusti Kuncoro.</p>
<p>Sebenarnya Kuncoro sangat menaruh perhatian pada Menur. Hanya saja kadang merasa terkekang oleh aturan tradisi Pudakwangi. Ia sangat menghormati tradisi, juga kepada kedua orangtuanya. Namun cinta kadang tak memandang kasta. Meskipun seorang putra adipati, di dada Kuncoro mendesak-desak rasa dari gelitik tangan-tangan asmara yang bersemayam dalam jiwa mudanya.<br />
****</p>
<p>Malam-malam berlalu dan selalu meninggalkan senthir di lantai kamar tidur Menur. Malam-malam yang melahirkan ketakutan untuk berteriak, ketakutan untuk meronta, juga ketakutan untuk bercerita kepada siapa. Kemurungan menggelayut di roman cantik putri Ki Pardopo, kemurungan yang terukir dari gelap bayangan ranjang oleh senthir yang berpindah di lantai.</p>
<p>Malam-malam itu juga membuat Kuncoro sangat sulit memejamkan mata. Wajah Menur yang selalu hadir saat Kuncoro merebahkan tubuh di ranjang. Wajah yang seakan dekat, namun tersekat tradisi Pudakwangi. Kegelisahan di hati Kuncoro mengkristal menjadi keberanian untuk merangkai kata yang terucap di hadapan Menur. Kata yang berderet menguntai kalimat cinta. Sementara di telinga Menur, kata-kata itu semakin mengiris jiwa. Menambah beban di batinnya. Kadang ada amarah yang ingin meledak, namun apa untungnya bila ledakkan itu akan menjadi bumerang baginya, bagi keluarganya.</p>
<p>Menur begitu takut menerima untaian cinta yang dicurahkan Kuncoro. Takut melanggar tradisi, dan ia pun masih takut senthir berpindah ke lantai saat kesunyian menemani malam-malam di Pudakwangi.</p>
<p>“Apakah ada keharusan bahwa ningrat harus berjodoh sesama ningrat, sudra berjodoh dengan sudra,Rama?” Tanya Kuncoro kepada ayahndanya suatu siang.</p>
<p>“Bukan keharusan, tapi ini tradisi, anakku..” Jawab Gusti Adipati.</p>
<p>“Meski tradisi apakah mampu melarang anugerah Sang Kuasa yang bernama cinta? Maaf, Rama. Ananda sangat mencintai Menur, Rama.”</p>
<p>“Apa yang membuatmu bersikeras begitu, anakku?”</p>
<p>“Ananda tidak melihat kasta, harta, kedudukan, dan rupa,” jawab Kuncoro.</p>
<p>“Ada hal lain yang membuat Rama melarangmu berhubungan dengan Menur. Rama sangat menghormati tradisi, Rama tidak memberi restu kamu berjodoh dengan Menur.” Kata Adipati dengan nada agak tinggi.</p>
<p>Sebenarnya Adipati Pudakwangi telah menjodohkan Kuncoro dengan putri saudagar kaya, dan masih keluarga ningrat. Namun hingga saat ini belum ada jawaban kesiapan dari pihak saudagar tersebut, kapan akan dilangsungkan perkawinan putrinya dengan Kuncoro. Sebagai seorang adipati yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, tentunya tidak ingin mengingkari kesepakatan dengan saudagar tersebut.<br />
****</p>
<p>Ada bulan paruh menggantung di langit bertabur bintang. Ada dingin yang menerobos dinding rumah Ki Pardopo. Larut malam dalam simponi binatang malam, mengantarkan sekelebat sosok masuk rumah papan itu. Sejurus kemudian senthir di atas meja itu pun pindah ke lantai. Kembali ketakutan memaksa Menur meneteskan air mata. Deras. Sederas keringat sosok yang dikenalnya meski dalam gelap. Ada nafas kuda perang yang tertahan. Usai berlarian menelusuri huma dan bukit, kudapun terjerembab dalam kelelahan. Namun bergegas meninggalkan kamar dengan senthir di lantai.</p>
<p>Lagi-lagi Nyi Pardopo bersungut-sungut kepada putrinya melihat senthir di atas lantai. Tiba-tiba terhenyak melihat Menur keluar kamar sambil memegang perutnya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menutup mulutnya.</p>
<p>Perut Menur berasa mual. Bergegas ingin memuntahkannya ke kamar mandi. Nyi Pardopo tergopoh-gopoh menyusulnya.</p>
<p>“Kamu kenapa, Nduk? Sakit?”</p>
<p>Yang ditanya membisu. Matanya saja yang berair menahan rasa mual. Menahan ketakutan, dan kemarahan.</p>
<p>“Kenapa Nduk? Kamu&#8230;kamu&#8230;.”</p>
<p>“Tidak apa-apa Mbok. Menur hanya masuk angin.”</p>
<p>Ada rasa curiga pada Nyi Pardopo. Menur dihujani pertanyaan. Naluri perempuan Nyi Pardopo tidak percaya begitu saja dengan jawaban Menur. Segera Nyi Pardopo melaporkan hal itu kepada suaminya. Di hadapan ayahnya, Menur pun tetap membisu. Keributan di rumah itu sampai pula ke telinga Adipati Pudakwangi.<br />
****</p>
<p>“Ngger anakku. Apakah kamu benar-benar mencintai Menur? Apakah kamu sudah siap menerimanya sebagai istrimu? Apakah sudah kau pikirkan masak-masak bila nantinya kamu menggantikan ayahmu ini?” Tanya Adipati Pudakwangi kepada putranya.</p>
<p>“Ananda siap Rama. Menur telah menjadi pilihan ananda, meskipun dia hanya anak seorang abdi.” Jawab Kuncoro tegas.</p>
<p>“Kalau begitu, Rama akan segera mempersiapkan segala sesuatunya.”</p>
<p>“Terimakasih Rama. “</p>
<p>Sepeninggal Kuncoro. Adipati Pudakwangi memanggil abdi kesayangannya. Ki Pardopo menghadap dengan muka lain. Kali ini ada pancaran sedih dan bingung dari roman mukanya.</p>
<p>“Hamba siap menerima perintah, Gusti Adipati.”</p>
<p>“Ki Pardopo. Kali ini aku akan memberikan sesuatu kepadamu. Seperti saat aku memintamu tinggal di sini dulu. Aku minta kamu tidak menolaknya. Aku tahu kamu sangat bersedih, namun semoga pemberianku ini akan dapat mengurangi kesedihanmu.”</p>
<p>“Hamba Gusti. Gusti adipati akan memberi hamba apalagi? Yang hamba terima dari paduka selama ini sudah sangat berlebihan.”</p>
<p>“Tidak Ki Pardopo. Kamu harus menerimanya. Kuncoro anakku menginginkan Menur menjadi pendampingnya. Aku minta kamu tidak menolaknya. Aku merestui mereka berdua.”</p>
<p>“Duh Gusti Adipati. Paduka begitu baik terhadap kami. Hamba hanya abdi biasa seperti yang lain. Namun kenapa Gusti Adipati selalu memberi kami berlebihan. Hamba tidak mengerti Gusti. Ini semua hadiah atau ujian kami Gusti&#8230;” Sambil menitikkan airmata, Ki Pardopo bersujud di hadapan Adipati Pudakwangi.</p>
<p>“Sudahlah, Ki Pardopo. Sebagai adipati, aku tidak akan menarik lagi ucapanku. Apalagi menarik apa yang telah kuberikan kepadamu juga keluargamu.”</p>
<p>Pesta perkawinan Kuncoro dan Menur pun berlangsung meriah. Para petinggi Kadipaten Pudakwangi hadir. Juga tamu-tamu dari Kadipaten tetangga. Hanya saudagar yang kecewa karena batal menjadi mertua Kuncoro yang tidak tampak. Para tamu heran karena Kuncoro mencintai anak abdinya. Ki Pardopo dan istrinya juga heran dengan hadiah yang diterimanya, di saat kebingungan dengan teka-teki siapa yang membuat perut Menur mual-mual namun jelas bukan karena masuk angin. Juga bingung dengan  jawaban siapa yang memindahkan senthir di kamar tidur Menur setiap malam. Bahkan Kuncoro pun juga tidak tahu bila Menur menyimpan jawaban dari semua itu.****</p>
<p><strong>Roemah Boekoe, Desember 2011</strong><em></p>
<p>Narwan, S.Pd.<br />
Guru SD Negeri Sutopati 5<br />
Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang 56163<br />
e-mail: narwan_sk@yahoo.com<br />
blog: www.pemahatrupadhatu.blogspot.com<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru adalah Pemimpin</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/14/guru-adalah-pemimpin-2/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/14/guru-adalah-pemimpin-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 21:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[guru menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3002</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Prajna Bhadra Darmastuti, S.Si, S.Kom *) Pada saat ini, profesi guru tengah menjadi sorotan, menyusul dengan naiknya anggaran pendidikan sebesar 20 % dan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Terlebih dengan adanya program sertifikasi. Tidak jarang masyarakat menuding bahwa guru adalah `pegawai` yang dimanjakan dengan beragam fasilitas namun dengan pekerjaan yang `ringan`. Hal tersebut [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Prajna Bhadra Darmastuti, S.Si, S.Kom *)</p>
<p><img class="alignright" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/FOTO2.jpg" alt="prajna" width="200" />Pada saat ini, profesi guru tengah menjadi sorotan, menyusul dengan naiknya anggaran pendidikan sebesar 20 % dan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Terlebih dengan adanya program sertifikasi. Tidak jarang masyarakat menuding bahwa guru adalah `pegawai` yang dimanjakan dengan beragam fasilitas namun dengan pekerjaan yang `ringan`. Hal tersebut menjadikan tuntutan masyarakat terhadap guru juga semakin tinggi. Guru tidak hanya dituntut menjadi pendidik yang harus bisa mentransfer ilmu, namun juga harus membentuk akhlak dan moral yang baik pada generasi penerus bangsa. dan kerap masalah-masalah bangsa dilimpahkan begitu saja sebagai kesalahan seorang guru dalam kegagalan mendidik muridnya. </p>
<p>Menurut Sofa (2008) ada berbagai permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia.  Pertama masalah kualitas/mutu. Kedua jumlah guru yang masih kurang. Ketiga masalah distribusi guru dan keempat masalah kesejahteraan guru. Dari keempat hal tersebut yang mampu diubah oleh seorang guru secara pribadi, adalah masalah kualitas/mutu guru tersebut. </p>
<p>Guru (dari Sanskerta: yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah &#8220;berat&#8221;) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. </p>
<p>Dalam Kamus Bahasa Indonesia, definisi kualifikasi adalah keahlian yang diperlukan untuk melakukan sesuatu, atau menduduki jabatan tertentu. Jadi, kualifikasi mendorong seseorang untuk memiliki suatu “keahlian atau kecakapan khusus”. Menurut Anwar Jasin dalam Mujtahid (2010) untuk mengukur kemampuan kualifikasi guru dapat ditilik dari tiga hal. Pertama, memiliki kemampuan dasar sebagai pendidik. Kedua, memiliki kemampuan umum sebagai pengajar. Ketiga, mempunyai kemampuan khusus sebagai pelatih. Sedangkan menurut Sugito (2007) kualifikasi minimal seorang guru memiliki standar kognisi (intelektual) dan afeksi (perilaku dan sikap) diatas rata-rata. Sesuai sejarah guru dalam ekspetasi kita, guru harus memiliki kualifikasi yang melampaui sekedar penguasaan pelajaran (kognisi), tetapi juga memenuhi prasyarat untuk mampu menggarap rasa, cipta, karsa dan sikap seseorang. Hal tersebut tidaklah berbeda dengan tugas seorang pemimpin. Sehingga dapat diistilahkan bahwa profesi guru adalah profesi yang setara dengan pemimpin, bukan sebagai bawahan atau pegawai biasa. Karenanya kualifikasi dasar yang harus dimiliki oleh guru di Indonesia, tentu adalah kualifikasi seorang pemimpin bukan pegawai apalagi buruh.</p>
<p>Sebagai seorang pemimpin, maka mendidik dan mencerdaskan bangsa adalah visi pribadi bukan beban tugasnya. Mengajar sepenuh hati adalah misi-nya bukan kewajibannya. Tanpa dituntut seorang guru akan melaksanakan pendidikan secara independent dan berpusat pada murid, dan bukan berpusat pada peraturan atasan. Jikalau menurutnya peraturan atasan baik, maka akan dilaksanakan. Namun jika peraturan hanya menjadi halangan dalam mencerdaskan murid, maka akan ditinggalkan. Visi dan misi yang sudah tertanam dalam jiwanya adalah mencerdaskan bangsa, dan bukan sekedar `bekerja` untuk mendidik orang lain. </p>
<p>Ada banyak guru yang memiliki kualifikasi pemimpin dan menghasilkan generasi-generasi pemimpin. Dalam sejarah, kita mengenal Boedi Oetomo. Yang mengajar dan mendidik murid-muridnya dalam sekolah Boedi Oetomo sesuai dengan kebutuhan zamannya, yaitu pendidikan dan organisasi. Walaupun pada akhirnya sekolah tersebut ditutup, namun bekas pendidikannya terus melahirkan generasi muda yang akhirnya mampu memerdekakan bangsa. Kemudian, Soekarno sebelum menjadi seorang pemimpin, beliau pernah mengajari anak-anak mulai berhitung hingga sejarah di tempat pembuangannya, Bengkulu. Begitupun dengan Bung Hatta yang aktif menjadi guru anak-anak di lingkungannya. Beliau mengajari pengetahuan formal sekaligus non-formal, seperti organisasi dan kecintaan kepada bangsa Indonesia. Meskipun pada saat itu beliau sedang ditahan dan dilarang keras untuk mengajar, namun tetap dilakukan secara diam-diam. Karena visi dan misi para pemimpin diatas adalah mencerdaskan sesuai kebutuhan zamannya, dan bukan menuruti keinginan penguasa dan pemerintah saat itu, yaitu kolonial Belanda. Selain beliau, masih banyak pemimpin yang juga memberikan pendidikan layaknya guru mulai dari Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka, Djuanda, Nasution, bahkan Jenderal Soedirman pun pernah menjadi kepala sekolah di SD Muhammadiyah di Cilacap. </p>
<p>Keberhasilan para guru bangsa diatas, bukanlah karena mereka bekerja sebagai guru, namun karena mereka berjiwa sebagai guru. Disamping itu mereka memiliki kualifikasi pemimpin yang cukup hebat, sehingga mampu menghasilkan generasi penerus yang hebat pula. Visi dan misi mendidik ada dalam jiwa mereka, sehingga dimanapun mereka berada, ada atau tidak kesejahteraan, dalam posisi tenang atau genting, jiwa mendidik mereka tidak pernah padam. </p>
<p>Demikianlah seharusnya kualifikasi yang dimiliki oleh seorang guru. Posisi guru saat ini sedang bergeser kepada pemahaman, bahwa guru adalah seorang pengajar yang digaji oleh negara. Kualifikasi yang dimilikipun cukup sebatas yang ditentukan negara. Padahal seharusnya kualifikasi seorang guru tidaklah dibatasi oleh negara, namun lebih dari itu. Sebelum dirumuskan dalam UU Sisdiknas 2003, guru harus sudah mematri jiwanya dengan kualifikasi seorang pemimpin. </p>
<p>Al-Ghazali, menjelaskan bahwa orang alim yang bersedia mengamalkan pengetahuannya adalah orang besar di semua kerajaan langit. Mengutip kitab Ihya `Al-Ghazali yang mengatakan bahwa siapa yang memilih pekerjaan mengajar maka ia sesungguhnya telah memilih pekerjaan besar dan penting. Meski demikian, hubungan guru-murid bukanlah dalam konteks ekonomi seperti seorang pemberi ilmu dan penerima ilmu, atau seperti seorang yang memberi jasa dan penjual jasa, tetapi justru hubungan guru-murid dalam konteks keagamaan atau melakukan perintah Tuhan. Sehingga seorang murid akan menghormati dan menuruti muridnya karena apa yang diajarkan oleh seorang guru adalah ilmu dari Tuhan. Penghormatan itu sama dengan penghormatan terhadap seorang pemimpin, dimana pemimpin adalah seorang yang dianggap memiliki ilmu tentang Tuhan lebih dari rakyatnya. Kesejahteraan yang diberikan pada guru, juga merupakan bentuk penghargaan kepada seorang pemimpin, bukan sekedar gaji atau imbalan. Namun tentu, penghargaan tersebut juga harus diimbangi dengan sikap guru yang layak dihormati bukan karena materinya atau kedudukannya, tetapi karena kepemimpinannya.  </p>
<p>Tentu, seandainya guru di Indonesia mampu meningkatkan jiwa pemimpinnya, maka pendidikan di Indonesia akan semakin maju peradabannya. ***</p>
<p><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<p>http://ath-thullab.blogspot.com/2009/07/kedudukan-guru-dalam-pandangan-islam.html</p>
<p>http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/01/memahami-tentang-kualifikasi-guru.html</p>
<p>http://id.wikipedia.org/wiki/Guru</p>
<p>http://massofa.wordpress.com/2008/10/12/permasalahan-guru-di-indonesia/</p>
<p>*) Prajna Bhadra Darmastuti atau biasa dipanggil Bunda Seno, lahir di Banyumas pada tanggal 31 Januari 1982. Ibu dari Seno Aulia Wijayanto, bekerja sebagai Guru SMK di Kabupaten Kebumen. Menekuni dunia penulisan dan menjadi kontributor, antara lain di buku Mukjizat Doa Ibu (2010) dan Antologi Banyumasan (2011). Selain menulis buku, aktif dalam karya tulis ilmiah bidang psikologi pendidikan dan lingkungan. Beberapa karya tulisnya pernah menjadi finalis di lomba tingkat provinsi dan nasional. Untuk kritik dan saran dapat mengirimkan e-mail bhadra31@gmail.com. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/14/guru-adalah-pemimpin-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.702 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2013-05-19 22:02:38 -->
