<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena Jawa Tengah</title>
	<atom:link href="http://agupenajateng.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupenajateng.net</link>
	<description>Membangun Semangat Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 04:35:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Seminar Nasional ISPI (Redesain Sistem dan Desentralisasi Pendidikan)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/31/seminar-nasional-ispi-redesain-sistem-dan-desentralisasi-pendidikan/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/31/seminar-nasional-ispi-redesain-sistem-dan-desentralisasi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 04:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[ispi]]></category>
		<category><![CDATA[seminar nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3012</guid>
		<description><![CDATA[Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) bekerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Redesain Sistem dan Desentralisasi Pendidikan pada 21-22 Januari 2012. Acara diselenggarakan di Ruang Sidang Rektorat UNY, Jl. Colombo Nomor 1 Karang Malang, Yogyakarta. ISPI sebagai organisasi profesi yang bergerak dalam bidang pendidikan sangat berkepentingan untuk merealisasikan cita-citanya dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/41573_209907285077_5116_n.jpg" alt="" width="90" height="97" /><img class="alignleft" src="http://fairuzelsaid.files.wordpress.com/2010/01/logo_uny.gif" alt="" width="90" height="97" />Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) bekerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema <em><strong>Redesain Sistem dan Desentralisasi Pendidikan </strong></em>pada 21-22 Januari 2012. Acara diselenggarakan di Ruang Sidang Rektorat UNY, Jl. Colombo Nomor 1 Karang Malang, Yogyakarta. </p>
<blockquote><p><strong><span style="color: #0000ff;">ISPI sebagai organisasi profesi yang bergerak dalam bidang pendidikan sangat berkepentingan untuk merealisasikan cita-citanya dalam berbagai bentuk di antaranya berupa kajian konsep-konsep maupun kemungkinan aplikasi dari kebijakan pendidikan. </span></strong></p></blockquote>
<p><strong>S</strong>eminar tersebut merupakan salah satu kegiatan yang berpotensi memberikan pencerahan, analisis, dan implikasi dari semua kebijakan-kebijakan pendidikan.</p>
<p>Panitia juga membuka kesempatan bagi peserta untuk mempresentasikan makalah sesuai dengan topik.</p>
<p>Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi panitia dengan contact persons Rohmat Purwoko (0857 290 50004), Dr. Puji Yanti Fauziah (0817 549 7644), Sudaryono, S.Pd (0813 286 89377) dan T. Sulistiyono, M.Pd., M.M. (0815 686 1003) atau datang langsung ke sekretariat panitia di Gedung Pascasarjana UNY lantai 1.</p>
<p>Info lengkap klik <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/leafletPPSUNYrev24DES2011a.jpg">leaflet1</a> dan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/leafletPPSUNYrev27DES2011b.jpg">leaflet2</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/31/seminar-nasional-ispi-redesain-sistem-dan-desentralisasi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senthir</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 22:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3007</guid>
		<description><![CDATA[Senthir Cerpen Narwan S. Kelana SEBAGAI abdi pada seorang adipati, Ki Pardopo sangat tekun bekerja. Tidak pernah sekali saja ia membantah perintah. Maka wajar bila ia mendapat hadiah yang baginya sangat berlebihan. namun untuk seorang adipati hadiah tersebut sangatlah dianggap biasa saja. Ki Pardopo beserta anak dan istrinya diminta pindah dan tinggal di lingkungan kadipaten. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Senthir</strong><br />
Cerpen Narwan S. Kelana</p>
<p><img class="alignright" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/narwanskelana.jpg" alt="narwan" width="200" />SEBAGAI abdi pada seorang adipati, Ki Pardopo sangat tekun bekerja. Tidak pernah sekali saja ia membantah perintah. Maka wajar bila ia mendapat hadiah yang baginya sangat berlebihan. namun untuk seorang adipati hadiah tersebut sangatlah dianggap biasa saja. Ki Pardopo beserta anak dan istrinya diminta pindah dan tinggal di lingkungan kadipaten. Meskipun ia menganggap berlebihan, ia tak dapat menolak perintah tuannya.</p>
<p>Meskipun berada di ujung taman belakang, rumah itu tetap saja mewah bagi keluarga Ki Pardopo. Rumah cukup besar. Ada dua kamar yang berjauhan letaknya. Ada ruang tamu yang cukup luas. Seperangkat meja kursi di tengahnya. Sangat mewah memang bagi keluarga Ki Pa+&#8221;dopo. Dengan keberadaanya di sana, keluarga Ki Pardopo dianggap oleh rakyat Kadipaten Pudakwangi sebagai sentana dalem. Sebuah sebutan yang termasuk terhormat. Meski demikian Ki Pardopo dan keluarganya tetap saja bersikap seperti di kampungnya. Tekun bekerja, bersahaja dan berbudi pekerti luhur. Sifat inilah yang menjadikan Adipati Pudakwangi itu menaruh simpati yang sangat kepada keluarganya.</p>
<p>“Terimakasih Gusti Adipati. Hamba sebenarnya berat menerima semua ini. Hamba hanyalah abdi, tidak selayaknya mendapat hadiah semewah ini.”</p>
<p>“Sudahlah, Ki Pardopo. Ini semua karena jasamu pada Kadipaten Pudakwangi. Sebagai abdi yang setia. Bahkan sejak aku muda. Cuma ingat pesanku, seperti ruang-ruang yang lain, setiap ruangan jangan sampai gelap. Taruh senthir, hidupkan bila malam kalian tidur. Agar aman dari marabahaya.”</p>
<p>“Sendika, Gusti.” Jawab Ki Pardopo.</p>
<p>Keluarga Ki Pardopo pun segera menyesuaikan diri dengan kehidupan lingkungan keluarga sang adipati. Begitu juga dengan Menur, gadis tunggal Ki Pardopo, yang meskipun keluguan sebagai gadis desa tetap tampak, namun tetap menyiratkan kecantikan.<br />
****</p>
<p>Malam ini seperti biasanya, Menur melipat-lipat pakaian yang siang tadi dijemur.</p>
<p>“Sudah selesai Mbok.” Kata Menur sambil kedua tangannya meyerahkan lipatan pakaian kepada ibunya.</p>
<p>“Ya, Nduk. Sekarang kamu tidur dulu, simbok masih ingin menyiapkan sesuatu untuk besok pagi. Jangan lupasenthir-nya jangan dimatikan. Biarkan di atas meja.” Pinta Nyi Pardopo kepadanya. Menur mengiyakan dan segera berlalu menuju kamarnya.</p>
<p>Udara dingin menerobos lubang-lubang dinding. Menggerayangi sekujur tubuh Menur yang beranjak merenangi mimpi-mimpinya. Kesunyian segera menyelimuti Kadipaten. Nyi Pardopo pun sudah menyusul suaminya mengunyah mimpi. Dinginnya malam membuat mimpi-mimpi betah hinggap di alam bawah sadar penghuni Pudakwangi.</p>
<p>Tiba-tiba senthir di ruang tidur Menur berpindah tempat. Kini senthir itu di lantai sehingga tubuh Menur tak lagi terterangi. Bayangan ranjang menutupi bujur tubuh gadis berparas cantik yang sedang merenangi lautan mimpi itu. Segenggam jari mendekap mulut Menur sehingga gadis itu terbangun. Tak ada suara jerit dapat terteriakkan, tak ada ronta kuasa tergerakkan. Hanya takut yang memicu keringat sekujur tubuh. Sebuah kalimat yang ia kenal membuatnya tak berdaya melepas kebanggaan suci yang terjaga selama ini.<br />
****</p>
<p>Pagi-pagi sekali Nyi Pardopo membangunkan Menur. Ada pancaran rasa heran di wajah Nyi Pardopo.Senthir itu tidak di atas meja, namun berada di atas lantai. Nyi Pardopo menasehati Menur, tidak baik tidur di kamar dalam keadaan gelap bagi seorang gadis, juga sudah diwanti-wanti oleh Gusti Adipati. Memang benar adanya, bilasenthir diletakkan di atas meja, agar ruangan menjadi terang. Bukan di lantai yang membuat siapa yang tidur tidak kelihatan.</p>
<p>“Maaf, Mbok. Menur tidak bermaksud tidur gelap-gelapan.”</p>
<p>“Ya, sudah. Jangan diulangi lagi.”</p>
<p>Menur sebenarnya menyimpan ketakutan yang sangat. Bukan tangannya yang memindah senthir itu. Bahkan Menur semalam tidak kuasa beranjak dari ranjangnya. Hanya rasa takut dan amarah yang menggumpal, menyumbat kerongkongan. Namun pagi itu ia sembunyikan di depan ibunya.</p>
<p>Saat Menur menyapu halaman, mukanya segera ditekuk saat Gusti Kuncoro, pulang dari berkuda pagi. Kegiatan yang selalu dilakukan putra Adipati Pudakwangi itu. Ada rasa takut menatap seorang pemuda, terlebih seorang putra adipati seperti Gusti Kuncoro.</p>
<p>Sebenarnya Kuncoro sangat menaruh perhatian pada Menur. Hanya saja kadang merasa terkekang oleh aturan tradisi Pudakwangi. Ia sangat menghormati tradisi, juga kepada kedua orangtuanya. Namun cinta kadang tak memandang kasta. Meskipun seorang putra adipati, di dada Kuncoro mendesak-desak rasa dari gelitik tangan-tangan asmara yang bersemayam dalam jiwa mudanya.<br />
****</p>
<p>Malam-malam berlalu dan selalu meninggalkan senthir di lantai kamar tidur Menur. Malam-malam yang melahirkan ketakutan untuk berteriak, ketakutan untuk meronta, juga ketakutan untuk bercerita kepada siapa. Kemurungan menggelayut di roman cantik putri Ki Pardopo, kemurungan yang terukir dari gelap bayangan ranjang oleh senthir yang berpindah di lantai.</p>
<p>Malam-malam itu juga membuat Kuncoro sangat sulit memejamkan mata. Wajah Menur yang selalu hadir saat Kuncoro merebahkan tubuh di ranjang. Wajah yang seakan dekat, namun tersekat tradisi Pudakwangi. Kegelisahan di hati Kuncoro mengkristal menjadi keberanian untuk merangkai kata yang terucap di hadapan Menur. Kata yang berderet menguntai kalimat cinta. Sementara di telinga Menur, kata-kata itu semakin mengiris jiwa. Menambah beban di batinnya. Kadang ada amarah yang ingin meledak, namun apa untungnya bila ledakkan itu akan menjadi bumerang baginya, bagi keluarganya.</p>
<p>Menur begitu takut menerima untaian cinta yang dicurahkan Kuncoro. Takut melanggar tradisi, dan ia pun masih takut senthir berpindah ke lantai saat kesunyian menemani malam-malam di Pudakwangi.</p>
<p>“Apakah ada keharusan bahwa ningrat harus berjodoh sesama ningrat, sudra berjodoh dengan sudra,Rama?” Tanya Kuncoro kepada ayahndanya suatu siang.</p>
<p>“Bukan keharusan, tapi ini tradisi, anakku..” Jawab Gusti Adipati.</p>
<p>“Meski tradisi apakah mampu melarang anugerah Sang Kuasa yang bernama cinta? Maaf, Rama. Ananda sangat mencintai Menur, Rama.”</p>
<p>“Apa yang membuatmu bersikeras begitu, anakku?”</p>
<p>“Ananda tidak melihat kasta, harta, kedudukan, dan rupa,” jawab Kuncoro.</p>
<p>“Ada hal lain yang membuat Rama melarangmu berhubungan dengan Menur. Rama sangat menghormati tradisi, Rama tidak memberi restu kamu berjodoh dengan Menur.” Kata Adipati dengan nada agak tinggi.</p>
<p>Sebenarnya Adipati Pudakwangi telah menjodohkan Kuncoro dengan putri saudagar kaya, dan masih keluarga ningrat. Namun hingga saat ini belum ada jawaban kesiapan dari pihak saudagar tersebut, kapan akan dilangsungkan perkawinan putrinya dengan Kuncoro. Sebagai seorang adipati yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, tentunya tidak ingin mengingkari kesepakatan dengan saudagar tersebut.<br />
****</p>
<p>Ada bulan paruh menggantung di langit bertabur bintang. Ada dingin yang menerobos dinding rumah Ki Pardopo. Larut malam dalam simponi binatang malam, mengantarkan sekelebat sosok masuk rumah papan itu. Sejurus kemudian senthir di atas meja itu pun pindah ke lantai. Kembali ketakutan memaksa Menur meneteskan air mata. Deras. Sederas keringat sosok yang dikenalnya meski dalam gelap. Ada nafas kuda perang yang tertahan. Usai berlarian menelusuri huma dan bukit, kudapun terjerembab dalam kelelahan. Namun bergegas meninggalkan kamar dengan senthir di lantai.</p>
<p>Lagi-lagi Nyi Pardopo bersungut-sungut kepada putrinya melihat senthir di atas lantai. Tiba-tiba terhenyak melihat Menur keluar kamar sambil memegang perutnya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menutup mulutnya.</p>
<p>Perut Menur berasa mual. Bergegas ingin memuntahkannya ke kamar mandi. Nyi Pardopo tergopoh-gopoh menyusulnya.</p>
<p>“Kamu kenapa, Nduk? Sakit?”</p>
<p>Yang ditanya membisu. Matanya saja yang berair menahan rasa mual. Menahan ketakutan, dan kemarahan.</p>
<p>“Kenapa Nduk? Kamu&#8230;kamu&#8230;.”</p>
<p>“Tidak apa-apa Mbok. Menur hanya masuk angin.”</p>
<p>Ada rasa curiga pada Nyi Pardopo. Menur dihujani pertanyaan. Naluri perempuan Nyi Pardopo tidak percaya begitu saja dengan jawaban Menur. Segera Nyi Pardopo melaporkan hal itu kepada suaminya. Di hadapan ayahnya, Menur pun tetap membisu. Keributan di rumah itu sampai pula ke telinga Adipati Pudakwangi.<br />
****</p>
<p>“Ngger anakku. Apakah kamu benar-benar mencintai Menur? Apakah kamu sudah siap menerimanya sebagai istrimu? Apakah sudah kau pikirkan masak-masak bila nantinya kamu menggantikan ayahmu ini?” Tanya Adipati Pudakwangi kepada putranya.</p>
<p>“Ananda siap Rama. Menur telah menjadi pilihan ananda, meskipun dia hanya anak seorang abdi.” Jawab Kuncoro tegas.</p>
<p>“Kalau begitu, Rama akan segera mempersiapkan segala sesuatunya.”</p>
<p>“Terimakasih Rama. “</p>
<p>Sepeninggal Kuncoro. Adipati Pudakwangi memanggil abdi kesayangannya. Ki Pardopo menghadap dengan muka lain. Kali ini ada pancaran sedih dan bingung dari roman mukanya.</p>
<p>“Hamba siap menerima perintah, Gusti Adipati.”</p>
<p>“Ki Pardopo. Kali ini aku akan memberikan sesuatu kepadamu. Seperti saat aku memintamu tinggal di sini dulu. Aku minta kamu tidak menolaknya. Aku tahu kamu sangat bersedih, namun semoga pemberianku ini akan dapat mengurangi kesedihanmu.”</p>
<p>“Hamba Gusti. Gusti adipati akan memberi hamba apalagi? Yang hamba terima dari paduka selama ini sudah sangat berlebihan.”</p>
<p>“Tidak Ki Pardopo. Kamu harus menerimanya. Kuncoro anakku menginginkan Menur menjadi pendampingnya. Aku minta kamu tidak menolaknya. Aku merestui mereka berdua.”</p>
<p>“Duh Gusti Adipati. Paduka begitu baik terhadap kami. Hamba hanya abdi biasa seperti yang lain. Namun kenapa Gusti Adipati selalu memberi kami berlebihan. Hamba tidak mengerti Gusti. Ini semua hadiah atau ujian kami Gusti&#8230;” Sambil menitikkan airmata, Ki Pardopo bersujud di hadapan Adipati Pudakwangi.</p>
<p>“Sudahlah, Ki Pardopo. Sebagai adipati, aku tidak akan menarik lagi ucapanku. Apalagi menarik apa yang telah kuberikan kepadamu juga keluargamu.”</p>
<p>Pesta perkawinan Kuncoro dan Menur pun berlangsung meriah. Para petinggi Kadipaten Pudakwangi hadir. Juga tamu-tamu dari Kadipaten tetangga. Hanya saudagar yang kecewa karena batal menjadi mertua Kuncoro yang tidak tampak. Para tamu heran karena Kuncoro mencintai anak abdinya. Ki Pardopo dan istrinya juga heran dengan hadiah yang diterimanya, di saat kebingungan dengan teka-teki siapa yang membuat perut Menur mual-mual namun jelas bukan karena masuk angin. Juga bingung dengan  jawaban siapa yang memindahkan senthir di kamar tidur Menur setiap malam. Bahkan Kuncoro pun juga tidak tahu bila Menur menyimpan jawaban dari semua itu.****</p>
<p><strong>Roemah Boekoe, Desember 2011</strong><em></p>
<p>Narwan, S.Pd.<br />
Guru SD Negeri Sutopati 5<br />
Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang 56163<br />
e-mail: narwan_sk@yahoo.com<br />
blog: www.pemahatrupadhatu.blogspot.com<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru adalah Pemimpin</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/14/guru-adalah-pemimpin-2/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/14/guru-adalah-pemimpin-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 21:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[guru menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3002</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Prajna Bhadra Darmastuti, S.Si, S.Kom *) Pada saat ini, profesi guru tengah menjadi sorotan, menyusul dengan naiknya anggaran pendidikan sebesar 20 % dan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Terlebih dengan adanya program sertifikasi. Tidak jarang masyarakat menuding bahwa guru adalah `pegawai` yang dimanjakan dengan beragam fasilitas namun dengan pekerjaan yang `ringan`. Hal tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Prajna Bhadra Darmastuti, S.Si, S.Kom *)</p>
<p><img class="alignright" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/FOTO2.jpg" alt="prajna" width="200" />Pada saat ini, profesi guru tengah menjadi sorotan, menyusul dengan naiknya anggaran pendidikan sebesar 20 % dan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Terlebih dengan adanya program sertifikasi. Tidak jarang masyarakat menuding bahwa guru adalah `pegawai` yang dimanjakan dengan beragam fasilitas namun dengan pekerjaan yang `ringan`. Hal tersebut menjadikan tuntutan masyarakat terhadap guru juga semakin tinggi. Guru tidak hanya dituntut menjadi pendidik yang harus bisa mentransfer ilmu, namun juga harus membentuk akhlak dan moral yang baik pada generasi penerus bangsa. dan kerap masalah-masalah bangsa dilimpahkan begitu saja sebagai kesalahan seorang guru dalam kegagalan mendidik muridnya. </p>
<p>Menurut Sofa (2008) ada berbagai permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia.  Pertama masalah kualitas/mutu. Kedua jumlah guru yang masih kurang. Ketiga masalah distribusi guru dan keempat masalah kesejahteraan guru. Dari keempat hal tersebut yang mampu diubah oleh seorang guru secara pribadi, adalah masalah kualitas/mutu guru tersebut. </p>
<p>Guru (dari Sanskerta: yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah &#8220;berat&#8221;) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. </p>
<p>Dalam Kamus Bahasa Indonesia, definisi kualifikasi adalah keahlian yang diperlukan untuk melakukan sesuatu, atau menduduki jabatan tertentu. Jadi, kualifikasi mendorong seseorang untuk memiliki suatu “keahlian atau kecakapan khusus”. Menurut Anwar Jasin dalam Mujtahid (2010) untuk mengukur kemampuan kualifikasi guru dapat ditilik dari tiga hal. Pertama, memiliki kemampuan dasar sebagai pendidik. Kedua, memiliki kemampuan umum sebagai pengajar. Ketiga, mempunyai kemampuan khusus sebagai pelatih. Sedangkan menurut Sugito (2007) kualifikasi minimal seorang guru memiliki standar kognisi (intelektual) dan afeksi (perilaku dan sikap) diatas rata-rata. Sesuai sejarah guru dalam ekspetasi kita, guru harus memiliki kualifikasi yang melampaui sekedar penguasaan pelajaran (kognisi), tetapi juga memenuhi prasyarat untuk mampu menggarap rasa, cipta, karsa dan sikap seseorang. Hal tersebut tidaklah berbeda dengan tugas seorang pemimpin. Sehingga dapat diistilahkan bahwa profesi guru adalah profesi yang setara dengan pemimpin, bukan sebagai bawahan atau pegawai biasa. Karenanya kualifikasi dasar yang harus dimiliki oleh guru di Indonesia, tentu adalah kualifikasi seorang pemimpin bukan pegawai apalagi buruh.</p>
<p>Sebagai seorang pemimpin, maka mendidik dan mencerdaskan bangsa adalah visi pribadi bukan beban tugasnya. Mengajar sepenuh hati adalah misi-nya bukan kewajibannya. Tanpa dituntut seorang guru akan melaksanakan pendidikan secara independent dan berpusat pada murid, dan bukan berpusat pada peraturan atasan. Jikalau menurutnya peraturan atasan baik, maka akan dilaksanakan. Namun jika peraturan hanya menjadi halangan dalam mencerdaskan murid, maka akan ditinggalkan. Visi dan misi yang sudah tertanam dalam jiwanya adalah mencerdaskan bangsa, dan bukan sekedar `bekerja` untuk mendidik orang lain. </p>
<p>Ada banyak guru yang memiliki kualifikasi pemimpin dan menghasilkan generasi-generasi pemimpin. Dalam sejarah, kita mengenal Boedi Oetomo. Yang mengajar dan mendidik murid-muridnya dalam sekolah Boedi Oetomo sesuai dengan kebutuhan zamannya, yaitu pendidikan dan organisasi. Walaupun pada akhirnya sekolah tersebut ditutup, namun bekas pendidikannya terus melahirkan generasi muda yang akhirnya mampu memerdekakan bangsa. Kemudian, Soekarno sebelum menjadi seorang pemimpin, beliau pernah mengajari anak-anak mulai berhitung hingga sejarah di tempat pembuangannya, Bengkulu. Begitupun dengan Bung Hatta yang aktif menjadi guru anak-anak di lingkungannya. Beliau mengajari pengetahuan formal sekaligus non-formal, seperti organisasi dan kecintaan kepada bangsa Indonesia. Meskipun pada saat itu beliau sedang ditahan dan dilarang keras untuk mengajar, namun tetap dilakukan secara diam-diam. Karena visi dan misi para pemimpin diatas adalah mencerdaskan sesuai kebutuhan zamannya, dan bukan menuruti keinginan penguasa dan pemerintah saat itu, yaitu kolonial Belanda. Selain beliau, masih banyak pemimpin yang juga memberikan pendidikan layaknya guru mulai dari Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka, Djuanda, Nasution, bahkan Jenderal Soedirman pun pernah menjadi kepala sekolah di SD Muhammadiyah di Cilacap. </p>
<p>Keberhasilan para guru bangsa diatas, bukanlah karena mereka bekerja sebagai guru, namun karena mereka berjiwa sebagai guru. Disamping itu mereka memiliki kualifikasi pemimpin yang cukup hebat, sehingga mampu menghasilkan generasi penerus yang hebat pula. Visi dan misi mendidik ada dalam jiwa mereka, sehingga dimanapun mereka berada, ada atau tidak kesejahteraan, dalam posisi tenang atau genting, jiwa mendidik mereka tidak pernah padam. </p>
<p>Demikianlah seharusnya kualifikasi yang dimiliki oleh seorang guru. Posisi guru saat ini sedang bergeser kepada pemahaman, bahwa guru adalah seorang pengajar yang digaji oleh negara. Kualifikasi yang dimilikipun cukup sebatas yang ditentukan negara. Padahal seharusnya kualifikasi seorang guru tidaklah dibatasi oleh negara, namun lebih dari itu. Sebelum dirumuskan dalam UU Sisdiknas 2003, guru harus sudah mematri jiwanya dengan kualifikasi seorang pemimpin. </p>
<p>Al-Ghazali, menjelaskan bahwa orang alim yang bersedia mengamalkan pengetahuannya adalah orang besar di semua kerajaan langit. Mengutip kitab Ihya `Al-Ghazali yang mengatakan bahwa siapa yang memilih pekerjaan mengajar maka ia sesungguhnya telah memilih pekerjaan besar dan penting. Meski demikian, hubungan guru-murid bukanlah dalam konteks ekonomi seperti seorang pemberi ilmu dan penerima ilmu, atau seperti seorang yang memberi jasa dan penjual jasa, tetapi justru hubungan guru-murid dalam konteks keagamaan atau melakukan perintah Tuhan. Sehingga seorang murid akan menghormati dan menuruti muridnya karena apa yang diajarkan oleh seorang guru adalah ilmu dari Tuhan. Penghormatan itu sama dengan penghormatan terhadap seorang pemimpin, dimana pemimpin adalah seorang yang dianggap memiliki ilmu tentang Tuhan lebih dari rakyatnya. Kesejahteraan yang diberikan pada guru, juga merupakan bentuk penghargaan kepada seorang pemimpin, bukan sekedar gaji atau imbalan. Namun tentu, penghargaan tersebut juga harus diimbangi dengan sikap guru yang layak dihormati bukan karena materinya atau kedudukannya, tetapi karena kepemimpinannya.  </p>
<p>Tentu, seandainya guru di Indonesia mampu meningkatkan jiwa pemimpinnya, maka pendidikan di Indonesia akan semakin maju peradabannya. ***</p>
<p><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<p>http://ath-thullab.blogspot.com/2009/07/kedudukan-guru-dalam-pandangan-islam.html</p>
<p>http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/01/memahami-tentang-kualifikasi-guru.html</p>
<p>http://id.wikipedia.org/wiki/Guru</p>
<p>http://massofa.wordpress.com/2008/10/12/permasalahan-guru-di-indonesia/</p>
<p>*) Prajna Bhadra Darmastuti atau biasa dipanggil Bunda Seno, lahir di Banyumas pada tanggal 31 Januari 1982. Ibu dari Seno Aulia Wijayanto, bekerja sebagai Guru SMK di Kabupaten Kebumen. Menekuni dunia penulisan dan menjadi kontributor, antara lain di buku Mukjizat Doa Ibu (2010) dan Antologi Banyumasan (2011). Selain menulis buku, aktif dalam karya tulis ilmiah bidang psikologi pendidikan dan lingkungan. Beberapa karya tulisnya pernah menjadi finalis di lomba tingkat provinsi dan nasional. Untuk kritik dan saran dapat mengirimkan e-mail bhadra31@gmail.com. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/14/guru-adalah-pemimpin-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BEBAN PSIKOEDUKATIF GURU</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/02/beban-psikoedukatif-guru/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/02/beban-psikoedukatif-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 12:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[beban guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2991</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: YULIANI EKA SAPUTRA PNS di Kecamatan Jiwan Madiun, Jawa Timur Baru-baru ini pemerintah mewacanakan menambah jam mengajar guru dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu. Penambahan jam mengajar itu mengundang polemik di kalangan para guru. Pemerintah beralasan dengan hanya 24 jam per minggu belum sebanding dengan beban kerja aparat birokrasi pemerintah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>YULIANI EKA SAPUTRA</strong><br />
<em>PNS di Kecamatan Jiwan Madiun, Jawa Timur</em></p>
<p><img alt="" src="http://smkpancasila.ppl.fkip.uns.ac.id/files/2011/09/PPL-mendampingi-GurubPamong-Mengajar-di-Kelas.jpg" class="alignleft" width="324" height="241" />Baru-baru ini pemerintah mewacanakan menambah jam  mengajar guru dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu. Penambahan jam mengajar itu mengundang polemik di kalangan para guru. Pemerintah beralasan dengan hanya 24 jam per minggu belum sebanding dengan beban kerja aparat birokrasi pemerintah yang mempunyai jam kerja lebih dari 30 jam per minggu. Lantas apa makna penambahan jam mengajar itu bagi profesi guru?</p>
<p>Pertama, penambahan jam mengajar dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu mencerminkan guru hanya dihargai ketika mengajar. Gaji guru pun dihitung hanya berdasarkan jam mengajar kepada siswa. Jerih payah guru mengerjakan tugas lain yang mendukung pembelajaran tidak termasuk dalam pengajaran. Padahal kegiatan seorang guru tidak hanya pada saat jam mengajar. Sebagai konsekuensi dari pendidik guru juga membuat soal ujian, koreksi, menambah pengetahuan dengan pelatihan, pertemuan kelompok kerja guru (KKG).</p>
<p>Selain itu seorang guru juga diwajibkan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebelum mengajar di depan kelas. Dengan demikian guru tidak dihargai karena disamakan dengan buruh belaka. Kerja keras guru di luar kelas seperti tidak mendapat penghargaan. Semua persiapan yang melelahkan sebelum mengajar di depan kelas cenderung diabaikan. Dengan penambahan jam mengajar itu bisa saja guru kehilangan kreativitas dan proses belajar mengajar tidak menarik.</p>
<p>Kedua, guru tidak dapat disamakan dengan kompetensi profesi lain seperti pegawai kelurahan, buruh, aktivis LSM dan karyawan pabrik. Guru memiliki kompetensi khusus yang sering dikenal dengan panggilan jiwa. Tidak semua orang dapat menjadi  dapat guru sekalipun memiliki jenjang pendidikan yang sama. Jam terbang seorang guru mencerminkan kualitas pengajaran yang dilakukan. Menjadi guru membutuhkan ketekunan profesi dan kompetensi yang tidak dapat dilakukan semua orang. Begitu pun ketika berhadapan dengan beragam karakter siswa membutuhkan seni dan keterampilan tersendiri.</p>
<p>Seorang guru berperan sebagai guru tidak hanya ketika berhadapan dengan siswa dalam proses belajar mengajar melainkan dalam keseluruhan pekerjaan guru. Maka aktivitas seorang guru terjadi baik dalam keadaan mengajar maupun dalam keadaan tidak mengajar karena mengerjakan tugas-tugas lain yang mendukung pembelajaran di kelas. Nyaris tidak banyak waktu tersedia bagi seorang guru ketika menunaikan panggilan profesinya.</p>
<p>Guru pun bekerja 24 jam. Seorang guru akan selalu dipanggil dengan sebutan Pak Guru dan Ibu Guru sekalipun sedang tidak mengajar di depan kelas. Di tengah-tengah masyarakat pun guru tetap melekat panggilan profesinya sehingga guru harus mampu menjadi teladan dan panutan dalam kehidupan bermasyarakat. Tutur kata seorang guru adalah keteladanan. Karena itu kebijakan bagi guru sebenarnya akan berdampak pada pendidikan secara keseluruhan.</p>
<p>Ketiga, seorang guru ketika berangkat ke sekolah dalam otaknya sudah dipersiapkan semua materi yang hendak diajarkan kepada peserta didik. Karena itu bukan seorang guru namanya kalau tidak pernah belajar, jarang membaca,  jarang mencari informasi di internet dan terus mengembangkan diri baik dengan studi lanjutan,  berdiskusi, menghadiri pertemuan-pertemuan guru. Bukan guru namanya kalau tidak pernah membaharui alat-alat peraga pendidikan yang dipergunakan. Dan guru harus terus didorong untuk mengembangkan ilmunya melalui penelitian-penelitian.</p>
<blockquote><p>Karena itu kalau menghitung jam mengajar dan pernak-pernik lain yang mendukung pembelajaran waktu guru sudah amat terbatas. Akan menjadi seperti apa proses pembelajaran ketika jam mengajar guru ditambah dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu. Apakah beban guru tidak kian bertambah berat? Lantas kemanakah para guru yang mempunyai bobot mengajar lebih sedikit seperti Olah Raga, Pendidikan Agama, Geografi? Jelas mereka membutuhkan kelas baru untuk menambah jam mengajar hingga memenuhi standar.</p></blockquote>
<p>Itu pun artinya kalau tidak ada penambahan kelas baru akan membawa dilema. Di satu sisi proses belajar mengajar kian padat bagi siswa yang berarti harus bertatap muka dengan guru melebihi biasanya. Itu tidak hanya membosankan! Melainkan proses pembelajaran bisa kian tidak menarik karena lebih lama dan lebih membutuhkan kreativitas.  Proses belajar mengajar dapat menjadi kering karena guru hadir tanpa persiapan Tanpa kejelian guru membaca peserta didik proses ini bisa sangat membosankan bin menjenuhkan.</p>
<p>Pada sisi yang lain ketika guru-guru harus memenuhi kuota mengajar 27,5 jam per minggu dapat saja mengurangi loyalitas guru karena berarti harus mengajar di tempat lain. Guru-guru PNS harus mengajar di sekolah-sekolah swasta yang tentu akan  berdampak pada etos mengajar guru yang bersangkutan. Tuntutan di sekolah yang berbeda-beda dapat membuat guru stress hanya demi memenuhi kuota mengajar.</p>
<p>Oleh karena itu kebijakan dalam pendidikan sebenarnya hanya dapat diaplikasikan kalau berdampak positif bagi peserta didik. Kebijakan pendidikan tidak dapat lahir dalam konteks eksperimentasi atau coba-coba belaka karena yang dirugikan adalah peserta didik. Setiap bentuk perubahan dalam pendidikan selalu berdampak pada proses belajar mengajar. Dan ketika pembelajaran tidak menarik peserta didiklah yang sangat dirugikan.</p>
<p>Boleh-boleh saja Kemdiknas terus membuat kebijakan termasuk dengan guru karena memang sudah menjadi ciri penting ganti menteri ganti kebijakan. Namun jangan sampai kebijakan itu justru menjadi beban bagu guru. Lagipula kebijakan yang lahir tanpa rencana justru akan menjadi bola liar yang merugikan dunia pendidikan. Terlampau banyak aspek yang hendak diatur menyebabkan kebingungan dalam merumuskan kebijakan yang tepat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/02/beban-psikoedukatif-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEKOLAH, MAMPUKAH MENDIDIK ANTI KORUPSI?</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/02/sekolah-mampukah-mendidik-anti-korupsi/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/02/sekolah-mampukah-mendidik-anti-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 12:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[budaya korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2988</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muh. Muslih Guru MA Ma’arif Borobudur Magelang dan Ketua LP Maarif Muntilan, Magelang Jawa Tengah Adalah Mahfud MD, sang Ketua Mahkamah Konstitusi, yang sangat geram melihat kasus korupsi yang senakin tinggi.&#8221;Akibat korupsi, negara saat ini dalam bahaya.&#8221; katanya beberapa waktu yang lalu seperti dilansir dalam www.mahkamahkonstitusi.go.id (31/1/2011). Berita korupsi tiap hari menghiasi halaman media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Muh. Muslih</strong><em><br />
Guru MA Ma’arif Borobudur Magelang dan Ketua LP Maarif Muntilan, Magelang Jawa Tengah</em></p>
<p><img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d5oQmIKyuw8/S3uZS61vNAI/AAAAAAAAAAc/2diKZG8txvo/S220/foto.jpg" class="alignleft" width="165" height="200" />Adalah Mahfud MD, sang Ketua Mahkamah Konstitusi, yang sangat geram melihat kasus korupsi yang senakin tinggi.&#8221;Akibat korupsi, negara saat ini dalam bahaya.&#8221; katanya beberapa waktu yang lalu seperti dilansir dalam www.mahkamahkonstitusi.go.id (31/1/2011).  </p>
<p>Berita korupsi tiap hari menghiasi halaman media pemberitaan kita. Entah sampai kapan akan berakhir. Bertahun-tahun Indonesia menempati daftar salah satu negara terkorup di dunia. Persepsi masyarakat terhadap kasus korupsi menjadi sangat menyedihkan. Masyarakat menjadi imun alias kebal terhadap kasus korupsi. Sehingga terdapat  opini masyarakat bahwa korupsi telah menjadi budaya bangsa kita sehingga sulit dihilangkan.</p>
<p>Survei yang dilakukan majalah Intisari terhadap 1.044 pembaca mengenai kebiasaan korupsi di masyarakat memperkuat anggapan di atas. Dalam survey itu semua responden setuju bahwa korupsi tergolong tindakan tercela. Tapi sekitar sepertiga responden secara jujur mengakui bahwa mereka bersedia menyuap petugas saat mengurus SIM, KTP, atau ketika ditilang polisi (Intisari,Oktober 2011). Lalu kepada siapa kita bisa berharap untuk mencegah terjadinya korupsi? Jawaban yang paling masuk akal adalah pada sekolah.</p>
<p>Sampai saat ini sekolah masih diyakini sebagai lembaga penyemai benih-benih pengetahuan dan nilai-nilai kebaikan. Lewat pengajaran dan pendidikan ditaburkan nilai-nilai kejujuran, amanah, ketelitian, kerapian dll. Namun di sisi lain masyarakat mengenal para koruptor sebagian besar adalah produk lembaga pendidikan. Ini terlihat dari pelaku-pelaku korupsi dilakukan oleh eksekutif maupun legislative bahkan yudikatif yang nota bene orang-orang berpendidikan. Orang pun bertanya apa peran lembaga pendidikan selama ini dalam pencegahan tindak korupsi?<br />
<strong><br />
Korupsi Kecil di Sekolah</strong><br />
Harapan masyarakat pada sekolah/madrasah terhadap pencegahan korupsi sangatlah tinggi. Namun kenyataannya sekolah memang belum sepenuhnya mampu melaksanakannya. Dalam praktek sekolah sering memberikan contoh yang tidak jujur. Benarkah? Lihat saja praktek-praktek korupsi kecil di sekolah, masih ada guru-guru PNS pulang sebelum waktunya pulang. Bukankah itu korupsi waktu? Apakah para guru selalu mengoreksi PR yang telah mereka berikan pada siswa?  Hal ini penting dalam menanamkan nilai kejujuran dan sportifitas pada anak. Sebab teladan guru lebih berharga dari sekedar himbauan.</p>
<p>Selain itu dalam hal ujian, apakah urusan contek-menyontek sudah mendapat perhatian yang memadai ? Artinya antara si penyontek dan yang di contek telah diberikan pengertian yang mendalam dan mendapat sangsi. Karena tanpa disadari kebiasaan buruk mencontek akan menjadi bibit yang merugikan karakter anak nantinya. Bila tak pernah ada sangsi dari guru, maka anak yang baik dan pintar akan menjadi apatis dalam belajar sebab nilainya akan selalu di bawah mereka yang bodoh namun trampil menyontek. Dan yang bahaya anak akan mempunyai anggapan bahwa perbuatan buruk ( mencontek ) boleh saja dilakukan asal tidak ketahuan orang lain ( guru ). Mungkin para pembaca masih ingat teman-teman anda yang masih rajin menyontek, meski telah menyandang predikat mahasiswa? Atau mungkin anda sendiri pernah menjadi pelakunya? Inilah kelemahan sistem pendidikan kita. Terlalu permisif pada hal-hal yang mestinya prinsip.</p>
<p>Dan yang lebih mengerikan lagi adalah upaya sulapan nilai yang dilakukan oleh beberapa guru agar siswanya bisa lulus dalam EBTANAS tahun 1980an hingga UAN sekarang ini. Kasus yang diindikasikan sebagai upaya menyontek masal dalam ujian nasional 2011 di Surabaya beberapa waktu lalu mungkin bisa kita kaitkan dengan fakta ini. Kalau ini nampaknya sudah terstruktur, mulai dari pejabat birokrasi pendidikan hingga kepala sekolah dan guru sebagai pelaksananya. Maka jangan heran bila mutu pendidikan kita tak kunjung meningkat karena nilainya hanya sulapan saja. Jadi ibarat makan buah simalakama, dimakan bapak mati tak dimakan emak mati. Tak dilakukan banyak anak tak lulus, kalau dilakukan berarti berlaku tidak jujur. Terus kapan kita akan mendidik anak anti korupsi? Tentu jawabnya adalah sejak dini..<br />
<strong><br />
Mendidik Anti Korupsi Sejak Dini</strong><br />
Sejak anak dilahirkan mereka perlu mendapatkan pendidikan karakter atau akhlak mulia. Pembiasaan nilai-nilai keagamaan yang sarat dengan nilai-nilai anti korupsi sangat ber pengaruh dalam pembentukan karakter mereka. Sejak lahir hingga usia 8 tahun merupakan masa keemasan dalam pembelajaran. Masa itu sering diistilahkan the golden age oleh para pakar psikologi dan neurologi dimana anak paling gampang dibentuk. Di sini anak dalam taraf belajar yang paling alamiah, termasuk dalam menerima nilai-nilai anti korupsi. Guru-guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), TK dan SD bersama orang tua menjadi tulang punggung keberhasilan mendidik anti korupsi pada usia ini. Inti dari pendidikan anti korupsi adalah mengajarkan kejujuran. Sebab pangkal korupsi adalah ketidak jujuran terhadap nurani..</p>
<p>Ada tiga tingkatan dalam menerima pembelajaran, yaitu tingkatan perasaan, tingkatan pemahaman dan tingkatan ungkapan (Intisari, Mei 2004). Pada tingkatan perasaan, anak akan mendengarkan apa saja yang diberikan padanya. Anak seperti ini seolah-olah merupakan anak yang patuh, tidak neko-neko. Namun pada dasarnya anak telah mengenal rasa senang, sedih, jengkel, dll. Hati-hati dengan kebiasaan orang tua yang sering berjanji, namun tak menepati. Secara tak langsung itu adalah pembelajaran kebohongan pada anak kita. Seringkali untuk membujuk anak yang menangis orang tua berkata,”Ayo,diamlah, nak, nanti ibu belikan permen.” Setelah sang anak terdiam ternyata sang bunda lupa dengan janjinya. Kadang-kadang seorang bapak yang kecapekan pulang kerja berkata pada anaknya,” Nak, nanti kalau Pak RT datang atau telepon mengajak kerja bakti, katakan bapak sedang tidak ada, ya!. Bila sang anak sudah tak protes dengan perilaku bapaknya itu, maka berarti dalam diri anak sudah ada bisa memahami perlunya berbohong. Sebenarnya orang tua yang bijak akan mengatakan pada anaknya, “Nak, kalau ada telepon atau Pak RT datang, tolong katakana Bapak sedang capek sekali, tidak bisa ikut kegiatan saat ini.” Itu akan lebih jujur dan memberi teladan baik pada anak. Di sekolah, guru yang tak pernah mengoreksi PR siswa, akan diterima dengan perasaaan jengkel dan akan menimbulkan apatisme anak. Bila guru tidak fair sesungguhnya ia menggambarkan dirinya sebagai model yang buruk. </p>
<blockquote><p>Bila perilaku tidak jujur dan curang terus menerus diterima siswa, maka ia akan memahami bahwa tidak jujur dan curang itu kadang-kadang perlu, karena itu akan menguntunmgkan dirinya. Inilah yang dimaksud dengan tahap selanjutnya, yakni tingkatan pemahaman. Pada  tahap ini anak akan memperhatikan berbagai cara orang memberikan pelajaran. Anak mampu membedakan mana perintah yang perlu diturut atau dibantah. Dengan panca inderanya mereka mampu mengolah pelajaran bukan hanya yang diberikan namun juga bisa menggabungkan dengan apa yang mereka lihat, alami dalam kehidupan sehari-hari. Hati-hati dengan contoh-contoh buruk yang anda berikan pada mereka. Anak akan mencatatnya dengan pemahamannya sendiri. Termasuk nilai-nilai sidiq ( kejujuran ) dan amanah ( bisa dipercaya ) akan tertanam lewat pemahaman mereka atas perilaku orang tua atau guru pada mereka.</p></blockquote>
<p>Untuk tingkatan ungkapan atau ekspresi, mereka umumnya memperhatikan orang tua atau guru memberikan pelajaran dan mencari tahu makna dari pelajaran itu. Anak seperti ini tak akan tinggal diam bila yang dipelajari dan dirasakannya tidak sama. Orang dewasa kadang kewalahan menghadapi anak pada tingkatan ini. Misalnya, ketika ia harus belajar dan tak boleh menonton TV sementara orang tuanya tetap asyik memelototi TV. Pelajaran ini akan masuk dalam konsep pengetahuan si anak, bahwa perintah / larangan yang dikeluarkan ternyata tidak berlaku bagi si pembuat keputusan. </p>
<p>Demikian pula kasus guru yang tidak mengoreksi PR. Mereka akan memiliki konsep bahwa orang yang berkuasa (dalam hal ini guru) boleh melakukan sekehendak hatinya.Karena dendam, anak merindukan dirinya memiliki kekuasaan kelak dan berlaku seenaknya. Maka pada tingkatan ekspresif ini, anak yang sebenarnya baik, namun karena pengalaman dalam ulangan-ulangan yang diadakan dalam suasana permisif, teman-temannya yang mencontek justru mendapat nilai lebih baik dan tidak mendapat sangsi dari guru bisa menyebabkan si anak baik menjadi ikut curang atau kurang percaya diri. </p>
<p>Untuk itu peran guru di sekolah sangat menentukan bagi pembentukan mental anti korupsi. Ia adalah model bagi anak yang sedang menuju masa kedewasaan. Maka sungguh bijak adanya peribahasa Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari. Kalau guru sebagi model saja tidak disiplin, tidak jujur, dan tidak adil bagaimana anak didiknya? Tentu kita berharap dengan dikembangkannya pendidikan karakter mulai dari Pra-TK hingga mahasiswa menyadarkan guru untuk lebih hati-hati dalam mendidik anak-anak bangsa ini. Lebih baik mencegah korupsi daripada membasmi. Dan itulah tugas sekolah..Untuk itu sekolah sebagai tempat menyemai nilai-nilai itu tentulah harus memberikan teladan bagi siswa dalam praktek penanamannya. Keberhasilan sekolah tidak hanya terwujud dalam real curriculum ( kurikulum nampak ) seperti yang tertuang dalam nilai-nilai pelajaran mereka, namun masyarakat juga mengharapkan keberhasilan dalam hidden curriculum ( kurikulum tersembunyi ) yang tercermin dalam perilaku siswa atau lebih dikenal sebagai pendidikan karakter seperti kejujuran, amanah, sopan santun, sportif dll. Semoga sekolah bisa mewujudkan harapan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/02/sekolah-mampukah-mendidik-anti-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GURU DAN REDESAIN OTONOMI EDUKATIF</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/26/guru-dan-redesain-otonomi-edukatif/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/26/guru-dan-redesain-otonomi-edukatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 13:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ari kristianawati]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2980</guid>
		<description><![CDATA[ARI KRISTIANAWATI Guru, Koordinator Kajian Filsafat Sosial dan Anggota Agupena Jateng Peran guru dalam denyut program peningkatan kecerdasan bangsa, tidak bisa dipandang sebelah mata. Guru menjadi soko guru aktivasi edukasi publik ke arah pencerdasan kolektif masyarakat. Guru saat ini realitas kesejahteraan sosial-ekonomi mengalami peningkatan yang signifikan dengan dilaksanakannya program sertifikasi. Program sertifikasi yang memandatkan pemberian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ARI KRISTIANAWATI<br />
Guru, Koordinator Kajian Filsafat Sosial dan Anggota Agupena Jateng</p>
<p><img alt="" src="http://agupena.org/wp/wp-content/uploads/2010/11/images.jpg" class="alignleft" width="99" height="98" />Peran guru dalam denyut program peningkatan kecerdasan bangsa, tidak bisa dipandang sebelah mata. Guru menjadi soko guru aktivasi edukasi publik  ke arah pencerdasan kolektif masyarakat.</p>
<p>Guru saat ini realitas kesejahteraan sosial-ekonomi mengalami peningkatan yang signifikan dengan dilaksanakannya program sertifikasi. Program sertifikasi yang memandatkan pemberian tunjangan satu kali gaji pokok bagi guru yang lulus dalam proses  penyertifikatan sebagai guru profesional. Meski dalam realitas kucuran tunjangan sertifikasi mengalami kemandegan karena faktor birokrasi.</p>
<blockquote><p>Penghargaan profesi guru dengan tunjangan sertifikasi, sayangnya mendapatkan kritik dan sinisme sosial dari berbagai kelompok sosial yang tidak memahami peran eksistensial guru dalam program pendidikan nasional. Guru yang lulus sertifikasi dibebani prasangka sosiologis sebagai tenaga edukatif yang belum profesional dengan melihat dimensi kinerja guru dalam relasi pembelajaran.</p></blockquote>
<p>Banyak pihak yang menganggap guru yang telah mengantongi lisensi profesional belum mampu mengangkat kualitas pendidikan nasional. Standar kualitas pendidikan nasional dianggap berjalan ditempat seiring dengan lambatnya peningkatan kualitas Indeks pembangunan manusia (IPM).</p>
<p>Saat ini kurang lebih 850 ribu guru dari 2,5 juta guru telah tersertifikasi sebagai tenaga edukatif yang profesional. Tenaga edukatif yang berhak menerima tunjangan profesi, meski jadwal dan besaran anggaran yang dikucurkan sering tidak akuntabel. Beda nasib dengan tunjangan remunerasi yang diterima oleh PNS kementerian keuangan, kementeran agama atau kementerian pertahanan dan keamanan yang diterima utuh setiap bulannya.</p>
<p>Masih rendahnya kualitas pendidikan nasional, sering ditimpakan beban kesalahan pada kinerja dan fungsi guru. Guru diniscayakan sebagai kekuatan edukatif yang bertanggung-jawab terhadap mutu dan produk kualitas pendidikan nasional.</p>
<p>Sebuah anggapan yangs alah kaprah karena menurun atau meningkatnya kualitas pendidikan nasional ditentukan oleh multifaktor yang sifatnya makro dan mikro. Diantaranya arah politik pendidikan nasional, strategi pembelajaran nasional, orientasi ideologi pendidikan, kualitas infrastruktur penganggaran dan fisikal pendidikan nasional.</p>
<p>Guru dalam skenario politik pendidikan hanyalah eksekutor dari kurikulum pendidikan yang telah didesain oleh pengambil kekuasaan atas kebijakan (<em>power to wisdom</em>). Guru hanyalah &#8220;robot&#8221; kurikulum yang tidak memiliki otonomi penuh untuk merangkai materi pembelajaran yang transformatif.</p>
<p>Gagasan otonomi guru sebagai elemen vital pendidikan, hanyalah dalam imajinasi sosial yang diharapkan oleh guru yang berfikir independen dan berorientasi mengabdi pada dunia pendidikan bangsa ini.</p>
<p>Otonomi guru dalam realitas dimasukkan dalam &#8220;rumah kaca&#8221; politik kurikulum yang mengadopsi kepentingan pasar dan kekuasan. Meminjam terminologi Michael Foucoult didalam pendidikan ada dimensi power (kekuasaan). Kekuasan beserta seperangkat nilainya memasung kebebasan akademik dan independensi sosial para pelaku pendidikan partisipatorik.</p>
<p>Guru saat ini memang sejahtera ekonomi&#8212;-dalam stereotype masyarakat awam&#8212;-namun belum mendapatkan kekuatan otonomi sebagai pendidik. Hak otonomi guru sebagai pendidik bukanlah semata hak guru untuk  menyusun rencana pokok pembelajaran (RPP) atau membuat inovasi bahan mentah pelajaran. Atau hak &#8220;politis&#8221; guru menjalankan kepentingan berorganisasi dan berserikat.</p>
<p>Otonomi guru yang kreatif adalah ketika guru tidak dijadikan robot kurikulum dan robot kepentingan politik kuasa atas pendidikan. Guru tidak boleh sekadar sebagai juru penyampai materi ajar yang mencontek atau menurut kerangka besar kurikulum yang telah terkuasai kepentingan kekuasaan. Guru bukan hanya sebagai pegawai pemerintah daerah atau pusat yang dipaksa untuk menyukseskan kepentingan kekuasaan yang ambisius untuk mencipta data statistik kemajuan pendidikan.</p>
<blockquote><p>Guru dalam tangkup otonomi edukatif tidak boleh lagi diperalat untuk memanipulasi hasil pembelajaran siswa, tidak boleh dijadikan alat untuk menjalankan praktek bisnis pendidikan disekolah. Guru sepenuhnya harus ditempatkan sebagai kekuatan edukatif untuk mendidik masyarakat.
</p></blockquote>
<p>Guru dalam desain otonomi edukatif memiliki peran vital sebagai tenaga penyampai ilmu pengetahuan atau transfer pengetahuan serta menjadi fasilitator pendidikan karakter bagi siswa, dengan kesuri-tauladanan subjektif. Guru ditempatkan menjadi bagian dari proses pendidikan yang liberatif. Pendidikan yang menjadikan siswa dan  elemen pendidikan sebagai komponen penting pendidikan yang membebaskan (Paulo Freire, 1983).</p>
<p>Guru kini seharusnya diposisikan menjadi kekuatan mediasi yang menjembatani kepentingan siswa dan kepentingan diseminasi ilmu pengetahuan yang membawa kemaslahatan bagi manusia dan kemanusiaan.    </p>
<p>Janganlah memberi guru &#8220;kue ekonomi&#8221; namun merampas &#8220;martabat&#8221; sosiologisnya. Tunjangan sertifikasi guru telah mencabut mitos guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, karena standar kesejahteraan yang<br />
meningkat. Namun jangan jadikan alat untuk menjadikan guru kehilangan<br />
ruh kekritisan terhadap keadaan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/26/guru-dan-redesain-otonomi-edukatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KDRT, Tersembunyi dan Menghancurkan</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/16/kdrt-tersembunyi-dan-menghancurkan/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/16/kdrt-tersembunyi-dan-menghancurkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 14:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Tria marhaeni. KDRT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2972</guid>
		<description><![CDATA[Tri Marhaeni Pudji Astuti Dosen Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Unnes. KEKERASAN dalam rumah tangga (KDRT) bukanlah masalah baru. Tampaknya usianya sama tuanya dengan usia manusia itu sendiri. Ketika pemerintah mengesahkan UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, muncul harapan pastilah tak ada lagi kekerasan yang terjadi di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Tri Marhaeni Pudji Astuti</strong></span><br />
<span style="color: #ff0000;"> <em>Dosen Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Unnes.</em></span></p>
<p><img class="alignleft" src="http://bp2munnes.com/wp-content/uploads/2011/03/IMG_04651.jpg" alt="" width="201" height="300" />KEKERASAN dalam rumah tangga (KDRT) bukanlah masalah baru. Tampaknya usianya sama tuanya dengan usia manusia itu sendiri. Ketika pemerintah mengesahkan UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, muncul harapan pastilah tak ada lagi kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga.</p>
<p>Ternyata harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Kasus KDRT masih berseliweran dalam pemberitaan media massa, dengan berbagai ragam, pola, jenis, dan bentuk penyelesaiannya.</p>
<p>Sebenarnya UU NO 23 tahun 2004 bukanlah alat atau senjata para istri untuk ’’memenjarakan’’ para suami yang melakukan kekerasan. Undang-Undang ini tujuan utamanya adalah mewujudkan keharmonisan rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan yang nondiskriminatif. Artinya, siapa pun, baik suami maupun istri dan orang-orang yang mempunyai hubungan saudara dan tinggal dalam lingkup satu rumah tangga, boleh saja mengacu pada UU No 23 tahun 2004, jika mereka mengalami KDRT.</p>
<blockquote><p>Jadi, sangat salah jika Undang-Undang tersebut hanya diperuntukkan bagi kaum perempuan saja. Faktanya yang dapat melakukan kekerasan adalah bisa saja laki-laki atau perempuan. Korbannya juga bisa laki-laki atau perempuan.</p></blockquote>
<p>Mengapa seolah-olah UU No 23 tahun 2004 diperuntukkan bagi kaum perempuan? Karena secara statistik korban terbanyak adalah perempuan. Namun undang-undang ini tidaklah diskriminatif. Laki-laki yang mengalami KDRT juga boleh memakainya.</p>
<p><strong>Konstruksi Sosial</strong><br />
Konstruksi sosial tentang kekerasan dalam rumah tangga belum beranjak dari pandangan yang sangat patriarkat. Kesan bahwa perempuan/istri adalah ’’milik’’ laki-laki —maka bebas diperlakukan apa saja oleh pemiliknya— menjadi salah satu pemicu terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga.</p>
<p>Konstruksi sosial bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi terhadap perempuan adalah karena kesalahan perempuan itu sendiri, yang dinilai sangat dominan dalam menciptakan peluang dan kesempatan, menandakan bahwa budaya patriarkat dan pemahaman masyarakat belum bergeser dari blue-print yang ada.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://batam.tribunnews.com/foto/bank/images/KDRT.jpg" alt="" width="290" height="222" /><img class="alignleft" src="http://gideonidea.files.wordpress.com/2009/04/verbal-abuse-33.jpg" alt="" width="290" height="222" />Tindak kekerasan terhadap perempuan dan terhadap siapa saja, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, adalah bentuk kejahatan kemanusiaan dan pengingkaran hak-hak atas sekelompok manusia yang menjadi korban. Banyak kendala dalam mengungkap kasus KDRT karena kasusnya bagaikan lingkaran surga dan neraka. Terkadang pada siang hari menjadi neraka bagi korban, malam hari justru pelaku menciptakan surga, sehingga melemahkan korban (yang umumnya perempuan). Masih ditambah berbagai persoalan lain, seperti tekanan keluarga, tetangga, atasan, status sosial, pristise, jabatan, pendidikan, sehingga makin menambah sulitnya korban memutus lingkaran tersebut.</p>
<p><strong>Menghancurkan</strong><br />
Berbagai macam bentuk KDRT yang dialami korban, dan ini adalah fenomena seperti ’’antara ada dan tiada’’ menjadi hal yang sangat menghancurkan. Perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga akan merasa mengalami banyak tekanan psikis, yang tak jarang tekanan ini akan menghancurkan dirinya secara fisik dan psikis.</p>
<p>Perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga menyandang beban slogan ’’ibu rumah tangga yang baik’’, ’’istri yang setia dan patuh pada suami’’, ’’istri yang menjaga kehormatan keluarga’’, serta berbagai slogan lain yang menempatkan posisi perempuan pada sudut untuk selalu mengalah dan nrima.</p>
<p>Beratnya beban slogan yang disandang perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga menjadikan mereka mengalami tekanan mental, depresi dan gamang dalam bertindak. Tak jarang mereka bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan mungkin juga sampai mengalami gangguan jiwa.</p>
<p>Terlebih lagi jika yang dialami perempuan adalah kekerasan psikis yang susah untuk dibuktikan tapi mereka mengalaminya. Seperti penghinaan dari suami yang terus menerus, pengingkaran eksistensi, cemoohan, dan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar.</p>
<p>Hal ini semakin membuat para perempuan seperti orang linglung tak tahu harus berbuat apa. Bentuk dan dampak KDRT memang beragam. Dampak fisik mungkin akan dapat disembuhkan dengan pertolongan rekonstruksi medis, akan tetapi dampak psikis akan sulit disembuhkan, tak jarang masih membekas dan menimbulkan trauma. Sementara para korban berkutat dengan penderitannya, di pundaknya tetap harus disandang slogan yang indah-indah tersebut. Ini persolaan berat bagi perempuan.</p>
<p>Ancaman lain bagi korban KDRT ketika mereka berani melaporkan kasusnya adalah banyaknya tekanan dari pihak-pihak yang berkepantingan dengan status mereka, dengan kedudukan mereka, dan dengan kelas mereka. Tekanan dan ancaman seringkali diterima perempuan korban KDRT yang berani melaporkan kasusnya, sehingga mereka terpaksa mencabut laporannya, meskipun sudah diproses oleh kepolisian.</p>
<p>Bagi saya, tetap kepentingan korban yang harus dinomorsatukan. Kalau pencabutan laporan memang membawa kebaikan dan perubahan yang berdampak terjadinya keharmonisan bagi rumah tangga korban, maka saya mendukung. Dan saya pikir aparat kepolisisan juga mendukung. Namun ternyata banyak kasus pencabutan laporan adalah karena tekanan, ancaman terhadap korban KDRT. Inilah yang saya tidak mendukung. Artinya bentuk-bentuk ancaman, tekanan, dan penganiayaan adalah bentuk-bentuk kejahatan hak asasi manusia, sehingga ini yang harus ditangani, agar rasa keadilan korban terlindungi. (24)</p>
<p>Sumber : Suara Merdeka</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/16/kdrt-tersembunyi-dan-menghancurkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaum Muda, Kekerasan, dan Perubahan Sosial</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/12/kaum-muda-kekerasan-dan-perubahan-sosial/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/12/kaum-muda-kekerasan-dan-perubahan-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 05:44:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Dewan Kesenian Kendal. Sawali]]></category>
		<category><![CDATA[sawali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2960</guid>
		<description><![CDATA[Drs. Sawali, M.Pd. Sekum Dewan Kesenian Kabupaten Kendal, Pengurus Agupena Pusat Apa yang akan terjadi dengan masa depan negeri ini kalau kaum mudanya gemar tawuran? Bisakah perubahan sosial yang didambakan memberikan pencerahan ketika prosesnya selalu diwarnai darah dan air mata? Ini sepenggal pertanyaan menyesak di dada ketika menyaksikan makin maraknya perilaku kaum muda (mahasiswa) kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Drs. Sawali, M.Pd.</strong><br />
Sekum Dewan Kesenian Kabupaten Kendal, Pengurus Agupena Pusat </p>
<p><img alt="" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/fotoku.jpg?t=1310755988" class="alignleft" width="300" height="308" />Apa yang akan terjadi dengan masa depan negeri ini kalau kaum mudanya gemar tawuran? Bisakah perubahan sosial yang didambakan memberikan pencerahan ketika prosesnya selalu diwarnai darah dan air mata? Ini sepenggal pertanyaan menyesak di dada ketika menyaksikan makin maraknya perilaku kaum muda (mahasiswa) kita yang suka “memanjakan” naluri agresivitasnya. Mereka bukannya getol memperjuangkan idealisme melalui mimbar akademik yang sarat dengan debat dan argumentasi bermutu, melainkan justru suka pamer otot dengan membawa batu dan pentungan untuk menyakiti sesamanya.</p>
<p>Peran kaum muda dalam setiap perubahan sosial yang terjadi sejak awal kemerdekaan hingga era reformasi memang tak seorang pun yang bisa membantahnya. Peran mereka yang mengagumkan dalam melahirkan gerakan-gerakan pro-rakyat juga sulit untuk dipungkiri. Meski demikian, kita juga sulit untuk menghindari munculnya stigma kaum muda sebagai “pionir” kekerasan ketika belakangan ini sebagian fakta berdarah-darah di ruang publik juga dipicu oleh kaum muda.</p>
<p>Dalam terminologi sosial, kaum muda (mahasiswa) sejatinya bisa digolongkan sebagai kalangan klas menengah yang senantiasa berdiri di garda depan dalam melakukan perubahan sosial. Peran mereka sebagai “motor” penggerak perubahan benar-benar teruji oleh sejarah. Soempah Pemoeda, misalnya, benar-benar momentum bersejarah ketika dengan amat sadar kaum muda saat itu mampu menanggalkan nilai-nilai primordialisme berbasis kesukuan yang masih kuat melekat di berbagai etnis di negeri ini. Dengan pandangan visioner untuk mewujudkan sebuah negeri yang terhormat dan bermartabat, mereka berikrar untuk mengikat nilai-nilai kesukuan menjadi sebuah kekuatan dahsyat untuk menyatukan berbagai suku, bahasa, dan berbagai perbedaan menjadi sebuah bangsa yang multinetik, multibahasa, dan multikultur.</p>
<p>sumpah pemudaKilas balik sejarah ini penting kita kemukakan sebagai manifestasi ingatan kolektif bangsa yang tidak akan pernah melupakan peristiwa besar itu. Kaum muda (mahasiswa) yang saat ini masih suka “memanjakan” naluri agresivitasnya di jalanan perlu banyak menimba ilmu dari para “founding fathers”. Kearifan para pendahulu negeri yang telah berhasil menorehkan tinta emas dalam prasasti sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara perlu dijadikan sebagai kiblat dan “khittah” kaum muda dalam memperjuangkan sebuah perubahan sosial tanpa pamrih. Sungguh, di alam keabadiannya, bisa jadi mereka akan terus menangis dan meratap ketika ide besar untuk menyatukan nilai-nilai kesukuan dan primordialisme yang sudah berhasil diwujudkan pada akhirnya harus porak-poranda akibat penafsiran sempit dan sesaat terhadap makna nasionalisme sejati.</p>
<p>    Maraknya aksi kekerasan yang dengan vulgar ditampilkan oleh kaum muda (mahasiswa) kita di ruang-ruang publik belakangan ini jelas amat tidak menguntungkan, baik bagi kaum muda sendiri maupun idealisme yang hendak mereka perjuangkan. Sungguh terlalu naif kalau proses reformasi dan demokratisasi dibawa-bawa dalam aksi demo yang sarat dengan ulah destruktif dan vandalisme semacam itu. Terlalu picik juga kalau reformasi dijadikan sebagai topeng untuk melakukan aksi-aksi perusakan yang ujung-ujungnya hanya melahirkan sejumlah masalah yang kian rumit dan kompleks. </p>
<p>Tiga belas tahun sudah reformasi bergulir. Namun, secara jujur mesti diakui, perubahan sosial yang didambakan untuk mewujudkan tatanan hidup berbangsa dan bernegara yang aman, damai, makmur, dan adil, justru kian menjauh dari substansi yang sesungguhnya. Maraknya korupsi, meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran, atau amburadulnya upaya penegakan hukum, merupakan persoalan serius yang tidak akan pernah selesai dituntaskan hanya dengan berteriak dan berdemo secara anarkhis.</p>
<p>Kaum muda memang perlu menyuarakan berbagai ketimpangan dan kesenjangan sosial secara masif dan terus-menerus untuk mendorong para pengambil kebijakan agar benar-benar berpihak pada rakyat. Kaum muda juga perlu terus berjuang untuk “melawan” upaya sistemik yang hendak menggagalkan agenda-agenda pemberantasan korupsi, pemberangusan kemiskinan dan pengangguran, atau mandulnya penegakan supremasi hukum. Namun, sekali lagi, agenda-agenda besar semacam itu tak akan pernah bisa terwujud jika cara-cara purba yang sarat dengan kekerasan, darah, dan air mata, masih terus berlangsung. Kini, setelah Sumpah Pemuda memasuki usia ke-83, kaum muda kita perlu segera kembali ke “khittah” perjuangan untuk mewujudkan tatanan hidup berbangsa dan bernegara dengan cara-cara yang penuh empati dan sejauh mungkin meninggalkan aksi-aksi kekerasan.</p>
<p>Nah, Dirgahayu Sumpah Pemuda, semoga Tuhan tak akan pernah berhenti menurunkan rahmat-Nya di negeri yang besar ini dan senantiasa memberikan teguran kepada mereka yang dengan amat sadar melakukan tindakan zalim dan menyengsarakan rakyat. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/12/kaum-muda-kekerasan-dan-perubahan-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PGRI dan Fenomena &#8220;Maraknya&#8221; Organisasi Guru</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/12/pgri-dan-fenomena-maraknya-organisasi-guru/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/12/pgri-dan-fenomena-maraknya-organisasi-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 05:31:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[pgri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2954</guid>
		<description><![CDATA[Deni Kurniawan As&#8217;ari Pemerhati Organisasi Guru, ikut di beberapa organisasi guru Angin reformasi 1998&#8212;-13 tahun silam&#8212;-berhembus kencang ke semua lini. Tidak hanya dunia politik yang terkena dampaknya, dengan menjamurnya partai politik, juga berimbas kepada dunia pendidikan terutama organisasi guru. Kalau dulu para guru diwadahi oleh organisasi PGRI. Maka kini, bak cendawan di musim penghujan bermunculan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Deni Kurniawan As&#8217;ari</strong><br />
<em>Pemerhati Organisasi Guru</em>, ikut di beberapa organisasi guru</p>
<p><img alt="" src="http://www.pgri.or.id/foto/5100_9952.JPG" class="alignleft" width="584" height="261" />Angin reformasi 1998&#8212;-13 tahun silam&#8212;-berhembus kencang ke semua lini. Tidak hanya dunia politik yang terkena dampaknya, dengan menjamurnya  partai politik, juga berimbas kepada dunia pendidikan terutama organisasi guru. Kalau dulu para guru diwadahi oleh organisasi PGRI. Maka kini,  <em>bak cendawan di musim penghujan </em>bermunculan organisasi yang mengatasnamakan guru. </p>
<p>Fenomena lahirnya pelbagai wadah guru itu tidak lepas dari payung hukum yang manaunginya. UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 pada bagian kesembilan tentang Organisasi Profesi dan Kode Etik pasal 41 berbunyi :  (1) Guru dapat membentuk organisasi profesi yang bersifat independen,  (2) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengabdian kepada masyarakat. (3) guru wajib menjadi anggota suatu organisasi profesi. (4) Pembentukan organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat memfasilitasi organisasi profesi guru dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi guru. Selanjutnya pada pasal 42 ditegaskan organisasi profesi guru mempunyai kewenangan: a) menetapkan dan menegakkan kode etik guru; b) memberikan bantuan hukum kepada guru; c) memberikan perlindungan profesi kepada guru yang menjadi anggota;d) melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru yang menjadi anggota; dan e) memajukan pendidikan nasional.</p>
<p>Nah, jelas sudah bahwa aturan itu membolehkan para guru untuk membentuk dan mengikuti organisasi guru apa saja. Tidak ada satu kalimat pun yang mengharuskan guru untuk menjadi anggota organisasi profesi tertentu, termasuk PGRI yang selama ini telah eksis,  hadir dan berkiprah lama &#8212;-PGRI lahir pada 25 November 1945&#8212;-. Dalam implementasinya, saya pun melihat bahwa pemerintah &#8212;dalam hal ini kemdiknas atau kemdikbud&#8212; memberi ruang yang begitu luasnya kepada para guru untuk membentuk organisasi baru. Contoh yang terkini dihadirinya <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.klubguru.com/2-view.php?subaction=showfull&#038;id=1308807300&#038;archive=&#038;start_from=&#038;ucat=7&#038;">kongres IGI</a> oleh mendiknas dan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://wijayalabs.blogdetik.com/2011/06/29/organisasi-guru-harus-dipimpin-oleh-guru/">pembentukan FSGI</a> yang dibuka wamendiknas. </p>
<p><strong>Dari Organisasi Guru Lokal Hingga Nasional</strong><br />
Sepengetahuan saya, ada lebih dari tiga puluh organisasi guru yang ada saat ini. Memang, ada yang betul-betul eksis dan ada pula yang hanya sekedar papan nama. Organisasi guru yang dimaksud adalah organisasi yang menggunakan kata guru, beranggotakan guru dan memiliki tujuan meningkatkan profesi dan kesejahteraan para guru. </p>
<p>1. Forum Interaksi Guru Banyumas<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Figurmas"> (Figurmas)</a><br />
2. Asosiasi Guru Nangroe Aceh Darrusalam <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://aceh.tribunnews.com/news/view/59136/asgu-nad-adakan-seminar-pendidikan">(Asgu-NAD)</a><br />
3. Ikatan Guru Honorer Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://international.okezone.com/read/2008/04/10/1/99361/honor-tak-layak-400-guru-di-padang-demo">(IGHI)</a> Padang-Sumbar<br />
4. Forum Martabat Guru Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.antaranews.com/berita/264646/fmgi-membuka-indeks-kejujuran-un-majukan-pendidikan">(FMGI) </a>Lampung<br />
5. Jakarta Teachers Club (JTC)-Jakarta<br />
6. Forum Aspirasi Guru Independen (FAGI) Kota Bandung<br />
7. Forum Aspirasi Guru Independen (FAGI) Kabupaten Bandung<br />
8. Forum Aspirasi Guru Independen (FAGI) Subang<br />
9. Forum Aspirasi Guru Independen (FAGI) Purwakarta<br />
10. Forum Aspirasi Guru Independen (FAGI) Sumedang<br />
11. Forum Komunikasi Guru Tangerang (FKG)<br />
12. Forum Guru-Guru Garut (FOGGAR)<br />
13. Forum Guru Tasikmalaya (FGT)<br />
14. Solidaritas Guru Semarang (Sogus)<br />
15. Forum Komunikasi Guru Kota Malang (Fokus Guru)<br />
16. Perhimpunan Guru Tidak Tetap (PGTTI) Kediri<br />
17. Aliansi Guru Nasional Indonesia (AGNI) Jawa Timur<br />
18. Perhimpunan Guru Mahardika Indonesia (PGMI)-Lombok<br />
19. Forum Guru Honorer Indonesia (FGHI) Jakarta</p>
<p>20. Persatuan Guru Republik Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://pgri.or.id">(PGRI)</a><br />
21. Asosiasi Guru Sains Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://agsi.or.id/html/index.php">(AGSI)</a><br />
22. Asosiasi Guru Ekonomi Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://asosiasiguruekonomi.org/">(AGEI)</a><br />
23. Asosiasi Guru Otomotif Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://agtoindonesia.blogspot.com/">(AGTOI)</a><br />
24. Asosiasi Guru Matematika Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.agmi.or.id/">(AGMI)</a><br />
25. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://dpdagpaiikotayogya.blogspot.com/">(AGMI)</a><br />
26. Asosiasi Guru PENULIS Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://agupena.org">(AGUPENA)</a><br />
27. Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0609/10/nas8.htm">(PGSI)</a><br />
28. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.pp-pergunu.com/">(PERGUNU) </a><br />
29. Persatuan Guru Honor Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://pghi.webnode.com/sejarah-singkat-pghi/">(PGHI)</a><br />
30. Federasi Guru Independen Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://federasiguru.blogspot.com/">(FGII)</a><br />
31. Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI)<br />
32. Persatuan Guru Madrasah Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://guru.blogdetik.com/profile/struktur-organisasi-pgm/">(PGMI) </a><br />
33. Ikatan Guru Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.klubguru.com/">(IGI)</a><br />
34. Federasi Serikat Guru Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://wartaonline.com/news/organisasi-guri-baru-diberi-nama-federasi-serikat-guru-indonesia-6743/">(FSGI)</a><br />
35. Persatuan Guru Seluruh Indonesia <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://cpns.kemdiknas.go.id/list_berita/2011/7/8/sertifikasi-guru.aspx">(PGSI)</a></p>
<p>Apakah dengan maraknya organisasi tersebut menunjukkan bahwa PGRI selama ini kurang berperan? Maka di sini ada dua kemungkinan jawaban. Bisa ya, bisa pula tidak. <em>Pertama</em>, munculnya organisasi baru itu bisa jadi sebagai indikasi karena melihat PGRI selama ini kurang optimal dalam memerankan dirinya sebagai organisasi profesi yang menaungi para guru.  PGRI dinilai masih belum fokus dalam meningkatkan mutu dan kualitas para guru. PGRI masih saja bergerak di tataran politis kebijakan, di mana para elite-nya banyak yang menjadi anggota DPD dan pejabat. Ada semacam keprihatinan dari sebagian para guru terhadap kinerja pengurus PGRI yang ditengarai belum optimal. Sehingga kemudian mereka membentuk organisasi sendiri. Apalagi pemerintah memang memberi peluang dan kesempatan yang luas untuk hal itu.  </p>
<p><em>Kedua</em>, jawabannya tidak. Mengingat PGRI selama ini telah banyak berkiprah untuk membenahi dan memperjuangkan kepentingan para guru. Bentuk riil yang berhasil ditelorkan PGRI diantaranya berjuang untuk mengalokasikan anggaran pendidikan 20 persen, UU Guru dan Dosen, Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan, PP Tentang Guru, Kesejahteraan Guru dan Peningkatan Profesi Guru. Semua itu merupakan investasi besar PGRI untuk para guru. Hanya saja, persoalan guru dan pendidikan sedemikian kompleks sehingga PGRI rupanya belum mampu memerankan semuanya secara optimal.<br />
<strong><br />
Perlunya Bersinergi</strong></p>
<blockquote><p>Akhirnya memiliki organisasi tunggal dalam wadah PGRI sepertinya sudah tidak mungkin karena aturan main (<em>rule of the game</em>) mendorong  guru memiliki banyak organisasi. Mungkin yang perlu dilakukan organisasi guru yang ada adalah saling bersinergi untuk mewujudkan guru Indonesia yang profesional, bermartabat, berkualitas dan terlindungi. Janganlah organisasi guru itu jalan masing-masing dan hanya ingin menunjukkan <em>ego </em>organisasinya karena akan membuat <em>bargaining position </em> guru lemah dan tercerai berai. Bahkan bisa terjadi antara satu dengan yang lainnya saling menjatuhkan. Terus terang saya sangat prihatin kalau yang terakhir inilah yang terjadi. Tragisnya beberapa bulan belakangan  ini saya melihat fenomena tersebut. Organisasi guru satu seolah ingin lebih hebat dan eksis.Bahkan ada kecenderungan yang melemahkan organisasi lainnya.</p></blockquote>
<p>Semisal saya membaca berita<br />
1. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/05/19/16582331/IGI.Tak.Mungkin.PGRI.Melakukan.Itu...-5">di sini</a><br />
2. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.klubguru.com/3-view.php?subaction=showfull&#038;id=1309782623&#038;archive=&#038;start_from=&#038;ucat=1&#038;">di sini</a><br />
3. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.jpnn.com/read/2011/06/30/96698/Pengurusnya-Birokrat,-PGRI-Dinilai-Salahi-Aturan-">di sini</a><br />
4. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.jpnn.com/read/2011/07/10/97639/PB-PGRI-Tegaskan-Tidak-Ada-Potongan-Gaji-ke-13-">di sini </a><br />
5. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://dir.groups.yahoo.com/group/cfbe/message/44009">di sini</a><br />
6. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://dinaspendidikan.blogspot.com/2010/05/sekjen-igi-bantah-tudingan-pgri.html">di sini </a> dan<br />
7. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.facebook.com/topic.php?uid=201238101392&#038;topic=14040">di sana </a> </p>
<p><img alt="" src="http://rimanews.com/sites/default/files/imagecache/250x175/20110502_091746_ketua-pgri-b.jpg" class="alignleft" width="145" height="150" />Lantas, bagaimana kalau sudah begini? Saya kira pemerintah memang ikut bertanggungjawab dengan munculnya banyak organisasi guru seperti sekarang ini yang tercerai berai. Akan tetapi menyalahkan pemerintah juga tidak bijak dan tidak menyelesaikan persoalan. Memimpikan hanya ada satu oraganisasi yang menaungi semua guru pun sepertinya <em>imposible</em> &#8212;seperti pungguk yang merindukan bulan&#8212;. </p>
<p>Saya sempat berkomunikasi dengan Ketua Umum PGRI, Bapak Dr. Sulistiyo, M.Pd melalui ponsel beberapa bulan lalu. Maka Pak Sulis mengirim sms sebagai berikut : </p>
<blockquote><p>
<strong> &#8220;Banyak orang tak paham PGRI dan tak mengerti apa yang dilakukan PGRI, tetapi memberi penilaian terhadap PGRI. Insya Allah PGRI akan tetap eksis meweujudkan guru yang profesional, sejahtera, terlindungi dan bermartabat. PGRI sering difitnah berpolitik (praktis), karena PGRI memang mempunyai kekuatan politik dan bisa berstrategi politik dalam mewujudkan cita-citanya untuk kepentingan guru dan pendidikan. Banyak orang yang ingin PGRI lemah, guru lemah dipecah belah agar kalah dan pendidikan semakin terpuruk. PGRI sudah sangat biasa digembosi, tetapi insya Allah akan semakin disayangi para guru dan masyarakat</strong>&#8220;. </p></blockquote>
<p>Ah, saya hanya berharap bahwa para elite organisasi guru dapat membangun sinergi yang indah demi guru dan dunia pendidikan Indonesia yang lebih baik. Semoga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/12/pgri-dan-fenomena-maraknya-organisasi-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Duka Suka Menjadi Penulis Buku</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/12/duka-suka-menjadi-penulis-buku/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/12/duka-suka-menjadi-penulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 05:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2949</guid>
		<description><![CDATA[Johan Wahyudi, S.Pd., M.Pd Guru SMP Negeri 2 Kalijambe Sragen, Bendahara Umum Agupena Jateng Berbincang tentang kegiatan menulis buku tentu mengenakkan diri. Banyak duka terdapat di dalamya. Namun, banyak suka juga ditemukan. Keduanya dapat dibandingkan sebagai semangkok bakso dengan kuahnya. Mana enak makan bakso tanpa kuah? Nah, kedukaan justru semakin menambah kelezatan perjuangan untuk mendapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Johan Wahyudi, S.Pd., M.Pd </strong><em><br />
Guru SMP Negeri 2 Kalijambe Sragen, Bendahara Umum Agupena Jateng</em></p>
<p><img alt="" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/u/prf/13119471361817823721.jpg" class="alignleft" width="200" height="204" />Berbincang tentang kegiatan menulis buku tentu mengenakkan diri. Banyak duka terdapat di dalamya. Namun, banyak suka juga ditemukan. Keduanya dapat dibandingkan sebagai semangkok bakso dengan kuahnya. Mana enak makan bakso tanpa kuah? Nah, kedukaan justru semakin menambah kelezatan perjuangan untuk mendapatkan kesukaan. Ketika menekuni profesi sebagai penulis buku, saya menemukan tiga buah kedukaan dan tiga buah kesukaan.<br />
<strong><br />
Mesti Berjaga Setiap Malam</strong><br />
Menulis buku memerlukan konsentrasi tingkat tinggi. Suara bising akan membuyarkan angan penulis. Oleh karena itu, penulis mesti berusaha mencari waktu yang dapat mendukung suasana itu. tak lain adalah keheningan malam. Maka, tak ayal setiap malam, saya berjaga untuk menyelesaikan naskah-naskah itu. Semalam berkisar lima hingga sepuluh halaman. Tahu-tahu, sebulan saya sudah menghasilkan sebuah naskah.<br />
<strong><br />
Dikejar Deadline</strong><br />
Saya paling benci jika ditelepon penerbit seraya berkata, “Besok naskah harus dikirim!” Begitu mendapat perintah lewat telepon itu, tak ayal saya harus berjibaku dengan waktu, tenaga, pikiran, keluarga, dan aktivitas lain. Begitu selesai mengajar anak didik, saya langsung menyepikan diri ke ruang kerjaku di lantai atas. Dan di sanalah, saya bertapa seraya berusaha memenuhi tuntutan deadline dari penerbit.<br />
<strong><br />
Harus Merevisi</strong><br />
Kebanyakan bukuku adalah buku pelajaran dan buku teks. Itu berarti bahwa saya harus meng-up date informasi yang berasal dari kutipan berita dan soal-soalnya. Saya mesti menyesuaikan isi dengan perkembangan informasi dan teknologi. Untuk itulah, penerbit pasti menghubungiku setiap tiga tahun untuk melakukan revisi naskah. Meskipun kurang menyukainya, saya mesti bertanggung jawab kepada pengguna. Tentunya pengguna tidak ingin dikecewakan penulisnya. Dan itu juga menjadi cita-cita: tak mengecewakan pengguna bukuku.</p>
<p>Selain kedukaan di atas, saya pun menemukan tiga kesukaan sebagai penulis buku. Ketiganya adalah mendengar kabar pengguna, buku laris di pasaran, dan menerima royalti.<br />
<strong><br />
Mendengar Kabar Pengguna</strong><br />
Secara tidak sengaja, saya sering bertemu dengan pengguna bukuku. Seperti kemarin, saya bertemu dengan dua orang guru dari sekolah yang berbeda. Seorang menjadi kepala sekolah internasional dan seorang menjadi guru bahasa Indonesia di sekolah favorit. Kedua guru itu bercerita bahwa sekolahnya menggunakan bukuku. Ketika bertemu itulah, saya berusaha mendapatkan masukan tentang isi buku. Saya harus berusaha berbenah agar bukuku dapat memenuhi permintaan pasar, tak lain adalah guru dan siswa.<br />
<strong><br />
Buku Laris di Pasaran</strong><br />
Setiap hari minggu, saya sering mengajak anak-anak untuk berbelanja. Pada kesempatan itulah, saya sering berkunjung ke toko buku ternama, swalayan, supermarket, dan hypermarket. Jika diadakan pameran buku, saya pun jarang melewatkan momen itu dengan mengunjunginya. Selain menuruti keinginan anak-anak untuk membeli buku-buku baru, saya sering memantau tingkat penjualan. Alhamdulillah, bukuku cukup laris di pasaran. Setidaknya, saya mendapatkan informasi itu berdasarkan informasi dari pegawai toko.<br />
<strong><br />
Mendapat Kiriman Royalti</strong><br />
Tadi pagi (Jumat, 4 November 2011), HP-ku berdering. Ketika melihat nomor pemanggil, saya cukup terkejut. Ternyata, nomor itu berasal dari penerbit bukuku. Sontak saya menerima panggilan itu dan mencari tempat yang teduh dan mudah menangkap sinyal. Ternyata, penerbit itu memberitahukan bahwa royalti tiga bukuku untuk tahun ini baru saja dikirimkan. Secara iseng, saya bertanya, “Pak, berapa royalti ketiga bukuku?” Langsung saja penerbit menjawab bilangan yang sangat lumayan. Insya Allah, saya akan menggunakan royalti itu untuk melunasi ONH-ku dan istri. Selain itu, saya ingin membelikan hadiah istimewa untuk istri tercinta. Sisanya dimasukkan kantong saja untuk membeli kambing buat disate pada Minggu nanti.</p>
<p>Begitulah romantikaku menjadi penulis buku. Kadang sedih jika harus berbetah-betah di kamar. Namun, hati begitu gembira jika mendapat kabar baik. Tidak selamanya kabar baik itu tentang uang dan uang. Jika sudah menjadi penulis buku, uang tak lagi menjadi masalah utama. Justru masalah akan muncul pada kekuatan untuk menjaga konsistensi semangat. Mengapa? Godaan selalu menari-nari di depan mata untuk bersantai ria. Itulah godaan penulis buku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/12/duka-suka-menjadi-penulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teh Tawar Hangat</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/12/teh-tawar-hangat/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/12/teh-tawar-hangat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 05:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Sukmadji]]></category>
		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2941</guid>
		<description><![CDATA[Ir. Bambang Sukmadji Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak Semenjak beberapa bulan silam Sasmito ditinggal istrinya menghadap Illahi, lelaki muda itu terus saja mengunci mulutnya. Tiap hari, pagi pagi benar dia sudah menyapu halaman rumahnya yang cukup luas dari sampah plastik, daun mangga kering dan bungkus makanan anak anak yang dibuang begitu saja oleh anak anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ir. Bambang  Sukmadji</strong><br />
<em>Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak</em></p>
<p><img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-QYwEJkv_XtA/TXSrdyMmgSI/AAAAAAAACRY/-fuinQyQEro/s220/BAMBANG%2BMERAH.jpg" class="alignleft" width="220" height="165" />Semenjak  beberapa bulan silam Sasmito ditinggal istrinya menghadap Illahi, lelaki muda itu terus saja mengunci mulutnya. Tiap hari, pagi pagi benar dia sudah menyapu halaman rumahnya yang cukup luas dari sampah plastik, daun mangga kering dan bungkus makanan anak anak yang dibuang begitu saja oleh anak anak tetangganya. Dia tetap mengunci mulut, sorot mata dan senyumnya.</p>
<p>Namun belakangan ini, dia berubah sikapnya lantaran dia melihat semakin banyak sampah yang menumpuk  di halaman rumahnya. Maka pagi hari ini lelaki muda itu menyapu dengan agak membanting bantingkan tangkai sapu lidinya dan menjadi sering memaki kepada banyak orang.</p>
<p>“Kamu buang saja bungkus makananmu ke tempat sampah di sebrang jalan sana !” sesekali lelaki tua itu menunjamkan keberanganya kepada anak anak tetangganya yang kerap main di halaman  rumahnya yang hanya beralas tanah liat yang mengeras, dengan disana sini masih ditumbuhi ilalang yang meranggas.</p>
<p>Tapi memang dasar anak, betapapun lelaki kesepian itu dongkol dan marah, tetap saja mereka masih anak anak. Mereka itu adalah sosok yang mampu menyerap segala sesuatu dengan pembelajaran yang berkelanjutan dan sedikit demi sedikit.</p>
<p>***</p>
<p>“Apa perlu aku buat papan pengumuman yang besar, agar semua anak anak itu tidak membuang sampah di halaman rumah saya, Pak RT ?” . Suatu pagi, Pak RT mendapat giliran menjadi sasaran makian , setelah beberapa hari lalu beberapa warganya sudah kena getahnya.</p>
<p>“Ah, tidak perlu repot repot Pak Sas !, hanya masalah sepele seperti itu cukup dengan pendekatan kekeluargaan saja, agar tidak menimbulkan dendam tetangga “</p>
<p>“Aku sudah tak sabar lagi !”</p>
<p>“Jangan emosi dulu Pak Sas!, semuakan bisa dirembug, mereka cuma anak anak !”</p>
<p>“Tapi ini sungguh keterlaluan, mereka semakin berani saja dengan aku”</p>
<p>“Ini hanya perasaan Pak Sasmito saja, mereka kan belum tahu kalau Pak Sas marah. Lagian selama ini Pak Sas kan tidak pernah  menegur mereka. Pak Sas hanya diam membisu setiap kali di tengah mereka dan tetangga kita semua”</p>
<p>Mata lelaki muda itu perlahan meredup,  jaket lusuh yang kerap menutupi tubuhnya kini dilepas dan tak lama dia menyandarkan seluruh punggungnya di sofa berkulit hijau di ruang tamu rumah Pak RT. Pak RT masih terlihat menyunggingkan seberkas senyum di wajahnya yang sudah mulai dipenuhi kulit yang melonggar. Sebuah  senyuman yang mampu menyihir wajah laki laki muda itu tidak seperti semula, yang membara ditusuk bara api.</p>
<p>Serpihan bara api kini sudah terlumat ditelikung angi pagi di Hari Minggu kala itu, Pak RT segera mempersilakan Pak Sas untuk meneguk teh tawar hangat yang berada persis di depanya. Singkong rebus berwarna agak keruh, lantaran sudah agak tua, kini masih</p>
<p>2</p>
<p>mengepulkan asapnya, bersma dengan teh hangat tawar kini mampu menjadi kawan mereka . Kabut pagi yang semula menyamarkan pandangan mereka kini berganti dengan kuning sinar mentari. Namun dalam hati laki laki muda itu, masih saja terselip rasa rindu yang berat pada istrinya yang kini sedang bermandi air bunga di cakrawala senja.</p>
<p>“Pak Sas, sedang  galau karena rindu, kan ?” Sepotong kalimat dari Pak RT meluncur begitu saja hingga jauh menunjam ke jantung Pak Sas. Namun tiada sedikitpun Pak RT takut bila Pak Sas terluka hatinya dengan pertanyaanya itu. Lantaran beberapa tahun silam dia juga pernah ditinggal istrinya menghadap Illahi. Kala itu Pak RT ingin segera meruntuhkan langit biru atau menghentikan perputaran bumi, agar semua manusia merasakan penderitaan sama seperti dirinya.</p>
<p>“Pak Sas, aku juga pernah merasakan seperti anda, dan kini rindu itu belum semuanya sirna. Apalagi bila aku berada di tengah anak anaku. Tapi mau apa lagi kita, hanya tulang dan daging yang tak berdaya menghadapi suratan takdir.</p>
<p>Sasmito mulai menyemaikan bunga berseri di hatinya, ketimbang beberapa saat yang lalu, hatinya hanya dipenuhi belukar yang mernggas. Diapun mulai menemukan kawan curhat, untuk menyiram bara api rindu yang membakar dinding jantungnya, beberapa teguk teh hangat tawar kini sudah memenuhi tenggorokanya.</p>
<p>Penulis : Bambang Sukmadji-Semarang </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/12/teh-tawar-hangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajak Guru Jadi Penulis</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/12/ajak-guru-jadi-penulis/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/12/ajak-guru-jadi-penulis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 05:04:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kliping Media]]></category>
		<category><![CDATA[dunia buku]]></category>
		<category><![CDATA[herry nugroho]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2943</guid>
		<description><![CDATA[PROFESI guru pada zaman digital seperti sekarang, dituntut tidak hanya mengajar siswa di depan kelas. Guru harus kreatif mengembangkan keterampilan, bahkan menjadi penulis. Guru penulis atau pendidik yang berminat menuangkan ide dan kreativitasnya dalam tulisan, saat ini belum banyak. Akan tetapi, Hery Nugroho guru SMP 7 Semarang mencoba memeloporinya. Lelaki kelahiran Demak 18 Januari 1980, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://herynugrohoyes.files.wordpress.com/2011/11/foto-hery.jpg" class="alignleft" width="220" height="362" />PROFESI guru pada zaman digital seperti sekarang, dituntut tidak hanya mengajar siswa di depan kelas. Guru harus kreatif mengembangkan keterampilan, bahkan menjadi penulis. </p>
<p>Guru penulis atau pendidik yang berminat menuangkan ide dan kreativitasnya dalam tulisan, saat ini belum banyak. Akan tetapi, Hery Nugroho  guru SMP 7 Semarang mencoba memeloporinya. Lelaki kelahiran Demak 18 Januari 1980, belum lama ini meluncurkan buku ”Cara Mudah Menjadi Guru Penulis”.</p>
<p>Buku tersebut lahir atas keprihatinannya masih banyak guru yang belum bisa menulis. ”Selama ini ada anggapan antara guru dan menulis adalah kegiatan berbeda. Mereka menganggap, guru ya tugasnya mengajar, dan menulis adalah tugas penulis. Padahal, kegiatan menulis sangat bermanfaat bagi guru, karena ini juga menunjang untuk kenaikan pangkat,” ungkapnya yang pernah menjuarai Sayembara Menulis Buku Pengayaan Tingkat Nasional itu.</p>
<p>Dalam buku yang isinya lebih pada tutorial mengajak guru menjadi penulis tersebut, dia mencoba menanamkan bahwa menulis bukan hal sulit. Sebab, penyusunannya juga berangkat dari pengalaman sebagai guru dan penulis. Selain itu, penjelasan dalam pustaka, sangat disesuaikan dengan dunia pendidik dan mudah dipahami.</p>
<p>Lalu jika menulis itu mudah, kendala apa yang membuat guru merasa sulit? Wakil Sekretaris Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Jateng menjelaskan, biasanya mereka bingung harus memulai darimana dan dengan kata-kata seperti apa. Bahkan meskipun sudah ikut pelatihan menulis berkali-kali, tetap saja belum bisa menuangkan idenya dalam tulisan.<br />
Sehingga langkah yang perlu dilakukan, yakni dengan sering melakukan latihan.   </p>
<p>Ya, bagaimanapun menulis memang penting, sebab kedepannya pada tahun 2013 nanti kenaikan golongan guru dimulai dari IIIB ke IIIC, dan menulis karya ilmiah menjadi syarat mutlak untuk dipenuhi. Sehingga, guru mata pelajaran Agama yang sudah mengabdi selama 8 tahun ini berharap, agar para guru dapat mulai berlatih menulis, dari yang sederhana saja, seperti membuat catatan di media sosial atau surat kabar.<br />
(Anggun Puspita -61)</p>
<p>Herry Nugroho, Wasekum Agupena Jateng</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/12/ajak-guru-jadi-penulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 1.367 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-05 10:04:33 -->

