<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena Jawa Tengah &#187; Sosok</title>
	<atom:link href="http://agupenajateng.net/category/sosok/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupenajateng.net</link>
	<description>Membangun Semangat Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 10:51:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Terima Kasih, Pak Menteri</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/07/21/terima-kasih-pak-menteri/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/07/21/terima-kasih-pak-menteri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 13:47:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2156</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Johan Wahyudi (Bendum Agupena Jateng, Penerima Beasiswa S3 dari Kemendiknas RI) Senin (19 Juli 2010), saya melaksanakan tugas di sekolah. Sudah menjadi rutinitas bahwa setiap senin saya harus menyiapkan anak-anak untuk persiapan upacara bendera. Entahlah, anak-anak begitu mudah diatur jika saya yang mengatur. Sebenarnya, saya bukan pemangku jabatan Pembina kesiswaan. Namun, kepala sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Johan Wahyudi (Bendum Agupena Jateng, Penerima Beasiswa S3 dari Kemendiknas RI)<br />
<a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/07/johanmenulisbuku_2067282783.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/07/johanmenulisbuku_2067282783.jpg" alt="" title="johanmenulisbuku_2067282783" width="200" height="131" class="alignleft size-full wp-image-2157" /></a>Senin (19 Juli 2010), saya melaksanakan tugas di sekolah. Sudah menjadi rutinitas bahwa setiap senin saya harus menyiapkan anak-anak untuk persiapan upacara bendera. Entahlah, anak-anak begitu mudah diatur jika saya yang mengatur. Sebenarnya, saya bukan pemangku jabatan Pembina kesiswaan. Namun, kepala sekolah selalu memintaku untuk menyiapkan mereka.</p>
<p>Sekitar sepuluh menit, anak-anak sudah berbaris rapi. Saya pun berbaris pada deretan guru. Namun, tiba-tiba HP-ku berdering. “Pagi-pagi dah ada SMS“, batinku. Sambil berbaris, saya membuka HP. Ternyata, ada SMS dari Pak Bayan Maryono (semacam kepala dusun), tetanggaku: “Ru, ada surat untukmu. Ni saya bawa“, begitulah bunyi SMS itu. Saya pun membalas singkat: “Bawa aja, entar titipkan istriku.” Hari ini memang saya tidak langsung pulang. Saya mempunyai janji dengan dosen di kampus.</p>
<p>Usai upacara, saya mengikuti pembinaan atau briefing dengan kepala sekolah. Setelah pembinaan, Kepala Sekolahku, Drs. Nanung Hermawan, M.Pd., mengajakku untuk berdiskusi demi kemajuan sekolah. Saya memang sering dimintai pertimbangan oleh beliau. Saya sangat menyukainya karena beliau adalah pribadi visioner. Saya senang dengan pikiran-pikiran majunya.</p>
<p>Sekitar jam 10, saya pun berangkat ke kampus. Di sana, saya bertemu dengan tiga orang profesor calon promotorku. Saya sudah bertekad bulat untuk melanjutkan pendidikan ke Program Doktor (S3). Agar semua berjalan lancar, saya harus membangun komunikasi. Sejak di program magister, saya memang sering bekerja sama untuk berbagai keperluan. Saya senang sekali jika diajak berkolaborasi untuk menulis atau melakukan penelitian. Jadi, ketika saya berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke Program Doktor, beliau menyambut semangatku itu dengan penuh semangat pula. Saya berdiskusi panjang hingga jam 14.00. Usai itu, saya pamit pulang.</p>
<p>Sesampai rumah, saya bertanya kepada pembantuku. “Bu Lik, apakah ada titipan surat dari Pak Bayan untukku?”, tanyaku kepadanya. Bu Lik Mutmainah, pembantu setiaku, dengan sopan menjawab, “Mboten niku, Pak (Tidak ada, Pak)”. Terlihat istriku dari arah belakang. Saya pun bertanya ulang. “Ma, ada surat untukku?” Istriku terkejut. Secara spontan, istriku menjawab, “Surat apa to, Mas. Mbok lungguh dhisik (Duduk dululah)”. Mendengar permintaan itu, saya justru berpamitan. Saya akan menemui Pak Bayan dulu. Mungkin surat itu sangat penting. Ternyata, Pak Bayan tidak ada di rumah. Pak Bayan sedang kerja bakti ke rumah tetangga.</p>
<p>Saya bergegas menuju rumah yang dibantu Pak Bayan. Terlihat, Pak Bayan sedang membetulkan kayu dan berbagai perkakas rumah. Pak Bayanku memang jago kayu alias tukang kayu jempolan. Pak Bayanlah yang membantuku untuk membangun rumah yang kutempati saat ini. Melihat kedatanganku, Pak Bayan langsung turun. “Mau ambil surat to, Ru?” Saya menjawab dengan guyonan, “Yo mesti to.”</p>
<p>Pak Bayan pun langsung mengajakku pulang ke rumahnya. Di teras rumahnya, saya menunggu. Tak berapa lama kemudian, Pak Bayan membawa sebuah amplop besar. Amplop itu tidak berkop. Namun, tertulis pengirim: Sekretariat Program Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Sekretariat Jenderal Kementrian Pendidikan Nasional.</p>
<p>Membaca bunyi kop surat itu, saya gemetar. Pikiranku kalut: antara percaya dan tidak. “Benarkah?”, itulah pertanyaan yang bergelayut di otakku. Saya pun segera membuka amplop itu. Ternyata, amplop itu berisi Surat Keputusan Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional tentang dikabulkannya permohonan Program Beasiswa Unggulan S3 saya. Untuk selanjutnya, saya diminta untuk melengkapi berkas-berkas yang diperlukan. Alhamdulillah. Ya Allah, terima kasih untuk semua anugerah-Mu. Engkau memang Maha Kuasa untuk mengabulkan semua doa hamba-Mu. Semoga hamba-Mu menjadi insan tawadzu dalam keberkahan rezeki yang Engkau berikan.</p>
<p>Spontan saya sujud syukur. Saya menangis. Saya tidak kuasa membendung air mata. Saya pun bergegas ke rumah ibuku. Saya merangkul dan menciumi beliau. Ibuku sempat kaget karena melihatku menangis. Namun, beliau langsung menangis pula setelah saya bercerita. Saya dinasihati agar menjadi warga negara yang baik. Dan saya pun berjanji untuk menggunakan kesempatan ini agar tidak mengecewakan semua pihak yang telah mempercayai saya.</p>
<p>Tiba-tiba, terdengar suara adzan asyar. Saya pun berpamitan ke ibuku. Saya bergegas ke masjid. Siapa mendahulukan pasti didahulukan, begitu nasihat ayahku (almarhum). Usai salat, saya bersalaman sembari mencium tangan imam dan beberapa sesepuh untuk mohon doa. Beliau sempat terhenyak dengan berita yang kubawa. Beliau terharu. Meskipun orang kampung nun jauh dari kota besar, ada warga dusun yang diberi kesempatan untuk menimba ilmu setingkat doktor.</p>
<p>Saya pun pulang. Ternyata istriku sedang memandikan Musyafa’, anak ketigaku. Saya menunggunya sembari mengelus-elus amplop itu. Sambil menggendong anakku, istriku terlihat basah kuyup. Saya langsung memeluk dan menciumi berkali-kali. Pipi kanan-kiri dan keningnya. Lagi-lagi, air mata ini tumpah. Saya pun membisikkan kalimat: bersyukurlah, Ma. Doa mama dikabulkan Allah. Beasiswa saya diterima. Allahu Akbar. Istriku langsung menangis. Lucunya, anakku yang selesai dimandikan justru tertawa. Kami pun berpelukan erat untuk beberapa saat.</p>
<p>Sebagai apresiasi dan keinginan untuk menjadi pribadi yang tahu balas budi, perkenankan dan izinkanlah saya untuk menyampaikan ucapan terima kasih. Dengan berniat tulus yang berasal dari lubuk hati nan dalam, saya menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Bapak Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional, Bapak Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri beserta staf serta semua pihak yang selalu memberi perhatian kepada saya. Terima kasih untuk dikabulkanya permohonan beasiswa saya. Saya akan menggunakan kesempatan berharga ini untuk memberikan hasil terbaik. Saya akan berusaha memberi kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan bangsa saya. Untuk mencapai cita dan keinginan itu, saya selalu mengharap dan menantikan saran dan kritik semua pihak. Saya mengakui bahwa pribadi saya masih perlu belajar dan belajar. Tentu saja saya juga mengharapkan perhatian dari para sahabat setia saya: kompasianer. Doa dan saran selalu saya nantikan demi peningkatan kualitas pendidikan bangsa ke depan. Ayo, tingkatkan kualitas pendidikan bangsa kita! </p>
<p>Catatan:<br />
Tulisan ini diterbitkan untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi keluarga besar AGUPENA Jateng.</p>
<p>Selamat untuk Pak Johan.</p>
<p>ttd</p>
<p>Deni Kurniawan As&#8217;ari</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/07/21/terima-kasih-pak-menteri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Achjar Chalil: Tangerang, INS Kayutanam, dan Pendidikan Berbasis Fitrah</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/05/02/pak-achjar-chalil-tangerang-ins-kayutanam-dan-pendidikan-berbasis-fitrah/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/05/02/pak-achjar-chalil-tangerang-ins-kayutanam-dan-pendidikan-berbasis-fitrah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 03:31:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh Agupena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1985</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sawali Tuhusetya “Innalillahi wainnaillaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, Bapak Achjar Chalil, Ketua Umum Agupena Pusat, pada hari Senin, 3 Mei 2010, pada pukul 02.00 WIB”. Demikian inti pesan singkat yang saya terima dari Pak Deni Kurniawan As’ari. Kabar itu sungguh mengejutkan. Pasalnya, kurang lebih sepekan yang lalu, Pak Achjar sempat mengabarkan kondisi kesehatannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Sawali Tuhusetya</strong></p>
<p><strong>“Innalillahi wainnaillaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, Bapak Achjar Chalil, Ketua Umum Agupena Pusat, pada hari Senin, 3 Mei 2010, pada pukul 02.00 WIB”.</strong> Demikian inti pesan singkat yang saya terima dari Pak Deni Kurniawan As’ari. Kabar itu sungguh mengejutkan. Pasalnya, kurang lebih sepekan yang lalu, Pak Achjar sempat mengabarkan kondisi kesehatannya yang makin membaik melalui telepon. Kanker kelenjar tiroid yang dideritanya sejak beberapa bulan yang lalu berangsur-angsur hilang, bahkan nafsu makannya juga sudah normal. Nada suaranya pun benar-benar meyakinkan saya bahwa Pak Achjar sudah tidak dalam keadaan sakit yang mengkhawatirkan. Saya benar-benar lega. Meski masih harus melakukan therapi secara rutin, Pak Achjar sudah berada dalam tahap pemulihan kesehatan yang tak lama lagi akan segera sehat dan segar bugar. Namun, agaknya Tuhan berkehendak lain. Setelah menerima telepon berdurasi sekitar 30 menit itu, saya hanya sempat menerima satu kali pesan singkat dari Pak Achjar tentang therapi rutin yang dilakukannya, sebelum akhirnya saya mendengar kabar duka itu. </p>
<p><span style="float:left;width:350;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://bangyar.files.wordpress.com/2009/01/di-pintu-gerbang-ins3.jpg?w=450&#038;h=337" width="350" alt="Pak Achjar Chalil" /><br /><a href="http://bangyar.wordpress.com/">Sesaat sebelum kembali ke Kota Tangerang (27 Desember 2008)</a></span>Almarhum dikenal sebagai sosok yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Kecintaannya pada konsep pendidikan EMS (Engku M. Syafe’i) yang diterapkan di Perguruan Indonesische Nationale School (INS) yang kemudian berubah menjadi Institut Nasional Syafe’i di desa Palabihan, Kayutanam, Sumatera Barat, pada 31 Oktober 1926, agaknya membuat almarhum tak pernah berambisi menjadi seorang pejabat, meski kesempatan untuk itu sangat terbuka luas. Hingga meninggal, Pak Achjar masih tercatat sebagai guru di SMK 56 Jakarta. Pak Achjar pula yang membidani lahirnya Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) yang sekaligus menjadi Ketua Umum periode 2006-2011.</p>
<p>Pak Achjar juga dikenal sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah. Untuk membuktikan kecintaannya pada INS Kayutanam, lelaki kelahiran Aceh Timur, 16 April 1954 itu pernah menyusuri jalan darat dari Tangerang (tempat tinggalnya) ke Kayutanam dengan bersepeda motor. “Ustadz, antum sudah tua, ingat-ingatlah umur,” demikian saran Pak Rafi Arta koleganya yang sesama guru di SMK 56 Jakarta. Namun, agaknya saran itu hanya direspon dengan senyum khasnya. Bahkan, Pak Ahjar yang menguasai bahasa Jawa, Sunda, dan Betawi dan punya hobi naik motor gede itu juga pernah singgah di berbagai kota besar di Indonesia dengan bersepeda motor. </p>
<p>Selain dikenal sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah, Pak Achjar juga memiliki ide-ide cemerlang dan kritis tentang ranah dunia pendidikan. Konsep-konsep pendidikannya yang sangat kuat kesan religiusnya terungkap dalam buku “Pembelajaran Berbasis Fitrah” (Balai Pustaka, 2008). Menurutnya, pembelajaran berbasis fitrah merupakan pembelajaran yang mengupas masalah fitrah dalam makna suci yang mengingatkan bahwa “Kesucian Jiwa” memegang peranan penting dalam perilaku dan keberhasilan manusia dalam menjalani hidupnya. Jiwa yang kering dan jauh dari nilai-nilai agama, tegasnya, adalah jiwa yang cenderung membuat seseorang atau sekelompok orang berbuat tanpa kearifan dan cenderung mengabaikan etika, estetika, dan ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’. Jiwa adalah bagian dari Fitrah dalam makna; penciptaan yang dilakukan oleh Allah sebagai Sang Pencipta (al Khalik). </p>
<blockquote><p>Kini, Pak Achjar telah tiada. Keluarga besar Agupena benar-benar merasa kehilangan atas kepergian sosok bersahaja yang selalu memancarkan sikap optimis dalam menghadapi tantangan hidup itu. Almarhum adalah sosok “mahaguru” sejati sekaligus juga sahabat dalam keseharian, yang tak pernah lelah “membangun semangat berbagi”, bersilaturahmi, dan membangkitkan kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter berbasis religi di tengah dinamika peradaban global yang makin rumit dan kompleks.</p></blockquote>
<p>Selamat jalan, Pak Achjar. Semoga dilapangkan jalanmu menuju ke haribaan-Nya, diampuni segala dosa-dosamu, dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Meski jasatmu telah tiada, nilai-nilai keteladanan, pemikiran, dan kebersahajaanmu merupakan warisan tak ternilai bagi Agupena. Keluarga besar Agupena Jawa Tengah turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan, amiin. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/05/02/pak-achjar-chalil-tangerang-ins-kayutanam-dan-pendidikan-berbasis-fitrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soedijarto, Sosok Seorang Pendidik</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/02/01/soedijarto-sosok-seorang-pendidik/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/02/01/soedijarto-sosok-seorang-pendidik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 12:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1517</guid>
		<description><![CDATA[Sekelompok pemuda pada 30 Desember 1962 menghadap Presiden Soekarno. Juru bicara kelompok pemuda ini, dengan sangat jernih, runut, dan penuh semangat, mencoba meyakinkan Presiden Soekarno tentang perlunya pendidikan guru setara universitas. Alasan-alasan logis, termasuk visi pendidikan Indonesia ke depan, diuraikannya secara meyakinkan. Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan saat itu, Prof Toyib Hadiwijaya, yang duduk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/soedijarto.jpg"><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/soedijarto.jpg" alt="" title="soedijarto" width="200" height="149" class="alignleft size-full wp-image-1518" /></a>Sekelompok pemuda pada 30 Desember 1962 menghadap Presiden Soekarno. Juru bicara kelompok pemuda ini, dengan sangat jernih, runut, dan penuh semangat, mencoba meyakinkan Presiden Soekarno tentang perlunya pendidikan guru setara universitas. Alasan-alasan logis, termasuk visi pendidikan Indonesia ke depan, diuraikannya secara meyakinkan.<br />
Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan saat itu, Prof Toyib Hadiwijaya, yang duduk di samping Presiden Soekarno, membenarkan argumen yang disampaikan pemuda itu. Presiden Soekarno pun mengangguk-anggukkan kepala.</p>
<p>Hanya beberapa bulan kemudian, Presiden Soekarno mengeluarkan surat keputusan mengenai berdirinya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Setahun kemudian, pemuda pengusul itu diangkat menjadi Kepala Biro Urusan IKIP Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan.</p>
<p>Pemuda itu adalah Soedijarto, yang ketika itu masih berusia 26 tahun.<br />
Beberapa puluh tahun kemudian, Soedijarto yang duduk sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1999-2004 kembali secara gigih memperjuangkan perlunya anggaran yang memadai untuk memajukan pendidikan bangsa. Ia mengusulkan minimal 4 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk pendidikan.<br />
”Karena menurut teman-teman ahli keuangan susah menghitungnya, akhirnya teman-teman mengusulkan menjadi 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” kata Soedijarto.</p>
<p>Setelah melalui perjuangan panjang bersama anggota MPR yang sepaham, gagasan itu akhirnya disetujui dan menjadi komitmen bangsa. Suatu komitmen yang unik karena satu-satunya alokasi anggaran yang ”dikunci” dalam konstitusi negara.<br />
Akan tetapi, komitmen bangsa yang sudah empat tahun ditorehkan dalam konstitusi itu tak kunjung terwujud. Soedijarto bersama rekan-rekannya dalam Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) membawa persoalan ini ke Mahkamah Konstitusi. Tahun lalu, MK menyatakan pemerintah melanggar Pasal 31 Ayat 4 UUD 1945, yang secara tegas mengamanatkan minimal 20 persen dari APBN untuk anggaran pendidikan.</p>
<p>Menurut Soedijarto, kesepakatan pemerintah dan DPR yang tak ada niat dan usaha keras untuk memenuhi anggaran pendidikan minimal 20 persen itu menunjukkan betapa penyelenggara negara tidak memahami makna pendidikan sebagai modal utama pembangunan bangsa.</p>
<p>Dalih anggaran 20 persen sudah terpenuhi, hanya akal-akalan pejabat karena gaji guru serta anggaran pendidikan dan pelatihan (diklat) pegawai masuk di dalamnya.<br />
”Di negara mana pun tidak ada perhitungan seperti itu. Harus murni untuk pendidikan, bukan pengembangan birokrasi,” ujarnya tegas.<br />
Kemunduran pendidikan</p>
<p>Pertemuan dengan Presiden Soekarno sudah 46 tahun berlalu. Namun, pikiran-pikiran kritis masih sering dilontarkan Soedijarto dengan beragam argumen yang meyakinkan.<br />
Pada usianya yang 70 tahun, dia masih tetap jernih, runut, dan penuh semangat menyampaikan berbagai persoalan tentang pendidikan. ”Kondisi pendidikan kita semakin menyedihkan,” kata Guru Besar Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) ini.</p>
<p>Lalu diceritakanlah bagaimana upaya Presiden Soekarno, dulu, di tengah kesulitan ekonomi, setiap provinsi bisa memiliki perguruan tinggi negeri. Bukan cuma bangunan fisik, tetapi juga menyediakan dosen-dosen bermutu. Agar dosen bisa berkonsentrasi mengajar, kesejahteraannya pun diperhatikan, termasuk menyediakan perumahan dosen dengan luas minimal 250 meter persegi.</p>
<p>Perpustakaan dibangun, sedangkan untuk mahasiswa disediakan asrama di setiap perguruan tinggi. Bagi mahasiswa juga disediakan program ikatan dinas.<br />
”Para pendiri negara menyadari betul arti penting pendidikan untuk kemajuan bangsa,” kata Soedijarto.</p>
<p>Belakangan, berbagai sarana pendidikan itu terasa diabaikan. Perguruan tinggi, misalnya, diharuskan mencari dana sendiri untuk penyelenggaraan pendidikan. Akibatnya, biaya pendidikan menjadi sangat mahal dan sulit terjangkau masyarakat miskin. Perumahan dosen tak lagi disediakan. Dosen harus mencari dan membangun sendiri rumahnya. Asrama mahasiswa pun tak lagi dibangun. ”Bahkan, banyak asrama mahasiswa yang diubah menjadi pusat kegiatan komersial untuk menambah pendapatan perguruan tinggi,” kata Soedijarto yang juga menjabat Ketua Umum ISPI.</p>
<p>Lontaran keprihatinan juga disampaikan Soedijarto yang menilai perguruan tinggi terjebak menghasilkan sebanyak-banyaknya lulusan, bukan pengetahuan yang dibutuhkan bangsa untuk memecahkan beragam persoalan. Profesor tak disediakan fasilitas dan insentif yang mampu mendorong mereka untuk berkonsentrasi menemukan sesuatu.<br />
”Dalih anggaran yang terbatas, seperti sering dilontarkan pemerintah, sungguh tidak masuk akal. Zaman Soekarno, anggaran negara justru lebih kecil, tetapi bisa membangun universitas, menyejahterakan dosen, serta membangun asrama mahasiswa. Kuncinya, tidak ada niat dan kesungguhan pemerintah,” tegasnya.<br />
Guru profesional</p>
<p>Pendidikan yang terjadi sekarang ini barulah proses pemberian pelajaran untuk dihafal, dengan fasilitas dan prasarana pendidikan yang tak memadai.<br />
Soal guru, Soedijarto mendukung terciptanya guru profesional dengan minimal pendidikan S-1 plus pendidikan khusus. Itu didorong dari kesadaran atas kekeliruannya semasa menjabat Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum pada tahun 1975-1981.<br />
”Saat itu kepada guru diperkenalkan instructional system atau sekarang hampir sama dengan kurikulum berbasis kompetensi. Ternyata para guru belum siap. Saya baru sadar guru saat itu, kan, kebanyakan lulusan SPG atau setara perawat. Tetapi, saya mengharapkan mereka sudah seperti dokter. Karena itu, peningkatan pendidikan guru harus terus dilakukan,” katanya.</p>
<p>Kondisi pendidikan nasional yang tidak berhasil terwujud, seperti yang dicita-citakan pendiri bangsa, membuat Soedijarto bertanya apa gerangan yang salah dengan penyelenggaraan sistem pendidikan kita?<br />
Kegelisahan dia melihat perkembangan pendidikan nasional ini membuat Soedijarto berkontemplasi tentang kondisi pendidikan nasional baik dari segi landasan filosofis, pelaksanaan dan infrastruktur, maupun pembiayaannya. Perenungannya itu dituangkan dalam serangkaian artikel yang didiskusikan pada banyak kesempatan.<br />
Sumbangan pemikiran kritis Soedijarto itu dituangkan dalam buku bertajuk Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita yang diluncurkan pada Kamis (24/7) ini. Buku ini sekaligus mensyukuri ulang tahunnya yang ke-70. Pada usia pensiun sebagai guru besar dan pegawai negeri, Soedijarto mengenang betapa banyak tantangan dan tugas yang dilaluinya selama ini.</p>
<p>Sumber: Kompas</p>
<p>Biodata:<br />
Riwayat Pendidikan<br />
S1 Psikologi Pendidikan FKIP Univ. Padjajaran Bandung 1962<br />
S2 Pendidikan Politik University of California, Santa Barbara 1971<br />
S3 Pengembangan Kurikulum IKIP Bandung 1981</p>
<p>Riwayat Pekerjaan<br />
1. Kedinasan<br />
1. Ketua Badan Akreditasi Sekolah Nasional (BASNAS) Depdiknas, 2003 – 2006<br />
2. Anggota MPR-RI dengan tugas sebagai anggota PAH-I Badan Pekerja MPR RI, 1999 – 2004<br />
3. Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991 – 1999<br />
4. Anggota Tim Ahli Pengembangan Pendidikan Guru Ditjen DIKTI, 1990<br />
5. Sekretaris Konsorsium Ilmu Pendidikan, 1989 – 1993<br />
6. Guru Besar Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, 1989<br />
7. Pembantu Rektor I IKIP Jakarta, 1989<br />
8. Atase Pendidikan dan Kebudayaan pada KBRI Bonn, 1983 – 1987<br />
9. Konsultan Evaluasi Diklat pada BKKBN, 1982 – 1983<br />
10. Dosen Luar Biasa pada Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta, 1982 – 1983<br />
11. Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 1981 – 1983<br />
12. Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan BP3K Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975 – 1981<br />
13. Kepala Satuan Tugas Pengembangan Pendidikan BPP Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1973 – 1974<br />
14. Sekretaris Satuan Tugas Pengembangan Pendidikan BPP Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1972 – 1973<br />
15. Peneliti dalam Bidang Kurikulum pada BPP Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dengan tugas memimpin Tim Sistem Analisis untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan Pendidikan, 1971 – 1972<br />
16. Dosen Luar Biasa dalam Pengantar Sosiologi pada Fakultas Ekonomi, dan Filsafat Pancasila pada Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, 1967 – 1969. (Catatan : dari 1969 – 1971 mendapat tugas belajar dengan beasiswa the Ford Foundation, University of California, Santa Barbara, USA)<br />
17. Sekretaris Badan Koordinasi Lembaga-Lembaga Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 1967 – 1969<br />
18. Kepala Biro Urusan IKIP Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, 1964 – 1967<br />
19. Dosen Psikologi Anak dan Psikologi Perkembangan FKIP Universitas Pajajaran, Bandung, 1962 – 1964</p>
<p>2. Pengalaman Kerja Luar Kedinasan<br />
1. Penasehat PGRI, 2003 sampai sekarang<br />
2. Ketua Pelaksana Panitia Peringatan 100 Tahun Bung Karno, 2001<br />
3. Ketua “Center for Information and National Policy Studies (CINAPS)”, 1999<br />
4. Wakil Ketua Yayasan Indonesia-Jerman, 1999<br />
5. Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), 1998 – 2003, 2003 – 2008<br />
6. Anggota “Education Commision for Asia-Pacific and Oceania”, mewakili Indonesia, 1996<br />
7. Ketua Palang Merah Indonesia, 1994 – 1999, 1999 – 2004<br />
8. Anggota Dewan Riset Nasional (DRN), Wakil Ketua I Sub Kelompok Pendidikan, 1993 – 1998, 1998 – 2003<br />
9. Ketua Harian Dewan Pembina ISPI, 1993 – 1998<br />
10. Ketua GUPPI, 1993 – 1998<br />
11. Wakil Ketua Kawrnas Gerakan PRAMUKA, 1993 – 1998<br />
12. Ketua I Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia, 1989 – 1994<br />
13. Anggota dan Ketua “Advisory Committee on Regional Cooperation in Education in Asia and Oceania” sebagai Ketua, 1989 – 1991<br />
14. Wakil Pemimpin Umum Media Komunikasi Pendidikan Menengah Umum, 1978 – 1981<br />
15. Anggota Panitia Pengarah Pembinaan Kurikulum SLU, 1977 – 1981<br />
16. Wakil Ketua Komisi Kurikulum Pendidikan Guru Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977 – 1980<br />
17. Membantu Lemdikskogab dalam menyusun kerangka Kurikulum SESKOABRI, 1972 – 1973<br />
18. Sekretaris Panitia Ahli Pendirian IKIP Departemen PTIP, 1963 – 1964<br />
19. Anggota Majelis Pendidikan Nasional, 1965<br />
20. Anggota Pengurus Besar PGRI Pimpinan Subyadinata, 1964 – 1967<br />
21. Ketua Pendidik Marhaenis, 1964 – 1967<br />
22. Wakil Sekjen DPP ISRI, 1967 – 1969<br />
23. Pengurus Cabang GMNI Bandung, 1960 – 1962</p>
<p>3. Pengalaman Kerja Internasional<br />
1. Mengadakan kunjungan kerja ke Kamboja bersama anggota Badan Pekerja MPR – RI, 2004<br />
2. Memimpin Delegasi BP MPR RI dalam kunjungan Studi Banding ke Korea Selatan dan Cina, 2001<br />
3. Mengadakan kunjungan Studi Banding bersama anggota BP MPR RI ke Vietnam dan Kamboja, 2002<br />
4. Memimpin Delegasi Badan Pekerja MPR RI dalam kunjungan Studi Banding ke Yunani dan Jerman, Juni 2000<br />
5. Memimpin Delegasi Badan Pekerja MPR RI dalam kunjungan Studi Banding ke Mesir, Yordania, dan Arab Saudi, Desember 2001<br />
6. Menjadi Pembicara Kunci (Keynote Speaker) pada “The 23th ASAHIL General Conference and Seminar on Role of Universities and Community Development”, University Brunei Darussalam, 12 November 1998<br />
7. Menjadi Pembicara/Penyaji Makalah “Community Participation and Empowerment : A Key to Achieving Education for All in the Perspective of Sustainable Development” dalam International Conference on Education Innovation for Sustainable Development, Bangkok, Desember 1997<br />
8. Menjadi anggota Delegasi RI dalam UNESCO General Conference, Paris, Oktober 1997<br />
9. Menjadi Wakil Ketua Delegasi RI dalam pertemuan Menteri Pendidikan E-9 dan penyaji makalah dalam Expert Meeting E-9, di Islamabad, Juli 1997<br />
10. Ketua Delegasi RI dalam Konferensi “International Conference on Adult Education V”, di Hamburg, Republik Federal Jerman, 1997<br />
11. Wakil Ketua Delegasi RI dalam konferensi “International Conference on Education”, di Jenewa, 1996<br />
12. Ketua Delegasi RI dalam “Mid-Decade Meeting of the International Consultative Forum on Education For All”, di Amman Yordania, 1996<br />
13. Mewakili Indonesia dalam “Educational Commision on Asia-Pacific Oceania”, Bangkok, 1996<br />
14. Anggota Delegasi RI dalam KTT on Social Development, Copenhagen, 1995<br />
15. Memimpin Sidang Expert dan “Senior Official Meeting” dalam E-9 Ministerial Meeting, Bali, 1995<br />
16. Anggota Delegasi RI dalam “UNESCO General Conference”, Paris, 1995<br />
17. Wakil Ketua Delegasi RI dalam “International Conference on Education”, Jenewa, 1994<br />
18. Anggota Delegasi RI dalam E-9 Ministerial Meeting dan KTT E-9, New Delhi, 1993<br />
19. Mewakili RI dalam Pertemuan Menteri E-9, Paris, 1993<br />
20. Mengadakan Kunjungan Studi Perbandingan Sistem Pendidikan di Iran (1971), Jepang (1974), India dan Sri Langka (1975), Australia (1979), Inggris (1980), Thailand, Singapore (1993), China (1994) disamping Amerika Serikat dan Republik Federal Jerman yang dilakukan selama tinggal di kedua negara tersebut, Amerika Serikat (1969 – 1971), Republik Federal Jerman (1983 – 1987)<br />
21. Mengikuti berbagai Seminar dan Lokakarya di Indonesia dalam kedudukannya sebagai peserta dan pembawa makalah dan berbagai seminar yang berlangsung di Republik Federal Jerman, baik yang dilaksanakan oleh PPI maupun oleh Lembaga-lembaga Ilmiah dan Yayasan di Jerman<br />
22. Memimpin Studi Perbandingan Manajemen Pendidikan Pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ke Thailand dan Singapura, Februari – Maret 1992<br />
23. Memimpin Delegasi Indonesia dalam “World Assembly of International Council on Education for Teaching”, UNESCO, Paris, Juli 1992<br />
24. Mengikuti dan menyajikan makalah dalam Seminar “Policies and Approaches in Achieving Education for All Objectives”, Manila, INNOTECH Center, Philipines, Juli 1992<br />
25. Mengikuti Seminar on “Effective Educational Approaches to Urban Development”, INNOTECH Center, Manila, September 1988<br />
26. Mewakili KBRI Bonn dalam “International Energy Forum, Hamburg, Jerman Barat, 1987<br />
27. The Sixth Europian Collegium on Indonesia and Malay Studies, diselenggarakan oleh Department of South East Asian Studies Passau University, Passau, Jerman Barat, 1987<br />
28. Mengikuti Seminar on “Colonialsm and Neo-Colonialism”, diselenggarakan oleh The Institute for International Scientific Cooperation, Tubingan, Jerman Barat, 1985<br />
29. Mengikuti Seminar on “Formal and Non-Formal education”, diselenggarakan oleh UNESCO, Pyongyang, 1980<br />
30. Mengikuti Seminar on “Curriculum Design and Curriculum Development”, diselenggarakan oleh ACEID dan Pacific Circles di Canberra, Australia 1979<br />
31. Mengikuti Seminar on “Education Research and Educational Reform”, diselenggarakan bersama oleh UNESCO dan National Institute of Educational Research, Japan di Tokyo 1979<br />
32. Mengikuti Seminar on “Developing Instructional Materials for Primary and secondary Schools”, diselenggarakan oleh APEID di Udorn Thani, Thailand 1978<br />
33. Mengikuti “Technical Working Group Meeting on Implementation of Educational Innovation”, diselenggarakan oleh APEID, Bangkok 1976<br />
34. Mengikuti “Workshop on The Evaluation of SESAME Project”, diselenggarakan oleh RECSAM, Penang, 1977<br />
35. Mengikuti dan mengajukan makalah dalam “Seminar on Teaching-Learning Strategies and Educational Planning”, diselenggarakan oleh IIEP, Paris, 1975<br />
36. Mengikuti Seminar on “Relevant Education for Post-War Development”, diselenggarakan oleh INNOTECH Center, di Saigon, 1974<br />
37. Research Workshop on Education di Tokyo, 1974 (selama tiga bulan)<br />
38. Guest Researcher pada INNOTECH Center di Singapore, 1973 (selama tiga bulan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/02/01/soedijarto-sosok-seorang-pendidik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Achjar Chalil, Agupena, dan Rakernas</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/10/14/achjar-chalil-agupena-dan-rakernas/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/10/14/achjar-chalil-agupena-dan-rakernas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 17:26:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Agupena Kab/Kota]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1019</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sawali Tuhusetya Minggu, 11 Oktober 2009, pengurus Agupena Jawa Tengah berkesempatan mengadakan rapat koordinasi (Rakor) dan silaturahmi di LPMP Semarang, Jawa Tengah. Meski tak semua pengurus bisa hadir, tetapi pertemuan itu setidaknya bisa makin mengakrabkan tali silaturahmi antarpengurus. Yang tak kalah penting, tentu saja keputusan Rakor berkaitan dengan agenda Agupena Jawa Tengah menjelang akhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: <a title="Sawali Tuhusetya" href="http://sawali.info/">Sawali Tuhusetya</a></p>
<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">M</span>inggu, 11 Oktober 2009, pengurus Agupena Jawa Tengah berkesempatan mengadakan rapat koordinasi (Rakor) dan silaturahmi di LPMP Semarang, Jawa Tengah. Meski tak semua pengurus bisa hadir, tetapi pertemuan itu setidaknya bisa makin mengakrabkan tali silaturahmi antarpengurus. Yang tak kalah penting, tentu saja keputusan Rakor berkaitan dengan agenda Agupena Jawa Tengah menjelang akhir tahun 2009.</p>
<p><img src="http://sawali64.googlepages.com/rakor.jpg" alt="rakor" width="300" />Ada tiga agenda  yang dibahas, yakni lomba blog guru, temu bloger guru, dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas). Namun, lantaran pendeknya persiapan, untuk lomba blog guru baru bisa akan digelar tahun depan. Sementara, temu bloger guru &#8211;diubah menjadi Temu Guru Jawa Tengah dengan mengusung Tema: “Membudayakan Aktivitas Menulis di Kalangan Guru melalui Blog”&#8211; dan Rakernas I Agupena akan dijadikan sebagai agenda Agupena Jawa Tengah akhir tahun 2009.</p>
<p>Berbicara tentang rencana Rakernas, tiba-tiba saja saya teringat sosok Achjar Chalil. Lelaki  berperawakan kekar yang kini bermukim di Jalan Omega I/230 Tangerang itu dikenal sebagai sosok yang gigih berjuang dalam membesarkan nama Agupena. Dengan vokalnya yang khas, berat dan wibawa, Pak Achjar –demikian saya dan teman-teman Agupena Jawa Tengah biasa menyapanya&#8211;  tak pernah kehabisan wacana dan bahan diskusi menarik tentang dunia kepenulisan. Sesekali, Pak Achjar menyelipkan kata-kata humor untuk mencairkan suasana.</p>
<p><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs181.snc1/6020_100162551218_544986218_2150785_1002947_n.jpg" alt="rakor" width="300" />“Bolehkah Ketua Umum Agupena Pusat memberikan instruksi kepada Agupena Provinsi?” tanya Pak Achjar  tiba-tiba dalam sebuah pertemuan menjelang <a title="audiensi" href="http://sawali.info/2009/07/10/hasil-audiensi-agupena-sekretaris-ditjen-pmptk-dan-seamolec/">audiensi dengan Sekjen PMPTK</a> pada bulan Juli 2009 yang lalu. Karena belum tahu instruksi apa yang hendak disampaikan, kami –wakil Agupena Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat&#8211; menjawab serempak, “boleh!”</p>
<p>“Baik! Kami menginstruksikan, untuk pelaksanaan Rakernas 2009, Agupena Jawa Tengah yang menjadi Tuan Rumah!” lanjut lelaki kelahiran Aceh ini sambil tertawa. Tentu saja, saya dan Pak <a title="pak deni" href="http://penadenikurniawan.co.cc/">Deni Kurniawan As&#8217;ari</a> terkejut –wakil Agupena Jawa Tengah&#8211;, tak menduga kalau Pak Achjar akan memberikan instruksi semacam itu. Kalau berbicara tegas, apa adanya, memiliki elan semangat yang begitu besar, dan pemberani. Gambaran sosoknya makin tegas sebagai sosok bernyali besar ketika saya membaca tagline pribadinya di <a title="profil pak achjar" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1548589096#/profile.php?id=1548589096&amp;v=info">Facebook</a>.</p>
<blockquote><p>Saya, Achjar Chalil. saya seorang petarung. Saya bertarung melawan kemiskinan, kebodohan yang melilit diri saya dan lingkungan saya. Saya bertarung melawan rasa sakit, bertarung melawan rasa takut, dan bertarung melawan Iblis, musuh saya yang nyata.</p></blockquote>
<p>Begitulah gambaran sekilas sosok kelahiran Aceh yang tak pernah surut dalam mengembangkan idealisme dalam dunia pendidikan dan kepenulisan yang juga Ketua Umum Agupena Pusat itu. Buku terakhirnya <em><a title="buku pak achjar" href="http://agupenajateng.net/2009/02/13/pembentukan-karakter-peserta-didik-melalui-pendekatan-pembelajaran-berbasis-fitrah/">Pembelajaran Berbasis Fitrah</a></em> yang diterbitkan Balai Pustaka (2008) menjadi salah satu buku rujukan yang laris dibedah di berbagai tempat. Namun, saya tak sanggup membendung arus kesedihan ketika menerima kabar lewat SMS kalau Pak Achjar belakangan ini tengah berjuang melawan penyakit yang tengah dideritanya.</p>
<p>Ketika bertemu di Jakarta bulan Juli 2009 yang silam, Pak Ahjar memang sempat menyampaikan kondisi fisiknya yang mulai menurun. Setelah itu, beberapa kali beliau mengabarkan diagnosis dokter tentang indikasi adanya tumor yang bersarang di lehernya, sebelum akhirnya mengirimkan SMS seperti berikut ini.</p>
<blockquote><p>Assww. Yth. Peng. Agupena Jtng. Ats perintah pak FA Moeloek (mantan Menkes) sy hrs berobat ke RS Dharmais (indikasi tumor ganas). Tks. Slm. Achjar. Ps. Hri ini sy ke Dharmais, mhn bntu doa (Yth dr. Satoto/Direktur RS Dharmais/: &#8230;.</p></blockquote>
<p>Saya tak sanggup berbuat apa-apa ketika menerima kabar semacam itu. Hanya bisa berdoa semoga Pak Achjar diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian yang tengah dihadapinya. Dengan kesabaran dan ketabahan, semoga Allah memberikan sentuhan tangan gaib-Nya hingga akhirnya Pak Achjar diberikan kesembuhan dan kesehatan seperti sedia kala dan bisa terus bereksistensi diri dalam membesarkan Agupena dan menggairahkan dunia kepenulisan di kalangan guru. Demikian juga, segenap pengurus Agupena Jawa Tengah dengan ketulusan hati terus berdoa semoga Allah SWT memberikan jalan kesembuhan buat Pak Achjar.</p>
<p>Saya juga mohon dengan kerendahan hati kepada semua sahabat bloger dan pembaca untuk berkenan mendoakan Pak Achjar agar bisa mengatasi semua cobaan yang tengah dihadapi hingga bisa sembuh dan sehat kembali. Terima kasih!</p>
<p>Selamat berjuang, Pak Achjar, Insyaallah semua cobaan bisa teratasi dengan baik! ***</p>
<p>Sumber: <a title="sawali.info" href="http://sawali.info/2009/10/15/achjar-chalil-agupena-dan-rakernas/">www.sawali.info</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/10/14/achjar-chalil-agupena-dan-rakernas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sisi Lain Sosok Ahmad Tohari</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/06/26/sisi-lain-sosok-ahmad-tohari/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/06/26/sisi-lain-sosok-ahmad-tohari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 04:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=544</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sawali Tuhusetya Nama Ahmad Tohari sebagai seorang sastrawan sudah lama dikenal. Kreativitas dan produktivitasnya dalam berkarya sungguh layak dikagumi. Puluhan novel, ratusan cerpen, dan berbagai tulisan genre nonfiksi sudah lahir dari tangannya. Sosok Ahmad Tohari sesungguhnya tak hanya menarik dibicarakan berdasarkan karya-karyanya, tetapi juga kesantunan dan kesederhanaan gaya hidupnya. Ia dikenal sangat alergi terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Sawali Tuhusetya</p>
<p><img src="http://www.suaramerdeka.com/harian/0404/29/sm16achmadthohari29.jpg" alt="Ahmad Tohari" />Nama Ahmad Tohari sebagai seorang sastrawan sudah lama dikenal. Kreativitas dan produktivitasnya dalam berkarya sungguh layak dikagumi. Puluhan novel, ratusan cerpen, dan berbagai tulisan genre nonfiksi sudah lahir dari tangannya. Sosok Ahmad Tohari sesungguhnya tak hanya menarik dibicarakan berdasarkan karya-karyanya, tetapi juga kesantunan dan kesederhanaan gaya hidupnya. Ia dikenal sangat alergi terhadap simbol-simbol feodalisme dan kapitalisme yang konon sudah demikian kuat membelit sendi-sendi kehidupan bangsa. Sungguh beruntung saya bersama beberapa pengurus Agupena Jawa Tengah yang lain bisa sedikit ngobrol dengan novelis trilogi <em>Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Bianglala, dan Lintang Kemukus Dini Hari</em> di sela-sela acara menjelang seminar nasional yang digelar di LPMP Semarang pada hari Kamis, 25 Juni 2009, itu. </p>
<p>“Saya sangat marah ketika pembangunan hanya menguntungkan segelintir orang saja. Sebagian kemarahan saya tercermin dalam novel Blantik itu,” katanya. Lebih lanjut, sastrawan yang sering disapa dengan “Ramane Srintil” itu mempertanyakan tentang keadiluhungan budaya Jawa yang gencar digembar-gemborkan itu.</p>
<p>“Adiluhung yang mana? Bisakah itu disebut adilihung kalau dibangun berdasarkan nilai-nilai feodalisme yang justru mematikan hak rakyat kecil dalam memperjuangkan eksistensi hidupnya!” ungkapnya dengan nada getir. Dalam masyarakat Jawa, katanya, dikenal strata berlapis tujuh yang menunjukkan status sosial seseorang. Hal itu terlihat dari <em>undha-usuking </em>bahasa, mulai dari sapaan “Sampeyan Dalem” sampai “Kowe”. </p>
<p>“Sekadar untuk menyampaikan pendapat saja kepada “Sampeyan Dalem”, orang Jawa yang menduduki strata “kowe” harus melewati tujuh lapis. Kapan rakyat kecil bisa memiliki kedudukan yang egaliter?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.</p>
<p>Ya, ya, ya, begitulah sisi lain yang tampak jelas tercermin di balik sosoknya yang bersahaja. Kang Tohari bisa demikian marah dan geram ketika menyaksikan wong cilik diperlakukan secara tidak adil. Dia tak hanya sekadar beretorika, tetapi benar-benar menyatu dan meleburkan hidupnya di tengah-tengah kehidupan wong cilik. Tak heran kalau dia tetap merasa betah dan nyaman hidup di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, yang jauh dari ingar-bingar dan dinamika masyarakat urban. </p>
<p>Dalam menggelar perhelatan pernikahan putri bungsunya, dokter Din Alfina binti Ahmad Tohari dan Wiwid Ardhianto SE pun, sejak Jumat hingga Minggu (21/6), Kang Tohari sengaja mengambil tema “Kembali ke Kampung” yang menggambarkan “pemberontakan kultural” terhadap menguatnya akar feodalisme dan kapitalisme itu. </p>
<p>Sebagaimana dilaporkan <a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/06/21/68897/Happy.Salma....Nggemblung..." title="Suara Merdeka">Suara Merdeka</a>, Kang Tohari sengaja membuat setting perhelatan pernikahan dalam nuansa kampung orang gaplek. Tamu yang hadir silih berganti mengaku gumun memasuki halaman belakang rumah yang menjadi panggung utama dalam pagelaran mantenan itu.  Pelataran belakang rumah yang sekaligus menjadi halaman musala Al Hidayah itu disulap menjadi suatu perkampungan, seperti tergambar dalam novel masterpiece Tohari itu. ”Kiye tah mantene wong gaplek (Ini dia perkawinan orang gaplek),” seru Edhi Romadhon, penggerak Komunitas Gethek.</p>
<p>Tohari lantas menunjukkan sekumpulan ketela pohon yang sudah dikupas dan disebar di atap rumah welit (atap ilalang) yang menjadi tempat pengantin jejer. Singkong yang dibiarkan terkena hujan dan panas selama berbulan-bulan itulah yang disebut gaplek. Di masa paceklik, singkong yang sudah ditumbuhi jamur itu jadi makanan pokok warga. Cermin kemiskinan itu selaras dengan gubuk bambu yang dinaunginya.</p>
<p>Seperti seniman lain saat punya gawe, suami Samsiah yang kerap disapa kiai ini rupanya juga sedang bermain simbol. Selain gaplek, tamu-tamu juga tercengang ketika mantenan ini menampilkan apa-apa yang serba ndesa.</p>
<p>”Suasana ini menjadi akar budaya saya, termasuk orang-orang yang kini sudah keluar dari kemiskinan. Sambil mantenan, sah-sah saja dong saya mengajak mereka untuk mengingat orang yang masih kelaparan, di tengah kebahagiaan kita,” kata Tohari.</p>
<p>Hmmm … Begitulah sisi lain sosok Ahmad Tohari yang tidak hanya gencar menyuarakan nasib wong cilik yang terpinggir dan dipinggirkan ke dalam teks sastra, tetapi juga menyelaraskan dan menyatukan “darah kehidupan”-nya di tengah-tengah kehidupan wong cilik yang kesrakat dan bersahaja. Meminjam istilah Bakdi Sumanto, Ahmad Tohari bisa dibilang sebagai seorang resi yang “tapa ngrame”, bertapa di tengah keramaian kehidupan rakyat kecil yang sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan modern dan kosmopolit yang sejatinya dengan mudah bisa dia nikmati dalam kemegahan yang sarat dengan sentuhan gebyar duniawi dan godaan nilai-nilai hedonisme. ***</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Sumber: http://sawali.info/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/06/26/sisi-lain-sosok-ahmad-tohari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siswandi, Bukan Guru Biasa</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/05/21/siswandi-bukan-guru-biasa/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/05/21/siswandi-bukan-guru-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 16:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Deni Kurniawan As’ari Siswandi, seorang guru sekaligus kepala sekolah ini, merupakan salah satu Pembina Agupena Jawa Tengah. Beliau lahir di sebuah desa yang sepi, pada tanggal 4 Juni 1959, tepatnya di desa Kaliori Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas. Ayahnya bernama Hadi Aswan (Mantan Guru) dan ibunya Suprihatin. Menurut ibunya, Siswandi saat lahir memiliki tubuh yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Deni Kurniawan As’ari</strong></p>
<p>Siswandi, seorang guru sekaligus kepala sekolah ini,  merupakan salah satu Pembina Agupena Jawa Tengah. Beliau lahir di sebuah desa yang sepi,  pada tanggal 4 Juni 1959, tepatnya di desa Kaliori Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas. Ayahnya bernama Hadi Aswan (Mantan Guru) dan ibunya Suprihatin. Menurut ibunya, Siswandi saat lahir memiliki tubuh yang amat kecil dan kurus sehingga sering dijuluki seekor kucing kecil. Anak kedua dari delapan bersaudara (empat orang meninggal dunia) ini memiliki semangat kepenulisan yang luar biasa dan perlu ditiru oleh segenap keluarga besar Agupena.</p>
<p><strong>Berlatih Menulis</strong><br />
<img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/05/photo_5-240x300.jpg" alt="photo_5" width="350" /><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/05/photo_4-223x300.jpg" alt="photo_4" width="350" /><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/05/photo_3-300x208.jpg" alt="photo_3" width="350" /><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/05/photo_2-300x252.jpg" alt="photo_2" width="350" /><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/05/photo_1-300x208.jpg" alt="photo_1" width="350" />Siswandi mulai belajar menulis artikel saat beliau sudah masuk semester dua di SPG (Sekolah Pendidikan Guru)  Muhammadiyah Purwokerto. Awal konsep ditulis tangan, setelah itu diketik di balai desa Kaliori atau meminjam mesin ketik milik SD Kaliori 1. Biasanya beliau mengetik pada hari Sabtu sore sampai Minggu siang. Konon, mengetik naskah selembar saja harus menghabiskan waktu hampir dua jam. Setelah naskahnya selesai,   kemudian beliau kirimkan ke Redaksi SKM  Jakarta dengan perangko biasa sebesar Rp 50,00 kala itu.</p>
<p>Menurut penuturannya, “ Entah berapa puluh naskah yang  dikirimkan ke Redaksi Suara Karya Minggu (SKM), namun tak pernah terpampang tulisannya , di setiap edisi terbaru.”   Beliau juga rajin menulis puisi, artikel remaja dan gambar vignette, tetapi berbulan-bulan tetap tak ada satu pun tulisannya  yang dimuat.</p>
<p>Dengan kenyataan tersebut, teman dekat sekolahnya, Bambang sempat berujar” Buat apa kirim tulisan terus kalau tidak dimuat. Sudah payah, pusing, uang untuk beli perangko melayang sia-sia. Untuk beli bakso jelas ada gunanya.”  Mendengar kata-kata temannya itu, Siswandi sungguh merasa sedih dan sakit. Beliau katakan, “ Seperti ditusuk ribuan jarum.”</p>
<p>Namun, bukan Siswandi namanya kalau harus patah semangat. Dia terus menulis dan menulis sampai akhir kelas 3 SPG. Namun rupanya dewi portuna masih belum mau menghampirinya, sehingga sampai kelas 3 SPG  itu tidak ada satu  pun naskah yang dimuat. Sekali lagi beliau tidak putus asa dan sempat terhibur ketika mendapat informasi melalui kontak pembaca SKM bahwa setiap minggunya ada sebelas ribu naskah yang masuk ke redaksi SKM dan berarti  banyak teman lainnya yang ditolak dan  memiliki nasib yang sama.</p>
<p>Akhirnya Siswandi banting setir, karena gagal terus di SKM, memilih untuk berlatih mengarang menggunakan bahasa Jawa. Beliau menulis dongeng untuk koran berbahasa Jawa, namanya Parikesit yang diterbitkan di Solo. Rupanya dari sini debut kepenulisan Siswandi dimulai,  ketika naskah dongengnya dimuat dalam satu halaman penuh. Betapa bahagianya Siswandi kala itu dan mendapat honor sebesar Rp 500,00 (lima ratus rupiah) yang setara dengan harga bakso lima mangkuk. Dia pun mendapat uacapan selamat dari keluarga dan teman-temannya.</p>
<p>Kesuksesan pertama ternyata menjadi pendorong Siswandi untuk terus menulis. Selanjutnya beliau menulis lagi beberapa dongeng yang dikirim ke Majalah Jawa Penyebar, hasilnya naskahnya kembali dimuat dan selanjutnya setiap naskah yang dikirim ke Parikesit pun hampir setiap minggu dimuat.</p>
<p><strong>Debut Kepenulisan</strong><br />
Bakat dan kemampuan kepenulisan Siswandi terus diasah, termasuk ketika pertama kali mendapat tugas sebagai guru SD di tempat terpencil, tepatnya SD Negeri Cikakak 4 (6 KM jalan kaki dari ibukota kecamatan). Di rumah dinas guru, Siswandi menghabiskan masa mudanya untuk mengajar siswa sekaligus mengembangkan kepenulisanya di tempat yang sepi dan sunyi.  Mengingat di sekolahnya belum ada mesin ketik, maka Siswandi membuat konsep tulisan tangan untuk kemudian diketik di rumah. Beliau merencanakan kalau sudah mendapat gaji pertama  akan membeli mesin ketik.</p>
<p>Bulan pertama, Siswandi berhasil menyelesaikan cerita bersambung bahasa Jawa dengan judul Ati Kang Keri (Hati yang Tertinggal). Cerita itu dimuat secara bersambung di koran Mingguan Jawa Parikesit. Koran itu oplahnya besar karena hampir semua SD di Jawa Tengah dijatah untuk berlangganan.</p>
<p>Naskah Siswandi akhirnya sering muncul dan membuat honornya semakin banyak. Sebelum rapel gaji beliau terima, sudah berhasil membeli mesin ketik merk fish yang harganya Rp 27.000,00 pada awal tahun 1980. Honor penulisannya datang silih berganti dari berbagai penerbitan. Konon beliau tidak pusing lagi masalah keuangan karena belum gajian pun duitnya masih banyak.</p>
<p>Tempat mengajarnya yang sunyi dan terpencil itu seolah membawa hoki tersendiri, karena dari  sana lahir berbagai karya Siswandi. Inspirasinya terus mengalir dan mengalir bagaikan air sungai. Aktifitasya mengajar dan mengetik naskah. Sampai tiba saatnya, SKM yang dulu selalu menolak tulisan beliau, akhirnya luluh tak berdaya dan mau menerbitkan karyanya.</p>
<p>Sejak itulah Siswandi mulai dikenal dan menjadi pembicaraan orang banyak terutama di wilayah Wangon. Hampir setiap minggu rekan sejawatnya membaca tulisan beliau. Sebagian honor tulisannya digunakan untuk mentraktir makan bakso teman-temannya  dan jalan-jalan ke Purwokerto.</p>
<p><strong>Siswandi, dari Lomba ke Lomba</strong><br />
Setelah sukses menulis di media, Siswandi yang telah lama menjadi guru mencoba peruntungannya untuk   mengikuti lomba. Beliau mulai mengikuti lomba atas desakan  Kepala Dinas Pendidikan Wangon saat itu tahun 1992. Waktu itu ada pengumuman lomba mengarang cerita anak berbahasa Jawa yang diadakan oleh Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Akhirnya dewi fortuna itu mau mendekatinya, dengan judul naskah Langite Hiru Resik (Langit Biru Bersih) berhasil menjadi pemenang pertama setelah menunggu pengumuman selama 3 bulan. Hadiahnya berupa Tabanas sebesar  gaji selama satu bulan ditambah trophy.</p>
<p>Tahun berikutnya, Siswandi megikuti lomba yang sama dan berhasil menjadi juara dua. Menurut  beliau, “ Saya senang membaca majalah Jawa sejak SMP”.  Sehingga menjadi modal tersendiri dalam memenangkan perlombaan.</p>
<p>Tahun 1993 Siswandi kembali mengikuti lomba dan kali ini lomba mengarang guru tingkat nasional. Awalnya dia tidak mau iku karena merasa kurang percaya diri ketika dari Bayumas belum ada satu pun guru yang berhasil menjadi pemenang.</p>
<p>Bukan Siswandi namanya kalau tidak mencoba, Akhirnya, Siswandi menulis karangan yang berjudul Pelangi di Atas Taman Hati. Dan sungguh menggembirakan, karyanya masuk final 6 besar dan harus ikut bertanding di final yang diadakan di Jakarta dan akan dibuka langsung oleh Mendikbud kala itu, Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro.</p>
<p>Rupanya Siswandi memang bukan guru biasa, dia kembali menunjukkan kemampuannya dengan menggondol juara ketiga Lomba Mengarang Guru Tingkat Nasional dengan membawa pulang throphy dan Tabanas senilai Rp 600,000 padahal gajinya waktu itu hanya Rp 275.000 ditambah uang transport dan jalan-jalan  ke tempat rekreasi secara gratis.</p>
<p>Kerinduan untuk meraih juara selalu membuat Siswandi makin bersemangat mengikuti lomba mengarang. Pada bulan Maret  1994, beliau mendapat brosur tentang Sayembara Penulian Naskah Buku bacaan dari kantor Depdikbud Kecamatan Wangon. Semangat menulis Siswandi memang tiada duanya, saat itu beliau langsung menulis naskah buku dan membutuhkan waktu 3 hari untuk menyelesaikannya. Naskah kali ini diberi judul Lambaian Seribu Bunga dan lagi-lagi Siswandi beruntung karena berhasil menjadi juara ketiga dengan hadiah  sebesar Rp 750.000.</p>
<p><strong>Setahun meraih Tiga Gelar Juara</strong><br />
Tak puas dengan prestasi yang telah dicapai, Siswandi terus mengikuti lomba. Tahun 1995 beliau mengikuti lagi sayembara penulisan naskah buku bacaan dengan pilihan buku bacaan fiksi SD. Dengan menulis cerita mengambil setting perkampungan nelayan dengan tokoh utamanya Gunawan dan diberi kudul Senandung Ombak. Untuk karya kali ini berhasil mendapat juara harapan kedua dengan hadiah Rp 1.000.000,00</p>
<p>Boleh jadi, tahun 1995 itu menjadi tahun keberuntungan bagi Siswandi karena berhasil menggaet juara sampai tiga kali berturut-turut. Selain juara harapan nasional, juga masuk nominasi Provinsi Jawa Tengah dan mendapat hadiah Rp 1.250.000.00 ditambah juara kedua mengarang cerita anak berbahasa jawa tingkat provinsi Jawa Tengah.</p>
<p>Keberuntungan Siswandi berikutnya, buku Seandung ombak tak lama kemudian terbit dan Siswandi mendapat royalty Rp 5.400.000,00  Menurut penuturannya, “ Dengan satu buku itu saya bisa membangun dapur keramik, kamar mandi dan ruangan tingkat 2 ukuran 3 X 6 meter”.</p>
<p>Masih banyak prestasi kepenulisan beliau yang lain yang berhasil diraih.  Saking banyaknya, maka penulis akhiri sampai di sini.</p>
<p>Ibroh yang dapat dipetik adalah menulis merupakan keterampilan yang perlu diasah dan dikembangkan terus menerus. Sosok Siswandi ini barangkali bisa menjadi spirit bagi kita untuk terus belajar menulis.</p>
<p>Selamat untuk Pak Siswandi atas capaian prestasinya. Dan terima kasih atas kesediaanya untuk berbagi dan menjadi pembina Agupena Jawa Tengah.  ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/05/21/siswandi-bukan-guru-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya-Jawab Seputar Dunia Penulisan Bersama Setiawati Intan Savitri (Bagian III)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/04/26/tanya-jawab-seputar-dunia-penulisan-bersama-setiawati-intan-savitri-bagian-iii/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/04/26/tanya-jawab-seputar-dunia-penulisan-bersama-setiawati-intan-savitri-bagian-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 14:51:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Mbak I-Je yang cantik, katanya kan nyari ide buat ditulis tuh susah, tapi aku tuh sebenarnya gampang dapat ide. Masalahnya, aku susah banget ngembangin ide tersebut menjadi tulisan yang menarik. Gimana ya? Minta saran Mbak dong! (Sri Astuti, Bogor) Astuti yang banyak ide. Wah, luar biasa jika kamu adalah seorang yang banyak ide, karena itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mbak I-Je yang cantik, katanya kan nyari ide buat ditulis tuh susah, tapi aku tuh sebenarnya gampang dapat ide. Masalahnya, aku susah banget ngembangin ide tersebut menjadi tulisan yang menarik. Gimana ya? Minta saran Mbak dong! (Sri Astuti, Bogor)</strong> </p>
<p><img src="http://sawal64.googlepages.com/savitri.png" alt="savitri" />Astuti yang banyak ide.<br />
Wah, luar biasa jika kamu adalah seorang yang banyak ide, karena itu menandakan kamu seorang yang kreatif. Tetapi, berhenti pada ide saja tanpa berusaha mengembangkannya menjadi ide yang menarik, akan mubazir jadinya..<br />
Nah, jika permasalahannya adalah bagaimana mengembangkannya, mari kita bahas bersama-sama ya.<br />
Astuti, sesungguhnya modal awal dari seorang penulis adalah menuliskan apa yang Ia ketahui. Dengan MENGETAHUI apa yang akan ia tulis, tentu ia tidak akan kesulitan untuk mengembangkan ide. Sehingga sebelum kita membahas bagaimana cara mengatasi kemacetan dalam mengembangkan ide, pastikan dulu bahwa kamu telah MEMILIKI PENGETAHUAN yang cukup terhadap apa yang akan kamu tulis. Bagaimana caranya? Membaca, wawancara, riset untuk MENGETAHUI segala sesuatu yang akan kamu tulis.</p>
<p>Baiklah, mari kita bahas bagaimana mengatasi ide yang macet atau mengembangkan ide. Secara teori ketika menulis kita bisa dibantu mengembangkan cerita dengan cara menulis kerangkanya terlebih dahulu. Kerangka cerita ini secara normatif terdiri dari pembuka, konflik, puncak ketegangan, penyelesaian dan penutup. Meskipun alurnya bisa saja alur maju atau alur kilas balik, tetapi secara normatif demikianlah kerangka cerita. Kerangka cerita menjelaskan seperti apa cerita itu akan kamu tuliskan. Ada juga penulis yang tanpa menuliskan kerangkanya terlebih dahulu, ia telah mengetahui seperti apa cerita yang akan ia tuliskan, sehingga ia memulai tulisannya dengan MENULIS, MENULIS, MENULIS. Seperti dalam film Finding Forrester, sang tokoh yang novelis tidak pernah menulis kerangka cerita, melainkan langsung menuliskannya begitu saja. William Forester sang tokoh dalam Finding Forester memberi tips yang hebat dalam masalah ini ”Menulislah –pada saat awal- dengan hati. Setelah itu perbaiki tulisan dengan pikiran. Kunci pertama menulisi bukan berpikir melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan”<br />
Tetapi bagi penulis pemula menulis kerangka cerita akan memudahkan kita untuk mengembangkan cerita, meskipun, kita tidak boleh terlalu kaku dalam mentaati kerangka tersebut. Bisa saja, ketika kamu sudah mulai menuliskan ceritanya, kamu sekaligus mengubah atau mengembangkan kerangkanya.</p>
<p>Nah, setelah kerangka cerita kamu tulis. Kamu bisa mulai mengisinya dengan memulainya satu persatu, misalnya pikirkan tokoh-tokohnya terlebih dahulu, karakter tokoh-tokohnya seperti apa, manakah tokoh yang akan kamu tempatkan sebagai tokoh protagonis, dan mana yang akan menjadi tokoh antagonis. Tuliskan nama tokoh-tokoh tersebut berikut karakternya dan peran yang akan diperankannya dalam cerita, tempelkan di sekitar tempatmu menulis.<br />
Misalnya tokoh utama: Rosana, seorang wanita setengah baya yang menduduki posisi puncak di sebuah perusahaan, ia berambut ikal, wajahnya tirus, matanya lebar, setiap kali berpikir keras ia selalu menggerakkan bola matanya kearah sudut kanan kelopak matanya<br />
Lalu setelah itu, kamu pikirkan latar dari cerita, jika kamu belum menguasai latar ceritanya, misalnya kamu memilih latar cerita di luar negeri yang kamu belum pernah tinggal di sana, kamu bisa mengumpulkan referensi dan mulai membacanya dengan detil.  </p>
<p>Nah, setelah kamu mengimajinasikan tokoh-tokohnya dan juga mengumpulkan bahan tentang setting atau latar dari ceritamu, kamu bisa memulai untuk menuliskannya. Gunakan imajinasimu sebaik-baiknya, gunakan diksi atau pilihan kata yang tepat agar tulisanmu mampu menyebabkan pembaca benar-benar melihat merahnya darah yang tertumpah, mencium masin air laut, dan merasakan kerasnya guncangan kendaraan yang dikendarai sang tokoh!</p>
<p>Demikian Astuti,<br />
Hal yang sebenarnya paling mudah untuk mencegah macetnya ide adalah segala sesuatu yang kamu tulis adalah berasal dari dirimu sendiri. Menulis yang paling mudah adalah, menulis pengalamanmu sendiri, kenanganmu sendiri, mimpimu sendiri, dan imajinasi-imajinasimu sendiri. Tokoh-tokoh yang kamu tulis bisa jadi kamu pinjam dari tokoh-tokoh nyata yang dekat dengan dirimu sendiri. Boleh jadi, mengapa Laskar Pelangi begitu indah dituliskan oleh Andrea, disebabkan Ikal adalah Andrea, dan segala sesuatu yang dituliskannya adalah pengalaman hidupnya. Seperti kata Marcel Proust ”Semua bahan untuk karya sastra tidak lain adalah kehidupan masa lalu saya”<br />
Jadi seperti itu ya.. semoga tips sederhana ini bisa membantumu mengembangkan ide.<br />
Salam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/04/26/tanya-jawab-seputar-dunia-penulisan-bersama-setiawati-intan-savitri-bagian-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya-Jawab Seputar Dunia Penulisan Bersama Setiawati Intan Savitri (Bagian II)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/04/26/tanya-jawab-seputar-dunia-penulisan-bersama-setiawati-intan-savitri-bagian-ii/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/04/26/tanya-jawab-seputar-dunia-penulisan-bersama-setiawati-intan-savitri-bagian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 14:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=300</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban BM Oktober 08 Mbak I-Je, mana yang lebih dibutuhkan penulis untuk membuat cerita yang menarik: tema yang kuat atau gaya bahasa yang khas? Mengapa? (Sari-Jakarta) Sari yang baik, Tentang tema yang kuat dan bahasa yang khas, kedua-duanya adalah hal yang penting bagi sebuah tulisan. Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita lihat dulu apa itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jawaban BM Oktober 08</strong></p>
<p><strong>Mbak I-Je, mana yang lebih dibutuhkan penulis untuk membuat cerita yang menarik: tema yang kuat atau gaya bahasa yang khas? Mengapa? (Sari-Jakarta)</strong></p>
<p><img src="http://sawal64.googlepages.com/savitri.png" alt="savitri" />Sari yang baik,<br />
Tentang tema yang kuat dan bahasa yang khas, kedua-duanya adalah hal yang penting bagi sebuah tulisan. Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita lihat dulu apa itu tema ya, tema menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pokok pikiran; dasar cerita (yang dipercakapkan dipakai sebagai dasar mengarang dan menggubah sajak), sedangkan gaya bahasa mengandung arti  1) pemanfaatan atas kekayaah bahasa oleh seseorang dalam bertutur dan menulis, 2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, 3)keseluruhan cirri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra, 4)cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan.<br />
Nah, jika merujuk pada definisi itu, maka tema dan gaya bahasa sangat diperlukan dalam sebuah tulisan. Tentu jika ditanyakan mana yang lebih dibutuhkan, kedua-duanya dibutuhkan. Tetapi, jika pertanyaannya bisakah seorang penulis memilih mana yang akan ditonjolkan dan menjadi kekuatan sebuah tulisan, maka tentunya, bisa dipilih satu diantara keduanya. Begitu, ya.</p>
<p>Agar lebih mudah, saya akan mengulas sebuah contoh cerita ya. Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, ada dua pengarang yang bisa dibandingkan dalam masalah penonjolan tema atau gaya bahasa, diantaranya adalah Idrus dan Nur Sutan Iskandar. Jika Idrus menekankan pada tema yang kuat, sedangkan Nur Sutan Iskandar, lebih terkenal karena penonjolan lokalitas budaya dan gaya bahasanya yang indah.<br />
Yuk, kita bahas satu persatu ya. </p>
<p>Menurut H.B.Jassin gaya penulisan Idrus disebutnya sebagai kesederhanaan baru (nieuw zakelijheid)- Ajip Rosidi menyebut gaya penulisan Idrus sebagai gaya-menyoal-baru (nieuw zakelijheid stijl) yang serba-sederhana. Nah, salah satu cerpen Idrus yang paling baik adalah roman pendeknya yang berjudul Aki (Balai Pustaka,1949), itu kata Teeuw (1980: 221). T,ema yang diambil Idrus pada roman pendeknya yang berjudul Aki itu adalah tentang kematian, tetapi Idrus mengemasnya dalam gaya  satire atau lelucon, ia seperti menertawakan kematian. Ceritanya, sang tokoh yang bernama Aki mengidap penyakit TBC yang akut, sehingga menampakkan ia menjadi seorang laki-laki yang jauh lebih tua dari usianya. Usia Aki yang baru 29 tahun nampak seperti 42 tahun. Bentuk tubuh Aki yang bongkok bisa menjadi bahan tertawaan yang mengasyikkan, tetapi hal itu tidak dilakukan teman-teman kantornya, mereka bahkan sangat menghormati Aki. Pada suatu masa, penyakit TBC Aki mencapai titik kritis, puncaknya adalah ketidakbernapasan Aki untuk beberapa saat, Sulasmi istrinya terkejut, ia panik. Dan, ketika suaminya siuman, dengan tersenyum Aki mengatakan pada istrinya bahwa ia akan mati pada tanggal 16 Agustus tahun depan. Dengan sungguh-sungguh ia mengatakan pada Sulasmi, agar mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi hari kematiannya itu. </p>
<p>Rekan-rekan Aki di kantor menganggapnya sudah gila, demikian pula kepala kantornya. Sang kepala kantor, sedianya telah menyiapkan kenaikan pangkat dan gaji bagi Aki, pegawai kesayangannya itu. Ia kemudian menyelidiki tingkah-laku Aki, ternyata tak satupun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia gila.<br />
Ketika hari kematian Aki tiba, Semua orang bersiap-siap. Anak-anak Aki meminta izin untuk tidak masuk sekolah, Pegawai kantor menghiasi mobil kantor dengan bunga-bungaan. Kepala Kantor berlatih melafadzkan pidato yang kelak akan dibacakan di kubur Aki. Sedangkan Aki sendiri telah mengenakan pakaian terbaiknya untuk menyambut malakul maut, pukul tiga sore nanti.</p>
<p>Pukul tiga lewat, Sulasmi memberanikan diri menengok kamar suaminya, nah, apa yang terjadi? Dilihatnya mata suaminya tertutup rapat. Ia kemudian memanggil-manggil nama suaminya dengan menangis, dan tidak mendapatkan jawaban lalu ia pun lari keluar kamar. Tahulah semua orang bahwa Aki telah meninggal. Saling berebut orang-orang masuk ke kamar Aki, apa yang mereka lihat? Mereka melihat Aki sedang merokok, dengan tenang.<br />
Sejak saat itu, Aki terlihat semakin sehat dan tampak lebih muda. Justru, kepala kantornyalah yang meninggal pada saat itu, dan kemudian Aki menggantikan kepala kantornya itu.<br />
Cerita dengan tema yang sangat menarik bukan? Nah, tentang gaya bahasa yang bagus, kita akan membicarakannya bulan depan, ya. Saran mbak I-je untuk Sari, banyak-banyaklah membaca karya sastra, sehingga jika Sari akan menulis kelak, Sari akan mudah menemukan tema yang unik dan menyusun gaya bahasa khas-mu sendiri.<br />
<strong>Salam</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/04/26/tanya-jawab-seputar-dunia-penulisan-bersama-setiawati-intan-savitri-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya-Jawab Seputar Dunia Penulisan Bersama Setiawati Intan Savitri (Bagian I)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/04/26/tanya-jawab-seputar-dunia-penulisan-bersama-setiawati-intan-savitri-bagian-i/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/04/26/tanya-jawab-seputar-dunia-penulisan-bersama-setiawati-intan-savitri-bagian-i/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 14:36:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Setiawati Intan Savitri/Izzatul Jannah adalah GM Penerbitan PT Balai Pustaka (Persero). Mbak I-Je, sebenarnya apa sih bedanya fiksi dan nonfiksi? Apakah sebuah tulisan yang 95% merupakan kisah nyata dan 5%-nya imajinasi sudah bisa disebut fiksi? (Arifin-Semarang) Arifin yang baik, Okey, akan mbak jelaskan apa sih definisi fiksi sebenarnya, dalam Webster’s New Collegiste Dictionary (1959:308), fiksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Setiawati Intan Savitri/Izzatul Jannah adalah GM Penerbitan PT Balai Pustaka (Persero). </strong> </p>
<p><img src="http://sawal64.googlepages.com/savitri.png" alt="savitri" /><strong>Mbak I-Je, sebenarnya apa sih bedanya fiksi dan nonfiksi? Apakah sebuah tulisan yang 95% merupakan kisah nyata dan 5%-nya imajinasi sudah bisa disebut fiksi? (Arifin-Semarang)<br />
</strong><br />
Arifin yang baik,<br />
Okey, akan mbak jelaskan apa sih definisi fiksi sebenarnya, dalam Webster’s New Collegiste Dictionary (1959:308), fiksi atau fiction diturunkan dari bahasa latin fictio atau fictum yang berarti: Membentuk, membuat, mengadakan , menciptakan. Sehingga dalam bahasa Indonesia bisa di analogikan sebagai : sesuatu yang dibentuk, dibuat, diciptakan dan diimajinasikan. Demikian arti fiksi secara etimologis. Sedangkan sumber-sumber lain yang menjelaskan arti fiksi adalah “The American College Dictionary” yang menyebutkan bahwa fiksi adalah :<br />
1.	Cabang dari sastra yang menyusun karya-karya narasi imajinatif, terutama dalam bentuk prosa.<br />
2.	Karya-karya jenis isi adalah: novel atau dongeng-dongeng<br />
3.	Sesuatu yang diada-adakan atau dibuat-buat, atau diimajinasikan, suatu cerita yang disusun (1960:448)<br />
Lalu “Cleanth Brook (et.al) menyatakan bahwa : sebuah penyajian cara seorang pengarang memandang hidup ini. Pengarang memiliki ide-ide tertentu  mengenai kehidupan. Mirip seperti yang disampaikan Virginia Wolf tentang Novel atau Roman yakni : Eksplorasi satu kronik penghidupan, merenungkan, melukiskan dalam bentuk yang tertentu, pengaruh, ikatan, kehancuran dan  tercapainya gerak-gerik hasrat manusia.</p>
<p>Nah, dari definisi ilmiahnya itu, kita bisa mengetahui bahwa fiksi diangkat dari sesuatu yang diimajinasikan, atau sesungguhnya tidak nyata, namun inspirasinya bisa saja berasal dari kehidupan manusia yang sebenarnya.<br />
<strong><br />
Nah Apa Beda Fiksi dan Non Fiksi?</strong></p>
<p>Arifin, fiksi sesungguhnya terinspirasi dari realitas, ia akan berkata seandainya semua ini fakta maka beginilah yang akan terjadi ( segala sesuatu mungkin saja terjadi, meski mungkin saat ini belum). Sehingga tugas penulis fiksilah untuk membuat seolah-olah para tokoh imajinatif dalam karyanya itu hidup. Misalnya, Siti Nurbaya dan Samsul Bahri dalam roman Siti Nurbaya (terbitan Balai Pustaka), tokoh Siti Nurbaya boleh jadi terinspirasi kondisi para wanita pada zaman itu terkukung oleh realitas patriarkhi (realitas sosial yang tidak berpihak pada kaum perempuan) bahkan ia tidak memiliki hak untuk memilih sendiri suami bagi dirinya, sehingga ketika ditulis oleh pengarangnya, maka jadilah roman itu  mencerminkan realitas pada zamannya. </p>
<p>Atau, buat kamu yang suka Harry Potter, Superman, Flash Gordon dan tokoh-tokoh fiktif lainnya, mencerminkan bahwa manusia memang cenderung menyukai sesuatu yang dapat menutupi kelemahannya, sesuatu yang bisa diidolakan, jauh lebih sempurna dari dirinya sehingga mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh superhero yang cenderung digambarkan tanpa kelemahan. Hmm, hebat ya si Fiksi ini, bahkan bisa melayani kebutuhan manusia untuk menjadi lebih hebat dan lebih gagah setelah menikmati karya fiksi. He he.</p>
<p><strong>Lalu, apakah itu Non Fiksi? </strong></p>
<p>Karya Non Fiksi adalah aktualitas (benar-benar terjadi, atau sedang terjadi). Ia akan berkata karena semua ini fakta, maka beginilah yang harus terjadi. Apa saja contoh karya non fiksi? Artikel, Opini, Berita, Features, Artikel ilmiah, hasil penelitian semuanya adalah karya non fiksi. Tidak ada unsur imajinasi atau mengada-adakan dalam tulisan tersebut. Misalnya berita, umumnya wartawan menggunakan teknik 5 W 1 H untuk menulis berita. What, adalah ‘apa’ dari berita tersebut, misalnya apa adalah kasus suap, who adalah siapa, siapa yang menyuap dan siapa yang disuap, lalu where  dimana terjadi kasus suap tersebut, when kapan kasus suap itu terjadi, why, mengapa kasus suap itu bisa terjadi, How, bagaimana kasus suap itu terjadi. Nah, jika jawaban-jawaban terhadap pertanyaan itu kemudian ditulis menjadi suatu berita, tidak satupun informasi yang boleh diada-adakan, semuanya harus benar-benar tepat, akurat dan aktual, artinya biasanya berita itu retrospektif, alias sudah terjadi, sehingga semua yang ditulis di dalam berita harus benar-benar pernah terjadi.</p>
<p>Nah, rumus aktual, benar-benar terjadi,tidak ada unsur imajinasi serta diceritakan seakurat mungkin ini adalah ciri khas tulisan non fiksi. Pada saat menulis hasil penelitian misalnya, tidak ada satu pun data yang boleh dipalsukan, karena itu akan mengurangi validitas dari karya penelitian tersebut. Hmm, yang ini harusnya diceritakan pada episode lain ya…</p>
<p>O, ya, tentang pertanyaanmu yang prosentase itu, seperti yang mbak ungkapkan, bahwa syarat-syarat tulisan non fiksi adalah sama sekali tidak boleh ada unsur imajinasi, dan sesuatu yang dibuat-buat dan diada-adakan,  maka seberapa prosen pun unsur imajinasi masuk dalam sebuah tulisan, maka ia tidak lagi memenuhi syarat menjadi tulisan non fiksi, artinya ia akan secara otomatis masuk ke dalam klasifikasi tulisan fiksi, begitu.</p>
<p>Oke, begitulah Arifin, selamat menulis fiksi atau non fiksi ya! Mbak tunggu karya-karyamu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/04/26/tanya-jawab-seputar-dunia-penulisan-bersama-setiawati-intan-savitri-bagian-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmah Nurbaity S.Pd: Dapat Hadiah Dua Minggu ke Jepang</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/04/22/nikmah-nurbaity-spd-dapat-hadiah-dua-minggu-ke-jepang/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/04/22/nikmah-nurbaity-spd-dapat-hadiah-dua-minggu-ke-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 15:47:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[NAMA Nikmah Nurbaity SPd (40) sudah tidak asing bagi kalangan pendidik di wilayah Purworejo karena segudang prestasinya. Belakangan ini dia mendapat hadiah dari Departemen Pendidikan Nasional berupa kunjungan studi pendidikan dan budaya selama dua minggu di Jepang. ’’Kesempatan tersebut merupakan hadiah bagi saya sebagai guru berprestasi tingkat nasional tahun 2005 yang lalu,’’ kata Nikmah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://lh6.ggpht.com/_epolj7U39RY/Se87Vc_NygI/AAAAAAAAALU/mo9kP3-UnRE/Nikmah%203.jpg" alt="nikmah1" width="350" /><img class="alignleft" src="http://lh6.ggpht.com/_epolj7U39RY/Se87Vn78F3I/AAAAAAAAALc/xJhXuKRZY8k/Nikmah%204.jpg" alt="nikmah1" width="350" />NAMA Nikmah Nurbaity SPd (40) sudah tidak asing bagi kalangan pendidik di wilayah Purworejo karena segudang prestasinya. Belakangan ini dia mendapat hadiah dari Departemen Pendidikan Nasional berupa kunjungan studi pendidikan dan budaya selama dua minggu di Jepang.</p>
<p>’’Kesempatan tersebut merupakan hadiah bagi saya sebagai guru berprestasi tingkat nasional tahun 2005 yang lalu,’’ kata Nikmah yang kini kepala SMA Negeri 11 Purworejo itu, kemarin.</p>
<p>Lebih jauh Nikmah menyampaikan bahwa dia berangkat ke Jepang bersama 14 guru prestasi nasional dari seluruh Indonesia, hampir seluruhnya guru IPS. Tujuan Pemerintah Jepang lewat Japan Foundation mengundang guru-guru tersebut adalah sebagai bentuk penghargaan kepada guru prestasi Indonesia. Dan diharapkan guru-guru IPS yang ke Jepang bisa memberikan gambaran yang jelas tentang Jepang kepada generasi muda di Tanah Air.<br />
Dalam kunjungan itu Nikmah selain sebagai peserta memang mempunyai tugas lain. Yakni membantu menerjemahkan semua informasi dari tuan rumah.</p>
<p>Karena pembimbing dari Japan Foundation menyampaikan materi dan penjelasan dalam bahasa Inggris. Dosen pemateri dari beberapa universitas juga menyampaikan materi dalam bahasa Jepang, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris, baru diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dikatakan, kunjungan pendidikan dan budaya itu ke lima kota di Jepang. Yakni Tokyo, Kyoto, Hiroshima, Osaka dan kota Nara. Ketika ditanya hal apa yang paling menarik di Jepang, Nikmah menyatakan tertarik pada budaya kerja dan nilai-nilai tata kehidupan sehari hari.(Suara Merdeka -Eko Priyono-64)</p>
<p>Dipublikasikan oleh: DENI Kurniawan As&#8217;ari</p>
<p><strong>Nikmah Nurbaity Ajak Muridnya Dialog Imajiner </strong></p>
<p>GURU bahasa Inggris SMA Negeri 7 Purworejo, Nikmah Nurbaity SPd, memperkenalkan metode baru dalam pengajaran. Berkat kreativitas guru yang pernah mewakili Indoneswia dalam konferensi guru internasional di Finlandia September 2002 itu meraih juara pertama lomba keberhasilan guru SMA dalam pembelajaran (LKG). Atas prestasinya itu dia mendapat hadiah dari Mendiknas Bambang Sudibyo berupa uang tunai Rp 12,5 juta, belum lama ini. Selain itu model pembelajarannya dibuat VCD pembelajaran yang akan diedarkan secara nasional.<br />
Saat ditemui kemarin dia menuturkan, metode baru yang dia perkenalkan itu berupa percakapan bermain peran. Yakni murid diajak menciptakan situasi, ruang dan kondisi dalam pembelajaran untuk melaksanakan percakapan fantasi atau imajiner. Tentu saja hal itu menuntut kreativitas daya imajinasi para siswa untuk membuat percakapan imajiner.</p>
<p>Alasan menciptakan metode seperti itu, kata Nikmah, untuk mempercepat kompetensi lisan dan tulis bahasa Inggris. Sebab, menurut pengamatan dia, selama ini murid kalau diminta berkomunikasi dengan bahasa Inggris sulit apa yang akan dibicarakan. Maka, menurut dia, perlu diberi rangsangan kondisi yang diciptakan dengan sengaja untuk membuat anak didik dalam suatu situasi lain yang dibayangkan.</p>
<p>Saat melakukan presentasi di hadapan dewan juri di Jakarta belum lama ini, Nikmah melontarkan delapan contoh model pembelajaran yang tergolong baru itu. Antara lain, seakan murid sedang mengikuti konferensi pers. Untuk keperluan itu ada murid yang dijadikan model sebagai siswa teladan, penyanyi dangdut Inul Daratista atau Presiden Amerika Serikat. Kemudian siswa yang lain berperan sebagai wartawan. Murid yang berperan sebagai wartawan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada beberapa tokoh imajiner tersebut. Dengan cara demikian, kata Nikmah, pelajaran percakapan dapat berlangusng dengan lancar selama dua jam dalam situasi yang mereka ciptakan sendiri.<br />
Contoh lain, percakapan imajiner berdasarkan karya sastra, seperti bermain drama. Ada siswa yang berperan sebagai Cinderela, pangeran, ibu tiri, maupun saudara tiri Cinderela. Maka percakapannya akan berkisar kehidupan Cinderela dan kisah Cinderela.</p>
<p>Nikmah juga memberikan contoh generation gap. Dalam percakapan itu sebagian siswa berperan sebagai guru atau orang tua dan sebagian siswa lain berperan sebagai anak remaja. Dalam contoh itu muncul perbedaan pendapat antara generasi muda dan tua dalam cara berfikir.</p>
<p>&#8221;Siswa tidak hanya belajar bahasa Inggris tetapi juga belajar arti kehidupan dan perbedaan pendapat antargenerasi yang diharapkan bisa menambah wawasan siswa dalam bertindak di kehidupan secara nyata,&#8221; kata Nikmah, Kamis (2/2) kemarin.</p>
<p>Dia juga memberikan contoh percakapan imajiner menggunakan internet. Dalam model ini digunakan komunikasi melalui internet berupa chatting. Siswa dalam chatting internet tidak mengaku sebagai dirinya sendiri, bisa memosisikan diri sebagai bintang film, seorang sekretaris, atau olahragawan. &#8221;Mereka bisa mengembangkan percakapan imajiner seperti yang mereka kehendaki,&#8221; ujar guru yang lahir di Purworejo 15 Januari 1968 itu.</p>
<p>Cara pengajaran seperti itu, menurut Nikmah, bisa terlaksana dengan baik di tempat kerjanya. Sebab SMA 7 sudah memiliki laboratorium komputer dengan 12 unit komputer. Seluruhnya bisa dipergunakan untuk membuka internet.<br />
Adapun tujuan pembelajaran secara imajiner itu, menurut Nikmah, adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa agar menggunakan bahwa Inggris secara langsung dalam situasi yang seolah-olah nyata yang diciptakan dengan sengaja sesuai dengan minat dan kesukaan siswa. Hal itu, lanjutnya, untuk mengantisipasi kurangnya eksposure (situasi langsung dalam masyarakat) yang menggunakan bahasa Inggris. Sebab selama ini pembelajaran bahasa Inggris kendalanya ruang belajar hanya terbatas dalam kelas.</p>
<p>Begitu murid keluar kelas tidak ada lingkungan situasi yang mendukung siswa untuk menggunakan bahasa Inggris yang sudah mereka kuasai di dalam kelas. Menurut Nikmah, beda dengan di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia, di mana bahasa Inggris menjadi bahasa kedua dalam berkomunikasi sehari-hari. Sedang di negara kita bahasa Inggris hanya di dalam kelas, kecuali di beberapa pondok pesantren besar yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Setahu dia selama ini belum ada metode pembelajaran seperti yang dia perkenalkan itu. Diakui metode seperti itu sudah ada tetapi dihafalkan seperti bermain drama. Murid diminta menghafal naskah dan belum menggali kreativitas berfikir.</p>
<p>Ide Nikmah itu ternyata secara nasional dianggap sebagai juara satu tingkat nasional dan diakui Departemen Pendidikan. Manfaat metode itu, lanjut guru yang pernah menjadi finalis cyber class room di konferensi guru internasional ke-4 di Jerman ini, untuk menggali kreativitas siswa dalam berbahasa Inggris. Juga untuk mengembangkan secara maksimal kemampuan otak kanan untuk berimajinasi, berekspresi dengan rasa seni dan mengembangkan empati untuk memahami cara orang lain merasakan dan berfikir.(Eko Priyono-42)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/04/22/nikmah-nurbaity-spd-dapat-hadiah-dua-minggu-ke-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ucapan Selamat dan Sukses</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/04/18/ucapan-selamat-dan-sukses/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/04/18/ucapan-selamat-dan-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 19:38:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga Besar Agupena Jawa Tengah mengucapkan Selamat dan Sukses kepada Bapak Sadimin, S.Pd., S.Ip., S.Ipem., M.Eng (Ketua Divisi Advokasi) yang telah diwisuda pada Program Magister Sistem Teknik di Universitas Gajah Mada (UGM) pada tanggal 25 Maret 2009. Semoga ilmu yang telah diperoleh dapat bermanfaat bagi umat dalam mewujudkan kualitas pendidikan Indonesia yang lebih baik. Kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://sawal64.googlepages.com/PASADIMINEDIT.JPG" alt="sadimin" width="300" />
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>Keluarga Besar Agupena Jawa Tengah mengucapkan Selamat dan Sukses kepada Bapak Sadimin, S.Pd., S.Ip., S.Ipem., M.Eng (Ketua Divisi Advokasi) yang telah diwisuda pada Program Magister Sistem Teknik di Universitas Gajah Mada (UGM) pada tanggal 25 Maret 2009.</strong></span></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>Semoga ilmu yang telah diperoleh dapat bermanfaat bagi umat dalam mewujudkan kualitas pendidikan Indonesia yang lebih baik.</strong></span></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>Kami yang berbahagia,<br />
Keluarga Besar Agupena Jawa Tengah</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong>Deni Kurniawan As&#8217;ari<br />
Ketua Umum</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/04/18/ucapan-selamat-dan-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sawali, Guru Sastra untuk Semua</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/04/18/sawali-guru-sastra-untuk-semua/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/04/18/sawali-guru-sastra-untuk-semua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 06:48:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang guru sekolah di daerah itu gaptek? Pasti belum kenal dengan Sawali, guru SMP dari Kendal yang rajin ngeblog. Senantiasa membagi ilmu pengetahuannya soal sastra dan pendidikan pada umumnya, Sawali menyebarkan semangat untuk terus membaca dan menulis bagaimanapun caranya. Keterbatasan fasilitas tidak terus menjadi kendala, terbukti blognya mencerahkan bagai cahaya. Pak Guru ini memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-240 alignleft" title="sawali1" src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/04/sawali1.jpg" alt="sawali1" width="146" height="172" />Siapa bilang guru sekolah di daerah itu gaptek? Pasti belum kenal dengan Sawali, guru SMP dari Kendal yang rajin ngeblog. Senantiasa membagi ilmu pengetahuannya soal sastra dan pendidikan pada umumnya, Sawali menyebarkan semangat untuk terus membaca dan menulis bagaimanapun caranya. Keterbatasan fasilitas tidak terus menjadi kendala, terbukti blognya mencerahkan bagai cahaya.</p>
<p>Pak Guru ini memang senang berbagi. Bagaimana tidak? Saat ini Sawali merupakan pengelola lima blog sekaligus, yaitu: sawali.info, sawali.us, sawali.co.cc, mgmpbismp.co.cc, dan agupenajateng.net. Dua yang terakhir dikelola bersama teman-temannya sesama guru.  Perkenalannya dengan blog dimulai pada tahun 2007. Dia mengaku masih gaptek saat memulai jalan-mendaki.blogspot.com. Namun keinginan untuk segera bisa ngeblog sedemikian kuatnya, hingga kemudian dibelinya buku-buku panduan ngeblog.</p>
<p>Setelah itu, Sawali bersemangat untuk menularkan kebiasaan ngeblog ini kepada teman-temannya sesama guru. Beberapa waktu yang lalu, bersama 300-an guru membuat blog bersama-sama. Ratusan guru yang berasal dari Kabupaten Banyumas ini terbagi menjadi empat angkatan. Namun sayangnya, kini yang tersisa aktif hanya sekitar sepuluh persen saja. “Pada tiarap”, katanya.</p>
<p>Menurutnya, ada dua hal yang menyebabkan “tiarap”nya para guru untuk tetap ngeblog. Pertama, akses internet yang belum memadai. Memang kini Pemerintah sudah melakukan usaha untuk membuat internet lebih terjangkau oleh lebih banyak kalangan pendidikan melalui pembangunan ICT di beberapa daerah. Namun pada kenyataannya, pembangunan ICT belum merata di seluruh sekolah, terutama sekolah-sekolah yang lokasinya belum terjangkau sinyal ICT.  Penyebab kedua adalah budaya menulis di kalangan guru yang belum terbangun dengan baik. “Bagaimana mungkin bisa melahirkan generasi yang memiliki budaya baca-tulis yang bagus kalau guru gagal memberikan teladan yang baik?”, tanyanya. Guru yang merupakan akronim digugu-ditiru memang diharapkan bisa menurunkan kegemaran membaca dan menulis kepada murid-muridnya.</p>
<p>Apa yang harus dilakukan untuk menumbuhkan budaya menulis di kalangan guru? “Yang pertama mesti gemar membaca dulu”, jawabnya tegas. “Membaca menumbuhkan inspirasi. kalau inspirasi sudah ada, guru ‘kan tinggal menuliskannya, baik dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi”, jelasnya kemudian.  Menurutnya, guru tidak akan kesulitan soal bahan untuk ditulis. “Peristiwa-peristiwa di kelas, bahan ajar, metode dan pembelajaran, opini pendidikan. Wah, banyak sekali pokoknya, hehe!”. Intinya, banyak hal yang bisa dibagi.  Sawali berpendapat bahwa selain media cetak, yang pasti blog masih akan menjadi primadona untuk membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru. Tak lain karena keunggulan blog yang mudah dan murah. “Blog itu ndak perlu pakai redaksi seperti di media cetak”, tambahnya.</p>
<p>Sebelum mengenal blog, Sawali memang sudah suka menulis di media cetak baik lokal maupun nasional. Tapi blog memberikannya kenyamanan dalam beberapa hal. “Ndak harus menunggu otoritas redaksi yang begitu ketat dalam menyortir tulisan. Lewat blog, saya bisa memublis tulisan apa saja dan kapan saja saya mau”, begitulah katanya.  Banyak manfaat yang didapatnya melalui kegiatan ngeblog. Jaringan pertemanan, silaturahmi lintakultur dan lintas geografis adalah beberapa di antaranya. “Selalu saja ada bessing ini disguise-nya di balik jerih-payah kita ngeblog”, jelasnya. Tak hanya itu, kesempatan menerbitkan buku kumpulan cerpen pun rupanya didapat setelah Sawali mulai aktif ngeblog.  Pengajar Bahasa Indonesia pada sebuah SMP di Kendal ini memang kerap menulis soal sastra dan pengajaran sastra di bangku sekolah.</p>
<p>Menurut Sawali, idealnya pengajaran sastra mesti difokuskan pada apresiasinya, bukan teoretis dan hafalan melulu. “Saya sedih ketika masih ada rekan sejawat yang menyajikan pengajaran sastra sekadar mencekoki anak-anak dengan pengertian-pengertian dan hafalan nama-nama pengarang dan karyanya”, ungkapnya. Baginya, ini sebuah proses “pembusukan” terhadap proses apresiasi itu sendiri.  Sawali setuju dengan pendapat Danarto bahwa bengalnya anak-anak remaja sekarang lantaran tidak pernah diajar apresiasi sastra dengan baik. “Kalau saja mereka mendapatkan pengajaran sastra yang baik, mereka bisa terangsang untukmenjadi manusia yang lebih humanis, beradab, dan berbudaya, sehingga bisa mengontrol perilaku anomali yang merangsek dalam jiwa dan batinnya”, jelasnya.</p>
<p>Dengan demikian, keluaran dari pengajaran sastra yang baik adalah output dari pengajaran sastra yang baik adalah manusia2 yang humanis dan beradab. “Ada yang bilang, aktivitas apresiasi sastra bisa membuat seseorang menjadi lebih responsif terhadap berbagai fenomena hidup dan kehidupan yang terjadi di sekelilingnya. Mereka bisa menjadi lebih berempati terhadap sesamanya”, katanya.  Pemikiran-pemikiran yang tertuang di blognya memang sungguh mencerahkan.</p>
<p>Setidaknya itulah yang dirasakan oleh para pembaca setianya dan Dewan Juri Internet Sehat. Menjelang akhir obrolan kami sore itu, Sawali mengabarkan berita baik yang baru diterimanya: blognya mendapatkan penghargaan Internet Sehat Blog Award (ISBA) 2009 untuk kategori mingguan Education Blog. Selamat, Pak Guru! (Oleh: nonadita)</p>
<p>Sumber: dagdigdug.com<br />
Dipublikasikan oleh: DENI Kurniawan As’ari</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/04/18/sawali-guru-sastra-untuk-semua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
