Saturday, 12 November 2011 (23:05) | Fiksi | 49 views | 0 komentar

Ir. Bambang Sukmadji Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak Semenjak beberapa bulan silam Sasmito ditinggal istrinya menghadap Illahi, lelaki muda itu terus saja mengunci mulutnya. Tiap hari, pagi pagi benar dia sudah menyapu halaman rumahnya yang cukup luas dari sampah plastik, daun mangga kering dan bungkus makanan anak anak yang dibuang begitu saja oleh anak anak tetangganya. Dia tetap mengunci mulut, sorot mata dan senyumnya. Namun belakangan ini, dia berubah sikapnya lantaran dia melihat semakin... (more...)
SURAT TERAKHIR UNTUK BU GURU DARSIH
Saturday, 19 March 2011 (03:53) | Fiksi | 302 views | 1 komentar
Oleh : Bambang Sukmadji —Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak JATENG— KADARWASIH berkali kali mengusap tas hitamnya yang ditebari debu-debu yang hinggap di kulit hitam tasnya, hingga kelihatan kumal. Lantaran debu debu itu masih saja terus beterbangan terbawa angin kemarau yang ditiupkan dari Gunung Slamet, setelah debu debu nakal itu menjelajahi hutan hutan pinus yang mulai tandus. Apalagi di tengah hari, saat matahari benar benar lurus di atas kepala, debu itu semakin liar menempel... (more...)
Thursday, 9 September 2010 (04:37) | Fiksi | 61 views | 0 komentar

Penulis : Ir. Bambang Sukmadji, Guru MA Futuhiyyah 1. Mranggen Demak, Jateng Ada keraguan di kalbu yang menyelip jauh di kalbu Sebastian, untuk menyambangi Carolin yang hampir 5 tahun tenggelam dalam peraduan egonya. Antara dia dan gadis lesung pipit ini memang selalu dibatasi “langit bersusun tujuh”,karena masing terpagut dengan hasrat yang bertanam di halaman hati masing-masing. Sebastian bagaikan karang terjal, selalu menjinjing ego yang kuat. Kala dia sudah berniat mengapai apapun , semuanya... (more...)
Friday, 18 June 2010 (09:48) | Fiksi, sastra | 268 views | 1 komentar

Dening: Narwan Sastra Kelana AKU ora maido yen Parto kang nduweni titel Sarjana Pendidikan iku lantip pikire. Aku oleh pengalaman lan wawasan maneka warna saka dhewekke. Maklum wae aku mung lulusan SMP. Aku ora bisa nerusake ing SMA amarga wong tuwaku sakloron ora nyarujuki, awit dadi wong nggunung kang kasile ora tetep ora saguh nggragati aku nerusake. Aku nrima, kepiye maneh wong wektu semana aku isih cilik, mung manut ngendikane wong tuwa. Parto piyantune pancen nalar saben-saben micara. Dhewekke... (more...)
Friday, 14 May 2010 (00:10) | Cerpen, Fiksi, sastra | 239 views | 4 komentar

Cerpen: Narwan Sastra Kelana MATAHARI telah memancarkan cahayanya di atas Gunung Merapi. Dwijo masih asyik dengan tiga burung prenjaknya. Prenjak-prenjak itu baru didapatnya dari seorang petani kemarin siang di pasar desa dengan harga yang dianggapnya murah. Dia berharap akan mendapat keuntungan besar bila prenjak-prenjak itu dijual lagi ke Sasana Kukila, pasar burung di lembah Tidar. Dwijo kini memang menekuni pekerjaan sambilan sebagai blantik burung ocehan. Membeli burung dari satu orang kemudian... (more...)
Friday, 14 May 2010 (00:04) | Cerpen, Fiksi, sastra | 126 views | 1 komentar

Cerpen Narwan Sastra Kelana SAWITRI duduk di teras rumah bambunya sambil mengelus-elus perutnya yang telah besar. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum. Pagi itu ia tampak membayangkan sesuatu. Rumah sawitri menghadap arah utara. Menghadap deretan pegunungan Menoreh yang panjang membiru. Dipandangnya puncak-puncak Menoreh sambil berharap suaminya yang hingga kini belum juga pulang mengikuti pentas keliling ketoprak tobongnya. Saat itu –Sawitri ingat betul- di desanya hadir rombongan ketoprak... (more...)
Thursday, 22 April 2010 (16:00) | Fiksi, sastra | 59 views | 0 komentar

(Drama Renungan Satu Babak ditulis oleh : Riyadi) Dua makhluk terjebak di ladang harapan. Berdebat antara pikiran dan perasaan. Memporakporandakan semak belukar dan perdu-perdu yang tengah merindu laju. Ular : (berhenti di depan Ubi sambil tetap berlenggang lenggok sejak lehar hingga kepala, walu tubuh diam ekor tetap berkeliaran) “Kwak… kwak … kwak … akulah raja penari sepanjang jalan” Ubi : (sembunyi di dalam semak ilalang dengan tubuh terkapar) “Berjalan saja harus meliuk kelok,... (more...)
Sunday, 18 April 2010 (03:12) | Fiksi, sastra | 118 views | 0 komentar

Cerpen Bambang Sukmadji Barangkali saja manusia memang harus mengenal dirinya sendiri, semata untuk menghilangkan sifat ego yang biasa didera oleh insan di dunia ini. Lantaran ini pula Pak Guru Sofyan harus mengerti akan kesendiriannya, tanpa ada lagi Sugiarti yang dia tambatkan pada tepi hatinya, ketika mereka berdua menjadi guru SD Warga Baru di Bumi Transmigrasi Kalsel. Setelah lima tahun mereka menjadi anak bangsa yang merelakan hidupnya, demi untuk mencerdaskan anak anak petani sawit yang datang... (more...)
Wednesday, 14 April 2010 (06:07) | Fiksi, sastra | 102 views | 1 komentar

Cerpen Marsus Ala Utsman* Akhirnya aku sampai di stasiun Lempuyangan. Dengan raut wajah malu-malu seperti pengantin yang baru keluar dari kamarnya. Dari gerbong bibir pintu kereta perlahan aku turun. Saat cahaya yang melesat sudah semakin keruh. Dan angin sedikit berdesau membawa air dingin meraba tubuhku. Dinginpun tak mampu kutepis yang senantiasa membelit belit mengajakku ke sebuah warung untuk sekedar mencicipi kopi hangat dan sebatang rokok filter untuk mengurangi rasa dingin yang semakin dahsyat. Berjam-jam... (more...)
Saturday, 27 March 2010 (04:53) | Fiksi | 164 views | 0 komentar

MALAM /1/ malam kutiduri air mengalir dari peluh sesakku mencipta cerita sedih mengenang puing-puing runtuh seperti kantuk katup mata yang tak lelap bercerita dengan nyanyian menguntit sebilah dinding-dinding suara makhluk malam mengusik membaringkan lelap terdengar indah mendesis dengan wajah kapan mengulum senyum, jauh mengurung jalan hidup kerap seperti air kian mengalir tak susut di pipi mengiris pecahan logam dan bibir tersendat sedih berjalan dengungkan kalimat yang tak kumengerti tak pernah... (more...)
Tuesday, 23 March 2010 (06:10) | Fiksi, Refleksi | 78 views | 4 komentar

Oleh Trisiana Rahma Dewi Waktu kan terus melaju, tiada apapun yang mampu membujuknya tuk menunggu. Detik demi detik, hari demi hari, Bulan pun berjalan dan berganti. Dan pedang itu, kan sangat berguna bagi yang trampil dan bijak menggunakannya, namun akan menebar luka bagi yang ceroboh dan melalaikannya. Manusia, makhluk mulia, namun bisa jadi hina bagai hewan melata. Pilihannyalah yang bicara, akan jadi manusia macam apakah ia, jika kelak menghadapNYA ... (more...)
Monday, 15 March 2010 (20:15) | Fiksi | 85 views | 0 komentar

Oleh Achmad Nastain (Siswa MA Ma’arif 7 Sunan Drajat Paciran Lamongan) Ku arungi smudra jiwaku Tertimpa batu dari hatiku berenang melampui batas pikiranku menuju keramaian itu kala aku menghampirinya malah kau menolak dia dan di kala aku membutuhkan tak ada satu pun yang menoleh wajah kepadaku berjalan…berlari… mencari jati diri orang-orang disekelilingku ini tak ada yang sendiri kecuali aku ini… Read More →

