<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena Jawa Tengah &#187; sastra</title>
	<atom:link href="http://agupenajateng.net/category/sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupenajateng.net</link>
	<description>Membangun Semangat Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Apr 2012 08:14:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Putri yang Terjual</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2012/04/19/putri-yang-terjual/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2012/04/19/putri-yang-terjual/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 07:56:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[marsus banjarbarat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3034</guid>
		<description><![CDATA[Karya Marsus Banjarbarat Cerpenis Sumenep, Madura dan Penulis buku Bukan Perempuan (Grafindo, 2010), Lelaki yang Dibeli (Buku Litera, 2011), Riwayat Langgar (Arti Bumi Intaran, 2011). Ia menangis saat mendengar suara iba putrinya yang sudah sebelas tahun bekerja di Arab Saudi. Ia sangat terharu, tak menyangka kalau akhirnya bisa mendengar suara putri kesayangannya yang cantik itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya <strong>Marsus Banjarbarat</strong><br />
<em>Cerpenis Sumenep, Madura dan Penulis buku Bukan Perempuan (Grafindo, 2010), Lelaki yang Dibeli (Buku Litera, 2011), Riwayat Langgar (Arti Bumi Intaran, 2011).<br />
</em><br />
<img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-dwj36Q0N1ak/TzUj3tSKYsI/AAAAAAAADgU/6ougSGcjE7c/s200/Marsus..jpg" class="alignleft" width="141" height="200" />Ia menangis saat mendengar suara iba putrinya yang sudah sebelas tahun bekerja di Arab Saudi. Ia sangat terharu, tak menyangka kalau akhirnya bisa mendengar suara putri kesayangannya yang cantik itu. Dengan penuh rasa senang, Mursalam telah memperoleh kabar prihal keadaan anaknya di Arab Saudi. Ya, kabar Putri maskipun hanya sejenak melalui telpon selama kurang lebih lima menit. Dan setelahnya, tanpa pamit tiba-tiba Putri terburu-buru mematikan telepon yang sedang digenggam erat ayahnya.</p>
<p>Selama beberapa tahun Putri pergi ke Arab Saudi. Hanya terhitung dua kali ia memberi kabar kepada ayahnya. Pertama, sewaktu Putri baru sampai ketempat kerjanya di Arab Saudi. Kedua, sewaktu ibunya meninggal dunia selang beberapa bulan dari keberangkatan Putri bekerja. Setelah itu dia tak pernah memberi kabar lagi tentang keberadaannya di sana.<br />
Kali ini Putri memberi kabar lagi untuk hitungan ketiga kali—menghubungi ayahnya. Dengan sebuah perbincangan kecil lewat telepon, Putri bercerita beberapa hal. Namun sayang, cerita itu belum bisa tertangkap jelas oleh ayahnya. Apa yang Putri maksud dalam cerita itu dan apa yang sedang ia alami di tempat kerjanya tersebut? Semuanya menjadi sebuah mesteri bagi Mursalam. Suara Putri yang terdengar dalam telepon tiba-tiba menghilang entah apa sebabnya. Namun yang pasti, sebelum Putri mengakhiri perbincangan itu, terdengar sedikit lamat-lamat jerit histeris tertangkap telinga ayahnya.<br />
***</p>
<p>“Nak&#8230;, pulanglah! Ayah dan adik-adikmu kangen ingin cepat bertemu,” ujar Mursalam sambil meneteskan air mata.</p>
<p>Putri berangkat ke Arab Saudi sudah bertahun-tahun lamanya. Ia berangkat melalui salah satu Pengarah Jasa TKI di Jakarta. Dan hingga saat ini, semua keluarganya belum tahu kejelasan nasib Putri di sana. Bernasip baik atau burukkah? Bahkan Mursalam, ayahnya pun belum pernah dikirimi uang sepeser pun dari anak gadisnya selama ia bekerja di luar negeri.</p>
<p>Karena sudah beberapa tahun Putri tidak pernah memberi kabar, apalagi mengirim uang kepada keluarganya, Sakimin, kakak sepupu Putri bermaksud untuk melaporkan masalah ini kepada pihak yang berwenang. Dia khawatir akan keadaan Putri di Arab Saudi. Sakimin menginginkan agar Putri bisa cepat-cepat pulang. Bahkan sebelum lebaran tahun ini Putri sudah datang berkumpul di kampung halaman.</p>
<p>“Percuma! Rencana itu sudah saya lakukan dua tahun lalu. Tak hanya satu-dua kali, bahkan berulangkali. Tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya. Putri tetap tak pulang-pulang. Mau dihugungi saja ingin tahu kabarnya tidak pernah bisa,” bantah Sabidin, paman Putri, yang dulu memberi kabar lowongan kerja ke Arab Saudi.</p>
<p>“Tapi kan tak ada salahnya sekarang kita coba kembali. Kita laporkan kepada Kedutaan Besar Indoesia agar mereka mendesak majikan Putri supaya Putri secepatnya dipulangkan ke Indonesia,” kata Sakimin semangat.</p>
<p>“Dulu juga begitu. Namun hingga saat ini Putri belum kunjung kembali ke Tanah Air,” bantah Sabidin lagi.<br />
Sakimin bergeming. Pikirannya kacau-balau entah apa yang sedang dipikirkan. Setelah beberapa detik, Sabidin meneruskan perbincangannya.</p>
<p>“Tahun lalu, ketua lembaga Bantuan Hukum juga telah berjanji, kalau Putri akan dipulangkan satu minggu sebelum hari lebaran saat itu. Tapi nyatanya apa? Sampai sekarang Putri belum kembali ke kampung halaman.” Sabidin kecewa.<br />
Sakimin memalingkan wajahnya, sesekali menggambarkan betapa sedih nasib Putri di Arab Saudi. Spontan Sakimin teringat akan berita-berita TKI yang sering menjadi korban penganiayaan majikannya. Tetapi anehnya, entah mengapa masih banyak orang yang belum jera, dan mereka pun dengan senang hati menerima tawaran menjadi TKI di luar negri.</p>
<p>“Lalu harus bagaimana? Apa semua ini akan dibiarkan begitu saja terus berlarut-larut? Sementara kita tidak tahu bagaimana keberadaan Putri di sana?”</p>
<p>“Kita juga tidak tahu apakah Putri masih hidup atau&#8230;.”</p>
<p>“Hussstt&#8230;, jangan ngaur  kamu,”</p>
<p>“Yakinlah dan berdoa! Putri pasti hidup senang di sana.”<br />
***</p>
<p>Bulan Suci Ramadan sudah tiba. Putri belum memberi kabar kapan dia akan kembali ke Tanah Air. Pasalnya, sewaktu dihubungi oleh pihak yang bertanggungjawab beberapa hari lalu, katanya Putri akan segera memberi kepastian untuk segera kembali ke Indonesia. Dan yang pasti, di bulana Suci ini dia akan berusaha sampai ke kampung halaman.</p>
<p>“Semoga saja Putri benar-benar cepat kembali!”</p>
<p>“Iya, aku juga berharap begitu. Kasihan sama Mursalam, dia sudah lanjut usia. Sering sakit-sakitan pula. Tak mampu bekerja untuk membiayai hidupnya.”</p>
<p>Satu hari, dua hari, hingga satu minggu Putri belum juga menghubungi pihak keluarganya. Padahal Mursalam sudah terlanjur diberi tahu kalau putrinya tak lama lagi akan segera menghubungi dan memberi kepastian kapan dia akan pulang. Dan yang jelas, Mursalam akan selalu menanti dan berharap putrinya bisa datang di bulan penuh berkah ini. Disamping Mursalam memang tinggal sendiri tak ada yang menemani. Dia juga sangat merasa kangen ingin cepat berjumpa dengan anak gadisnya yang cantik itu. Yang sudah belasana tahun pergi tak ada kabar.</p>
<p>Tak ada orang tua yang tak merindukan anaknya. Apalagi selama bertahun-tahun pergi tanpa ada ujung rimbanya. Tak terkecuali Mursalam orang tua Putri, yang selalu mendamba-dambakan bisa segera bertemu dengan anaknya. Tetapi sumua angan-angan itu sia-sia tanpa ada kepastian yang mewujudkannya.</p>
<p>“Mungkin dalam minggu ini Putri akan menghubungimu, Salam,” ujar Sabidin sewaktu Mursalam menanyakan putrinya.<br />
Mursalam hanya mengangguk pelan sembari menundukkan kepalanya. Benarkah dia akan pulang? Tanya Mursalam ragu dalam hatinya. Namun ia sesegera menghapus keraguan itu. Putri pasti pulang. Ya, dia pasti pulang ke kampung kelahiran, lanjutnya dengan suara samar. Lalu sejenak Sabidin beranjak meninggalkan Mursalam. Mursalam pun malangkah tertatih-tatih memasuki rumahnya.</p>
<p>Dua puluh tahun silam, desisinya. Dia memperhatikan gambar istri dan anaknya yang sedang berpelukan. Ya, dua puluh tahun silam, Mursalam teringat jelas saat dia hidup bersama istri dan anaknya. Dengan penuh rasa senang dan bahagia. Tapi sekarang&#8230;, ah, semuanya telah sirna. Anaknya pergi merantau tanpa ada kabar, sedang istrinya telah meninggal dunia beberapa tahun silam.<br />
***</p>
<p>Lebaran telah tampak di ujung mata. Putri belum juga memberi kabar kapan dia akan pulang. Padahal Mursalam menyimpan harapan besar agar putrinya itu bisa kembali sebelum lebaran tiba. Dan entahlah, penantian yang selama bertahun-tahun ia rasakan, akankah terwujud kali ini atau tidak? Semuanya hanya dijadikan sebuah mesteri yang tak pernah ditemukan ujung pangkalnya.</p>
<p>Saat malam tiba, Mursalam selalu duduk termangu melipat kedua tangannya. Memikirkan sang anak begitu mendalam. Sehingga kadang tanpa terasa ada setitik air bening mengalir di garis-garis pipinya. Mursalam juga selalu berandai-andai, ketika malam tiba, esok paginya akan kedatangan tamu terhormat yang ia damba-damba, tak lain adalah putrinya sendiri yang ia dambakan sudah menjadi orang besar di sana. Di Arab Saudi yang bekerja sebagai TKI.</p>
<p>Mursalam tersenyum bila teringat kepada tetangganya yang baru saja datang dari Arab Saudi. Dia datang membawa oleh-oleh sangat banyak untuk dibagi-bagikan kepada keluarga dan tetangganya. Selain itu, kabarnya dia juga membawa uang banyak dari hasil pekerjaannya di Arab Saudi. Mendengar kabar itu, Mursalam semakin tak sabar menunggu kedatangan anaknya yang juga bekerja di Arab Saudi.</p>
<p>Ya, tak lama lagi pasti merasakan kebahagiaan juga seperti yang mereka rasakan saat menyambut kedatangan anaknya yang bekerja di Arab Saudi, desis Mursalam pelan. Sesekali dia mengumbar senyum tipis menatap foto anaknya saat ia masih berumur 12 tahun.<br />
***</p>
<p>Dua hari lagi lebaran akan tiba. Wajah Mursalam terlihat sedih dan kecewa. Sebab putrinya masih belum pulang dan belum ada kabar. Lalu, ia datangi lagi rumah Sabidin, untuk menanyakan kapan putri kesayangannya itu sebenarnya akan kembali ke kampung halaman?</p>
<p>“Sabarlah, Salam&#8230;, tidak perlu khawatir. Putri masih baik-baik saja di sana,”</p>
<p>“Ini ada sedikit kiriman uang dari putrimu, untuk kebutuhanmu di hari lebaran nanti.” Lanjut Sabidin tersenyum sambil mengulurkan uang lima puluh ribuan sebanyak tiga lembar.</p>
<p>“Uang itu dikirim oleh Putri disuruh kasikan kepadamu.” Tambahnya.</p>
<p>“Sejak kapan Putri mengirim uang ini. Apa dia tidak jadi pulang lebaran kali ini?” Tanya Mursalam penasaran.</p>
<p>“Yang penting anakmu sehat-sehat saja di sana. Kamu tidak perlu khawatir! Nanti kalau dia sudah diijinkan pulang oleh majikannya pasti kukabarkan padamu.”</p>
<p>Mursalam diam bergeming. Sesekali tersenyum melihat tiga lembar uang yang sedang dipegangnya. Dia merasa senang karna anaknya sudah mengirimkan uang. Dengan begitu, berarti dia sudah sukses dan berhasil dalam pekerjaannya di sana, pikirnya. Setelah sebentar, lalu Mursalam pergi meninggalkan rumah Sabidin. Dan Sabidin pun mulai tersenyum geli mengiringi kepergian Mursalam yang telah berhasil dia bohongi.</p>
<p>Oh, tidak! Bukan hanya Mursalam sebenarnya yang dia bohongi. Putri pun yang pertama dikelabuhi. Semenjak beberapa bulan saat Putri pergi bekerja ke Arab Saudi, Sabidin mengabarkan kepada Putri, kalau ayah dan ibunya telah meninggal dunia karena kecelakaan. Dan sebab rencana licik Sabidin itulah Putri dan Mursalam terpisahkan. Putri tak pernah menghubungi orang tuanya lagi karena ia pikir mereka sudah meninggal. Dan sebagian uang hasil dari pekerjaan Putri pun ia kirimkan setiap bulan kepada Sabidin, pamannya sendiri.</p>
<p>Tak ada seorang pun yang mengetahui tentang hal ini. Tentang kelicikan Sabidin yang telah memperalat Putri untuk bekerja di luar negeri. Dan hasil pekerjaannya diam-diam agar supaya diberikan kepadanya. Dan bahkan dari saking liciknnya Sabidin, sebenarnya Putri dikirim ke luar negeri bukanlah sebagai TKI. Tetapi sebagai wanita penghibur bagi para lelaki yang haus akan melampiaskan nafsu birahinya. Ah, lebih tepatnya, Putri di jual oleh Sabidin ke luar negeri sebagai seorang pelacur!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2012/04/19/putri-yang-terjual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senthir</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 22:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=3007</guid>
		<description><![CDATA[Senthir Cerpen Narwan S. Kelana SEBAGAI abdi pada seorang adipati, Ki Pardopo sangat tekun bekerja. Tidak pernah sekali saja ia membantah perintah. Maka wajar bila ia mendapat hadiah yang baginya sangat berlebihan. namun untuk seorang adipati hadiah tersebut sangatlah dianggap biasa saja. Ki Pardopo beserta anak dan istrinya diminta pindah dan tinggal di lingkungan kadipaten. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Senthir</strong><br />
Cerpen Narwan S. Kelana</p>
<p><img class="alignright" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/narwanskelana.jpg" alt="narwan" width="200" />SEBAGAI abdi pada seorang adipati, Ki Pardopo sangat tekun bekerja. Tidak pernah sekali saja ia membantah perintah. Maka wajar bila ia mendapat hadiah yang baginya sangat berlebihan. namun untuk seorang adipati hadiah tersebut sangatlah dianggap biasa saja. Ki Pardopo beserta anak dan istrinya diminta pindah dan tinggal di lingkungan kadipaten. Meskipun ia menganggap berlebihan, ia tak dapat menolak perintah tuannya.</p>
<p>Meskipun berada di ujung taman belakang, rumah itu tetap saja mewah bagi keluarga Ki Pardopo. Rumah cukup besar. Ada dua kamar yang berjauhan letaknya. Ada ruang tamu yang cukup luas. Seperangkat meja kursi di tengahnya. Sangat mewah memang bagi keluarga Ki Pa+&#8221;dopo. Dengan keberadaanya di sana, keluarga Ki Pardopo dianggap oleh rakyat Kadipaten Pudakwangi sebagai sentana dalem. Sebuah sebutan yang termasuk terhormat. Meski demikian Ki Pardopo dan keluarganya tetap saja bersikap seperti di kampungnya. Tekun bekerja, bersahaja dan berbudi pekerti luhur. Sifat inilah yang menjadikan Adipati Pudakwangi itu menaruh simpati yang sangat kepada keluarganya.</p>
<p>“Terimakasih Gusti Adipati. Hamba sebenarnya berat menerima semua ini. Hamba hanyalah abdi, tidak selayaknya mendapat hadiah semewah ini.”</p>
<p>“Sudahlah, Ki Pardopo. Ini semua karena jasamu pada Kadipaten Pudakwangi. Sebagai abdi yang setia. Bahkan sejak aku muda. Cuma ingat pesanku, seperti ruang-ruang yang lain, setiap ruangan jangan sampai gelap. Taruh senthir, hidupkan bila malam kalian tidur. Agar aman dari marabahaya.”</p>
<p>“Sendika, Gusti.” Jawab Ki Pardopo.</p>
<p>Keluarga Ki Pardopo pun segera menyesuaikan diri dengan kehidupan lingkungan keluarga sang adipati. Begitu juga dengan Menur, gadis tunggal Ki Pardopo, yang meskipun keluguan sebagai gadis desa tetap tampak, namun tetap menyiratkan kecantikan.<br />
****</p>
<p>Malam ini seperti biasanya, Menur melipat-lipat pakaian yang siang tadi dijemur.</p>
<p>“Sudah selesai Mbok.” Kata Menur sambil kedua tangannya meyerahkan lipatan pakaian kepada ibunya.</p>
<p>“Ya, Nduk. Sekarang kamu tidur dulu, simbok masih ingin menyiapkan sesuatu untuk besok pagi. Jangan lupasenthir-nya jangan dimatikan. Biarkan di atas meja.” Pinta Nyi Pardopo kepadanya. Menur mengiyakan dan segera berlalu menuju kamarnya.</p>
<p>Udara dingin menerobos lubang-lubang dinding. Menggerayangi sekujur tubuh Menur yang beranjak merenangi mimpi-mimpinya. Kesunyian segera menyelimuti Kadipaten. Nyi Pardopo pun sudah menyusul suaminya mengunyah mimpi. Dinginnya malam membuat mimpi-mimpi betah hinggap di alam bawah sadar penghuni Pudakwangi.</p>
<p>Tiba-tiba senthir di ruang tidur Menur berpindah tempat. Kini senthir itu di lantai sehingga tubuh Menur tak lagi terterangi. Bayangan ranjang menutupi bujur tubuh gadis berparas cantik yang sedang merenangi lautan mimpi itu. Segenggam jari mendekap mulut Menur sehingga gadis itu terbangun. Tak ada suara jerit dapat terteriakkan, tak ada ronta kuasa tergerakkan. Hanya takut yang memicu keringat sekujur tubuh. Sebuah kalimat yang ia kenal membuatnya tak berdaya melepas kebanggaan suci yang terjaga selama ini.<br />
****</p>
<p>Pagi-pagi sekali Nyi Pardopo membangunkan Menur. Ada pancaran rasa heran di wajah Nyi Pardopo.Senthir itu tidak di atas meja, namun berada di atas lantai. Nyi Pardopo menasehati Menur, tidak baik tidur di kamar dalam keadaan gelap bagi seorang gadis, juga sudah diwanti-wanti oleh Gusti Adipati. Memang benar adanya, bilasenthir diletakkan di atas meja, agar ruangan menjadi terang. Bukan di lantai yang membuat siapa yang tidur tidak kelihatan.</p>
<p>“Maaf, Mbok. Menur tidak bermaksud tidur gelap-gelapan.”</p>
<p>“Ya, sudah. Jangan diulangi lagi.”</p>
<p>Menur sebenarnya menyimpan ketakutan yang sangat. Bukan tangannya yang memindah senthir itu. Bahkan Menur semalam tidak kuasa beranjak dari ranjangnya. Hanya rasa takut dan amarah yang menggumpal, menyumbat kerongkongan. Namun pagi itu ia sembunyikan di depan ibunya.</p>
<p>Saat Menur menyapu halaman, mukanya segera ditekuk saat Gusti Kuncoro, pulang dari berkuda pagi. Kegiatan yang selalu dilakukan putra Adipati Pudakwangi itu. Ada rasa takut menatap seorang pemuda, terlebih seorang putra adipati seperti Gusti Kuncoro.</p>
<p>Sebenarnya Kuncoro sangat menaruh perhatian pada Menur. Hanya saja kadang merasa terkekang oleh aturan tradisi Pudakwangi. Ia sangat menghormati tradisi, juga kepada kedua orangtuanya. Namun cinta kadang tak memandang kasta. Meskipun seorang putra adipati, di dada Kuncoro mendesak-desak rasa dari gelitik tangan-tangan asmara yang bersemayam dalam jiwa mudanya.<br />
****</p>
<p>Malam-malam berlalu dan selalu meninggalkan senthir di lantai kamar tidur Menur. Malam-malam yang melahirkan ketakutan untuk berteriak, ketakutan untuk meronta, juga ketakutan untuk bercerita kepada siapa. Kemurungan menggelayut di roman cantik putri Ki Pardopo, kemurungan yang terukir dari gelap bayangan ranjang oleh senthir yang berpindah di lantai.</p>
<p>Malam-malam itu juga membuat Kuncoro sangat sulit memejamkan mata. Wajah Menur yang selalu hadir saat Kuncoro merebahkan tubuh di ranjang. Wajah yang seakan dekat, namun tersekat tradisi Pudakwangi. Kegelisahan di hati Kuncoro mengkristal menjadi keberanian untuk merangkai kata yang terucap di hadapan Menur. Kata yang berderet menguntai kalimat cinta. Sementara di telinga Menur, kata-kata itu semakin mengiris jiwa. Menambah beban di batinnya. Kadang ada amarah yang ingin meledak, namun apa untungnya bila ledakkan itu akan menjadi bumerang baginya, bagi keluarganya.</p>
<p>Menur begitu takut menerima untaian cinta yang dicurahkan Kuncoro. Takut melanggar tradisi, dan ia pun masih takut senthir berpindah ke lantai saat kesunyian menemani malam-malam di Pudakwangi.</p>
<p>“Apakah ada keharusan bahwa ningrat harus berjodoh sesama ningrat, sudra berjodoh dengan sudra,Rama?” Tanya Kuncoro kepada ayahndanya suatu siang.</p>
<p>“Bukan keharusan, tapi ini tradisi, anakku..” Jawab Gusti Adipati.</p>
<p>“Meski tradisi apakah mampu melarang anugerah Sang Kuasa yang bernama cinta? Maaf, Rama. Ananda sangat mencintai Menur, Rama.”</p>
<p>“Apa yang membuatmu bersikeras begitu, anakku?”</p>
<p>“Ananda tidak melihat kasta, harta, kedudukan, dan rupa,” jawab Kuncoro.</p>
<p>“Ada hal lain yang membuat Rama melarangmu berhubungan dengan Menur. Rama sangat menghormati tradisi, Rama tidak memberi restu kamu berjodoh dengan Menur.” Kata Adipati dengan nada agak tinggi.</p>
<p>Sebenarnya Adipati Pudakwangi telah menjodohkan Kuncoro dengan putri saudagar kaya, dan masih keluarga ningrat. Namun hingga saat ini belum ada jawaban kesiapan dari pihak saudagar tersebut, kapan akan dilangsungkan perkawinan putrinya dengan Kuncoro. Sebagai seorang adipati yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, tentunya tidak ingin mengingkari kesepakatan dengan saudagar tersebut.<br />
****</p>
<p>Ada bulan paruh menggantung di langit bertabur bintang. Ada dingin yang menerobos dinding rumah Ki Pardopo. Larut malam dalam simponi binatang malam, mengantarkan sekelebat sosok masuk rumah papan itu. Sejurus kemudian senthir di atas meja itu pun pindah ke lantai. Kembali ketakutan memaksa Menur meneteskan air mata. Deras. Sederas keringat sosok yang dikenalnya meski dalam gelap. Ada nafas kuda perang yang tertahan. Usai berlarian menelusuri huma dan bukit, kudapun terjerembab dalam kelelahan. Namun bergegas meninggalkan kamar dengan senthir di lantai.</p>
<p>Lagi-lagi Nyi Pardopo bersungut-sungut kepada putrinya melihat senthir di atas lantai. Tiba-tiba terhenyak melihat Menur keluar kamar sambil memegang perutnya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menutup mulutnya.</p>
<p>Perut Menur berasa mual. Bergegas ingin memuntahkannya ke kamar mandi. Nyi Pardopo tergopoh-gopoh menyusulnya.</p>
<p>“Kamu kenapa, Nduk? Sakit?”</p>
<p>Yang ditanya membisu. Matanya saja yang berair menahan rasa mual. Menahan ketakutan, dan kemarahan.</p>
<p>“Kenapa Nduk? Kamu&#8230;kamu&#8230;.”</p>
<p>“Tidak apa-apa Mbok. Menur hanya masuk angin.”</p>
<p>Ada rasa curiga pada Nyi Pardopo. Menur dihujani pertanyaan. Naluri perempuan Nyi Pardopo tidak percaya begitu saja dengan jawaban Menur. Segera Nyi Pardopo melaporkan hal itu kepada suaminya. Di hadapan ayahnya, Menur pun tetap membisu. Keributan di rumah itu sampai pula ke telinga Adipati Pudakwangi.<br />
****</p>
<p>“Ngger anakku. Apakah kamu benar-benar mencintai Menur? Apakah kamu sudah siap menerimanya sebagai istrimu? Apakah sudah kau pikirkan masak-masak bila nantinya kamu menggantikan ayahmu ini?” Tanya Adipati Pudakwangi kepada putranya.</p>
<p>“Ananda siap Rama. Menur telah menjadi pilihan ananda, meskipun dia hanya anak seorang abdi.” Jawab Kuncoro tegas.</p>
<p>“Kalau begitu, Rama akan segera mempersiapkan segala sesuatunya.”</p>
<p>“Terimakasih Rama. “</p>
<p>Sepeninggal Kuncoro. Adipati Pudakwangi memanggil abdi kesayangannya. Ki Pardopo menghadap dengan muka lain. Kali ini ada pancaran sedih dan bingung dari roman mukanya.</p>
<p>“Hamba siap menerima perintah, Gusti Adipati.”</p>
<p>“Ki Pardopo. Kali ini aku akan memberikan sesuatu kepadamu. Seperti saat aku memintamu tinggal di sini dulu. Aku minta kamu tidak menolaknya. Aku tahu kamu sangat bersedih, namun semoga pemberianku ini akan dapat mengurangi kesedihanmu.”</p>
<p>“Hamba Gusti. Gusti adipati akan memberi hamba apalagi? Yang hamba terima dari paduka selama ini sudah sangat berlebihan.”</p>
<p>“Tidak Ki Pardopo. Kamu harus menerimanya. Kuncoro anakku menginginkan Menur menjadi pendampingnya. Aku minta kamu tidak menolaknya. Aku merestui mereka berdua.”</p>
<p>“Duh Gusti Adipati. Paduka begitu baik terhadap kami. Hamba hanya abdi biasa seperti yang lain. Namun kenapa Gusti Adipati selalu memberi kami berlebihan. Hamba tidak mengerti Gusti. Ini semua hadiah atau ujian kami Gusti&#8230;” Sambil menitikkan airmata, Ki Pardopo bersujud di hadapan Adipati Pudakwangi.</p>
<p>“Sudahlah, Ki Pardopo. Sebagai adipati, aku tidak akan menarik lagi ucapanku. Apalagi menarik apa yang telah kuberikan kepadamu juga keluargamu.”</p>
<p>Pesta perkawinan Kuncoro dan Menur pun berlangsung meriah. Para petinggi Kadipaten Pudakwangi hadir. Juga tamu-tamu dari Kadipaten tetangga. Hanya saudagar yang kecewa karena batal menjadi mertua Kuncoro yang tidak tampak. Para tamu heran karena Kuncoro mencintai anak abdinya. Ki Pardopo dan istrinya juga heran dengan hadiah yang diterimanya, di saat kebingungan dengan teka-teki siapa yang membuat perut Menur mual-mual namun jelas bukan karena masuk angin. Juga bingung dengan  jawaban siapa yang memindahkan senthir di kamar tidur Menur setiap malam. Bahkan Kuncoro pun juga tidak tahu bila Menur menyimpan jawaban dari semua itu.****</p>
<p><strong>Roemah Boekoe, Desember 2011</strong><em></p>
<p>Narwan, S.Pd.<br />
Guru SD Negeri Sutopati 5<br />
Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang 56163<br />
e-mail: narwan_sk@yahoo.com<br />
blog: www.pemahatrupadhatu.blogspot.com<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/23/senthir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teh Tawar Hangat</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/12/teh-tawar-hangat/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/12/teh-tawar-hangat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 05:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Sukmadji]]></category>
		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2941</guid>
		<description><![CDATA[Ir. Bambang Sukmadji Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak Semenjak beberapa bulan silam Sasmito ditinggal istrinya menghadap Illahi, lelaki muda itu terus saja mengunci mulutnya. Tiap hari, pagi pagi benar dia sudah menyapu halaman rumahnya yang cukup luas dari sampah plastik, daun mangga kering dan bungkus makanan anak anak yang dibuang begitu saja oleh anak anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ir. Bambang  Sukmadji</strong><br />
<em>Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak</em></p>
<p><img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-QYwEJkv_XtA/TXSrdyMmgSI/AAAAAAAACRY/-fuinQyQEro/s220/BAMBANG%2BMERAH.jpg" class="alignleft" width="220" height="165" />Semenjak  beberapa bulan silam Sasmito ditinggal istrinya menghadap Illahi, lelaki muda itu terus saja mengunci mulutnya. Tiap hari, pagi pagi benar dia sudah menyapu halaman rumahnya yang cukup luas dari sampah plastik, daun mangga kering dan bungkus makanan anak anak yang dibuang begitu saja oleh anak anak tetangganya. Dia tetap mengunci mulut, sorot mata dan senyumnya.</p>
<p>Namun belakangan ini, dia berubah sikapnya lantaran dia melihat semakin banyak sampah yang menumpuk  di halaman rumahnya. Maka pagi hari ini lelaki muda itu menyapu dengan agak membanting bantingkan tangkai sapu lidinya dan menjadi sering memaki kepada banyak orang.</p>
<p>“Kamu buang saja bungkus makananmu ke tempat sampah di sebrang jalan sana !” sesekali lelaki tua itu menunjamkan keberanganya kepada anak anak tetangganya yang kerap main di halaman  rumahnya yang hanya beralas tanah liat yang mengeras, dengan disana sini masih ditumbuhi ilalang yang meranggas.</p>
<p>Tapi memang dasar anak, betapapun lelaki kesepian itu dongkol dan marah, tetap saja mereka masih anak anak. Mereka itu adalah sosok yang mampu menyerap segala sesuatu dengan pembelajaran yang berkelanjutan dan sedikit demi sedikit.</p>
<p>***</p>
<p>“Apa perlu aku buat papan pengumuman yang besar, agar semua anak anak itu tidak membuang sampah di halaman rumah saya, Pak RT ?” . Suatu pagi, Pak RT mendapat giliran menjadi sasaran makian , setelah beberapa hari lalu beberapa warganya sudah kena getahnya.</p>
<p>“Ah, tidak perlu repot repot Pak Sas !, hanya masalah sepele seperti itu cukup dengan pendekatan kekeluargaan saja, agar tidak menimbulkan dendam tetangga “</p>
<p>“Aku sudah tak sabar lagi !”</p>
<p>“Jangan emosi dulu Pak Sas!, semuakan bisa dirembug, mereka cuma anak anak !”</p>
<p>“Tapi ini sungguh keterlaluan, mereka semakin berani saja dengan aku”</p>
<p>“Ini hanya perasaan Pak Sasmito saja, mereka kan belum tahu kalau Pak Sas marah. Lagian selama ini Pak Sas kan tidak pernah  menegur mereka. Pak Sas hanya diam membisu setiap kali di tengah mereka dan tetangga kita semua”</p>
<p>Mata lelaki muda itu perlahan meredup,  jaket lusuh yang kerap menutupi tubuhnya kini dilepas dan tak lama dia menyandarkan seluruh punggungnya di sofa berkulit hijau di ruang tamu rumah Pak RT. Pak RT masih terlihat menyunggingkan seberkas senyum di wajahnya yang sudah mulai dipenuhi kulit yang melonggar. Sebuah  senyuman yang mampu menyihir wajah laki laki muda itu tidak seperti semula, yang membara ditusuk bara api.</p>
<p>Serpihan bara api kini sudah terlumat ditelikung angi pagi di Hari Minggu kala itu, Pak RT segera mempersilakan Pak Sas untuk meneguk teh tawar hangat yang berada persis di depanya. Singkong rebus berwarna agak keruh, lantaran sudah agak tua, kini masih</p>
<p>2</p>
<p>mengepulkan asapnya, bersma dengan teh hangat tawar kini mampu menjadi kawan mereka . Kabut pagi yang semula menyamarkan pandangan mereka kini berganti dengan kuning sinar mentari. Namun dalam hati laki laki muda itu, masih saja terselip rasa rindu yang berat pada istrinya yang kini sedang bermandi air bunga di cakrawala senja.</p>
<p>“Pak Sas, sedang  galau karena rindu, kan ?” Sepotong kalimat dari Pak RT meluncur begitu saja hingga jauh menunjam ke jantung Pak Sas. Namun tiada sedikitpun Pak RT takut bila Pak Sas terluka hatinya dengan pertanyaanya itu. Lantaran beberapa tahun silam dia juga pernah ditinggal istrinya menghadap Illahi. Kala itu Pak RT ingin segera meruntuhkan langit biru atau menghentikan perputaran bumi, agar semua manusia merasakan penderitaan sama seperti dirinya.</p>
<p>“Pak Sas, aku juga pernah merasakan seperti anda, dan kini rindu itu belum semuanya sirna. Apalagi bila aku berada di tengah anak anaku. Tapi mau apa lagi kita, hanya tulang dan daging yang tak berdaya menghadapi suratan takdir.</p>
<p>Sasmito mulai menyemaikan bunga berseri di hatinya, ketimbang beberapa saat yang lalu, hatinya hanya dipenuhi belukar yang mernggas. Diapun mulai menemukan kawan curhat, untuk menyiram bara api rindu yang membakar dinding jantungnya, beberapa teguk teh hangat tawar kini sudah memenuhi tenggorokanya.</p>
<p>Penulis : Bambang Sukmadji-Semarang </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/12/teh-tawar-hangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SRI RANGGAH RAJASA SANG AMURWABHUMI</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/10/19/sri-ranggah-rajasa-sang-amurwabhumi/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/10/19/sri-ranggah-rajasa-sang-amurwabhumi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 04:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Narwan S. Kelana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2925</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Narwan S. Kelana MATAHARI memancarkan cahaya tepat di atas ubun-ubun. Seorang pemuda dengan langkah cepat menuju utara. Di pinggangnya terselip keris tak ber-warangka, hanya dibungkus kain putih. Bungkusan itu sesekali dipegangnya. Ia memastikannya tidak jatuh, atau terlihat orang lain. Ken Arok , pemuda jelata itu, ingin segera sampai di Tumapel. Ingin ia mengabdi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Narwan S. Kelana</p>
<p><img alt="" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/275495_100000043178106_679750314_n.jpg" class="alignleft" width="180" height="239" />MATAHARI memancarkan cahaya tepat di atas ubun-ubun. Seorang pemuda dengan langkah cepat menuju utara. Di pinggangnya terselip keris tak ber-warangka, hanya dibungkus kain putih. Bungkusan itu sesekali dipegangnya. Ia memastikannya tidak jatuh, atau terlihat orang lain.</p>
<p>Ken Arok , pemuda jelata itu, ingin segera sampai di Tumapel. Ingin ia mengabdi di Pakuwon Tumapel. Dia yakin sekali untuk mencapai cita-citanya -menjadi seorang raja- harus dimaulai dari bawah. Mulai  menjadi seorang abdi atau parajurit misalnya. Meski Ken Arok tidak menyukai pekerjaan itu. Ia lebih menyukai sebagai pencuri atau perampok. Seperti masa lalunya sebelum bertemu dengan Loh Gawe. Berkat didikan Loh Gawe-lah dia berubah menjadi pemuda baik dan bercita-cita luhur.</p>
<p>Di Tumapel, Akuwu Tunggul Ametung tanpa ragu-ragu menerima pengabdian Ken Arok. Pemuda desa itu pun mulai bekerja di Pakuwon Tumapel. Dengan cepat Ken Arok akrab dengan pekerjaannya. Para abdi lain pun menyenagi kerja Ken Arok, rajin dan cekatan. Sebenarnya, sifat rajinnya  hanya untuk menarik perhatian majikan putrinya, Ken Dedes, istri Tunggul Ametung.</p>
<p>Di mata Ken Arok, Ken Dedes adalah bidadari. Mata malingnya selalu mencuri pandang saat melihat majikan putrinya lewat. Tak ada lekuk tubuh Ken Dedes yang luput dari perhatian mata Ken Arok. Bidadari itu begitu sempurna. Ken Arok melihat cahaya yang meyilaukan mata dari bawah pusar Ken Dedes. Selalu, selalu bercahaya di mata Ken Arok. Sungguh dia bidadari yang kini bersemayam di Tumapel.<br />
***</p>
<p>Keheningan malam dipecahkan oleh suara tangis bayi di Kaputren. Ken Arok terjaga dari tidurnya, membuat Kebo Ijo pun terjaga, namun hanya membalikkan tubuhnya lalu tidur lagi. Mata Ken Arok berkedip-kedip. Ia membayangkan, lusa akan melihat lagi sang bidadari lewat di depannya. Seperti dulu, sebelum tambun karena hamil. Lama sekali Ken Arok menanti saat-saat itu. Saat bidadarinya berjalan dan menyapanya dengan senyum yang mampu melambungkan angannya. Lamunan Ken Arok terus melayang jauh hingga melampui puncak gunung Arjuna di sebelah utara.</p>
<p>Gejolak hati yang memendam cita-cita semakin meletup-letup. Bahkan kini bercampur birahi untuk memiliki sang bidadari Tumapel. Wanita yang rahimnya memancarkan cahaya, sangat pantas menjadi seorang permaisuri yang kelak akan menurunkan raja-raja. Pikiran-pikiran itu terus berdesak-desakkan di kepala Ken Arok. Maka timbullah keinginan untuk memperistri Ken Dedes yang kini telah menjadi seorang ibu.</p>
<p>Hari-hari terus berlalu seiring dengan mengalirnya sang waktu. Otak Ken arok terus mengatur siasat. ” Bunuh Akuwu ! Bunuh Akuwu !” suara-suara itu memenuhi dada dan kepalanya. Tiba-tiba Ken arok teringat dengan keris Empu Gandring. Dia ingat betul sumpah serapah Empu Gandring tatkala dadanya berlubang oleh keris buatannya sendiri keris pesanan Ken Arok, namun dicoba keampuhannya pada si pembuatnya.</p>
<p>Tangan Ken Arok bergetar memegang tangkai keris. Dipandanginya keris tanpa warangka itu.<br />
”Bunuh Akuwu! Bunuh Akuwu!”</p>
<p>Suara itu kini sangat jelas. Ken Arok yakin keris itu yang bersuara. Tubuhnya berkeringat, tangannya bergetar. Dipandanginya keris itu dengan mata nanar. Rupanya kutukan Empu Gandring akan segera menjadi kenyataan. Keris itu haus darah manusia.<br />
***</p>
<p>Kebo Ijo sangat bangga dengan keris di tangannya, keris pemberian Ken Arok. Ia pamerkan kepada setiap orang yang dijumpainya. Di tempat kerja, di rumah, bahkan di alun-alun Tumapel pun tak segan-segan dipamerkannya keris Empu Gandring kepada orang-orang. Ada rasa puas tersendiri di hati Kebo Ijo. Pernah ada seseorang ingin membeli keris itu, namun Kebo Ijo tak memberikannya. Pesan Ken Arok, keris itu tak boleh dijual atau memberitahukan kepada orag lain bila Ken Arok yang memberinya.</p>
<p>”Mengapa tidak boleh? Bukankah kamu memperolehnya dengan cuma-cuma dari seorang sahabatmu?”</p>
<p>”Justru itu, Ki Sanak! Ini pemberian sahabat karibku, tidak pantas kan kujual?”</p>
<p>”Tapi keris sebagus ini sayang bila tak diberi warangka. Apa kamu sanggup memberi warangka yang cocok untuknya?”<br />
Kebo Ijo tak mempedulikan lagi omongannya. Ia teruskan berjalan meninggalkan orang itu, kemudian berjalan menuju ke sudut lain alun-alun Tumapel.</p>
<p>Malam itu begitu pekat dan senyap. Kebo Ijo telah pulas mengunyah mimpi-mimpinya. Raut wajahnya masih menampakkan sisa-sisa rasa bangga karena telah memiliki sebuah keris ampuh pemberian Ken Arok. Semua orang kagum oleh katuranggan dan pamor keris buatan Empu Gandring itu.</p>
<p>Diam-diam Ken Arok menyelinap ke dalam istana. Segera dicarinya peraduan Akuwu Tunggul Ametung. Begitu diketemukan serta-merta Ken Arok mengendap-endap mendekati Akuwu. Dengan sebuah tikaman keras tangan Ken Arok, keris Empu Gandring menancap tepat di jantung Akuwu. Seketika tewaslah Akuwu dengan keris masih menancap di dadanya.<br />
Begitu pagi merekah, gemparlah Tumapel dengan tewasnya sang Akuwu. Tak pelak lagi, orang-orang Tumapel menuduh Kebo Ijo sebagai pembunuh Akuwu. Mereka yakin karena Ken Arok memperlihatkan keris milik Kebo Ijo yang menancap di dada Tunggul Ametung.</p>
<p>”Bukan saya, bukan saya pembunuhnya!”</p>
<p>”Bohong! Bohong!” suara ramai orang-orang di alun-alun.</p>
<p>”He, Kebo Ijo! Teganya kau membunuh junjungan kita?”</p>
<p>”Bukan aku, Ken Arok!”</p>
<p>”Tapi ini keris milikmu bukan?”</p>
<p>”Betul, tapi keris itu pemberian&#8230;agh!”</p>
<p>Sebuah tikaman memutus kata-kata Kebo Ijo. Ia tewas di tangan Ken Arok dengan keris Empu Gandring itu juga. Berhasilnya Ken arok menemukan pembunuh Akuwu dan sekaligus telah mengeksekusinya, maka Ken Arok mengangkat dirinya menggantikan kedudukan Akuwu Tunggul Ametung sebagai bupati Tumapel. Juga memperistri Ken Dedes, janda Tunggul Ametung yang di mata Ken Arok tetap seorang bidadari.<br />
***</p>
<p>Sebagai seorang bupati, membuat Ken Arok semakin yakin akan cita-citanya menjadi seorang raja. Maka ketika ada tawaran dari para Brahmana Kediri untuk membantu mereka melawan Kertajaya, Ken arok tak menolaknya. Peperanganpun pecah di Ganter. Di tengah berkecamuknya perang, Ken Arok berhasil membunuh Kertajaya. Kini Kediri jatuh ke tangan Ken Arok. Ibu kota kerajaan dipindah ke Tumapel dan ia sebagai rajanya. Nama kerajaan diganti menjadi Singasari. Ia pun bergelar Sri Ranggah Sang Amurwabhumi.</p>
<p>Rajasa puas hatinya. Cita-citanya terwujud sudah. Anak petani sahaja ini menjadi raja. Didikan Loh Gawe ini benar-benar hebat. Meski dengan kelicikan dan tipu muslihat, kekejaman dan fitnah. Anak petani Desa Pangkur yang dulu menjadi penjudi dan pencuri ini kini telah berhasil membentuk sebuah negeri.</p>
<p>Meskipun telah berpermaisurikan Ken Dedes, bidadari yang rahimnya bercahaya, namun kecantikan Ken Umang mampu membangkitkan kelaki-lakiannya. Ken Umang pun dijadikan selir meski dengan syarat kelak anak dari rahim Ken Umang-lah yang akan menggantikan Ken Arok sebagai raja Singasari. Bukan Anusapati, anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung yang kini menjadi anak tirinya. Tanpa disadari kelicikannya telah dikalahkan oleh kelicikan Ken Umang, perempuan cantik penuh ambisi kekuasaan ini. Kini Rajasa Sang Amurwabhumi, sang penakluk negeri, namun dapat ditaklukkan oleh seorang gadis desa bernama Ken Umang. (NSK)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/10/19/sri-ranggah-rajasa-sang-amurwabhumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PASUKAN GILI ROKEL</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/07/08/pasukan-gili-rokel/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/07/08/pasukan-gili-rokel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2011 02:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Pasukan Gili Rokel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2864</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Agus Pribadi &#8212;PNS Guru Biologi SMP N 4 Rembang Purbalingga Jawa Tengah&#8212; Kami adalah Pasukan Gili Rokel. Sekumpulan siswa-siswa, guru-guru dan karyawan, serta Komandan Gili Rokel yaitu Kepala Sekolah. Pasukan kami menghuni sebuah markas. Sekolah SMP milik pemerintah yang berada di pucuk pohon Cemara. Gili Rokel. Sebutan yang kami namai sendiri untuk sebuah jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Agus Pribadi  &#8212;PNS Guru Biologi SMP N 4 Rembang Purbalingga Jawa Tengah&#8212;</p>
<p><img alt="" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/187675_100000656183543_6036011_n.jpg" class="alignleft" width="180" height="240" />Kami adalah Pasukan Gili Rokel. Sekumpulan siswa-siswa, guru-guru dan karyawan, serta Komandan Gili Rokel yaitu Kepala Sekolah. Pasukan kami menghuni sebuah markas. Sekolah SMP milik pemerintah yang berada di pucuk pohon Cemara. </p>
<p>Gili Rokel. Sebutan yang kami namai sendiri untuk sebuah jalan penghubung antara sebuah balaidesa dengan sekolah kami. Jalan berkelok naik turun sepanjang kurang lebih dua kilometer. Jalan yang aspalnya sudah hampir mengelupas seluruhnya. Keloknya seperti ular yang sedang menggeliat. Aspalnya seperti kulit dan daging yang telah mengelupas dari tulangnya. Keadaannya seperti sungai kering di musim kemarau. Jalan itu menyisakan batu-batu dan kerikil-kerikil yang siap menggelincirkan setiap kendaraan yang melewatinya. </p>
<p>Kami menyebut sekolah kami berada di pucuk pohon Cemara karena letaknya berada di atas sebuah pegunungan. Pohon-pohon yang menghasilkan udara segar, matahari, suara kicau burung, kupu-kupu dan bunga-bunga menjadi latar yang menghiasi sekolah kami.</p>
<p>Kadang kami menghibur diri dengan pergi ke sebuah air terjun. Jaraknya sekitar dua kilometer dari sekolah kami. Di sana kami mandi dan bermain-main sepuas hati. Seperti ikan-ikan, kami berenang dan menyelam.</p>
<p>Kepala sekolah kami bernama Pak Rohman. Orangnya sangat ramah, kocak, dan bijaksana. Paling senang jika upacara bendera, dan Pak Rohman memberi amanatnya. Kami akan mendengarkan dengan khidmat. Petuah-petuahnya yang bermakna dan bermanfaat diselingi leluconnya yang menghibur. </p>
<p>“Anak-anak, kalian harus selalu rajin belajar, bekerja dan berlatih. Apapun keadaannya, apapun rintangannya. Jangan cengeng, jangan lembek, dan jangan mudah menyerah. Kita harus meneladani Panglima Besar Jenderal Soedirman yang lahir di daerah kita ini. Tekad dan keinginannya sangat kuat. Meski dalam keadaan sakit. Meski harus ditandu menaiki bukit dan menuruni lembah. Paham???” amanat Pak Rohman dalam suatu upacara bendera. </p>
<p>“Paham Pak&#8230;!!!” seru kami serentak.</p>
<p>“Kita adalah Pasukan Gili Rokel yang tak mudah takluk oleh keadaan. Senjata kita adalah tekad, kemauan, semangat, dan ketekunan,” amanat lanjutan dari Pak Rohman.</p>
<p>Kami tidak memiliki fasilitas sekolah yang mewah seperti teman-teman kami di kota. Kami tidak mempunyai lapangan futsal yang mewah. Siswa-siswa sekolah kami tidak mengikuti bimbingan belajar di lembaga bimbingan belajar yang bertebaran di kota-kota. Mereka tidak semuanya melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi jika telah lulus SMP. Selepas lulus SMP, ada yang bekerja ke kota atau ke luar Jawa, bahkan sebelum ijazahnya sempat diambil. Siswa putri ada yang dilamar oleh seorang pemuda bersamaan dengan mendapatkan ijazah SMP. Hanya sebagian kecil lulusan SMP dari sekolah kami yang melanjutkan sekolah lagi.</p>
<p>Mungkin karena itu semua, tak ada guru di sekolah lain yang bermimpi pindah ke sekolah kami. Membayangkannya pun mungkin tidak pernah.</p>
<p>Namun tidak demikian dengan guru-guru kami. Mereka orang-orang yang tangguh tak pernah mengeluh. Meski kerap terjatuh penuh peluh. Rumah mereka banyak yang jauh dari sekolah. Tapi mereka tidak pernah menyerah apalagi kalah. Mereka kerap terjatuh jika datang musim hujan yang membuat jalan menjadi licin. Keadaan terburuknya adalah terjadi longsor. Jika itu yang terjadi, anak-anak diliburkan demi keselamatan bersama.</p>
<p>Kami selalu berangkat tanpa pernah terlambat dan merasakan penat. Aku dan teman-temanku biasa berjalan kaki menuju dan pulang sekolah. Atau kadang naik mobil bak terbuka. Kami selalu rajin belajar demi sebuah cita-cita yang kami kejar. Kami tidak pernah mengeluh. Karena mengeluh hanya membuat kami jenuh.</p>
<p>Namaku Parman. Aku duduk di kelas sembilan bersama teman-temanku yang bernama Turid, Zaenal, Mahyo, Marno, Rudi, Soendi, dan lain-lain. Kami akan mengikuti lomba Futsal tingkat kecamatan. Aku menjadi kapten tim futsal dari sekolah kami, dan anggota timku adalah Turid, Zaenal, Mahyo, dan Marno. Di bawah bimbingan Pak Anto guru olahraga kami, kami senantiasa giat berlatih.  </p>
<p>Pak Anto berpesan, “Kalian harus mampu membuktikan bahwa sekolah kita pun layak menjadi juara. Sekolah kita pun layak mengangkat piala. Meskipun sekolah-sekolah lain memandangnya sebelah mata.”</p>
<p>Dengan lapangan seadanya, kami berlatih setiap hari. Pak Anto mengajarkan teknik membawa, menggiring dan mengumpan bola. Pak Anto juga mengajarkan kerjasama tim. Dalam satu tim tidak boleh ada yang egois. Kami harus kompak. Kami adalah Pasukan Gili Rokel.</p>
<p>Pertandingan Futsal dimulai. Kami bekerja keras menaklukkan sekolah-sekolah lain yang berada di satu kecamatan. Satu persatu tim futsal dari sekolah lain kami kalahkan. Tibalah babak final. Kami berhadapan dengan tim futsal sekolah favorit. Kami tidak gentar. Skor telak 5-0 kami ciptakan.  Dan kami pun menjadi juara pertamanya. Sungguh kami bangga menjadi Sang Juara. Kami bangga bersama teman-teman tim futsal mengangkat piala kemenangan diiringi tepuk tangan yang membelah langit dari siswa-siswa dan guru karyawan dalam sebuah upacara bendera. Pak Anto menyalami aku dan teman-teman tim futsalku. Diangkatnya piala kemenangan dengan bangga. Tepuk tangan pun kembali membelah langit.</p>
<p>Kami bangga dengan sekolah kami. Kami bangga dengan siswa-siswa, guru dan karyawan serta kepala sekolah. Kami bangga dengan pasukan Gili Rokel. Namamu akan terkenang dan menang di hati kami yang tenang.</p>
<p>***</p>
<p>Sepuluh tahun kemudian.<br />
Aku sudah menjadi seorang guru olahraga. Turid menjadi seorang tentara. Zaenal menjadi seorang pegawai kecamatan. Mahyo menjadi seorang dokter. Marno menjadi seorang dosen. Dan teman-teman yang lainnya ada yang menjadi polisi, bidan, dan lain sebagainya. Namun ada juga yang tidak melanjutkan sekolah sejak lulus dari SMP dulu. Kami mengadakan reuni di sekolah kami. Markas Pasukan Gili Rokel. Jalan Gili Rokel sudah beraspal tebal dan halus. Sekolah kami pun sudah berdiri megah dan gagah. Seperti sebuah puri di pegunungan yang indah. Di huni oleh guru-guru profesional dan siswa-siswa pilihan. ()</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/07/08/pasukan-gili-rokel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keteguhan Seorang Kakek Tua</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/07/08/keteguhan-seorang-kakek-tua/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/07/08/keteguhan-seorang-kakek-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2011 02:15:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kakek tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2862</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rully Ferdiansyah Saat aku baru saja lulus kuliah dan sedang berada dalam masa-masa yang bergelora, penuh semangat, aku diterima menjadi wartawan mingguan, sebuah pekerjaan yang kelak akan mengubah cara pandangku selamanya. Sepanjang pengalamanku menjadi wartawan hanya seorang kakek tua bernama, Sokhari yang kisah hidupnya menurutku paling berkesan di hati dan akan kuingat selamanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Rully Ferdiansyah </p>
<p><img alt="" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRjZYps86Ye4PTEWOW7Y6wlvCh4CjlpyhCYZ2mbkA8hcfGJ0Y_cJQ&#038;t=1" class="alignright" width="160" height="220" />Saat aku baru saja lulus kuliah dan sedang berada dalam masa-masa yang bergelora, penuh semangat, aku diterima menjadi wartawan mingguan, sebuah pekerjaan yang kelak akan mengubah cara pandangku selamanya. Sepanjang pengalamanku menjadi wartawan hanya seorang kakek tua bernama, Sokhari yang kisah hidupnya menurutku paling berkesan di hati dan akan kuingat selamanya. Jika keteguhan dan kesabaran adalah merupakan rangkaian gerakan sikap yang selalu berkelanjutan, tak berkesudahan, maka orang yang sabar adalah orang yang kuat. </p>
<p> Sokhari adalah warga kampung Glinseng, anaknya empat cucunya tiga. Rumah Sokhari berada di dalam kawasan pabrik kertas Indah Kiat di Kecamatan Kragilan Serang. Kehidupan Sokhari bersama keluarganya bagai dipenjara, karena terisolasi dari dunia luar. Untuk keluar masuk rumahnya, Sokhari harus melalui pintu keamanan pabrik. Sudah 20 tahun lebih Sokhari menjalani kehidupan seperti itu. Sungguhpun begitu, Sokhari tidak sendirian. Banyak tetangga-tetangga Sokhari yang mengalami nasib serupa seperti Sokhari. Kampung Glinseng adalah kampung yang terletak di dalam kawasan pabrik Indah Kiat, hingga saat ini belum dibebaskan, warga kampung memilih bertahan untuk tinggal di rumah mereka.</p>
<p>Bisakah dibayangkan orang kampung melawan penindasan pabrik Indah Kiat. Bernagai intimidasi sudah mereka anggap biasa. Dengan modal keteguhan memegang prinsip mereka mampu bertahan selama 20 tahun. Takkan pernah ada titik temu dalam mendamaikan kedua pihak, antara warga kampung Glinseng dan Pabrik Indah Kiat. Warga menginginkan tanahnya dibebaskan berdasar nilai pasar seharga 3.000.000/m2, sementara pabrik Indah Kiat menginginkan harga tanah sesuai NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) sebesar 2.00.000/m2. Manakah yang benar? Hanya ahli hukum yang tahu! Yang pasti, kesabaran Sokhari dan warga Glinseng patut diacungi jempol. Bagiku mereka adalah Mandela-nya Banten. Bukan hanya aku saja yang salut terhadap warga Glinseng, banyak pula pihak lain yang memuji kesabaran mereka terhadap kesewenang-wenangan Indah Kiat, seperti: Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) dan KomnasHam. Tentu, seandainya saja permasalahan warga Glinseng ini aku adukan pada aktivis hukum seperti, Adnan Buyung Nasution, OC. Kaligis, Todung Mulya Lubis dan lainnya. Mereka pun akan mendukung warga Glinseng. Sayang, saya tak memiliki modal untuk membantu warga Glinseng sampai ke tahap itu.</p>
<p> Hingga kini, Sokhari dan warga Glinseng lainnya masih tinggal di dalam kawasan pabrik dengan dikelilingi parit raksasa yang mengelilingi rumah-rumah mereka. Meski telah dibantu Walhi dan KomnasHam, tetap saja permasalahan kasus kampung Glinseng masih jauh dari selesai. Setidaknya, warga Glinseng tak perlu lagi mengkhawatirkan akan intimidasi dari pabrik. Hak-hak mereka sudah dijamin dan dilindungi oleh KomnasHam dan Walhi. Bupati Serang? Jangan pernah ungkit peran Bupati Serang di sini. Anggap saja dia sudah mati! Sokhari pernah mengatakan padaku bahwa Bupati Serang selalu sowan ke pabrik Indah Kiat dan pabrik-pabrik lainnya di kawasan Serang Timur ketika masa-masa kampanye Pilkada. Jadi jangan harap dukungannya kepada rakyatnya sendiri.</p>
<p>Akulah orang pertama yang mengangkat masalah kampung Glinseng ke tingkat Nasional, akulah Whistle Blower-nya. Sekarang saya tak bisa lagi bersama mereka, membantu mereka karena saya sekarang sibuk bekerja di pabrik plastik. Intelektualku terbunuh oleh rutinitas. Sungguhpun begitu, doaku selalu kupanjat kepada Allah untuk kemerdekaan orang Glinseng. Amin!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/07/08/keteguhan-seorang-kakek-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ngaji di Pasar Tanah Abang</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/04/18/belajar-ngaji-di-pasar-tanah-abang/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/04/18/belajar-ngaji-di-pasar-tanah-abang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 12:52:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2795</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Rully Ferdiansyah &#8212;&#8211;Alumnus Politeknik Piksi Input Serang&#8212;&#8211; “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam menjalani hidup. Cukup dengan modal jujur dan prasangka baik, kedua modal itu sudah bisa mencukupi hidup, Allah akan menjamin segala kesejahteraan kehidupan kita,” Abah Mufassir Rustam adalah seorang lulusan pesantren salafiyah di Petir. Akan tetapi ketika ia pulang ke kampung halamannya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Rully Ferdiansyah &#8212;&#8211;Alumnus Politeknik Piksi Input Serang&#8212;&#8211;</p>
<p><img class="alignleft" src="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/dens.jpg?t=1303130225" alt="" width="100" height="166" /></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;">“<em>Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam menjalani hidup. Cukup dengan modal jujur dan prasangka baik, kedua modal itu sudah bisa mencukupi hidup, Allah akan menjamin segala kesejahteraan kehidupan kita</em>,”</span><br />
<span style="color: #ff0000;"> Abah Mufassir</span></p>
<p>Rustam adalah seorang lulusan pesantren salafiyah di Petir. Akan tetapi ketika ia pulang ke kampung halamannya, semua orang di kampungnya selalu menggunjingnya karena Rustam dianggap sebagai orang yang gagal, tidak sukses secara materi dan kedudukan sosial, masih menganggur. Kedua orangtuanya pun ikut terpengaruh pula oleh omongan para tetangga, membuat mereka merasa menyesal pernah memasukkan Rustam ke pesantren. Rustam merasa tidak betah tinggal di rumah, ia memutuskan untuk melakukan Riyadhah (penyucian diri) dengan berpuasa selama 11 hari, dan berbuka hanya dengan air putih saja. Rustam merasa harus meninggalkan kampung halamannya</p>
<p>Di pasar tradisional Rau Serang, Rustam selalu menghabiskan hari berpuasanya dengan menjadi kuli angkut untuk mendapatkan uang berbuka puasanya. Pada malam hari Rustam tidur di mesjid pasar, dan menjadi Muadzin pada shalat Shubuh. Rustam sangat menyukai kehidupan barunya sebagai orang yang tidak dikenal, dan orang yang bisa mencukupi dirinya sendiri.</p>
<p>Meskipun Rustam bukanlah siapa-siapa, tetapi semua pedagang dan para kuli di pasar Rau, hampir semuanya mengenal Rustam yang jujur. Apalagi, Rustam sendiri sebenarnya memiliki perawakan yang sempurna. Tubuhnya jangkung, wajahnya tampan, dan berkumis jarang seperti Nikolas Saputra. Itulah Rustam, hanya saja sangatlah sulit untuk melihat ketampanan seseorang jika kita bukanlah orang yang berada, hanya kuli pasar. Rustam tetap dipandang bukanlah siapa-siapa meskipun dia setampan Nikolas Saputra, bahkan lebih.</p>
<p>Akan tetapi pandangan semua orang di pasar Rau terhadap Rustam mendadak berubah ketika pada suatu hari, di mana pada hari itu adalah hari terakhir Rustam berpuasa,  terdapat seorang kuli yang mengamuk seperti macan karena kesurupan. Semua orang ketakutan, terbirit-birit, bersembunyi, tak ada yang berani mendekati kuli yang mengamuk seperti macan tersebut. Setiap orang merasa putus asa, mengeluh karena tidak ada yang bisa menghentikan.</p>
<p>Rustam kenal baik dengan orang kesurupan tersebut. Kuli yang kesurupan itu adalah teman sesama kulinya yang bernama, Marwan. Keadaan di pasar Rau terasa mencekam, semua orang ketakutan, dan barang-barang dagangan porak poranda karena diacak-acak Marwan. Pada saat-saat genting seperti itulah Rustam memberanikan diri, maju mendekati temannya.</p>
<p>Salah seorang pedagang pakaian bernama, Haji Kasidin, berusaha menahan Rustam, membujuknya agar mengurungkan niatnya yang ingin menghentikan kegilaan Marwan. “Sudahlah.. jangan kau nekad seperti itu, biar kita panggil dukun saja.. atau polisi,”</p>
<p>Rustam tersenyum simpul, bagaikan Nikolas Saputra yang main di film Ada apa dengan cinta. “Maaf pak Haji, Marwan itu bukan kesurupan.. jadi tidaklah perlu dipanggilkan dukun.. dia hanya depresi saja, oleh karena itu dia kehilangan kesadaran dirinya,”</p>
<p>Tetap saja Haji Kasidin merasa cemas akan keselamatan Rustam. “Bagaimana kamu bisa yakin? Bagaimana kalau perkiraanmu itu salah?”</p>
<p>Rustam masih tersenyum ramah pada Haji Kasidin. Dengan penuh kerendahan hati, ia berkata. “Saya sering melihat orang yang kesurupan, dan untuk kasus ini, saya yakin kalau Marwan itu tidak kesurupan, tetapi sedang depresi karena istrinya kabur,”</p>
<p>Rustam segera meninggalkan Haji Kasidin, ia berjalan ke arah Marwan, mendekatinya. Tetapi Marwan melangkah mundur, sementara Rustam tetap mendekati Marwan dengan perlahan, melangkah maju dengan penuh kewaspadaan. Melihat Rustam yang makin mendekat, Marwan menatap tajam sambil mengerang seperti suara harimau. Karena merasa terancam dengan Rustam, maka, Marwan pun merunduk, memasang posisi kuda-kuda, bersiap menyerang Rustam. Meskipun Rustam sudah melihat reaksi Marwan yang sudah bersiap menyerangnya, Rustam tetap pula terlihat tenang. Bahkan ketika Marwan melompat, menerjang Rustam dengan sekuat tenaga. Dengan mudahnya Rustam bisa mematahkan serangan terkaman dari Marwan, dan menguncinya. Begitu Marwan sudah terkunci, Rustam lalu mengikat tangan dan kaki Marwan dengan kencang.</p>
<p>Rustam segera mengambil satu ember berisi air bekas cuci piring milik tukang bakso, lalu menyiram Marwan dengan air tersbut, kemudian menampar wajah Marwan dengan sangat keras.</p>
<p>“Ayo sadar kamu.. bikin susah orang saja,” kata Rustam, tegas.</p>
<p>“Aduh ampun.. ampun.. kenapa saya bisa diikat seperti ini,” kata Marwan, merasa heran melihat dirinya yang terikat.</p>
<p>“Alhamdulillah.. kamu sudah sadar,”</p>
<p>Semua orang di pasar Rau merasa terkagum-kagum melihat aksi Rustam yang berhasil menyadarkan Marwan. Khususnya bagi Haji Kasidin, ia merasa bahwa Rustam bukanlah orang sembarangan. Kejujuran dan keahlian yang dimiliki Rustam adalah sesuatu yang langka di dunia ini. Haji Kasidin merasa bahwa Rustam adalah orang yang tepat untuk dijadikan wakilnya dalam meluaskan usahanya di Tanah Abang. Selama ini Haji Kasidin selalu gagal menjalankan usahanya di Tanah Abang karena banyak anak buahnya yang melarikan diri dari Tanah Abang akibat rawannya daerah tersebut dari preman.</p>
<p>“Apakah ada bedanya antara orang yang kesurupan dengan orang yang depresi? Mereka terlihat sama ketika mengamuk!,” kata Haji Kasidin bertanya pada Rustam.</p>
<p>“Ada tuan haji! Perbedaan itu sangat terlihat jelas,” jawab Rustam.</p>
<p>“Ya..ya..” ujar Haji Kasidin mengangguk-nganggukkan kepalanya. “Saya baru tahu jika orang yang depresi pun bisa kehilangan kesadarannya seperti orang yang kesurupan,” lanjutnya, sambil menatap Rustam lekat-lekat, menaruh harapan yang begitu besar padanya.</p>
<p>*</p>
<p>Jarang sekali ada orang Banten yang bisa sukses menjalankan usahanya di Tanah Abang. Sekarang, dengan kehadiran Rustam di pasar Tanah Abang. Dengan membawa amanah dari Haji Kasidin, untuk membuka kios pakaian. Membuat penasaran semua orang yang mengenal Rustam: Apakah Rustam akan menjadi salah satu dari beberapa orang Banten yang bisa sukses menjalankan usahanya di Tanah Abang? Tidak ada satu orang pun yang bisa memastikan. Sebenarnya, Rustam tak mau berjualan barang pakaian milik Haji Kasidin, karena ia merasa dirinya awam mengenai ilmu perdagangan, ia merasa tak mampu untuk memikul amanah sebesar itu. Akan tetapi, Rustam juga tak bisa menolak permohonan Haji Kasidin yang berharap begitu banyak padanya, karena dalam diri Rustam pun menginginkan ada peningkatan ekonomi dalam hidupnya. Kesempatan sudah ada di hadapannya, dan Rustam tak mau melewatkannya. Lagipula Haji Kasidin pun sudah bisa menerima keadaan Rustam yang masih awam mengenai ilmu dagang. Yang Rustam tahu hanya berkata jujur saja, dan Haji Kasidin menganggap bahwa kejujuran yang dimiliki Rustam sudah cukup, lebih dari cukup bahkan.</p>
<p>Para pedagang di pasar Tanah Abang itu pada umumnya terkesan bersifat individualis. Seperti orang yang melihat hantu, para pedagang di Pasar Tanah Abang itu terkesan paranoid kepada setiap orang yang baru datang, seperti Rustam.Haji Kasidi pun sudah bisa menerima keadaan Rustam yang awam mengenai ilmu dagang, hanya kejujuranlah yang Rustam miliki.HH Bagian beradaptasi itu merupakan bagian yang paling Rustam tak mengerti tentangnya. Karena sifatnya yang bersih dari segala ambisi, maka yang Rustam bisa lakukan hanyalah tersenyum kepada semua orang yang dilihatnya, terutama kepada sesama pedagang yang bertetanggaan dengannya. Itulah Rustam, pedagang yang polos dan murah senyum. Semua pedagang di pasar Tanah Abang pun pada akhirnya bisa menerima kehadiran Rustam, dan mempercayainya.</p>
<p>Sekarang, setelah selama seminggu berjualan kain dan pakaian di Tanah Abang, Rustam kini telah mendapat banyak teman baru dari sesama pedagang. Dan yang paling akrab adalah seorang pedagang pakaian peranakan Tionghoa yang sangat cantik bernama, Linda Chow. Sebelum kedatangan Rustam di Tanah Abang, Linda sama sekali tidak mempercayai bahwa di dunia ini ada satu pedagang yang jujur tanpa ambisi mendapatkan keuntungan dengan segala cara. Sampai akhirnya ia melihat Rustam yang tidak memperdulikan dengan keuntungan. Begitulah Rustam, karena konsepnya akan kejujuran dan kemurnian hati, Rustam bisa mendapatkan kepercayaan yang begitu besar dari orang-orang sekitarnya.</p>
<p>Kepercayaan dan penerimaan yang di dapatkan Rustampun menjadi kian besar, ketika pada suatu hari, Rustam menemukan keganjilan pada toko pakaian milik Linda. Pada pagi buta seperti hari ini, Rustam menemukan toko pakaian milik Linda itu sepi tanpa ada yang menjaga. Rustam khawatir dengan toko Linda yang tidak dijaga, ia mencari-cari Linda di setiap sudut toko. Setelah mencari ke semua sudut, Rustam akhirnya menemukan satu kamar mandi yang tertutup rapat, dikunci dari dalam. Rustam berteriak memangil nama Linda, namun pintu kamar mandi tidak kunjung dibuka. Karena merasa sangat khawatir, Rustam mendobrak pintu kamar mandi, dan ia menemukan Linda sudah terbaring lemas di lantai kamar mandi dengan mulut mengeluarkan busa, dan tangan kanannya yang menggenggam botol isi ulang Baygon. Rustam terkejut dengan apa yang ditemukannya, ia lalu segera berlari, kemudian memanggil ambulans. Beruntung bagi Linda, karena Rustam bisa bertindak cepat. Nyawa Linda akhirnya tertolong karena diselamatkan para petugas medis yang dengan sigap segera membawa Linda ke rumah sakit.</p>
<p>Di ruang perawatan Pasien, Rustam menunggui Linda yang kini terbaring lemas di ranjang. Dengan penuh kesabaran, Rustam menanti temannya sadar dari tidurnya yang panjang. Dan begitu Linda membuka matanya, ia tersenyum, kemudian wajahnya kembali bermuram durja.</p>
<p>“Seharusnya kamu tidak menyelamatkan nyawa saya. Saya akan pergi menemui sang juru selamat, dan kamu menghalangi saya,” kata Linda, lirih.</p>
<p>“Juru selamat? Bagaimana kamu mau menemui juru selamat jika di sini saja kamu tidak selamat,” kata Rustam, tegas.</p>
<p>Linda diam, tidak menjawab, ia merenungi perkataan temannya, Rustam. Ada benarnya juga perkataan Rustam itu, Linda menangis, merasa berat untuk menerima kenyataan kebenaran dari perkataan Rustam. “Bagaimanakah saya mejalani kehidupan sebagai pedagang jika setiap satu minggu sekali ada saja gerombolan preman meminta uang keamanan dari toko saya?”</p>
<p>“Ei.. ei.. ei.. kamu jangan khawatir, jangan sampai kekhawatiranmu terhadap preman tersebut membuatmu berkeinginan untuk bunuh diri. Itu salah. Kita harus hadapi kehidupan ini seberapapun susahnya, jangan menyerah,” kata Rustam.</p>
<p>Linda tersenyum mendengar perkataan polos yang menghibur itu dari mulut Rustam. Ia merasa senang karena ia tidak sendirian di dunia ini, ia mempunyai teman yang selalu mendukungnya.</p>
<p>Setelah Linda sudah sembuh dan kesehatannya sudah pulih, Rustam dan Linda kembali menjalankan usahanya di Tanah Abang. Situasi perdagangan pun kembali normal. Tetapi tidak untuk hari ini, ketika segerombolan preman berbadan besar, dengan lengan yang dipenuhi dengan tato, kuping dan hidung yang ditindik, datang ke pasar Tanah Abang untuk menagih uang keamanan kepada semua pedagang. Rustam yang sedang sibuk menawarkan barang dagangannya pada pelanggannya, terpaksa harus termangu, membisu ketika melihat pelanggannya lari terbirit-birit karena kedatangan sepuluh preman kasar yang mendatangi tokonya. Gerombolan preman itu memang bukanlah orang yang ramah. Mereka semua tak mengenal istilah sopan santun. Maka dengan sangat kasar, sepuluh orang preman itu meminta uang keamanan pada Rustam dalam jumlah yang bukan main besarnya. Tetapi Rustam menerima perlakuan kasar dari para preman itu dengan sambutan yang ramah. Tetap saja sambutan ramah dari Rustam tidak menghasilkan sesuatu yang berarti, karena para preman itu tetap memaksa Rustam untuk membayar uang keamanan pada mereka.</p>
<p>Rustam merasa bingung, barulah dua minggu ia berjualan, apalah yang mesti dibayarkan pada para preman jika Rustam merasa tidak memiliki apa-apa. Merasa diremehkan oleh penolakan Rustam yang halus, para preman itu mengancam akan merusak toko Rustam, kemudian setelah itu mereka akan memukuli Rustam. Ancaman kekerasan dari preman tersebut tidaklah membuat Rustam gentar. Dengan tenang, Rustam mengatakan pada para preman tersebut bahwa ia siap menghadapi mereka di luar tokonya, karena di luar Rustam merasa lebih leluasa untuk menghadapi kesepuluh preman yang mengancam usahanya. Kesepuluh preman tersebut keluar dari tokonya Rustam, bersiap untuk menghabisinya. Saat Rustam berjalan keluar, Rustam meminta kepada para preman agar mengizinkannya untuk melakukan pemanasan. Dan begitu Rustam diperkenankan oleh para preman untuk melakukan pemanasan. Rustam mencabut satu batang lidi dari sapu lidi, lalu dengan satu batang lidi itu ia membuat lingkaran di atas tanah tempatnya berpijak, setelah lingkaran itu selesai dibuat, Rustam membaca ayat Kursi di dalam hatinya. Rustam lalu mengatakan kepada para preman bahwa dirinya sudah siap menghadapi mereka, begitu ia sudah merasakan ketenangan bathin dari surat ayat kursi yang dibacanya dalam hati.</p>
<p>“Hai Tambunan.. coba kau dulu yang menghadapi orang itu,” kata salah seorang preman kepada temannya.</p>
<p>“Bah.. senang sekali hatiku mendengarnya, baiklah..” kata Tambunan dengan logat medannya yang khas. Kemudian segera berlari, hendak menerjang, menjatuhkan Rustam.</p>
<p>Seperti orang yang terserempet mobil bus, Tambunan langsung terpental ketika berlari untuk menerjang Rustam, badannya yang besar terjerembab ke tumpukan telor bebek di toko sembako. Semua orang yang ada di pasar merasa aneh dengan pemandangan itu, padahal Rustam masih duduk tenang di dalam lingkaran yang ia buat, ia sama sekali tidak tersentuh karena Tambunan tak bisa masuk ke dalam lingkaran. Lama bagi Tambunan untuk bisa bangkit kembali, sekarang ia merasa badannya telah lemas tak berdaya meskipun ia sudah bangkit dengan susah payah. Teman-teman Tambunan pun, terheran-heran melihat temannya terpental jauh hingga jatuh tanpa ada sebab.</p>
<p>“Hei para preman.. untuk menyingkat waktu, kalian semua boleh menyerang saya sekaligus, tidak perlu satu-satu. Tidak apa-apa, saya sudah siap menghadapi kalian semua,” kata Rustam, tersenyum.</p>
<p>Kesembilan teman Tambunan merasa tersulut emosinya mendengar perkataan merendahkan dari Rustam. Linda yang sedari tadi melihat pertarungan yang tidak seimbang itu, berteriak pada kumpulan preman yang hendak menyerang Rustam. Linda berusaha menghentikan pertarungan dengan ucapannya. “Kalian jangan macam-macam dengan Rustam! Dia itu orang Banten!”</p>
<p>Untuk barang sejenak, kesembilan preman itu berdiri mematung, hanya bisa memandangi Rustam yang masih duduk tenang di atas tanah dengan lingkaran yang telah dibuatnya, melingkari tempat Rustam duduk. Namun apa mau dikata, karena merasa sudah terlanjur emosi, juga karena rasa penasaran. Kesembilan preman itu akhirnya memaksakan diri, berlari menerjang Rustam. Hasilnya sama saja, kesembilan preman itu terpental jauh, tersungkur ke tanah.</p>
<p>“Aduduh.. bukan main orang Banten ini, macam mana orang Banten ini, sepertinya yang kita hadapi ini bukanlah orang sembarangan!” kata salah seorang preman, sambil menahan rasa sakit di dadanya, karena terantuk keras dengan gerobak siomay.</p>
<p>“Betul itu Ruhut.. orang yang kita hadapi ini sepertinya memiliki kesaktian,” jawab salah seorang temannya kepada Ruhut. “Lebih baik segera kita tinggalkan tempat ini,”</p>
<p>“Ya..ya.. ada benarnya ucapan kau.. itu,” kata Ruhut.</p>
<p>Kesepuluh preman itu lalu segera bangkit dan kemudian meninggalkan pasar Tanah Abang sambil menahan rasa sakit. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain pergi. Semua pedagang yang ada di lokasi kejadian, juga para pembeli, kesemua-muanya bersorak-sorai, bergembira melihat kemenangan Rustam. Dengan rasa aman, Rustam pun akhirnya bisa keluar dari lingkaran yang telah ia buat. Mendapat sambutan yang meriah. Rustam tersipu. Apalagi sewaktu Linda menghampirinya dan memberinya perhatian yang besar. Rustam benar-benar merasa tak tahu harus berbuat apa. Meski begitu, Rustam tetaplah orang yang rendah hati, ia masih murah senyum kepada semua orang.</p>
<p>Setelah kejadian perkelahian Rustam dan para preman. Kini, hubungan Rustam dan Linda menjadi makin dekat. Tidak jarang Linda selalu menanyakan arti Islam kepada Rustam karena terpesona akan kejujuran dan ketaatan Rustam kepada syariat agama. Keluarga Linda juga merasa tidak berkeberatan melihat hubungan Rustam dan Linda yang semakin dekat. Semua keluarga Linda merasa berhutang budi kepada Rustam karena pernah menyelamatkan nyawa Linda. Perilaku yang polos penuh kejujuran dari Rustam telah menggambarkan agama Islam dengan sejelas-jelasnya tanpa ada lagi ceramah panjang yang membosankan, Linda jatuh cinta pada Islam, dan jatuh cinta juga pada Rustam. Linda akhirnya masuk Islam dan menikah dengan Rustam di KUA (Kantor Urusan Agama).</p>
<p>Setelah menikah, usaha dagang Rustam makin maju. Rustam sekarang telah menjadi orang kaya, kini ia tak lagi menjalankan usaha milik Haji Kasidin, ia sudah memiliki usaha sendiri. Ketika pulang kampung, semua orang yang semula meremehkan Rustam, kini menghormati dan memuji Rustam. Tetapi Rustam masih Rustam yang dulu, Rustam yang polos dan jujur dan rendah hati. Tidak bisa di sangkal dalam diri Rustam, jika ia pun merasa senang dengan menjadi orang kaya. Dengan menjadi orang kaya, Rustam bisa melakukan sesuatu yang tak bisa ia lakukan ketika ia masih susah, yaitu kegiatan bersedekah. Rustam merasa senang dengan kegiatan sedekah. Bahkan ketika ia melihat orang-orang di kampungnya itu membuat posko sumbangan di jalan raya, mengemis uang untuk membangun mesjid di kampungnya yang tidak terurus. Rustam benci melihat kegiatan minta-minta itu. gooblook&#8230; gooblook.., bukan ini yang dimaksud dengan kegiatan yang disenangi Allah, ini benar-benar menjatuhkan martabat agama, Pikirnya.</p>
<p>Rustam menyumbangkan sejunlah uang yang besar untuk pembangunan mesjid di kampungnya. Semua orang di kampungnya itu merasa senang, tetapi sebelum memberikan sumbangannya, Rustam mengajukan syarat kepada warga kampungnya agar tidak melakukan kegiatan minta-minta lagi di jalan raya. Semua warga menyanggupi syarat dari Rustam. Begitu syarat yang diajukannya telah disanggupi penduduk, Rustam menyumbangkan uangnya untuk dibelikan barang-barang material dan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pembangunan renovasi mesjid. Semua biaya pembelian barang-barang material, dan biaya pembangunan mesjid, Rustam yang menanggung. Telah terjadi perubahan besar di kampung Rustam semenjak ia kembali dari Tanah Abang. Tak ada lagi fasilitas sosial dan fasilitas ibadah yang rusak di kampung Rustam, karena Rustam memperbaiki semuanya. Dan Rustam tak merasa berkeberatan untuk membantu semua pembangunan di kampungnya. Sekarang Rustam telah menjadi kebanggaan kampungnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/04/18/belajar-ngaji-di-pasar-tanah-abang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SURAT TERAKHIR UNTUK BU GURU DARSIH</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/03/19/surat-terakhir-untuk-bu-guru-darsih/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/03/19/surat-terakhir-untuk-bu-guru-darsih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 09:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Sukmadji]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[surat terakhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2733</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Bambang Sukmadji &#8212;Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak JATENG&#8212; KADARWASIH berkali kali mengusap tas hitamnya yang ditebari debu-debu yang hinggap di kulit hitam tasnya, hingga kelihatan kumal. Lantaran debu debu itu masih saja terus beterbangan terbawa angin kemarau yang ditiupkan dari Gunung Slamet, setelah debu debu nakal itu menjelajahi hutan hutan pinus yang mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Bambang Sukmadji &#8212;Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak  JATENG&#8212;</p>
<p><img alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GH6uf54UMBU/S-TBDN1X-bI/AAAAAAAAAas/CLMH873bxIo/s1600/BAMBANG+BLOG.JPG" class="alignleft" width="300" height="150" />KADARWASIH berkali kali mengusap tas hitamnya yang ditebari debu-debu yang hinggap di kulit hitam tasnya,  hingga  kelihatan kumal. Lantaran debu debu itu masih saja terus beterbangan terbawa  angin kemarau yang ditiupkan dari Gunung Slamet, setelah debu debu nakal itu menjelajahi hutan hutan pinus yang mulai tandus. Apalagi di tengah hari, saat matahari benar benar lurus di atas kepala, debu itu semakin liar menempel apa saja sesukanya. Seteguk air teh dingin yang terakhir kini membasahi tenggorokanya.  Nafas kelelahan kembali terdengar dari bibir guru sekolah dasar yang terpencil itu. Setelah sehari di bawah udara yang gerah, dia masih setia menyelipkan setetes pengabdian kepada bangsa ini, dengan membimbing anak anak didiknya yang berkubang dengan kesusahan hidup di dusun Sirampok, Kabupaten Brebes.</p>
<p>Kadang dia merenung, meski dia masih di meja kerjanya yang sudah mulai kusam warnanya, mungkinkah dia harus kembali ke Semarang yang segalanya lebih menjanjikan ketimbang hanya terselip di tengah pohon pinus dan masyarakat desa yang hanya memiliki selembar hidup, tanpa guratan warna warni eksotisnya hidup. Ataukah memang mereka tidak butuh itu semua. </p>
<p>Siang itu memang udara begitu panasnya, Kadarwasih menjadi bertambah heran. Mengapa di kaki Gunung Slamet yang dulunya sejuk kini mulai terasa gerah sejak beberapa tahun belakangan ini. Ataukah karena manusia sudah tidak mampu menjadi sahabat setia dengan bumi, yang justru telah menjadi rumah kehidupanya sendiri. Dalam hatinya sering dia berbisik, mengapa tidak mulai sekarang anak anaknya diperkenalkan dengan ras cinta pada lingkunganya, kepedulian terhadap sesama, penuh tanggung  jawab dan disiplin. </p>
<p>Ruang guru kini makin bertambah lengang, setelah semua anak anaknya pulang ke rumah masing masing. Hanya tiupan angin kemarau yang meriuhkan daun daun pinus. Yang serempak mendendangkan kidung alam tanpa nada dan birama. Kadarwasih tambah bertambah sepi hatinya. Lambat laun bayang bapak,  ibu serta saudara saudaranya mulai menguat di hatinya, kini bagaikan gemerincing logam yang saling beradu terdengar dekat dengan telinganya. Tawa canda mereka kala pagi hari sebelum berangkat ke sekolah masing masing dan malam hari sebelum semua beranjak ke peraduan.</p>
<p>Kadarwasih dengan sayap sayapnya kini terbang melintasi jarak dan waktu, yang larut dalam dunia lamunan. Hingga sebuah usapan tangan halus terasa menyentuh pundaknya. Dia segera melipat sayap sayapnya dan kembali ke ruang guru yang bertambah berdebu.</p>
<p>“Memang Sirampok dusun yang sepi, ya Bu ?”</p>
<p>“Oh Bu Endang, saya tidak tahu kedatangan ibu, tahu tahu sudah di depan saya”</p>
<p>“Ya, karena Bu Darsih sedang asik melamun, apa kangen dengan yang di Semarang to Bu ?”</p>
<p>“Ah, sekarang sudah tidak rindu lagi, Bu. Tapi maklum saja ya Bu !, saya di sini baru bertugas belum genap satu tahun. Kadang jading seperti tadi,kenangan hidup di tengah saudara saudara saya dan lebih lebih sama mama sering datang. Tapi nanti juga akan hilang, Bu ?”</p>
<p>“ Itulah tantangan seorang pendidik yang bertumpu pada perasaan moral, demi anak anak kita yang sudah tidak punya masa depan lagi. Kita rela bertugas di daerah terpencil jauh dari keluarga. Ini sudah rame dusun Sirampok dibanding saat pertama saya datang di sini, tahun 1974 silam. Saat itu belum  ada penerangan listrik, jalanya masih tanah dan masih banyak anak anak yang tidak mau sekolah”.</p>
<p>“Gimana perasaan Bu Endang saat itu ?’</p>
<p>“Wah seperti Bu Darsih saat ini, aku meninggalkan Klaten dengan tetesan air mata kesedihan. Apalagi saat iru aku baru saja lulus SPG dan langsung ditempatkan di daerah terpencil seperti ini. Bayngkan saja Bu, usia saya saat itu baru 17 tahun, masih berat meninggalkan emak dan bapak di desa. Tapi itulah pendidik !”</p>
<p>“Apa Bu Endang pernah mengajukan pindah ke Klaten ?”</p>
<p>“Awal awalnya memang sering, tapi setelah aku berumah tangga. Semua niat untuk kembali ke Klaten menjadi hilang. Menjadi manusia yang hidup bersama dengan keluarga yang saling mencintai adalah kebagian yang kita dambakan semua, apalagi bagi pendidik seperti kita yang bertugas mencerdaskan masyarakat. Sungguh suatu makna hidup yang berati “</p>
<p>Kadarwasih hanya diam sejenak, anganya berusaha menelanjangi hatinya sendiri. Mengapa dia tidak bisa seperti Bu Endang kepala sekolahnya, yang begitu mampu memaknai hidup sebagai pendidik di daerah terpencil. Ingin rasanya dia membunuh rasa sepi dan berkonsentrasi pada tugas memberi pembelajaran</p>
<p>Namun wajah Hardiman teman sekolah di SMP dulu masih saja terus menempel di benang otaknya. Tautan hati yang berjalan lebih dari 4 tahun serasa begiitu kuat bersimpul di hatinya. Hardiman kini memilih menjadi seorang pengusaha di Kota Jakarta, yang menurut surat terakhir yang dia terima Hardiman telah sukses dan mengajaknya ke Jakarta untuk bersama mengarungi bahtera kehidupan, ketimbang jadi guru SD di daerah terpencil. Kakalutan kina menghinggapi selembar hatinya, dalam keadaan terjepit seperti itu dia harus memilih jawaban ya apa tidak. Namun ini adalah realita, realita dimana dia harus menjadi pendidik yang sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil. Sebuah realita yang dia rencanakan sejak lulus SMP untuk menjadi seorang pendidik.</p>
<p>“Sebenarnya ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku, Bu ?” sela Kadarwasih memecah keheningan.</p>
<p>“Tentunya masalah pribadi kan Bu ?, kalau masalah dinas sepenuhnya aku Bantu, Bu ?”</p>
<p>“Betul Bu, tapi meski ini masalah pribadi, Bu Endang tidak merasa terganggukan kalau aku mau curhat ?”</p>
<p>“Oh sama sekali tidak Bu Darsih ?”</p>
<p>Matahari hampir berada tepat di atas atap sekolah, angin gunung dan debu yang bersuka ria selalu bercanda berkejaran dengan angin yang cukup cepat langkahnya. Mereka tidak pernah memerdulikan apa yang didera oleh manusia, termasuk pada guru yang masih gadis dan berperawakan tinggi semampai serta berwajah ayu, yang kini sedang didera kebimbangan hati. </p>
<p>“Yang paling berat bagi saya adalah menentukan pilihan, saya harus ke Jakarta menyusul seseorang yang saya cintai ataukah saya tetap di sini. Inilah yang selama ini membuat saya bimbang, Bu ?”. Terdengar dengusan nafas panjang dari Bu Endang kepala sekolah yang beberapa tahun lagi akan pensiun.</p>
<p>“Maafkan aku ya Bu, bila ini masalah privasinya ibu, Tapi aku juga pernah mengalami hal semacam itu. Tapi waktu itu saya memilh dua duanya.  Saat kami masih pengantin baru, kegiatan kami hanya hilir mudik Sirampog dan Klaten. Saya sarankan Bu Darsih memilih kedua jalan”</p>
<p>“Memang suatu pilihan yang berat bgi aku, sebenarnya sering aku meminta Hardiman seperti itu Bu, tapi karena ambisinya yang besar untuk sukses di Jakarta dia tidak mau mengalah. Dia memaksaku untuk ke Jakarta dan saya belum memberi jawaban”</p>
<p>‘Huuh..kalau gitu bisa repot, Bu !”<br />
“Betul, Bu. Dia orangnya sangat teguh pada pendirianya dan memiliki hati yang keras, selama ini saya hanya mengalah dan mengalah.”</p>
<p>“Betul Bu, jangan membuat keputusan yang gegabah. Tapi pada saatnya nanti Bu Darsih harus mampu membuat putusan yang berani. Saya hanya menyarankan bahwa kebahagian itu bukan datang dari seseorang, tapi dari Tuhan”</p>
<p>Baru kali ini Bu Endang menyaksikan senyuman bu guru yang cantik di depanya, sejak dari pagi tadi. Bu Endangpun membalas senyuman itu dengan perasaan hati yang tersentuh, meski dia yakin Kadarwasih adalah figure prbadi yang tangguh, terbukti dia selama ini bersedia bertugas di daerah terpencil. Bu Endang masih saja menyodorkan senyuman simpatik meski dia bergegas untuk segera pulang, karena hari sudah cukup siang. </p>
<p>***<br />
Hujan sekali sekali sudah mul;ai turun membasahi lereng Gunung Slamet. Daun daun pinus dan semak kini mulai dibasahi air hujan. Beberapa diantaranya yang dahulu mengering kini mulai bersemi lagi, Jalan jalan desa yang kini beraspal sudah tak berdebu lagi. Beberapa petani mulai membersihkan ladangnya dari semak semak untuk bertanam padi.</p>
<p>Memang sudah seharusnya Kadarwasih yang mendambakan  hidup berprofesi sebagai pendidik, apalagi berstatus PNS, perlahan lahan mampu mengarungi segala apa yang dia harus geluti. Mulai dari alam lingkungan tempat dia mengajar, anank anak peserta didik yang tiap hari dibimbingnya, masyarakat sekitarnya dan terlebih-lebih terhadap rekan rekan seprofesi, yang tiap hari berperan terhadap dirinya guna menemukan Kadarwasih yang sebenarnya. Hingga akhirnya bayangan Hardiman, dan bukan itu saja bayangan untuk tinggal di Jakarta telah perlahan lahan telah sirna,</p>
<p>Tidak terasa kemudian musimpun telah berganti, silih berganti berkejaran dengan pergantian siang dan malam. Sebagaimana yang sering dialami Kadarwasih dalam menapaki lamunanya antara menitipkan hidupnya di pangkuan Hardiman di Jakarta atau menggapai masa depan di kaki Gungnug Slamet. Hingga akhirnya Kadarwasih bertambah dewsa dan berbesar hati, untuk menghadapi segala resiko hidup sebagai seorang pendidik. Bukankah semua teman sekantornya, berasal dari kota kota di Jawa Tengah yang jauh dari tempat mengajarnya kini.</p>
<p>Mengapa dia harus cengeng, mengapa kadang kata hati lebih menuntutya untuk bersifat rapuh. Namun Kadarwasih adalah seorang manusia apalagi wanita yang belum banyak makan garam. Perasaan bimbang dan bersedih kembali memenuhi ruang batinya, saat dia menerima surat bersampul putih dengan tulisan nama dan alamat dari coretan tangan Hardiman yang terkesan ditulis dengan perasaan kecewa. Secara perlahan dia buka sampiul tersebuit, seketika nyanyian kutilang, jalak, kenari dan alunan suara alam berenti sejenak, sementara riuh daun paku yang bergesek di terpa angina menjadi diam sesaat pula.</p>
<p>Dari kedua mata yang bening itu, mulailah menitik air mata kesedihan dan kedua tanganya menjadi tergetar setelah membaca isi surat itu. </p>
<p>“Aku tidak menghendaki ini terjadi pada diri kita, namun apa artinya sebuah kasih sayang tanpa adanya kehadiranmu di sisiku. Aku mencoba menggapai kehidupan yang sarat dengan tantangan di kota yang buas ini demi kita. Namun tiadapun kamu bergeming barang sesaat untuk memenuhi permintaanku demi masa depan kita. </p>
<p>Sehingga inilah yang terpaksa aku lakukan agar kita mampu  membenahi masa depan kita sendiri sendiri, tanpa adanya kehadiran kita berdua dalam satu pelaminan. Selamat Berbahagia”</p>
<p>Berkali kali tulisan dari Hardiman ini dia baca, hingga yakin betul apa yang seharusnya dia sikapi, sebuah perpisahan harus dia alami dengan perasaan yang terguncang Jauh dari lubuk hatinya yag paling dalam, timbul sesuatu yang mampu menepiskan kegontaian hatinya itu, yaitu nasehat Bu Endang yang mengatakan bahwa kebahagian bukan dari manusia datangnya, tapi dari yang Maha Kuasa. Kata kata itu kini menjadi seteguk air dingin yang mampu membasahi jiwanya yang sedang meradangkan bara asmara.<br />
***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/03/19/surat-terakhir-untuk-bu-guru-darsih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awal Tahun</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/01/22/awal-tahun/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/01/22/awal-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Jan 2011 00:41:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[marsus banjarbarat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2629</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Marsus Banjarbarat* Arini baru sadar, ketika dia sedang membuka lembaran kalender, bahwa sebentar lagi—hanya tinggal menghitung jari saja perjalanan hidupnya telah memasuki pergantian tahun. Ya, dari tahun 2010 beranjak ke tahun 2011. Selama satu tahun ini, Arini hanya menjalani hidup yang tak pernah menemukan sesuatu yang terkesan dan dapat memberi warna lain dalam hidupnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Marsus Banjarbarat*<br />
<img alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_FauVNt4b8RY/TL6KlS7ILvI/AAAAAAAAAKo/-jSB8ZI4j5o/S220/mrss.jpg" class="alignleft" width="190" height="220" />Arini baru sadar, ketika dia sedang membuka lembaran kalender, bahwa sebentar lagi—hanya tinggal menghitung jari saja perjalanan hidupnya telah memasuki pergantian tahun. Ya, dari tahun 2010 beranjak ke tahun 2011. Selama satu tahun ini, Arini hanya menjalani hidup yang tak pernah menemukan sesuatu yang terkesan dan dapat memberi warna lain dalam hidupnya. Apa lagi bisa merubah hidupnya yang setiap harinya hanya ke kampus kuliah, pulang kos seusai kuliah. Ya, hanya itu-itu saja aktifitas Arini yang dilakukan setiap harinya.</p>
<p>Memang, hidup Arini tidak sama dengan hidup teman-temannya yang lain. Termasuk Latifah, yang mana dia harus menjalani hidup penuh kegelisahan, penderitaan. Maskipun Latifah kuliah di kampus yang sama dengan Arini. Tapi tak seenak Arini yang biaya kuliahnya, bahkan semua kebutuhan hidupnya telah dijatah oleh orang tuanya. Arini hanya tingal meminta. Kebutuhan apa saja, baik kebutuhan yang berhubungan dengan kuliah di kampus. Maupun biaya hidup sehari-harinya.</p>
<p>Maklum, Arini adalah satu-satunya putri kesayangan dari seorang rektor di salah satu Universitas di Yogyakarta. Dan ibunya pun juga seorang dosen tetap di Universitas tersebut. Beda dengan Latifah, ibunya hanya seorang pengusaha kecil pedagang kaki lima di sepanjang jalan Marsda Adisucipto, Yogyakarta. Dan ayahnya pergi jauh entah ke mana meninggalkan Latifah semenjak dia masih berumur satu tahun.</p>
<p>Dia pergi meningalkan Latifah sewaktu Latifah masih kecil. Dan seperti cerita ibunya, ayah Latifah pergi sebab tak tahan dengan hidupnya yang hanya hidup pas-pasan saja. Dan sebenarnya Latifah juga punya saudara kandung perempuan. Tapi, ketika ayahnya pamit pergi. Dia membawa saudara kandung Latifah yang entah hendah diasuhkan pada siapa.<br />
Tentu kita bisa membayangkan, antara Arini dan Latifah, yang sama-sama melanjutkan kuliah di Universitas yang sama. Jurusannya sama. Dan biayanya pun juga tentu sama. Namun, latar belakang hidup dan usaha orang tua Arini dan Latifah yang berbeda.<br />
***<br />
Dulu, Latifah sempat berpikir, mungkinkah dirinya bisa melanjutkan kuliah? Sementara ibunya hanya berprofesi sebagai pedagang kaki lima. Dan ayahnya pun entah ke mana Latifah juga tak pernah tahu dan tak mengenal raut wajahnya. Bukan masalah mampu atau tidaknya untuk mengemban semua pelajaran yang diajarkan di perkuliahan. Namun yang dia khawatirkan, mampukah orang tuanya membiayai Latifah membayar biaya pendidikan yang begitu mahal sampai Latifah lulus—menjadi seorang sarjana?</p>
<p>Entahlah&#8230;, melihat uang yang diperolah dari hasil usaha ibunya, Latifah tak begitu yakin untuk melanjutkan kuliah. Tapi semangat Latifah terus berbunga-bunga untuk tetap melanjutkan kuliah. Sampai-samapi Latifah memiliki cara lain agar supaya dia tetap bisa melanjutkan kuliah, yaitu dengan cara membuang kebiasaan hidupnya yang selalu bergantung pada orang tuanya.</p>
<p>Sajak itulah Laifah mulai menanamkan semangat—yang tidak boleh—setiap kebutuhan hidupnya harus bergantung pada ibunya. Sejak itu pula dia mulai mengembangkan bakatnya yang dia tekuni semenjak di bangku SMA; menulis cerpen, puisi, artikel, resensi, dan karya-karya tulis lainnya. Yang kemudian ia kirimkan ke media massa. Baru ketika ada belas kasihan dari redaktur media massa untuk memuat tulisannya, dengan uang honor itulah dia bisa membantu kebutuhan hidupnya.<br />
***</p>
<p>Setalah Latifah lulus dari bangku SMA, dia langsung mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di salah satu Universitas Islam Negeri di Yogyakarta. Dengan niatnya yang sudah bulat. Dan keyakinannya yang ia tanam dalam benaknya. Disertai doa yang tak lupa selalu ia panjatkan kepada Sang Maha Kuasa. Akhirnya Latifah diterima menjadi mahasiswa di Universitas tersebut.</p>
<p>Semangat yang Latifah miliki tak pernah rapuh dalam dirinya. Malah semakin berbunga-bunga ketika dia memulai perkuliahannya. Bakat berkarya yang dimiliknya juga tak pernah dia biarkan terkubur mati walau ditopang kesibukan berbagai tugas pelajaran kuliah. Bahkan, setelah beberapa minggu dari selang waktu yang karyanya sering dimuat di koran harian umum nasional. Latifah ditelpon oleh salah satu redaktur koran lokal, dan ditawari untuk menjadi penulis tetap dalam suatu rubrik di koran tersebut. Dan Latifah pun dengan senang hati menerima tawaran itu.<br />
Selain itu, latifah juga punya relasi baik dengan beberapa rekan penerbit buku di Yogyakarta. Hal itu berawal ketika Latifah menawarkan karya novelnya, yang kemudian diterima oleh pihak penerbit, karna karyanya tersebut memang sangat bagus, dan layak untuk diterbitkan. Selain itu juga Latifah memperoleh kepercayaan dari pihak penerbit untuk menerjemahkan buku-buku bahasa ingris ke bahasa indonesia.</p>
<p>Sejak itu nama Latifah naik daun dikalangan teman-teman mahasiswa. Termasuk Arini salah satu teman kelasnya yang sangat mengagumi kecerdikan Latifah. Arini berpikir, betapa bangganya orang tua Latifah memiliki anak perempuan seperti Latifah. Jarang-jarang ada perempuan yang sanggup membiayai hidup serta kuliahnya. Sementara, Arini menoleh pada hidupnya yang selalu bergantung pada usaha bapak dan ibunya.</p>
<p>Arini mendambakan, agar hidupnya bisa berubah seperti halnya Latifah. Memiliki prinsip dan kometment untuk menjalankan hidupnya. Tidak hanya seperti dedaunan yang menjulang tinggi, yang ikut ke mana saja arah angin menerjang. Arini ingin hidup mandiri. Arini ingin, di tahun baru 2011 ini adalah awal merubah jalan hidup dan akhir dari hidup yang selalu bergantung pada orang tuanya.</p>
<p>Ya, akan Arini mulai untuk merubah hidupnya sejak pergantian tahun baru ini. Aku akan menjadi Latifah yang tidak selalu bergantung pada orang lain untuk menjalankan hidupnya. Memiliki kometment dan pendirian dalam menjalankan hidupnya, desis Latifah lirih sambil memegang kalender yang diotak-atik di samping dinding kamarnya.<br />
***</p>
<p>Keakraban Arini dan Latifah layaknya saudara kandung sendiri. Mereka saling melengkapi dan saling memahami antara satu dan lainnya. Keperluan apa saja yang Latifah butuhkan, Arini pasti selalu ada untuk membantunya. Begitu pun Arini, dia selalu belajar dan meminta tips-tips bagaimana untuk menjadi orang yang mandiri. Dan Latifah pun juga selalu ada untuk mengajarinya.</p>
<p>Latifah merasa senang bisa berteman dengan orang sebaik Arini. Apa lagi dia anak seorang rektor dan dosen di Universitasnya. Secara tidak langsung, ketika orang sudah memiliki hubungan dengan orang yang pangkatnya lebih tinggi dari dirinya, dia akan gampang untuk meminta bantuannya. Terutama yang ada sangkut pautnya dengan pendidikan di kampus tersebut, pikir Latifah.</p>
<p>Latifah juga merasa sangat senang. Ketika dia mendengar ucapan Arini, kalau di hari tahun baru 2011 ini ibu dan bapaknya meminta, agar Latifah beserta ibunya bisa  datang berkumpul di rumah Arini. Biasa sekedar saling kenal mengenal sekaligus ingin mengucapkan rasa terimakasih pada Latifah dan orang tuanya, karena Arini telah bisa berubah jalan hidupnya menjadi anak yang baik dan mandiri layaknya Latifah.</p>
<p>Latifah menyanggupinya dengan penuh kegirangan. Jarang-jarang orang bisa bertemu dengan seorang rektor yang tugas dan tanggungjawabnya begitu besar. Mana lagi berbagai kunjungan dan studibanding ke berbagai daerah. Hal itu adalah kesempatan emas yang tak pernah ia duga sebelumnya. Tentu Latifah senang sekali bisa berjumpa dengan orang besar seperti bapak dan ibu Arini.<br />
***</p>
<p>Dua hari berselang, tepat tanggal 1 Januari 2011, Latifah dan ibunya bergagas menuju rumah Arini. Memenuhi permintaan orang tua Arini. Arini pun juga bersiap-siap dengan berbagai menu makanan untuk menyambut kedatangan Latifah dan ibunya.</p>
<p>Ketika Latifah dan ibunya datang, Arini menyambutnya di depan pintu rumahnya. Arini langsung menyilahkannya masuk ke ruang tamu yang telah disiapkan sebelumnya. Dan di sana pun ayah dan ibu Arini telah menunggunya. Menunggu kedatangan Latifah dan ibunya.</p>
<p>Spontan, wajah ibu Latifah mengerut tiba-tiba ketika melihat ayah Arini. Begitu pun dengan raut wajah ayah Arini. Kelihatannya dilanda berbagai hal yang dapat membangunkan sejarah-sejarah silam tunbuh kembali. Lalu, ibu Latifah berbalik arah. Berlari menyerocos keluar dari rumah orang tua Arini. Sementara Latifah dan Arini berdiri tegap menyimpan sejuta tanya dalam benaknya. Dan wajah keduanya itu seperti berkaca-kaca. Raut wajah yang tak jauh beda dengan saudara kandung yang lahir dari rahim ibu yang sama.</p>
<p>Jogja, 31 Desember 2010</p>
<p>Marsus Banjarbarat, mahasiswa Fak.Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Cerpen dan Puisinya telah dimuat di media masa lokal dan nasional.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/01/22/awal-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERAHU KERTAS</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/12/27/perahu-kertas/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/12/27/perahu-kertas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Dec 2010 08:06:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Perahu kertas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2587</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Ir. Bambang Sukmadji &#8211;Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak Jateng&#8211; Padang luas berlantai ilalang memantulkan sinar putih mentari yang berjarak seakan sepenggalah, tiada naungan sama sekali di padang itu. Lantaran pepohonan lebih senang tumbuh di tempat yang membawa kesejukan, ketimbang harus berlomba dengan manusia untuk menggerutui teriknya panas. Sementara debu debu jalang menggambar padang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : <strong>Ir. Bambang Sukmadji</strong> &#8211;Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak  Jateng&#8211;<br />
<img alt="" src="http://www.sripoku.com/foto/berita/2010/9/20/Bambang_Sukmadji.jpg" class="alignnone" width="277" height="286" />Padang luas berlantai ilalang memantulkan sinar putih mentari yang berjarak seakan sepenggalah, tiada naungan sama sekali di padang itu. Lantaran pepohonan lebih senang tumbuh di tempat yang membawa kesejukan, ketimbang harus berlomba dengan manusia untuk menggerutui teriknya panas. Sementara debu debu jalang menggambar padang ilalang itu menjadi pengap dan mengaburkan pandangan mata.</p>
<p>Namun di tengah padang tersebut, masih saja manusia mengais kehidupan dengan caranya sendiri, yang tidak mau melangkah surut dari terkaman sinar mentari dan debu pengap demi sesuap nasi. Di tengah tumpukan sampah yang teronggok di tengah padang tersebut, mereka berlomba mencari sampah kaleng, plastik dan yang lainnya guna menyambung nafas yang masih bersemayam di dalam dadanya, yang tak kalah teriknya dengan udara padang. Meski terkadang angin kemarau yang kering dan sejuk itu mencoba mendinginkan semua yang melekang.</p>
<p>Dengan kantong plastic berwarna putih di punggungnya, wajah Sarkasi tertawan oleh perguliran hari yang berkuku tajam dan bertaring menakutkan. Diapun kini melangkah menyusuri jalan setapak, meski harus menyibakan  kuning daun daun ilalang yang mengenai tubuhnya. Jalan setapak yang dilalui berujung pada tepi padang, yang mempertumukan dengan bocah kecil berambut menguning terpagut sinar mentari dan tanpa alas kaki. Kedua kakinya coklat kehitaman, lantaran bocah itu telah akrab dengan kehidupan keras bapak ibunya yang selalu bermandi peluh dan sinar mentari.</p>
<p>“Bapak ! “ suara lantang memenuhi semua mulut jalan setapak itu. Sebuah senyum menghiasi siang yang membara itu dari bibir kecil putri bungsunya seraya menjulurkan kedua tanganya, untuk mendapatkan belaian kasih sayang dari pria yang  tak kenal lelah dalam secercah kehidupan. Tangan kanan Sarkasi kemudian dijulurkan untuk menggendong putri bungsunya itu.</p>
<p>“Kamu  tidak menunggui emakmu, sayang?”<br />
“Emak sudah tidur, mengapa  emak tidur terus, kapan emak sembuh, ya Pak ?”<br />
“Sebentar lagi juga sembuh, makanya kamu harus sering mendoakan emakmu, ya sayang !”.</p>
<p>“Ya Tuhan, aku memohon padamu, kapan emak sembuh ya Tuhan, aku ingin berjalan jalan kalau sore dengan emak. Sembuhkanlah emak, ya Tuhan “. Pandangan mata lugu bocah itu terus dilemparkan ke langit biru, tempat Tuhan bersemayam menurut anganya. Sementara itu Sarkasi hanya tersenyum getir dengan mata yang mulai berkaca-kaca.</p>
<p>“Emak sakit apa sih Pak ?”<br />
“Emak tidak sakit, emak hanya kecapaian, besok juga sembuh. Nanti kamu bisa jalan jalan ke mana kamu suka, sayangku !”</p>
<p>Tangan Sarkasi masih tetap kokoh menggendong putri bungsunya, sementara itu gubug bambu milik mereka sudah mulai tampak, di tengah rimbun pohon pisang, singkong dan tanaman lombok. Pilar pilar yang meski terbuat dari batu bata, namun tidak cukup kokoh menahan terpaan angin kemarau yang kencang dan kering. Sehingga rumah bambu itu sedikit bergoyang. Dan di dalam rumah bambu itu tergolek lemah Sumiasih yang diterjang kanker alat pencernaan yang ganas. Sumiarsih masih menyodorkan senyum tulusnya dari bibirnya yang pucat dan kering itu, kala suaminya yang menggendong Esti berdiri di sebelah pembaringan yang berkulum sepi.</p>
<p>“Kau sudah datang, Bang !”. Sarkasi hanya mengganggukan kepalanya dengan sebuah senyum yang dalam untuk membalas tegur sapa istrinya yang dicintainya selama 20 tahun.</p>
<p>“Maafkan aku Bang !, aku tidak menyiapkan makan siangmu. Hari ini badanku terasa lemas, Bang !, biarkan Esti disampingku, aku selalu kangen dengan anak kita ini”</p>
<p>“Asih, biar abang nanti masak sendiri. Istirahatlah dulu !”</p>
<p>“Tapi aku juga tidak masak sayur dan lauk, Bang?”</p>
<p>‘Pemulung seperti saya ini, lauk apapun jadi, biarlah abang nanti masak sayur daun singkong”</p>
<p>“Dari pagi, Bang!, setelah Abang pergi perut aku terasa sakit lagi dan Alhamdulillah sekarang sudah agak berkurang”</p>
<p>“Asih, abangkan berkali kali minta agar kamu mau dioperasi ?”</p>
<p>“Ah si Abang, biaya dari mana Bang ?”</p>
<p>“Aku masih punya tanah ini yang bisa kita jual untuk operasimu, Esti masih membutuhkan kamu, maka biarlah tanah ini jadi milik orang lain asalkan kau bisa sembuh dan bahagia”.</p>
<p>“Engkau membutuhkan waktu bertahun tahun banting tulang untuk bisa membeli tanah ini, mengapa pula harus kau jual demi aku ?”</p>
<p>“Tapi kehadiranmu di sisi Esti dan Didin jauh lebih berharga daripada tanah ini. Masalah rumah kita nantinya, serahkan saja pada kekuasaan Yang D iatas sana”</p>
<p>“Tapi aku kasihan dengan kedua anak kita. Bang !, abang kan tahu !. Didin anak sulung kita hanya mampu bersekolah hingga SMP, dan  kini hanya bisa menjadi abang becak di Jakata. Aku tidak mau  mengecewakan Didin yang kedua kali. Kelak mereka berdua membutuhkan  tanah ini untuk kehidupan Didin dan Esti. Aku harap kau mengerti “</p>
<p>Kata kata terakhir Sumiasih sudah tidak mampu dia dengarkan lagi, beribu sayap yang kokoh kini menjinjingnya untuk mengembarakan anganya menyelusuri langit biru, yang telah dihiasi mentari yang mulai condong ke Barat.  Anganya yang ada di langit mampu  menyelusuri benang benang waktu, mulai dari dia melewatkan malam pertama dengan Sumiasih hingga dia di pembaringan kini tak berdaya.</p>
<p>Betapa indahnya hidup yang dia jalani bersama Sumiasih,  layaknya mengguratkan warna warni keindahan di langit biru. Meskipun mereka berdua mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh  keterbataan, namun langit di atas hidup mereka benar benar penuh warna.</p>
<p>Sumiasih kini hanya terdiam dengan batuk batuk kecil terus terdengar memenuhi semua udara di kamarnya yang beratap bambu dan berlantai tanah. Esti masih merangkai mimpi indah di sisi Sumiasih, yang berulang membelai rambut kering dan lurus putri bungsunya. Angin kemarau bertambah kencang menerobos lubang lubang dinding bambu.</p>
<p>“Asih !”</p>
<p>“Ya bang !”</p>
<p>“Sebaiknya aku kabari Didin untuk pulang dan mengerti tentang penyakitmu it. Aku takut kalau dia marah nantinya “.</p>
<p>“Biarkanlah dia di Jakarta dulu, Bang. Aku khawatir saat dia mendengar tentang penyakitku, jiwanya menjadi tergoncang, aku kasihan  bang “</p>
<p>“Aku menjadi bimbang, Sih. Memang benar ucapanmu. Kita saat ini masih merasa berdosa hanya mampu menyekolahkan dia ampai SMP saja. Maka akupun ingin dia benar benar bahagia di Jakarta, tidak terbebani dengan keadaan orang tuanya di sini. Tapi di lain pihak, barangkali saja kehadiran Didin bisa menyembuhkan penyakitmu “. Suimiarsih hanya tersenyum ringan mendengar serangkaian kata bijak dari sang suaminya yang kokoh sekuat baja dalam menghadapi benturan hidup, sejak mereka sepakat membina maghligai mereka berdua. Sebuah maghligai yang diibaratkan sebuah perahu kerta di tengah riak air, namun perahupun tidak kunjung tenggelam, kecuali Yang Maha Kuasa yang Menghendaki.</p>
<p>“Tapi apa kamu tidak kangen?, istriku !”</p>
<p>“Didin adalah anak kita yang sulung, yang  berarti bagi hidup kita, Bang!. Kala kita berdua hanya hidup di rumah kontrakan, kala Didin tidak boleh ikut tes di sekolah, kala dia hanya tinggak di rumah sementara temen temen sekolahnya piknik ke Bali, lantaran kita tidak punya uang untuk membayar piknik. Tapi Didin tidak pernah protes dengan ketidakmampuan kita, Bang. Sekarang biarlah dia bahagia di Jakarta, jangan samoai dia tahu bila aku terkena kanker pencernaan, aku tidak tega lagi melihat dia menderita “. Sumiarsih sudah tidak mampu lagi meneruskan kata katanya, lantaran bara panas telah mengganjal tenggorokanya. Dadanyapun terasa sesak seakan seribu tangan raksasa telah menelikungnya.</p>
<p>Sarkasipun hanya tertunduk lesu, kedua matanya kini berkaca-kaca. Rasa tidak tega terhadap istrinyapun kini memenuhi semua dadanya. Betapa besar pengorbanan istrinya yang selama belasan tahun telah menyertai langkah kakinya dalam menapaki jalan hidup yang penuh banturan sebagai seorang pemulung. Tapi kini hanya tergolek lemas di pembaringan, tanpa berobat ke dokter ahli kanker. Tidak seperti biasanya istrinya hanya tersenyum kala menghadapi cobaan hidup mereka bersama.</p>
<p>“Asih, maafkan Abang ya ?” pinta Sarkasi dengan nada suara terputus,.<br />
“Maaf, untuk apa Bang ?”<br />
“Aku tiak mampu berbuat apapun saat engkau seperti ini. Harusnya aku memiliki uang untuk mengobati penyakitmu “<br />
“Bang, apa baru kali ini kita mengalami penderitaan, setiap terbitnya matahari penderitaan dan kekurangan yang pertama mengucapkan selamat pagi pada kita. Aku sudah tidak mampu lagi merasakan penderitaan ini, Bang !”<br />
“Tapi siapa orangnya yang tidak iba melihat penderitaan seorang istri seperti kamu. Asih !, masih ada kesempatan untuk  membawamu ke rumah sakit. Jangan kamu berpikir terlalu jauh, yang pentingkamu bisa bersanding disampingku dan membesarkan Esti yang membutuhkan kamu”</p>
<p>Suara batuk batuk Sumiarsih terdengar lagi dengan dada yang terguncang berat. Sambil terus menyodorkan senyum pada suaminya, diapun mencoba untuk menyadarkan suaminya, bahwa dia sudah merelakan semuanya. Barngkali kematianlah yang paling membahagiakan dia dalam menghadapi badai kehidupan. Sumiarsihpun tahu meski suaminya menghabiskan biaya ratusan juta namun peluang untuk hidup tetaplah tipis.  Maka diapun mencoba meminta suaminya untuk tetap bahagia apapun yang terjadi dengan dirinya.</p>
<p>“Tahu kemarin aku hanya berobat dan mondok di rumah sakit, abang sudah menjual seekor sapi. Lantas bila aku harus operasi yang biayanya ratusan juta, abang mau jual apalagi. Sudahlah Bang, aku siap menghadapi apa saja. Bahagiakan abang di tengah Didin dan Esti”. Sumiarsih bertambah pucat pasi wajahnya, diapun kini tertidur di sisi suaminya dan Esti. Sementara matahari kini telah mulai lelah menyaksikan episode drama dari sepasang insan yang harus menghadapi segala sesuatu dengan kemampuan  mereka sendiri, kini matahari mulai bersembunyi di tirai senja.</p>
<p>Sarkasi dan Esti putri bungsunya melewatkan senja ini dengan canda ria, Estipun menjadi bertambah berseri wajahnya setelah berhari hari hanya murung, sementara ini Esti mampu melupakan emaknya, yang sedang meregang nyawa di pembaringan.Nampaknya memang Tuhan telah mengabulkan permohonan Sumiarsih untuk menapaki kebahagiaan yang abadi disisiNYA. </p>
<p>Senja itu adalah senja terakhir Sarkasi didampingi Sumiarsih, setelah beribu ribu episode Sumiarsih tidak pernah absen disampingnya. Sarkasipun tahu bahwa kebahagiaan seorang manusia ternyata berada di jauh hati manusia itu sendiri, bahagia bukah diwujudkan dengan berhamburan materi. Terbukti dua puluh tahun lebih dia merasakan kebahagiaan berada di samping Sumiarsih.</p>
<p>Naskah ke 2</p>
<p>Prosa<br />
HANTU    HANTU  KERETA REFORMASI</p>
<p>“Lagu Rayuan Pulau Kelapa”  yang dibahanakan oleh RRI dan TVRI tiap tengah  malam, masih saja mampu membawa ingatan kita tentang “Bangsa dan Negara Archipelago yang  menawan ini“, yang  dahulu beberapa dasawarsa masih mampu  bernaung di erotisnya  alam hijau, dari  mulai Bukit Barisan hingga Pegunungan Roro Anteng dan Joko Seger  di Lereng Gunung tempat Sang Brahma beristirahat melepas lelah.</p>
<p>Tanaman bakau tak ketinggalan pula ikut meliukan  pinggangnya kala daun nyiur bercengkerama dengan angin pagi.  Datang dan pergi burung bangau dari sarangnya yang tersembunyi di sudut desa hingga sawah sawah yang tergenang air hujan, untuk tumbuhnya padi.</p>
<p>Hutan, ngarai, sawah dan  lading bergegas untuk memberikan senyum  tawarnya pada manusia manusia yang murah senyum, santun dan tak pernah saling melempar batu, bila terjadi silang pendapat, Sementara sang  ibupun  dengan lemah gemulai meninabobokan oroknya yang baru  berumur beberapa bulan. Mereka tidak mengenal membesarkan dan membelai anaknya di tempat sampah atau  sungai. Entah  abad yang bagaimana bila sang ibunya tega melakukan itu.</p>
<p>Namun apa yang banyak diungkapkan oleh syair dan fatwa para pujangga, telah mengering dan melekang disapu angin jaman, kala datanglah jaman yag dinahkodai oleh Gayus dan para pendukung,pembisik, pengusung kursi tahtanya serta para hulubalang yang buncit perutnya, berpesta pora 41 hari 41 malam, memakan daging dari bahu, lengan, paha masyarakat miskin penonton kereta revolusi. Sementara para oknum hulubalang raja lainnya berpengarai mirip hantu penghisap darah yang mampu mengeringkan sekujr tubuh korbanya, lantaran terhisap darahnya untuk peuas nafsu setan.</p>
<p>Nampaknya setan sudah menjadi kalah wibawa dengan penghisap darah ini. Sehingga setanpun sudah tidak mampu lagi merayu mereka. Sebab meskipun setan adalah mahluk hina, namun mereka masih memiliki perikemanusiaan, yang berbeda jauh dengan manusia yang berperikesetanan, dan oknum hulubalang raja seperti inilah yang berdiri dengan wajah garang di balik jubah hitam dan berdiri di tengah pintu kereta reformasi,seraya menyodorkan gelas gelas berisi air tuba bagi para penumpang kereta . Sehingga wajar saja bila negeri Archipelago menjadi negeri yang berkipas duri dalam debu, awan panas yang melelehkan kulit dan daging, wedus gembel dari perut neraka, lumpur  lumpur lulur bidadari yang menusuk hidung dan menyesakan dada. </p>
<p>Semua penonton kereta itupun menjadi kalang kabut, hingar bingar, berlarian mencari anak istri dan suaminya yang menyelinap entah kemana, kala mereka menyaksikan bumi yang naik pitam dengan ulah setan hitam pengisap darah ini.<br />
Bumipun mengibaskan lenganya di Waisor, Mentawai, Aceh, Jogja, Pantai Pangandaran, Padang dan yang terakhir Merapi dan Bromo, yang meneteska air mata ilalang yang tak kokoh akarnya, tak tegar batangnya dan telah mengering daunya lantaran terhembus angin kereta reformasi yang tak kunjung berhenti.</p>
<p>Namun setan setan itu malah tertawa terkekeh, hingga keluarlah belatung dari dalam lidahnya yang terus membahanakan bau busuk menusuk hidung, menggeleparkan semua pesona negeri, lantaran sebagian ilalang lebih memilih berdiam di negeri seberang meski mereka mendapat cacian, hinaan dan aniaya dari sang empu negeri seberang tersebut.</p>
<p>Keretapun bertambah lambat jalanya dengan goncangan goncangan yang mulai terasa dan entah hingga kapan akan berhenti. Keretapun akan bersandar kelelahan bila sang hantu berniat mengasah hitam kukunya dan menajamkan taring penghisap apa saja yang ada di sekitarnya. Semen, aspal, baja, pupuk, mesin jahit apalagi sapi, adalah makanan sehari hari yang tanpa basa basi langsung menenggak semua oplosan tersebut, tanpa meninggalkan gejala penyakit apapun. Berlainan dengan anak anak kita yang  mati konyol kala menenggak oplosan demi menyematkan prestis meeka yang tak kunjung menggapainya.</p>
<p>Akankah lebih melegenda ke seluruh egara Negara sebrang, yang beristana di tengah lautan pasir, kutub utara dan selatan, ataukan puncak Mount Everest tentang Archipelago yang indah menawan yang berganti baju sematan Negara Nasi Aking, Negara TKW teraniaya, Negara Wedus Gembel atau bahkan Negara Oknum Petinggi Korup, denga menepiskan begitu saja sematan keagungan bangsa ketika Ramang dan Rudi Hartono atau juga Ir. Soekarno  dan lainnya yang menjadi buah bibir dunia.<br />
Ilalang ilalang yang hidup di kampung berdinding korban jaman, kini hanya mendenguskan nafas panjang, bila mereka merasa telah hampa asa yang digenggam, lantaran separo nafas yang dititipkan pada istana loji penguasa,  akhirnya hanya terhempas oleh angin hedonisme mentalitas setan dan hantu berjubah hitam di Archipelago. Apalagi bagi ilalang  yang berbedak pupur debu Merapi hanya bersandar pada sorot mata yang kosong. Tembang si Piawai Lagu Sajak Ebiet G. Ade tentang Untuk Kita Renungkan, Perjalanan dan lain lain,  hanya untuk penghibur secangkir kopi manis di senja hari.  Bahkan mereka kini telah melebarkan jubah hitamnya guna menapatkan kursi kekuasaan yang lebih tinggi.</p>
<p>Ilalang yang bukan luusan kampus perlente saja telah tahu, bahwa kedamaian dan ketentraman negeri Archipelago hanya mampu diraih bila kita tidak saling mengukuhkan ego, tapi kita saling menjadi satu dalam cincin nasionalisme, apabila kita diusik oleh cincin api. Keterpurukan hanya mampu dientaskan bila antara daun ilalang saling bertaut antara satu dengan yang lain, bukan dengan jubah hitam sang hantu yang digunakan untuk menutupi aib nasionalisme, aib kemanusiaan dan aib moralitas lainnya. Hantu hantu enyahlah kau dari kereta reformasi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/12/27/perahu-kertas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langit Tak Selamanya Biru</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/12/19/langit-tak-selamanya-biru/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/12/19/langit-tak-selamanya-biru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 02:59:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[biru]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[nusrotul bariyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2559</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Nusrotul Bariyah (Anggota Agupena Jawa Tengah) Engkaulah minyak atar Meskipun masih tersimpan Dalam kuntum yang akan mekar (Iqbal, Javid Nama)1 Buku bertajuk cinta. Ah, buku itu begitu menarik hatiku. Apakah mungkin karena aku yang tengah dilanda cinta, ataukah aku yang sangat ingin mengerti hakikat dan makna cinta, dan mampu mendefinisikannya secara tertata. Ataukah aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_N4LLJXYQR-o/THdc0F-61cI/AAAAAAAABHM/25qC5yr2s-w/s1600/biru-langit.jpg" class="alignnone" width="585" height="331" />Oleh Nusrotul Bariyah (Anggota Agupena Jawa Tengah)</p>
<blockquote><p>Engkaulah minyak atar<br />
Meskipun masih tersimpan<br />
Dalam kuntum yang akan mekar<br />
(Iqbal, Javid Nama)1</p></blockquote>
<p>Buku bertajuk cinta. Ah, buku itu begitu menarik hatiku. Apakah mungkin karena aku yang tengah dilanda cinta, ataukah aku yang sangat ingin mengerti hakikat dan makna cinta, dan mampu mendefinisikannya secara tertata. Ataukah aku yang ingin memiliki cinta dan memaknainya sebagai kata kerja, bukan kata benda, ataukah, aku yang sangat ingin menjadi pemuja cinta dalam bingkai cinta kepada-Nya? Mungkin aku perlu meminta fatwa pada hatiku, hingga nampaklah apa yang ada dalam hati dan fikiranku. Tapi sepertinya, semua itu adalah benar adanya. Tak pelak lagi, buku “Jalan Cinta Para Pejuang”, karya Salim A. Fillah, menjadi buku favorit yang menempati posisi wahid.</p>
<p>Cinta, sebuah kata kerja. Begitu Salim A. Fillah menorehkan tinta hitamnya pada salah satu lembar buku “Jalan Cinta Para Pejuang.” “Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justeru sedang melakukan sebuah “ pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: MENCINTAI.” Tutur Anis Matta. Kalimat itu dinukil oleh Salim A. fillah dengan begitu apiknya. Kalimat itu begitu menyentuh, dan merasuk di jiwa. Ingatanku melayang pada seorang sahabatku.  Ialah Haira(bukan nama sebenarnya), seorang akhwat2 yang senantiasa menjaga hijabnya, yang mengambil jalan cinta dalam bingkai keridhoan-Nya, demi menemukan belahan jiwanya.</p>
<blockquote><p>Bila seorang gadis telah meninggalkan masa remajanya dan memasuki usia dewasa, tentu terbersit keinginan untuk menyempurnakan separuh agamanya. Karena menikah adalah kebutuhan, menikah adalah tuntunan Rasul-Nya, dan menikah adalah jalan cinta para pejuang-Nya. Namun, itu bukan perkara gampang. Butuh persiapan yang matang. Bila hati rindu menikah? Haira memang tengah rindu untuk segera bertemu. Rindu dengan sang arjuna yang kan menemaninya dalam suka dan duka. Perasaan rindu yang kian membuncah, membuatnya sibuk menyiapkan berbagai perbekalan pernikahan, agar semakin siap dirinya mengarungi bahtera rumah tangga. “Ana3 sudah siap menikah, Ukh4.“ Katanya mantap. Pernyataan itu ia lontarkan sekitar tiga tahun yang lalu.</p></blockquote>
<p>♥♥♥</p>
<p>Pertengahan tahun 2008</p>
<p>“Insya Allah, akan ana proseskan, Anti sabar nggih. Dan Anti harus siap dengan segala resikonya, termasuk resiko ditolak. Bagaimana?” Begitu kata guru ngajinya.Ketika Haira mulai disibukkan dengan tugas akhirnya, ia menyampaikan keinginannya untuk menikah kepada guru ngajinya. Tidak hanya keinginan yang ia sampaikan, namun, ia juga menyebutkan nama seorang ikhwan2 yang sempat mengusik hatinya, dan memohon pertolongan sang guru ngaji untuk memproseskannya.</p>
<p>“Insya Allah, Ana siap, Ummu6.” Jawab Haira mantap kepada Ummu, guru ngajinya.</p>
<p>Ah, sungguh Haira telah mengamalkan apa yang telah dilakukan oleh ibunda Khodijah, sang wanita mulia, pendamping Rasulullah. Ibunda Khodijah yang mengawali mengambil inisiatif untuk menjadikan Muhammad sebagai suaminya. Ada rasa khawatir yang bergejolak, kalaulah Muhammad menolaknya. Namun, Muhammad, sang teladan kita, ternyata menyambut hangat keinginan ibunda Khadijah. Jadilah mereka sepasang suami istri yang menjadi teladan bagi kita semua.</p>
<p>Tak banyak akhwat yang berani melakukan hal serupa. Pamali katanya. Apalagi dengan kondisi psikologi wanita yang secara umum tak sekuat pria. Namun, Haira membantahnya. Ia yakin, yang dilakukannya tidak menyalahi syariat, apalagi pernah dicontohkan oleh Ibunda Khadijah.</p>
<p>“‘Afwan, Haira, kami sudah menghubungi ikhwannya, dan ternyata ikhwannya belum siap menikah. Anti yang sabar ya, mudah-mudahan Allah memberi ganti dengan yang lebih baik.” Ummu mengabari Haira, setelah sekitar satu bulan lamanya Haira menunggu.</p>
<p>Mungkin terasa pilu bagi Haira, namun ia harus menerima kenyataan pahit itu. Ah, masih ada harapan, pikirnya saat itu. Selang beberapa bulan setelah itu, ia mendapatkan kabar bahwa sang ikhwan menikah dengan seorang akhwat. Ironis, sang akhwat adalah teman dekatnya.</p>
<p>“ …Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Tahu, sedang kamu tidak tahu.” 7</p>
<p>Awal Tahun 2010</p>
<p>“Anti menerima tawaran itu, Ukh?” tanyaku memastikan, saat Haira menceritakan perihal tawaran ta’aruf5 yang ia terima.</p>
<p>“Iya, ukh. Ana tidak mau melepaskan kesempatan yang datang, karena kesempatan itu datangnya cuma satu kali. Lagian, apa salahnya mencoba, Ukh. Toh, kita tidak tahu siapa jodoh kita.”Jawabnya enteng.</p>
<p>“Apa guru ngaji Anti sudah tahu?”</p>
<p>“Guru ngaji Ana sudah tahu, kok. Dan beliau bukan tipikal orang yang strenght, semua tidak harus lewat beliau. Yang penting, ikhwan yang akan dita’arufkan itu shalih, baik agama dan akhlaknya, syukur-syukur satu fikrah. Itu saja. Dan darimanapun asal tawaran itu, tak masalah bagi beliau. “ Jawab Haira panjang lebar.</p>
<p>“Hari tak selamanya malam, hujan tak selamanya bertandang, dan badai tak kan selamanya menghadang.“ Haira menghibur diri sendiri.  Ah, bukanlah seorang Haira jika ia tak mampu memotivasi diri sendiri.Apa yang terjadi padamu di kemudian hari, Haira? Ah, lagi-lagi ikhwan itu menolakmu. Sang ikhwan hanya mengucapkan sederet kalimat: ”Ana belum siap mendampingi selevel ustadzah.” Kali ini Haira hanya menimpali dengan seutas senyum. Mungkin, penolakan demi penolakan, dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2009, yang telah dialami Haira, membuat hatinya semakin kuat dan rapat, hingga tak mudah baginya tuk menitikkan air mata, dan tak membiarkan kesedihan mendera.</p>
<p>Akhir Bulan Kedua Tahun 2010</p>
<p>Haira menerima tawaran ta’aruf dari seorang Ummahat. Ia pun langsung menerimanya. Ah, Haira, tidakkah kau merasa lelah menjalaninya. Batinku saat itu.  Haira begitu bahagia nampaknya. Katanya, wajah sang ikhwan begitu mirip dengan kakak nomor duanya. Bahkan tanggal dan bulan lahirnya, sama dengan tanggal dan bulan lahir adiknya. “Sepertinya kami berjodoh.“ Kata Haira saat itu. Haira bertambah berbahagia, saat sang ikhwan telah menyatakan kemantapannya untuk nazhar. Semoga ini yang terbaik bagimu, Haira. Doaku ketika itu.</p>
<p>“Setelah melalui berbagai pertimbangan keluarga selama beberapa hari ini, dengan berat hati, ana tidak bisa melanjutkan ta’aruf dengan ukhti. Semoga Ukhti mendapatkan ikhwan yang lebih baik dunia dan akhiratnya.” Haira menunjukkan sms kepadaku, sms yang dikirimkan oleh sang ikhwan melalui sang Ummahat, pasca nazhar7.</p>
<p>“Sabar, ya Ukh..” kataku menghiburnya.</p>
<p>“Iya, Ukh, Insya Allah Ana bersabar.” Haira tak bisa menutupi kesedihannya. Matanya tak kuasa menahan air mata yang jatuh membasahi pipinya.</p>
<p>“Ukh, untuk melihat bintang, mungkin kadang kita harus lalui gelapnya malam, untuk melihat pelangi, kita harus lewati derasnya hujan, bahkan menerobos badai yang menghadang. Aku yakin, suatu saat, Aku akan menuai keberhasilan yang gilang gemilang, meskipun sekarang aku harus menelan kepahitan.” Lanjut Haira, menghibur diri.</p>
<p>Bulan Kelima Tahun 2010</p>
<p>Haira kembali menerima tawaran berta’aruf dari seorang Ummahat. Semua telah sama-sama mantap akan data calon pasangan. Namun, di tengah perjalanan, Haira menyatakan mundur. Ada apakah ini, Haira?!</p>
<p>“Ikhwan itu terbukti berta’aruf dengan lebih dari satu akhwat, Ukh. Dan sekarang, ia akan melanjutkan ke proses khitbah dengan akhwat lain.” Haira kembali tergugu. Memang pilu. Kesedihan itu wajar, sangat manusiawi. Nikmatilah kesedihanmu, Haira, jika itu membuatmu lega. Batinku.</p>
<p>“Bersabarlah Haira, tak ada hal sekecil apapun yang lepas dari pengawasan dan skenario Allah. Allah tengah mempersiapkan jodoh terbaik buatmu. “ Hiburku padanya.</p>
<p>Bukan kita yang memilih takdir, takdirlah yang memilih kita. Bagaimanapun, takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang tepat. (Shalahuddin Al Ayyubi)8</p>
<p>Bulan Kesembilan Tahun 2010</p>
<p>Perjalanan panjang mencari sang pria idaman belum berhenti. Tiap kali ada tawaran datang, ia selalu menyambutnya dengan suka cita. Tak ada rasa takut tuk menghadapi kegagalan, walaupun hasilnya tak sesuai harapan, dan dengan perjalanan kisah yang tak kalah memilukan. Kegagalan demi kegagalan yang telah dialaminya membuatnya tak patah arang. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Begitu katanya.</p>
<p>“Anti tak mencoba berta’aruf dengan ikhwan yang mengusik hatimu selama ini, Haira?” tanyaku suatu ketika.</p>
<p>“Sepertinya beliau belum siap menikah, Ukh.”Jawab Haira ragu.</p>
<p>“Kenapa tidak dicoba, Ukh? Toh, Anti dekat dengan adiknya. Sudah satu tahun ini, lho, Anti memendam perasaan itu. Dan sepertinya, ikhwan itu juga memiliki perasaan yang sama. Itu ana lihat dari gelagat ikhwan itu kepadamu. Sampaikan saja keinginan Anti pada adiknya, Ukh. Siapa tahu jodoh. Ya, daripada Anti berproses, tapi tidak mendapatkan hasil sampai sekarang. Iya, kan?!” Saranku ketika itu. Dan sepertinya Haira menanggapi saranku dengan serius.</p>
<p>Haira, meskipun ia memendam perasaan simpati dengan seorang ikhwan, namun itu tak membuatnya menutup diri. Karena yang ia inginkan adalah menikah, dengan ikhwan manapun, yang baik agama dan akhlaknya, dan bukan untuk memiliki ikhwan yang diidamkannya. Terkadang, kebanyakan wanita zaman sekarang, hanya ingin menikah dengan lelaki yang diidamkannya, sehingga ia menutup diri untuk lelaki lain yang datang kepadanya. Padahal lelaki itu baik secara agama dan akhlaknya.</p>
<p>“Ukh, ana tidak menyangka sama sekali, ternyata ikhwan yang selama ini mengusik hati ana, telah menolak ana dua kali. Adiknya pernah dua kali menawarkan ana kepada ikhwan itu, dan dua kali pula, ikhwan itu langsung menolak ana, tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu, Ukh.” Berderai air mata Haira. Walau kau menangis, walau kau merasa sedih, bagiku kau sangat tabah, Haira. Tangisan hanyalah luapan emosi sesaat, kesedihan hanyalah reaksi sekejap. Hatimu begitu tegar dan tabah menjalani. Kau tak sampai merobek bajumu, atau mencukur rambutmu, bahkan, kau tetap tetap tersenyum ketika tiap orang menyapamu. Doaku kan slalu menyertaimu, Haira.</p>
<p>Seringkali, yang paling mencintai kita tak menjadi yang paling kita cintai dan mungkin pernah, yang paling kita cintai, membuat hati kita bagai dirajam duri.</p>
<p>Bulan Kesepuluh Tahun 2010</p>
<p>Haira menerima tawaran ta’aruf. Proses tukar menukar data berlangsung dengan lancar. Kedua belah pihak sudah menyatakan kemantapannya. Haira nampaknya begitu bahagia ketika nama sang ikhwan: ISLAMI. “Nama yang Islami, dapat menunjukkan backgound keluarga, Ukh.” Begitu katanya. Ya, memang ada benarnya. Setiap keluarga, yang sense terhadap Islamnya kuat, peduli terhadap dakwah Islam, maka ia akan menamai anaknya dengan nama-nama yang Islami, walaupun mungkin ada yang dimodifikasi. Ah, aku turut bahagia, Haira. Dari ceritamu, nampaknya kau bertambah mantap, Haira. Apalagi background keluarga sang ikhwan sama dengan background keluargamu. Agama sang ikhwan juga sesuai dengan harapanmu.</p>
<p>“Bagaimana kemarin nazharmu, Haira?” Tanyaku, penuh ingin tahu.</p>
<p>“Alhamdulillah, lancar. Insya Allah, kami akan memutuskan hasilnya esok Sabtu.“ Jawab Haira santai. Senyumnya yang selalu tersungging dari bibirnya menggambarkan hatinya yang tengah berbunga-bunga.</p>
<p>“Anti sendiri bagaimana? Sudah mantap?” tanyaku memastikan.</p>
<p>“Kalau ana sendiri sudah mantap, tapi ana perlu mengkomunikasikannya dengan Allah. Ana tidak ingin menyesal, karena pernikahan tidak untuk satu hari dua hari, tapi harapannya seumur hidup sekali. Apapun keputusan Allah, ana yakin, itu yang terbaik bagi ana. “ Jawab Haira bijak.</p>
<p>Haira, walaupun ia sendiri merasa mantap, ia tidak mau meninggalkan komunikasi dengan Allah, Sang Pencipta Alam Semesta, melalui sholat istikharah. Dewasa ini, tidak sedikit para wanita yang mengesampingkan sholat istikharah untuk memantapkan pilihan. Mereka beralasan, cukuplah kemantapan hati sebagai penunjuk jalan. Padahal hati kita sering diliputi oleh nafsu syaitan.</p>
<p>Sabtu adalah hari yang cukup menegangkan bagi Haira saat itu. Perasaan Haira sungguh tak karuan. Perasaan harap-harap cemas menyelimuti hatinya. Tak lama kemudian, ia mendapat sebuah sms dari sang ikhwan, melalui sang perantara, “Perasaan kecewa dan galau terkadang mengusik. Itulah ulah syaitan yang senantiasa menggoda manusia untuk tidak menerima takdir-Nya. Karena berbagai pertimbangan keluarga, mungkin perjodohan kita urung untuk dilanjutkan, dan hanya sampai di sini. Terima kasih atas silaturakhim yang selama ini terbangun diantara kita.“</p>
<p>Jangan kau kira cinta datang dari keakraban dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah putera dari kecocokan jiwa. Dan jikalau itu tiada, cinta takkan pernah tercipta, dalam hitungan tahun, bahkan millenia. (Kahlil Gibran)10</p>
<p>♥♥♥</p>
<p>Bulan Ke- Sebelas Tahun 2010</p>
<p>“Ana ditawari seorang ikhwan , Ukh.” Haira mengawali cerita di suatu pagi.<br />
“Ia menawari Ana untuk ta’aruf dengan seorang ikhwan, dan dari data singkat ikhwan yang Ana dapatkan itu, nampaknya kriteria suami yang selama ini Ana impikan, ada padanya.” Wajah Haira kelihatan semakin sumringah. Senyum itu kian melebar, dan matanya semakin berbinar. Ah, Haira, nampaknya pagi ini menjadi pagi yang sangat indah bagimu.“Tanpa Ana duga, tiba-tiba ada Ummahat11 yang menghubungi Ana, padahal sudah lama kami tidak berkomunikasi.“ Matanya berbinar, wajahnya memerah, dan senyum tersungging dari sudut bibirnya. Nampaknya ia sangat berbahagia.</p>
<p>“Anti menerima tawaran itu?” Tanyaku memastikan.</p>
<p>“Iya, Ukh. Ana langsung menerima tawaran itu.”</p>
<p>Haira, sungguh aku bahagia mendengar beritamu ini.</p>
<p>“Baarokallahufiik, Ma’akinnajah, Ukhti.12 Ku tunggu berita bahagiamu, lho.” Timpalku turut berbahagia.</p>
<p>“Amiin. Wa Fiiki Baarokallah. 13 Iya, Ukh. Doakan Ana, mudah-mudahan ini yang terbaik buat Ana, dan mengantarkan Ana ke pelaminan.”</p>
<p>Haira bukanlah seorang gadis seperti gadis kebanyakan yang menempuh jalan  pacaran untuk mendapat pasangan. Ya, ia seorang gadis shalihah yang selalu berusaha ingin menjaga agamanya, ia ingin menjemput sang arjuna dengan cara yang diridhoi-Nya. Keinginan yang kian terpendam dan ingin segera ia luapkan, membuat ia tak henti berdoa agar segera dipertemukan dengan sang arjuna. Aku masih teringat akan kata-katanya, “ Kalau kita tidak mau mencoba ta’aruf, bagaimana mungkin kita tahu ia jodoh kita atau bukan. Kalau kita ta’aruf, kita akan tahu. Jika berhasil, berarti jodoh. Kalau belum berhasil, berarti belum jodoh. Iya, kan?!”</p>
<p>Aku tak bisa membayangkan jika aku berada di posisinya. Mungkin baru sekali atau dua kali saja gagal, apalagi jika kegagalan itu karena penolakan dari sang ikhwan, mungkin aku akan merasa trauma untuk berta’aruf lagi, apalagi jika sampai mencapai level ke-sepuluh atau melebihi itu. Ah, mungkin hidup ini akan nampak  gelap di mataku. Hidup segan, mati tak mau. Akankah aku masih kuat menjalani hidup ini, apalagi sampai menoreh prestasi, sebagaimana Haira. Dengan luka yang menggores hatinya, dengan kesedihan yang mendalam yang terpancar dari wajahnya, Haira masih aktif dan bersemangat menjalani aktivitasnya. Aku yakin, Allah tidak akan memberi beban kepada para hamba-Nya melebihi batas kemampuannya. Dan aku yakin, Haira adalah wanita pilihan yang telah dipilih-Nya untuk menjalani ini semua. Inilah jalan para pejuang cinta, yang tak mengenal lelah untuk menemukan belahan jiwanya. Yang tak pernah lelah menempuh jalan yang hak untuk mencapai pernikahan barakah yang diridoi-Nya.</p>
<p>“Alhamdulillah, Ukh. Kami sama-sama mantap. Dan Insya Allah kami akan melangsungkan akad nikah tanggal 17. Mohon doanya, ya Ukh..” Haira memberikan kabar gembira kepadaku, di tengah bulan sebelas tahun 2010. Ah, Haira, aakhirnya dia menemukan arjunanya.</p>
<p>Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 dihttp://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/12/19/langit-tak-selamanya-biru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JERA</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/12/13/jera/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/12/13/jera/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 14:08:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Agupena Pekalongan]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Jera]]></category>
		<category><![CDATA[sardono syarif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2545</guid>
		<description><![CDATA[Oleh SARDONO SYARIF -Ketua Umum Agupena Kab. Pekalongan- Domiyang adalah desa tempat tinggal Imam. Anak itu dilahirkan dari keluarga tak mampu. Bapaknya bernama Rawi. Usianya sudah hampir enam puluh tahun. Sumi, ibunya pun umurnya sudah cukup tua. Adapun Imam merupakan anak tunggal mereka. Entah oleh pengaruh siapa, setelah agak besar, Imam memiliki sifat nakal. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <strong>SARDONO SYARIF</strong> -Ketua Umum Agupena Kab. Pekalongan-<br />
<img alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_YQfd8et0Hck/TM0lD3Xc0NI/AAAAAAAAACI/j5sSVSjK-aE/s320/sardono.JPG" class="alignnone" width="320" height="240" />Domiyang adalah desa tempat tinggal Imam. Anak itu dilahirkan dari keluarga tak mampu. Bapaknya bernama Rawi. Usianya sudah hampir enam puluh  tahun. Sumi, ibunya pun umurnya sudah cukup tua. Adapun Imam merupakan anak tunggal mereka.</p>
<p>Entah oleh pengaruh siapa, setelah agak besar, Imam memiliki sifat nakal. Dia berani membantah perintah kedua orang tuanya. Bahkan sering ia menyakiti hati Pak Rawi dan Bu Sumi. Padahal ketika kecil dulu Imam sangat patuh terhadap Pak Rawi maupun Bu Sumi. Dia pun rajin belajar mengaji. Taat mendirikan sholat. Anak itu mengerti akan dosa. Begitu pula di sekolah, ia termasuk murid yang bertabiat baik, hormat pada guru, lagi cukup pandai.</p>
<p>Namun sayang. Setelah usianya menginjak ketiga belas tahun, watak Imam berubah total. Anak itu nakal. Sikapnya kian tak terarah. Sedikit saja kedua orang tuanya tak sengaja berbuat salah,   tak segan-segan Imam membalasnya dengan kesalahan pula. Malah disengaja agar kedua orang tuanya  jadi sakit hati lagi marah.<br />
Seperti pada Senin pagi itu. Imam telah bersiap diri. Bukannya untuk pergi ke sekolah. Sebab dia telah mogok di kelas 5 setahun yang lalu. Tetapi untuk berangkat berburu burung. Terlihat di lehernya menggelantung  sebuah ketapel karet. Sebuah alat yang biasa digunakannya untuk membidik burung liar di pepohonan.</p>
<p>“Hendak  ke mana kau pergi, Mam?”tanya ibunya ingin tahu.</p>
<p>“Tidak usah banyak tanya!”sahut Imam ketus. Sama sekali tak sopan.</p>
<p>“Jangan mengganggu anak-anak sekolah di jalan! Nanti kau dimarahi orang!”</p>
<p>“Terserah saya. Emak tak usah mengatur!”sambil menjawab seperti itu, tangan Imam telah berkacak   pinggang. Kedua bola matanya melotot ke arah Bu Sumi.</p>
<p>Tiap kali melihat   sikap Imam  demikian, Bu Sumi lebih baik pilih diam. Sebab ibu tadi tahu benar,  bila dirinya terus berkomentar, tentu anak itu  akan marah. Bahkan bisa jadi dirinya akan mendapatkan bidikan peluru batu Imam.</p>
<p>Sementara itu, Imam telah melangkah jauh menyusuri jalan desa. Sesekali mukanya tengadah ke atas. Kedua bola matanya mengintai burung-burung yang berloncatan di reranting    cengkih. Satu dua   kali anak itu tampaknya telah pula melepaskan bidikan ke sasarannya. Namun tak seekor burung pun yang jatuh akibat hantaman peluru batu dari ketapel maut Imam.</p>
<p>“Duh, sialan!”gerutu Imam. “Prenjak kurang ajar!”gerutunya lagi dengan hati mulai kecewa. “Mau mati saja banyak bertingkah,”sambungnya sambil mengejar lari burung prenjak.</p>
<p>Rupanya  sepasang burung kecil yang cantik tadi berhasil menghindar dari amukan  Imam. Keduanya terbang berpindah pohon akibat kaget oleh suara kerosak daun cengkeh yang terusik peluru batu anak itu. </p>
<p>“Prilak&#8230;! Prilak&#8230;.! Prilak&#8230;.! Cer&#8230;.! Cer&#8230;..! Cer&#8230;.!”</p>
<p>Kedua burung itu bahkan berkicau bersahutan. Oleh Imam kicauan   tersebut dirasakan sebagai  ejekan.   Imam sangat tersinggung oleh ulah kedua burung kecil tadi. Oleh karena itu, dengan amat membabi buta, anak itu berkali-kali melepaskan peluru batu dengan ketapil mautnya.</p>
<p>“Ini, kaurasakan peluru ampuhku, prenjak sialan!”gerutunya sambil menarik kuat-kuat karet ketapel yang disandangnya. </p>
<p>“Jret&#8230;!”</p>
<p>“Blebeeeerrr&#8230;.!”karena kagetnya, kedua prenjak tadi pun segera terbang berpindah tempat.</p>
<p>“Prilak..! Prilak&#8230;! Prilak&#8230;.!”seraya melompat-lompat di ranting manggis, sang jantan berkicau mencari-cari betinanya.</p>
<p>“Cer&#8230;! Cer&#8230;! Cer&#8230;!”sahut sang betina dari   pohon lain.</p>
<p>“Huuh, kurang ajar! Menghina saya kamu ya, Prenjak?”marah Imam makin bertambah.</p>
<p>“Ini, terimalah ganjaran peluruku! Jret&#8230;!”sekali lagi anak itu melepaskan pelurunya.</p>
<p>“Blebeeerr&#8230;.!”kedua burung tadi serentak menghindar.  </p>
<p>“Uh, tak kena!”hati Imam makin  dongkol.</p>
<p>“Ini, sekali lagi!  Jret&#8230;!”keras-keras peluru batu itu dilepas. Namun tak mengenai sasaran. Peluru batu tadi menghantam dahan manggis. Karena tekanannya sangat keras, maka mentallah peluru batu tersebut ke arah semula. Peluru batu sebesar kelereng itu melesat menghantam bola mata kanan Imam.</p>
<p>“Aduuuuuhhhhhhh&#8230;.! Toloooooooong&#8230;&#8230;! Tolong, aku, aduuuuhhhhhhhh&#8230;.! Toloooong&#8230;.! Hee&#8230;.eeemmm&#8230;.!<br />
Sakiiiiiitttt………..! </p>
<p>Aduh, toloooooooooooooong………….!”</p>
<p>Imam meraung-raung kesakitan. Dirinya jatuh bangun meminta tolong. Namun sayang. Saat itu di tempat tersebut  sepi. </p>
<p>Tak ada seorang pun yang melintas di situ. Sehingga lama sekali Imam  merasakan sakitnya hantaman peluru batu yang mengenai bola mata kanannya. Bola mata Imam   pecah tampaknya. Dari dalamnya   mengucur deras darah segar.</p>
<p> “Aduh, Mak&#8230;..! Aduh, Pak&#8230;.! Aduh&#8230;..! Maafkan aku, Mak&#8230;! Maafkan aku, Mak&#8230;.! Hou&#8230;&#8230;!”Imam menangis. Anak itu teringat pada Bapak dan Ibunya di rumah. Ia sangat menyesali akan  perbuatan durhaka terhadap kedua orangtuanya.</p>
<p>Imam terus meraung-raung. Karena jauh dari rumah, Bapak maupun Ibunya tak mendengar raungan Imam. Semakin anak nakal itu meraung,  semakin deras pula darah yang mengalir dari bola mata kanannya.  Semakin pedih pula derita yang ia rasakan. Hingga akhirnya Imam tak sadarkan diri. Lama, lama sekali……..!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/12/13/jera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

