<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena Jawa Tengah &#187; Esai</title>
	<atom:link href="http://agupenajateng.net/category/sastra/esai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupenajateng.net</link>
	<description>Membangun Semangat Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Apr 2012 08:14:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>IBUKU LUAR BIASA</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/11/06/ibuku-luar-biasa/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/11/06/ibuku-luar-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 04:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1074</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Supandi Ketika saya membaca buku-buku tentang ESQ, NLP, Berpikir besar, kekuatan God Spot, optimisme, keyakinan dan sejenisnya, muncul pengakuan dalam diri saya tentang sesuatu yang telah dilakukan oleh ibu saya. Kalau dalam metode pengajaran dapat saya katakan seperti praktek pemberlakuan metode induksi oleh guru di kelas. Sebuah rentetan perjuangan panjang dari seorang perempuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Supandi<br />
<img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/10/sup1.jpg" alt="sup1" title="sup1" width="100" height="150" class="alignleft size-full wp-image-1035" />Ketika saya membaca buku-buku tentang ESQ, NLP, Berpikir besar, kekuatan God Spot, optimisme, keyakinan dan sejenisnya, muncul pengakuan dalam diri saya tentang sesuatu yang telah dilakukan oleh ibu saya. Kalau dalam metode pengajaran dapat saya katakan seperti praktek pemberlakuan metode induksi oleh guru di kelas. Sebuah rentetan perjuangan panjang dari seorang perempuan single parent yang harus membesarkan ke-5 anaknya hingga dewasa. Setelah sekian tahun merenungi apa yang telah beliau lakukan baru saat ini saya bisa menyimpulkan teori-teori tentang berpikir besar dan kekuatan tanpa batas berupa God Spot (suara Tuhan) yang didengungkan oleh para pakar memang benar adanya. Dan ibuku telah membuktikannya.</p>
<p><em>Back to record</em>. Masa kecil adalah masa indah yang senantiasa terkenang sepanjang masa. Masa bermain dan masa tanpa beban. Bermain layang-layang adalah salah satu jenis hiburan yang cukup menyenangkan bagi anak. Bermain layang-layang di pinggir sungai merupakan kebiasaan saya di waktu kecil. Di tanggul berumput itu saya bisa menerbangkan layang-layang dengan mudah karena penuh dengan hembusan angin.</p>
<p>Perasaan riang lebih mendominasi hati saya saat itu. Di ujung tanggul adalah jalan raya yang merupakan jalan utama Cilacap – Yogya / Semarang. Di bawah panas matahari yang sangat menyengat berjalan seorang wanita setengah baya menggendong dagangannya berupa berbagai jenis pakaian mutu rendah. Beliau bermaksud hendak menjajakan dagangannya ke desa-desa sekitar.</p>
<p>Perasaan riang yang tadinya mendominasi hati saya berbalik seratus delapan puluh derajat. Seketika perasaan itu berubah menjadi perasaan haru, tidak tega, dan berontak terhadap pemandangan yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Dengan sedikit tercengang saya perhatikan dia ternyata benar-benar ibuku. Berjalan di bawah terik mentari dengan menggendong dagangannya.</p>
<p>Kupanggil beliau sekuat tenaga tetapi jerak terlalu jauh dan hembusan angin lebih kuat dibanding suara saya. Akhirnya dengan ketidakberdayaan yang ada, saya biarkan beliau melakukan jihad demi sebuah kesinambungan hidup.<br />
Sebuah pesan moral yang syarat dengan nilai spiritual quotion, thinking big, maupun keyakinan yang begitu kuat saya tangkap dari sepenggal kalimat yang beliau lontarkan dari mulut seorang ibu yang notebene tidak lulus Sekolah Dasar namun ternyata beliau yakin benar tentang kekuatan-kekuatan tanpa batas yang saat ini banyak dilontarkan oleh para pakar SQ, thinking big, NLP dan sejenisnya. Kalimat yang dia lontarkan keluar saat saya menyampaikan unek-unek / isi hati saya tentang ketidaktegaan saya melihat pemandangan sebagaimana yang saya sampaikan diatas. “Bu, saya mulai besok tidak sekolah saja ya?!. Saya tidak rela dan tidak tega kalau ibu harus berjalan kepanasan demi mencari nafkah untuk keluarga.” Demikian komplain yang saya sampaikan kepada beliau.</p>
<p>Bagaimanakah sepenggal kalimat yang beliau katakan kepada saya? Bunyinya demikian : “ Pokoke kowe kabeh kudu pada sekolah terus. Gusti Allah kuwe Maha Sugih. Aku yakin bisa. Aku ora kepengin uripmu ngemben pada sengsara. (Pokoknya kamu semua harus sekolah dan terus sekolah. Tuhan itu Maha Kaya. Kalian pasti bisa sekolah. Saya tidak ingin hidupmu sengsara kelak.)”.</p>
<p><em>Allahu Akbar, thinking big </em>(berpikir besar) yang beliau yakini kebenarannya saat ini benar-benar menjadi kenyataan. Beliau benar-benar telah membuktikan akan dahsyatnya sebuah keyakinan. Dengan keperkasaan dan kemuliaan beliau sebagai seorang single parent kami bisa merasakannya sekarang yaitu hidup relatif layak.<br />
Allahu Akbar, sayapun bisa mengatakan bahwa saat ini beliau benar-benar menjadi manusia yang sangat mulia karena saat saya tulis artikel ini beliau tengah dinanti dan akan diambut kehadirannya oleh ribuan malaikat di tanah suci Mekah sebagai tamu Allah SWT. Allahu Akbar.</p>
<p>Mohon maaf kepada Anda yang kebetulan membaca tulisan saya ini. Semoga Tuhan memaafkan saya manakala apresiasi saya kepada ibu saya ini dihinggapi salah satu penyakit hati yaitu riya. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. Amin. (Kroya, 6 Nopember ’09).<br />
<strong><br />
SUPANDI, S.Pd, MM</strong><br />
Guru SMP Negeri 2 Binangun Cilacap, Sejak 2006 s.d. 2009 menjadi guru pemandu MGMP Mapel Bahasa Inggris Kabupaten Cilacap. Ketua MGMP Bahasa Inggris periode 2009 – 2011 dan Anggota Agupena Jawa Tengah. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/11/06/ibuku-luar-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perpustakaan Berbasis Intelektual</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/11/01/perpustakaan-berbasis-intelektual/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/11/01/perpustakaan-berbasis-intelektual/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 08:09:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1043</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaiful Mustaqim PERPUSTAKAAN sekolah, sampai saat ini, fungsinya masih sebagai tempat peminjaman dan pengembalian buku saja atau sirkulasi buku. Selebihnya tidak. Jika demikian, ruang yang sering digembor-gemborkan sebagai jantung ilmu pengetahuan itu menjadi sia-sia. Semestinya, tempat itu menjadi ruangan berbasis intelektual. Perpustakaan berbasis intelektual merupakan sebuah terobosan dalam rangka meningkatkan daya intelektual peserta didik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Syaiful Mustaqim<br />
<img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/11/syaifulm-300x225.jpg" alt="syaifulm" title="syaifulm" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-1044" />PERPUSTAKAAN sekolah, sampai saat ini, fungsinya masih sebagai tempat peminjaman dan pengembalian buku saja atau sirkulasi buku. Selebihnya tidak. Jika demikian, ruang yang sering digembor-gemborkan sebagai jantung ilmu pengetahuan itu menjadi sia-sia. Semestinya, tempat itu menjadi ruangan berbasis intelektual.</p>
<p>Perpustakaan berbasis intelektual merupakan sebuah terobosan dalam rangka meningkatkan daya intelektual peserta didik. Sebab, daya intelektual yang biasanya dicurahkan dengan kegiatan berdiskusi sering dilaksanakan di lingkungan perguruan tinggi, sementara di lingkup sekolah masih jarang dilakukan. Hal itu yang menyebabkan mahasiswa baru sering kaget dengan tradisi berdiskusi di kampus.</p>
<p>Sehingga, perlu memformat perpus berbasis intelek. Memformatnya pun bukan perkara yang sulit. Melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) maupun Jurnalistik dapat membentuk kelompok kecil untuk kegiatan olah intelektual yakni berdiskusi di ruang perpustakaan. Berdiskusi tentang tema-tema aktual yang didapat dari media cetak, online serta elektronik.</p>
<p>Bisa juga dengan membedah buku-buku baru dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten atau guru bidang studi yang mumpuni. Sementara guru pembina, memantau keberlangsungan olah daya intelektual yang dilakukan oleh para peserta didiknya. Berhasil atau tidaknya, tergantung guru pembina yang memantau, membina serta mengarahkan siswa.</p>
<p>Tentunya, kegiatan itu tergantung batas kemampuan dan kesepakatan siswa. Bisa sepekan, dua pekan sekali atau satu bulan sekali. Yang terpenting dibutuhkan intensitas dan kontiunitas dalam melaksanakannya.</p>
<p>Memanfaatkan perpus sekolah sebagai olah intelektual setidaknya memiliki banyak keuntungan, diantaranya: memakmurkan kesunyian perpustakaan sebab biasanya hanya sebagai sirkulasi buku. Selain itu, bagi peserta didik setidaknya merangsang siswa untuk selalu gemar membaca. Setelah pembacaan teks (dari buku, media cetak, online dan elektronik) dilanjutkan dengan olah intelektual dengan berdiskusi (menyampaikan ide, berpendapat dan kritik).</p>
<p>Dengan menjadikan perpustakaan berbasis intelektual nantinya akan muncul peserta didik yang berintelektual tinggi dan mumpuni serta generasi yang peka terhadap kondisi zaman kekinian. Semoga! <strong></p>
<p>Syaiful Mustaqim</strong><br />
Lahir dan dibesarkan di Margoyoso, Kalinyamatan, Jepara. Sejak awal 2008 silam berbagai artikelnya dimuat Suara Merdeka, Wawasan, Kompas, dll. Selain menulis artikel, penulis lepas otodidak ini adalah kontributor NU Online (situs resmi PBNU). Direktur dan pengelola blog Smart Institute Jepara ini pernah mengikuti Pelatihan Menulis Artikel Kompas dan Peraih Pewarta Terbaik Suara Warga Suara Merdeka pada Juli 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/11/01/perpustakaan-berbasis-intelektual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HIDUP NYAMAN DI LUAR ZONA NYAMAN</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/10/29/hidup-nyaman-di-luar-zona-nyaman/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/10/29/hidup-nyaman-di-luar-zona-nyaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 23:58:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1036</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Supandi “ Pak, Anda termasuk guru senior di sekolah kita. Kata Bapak Kepala Sekolah Anda akan diusulkan untuk mewakili sekolah kita mengikuti lomba guru teladan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tingkat Kabupaten” Kata pak X kepada pak Y. “Ah, yang lain saja, saya tidak pantas untuk menjadi guru teladan. Menjadi guru teladan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Supandi <img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/10/sup1.jpg" alt="sup1" title="sup1" width="116" height="150" class="alignleft size-full wp-image-1035" /><br />
“ Pak, Anda termasuk guru senior di sekolah kita. Kata Bapak Kepala Sekolah Anda akan diusulkan untuk mewakili sekolah kita mengikuti lomba guru teladan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tingkat Kabupaten” Kata pak X kepada pak Y.</p>
<p>“Ah, yang lain saja, saya tidak pantas untuk menjadi guru teladan. Menjadi guru teladan itu sangat berat, harus memiliki kelebihan dari yang lain. Lagipula sekarang saya lagi banyak kerjaan di rumah. ” Kata pak Y.</p>
<p>“ Kalau Anda tidak bersedia, lalu siapa yang pantas untuk maju, menurut Anda? Tanya pak X.</p>
<p>“ Kalau menurut saya kita tidak usah ikut-ikutan lomba. Sekolah kita sekolah di desa. Begitu pula guru-guru disini menurut saya tidak ada yang mampu. Di kabupaten akan ketemu sama guru-guru dari kota yang lebih pintar, lebih berpengalaman dari kita. Pokoknya kalau mau percaya sama omongan saya kita tidak usah macam-macam. Percuma, tidak mungkin menang “ Kata pak Y.</p>
<p>      Sikap yang ditunjukkan oleh bapak Y dalam dialog diatas adalah hanya merupakan salah satu contoh saja dari sekian banyak sikap yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Sikap menolak terhadap kepercayaan yang diberikan oleh atasan dan rekan-rekan guru merupakan tindakan yang sangat populer. Sikap yang membuat dirinya merdeka, aman dan terbebas dari beban.</p>
<p>      Hal yang demikian merupakan kecenderungan sikap yang bisa dimaklumi, mengingat pada kenyataannya dalam hidup ini orang memang cenderung untuk mencari yang aman-aman saja, yang biasa-biasa saja. Meminjam istilah Bobbi DePorter &#038; Mike Hernacki dalam bukunya Quantum Learning, bahwa apa yang dilakukan bapak Y merupakan kondisi dimana dia terperangkap dalam sebuah “Zona Nyaman”.</p>
<p>      Orang yang merasa enjoy berada di dalam zona nyaman biasanya cenderung mengingkari change (perubahan). Sebagai imbas dari keadaan nyaman sebagaimana yang dimaksud dalam uraian diatas maka seseorang akan terperangkap ke dalam sebuah kehidupan yang statis. Mereka belum menyadari bahwa secara kodrati “hidup” itu sendiri adalah perubahan. Sehingga bagaimanapun juga manusia hidup harus melakukan perubahan, minimal mengikuti perkembangan jaman. Mengapa demikian? Karena apabila seseorang tidak melakukan perubahan, dikhawatirkan mereka akan tertindas oleh perubahan jaman yang bergerak lebih cepat.</p>
<p>      Pertumbuhan manusia secara kontinum dapat dibagi menjadi dua arah, yaitu tumbuh menjadi tua saja, atau tumbuh menjadi dewasa. Orang yang hidupnya senantiasa enjoy berada di zona nyaman sangat dimungkinkan akan tumbuh menjadi tua saja yang minim dengan prestasi dan minim ilmu. Sebaliknya, seseorang yang sarat dengan perubahan maka akan tumbuh menjadi dewasa, sarat dengan ilmu, dan rendah hati (seperti ilmu padi). Bahkan disinyalir bahwa orang yang sarat dengan ilmu, ketika menginjak masa tua, maka orang tersebut tidak akan mengalami pikun.</p>
<p>      Satu hal yang penting untuk disikapi secara bijak adalah bahwa semua manusia memiliki potensi diri, memiliki bakat dan minat. Tumbuh tidaknya potensi diri tergantung pada seberapa besar kepercayaan seseorang dalam memunculkan potensi dirinya tersebut. Dengan demikian manakala seseorang sudah berhasil melakukan hal tersebut, maka akan muncul dalam dirinya sebuah kesadaran (awareness) bahwa sesungguhnya hidup pasca perubahan ternyata lebih nyaman.</p>
<p>      Seorang siswa yang jarang belajar akan merasa nyaman (dalam ketertinggalan). Toh, dia bisa menyontek , atau kerja sama dengan temannya, dan bisa naik kelas. Akan tetapi kenyamanan yang sesungguhnya akan dapat dirasakan olehnya apabila dia mampu membuktikan bahwa dirinya hebat melalui sebuah rutinitas belajar giat. Dia akan merasakan buah dari kenyamanan pasca perubahan kelak di kemudian hari. Minimal dia akan menyandang status sebagai anak yang pintar dan berprestasi. Lebih jauh dia akan merasakan adanya rasa puas ketika dengan mudah bisa masuk ke sekolah unggulan. Atau mungkin akan merasakan bangga ketika menerima penghargaan sebagai juara lomba. Atau bahkan akan bekerja di tempat kerja yang menjanjikan.</p>
<p>       Seorang guru akan merasa nyaman ketika dia melaksanakan tugasnya secara monoton  sebatas masuk kelas dan mentrasfer ilmu. Akan lebih nyaman ketika dia mampu melakukan berbagai inovasi pembelajaran yang lebih profesional. Seorang penjual bakso akan merasakan hidup lebih nyaman ketika dia berhasil membuka agennya di berbagai tempat dengan menu dan label yang sama. Seorang pejabat yang hidupnya berada dalam sebuah sistem yang tidak baik, mungkin merasa nyaman karena bisa menikmati tindak kecurangan, korupsi, mark up dengan aman. Akan tetapi jauh akan merasa lebih nyaman ketika dia mampu keluar dari sistem yang tidak baik, hidup bahagia bersama keluarga tanpa adanya ancaman dosa besar.</p>
<p>      Contoh yang satu ini merupakan pekerjaan rumah yang sangat berat dan sulit. Dibutuhkan kecerdasan spiritual yang luar biasa untuk bisa lulus dari perangkap sistem. Dibutuhkan sebuah keadaran jiwa yang tinggi untuk bisa mengakui kebenaran. Namun walaupun sangat berat dan sulit, segalanya bisa menjadi mungkin tatkala petunjuk dari Sang Maha Pemberi Rejeki hadir di relung hatinya. Selama dia punya I’tikad yang baik dia akan bisa keluar dari zona nyaman. Selama hubungan vertikal dengan Tuhannya tidak terlalu jauh, maka kenyamanan yang sesungguhnya bisa terealisasi.  </p>
<p>*** </p>
<p><strong>SUPANDI, S.Pd., M.M.</strong><br />
Guru SMP Negeri 2 Binangun Cilacap Jawa Tengah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/10/29/hidup-nyaman-di-luar-zona-nyaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CERPEN DENGAN AROMA EKSOTISME</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/04/27/cerpen-dengan-aroma-eksotisme/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/04/27/cerpen-dengan-aroma-eksotisme/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 15:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[(Pengantar Kumpulan Cerpen &#8220;Perempuan Bergaun Putih&#8221;) Oleh: Maman S. Mahayana Perjalanan cerpen Indonesia mutakhir, terutama selepas pemberlakuan otonomi daerah, tampak makin menunjukkan peta kultur keindonesiaan yang lebih beragam. Keberagaman itu seperti mencelat begitu saja ketika persoalan etnisitas diangkat dan menjadi tema cerita. Kehidupan perkotaan dengan kecenderungan tokoh-tokohnya yang teralienasi atau tak punya identitas kultural yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>(Pengantar Kumpulan Cerpen &#8220;Perempuan Bergaun Putih&#8221;)<br />
Oleh: Maman S. Mahayana</strong></p>
<p>Perjalanan cerpen Indonesia mutakhir, terutama selepas pemberlakuan otonomi daerah, tampak makin menunjukkan peta kultur keindonesiaan yang lebih beragam. Keberagaman itu seperti mencelat begitu saja ketika persoalan etnisitas diangkat dan menjadi tema cerita. Kehidupan perkotaan dengan kecenderungan tokoh-tokohnya yang teralienasi atau tak punya identitas kultural yang kerap ditawarkan para penulis yang lahir dan besar di tengah masyarakat perkotaan—metropolis, tidak lagi mendominasi tema cerpen yang bertebaran di berbagai majalah dan suratkabar Minggu.</p>
<p>Para epigon yang tersihir oleh narasi yang puitik, penuh aroma bunga dengan latar cerita yang bermain di sebuah tempat yang begitu abstrak yang berada entah di mana nun jauh di sana, terus saja menjalankan mesin produksinya. Mereka memang produktif, tetapi sekadar menghasilkan tumpukan karya yang penuh busa dan gelembung kata-kata. Substansi cerita diselimuti oleh balon raksasa yang bernama narasi puitik; sedap dan membuai, meski tidak persis sama dengan tukang obat di pasar tradisional.</p>
<p>Sementara itu bermunculan pula cerpenis yang coba mengusung semangat untuk tidak ikut-ikutan  mendewakan kisahan yang membuai namun tak punya pijakan kultural. Di belahan bumi yang lain, di wilayah Nusantara ini, sejumlah cerpenis coba bermain dalam dunia persekitarannya. Maka cerpen-cerpennya laksana merepresentasikan potret masyarakat tempat sastrawan yang bersangkutan itu dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkaran kehidupan sosial-budayanya.</p>
<p>Mereka punya rumah etnik dengan pekarangannya yang kaya problem sosiologis. Mereka punya ibu budaya yang melahirkan dan mengasuhnya hingga dewasa. Mereka tak hendak berkhianat pada ibu budayanya. Tak ingin jadi epigon mengusung dunia yang tidak dikenalnya, meski narasinya membuai. Mereka tak hendak pamer metafora jika yang dikisahkannya tak punya pijakan kultural. Dalam konteks itu, cerpen-cerpen mereka itu tidak hanya mewartakan persoalan kehidupan sosial-budaya dengan berbagai etnisitasnya, tetapi juga sekaligus melengkapi peta sastra Indonesia yang selama ini diperlakukan seolah-olah hanya milik kaum elitis.</p>
<p>Lihat saja karya-karya Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Abel Tasman, Marhalim Zaini, Olyrinson –sekadar menyebut beberapa—yang di belakangnya, ada sejarah masa lalu Kerajaan Melayu, di sekelilingnya ada problem masyarakat puaknya yang termarjinalkan, di depannya ada hasrat untuk membebaskan diri dari kepungan pesismisme. Lihat juga cerpen-cerpen Jamal T Suryanata yang mengungkap kegagalan ketika tarikan tradisi (Banjar) begitu kuat dan harapan untuk lepas dari keterkungkungan itu, tak mendapat respon dari keluarga dan masyarakatnya. Lain lagi dengan Oka Rusmini, Cok Sawitri atau Wayan Sunarta. Kultur Bali dengan Hinduismenya digunakan sebagai sumber inspirasi. Bali dengan segala dinamika sosio-budayanya menjadi sumber ilham; titik berangkat untuk coba menilai kembali hakikat mempertahankan tradisi dan ketidakmampuan menghindar perkembangan zaman dan perubahan sosial. Hal yang jauh sebelumnya dieksplorasi Korrie Layun Rampan atas kultur dan masyarakat Dayak sebagai ibu budayanya, atau Darman Munir atas kultur ninik-mamaknya.</p>
<p>Di ujung Sumatera, kita juga masih dapat berjumpa dengan Azhari, Fikar W Eda, D. Kemalawati, Silaiman Tripa, Nasir Ag dan sederet panjang sastrawan Aceh. Mereka –lewat karya-karyanya—coba menerjemahkan masa lalu keagungan Kesultanan Aceh, kekayaan kultur etnik, sejarah hitam peristiwa DOM (Daerah Operasi Militer) yang penuh bersimbah darah, dan bencana mahadahsyat Tsunami. Jadilah karya mereka sarat nostalgia, kekayaan budayanya, kegetiran atas tragedi kemanusiaan, dan kegelisahan yang bersimbah harapan. Keseluruhannya lalu termanifestasikan dalam karya yang khas mengungkap manusia Aceh yang multidimensi.</p>
<p>Kultur Jawa juga tak pernah sepi melahirkan sastrawannya yang tak berkhianat pada ibu budayanya. Umar Kayam, Linus Suryadi, Kuntowijoyo, Arwendo Atomowiloto, Suminto A Sayuti, Danarto, bahkan juga Darmanto Jatman, dan sederet panjang nama lain, adalah sebagian sastrawan Indonesia yang punya kesadaran kultural atas ibu budaya mereka. Beberapa cerpenis setelah generasi Ahmad Tohari dan Gus Mus dapat pula disebutkan, antara lain, Yanusa Nugroho dan Triyanto Triwikromo. Ahmad Tohari coba mengangkat wong cilik Jawa pinggiran, Gus Mus memotret kehidupan dunia pesantren lengkap dengan kisah-kisah para aulianya, Yanusa Nugroho coba merevitalisasi kembali tafsir dunia pewayangan, dan Trianto Triwikromo cukup piawai mengungkap mitos dan mitologi Jawa. Semuanya jadi begitu khas, eksotik, dan mempesona.</p>
<p>Begitulah, ketika sastrawan coba menawarkan latar ibu budayanya, kondisi masyarakat yang melingkarinya, dan dunia persekitarannya, maka ia menjelma menjadi potret yang penuh dengan aroma eksotisme. Untuk karya-karya yang seperti itu, usaha melakukan generalisasi hanya akan sampai pada kesia-siaan. Kekhasan itu hanya milik pengarangnya. Dengan begitu, karya-karya itu juga selalu akan menjanjikan greget dan rasa penasaran pembacanya.<br />
***</p>
<p>Antologi Perempuan Bergaun Putih karya Sawali Tuhusetya tidak terelakkan mesti dimasukkan ke dalam kotak eksotisme itu. Meski begitu, kekuatan yang bersumber pada kekhasan selalu akan membawa kegagalan ketika kita coba membuat generalisasi. Jadi, sastra yang pada dasarnya khas itu menjadi lebih khas, karena di sana ada unikum, ada eksotisme manakala kita menelisik lebih jauh segala ceruknya. Dalam konteks itu, Sawali Tuhusetya berhasil mengeksploitasi sisi lain dari kultur Jawa dengan segala mitos, mitologi, sistem kepercayaan, dan dunia pewayangan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang Jawa. Antologi yang berisi 19 cerpen ini laksana serangkaian potret  orang Jawa yang tak dapat melepaskan diri dari tradisi yang kukuh mencengkramnya. Maka, rasionalitas dan irasionalitas bisa menjadi peristiwa yang aneh mencekam—mengerikan, tetapi sekaligus juga menarik, bersahaja, dan kadangkala juga menciptakan kelucuan.</p>
<p>Pilihan Sawali Thusetya atas tema-tema yang diangkatnya seperti merepresentasikan sikap ambivalensinya atas tradisi dengan segala ketahayulannya, penolakan atas sisi gelap berbagai hal yang berbau klenik, dan sekaligus ketidakmampuannya untuk mengubur ingatan kolektif  itu. Jadi, di situlah permainan Sawali. Ia dibetot masa lalu tradisi budaya yang telah melahirkan dan membesarkannya, dan ia ingin melepaskan diri dari segala betotan itu. Tetapi, adanya kesadaran akan ketidakmampuannya melepaskan betotan itu, pada akhirnya, memaksa segalanya harus diterima dan dijalani begitu saja. Mengalir dan mengikuti ke mana arus itu akan membawanya ke muara. Maka, yang terjadi kemudian adalah coba merevitalisasi, menafsir ulang, memberi pemaknaan baru, melakukan aktualisasi, atau menerjemahkannya dalam bentuk transformasi. Jadilah kemudian sejumlah cerpen dengan aura eksotisme.</p>
<p>Sekadar contoh kasus, sebutlah misalnya, cerpen “Topeng”, “Dhawangan”, atau “Jagal Abilawa”. Dalam cerpen-cerpen itu, Tuhusetya menangkap sisi lain dari tradisi kesenian Jawa. Ia mengemas dan menempatkannya dalam konteks kekinian. Kisahannya jadi tampak realis. Tetapi manakala kisahan itu memasuki inti masalahnya, kisah-kisah surealis tiba-tiba saja seperti harus dihadirkan. Dan selepas itu, muncul kesadaran bahwa di sana ada sesuatu yang negatif, sesuatu yang seyogianya ditinggalkan, dan tetap menjadi kisah masa lalu. Jadilah rasionalitas yang kemudian menjadi irasionalitas itu, harus dikembalikan pada rasionalitas masyarakat masa kini.</p>
<p>Dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini, peristiwa dalam cerpen “Topeng”, “Dhawangan” atau “Jagal Abilawa” itu laksana mewartakan potret yang sesungguhnya tentang perilaku masyarakat yang kerap mencari pembenaran –legitimasi rasional—dengan menghadirkan sesuatu yang irasional. Pembangunan fisik, seperti jembatan, waduk, atau gedung-gedung bertingkat, mesti didahului dengan penanaman kepala kerbau atau upacara ritual yang bersumber dari berbagai mitos. Sejumlah menteri atau pejabat yang memelihara guru-guru spiritual, atau para selebritas yang dalam setiap tahun baru meminta para peramal meneropong karier mereka. Begitulah, batas rasionalitas dan irasionalitas menjadi begitu tipis. Dalam hal ini, mitos yang sebenarnya irasional itu, justru berfungsi sebagai sarana legitimasi,  mengukuhkan optimisme, sebagai jaminan keamanan dalam menjalani kehidupan di masa depan.</p>
<p>Sawali Tuhusetya memang tidak bercerita secara eksplisit mengenai mitos-mitos itu. Ia hanya bercerita tentang sisi lain dari tradisi kesenian di Jawa. Tetapi makna cerpen-cerpennya sesungguhnya coba melakukan gugatan, memberi penyadaran, bahwa dalam beberapa hal, mitos sering kali malah menjebak, menjerat, dan orang yang percaya itu, akan terperosok pada kubangan sistem nilai yang kemudian berkembangbiak menurut pikirannya sendiri.<br />
***</p>
<p>Secara tematis dengan pemanfaatan latar yang bermain dalam ruang lokalitas, Sawali Tuhusetya telah memilih wilayah yang aman. Ia bakal menonjol sendiri di antara bertebarannya cerpenis yang muncul belakangan ini. Meski begitu, titik tekan kepentingannya bukanlah di sana. Ada kekuatan lain yang tidak dimiliki cerpenis lain yang kecenderungannya sekadar mengandalkan kekuasaan bahasa, yaitu aura eksotisme yang hanya milik mereka yang akrab dengan dunianya. Kesenian Jawa dengan segala sistem kepercayaan, tata nilai, dan kisah-kisah supernaturalnya –dalam cerpen-cerpen yang terhimpun dalam antologi ini—tentu saja berada dalam wilayah kekuasaan Sawali. Maka, ia menjadi khas, unik. Tetapi ketika ia dikaitkan dengan persoalan masyarakat (Indonesia) yang dalam kenyataannya tetap berada di tengah garis demarkasi antara tradisi dan modernitas, cerpen-cerpen Sawali Tuhusetya laksana menyodorkan kritik sosial yang tajam.</p>
<p>Dalam semangat multikulturalisme ketika kita bersepakat mengangkat keindonesiaan dalam keberagamannya, dalam keberbedaannya sebagai kekayaan kultural, maka langkah yang dilakukan Sawali Tuhusetya sangat mungkin memberi kontribusi penting. Penting, tidak hanya bagi pemerkayaan tema khazanah sastra Indonesia, tetapi juga penting sebagai pintu masuk memahami kultur keindonesiaan. Dalam konteks itu pula, pembelajaran sastra di semua peringkat sekolah, mestinya dilakukan dengan semangat multikultural. Dan karya sastra dapat dimanfaatkan sebagai halaman depan memasuki rumah kebudayaan Indonesia. Sawali Tuhusetya dalam antologi cerpennya ini telah menyajikan sisi lain dari sebuah halaman rumah kebudayaan Indonesia dalam sajian yang menarik dan eksotik.<br />
Sungguh, saya bahagia membaca antologi cerpen ini!</p>
<p>Bojonggede, 26 Januari 2008<br />
Maman S Mahayana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/04/27/cerpen-dengan-aroma-eksotisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Problem Pengajaran Sastra di SMK *)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/02/20/problem-pengajaran-sastra-di-smk/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/02/20/problem-pengajaran-sastra-di-smk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 12:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[kritik sastra]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[pengajaran sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Teguh Trianton **) Hubungan bahasa dengan Sastra Indonesia pada dasarnya serupa dua sisi mata sekeping uang logam. Keduanya saling ketergantungan, tidak dapat dipisahkan atau berdiri sendiri. Sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dengan bahasa sebagai mediumnya Prodopo (1995). Bahasa sendiri tidaklah netral, sebab sebelum jadi anasir dari bangunan karya sastra, bahasa telah memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Teguh Trianton **)</strong></p>
<p><img class="alignleft" src="http://lh5.ggpht.com/_epolj7U39RY/SZ6bWUuN1PI/AAAAAAAAAB0/Rj-z6bfV6T4/s144/Teguh%20Trianton-00.jpg" alt="Teguh%20Trianton" width="100" height="144" />Hubungan bahasa dengan Sastra Indonesia pada dasarnya serupa dua sisi mata sekeping uang logam. Keduanya saling ketergantungan, tidak dapat dipisahkan atau berdiri sendiri. Sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dengan bahasa sebagai mediumnya Prodopo (1995). Bahasa sendiri tidaklah netral, sebab sebelum jadi anasir dari bangunan karya sastra, bahasa telah memiliki arti tersendiri (meaning) berdasarkan konvensi bahasa tinggkat pertama melalui pembacaan heuristik.</p>
<p>Sumbangan sastra sendiri terhadap khasanah bahasa Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Konvensi-konvensi sastra dengan sendirinya memberikan sokongan yang besar bagi perkembangan bahasa.<br />
Dalam pendidikan, nilai estetik dan putik sastra selama ini diyakini mampu memompa dan membangun karakter manusia. Bahkan mendiang Presiden Amerika Serikat John F Kenedy (JFK) begitu yakin bahwa sastra mampu meluruskan arah kebijakan politik yang bengkok. Sehingga politikus yang mati tertembak ini mengatakan, ‘Ketika Politik Bengkok Bengkok Sastra akan Meluruskanya’.</p>
<p>Begitu pentingnya sastra bagi kehidupan sehingga Seno Gumira Ajidarma (1997) kemudian mengafirmasi pernyataan JFK dengan membuat adagium ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam maka Sastralah yang akan Berbicara’. Sastrawan yang juga jurnalis ini tidak main-main dengan statementnya, kumpulan Cerpen ‘Saksi Mata’ (1994) terbitan Bentang Budaya Yogyakarta adalah ‘saksinya’. Seluruh cerpen dalam kumpulan ini merupakan ‘pembocoran’ fakta peristiwa kekerasan yang terjadi di Dili &#8211; Timor Lorosai saat itu.</p>
<p>Dalam banyak kesempatan sastra menjadi bahasan yang tak pernah kering, mulai ihwal pembabakan dalam sejarahnya, rendahnya kritik dan apresiasi, hingga polemik seputar tema serta mainstream arah pergerakan perkembangan sastra mutakhir. Pada tahun 2001, Sastrawan sekaligus Kritisi Sastra, Agus R Sarjono bahkan sempat menuturkan bahwa telah terjadi disorientasi dalam Pengajaran Sastra di sekolah (Sarjono, 2001). Diungkapkan, gagalnya pengajaran sastra di sekolah lebih banyak terjadi akibat kesalahan guru di sekolah yang telah mengingkari hakekat yang melandasi lahirnya pengajaran sastra ini. Oleh karena itu, sudah selayaknya pengajaran sastra harus mempertanyakan ulang seluruh landasan meng-ada-nya jika tidak ingin jatuh pada persoalan yang sama berupa gagalnya pengajaran sastra yang tak kunjung selesai (2001 : 14).</p>
<p>Selama ini, meski polemik, seminar dan lokakarya telah digelar bertahun-tahun untuk menyelesaikannya, namun pengajaran sastra sangat awam, hanya membahas strukturnya saja (intrinsik dan ekstrisik) secara awam. Sastra dianggap sebagai sesuatu yang lahir dari kekosongan budaya dan otonom, sehingga dianggap tidak ada intertekstualitasnya dengan teks-teks lain, diskursus lain.</p>
<p>Begitu pentingnya sastra, hingga perguruan tinggi membuka fakultas sastra. Di tiap daerah berdiri komunitas-komunitas sastra, kampus menjadi kantong-kantong ‘basis’ kehidupan sastra. Bahkan sistem pendidikan kita memasukan sastra sebagai muatan pelajaran dalam kurikulum. Meski masih mendompleng pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, namun setidaknya sastra diajarkan pada siswa di sekolah. Kondisi ini kemudian memaksa kita untuk menelan kegalauan. Kondisi pengajaran sastra masih mengecewakan , dan ini dirasakan oleh sastrawan, pemerhati atau kritisi sastra, masyarakat, siswa dan bahkan guru sendiri (Sarjono, 2001: 207-208).  Ini adalah kondisi pada tahun 1980-an, yang didasarkan pada sejumlah penelitian yang saat itu dilaksanakan. Namun kondisi ini agaknya masih terus berlangsung hingga sekarang. Bahkan kondisi pengajaran sastra di sekolah saat ini tak jauh berbeda atau justru kian memprihatinkan.</p>
<p>Dalam tulisan berbeda, Ahmadun Yosi Herfanda  (2007) menggambarkan kondisi terkini pengajaran sastra di sekolah. Dalam makalahnya diungkap bahwa pengajaran sastra di sekolah sampai saat ini belum berjalan secara maksimal. Indikator utama yang memperkuat sinyalemen itu adalah masih rendahnya apresiasi dan minat baca rata-rata siswa dan lulusan SMU terhadap karya sastra. Bahkan dalam aspek pengetahuan sastra saja, mereka umumnya juga masih sempit, tidak seluas pengetahuan mereka tentang dunia selebriti. Ironis, mereka, misalnya, umumnya lebih mengenal siapa Britney Spears atau Westlife di negeri Paman Sam daripada Ahmad Tohari di negeri sendiri.</p>
<p><strong>Kondisi Pengajaran Sastra di SMK</strong><br />
Diskursus dan kontestasi seputar pengajaran sastra yang selama ini menguat baik dalam forum seperti diskusi, atau seminar, dan muncul di media masa selalu mengambil contoh kondisi pada Sekolah Menengah Atas (baca: sekolah umum). Sementara jarang sekali, atau bahkan belum ada kritisi sastra dan pendidikan yang menyoroti problem pengajaran sastra di sekolah menengah kejuruan (SMK).</p>
<p>Pembangunan pendidikan ke depan diorientasikan pada upaya peningkatan jumlah sekolah kejuruan dengan perbandingan 70:30 dari jumlah SMA. Kondisi saat ini 60 : 40.  Artinya perbandingan jumlah siswa SMK juga akan lebih banyak dari siswa SMA/MA. Artinya, penggambaran-penggambaran tentang kondisi pengajaran sastra pada sekolah di Indonesia justru masih jauh dari kondisi yang sebenarnya. Dalam pandangan Saya, jika melihat perbandingan tersebut bukan tidak mungkin kondisi pengajaran sastra di sekolah di Indonesia justru lebih parah lagi.<br />
Pada SMK; sastra yang notabene bagian tak terpisahkan dari bahasa dan bangunan pendidikan budaya serta budi pekerti dan karakter ini, ternyata sama sekali tidak mendapatkan porsi. Tentu saja ini merupakan problem serius yang harus segera di selesaikan, jika pendidikan memang hendak diarahkan untuk membangun karakter bangsa dengan memanusiakan manusia. Mengingat dalam kurikulum SMK tahun 2004 yang saat ini masih dianut, mata pelajaran Bahasa Indonesia sepenuhnya diarahkan pada satu tujuan yaitu penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar untuk tujuan komunikasi di dunia kerja.</p>
<p>Memang dalam deskripsi pemelajaran Bahasa Indonesia SMK terdapat istilah penggunaan Bahasa Indah. Terminologi ini secara sadar dipilih untuk menggantikan istilah sastra. Hal ini disebabkan oleh dua alasan pokok yaitu pertama, untuk mencegah kesan ‘menakutkan’ bagi siswa dan guru terhadap sastra, dan kedua, istilah bahasa indah merupakan ancangan yang tepat untuk memasuki dunia sastra. Oleh karena itu bahasa indah seperti kata-kata mutiara, ungkapan-ungkapan, dan iklan tertentu mulai diperkenalkan pada peringkat Semenjana. Kemudian, pada peringkat Madya siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan, bentuk-bentuk bahasa indah, dan memahami maknanya. Hal ini dapat dicapai antara lain melalui kegiatan penugasan di dalam dan di luar modul. Dan pada peringkat Unggul para siswa dibimbing untuk menggunakan atau untuk memproduksi bahasa indah dalam berbagai kesempatan, seperti dalam membuat catatan harian, majalah dinding, berpantun, musikalisasi puisi, dan drama.<br />
Sayangnya, dari tiga tingkat penguasaan komunikasi; standar atau kualifikasi Semenjana, Madia dan Unggul, sesungguhnya pengajaran sastra hanya mendapat setengah dari sub kompetensi dasar yang harus dikuasai pada level Unggul, yaitu pada kompetensi dasar apresiasi teks seni.</p>
<p>Padahal secara keseluruhan dalam tiga standar kompetensi tersebut terdapat 32 kompetensi dasar yang harus dikuasai yang merupakan sub pokok bahasan. Masing terdiri atas 12 kompetensi dasar tingkat Semenjana, 14 kompetensi dasar di tingkat Madia, dan 5 kompetensi dasar di tingkat Unggul. Sementara pada SMA/MA, ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut; (1) Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. (2) Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. (3) Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. (4) Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. (5) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Dan (6) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia .</p>
<p><strong>Kunci Permasalahan</strong><br />
Dalam banyak tulisan, sejumlah kritikus sastra terlanjur menjatuhkan vonis bersalah pada guru sastra atas rendahnya apresiasi siswa terhadap karya sastra . Dalam pandangan kritisi sastra, kian merananya pengajaran sastra di sekolah lebih banyak disebabkan oleh dua faktor yang bermuara pada guru. Pertama, guru sebagai sosok pengajar dianggap kurang memiliki kompetensi dan basis pengetahuan sastra yang mumpuni. Kedua, guru dinilai tidak kreatif dalam proses pembelajaran (pengajaran) sastra di sekolah sehingga cenderung membosankan. Ini terjadi karena guru dinilai tidak memiliki strategi jitu.</p>
<p>Meski belum ada pemetaan terbaru, namun untuk dua penilaian tersebut, sesungguhnya Saya cenderung sepakat. Bahkan di lapangan, memang acap kali dijumpai seorang guru sastra (Bahasa dan Sastra Indonesia) yang enggan meng-upgrade pengetahuan mereka tentang seluk-beluk sastra kontemporer. Namun, yang menjadi permasalahan mendasar dalam pandangan Saya, sesungguhnya adalah sistem pendidikan kita. Kurikulum pendidikan yang saat ini dianut tidak pernah memberikan ruang gerak yang leluasa pada pembelajaran sastra. Orientasi pemerintah dalam pembangunan bidang pendidikan masih melenceng jauh dari hakekat tujuan pendidikan itu sendiri. Inilah yang sesungguhnya terjadi di lapangan.</p>
<p>Pendidikan diselenggarakan hanya untuk menciptakan tukang, dan mengejar angka partisipasi kasar (APK) semata . Sehingga mata pelajaran humaniora seperti sastra, bahasa, seni dan budaya hanya diletakan di pinggiran, dianak-tirikan, bahkan dianggap tidak berguna sama sekali. Pengetahuan tentang sastra termasuk apresiasi sastra, dinomorduakan dan dianggap hanya sebagai hiburan. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan guru bermalas-malasan dalam mengajarkan pengetahuan tentang sastra.</p>
<p>Dalam proses pembelajaran seorang guru dituntut untuk aktif, kreatif, inovatif dan menciptakan strategi jitu. Guru juga dituntut mengembangkan kompetensinya sehingga mampu mencitakan pembelajaran yang berkualitas dari segi isi (materi) maupun kemasannya. Dalam konteks pembelajaran sastra, tentu saja guru dituntut mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan, serta tidak ketinggalan jaman. Namun sayangnya, guru dihadapkan pada seperangkat silabus dan standar kompetensi lulusan (SKL) tertentu yang telah ‘dipatenkan’ secara nasional yang berkiblat pada dogma yang dianggap sangat sakral berupa seperangkat kurikulum. Inilah kunci pokok permasalahanya. Silabus dan SKL inilah yang menghegemoni kreatifitas guru sastra. Sehingga dengan sendirinya pembelajaran sastra di sekolah kian terpingginggirkan.</p>
<p>Sistem pendidikan di Indonesia acap kali memaksa sekolah sebagai penyelenggara pendidikan dan guru ujung tombak mengingkari hakekat pendidikan. Target perolehan nilai tertentu yang harus dicapai dengan standar penilaian ujian nasional, memicu pengingkaran tujuan pendidikan yang sebenarnya. Sehingga tak urung memaksa guru bahasa menomorduakan sastra. Yang timbul kemudian adalah pragmatisme pendidikan. Sehingga terjadi distorsi tujuan dan fungsi fundamental pendidikan. sekolah bukan lagi jalan liberasi dan humanisasi, tapi justru dibebani tujuan dan fungsi politis, ideologis, birokratis, korporatis, dan ekonomis. Sekolah telah menjadi praktek penindasan kaum kapitalis, dehumanisasi. Kondisi ini jauh-jauh hari yaitu pada tahun 1970 telah dikritik habis oleh Paulo Freire, dengan mengatakan pendidikan telah jadi bentuk kapitalisme yang licik (Escobar, dkk. Ed: 1998) .</p>
<p>Sekolah hanya menghasilkan tukang. Parahnya, kualitas akademik tukang-tukang ini hanya ditentukan oleh standar UN. Akibatnya terjadi penganak-tirian terhadap materi-materi tertentu, dan pelajaran-pelajaran tertentu yang tidak menunjang capaian ketuntasan belajar versi UN. Semua mata pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan ujian nasional dianggap tidak perlu. Duz, ujian nasional menjadi tujuan akhir pendidikan, sementara pendidikan karakter, kebebasan berpikir, budi pekerti, berkreasi, mengolah emosi, rasa dan perasaan tidak pernah dianggap penting. Semua termarginalkan oleh target pencapaian nilai ujian nasional (UN).</p>
<p>Barangkali kita sempat berpikir, bukankah sastra sebagai bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah juga termasuk salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Ya, namun materi atau soal-soal UN sama sekali tidak berhubungan dengan kemampuan apresiasi siswa. Meski di dalamnya terdapat beberapa item soal yang berhubungan dengan sastra, namun lagi-lagi soal tersebut hanya berupa hapalan dan ingatan. Tidak pernah berhubungan dengan kemampuan apresiasi, olah rasa, emosi dan perasaan. Apalagi menyoal ihwal sastra kontemporer.</p>
<p><strong>KTSP</strong><br />
Lalu bagaimana dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)? KTSP konon dibuat untuk memberikan ruang gerak yang sebebas-bebasnya pada pihak sekolah, secara otonom untuk menyusun strategi dan menetapkan target pendidikan yang hendak dicapai (Mulyasa, 2006).  KTSP menjanjikan pada guru untuk melakukan berbagai inovasi pendidikan. Namun dalam kenyataanya KTSP juga tidak mampu memberikan ruang yang cukup bagi guru untuk lebih inovatif dalam proses pembelajaran pada peserta didik. Hal ini terjadi karena lagi-lagi KTSP juga masih turunan dari kurikulum (KBK) yang telah memberikan batasan-batasan tertentu.</p>
<p>Dalam konteks pembelajaran sastra, KTSP sama sekali belum memberikan otonomi pada guru untuk memilih secara bebas dan bertanggungjawab materi-materi (karya-karya) mana yang sesungguhnya sesuai dengan perkembangan kondisi kontemporer. Target memenuhi standar ketuntasan UN sering kali mengalahkan hakekat KTSP. Disamping, memang KTSP tidak benar-benar memberikan ruang gerak yang bebas bagi guru dan sekolah. Alih-alih KTSP menjadi solusi atas kebuntuan dan probelm pembelajaran sastra di sekolah, ternyata malah setali tiga uang dengan KBK yang hanya berorientasi pada pencapaian nilai UN.</p>
<p><strong>Sebuah Tawaran</strong><br />
Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyatakan kesanggupan pemerintah untuk memenuhi besaran anggaran pendidikan hingga 20 persen dari APBN merupakan kabar baik, sekaligus tantangan dalam pengelolaan. Di luar kepentingan politis menjelang Pemilu 2009, pidato kenegaraan dan keterangan pemerintah atas rancangan undang-undang tentang APBN 2009 beserta nota keuangannya di depan rapat paripurna DPR RI tanggal 15 Agustus 2008 lalu menunjukan optimisme dan keseriusan pemerintah dalam pembangunan bidang pendidikan.</p>
<p>Namun demikian, orientasi pembangunan pendidikan harus jelas. Selama ini arah pembangunan pendidikan telah keluar jauh dari rel dan mengingkari hakekat pendidikan yang sesungguhnya. Ini terjadi terutama pada sekolah kejuruan (SMK/MAK) yang jelas-jelas diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di pasar industri.<br />
Ini terlihat jelas dalam penjabaran tujuan SMK. Sesuai dengan ketentuan dalam UU Sisdiknas, SMK adalah salah satu subsistem dari sistem pendidikan nasional. Tugas utama SMK adalah untuk mempersiapkan lulusannya memasuki dunia kerja, mengisi keperluan tenaga kerja terampil tingkat menengah. SMK diadakan untuk tujuan; (1) Memberi bekal pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai bekal bagi lulusannya untuk memasuki dunia kerja. (2) Memberi bekal pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar bagi lulusannya sebagai bekal dasar untuk mengembangkan kualitas dirinya secara berkelanjutan melalui pendiddikan formal, pendidikan nonformal, atau secara informal.</p>
<p>Inilah bentuk kurikulum yang dalam pandangan Darmaningtyas (2004) dianggap sebagai kurikulum yang menghilangkan rasa seni . Cikal bakal kurikulum semacam ini menurutnya telah ada sejak berlakunya Kurikulum 1994. Pendidikan diarahkan untuk penguasaan teknologi menjawab kebutuhan industri, sementara nilai-nilai seni sebagai bagian dari kodrat manusia dihapus begitu saja.</p>
<p>Kurikulum macam ini juga berpotensi mengalienasi manusia dari permasalahan kehidupan yang sebenarnya. Pendidikan tidak pernah mampu menjawab dan menyelesaikan permasalahan hidup yang sesungguhnya. Pendidikan baru mampu menjawab tantangan dan permasalahan dunia industri. Kondisi semacam ini telah terjadi sejak tahun 80-an. Rendra (1980) dalam sajaknya mengungkapka; Matahari terbit/ Fajar tiba/ Dan aku melihat delapan juta anak-anak tanpa pendidikan// Aku bertanya/ tetapi pertanyaan-pertanyaan/ membentur meja kekuasaan yang macet/ dan papan tulis-papan tulis pendidik/ yang terlepas dari persoalan kehidupan .</p>
<p>Barangkali kita lupa, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berangkat dan berkembang ide kreatif dan inovasi serta pembaharuan. Sehingga hanya orang-orang yang memiliki kreatifitaslah yang mampu menguasai teknologi. Kreatifitas merupakan bagian dari seni yang telah ada pada kedirian manusia. Sehingga bagaimana mungkin manusia akan menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan jika potensi seni yang ada dalam diri tidak pernah dilatih. Memang saat ini kurikulum kita telah mengakomodir pendidikan seni yaitu dengan kembalinya mata pelajaran seni dan budaya menjadi mata pelajaran di sekolah formal. Namun, lagi-lagi mata pelajaran ini harus termarginalkan oleh tujuan jangka pendek pendidikan kita berupa pragmatisme sempit tentang bagaimana meraih nilai minimal ketuntasan sesuai standar UN. Sehingga pelajaran seni dan budaya juga bernasib sama dengan pengajaran sastra.</p>
<p>Yang harus dilakukan saat ini adalah mengembalikan arah tujuan pendidikan pada hakekatnya. Hakekat pendidikan menurut ayat pedagogi kritik pendidikan Pennycook (2004) dalam Alwasilah (2008: 149-151) antara lain; pertama, Pendidikan memproduksi bukan hanya pengetahuan tapi juga Politik. Kedua, Etika seyogyanya dipahami sebagai sentralnya pendidikan, guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan tapi juga mengajarkan benar dan tidak benar dalam konteks budaya lokal serta perbandingan dengan budaya lain. Kemudian Pendidikan bertoleransi terhadap perbedaan pada siswa dan guru dalam segala aspek (ras, etnis, bahasa, gender, dll). Dengan kata lain, Pentingnya pendidikan multikulturalisme diajarkan di sekolah (Khisbiyah. Ed : 2004).</p>
<p>Yang terjadi di lapangan, biasanya guru dan sekolah menganggap kurikulum sejenis kitab suci yang harus dilaksakan, sehingga pendidikan berjalan kaku dan serba wajib. Kondisi semacam ini menuai kritik, pada ayat lain disebutkan bahwa Kurikulum tidak boleh dimaknai sebagai teks suci yang tidak memungkinkan lahirnya interpretasi dan perbedaan-perbedaan pada tataran pelaksananya. Pendidikan bukan hanya mengkritisi bentuk ilmu pengetahuan yang ada saja, tetapi meronta mencari, merumuskan dan menawarkan bentuk-bentuk baru ilmu pengetahuan. Pendidikan melakukan formulasi ulang terhadap klaim kebenaran yang telah berlaku untuk menemukan kebenaran versi dan interpretasi yang lebih parsial dan khusus dari ilmu pengetahuan, teknologi, kebenaran dan alasan kebernalaran. Pendidikan bukan hanya mewadahi wacana untuk mengkritisi kemapanan, tapi menawarkan visi ke depan. Dan Guru melihat dirinya sebagai ‘tranformative intellectual’ yaitu inteltual yang memiliki komitmen kuat untuk melakukan tranformasi sosial demi perbaikan.</p>
<p>Dengan merenungkan beberapa ayat pedagogi tersebut, Saya berharap institusi pendidikan (sekolah), pemerintah melalui departemen pendidikan, juga guru tidak ragu untuk merumuskan kembali atau merevitalisasi tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Tidak menganak-emaskan materi atau mata pelajaran dan ilmu pengetahuan tertentu dengan alasan karena tidak diujikan secara nasional (UN). Wallahu’alam</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Ajidarma, Seno Gumira. 1994. <em>Saksi Mata</em>. Yogyakarta: Bentang Budaya.</p>
<p>__________________ .1997. <em>Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara.</em> Yogyakarta: Bentang Budaya.</p>
<p>Alwasilah, A. Chaedar. 2008. <em>Filsafat Bahasa dan Pendidikan.</em> Bandung; Rosdakarya.</p>
<p>Anonim, <em>Pengajaran Sastra Harus Menyenangkan Kompas.</em> Senin, 18 Februari 2008</p>
<p>Darmaningtyas. 2004.<em> Pendidikan yang Memiskinkan</em>. Yogyakarta: Galang Perss.</p>
<p>Escobar, Miguel, Dkk, (Ed). 1998. <em>Dialog Bareng Paulo Freire, Sekolah Kapitalisme Yang Licik.</em>Yogyakarta: LkiS.</p>
<p>Herfanda, Ahmadun Yosi. 2007. <em>Menuju Format Baru Pengajaran Sastra, Makalah Seminar Pengajaran Bahasa dan Sastra dalam Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia 2007</em>, HMBSI FPBS UPI Bandung, 10 April 2007.<br />
__________________, <em>Pengajaran Sastra Berpusat pada Karya Sastra</em>. Harian Republika, Minggu, 29 April 2007.</p>
<p>Khisbiyah, Yayah, (Ed). 2004. <em>Pendidikan Apresiasi Seni; Wacana dan Praktik untuk Toleransi Pluralisme Budaya</em>. Surakarta: Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial, UMS.</p>
<p>Rahardjo, Toto, et, al. 2001. <em>Pendidikan Popular;Membangun Kesadaran Kritis.</em> Yogyakarta: Pustaka Pelajar kerjasama Read Book.</p>
<p>Rendra, W.S., 1980.<em> Potret Pembangunan dalam Puisi</em>. Jakarta: Lembaga Studi Pembangunan.</p>
<p>Sarjono, Agus R. 2001<em>. Sastra Dalam Empat Orba</em>. Yogyakarta: Bentang Budaya.</p>
<p>Mawardi, Bandung. ‘Pengajaran Sastra Kian Merana’. Solopos, Minggu, 20 Juli 2008.</p>
<p>Mulyasa, E, Dr. M.Pd., <em>Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.</em> PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006.</p>
<p>Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. <em>Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. </em>Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/02/20/problem-pengajaran-sastra-di-smk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan terhadap Cerpen-cerpen Sawali Tuhusetya *)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/02/18/catatan-terhadap-cerpen-cerpen-sawali-tuhusetya/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/02/18/catatan-terhadap-cerpen-cerpen-sawali-tuhusetya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 12:32:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[peluncuran kumcer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Kurnia Effendi Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Kurnia Effendi<br />
<img class="alignleft" src="http://sawali64.googlepages.com/kurniaeffendi.jpg" alt="kurniaeffendi" />Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan pengalaman luar biasa dengan membaca cerpen-cerpen panjang (yang seolah melawan kaidah istilahnya sendiri) karya Budi Darma.</p>
<p>Empat syarat (bisa kurang dan lebih) yang kemudian saya pegang itu adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Kemampuan berbahasa: syarat utama penulis, agar cukup komunikatif, syukur-syukur mengandung estetika</li>
<li>Logika fiksi: sekalipun fantastik ada “hukum” yang menjaga “kebenaran” kisah</li>
<li>Gaya (meliputi teknik penceritaan, struktur, plot, majas, sudut pandang, karakter atau penokohan, dialog, deskripsi, konflik, dll) dan bagaimana mengolah gagasan</li>
<li>Orisinalitas: dewasa ini sangat sulit mencapainya, karena setiap pengarang terdahulu akan memberikan pengaruh kepada kita.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><a rel="nofollow" target="_blank" title="dari-kumcer-kopdar-hingga-seminar" href="http://sawali.info/2008/05/18/dari-kumcer-kopdar-hingga-seminar/"><img class="alignleft" src="http://sawali64.googlepages.com/coverPBP2.jpg" alt="coverPBP" width="244" height="361" /></a>Dengan ketentuan itu saya terus berlatih. Sebagai orang yang hobi menulis, saya kadang-kadang juga gagal menulis cerpen. Jadi kepada siapa pun yang belum berhasil menulis cerpen, tak usah merasa cemas. Kesulitan itu menjadi hak para pengarang, sebaliknya, kemudahan adalah sebuah kewajiban yang harus dipenuhi calon penulis besar. Dengan, tentu saja, tak pernah putus asa dan mencintai pekerjaan menulis sebagai kebutuhan ruhani kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Mudah-mudahan buku Sawali ini adalah hasil kelahirannya yang pertama untuk menjangkau publik secara lebih luas, setelah sebelumnya hanya melalui suratkabar. Untuk kesempatan yang pertama, tidak tabu bila banyak hal yang kelak harus diperbaiki. Pengalaman pertama dalam peristiwa apapun senantiasa mendebarkan. Saya sendiri tak pernah malu mengatakan bahwa buku pertama saya, kumpulan puisi, mengandung banyak kesalahan, bukan hanya dari human error pengetikan, tetapi secara substansial. Tetapi, itulah jejak kita. Tak harus disesali kecuali dengan belajar lagi dan berkarya lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sisi tema dan segmentasi, saya pun sering tak sadar merasa bangga pernah menjadi penulis cerita remaja (Anita Cemerlang, Gadis, Hai, dll). Padahal Ahmad Shubanuddin Alwi, penyair Cirebon getol menggoda saya soal itu. Melihat sejarah yang ditempuh Sawali, saya jadi iri. Karena pada pengalaman perdananya justru langsung bertemu dengan publik dewasa yang lebih universal.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara terus terang, untuk memasuki realitas kehidupan, rentang pandangannya harus luas sekaligus terlibat. Saya kira Sawali lahir dan hidup di tengah-tengah peristiwa yang ditulisnya. Ketika Sawali mengatakan cerpen-cerpennya menyoroti kehidupan “wong cilik”, ini merupakan nilai yang membumi, lekat dengan keseharian orang banyak, dan hal-hal yang seharusnya menjadi karakter populasi terbanyak di negeri kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk sampai pada cerpen yang mengandung suara orang kecil, mengangkat tradisi lokal, kritik sosial, sekaligus unsur magis yang tampaknya digunakan sebagai metafora peristiwa, dibutuhkan wawasan yang cukup memadai. Saya kira Sawali cukup jeli dalam pengamatan, sementara orang lain mungkin perlu melakukan riset.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat Maman Mahayana, bahwa materi cerita yang berpijak pada kultur keindonesiaan (bahkan dalam wilayah regional) lebih berharga ketimbang kisahan yang mengedepankan busa puitika yang mungkin kosong dari hikmah manfaat, selain perayaan terhadap sesuatu yang antah-berantah; saya setuju. Namun akan lebih setuju apabila ada paduan harmoni antara isi yang sarat muatan kritik sosial dan tradisi lokal dengan kemasan bahasa yang turut memperkaya benak pembaca. Karena bagi penulis Asia dan Timur Tengah pada umumnya, sisi eksotika tidak hanya diciptakan dari materi melainkan juga dari ekspresi dan cara ungkapnya. Misalnya Kawabata, Rabindranath Tagore, Yukio Mishima, Kahlil Gibran (untuk menyebut beberapa nama).</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tuntunan syarat menulis cerpen itulah, kemudian saya sering mengamati karya orang lain dari sudut pandang subyektif. Pertama kali saya akan mencari kenikmatan membaca sejak paragraf pertama. Berbekal nasihat Seno Gumira untuk memosisikan diri lebih rendah dari bahan yang kita baca, tak akan muncul sikap apriori. Setelah usai satu cerpen, merenung untuk menangkap maksud pengarangnya, siasat apa yang digunakannya sehingga, misalnya, perhatian saya terbetot atau sebaliknya selalu kalis dan luput.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya ihwal dari kemampuan berbahasa adalah nilai komunikasinya. Ada seorang penulis dengan intelektual tinggi, materi yang cukup bernas untuk disampaikan, kerap tersandung pada urusan komunikasi. Sehingga perlu diulang-ulang dengan mencoba berbagai intonasi dan pemenggalan diksi untuk memperoleh informasi yang benar. Sawali telah terbebas dari urusan kerumitan, tetapi saya belum mengalami kenikmatan dalam membaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sering curiga, jangan-jangan saya yang terlalu kenes sehingga mengharapkan ada kosakata baru atau majas yang belum pernah digunakan pengarang lain dalam cerpen-cerpen Sawali. Justru yang tampak adalah pengulangan metafora. Tentu saja perhatian saya sudah beralih pada gaya: ketika plot dimainkan, ketika karakter tokoh meyakinkan, ketika dialog diciptakan, ketika teknik dikembangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin saya belum menemukan hal-hal baru. Boleh jadi secara stereotip, perilaku dan emosi manusia yang marginal (dari sisi ekonomi) pada tokoh-tokoh cerpen Sawali itu serupa dan senada karena tindihan persoalan hidup yang sama. Namun akan lebih kokoh sebuah cerita bila masing-masing tokoh punya karakter yang tidak digeneralisasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara <em>highlight </em>saya membaca dialog (yang diharapkan menyusun ketegangan) pada beberapa cerpen, terasa tidak efektif karena boleh dilewatkan. Padahal seharusnya dialog dan deskripsi akan saling membangun struktur cerita, saling mengisi. Paling tidak, cerpen dengan halaman yang terbatas harus semaksimal mungkin dipenuhi informasi tanpa harus cerewet. Di sini kita akan belajar mengenai ruang imajiner yang segera diisi oleh fantasi pembaca dengan gambaran peristiwa, bayangan dramatikal, dan ungkapan-ungkapan gemas, padahal tak tertulis (atau belum). Dengan keterlibatan total sang pembaca pada sebuah keberlangsungan cerita pendek, pengarang menjadi lebih ringan tugasnya dalam menarik-narik pembaca untuk konsentrasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sawali telah memiliki modal besar dari sisi kekuatan bahan cerita. Akar ini telah tertanam benar pada ranah budaya (lokal), sebelum menjadi buah sastra (cerpen) sebaiknya lewatilah pohon bahasa. Artinya, kita harus sadar, bahwa tulisan yang diubahkemasan menjadi buku akan berselancar lebih lebar ke wilayah non-Jawa. Kesederhanaan di satu sisi akan menjadi primadona, namun penjelajahan pada pengertian-pengertian yang lebih kompleks boleh diperhatikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal lain yang perlu diketengahkan dalam cerita pendek adalah konflik. Sejauh ini, konflik kerap ditunjukkan dalam bentuk pertengkaran dan perilaku fisikal. Padahal konflik batin, ambiguitas, paradoks antara norma dan praktiknya, juga menjadi bagian yang penting, terutama dalam khazanah sastra. Mengapa film House of The Spirit atau Legend of The Fall selalu berkesan mendalam dan ingin di waktu-waktu berikutnya ditonton kembali? Itu, menurut pendapat saya, karena berbeda dengan film action Hongkong. Barangkali dengan mempertimbangkan kenyataan itu, film action berjudul Hero dan Crouching Tiger Hidden Dragon dikemas lebih puitis.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam karya-karya (yang bakal menjadi klasik) itu ada endapan konflik yang kadang-kadang jadi multitafsir. Jika cerpen-cerpen Sawali tampak terlalu lugas, mungkin itu cara yang ditempuhnya dengan niat tulus. Artinya, tak ada paksaan untuk membuatnya sedikit misterius. Namun demikian di beberapa cerpen, tampak kekuatan surealisme, dan unsur ini menurut saya menarik dikembangkan dalam kesempatan berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai fragmen, cerpen-cerpen Sawali telah tampil sesuai fungsinya. Merupakan potret yang kita lihat dalam bingkai awal dan akhir. Selanjutnya tinggal memperkuat latar belakang dan penokohan, sehingga dengan memejamkan mata kita dapat membayangkan masing-masing pemeran untuk tidak tertukar atau kehilangan ciri khas.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat untuk Sawali Tuhusetya yang mulai hari ini akan berhadapan dengan pembaca yang lebih banyak dan sewaktu-waktu mengusik dengan sejumlah pertanyaan. Termasuk dalam forum diskusi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 16 Mei 2008<br />
PDS HB Jassin</p>
<p style="text-align: justify;">oOo</p>
<p style="text-align: justify;">*) Disajikan dalam acara Diskusi dan Peluncuran Kumpulan <em>Cerpen Perempuan Bergaun Putih </em>di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16 Mei 2008. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://sepanjangbraga.blogspot.com/">Kurnia Effendi</a>, seorang cerpenis dan novelis, tinggal di Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/02/18/catatan-terhadap-cerpen-cerpen-sawali-tuhusetya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membumikan Tuhan ala Dharmadi</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/02/12/membumikan-tuhan-ala-dharmadi/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/02/12/membumikan-tuhan-ala-dharmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 19:23:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sawali Tuhusetya Untuk ke sekian kalinya, Aula Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi, Kabupaten Kendal, menjadi saksi sebuah perhelatan sastra. Minggu, 24 Agustus 2008 (pukul 09.00-13.30), penyair Dharmadi (Purwokerto) hadir menemui publik sastra Kendal. Tak kurang, sekitar 100 peminat dan pencinta sastra dari kalangan guru, mahasiswa, siswa SMP/SMA/MAN, dan masyarakat umum mengapresiasi sekaligus membedah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Sawali Tuhusetya</p>
<p><img class="alignleft" src="http://sawali64.googlepages.com/buku1.jpg" alt="buku puisi" width="200" height="324" />Untuk ke sekian kalinya, Aula Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi, Kabupaten Kendal, menjadi saksi sebuah perhelatan sastra. Minggu, 24 Agustus 2008 (pukul 09.00-13.30), penyair Dharmadi (Purwokerto) hadir menemui publik sastra Kendal. Tak kurang, sekitar 100 peminat dan pencinta sastra dari kalangan guru, mahasiswa, siswa SMP/SMA/MAN, dan masyarakat umum mengapresiasi sekaligus membedah teks-teks puisi karya penyair kelahiran Semarang, 30 September 1948, itu. Secara khusus, penyair yang kini menetap di Tegal (Jateng) itu mendedahkan antalologi puisi terbarunya, “Jejak Sajak” yang diterbitkan secara mandiri.</p>
<p>Acara diawali dengan pembacaan dua buah puisi oleh awak Teater Semut Kendal yang sekaligus juga menjadi penjaga gawang acara. Fenny mampu berekspresi secara total dan musikal sehingga mengundang aplaus pengunjung. Agaknya, pembacaan puisi yang total dan ekspresif itulah yang mampu membawa audiens ke ruang imajinasi yang hendak disuguhkan oleh sang penyair. Buktinya, begitu diskusi dibuka, muncul banyak respon. Tak hanya dari kalangan guru. Siswa pun tak kalah bersemangat dalam mengapresiasi dan berdiskusi. Abdul Majid, salah seorang siswa SMA 1 Kendal, misalnya, langsung menghentak lewat sebuah “gugatan”, “Mengapa Pak Dharmadi masih saja selalu mengangkat tema-tema religius ke dalam puisi? Bukankah tema-tema itu sudah menjadi tema umum yang diangkat oleh para penyair?”</p>
<p>Yaps, sebuah “gugatan” yang mengejutkan sekaligus cerdas. Saya yang kebetulan didaulat menjadi moderator pun sempat terhenyak. Sebuah pertanyaan yang (nyaris) tak pernah terlintas dalam imajinasi dan pikiran saya. Menjawab “gugatan” semacam itu, Dharmadi dengan tangkas bereaksi bahwa setiap orang pada hakikatnya memiliki rasa berketuhanan.</p>
<p>“Saya sedang mencari Tuhan!” Demikian reaksi balik dari penyair berpenampilan kalem ini. “Sejak kecil saya belum pernah bisa membumikan Tuhan. Didikan keluarga belum sepenuhnya mampu menghidupkan nilai-nilai religius itu ke dalam jiwa dan batin saya. Demikian juga selama proses kepenyairan saya yang telah berlangung lebih dari 30 tahun. Selalu saja Tuhan mengusik kegelisahan saya.” Begitulah jawaban yang bisa saya tangkap dari sang penyair.</p>
<p>Simak saja larik-larik puisi berikut ini!</p>
<p>//Kamboja tumbuh di retak-retak sawah ladang/melintas-lintas gagak terbang/sungai meratapi diri/merasa kehilangan arti.//</p>
<p>//gunung kelabu/di puncaknya tak ada lagi/ langit biru//</p>
<p>//matahari tajam menatap bumi/tak henti-henti melelehkan api.//</p>
<p><strong>(Musim Kering)</strong></p>
<p><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas1.jpg" alt="diskusi" width="250" height="187" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas2.jpg" alt="pentas " width="250" height="187" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas3.jpg" alt="pentas1" width="250" height="187" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas4.jpg" alt="pentas 2" width="250" height="187" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas5.jpg" alt="diskusi2" width="250" height="187" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas6.jpg" alt="diskusi3" width="250" height="187" /></p>
<p>Memang tak ada kata-kata Tuhan atau kutipan ayat-ayat suci. Namun, berdasarkan pendalaman rasa dan olah intuisi sang penyair, ada persoalan religi yang sangat kuat terpancar di sana. Betapa Dharmadi sangat peka dan sekaligus meratapi nasib lingkungan hidup yang (nyaris) mengalami kematian. Gersang dan tandus. Betapa umat manusia selama ini, disadari atau tidak, selalu abai terhadap teks-teks Tuhan yang tampak jelas di depan mata.</p>
<p>Demikian juga dalam sajak “Rindu Bening Telaga Matamu”; //kurindu bening telaga mata-mu/untuk membasuh muka agar kembali mengenal/wajah asalku//</p>
<p>Sajak yang pendek, tapi sungguh cerdas dalam mengungkapkan kegelisahan batin sang penyair ketika menghadapi kegamangan hidup hingga lupa mengenal jatidirinya sendiri. Dalam kondisi semacam itu, sang penyair sangat rindu kepada Sang Pencipta.</p>
<p>Dari sisi stilistika, Dharmadi memang tak banyak menggunakan metafor-metafor yang “njlimet” dan ndakik-ndakik (bombastis). Ia berpuisi dengan polos dan jujur. Diksinya sederhana. Dharmadi juga tak tergoda untuk berbicara tentang tema dan narasi-narasi besar. Ia berbicara tentang persoalan-persoalan keseharian dalam upayanya membumikan Tuhan dalam makna yang sesungguhnya.</p>
<p>Walhasil, diskusi pun makin seru ketika banyak guru yang ingin menjadikan teks puisi Dharmadi sebagai salah satu rujukan dalam pembelajaran.</p>
<p>“Saya sangat suka dengan puisi Pak Dharmadi yang sederhana diksinya. Cocok untuk bahan ajar murid-murid saya yang selama ini hampir tak pernah paham apa itu puisi!” ujar Pak Subadi, guru SMP 3 Pegandon. Terbatasnya waktu, jelas tak memungkinkan Dharmadi untuk menjawab secara tuntas semua respon audiens. Namun, yang pasti, kehadiran Dharmadi makin menggeliatkan dinamika sastra di kota “Beribadat” ini.</p>
<p>Baik, Bung Dharmadi, semoga Sampeyan tetap eksis berkiprah untuk menghasilkan teks-teks puisi yang lebih “membumi”; yang berbicara secara polos dan jujur, untuk terus melakukan pencarian terhadap Tuhan. Semoga Tuhan yang sesungguhnya bisa Sampeyan temukan, sebab pada zaman yang “sakit” seperti sekarang, memang banyak bermunculan tuhan-tuhan baru yang tampil penuh kesombongan dan ingin disembah-sembah banyak orang.</p>
<p>Ok, salam kreatif dan salam budaya! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/02/12/membumikan-tuhan-ala-dharmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

