Tuesday, 17 November 2009 (17:21) | sastra | 60 views | 1 komentar

Oleh Wardjito Soeharso Korupsi itu bau kentut. Ibaratnya, di suatu ruangan berkumpul para petinggi negeri, tercium bau kentut busuk. Mereka tahu, ruangan bau kentut, tapi karena mereka juga tahu, yang kentut adalah mereka sendiri, ya apa boleh buat, bau kentut itu mereka nikmati saja. Begitulah, karena lebih banyak yang kentut, ruangan itu menjadi ruangan yang selalu berbau kentut. Bau kentut sudah menempel di seluruh bagian ruangan. Dinding, lantai, atap, pintu, jendela, meja, kursi, bahkan tubuh... (more...)
Wednesday, 23 September 2009 (04:58) | Fiksi, sastra | 57 views | 1 komentar
PUASA Mentari, Ramahtamahlah kau padaku di bumi Selinapkan terikmu Di balik pekat awan Agar kurasa segar nyaman Njalani ujian Tuhan Mentari, Hari ini kurangilah panasmu Nelan tenggorokan Ngisap cucur keringat di badan Agar ku tak dahaga berlebihan Lapar, dan…..pingsan! Mentari, Saat puasa seperti ini Kudamba selalu persahabatanmu. Pekalongan,1986-2009 SAJAK SEGELAS AIR PUTIH Segelas air putih Telah membinasa rasa dahaga Segelas air putih Sia-sia tertumpah Duh, diri terancam lemah, Yah! Pekalongan,1986-2009 DOA... (more...)
BURUNG MERAK ITU TERBANG TINGGI
Saturday, 8 August 2009 (04:50) | sastra | 28 views | 0 komentar

Oleh Wardjito Soeharso Burung Merak itu terbang tinggi Mengangkasa menembus awan Menuju singgasananya Di surga para pujangga. Burung Merak itu menjauh pergi kembali ke dekapan bumi Menikmati indahnya rasa cinta Tanah harapan bunda perwira. Burung Merak itu beri isyarat berpisah Lambaikan tangan, sunggingkan senyuman Mata cemerlang, bibir bergumam: “Selamat tinggal sastrawan-sastrawan muda. Aku pergi, tak berarti dunia jadi sepi”. Burung Merak itu terus melangkah Jauh, jauh, jauh…. Tampak... (more...)
Saturday, 4 July 2009 (23:48) | sastra | 54 views | 2 komentar

Surat dari hujan hujan melompat mendesah di daun telingaku kiranya memibisakan kabar tentang rindu tapi yang terucap malah kilat “tahukah? kau telah diduakan” tak sempat aku berucap tubuhku telah basah Purwokerto, 2009 Surat tengah hari aku seperti kehilanganmu sesaat sebelum aku benar-benar mengenalmu di antara tumpukan buku, dan kalender layu aku seperti menemukan wangi tubuhmu yang tertinggal di tumpukan baju yang menyihirku segera membasuh pikiranku Purwokerto, 2009 Surat malam hari malam... (more...)
Friday, 26 June 2009 (23:35) | sastra | 54 views | 4 komentar

Burung yang Bertengger Sendiri di Ranting Tua burung yang bertengger sendiri di ranting tua membisu. angin menghilang entah kemana senja kian menua. di pantai nelayan mulai pulang di kandang, sapi pun telah dipautkan langit menguak, purnama datang malu-malu katakan: apa warna hidup abadi sejarah, tambo, atau industri? burung yang bertengger sendiri di ranting tua menghitung jarak, yang lalu dan yang akan datang :sejarah, tambo, atau industri? (yang kutahu lewat sejarah kita hanya bisa menjarah lewat... (more...)
Friday, 26 June 2009 (22:50) | Refleksi, Sosok, sastra | 121 views | 2 komentar

Oleh: Sawali Tuhusetya Nama Ahmad Tohari sebagai seorang sastrawan sudah lama dikenal. Kreativitas dan produktivitasnya dalam berkarya sungguh layak dikagumi. Puluhan novel, ratusan cerpen, dan berbagai tulisan genre nonfiksi sudah lahir dari tangannya. Sosok Ahmad Tohari sesungguhnya tak hanya menarik dibicarakan berdasarkan karya-karyanya, tetapi juga kesantunan dan kesederhanaan gaya hidupnya. Ia dikenal sangat alergi terhadap simbol-simbol feodalisme dan kapitalisme yang konon sudah demikian... (more...)
Thursday, 11 June 2009 (08:00) | sastra | 52 views | 1 komentar
H I D U P percayalah! setelah hidup ini masih ada hidup lagi bahkan amat hakiki lagi abadi percayalah! kalau pada kehidupan ini perjalanan kita cuma bagai sekedar mimpi cari makan-minum, beranak-istri kemudian mati percayalah! pada kehidupan abadi nanti kita tak akan lagi pernah mati hidup kita, hidup selamanya abadi kita, abadi selamanya lantas, bahagiakah kita di sana? (semua tergantung perbekalan yang kita bawa) apa…? selain iman dan taqwa selalu kepadaNya tak ada! pekalongan, 91/09 DI ATAS... (more...)
Thursday, 14 May 2009 (12:15) | sastra | 46 views | 0 komentar
P A S R A H kepadaMu aku pasrah hai, Penguasa arah dari segala sesat dan maksiat kepadaMu aku pasrah hai, Pemilik hujan dari belenggu haus dan lapar berkepanjangan kepadaMu aku pasrah hai, Mahatahu dari setiap kebutatulian mata dan telingaku kepadaMu aku pasrah hai, Illahi dari awal hidup hingga akhir mati nanti pekalongan, 2007 DALAM DZIKIRKU Allah, dalam dzikirku masih patutkah aku menyebutnyebut asmaMu karna sering sujudku tak tepat waktu? Allah, dalam dzikirku masih bisakah aku memohon maafMu karna... (more...)
Lomba Menulis Skenario Film Remaja
Wednesday, 1 April 2009 (07:01) | Info, sastra | 357 views | 8 komentar

Beberapa waktu yang lalu, MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Kendal, mendapatkan surat tembusan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Jateng. Surat bertanggal 27 Maret 2009, Nomor: 437/1321 dengan jumlah lampiran satu berkas tentang Lomba Menulis Skenario Film Remaja yang ditandatangani Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Jateng ini ditujukan kepada Bupati/Walikota se-Jawa Tengah dengan tembusan yang ditujukan kepada: (1) Sekretaris Dinbudpar Prov. Jateng; (2) Kepala Bidang NBSF Dinbudpar... (more...)
Yuk, Ikut Lomba Penulisan Esai dan Cerpen AJB Bumiputera!
Friday, 27 March 2009 (11:53) | sastra | 191 views | 0 komentar

Oleh: Sawali Dalam rangka memeringati hari ulang tahunnya yang ke-97, Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 bekerjasama dengan Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam), mengundang masyarakat umum, terutama para pencinta sastra, untuk mengikuti “Lomba Penulisan Esai” dan “Lomba Penulisan Cerita Pendek (Cerpen).” Lomba Penulisan Esai Topik : “Asuransi dan Saya” Persyaratan Peserta : Para blogger di seluruh Indonesia; Memiliki blog pribadi selama minimal 3 bulan per Maret 2009; Melampirkan... (more...)
Tuesday, 17 March 2009 (10:15) | Fiksi, sastra | 104 views | 0 komentar
Puisi Zulmasri Laut laut itu, sejuta kenangan telah tercecer di sepanjang pantai ketika kuingat: pantaimu masih saja seperti dulu dalam landainya ombak yang selalu meninggalkan buih dal laut, selalu kurindu itu ketika tanganmu terentang menggapai kapal dan batas cakrawala malam, telah sama kita dengar bait lagu di antara gemuruh dan mendung yang bergayut lautmu beriak di antara pantai-pantai yang selalu saja mendeburkan ombak apa kabar angina yang dating dari barat? (tangismu masih disini), ketika... (more...)



