Friday, 24 August 2012 (14:12) | Puisi, sastra | 137 views | 0 komentar

Puisi Selendang Sulaiman Sajak Rindu - Ode Zainal Arifin Toha, alm.- Asbak hitam berukir itu Masih tercium abu rokok di bibirmu Dedak yang tersisa saling cumbu dalam tinta Terkenang wajahmu memuncak rindu Jauh kuterka dan kuraba Aura jidatmu, senyum ramahmu: kharismamu Semakin jauh jejak kujejaki Dan kata-kata titahmu sukar untuk kuhafal Kecuali satu: Kenang rindu Yogyakarta, Nopember 2008-2012 Lelaki Hujan -Terkenang Ayah- Dia sangat merindukan bulan Nasib ia peluk sebagai kembang Di dinding-dinding... (more...)
Thursday, 19 April 2012 (01:56) | Cerpen | 104 views | 1 komentar

Karya Marsus Banjarbarat Cerpenis Sumenep, Madura dan Penulis buku Bukan Perempuan (Grafindo, 2010), Lelaki yang Dibeli (Buku Litera, 2011), Riwayat Langgar (Arti Bumi Intaran, 2011). Ia menangis saat mendengar suara iba putrinya yang sudah sebelas tahun bekerja di Arab Saudi. Ia sangat terharu, tak menyangka kalau akhirnya bisa mendengar suara putri kesayangannya yang cantik itu. Dengan penuh rasa senang, Mursalam telah memperoleh kabar prihal keadaan anaknya di Arab Saudi. Ya, kabar Putri maskipun... (more...)
Friday, 23 December 2011 (16:35) | Cerpen, sastra | 66 views | 0 komentar

Senthir Cerpen Narwan S. Kelana SEBAGAI abdi pada seorang adipati, Ki Pardopo sangat tekun bekerja. Tidak pernah sekali saja ia membantah perintah. Maka wajar bila ia mendapat hadiah yang baginya sangat berlebihan. namun untuk seorang adipati hadiah tersebut sangatlah dianggap biasa saja. Ki Pardopo beserta anak dan istrinya diminta pindah dan tinggal di lingkungan kadipaten. Meskipun ia menganggap berlebihan, ia tak dapat menolak perintah tuannya. Meskipun berada di ujung taman belakang, rumah itu... (more...)
Saturday, 12 November 2011 (23:05) | Fiksi | 49 views | 0 komentar

Ir. Bambang Sukmadji Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak Semenjak beberapa bulan silam Sasmito ditinggal istrinya menghadap Illahi, lelaki muda itu terus saja mengunci mulutnya. Tiap hari, pagi pagi benar dia sudah menyapu halaman rumahnya yang cukup luas dari sampah plastik, daun mangga kering dan bungkus makanan anak anak yang dibuang begitu saja oleh anak anak tetangganya. Dia tetap mengunci mulut, sorot mata dan senyumnya. Namun belakangan ini, dia berubah sikapnya lantaran dia melihat semakin... (more...)
SRI RANGGAH RAJASA SANG AMURWABHUMI
Wednesday, 19 October 2011 (22:16) | Cerpen | 204 views | 1 komentar
Cerpen Narwan S. Kelana MATAHARI memancarkan cahaya tepat di atas ubun-ubun. Seorang pemuda dengan langkah cepat menuju utara. Di pinggangnya terselip keris tak ber-warangka, hanya dibungkus kain putih. Bungkusan itu sesekali dipegangnya. Ia memastikannya tidak jatuh, atau terlihat orang lain. Ken Arok , pemuda jelata itu, ingin segera sampai di Tumapel. Ingin ia mengabdi di Pakuwon Tumapel. Dia yakin sekali untuk mencapai cita-citanya -menjadi seorang raja- harus dimaulai dari bawah. Mulai menjadi... (more...)
Friday, 8 July 2011 (20:19) | Cerpen | 39 views | 0 komentar

Oleh Agus Pribadi —PNS Guru Biologi SMP N 4 Rembang Purbalingga Jawa Tengah— Kami adalah Pasukan Gili Rokel. Sekumpulan siswa-siswa, guru-guru dan karyawan, serta Komandan Gili Rokel yaitu Kepala Sekolah. Pasukan kami menghuni sebuah markas. Sekolah SMP milik pemerintah yang berada di pucuk pohon Cemara. Gili Rokel. Sebutan yang kami namai sendiri untuk sebuah jalan penghubung antara sebuah balaidesa dengan sekolah kami. Jalan berkelok naik turun sepanjang kurang lebih dua kilometer.... (more...)
Friday, 8 July 2011 (20:15) | Cerpen | 210 views | 0 komentar
Oleh : Rully Ferdiansyah Saat aku baru saja lulus kuliah dan sedang berada dalam masa-masa yang bergelora, penuh semangat, aku diterima menjadi wartawan mingguan, sebuah pekerjaan yang kelak akan mengubah cara pandangku selamanya. Sepanjang pengalamanku menjadi wartawan hanya seorang kakek tua bernama, Sokhari yang kisah hidupnya menurutku paling berkesan di hati dan akan kuingat selamanya. Jika keteguhan dan kesabaran adalah merupakan rangkaian gerakan sikap yang selalu berkelanjutan, tak berkesudahan,... (more...)
Belajar Ngaji di Pasar Tanah Abang
Monday, 18 April 2011 (06:52) | Cerpen | 124 views | 1 komentar

Oleh Rully Ferdiansyah —–Alumnus Politeknik Piksi Input Serang—– “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam menjalani hidup. Cukup dengan modal jujur dan prasangka baik, kedua modal itu sudah bisa mencukupi hidup, Allah akan menjamin segala kesejahteraan kehidupan kita,” Abah Mufassir Rustam adalah seorang lulusan pesantren salafiyah di Petir. Akan tetapi ketika ia pulang ke kampung halamannya, semua orang di kampungnya selalu menggunjingnya karena Rustam dianggap sebagai... (more...)
SURAT TERAKHIR UNTUK BU GURU DARSIH
Saturday, 19 March 2011 (03:53) | Fiksi | 302 views | 1 komentar
Oleh : Bambang Sukmadji —Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak JATENG— KADARWASIH berkali kali mengusap tas hitamnya yang ditebari debu-debu yang hinggap di kulit hitam tasnya, hingga kelihatan kumal. Lantaran debu debu itu masih saja terus beterbangan terbawa angin kemarau yang ditiupkan dari Gunung Slamet, setelah debu debu nakal itu menjelajahi hutan hutan pinus yang mulai tandus. Apalagi di tengah hari, saat matahari benar benar lurus di atas kepala, debu itu semakin liar menempel... (more...)
Saturday, 22 January 2011 (18:41) | Cerpen | 99 views | 0 komentar

Cerpen Marsus Banjarbarat* Arini baru sadar, ketika dia sedang membuka lembaran kalender, bahwa sebentar lagi—hanya tinggal menghitung jari saja perjalanan hidupnya telah memasuki pergantian tahun. Ya, dari tahun 2010 beranjak ke tahun 2011. Selama satu tahun ini, Arini hanya menjalani hidup yang tak pernah menemukan sesuatu yang terkesan dan dapat memberi warna lain dalam hidupnya. Apa lagi bisa merubah hidupnya yang setiap harinya hanya ke kampus kuliah, pulang kos seusai kuliah. Ya, hanya itu-itu... (more...)
Monday, 27 December 2010 (02:06) | Cerpen | 81 views | 0 komentar

Penulis : Ir. Bambang Sukmadji –Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak Jateng– Padang luas berlantai ilalang memantulkan sinar putih mentari yang berjarak seakan sepenggalah, tiada naungan sama sekali di padang itu. Lantaran pepohonan lebih senang tumbuh di tempat yang membawa kesejukan, ketimbang harus berlomba dengan manusia untuk menggerutui teriknya panas. Sementara debu debu jalang menggambar padang ilalang itu menjadi pengap dan mengaburkan pandangan mata. Namun di tengah padang tersebut,... (more...)
Sunday, 19 December 2010 (20:59) | Cerpen | 5,640 views | 8 komentar

Oleh Nusrotul Bariyah (Anggota Agupena Jawa Tengah) Engkaulah minyak atar Meskipun masih tersimpan Dalam kuntum yang akan mekar (Iqbal, Javid Nama)1 Buku bertajuk cinta. Ah, buku itu begitu menarik hatiku. Apakah mungkin karena aku yang tengah dilanda cinta, ataukah aku yang sangat ingin mengerti hakikat dan makna cinta, dan mampu mendefinisikannya secara tertata. Ataukah aku yang ingin memiliki cinta dan memaknainya sebagai kata kerja, bukan kata benda, ataukah, aku yang sangat ingin menjadi pemuja... (more...)

