<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena Jawa Tengah &#187; KTI</title>
	<atom:link href="http://agupenajateng.net/category/karya-ilmiah/kti/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupenajateng.net</link>
	<description>Membangun Semangat Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Apr 2012 08:14:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Peningkatan Keterampilan Mendengarkan (Bagian IV-Habis)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-iv-habis/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-iv-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 16:43:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KTI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[PENINGKATAN KETERAMPILAN MENDENGARKAN DALAM PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MDR BAGI SISWA KELAS VIII-C SMP NEGERI 15 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2005/2006 Oleh : Riyadi Guru SMP Negeri 15 Purworejo, Sekretaris Agupena Kabupaten Purworejo HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Data Pra Penelitian Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini sekaligus akan mengukur kinerja guru dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/05/riyadi-125x150.jpg" alt="riyadi" title="riyadi" width="125" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1267" />
<p style="text-align: center;"><strong>PENINGKATAN KETERAMPILAN MENDENGARKAN DALAM PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MDR BAGI SISWA KELAS VIII-C SMP NEGERI 15 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2005/2006</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Oleh : Riyadi<br />
Guru SMP Negeri 15 Purworejo, Sekretaris Agupena Kabupaten Purworejo</strong>
</p>
<p style="text-align: center;"><strong>HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong>1.	Data Pra Penelitian</strong></p>
<p>Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini sekaligus akan mengukur kinerja guru dalam proses pembelajaran. Sebelum melakukan tindakan, peneliti membagikan angket kepada seluruh siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo yang berjumlah 40 anak yang sekaligus merupakan populasi penelitian.</p>
<p>Hasil angket terhadap siswa kelas VIII-C yang dilakukan pada awal semester I tahun pelajaran 2005/2006 mengacu hal-hal sebagai berikut.</p>
<p>1.      Pada umumnya siswa kurang menyukai pembelajaran keterampilan mendengarkan, yaitu 29 siswa menyatakan tidak suka, 4 siswa menyatakan kurang suka, dan 7 siswa menyatakan suka.<br />
2.      Siswa yang mendapat nilai menulis di bawah 6,00 sejumlah 31 atau 76,26%.<br />
3.      Siswa yang termotivasi terhadap pembelajaran menyimak  7 siswa atau 33,83%.<br />
4.      Siswa yang mengalami kesulitan dalam membuat rangkuman hasil simakan sejumlah 35 atau 83,29%.<br />
5.      Pembelajaran selama semester II tahun pelajaran 2004/2005 yang kondusif pada kelas VII (kelas asal) ditunjukkan 14 dari 40 siswa atau 35%.<br />
6.      Guru yang mengajar dengan model pembelajaran MDR belum pernah ada atau 0%.</p>
<p>Berpedoman pada refleksi awal tersebut, maka dilaksanakan penelitian dalam 3 siklus di kelas yang menjadi sampel yaitu kelas VIII-C tahun pelajaran 2005/2006 dengan prosedur setiap siklus terdiri dari (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Observasi, dan (4) Refleksi.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Deskripsi Data Hasil Penelitian</strong></p>
<p>1.      Hasil Penelitian Siklus I<br />
a.  Perencanaan (RPP pada lampiran 1)<br />
b.  Pelaksanaan tindakan</p>
<p>Pada jam pelajaran yang telah direncanakan, peneliti telah siap di ruang laboratorium komputer LAN SMP Negeri 15 Purworejo, siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo memasuki ruang tersebut untuk mengikuti pembelajaran. Siswa menyimak sumber suara dari server sambil membuat rangkuman hasil simakan ke dalam komputer kloning masing-masing.</p>
<p>Pada akhir pembelajaran dilaksanakan kegiatan evaluasi berupa tes menyimak untuk siswa.  Tes menyimak 1 ( <sup>TM</sup><sup>1</sup> ) jumlah soal 5 dengan bobot skor setiap soal 2 skor maksimal 10 dan Tes menyimak 2 ( <sup>TM</sup><sup>2</sup> ) jumlah soal 5 dengan bobot skor setiap soal 3 skor maksimal 15. Total skor menyimak ( <sup>TM</sup> ) maksimal 25 dikonversikan dengan tabel penilaian yang telah diprogramkan dalam komputer. Nilai hasil tes menyimak dituangkan dalam Tabel 1.1 (lampiran  1 &#8211; a)  sedangkan skor hasil rangkuman siswa dituangkan dalam Tabel 1.2 (lampiran  1 &#8211; b).</p>
<p>Pada Instrumen Monitoring Observasi Kelas dapat diidentifikasi bahwa guru memberi motivasi kepada siswa dalam skala penilaian C yang berarti guru masih kurang memotivasi siswa. Hal ini memang terjadi terutama dalam tahap pendahuluan.</p>
<p>Metode penyajian juga masih dalam skala nilai C yang berarti guru masih mengikat siswa dengan membatasi kreativitas siswa untuk menentukan proses menyimak yang dipilihnya.</p>
<p>Partisipasi siswa masih dalam skala nilai C yang menunjukkan bahwa guru masih mendominasi proses pembelajaran tersebut.</p>
<p>Analisis proses tindakan peneliti, observasi, dan hasil tes pada siklus pertama siswa dapat digambarkan ini sebagai berikut.</p>
<p>a.  Berdasarkan Tabel 1.1 dari 39 siswa kelas VIII-C yang hadir ketika diadakan penelitian dan diberikan tes menyimak mendapat nilai tes menyimak di atas 60,0 sejumlah 4 siswa atau 10,2%; yang mendapat nilai 60,0 10 siswa atau 25,6%, dan yang mendapat nilai di bawah  60,0 sejumlah 25 siswa atau 64,1%. Rata-rata nilai tes menyimak pada siklus I 56,2.</p>
<p>b.  Berdasarkan Tabel 1.2 dari 39 siswa kelas VIII-C yang hadir ketika diadakan penelitian hasil rangkumannya berkategori amat baik 1 siswa, berkategori baik 24 siswa, berkategori cukup baik 13 siswa, dan berkategori kurang baik 1 siswa. Skor rata-rata hasil rangkuman siswa pada siklus I berkategori baik.</p>
<p>Keterampilan menyimak siswa berdasarkan hitungan meningkat 3,2%. Angka peningkatan keterampilan menyimak tersebut, telah membuktikan keberadaan model pembelajaran menyimak yang lebih berhasil daripada menggunakan metode yang masih tradisional, meskipun belum mencapai indikator kinerja sebagaimana yang direncanakan.</p>
<p><strong>2.      Hasil Penelitian Siklus II</strong></p>
<p>a.  Perencanaan</p>
<p>Pembelajaran Siklus II (Rencana Pembelajaran no. 02) berintikan penjelasan guru tentang tatacara menyimak dan membuat rangkuman, kegiatan menyimak, kegiatan membuat rangkuman, dan kegiatan tes keterampilan menyimak.</p>
<p>b.  Pelaksanaan</p>
<p>Pada jam pelajaran yang telah direncanakan, peneliti telah siap di ruang laboratorium komputer LAN SMP Negeri 15 Purworejo, siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo memasuki ruang tersebut untuk mengikuti pembelajaran. Siswa menyimak sumber suara dari server sambil membuat rangkuman hasil simakan ke dalam komputer kloning masing-masing.</p>
<p>Pada akhir pembelajaran dilaksanakan kegiatan evaluasi berupa tes menyimak untuk siswa.  Tes menyimak 1 ( <sup>TM</sup><sup>1</sup> ) jumlah soal 5 dengan bobot skor setiap soal 2 skor maksimal 10 dan Tes menyimak 2 ( <sup>TM</sup><sup>2</sup> ) jumlah soal 5 dengan bobot skor setiap soal 3 skor maksimal 15. Total skor menyimak ( <sup>TM</sup> ) maksimal 25 dikonversikan dengan tabel penilaian yang telah diprogramkan dalam komputer.  Nilai hasil tes menyimak dituangkan dalam Tabel 2.1 (lampiran 2-a) sedangkan skor hasil rangkuman siswa dituangkan dalam Tabel 2.2 (lampiran 2-b).</p>
<p>Pada Instrumen Monitoring Observasi Kelas dapat diidentifikasi bahwa guru memberi motivasi kepada siswa dalam skala penilaian C yang berarti guru masih kurang memotivasi siswa dalam tahap pelaksanaan.</p>
<p>Metode penyajian juga masih dalam skala nilai B yang berarti guru tidak lagi membatasi kreativitas siswa untuk menentukan proses kegiatan siswa.</p>
<p>Partisipasi siswa dalam skala nilai B yang menunjukkan bahwa siswa aktif mengikuti proses pembelajaran tersebut.</p>
<p>Analisis proses tindakan, observasi, dan hasil tes siswa dapat diperoleh gambaran hasil penelitian pada siklus kedua ini sebagai berikut:</p>
<p>a.  Dari 39 siswa kelas VIII-C yang hadir ketika diberikan tes menyimak dalam penelitian ini yang mendapat nilai di atas 60,0 sejumlah 16 atau 41,0%; yang mendapat nilai 60,0 sejumlah 11 siswa atau 28,2% dan yang mendapat nilai di bawah  6,00 sejumlah 12 siswa atau 30,8%. Rata-rata nilai hasil tes menyimak siklus kedua 60,9.</p>
<p>b.  Dari 39 siswa kelas VIII-C yang hadir ketika diadakan penelitian hasil rangkumannya berkategori amat baik 6 siswa, berkategori baik 23 siswa, berkategori cukup baik 10 siswa, dan berkategori kurang baik tidak ada. Skor rata-rata hasil rangkuman siswa pada siklus II berkategori baik.</p>
<p>Persentase peningkatan keterampilan menyimak berdasarkan perhitungan rata-rata nilai tes menyimak adalah 4,7%. Peningkatan ini telah menunjukkan adanya gejala meningkat dari proses tindakan pada siklus I. Karena proses belum mencapai indikator kinerja sebagaimana diharapkan pada indikator kinerja siklus II, maka peneliti melanjutkan penelitian dengan tindakan pada siklus III.</p>
<p><strong>3.      Hasil Penelitian Siklus III</strong></p>
<p>Pembelajaran Siklus IIII (Rencana Pembelajaran no. 03) berintikan penjelasan guru tentang tatacara menyimak dan membuat rangkuman, kegiatan menyimak, kegiatan membuat rangkuman, dan kegiatan tes keterampilan menyimak.</p>
<p>Pada jam pelajaran yang telah direncanakan, peneliti telah siap di ruang laboratorium komputer LAN SMP Negeri 15 Purworejo, siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo memasuki ruang tersebut untuk mengikuti pembelajaran. Siswa menyimak sumber suara dari server sambil membuat rangkuman hasil simakan ke dalam komputer kloning masing-masing.</p>
<p>Pada akhir pembelajaran dilaksanakan kegiatan evaluasi berupa tes menyimak untuk siswa dalam 3 bentuk TM.  Tes menyimak 1 ( <sup>TM</sup><sup>1</sup> ) jumlah soal 5 dengan bobot skor setiap soal 1 skor maksimal 5, tes menyimak 2 ( <sup>TM</sup><sup>2</sup> ) jumlah soal 5 dengan bobot skor setiap soal 2 skor maksimal 10 dan tes menyimak 3 ( <sup>TM</sup><sup>3</sup> ) jumlah soal 5 dengan bobot skor setiap soal 3 skor maksimal 15. Total skor menyimak ( <sup>TM</sup> ) maksimal 30 dikonversikan dengan tabel penilaian yang diprogram dalam komputer.  Nilai hasil tes menyimak dituangkan dalam Tabel 3.1 (lampiran 3-a) sedangkan skor hasil rangkuman siswa dituangkan dalam Tabel 3.2 (lampiran 3-b).</p>
<p>Pada Instrumen Monitoring Observasi Kelas dapat diidentifikasi bahwa guru memberi motivasi kepada siswa dalam skala penilaian B yang berarti guru berhasil memotivasi siswa dalam keseluruhan proses pembelajaran.</p>
<p>Metode penyajian juga dalam skala nilai B yang berarti guru berhasil memotivasi kreativitas siswa untuk mengikuti proses pembelajaran.</p>
<p>Partisipasi siswa masih dalam skala nilai A yang menunjukkan bahwa guru berhasil membangun proses pembelajaran tersebut.</p>
<p>Berdasarkan hasil proses tindakan, observasi, dan tes pada siklus ketiga dapat dianalisis sebagai berikut:</p>
<p>a.       Dari 39 siswa kelas VIII-C yang hadir ketika diadakan penelitian dan tes menyimak yang mendapat nilai menyimak di atas 60,0 sejumlah 29 atau 74,4%; yang mendapat nilai 60,0 sejumlah 3 siswa atau 7,7%, dan yang mendapat nilai di bawah  6,00 sejumlah 7 siswa atau 17,9%. Rata-rata nilai hasil tes menyimak siklus ketiga  65,6.</p>
<p>b.      Dari 39 siswa kelas VIII-C yang hadir ketika diadakan penelitian mendapat penelitian hasil rangkumannya berkategori amat baik 28 siswa, berkategori baik 8 siswa, berkategori cukup baik 5 siswa, dan berkategori kurang baik 0. Skor rata-rata hasil rangkuman siswa pada siklus I berkategori amat baik.</p>
<p>Peningkatan keterampilan menyimak dari siklus II ke siklus III mencapai 4,7%. Hasil ini sama dengan peningkatan dari siklus I ke siklus II. Di samping itu indicator kinerja siklus III telah tercapai yaitu dengan terbukti nilai rata-rata tes menyimak siswa mencapai 65,6 atau telah mencapai batas tuntas pembelajaran.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Pembahasan</strong></p>
<p><strong>1.    Uji Komparatif</strong></p>
<p>Rata-rata nilai hasil tes menyimak pada siklus I 56,2. Indikator kinerja siklus I menyatakan rata-rata nilai hasil tes menyimak 60,0. Hasil tindakan belum mencapai indikator yang diharapkan, tetapi telah menunjukkan gejala peningkatan dari keadaan semula yaitu rata-rata nilai tes menyimak 53.</p>
<p>Rata-rata nilai hasil tes menyimak pada siklus II 60,9. Indikator kinerja siklus I menyatakan rata-rata nilai hasil tes menyimak 62,5. Hasil tindakan belum mencapai indikator yang diharapkan, tetapi telah menunjukkan gejala peningkatan dari proses tindakan pada siklus I, yaitu rata-rata nilai tes menyimak 56,2.</p>
<p>Rata-rata nilai hasil tes menyimak pada siklus III 65,6. Indikator kinerja siklus I menyatakan rata-rata nilai hasil tes menyimak 65,0. Hasil tindakan telah mencapai indikator yang diharapkan, dan telah menunjukkan gejala peningkatan dari keadaan semula yaitu rata-rata nilai tes menyimak 53.</p>
<p>Rata-rata nilai hasil tes pada setiap siklus mengalami peningkatan yang besarnya relatif sama, yaitu dari siklus I ke siklus II meningkat 4,7% dan dari siklus II ke siklus III juga 4,7%. Rata-rata peningkatan hasil tes menyimak keseluruhan dari keadaan pra penelitian sampai paska penelitian adalah (3,2+4,7+4,7) = (12,6 / 3) X 100% = 4,2%    Jadi perkembangan keterampilan menyimak siswa dengan diadakannya proses tindakan melalui model pembelajaran MDR dengan media LAN mencapai 12,6 atau rata-rata 4,2%.</p>
<p><strong>2.  Analisis Deskriptif</strong></p>
<p>Tingkat perkembangan keterampilan menyimak siswa juga dapat dilihat dari hasil rangkumannya selama mengikuti kegiatan pembelajaran menyimak. Dalam hasil rangkuman  terdapat data berupa ejaan, struktur kalimat, kosa kata dan isi rangkuman.</p>
<p>Skor rata-rata hasil rangkuman siswa pada siklus I berkategori baik, skor rata-rata hasil rangkuman siswa pada siklus II juga berkategori baik,  skor rata-rata hasil rangkuman siswa pada siklus III berkategori amat baik. Hal ini menunjukkan adanya dukungan validitas proses tindakan melalui model pembelajaran MDR dengan penggunaan media LAN pada setiap siklus terdapat peningkatan keterampilan siswa dalam membuat rangkuman hasil simakan. Peningkatan ini juga mengindikasikan perubahan meningkatnya keterampilan siswa dalam menyimak/mendengarkan.</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center">***</p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>A. </strong><strong>Simpulan</strong></p>
<p>Berdasarkan uji komparatif dan analisis deskriptif dapat diidentifikasi bahwa rata-rata nilai hasil tes menyimak pada siklus I 56,2, rata-rata nilai hasil tes menyimak pada siklus II 60,9, dan rata-rata nilai hasil tes menyimak pada siklus III 65,6, maka dapat dikatakan bahwa hasil pembelajaran menyimak dengan model pembelajaran MDR senantiasa meningkat.</p>
<p>Peningkatan hasil tes menyimak sebesar rata-rata 4,2% dan perkembangan skor hasil rangkuman menjadi rata-rata amat baik, menunjukkan bahwa proses tindakan berjenjang melalui model pembelajaran MDR dengan penggunaan media LAN berhasil meningkatkan keterampilan menyimak siswa.</p>
<p>Dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran MDR dengan menggunakan media LAN dapat meningkatkan keterampilan menyimak pada sejumlah siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo.</p>
<p>Dengan demikian adanya hipotesis tindakan dalam penelitian ini yaitu melalui penerapan model pembelajaran MDR dengan menggunakan media LAN dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dapat meningkatkan keterampilan mendengarkan siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo tahun pelajaran 2005/2006 dapat diterima.</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Implikasi</strong></p>
<p>Simpulan hasil penelitian di atas sekaligus menjadi salah satu solusi atas permasalahan dalam penelitian ini yaitu Apakah melalui model pembelajaran MDR dapat meningkatkan keterampilan mendengarkan siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Purworejo.</p>
<p><strong>C. </strong><strong>Saran</strong></p>
<p>Dengan diterimanya hipotesis penelitian ini, maka perlu adanya tindakan-tindakan yang relevan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, perlu kiranya penulis sampaikan saran-saran sebagai berikut.</p>
<p>1.      Kepala sekolah hendaknya memberikan kesempatan kepada setiap guru untuk mengembangkan media pembelajaran.</p>
<p>2.      Setiap guru hendaknya menyikapi setiap adanya perubahan kurikulum dengan penuh semangat dan dedikasi.</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center">***</p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Ahmad, Mukhsin. 1984. <strong><em>Strategi Belajar Mengajar Keterampilan Berbahasa dan Mengapresiasi Sastra Indonesia</em></strong>. Jakarta : Direktorat Pendidikan Tinggi.</p>
<p>Akhadiah, Sabarti, dkk. 1991. <strong><em>Bahasa Indonesia</em></strong>.  Jakarta : Direktort Jenderal Pendidikan Tinggi.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;. 1992. <strong><em>Pembinaan Kemampuan Menyimak Bahasa Indonesia</em></strong>.  Jakarta : Erlangga.</p>
<p>Depdikbud. 1999. <strong><em>Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru</em></strong>. Jakarta : Depdikbud.</p>
<p>Depdiknas. 2002. <strong><em>Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning CTL)</em></strong>. Jakarta : Depdiknas.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;. 2003. <strong><em>Kurikulum Berbasis Kompetensi Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP &amp; MTs</em></strong>.  Jakarta : Depdiknas.</p>
<p>Kasmiyanto, Drs. dkk. 1997. <strong><em>Pengajaran Ketrampilan Berbahasa</em></strong>. Jakarta : Universitas Terbuka.</p>
<p>Soedarsono, FX. 1987. <strong><em>Pedoman Pelestarian Penelitian Tindakan Kelas</em></strong>. Yogyakarta : Dikti.</p>
<p>Supriyatna, Agus, Drs. dkk. 2002. <strong><em>Bahasa Indonesia; Materi Penataran Tertulis Penyegaran Guru SLTP</em></strong>. Bandung. Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis.</p>
<p>Tarigan, Djago. 1990. <strong><em>Pendidikan Bahasa Indonesia</em></strong>. Jakarta : Universitas Terbuka.</p>
<p>Tarigan, Henry Guntur. 1987. <strong><em>Teknik Pengajaran Ketrampilan Berbahasa</em></strong>. Bandung : Angkasa.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;. 1993. <strong><em>Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa</em></strong>. Bandung : Angkasa.</p>
<p>Widyamartaya, AL. 1997. <strong><em>Dasar-Dasar Menulis Karya Ilmiah</em></strong>. Jakarta : Grasindo.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-iv-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peningkatan Keterampilan Mendengarkan (Bagian III)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-iii/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 16:37:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KTI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[PENINGKATAN KETERAMPILAN MENDENGARKAN DALAM PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MDR BAGI SISWA KELAS VIII-C SMP NEGERI 15 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2005/2006 Oleh : Riyadi Guru SMP Negeri 15 Purworejo, Sekretaris Agupena Kabupaten Purworejo METODOLOGI PENELITIAN 1. Setting Penelitian 2. Waktu Penelitian Penelitian direncanakan berlangsung selama lima bulan dari bulan Agustus sampai dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/05/riyadi-125x150.jpg" alt="riyadi" title="riyadi" width="125" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1267" />
<p style="text-align: center;"><strong>PENINGKATAN KETERAMPILAN MENDENGARKAN DALAM PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MDR BAGI SISWA KELAS VIII-C SMP NEGERI 15 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2005/2006</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Oleh : Riyadi<br />
Guru SMP Negeri 15 Purworejo, Sekretaris Agupena Kabupaten Purworejo</strong>
</p>
<p style="text-align: center;"><strong>METODOLOGI PENELITIAN</strong></p>
<p><strong>1.	Setting Penelitian<br />
2.	Waktu Penelitian</strong><br />
Penelitian direncanakan berlangsung selama lima bulan dari bulan Agustus sampai dengan bulan Desember 2005. Pengambilan waktu tersebut bertepatan dengan pelaksanaan kegiatan belajar pada semester 1 tahun pelajaran 2005/2006 di SMP Negeri 15 Purworejo. Adapun secara rinci penggunaan waktu penelitian tersebut adalah sebagai berikut:<br />
a.	Pada bulan Agustus 2005 selama empat minggu menganalisis data pra penelitian sekaligus sebagai dasar penyusunan proposal penelitian.<br />
b.	Pada bulan September 2005 peneliti merencanakan sosialisasi kepada rekan-rekan guru di SMP Negeri 15 Purworejo bahwa peneliti akan mengadakan penelitian sekaligus klarifikasi permasalahan terutama berkaitan dengan kelas VIII-C yang dijadikan Subjek penelitian.<br />
c.	Pada bulan Oktober peneliti menyusun instrumen penelitian dan menetapkan instrumen yang akan digunakan untuk penelitian dilanjutkan dengan pengambilan data.<br />
d.	Pada bulan November 2005 peneliti mencari data dan melaksanakan tindakan. Kegiatan pengambilan data ini berlangsung selama tiga minggu sejak tanggal 14 November sampai dengan tanggal 30 November 2005. Penetapan waktu pengambilan data ini sedikit mundur dari rencana semula karena pada bulan Oktober kegiatan akademik di SMP Negeri 15 Purworejo tidak efektif, yaitu adanya kegiatan Pesantren Kilat dan kegiatan belajar mengajar pada bulan Puasa.</p>
<p>e.	Pada bulan Desember 2005 kegiatan difokuskan untuk menganalisis data dan sekaligus menyusun laporan. Kegiatan ini hanya dapat dilaksanakan pada bulan tersebut karena data baru diperoleh pada akhir bulan November 2005.</p>
<p>Peneliti berharap pada akhir bulan Desember 2005 telah selesai seluruh kegiatan penelitian maupun penyusunan laporannya.</p>
<p><strong>3.	Tempat Penelitian</strong><br />
Penelitian dilakukan di Kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo. Dipilihnya tempat ini karena peneliti mengajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di kelas tersebut, sehingga memudahkan pengambilan data pada saat pelaksanaan penelitian.</p>
<p><strong> 4.	Siklus</strong><br />
Siklus direncanakan dalam tiga siklus penelitian yang masing-masing siklus terdapat kegiatan  perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun pelaksanaan tindakan pada setiap siklus adalah sebagai berikut:<br />
a.	Siklus I	:  &#8211;  Siswa mendengarkan paragraf yang dibacakan oleh guru.<br />
-  Siswa membuat rangkuman isi paragraf/cerita.<br />
-  Hasil rangkuman siswa dikumpulkan.<br />
b.	Siklus II	:   &#8211;  Siswa mendengarkan paragraf yang dibacakan oleh guru.<br />
-  Siswa membuat rangkuman isi paragraf.<br />
-  Hasil rangkuman siswa dikumpulkan.<br />
-  Hasil rangkuman dinilai oleh guru.<br />
c.	Siklus III	:  &#8211;  Siswa mendengarkan paragraf/cerita yang dibacakan oleh guru.<br />
-  Siswa membuat rangkuman isi paragraf.<br />
-  Hasil rangkuman siswa dikumpulkan.<br />
-  Hasil rangkuman dinilai oleh guru.<br />
-  Hasil yang telah dinilai oleh guru dikembalikan kepada siswa untuk dimintakan tanda tangan orang tua masing-masing</p>
<p><strong>5.	Observer</strong><br />
Peneliti dan guru/teman sejawat dari peneliti. Guru/teman sejawat dibutuhkan oleh peneliti dalam rangka membantu pengisian lembar observasi. Hal ini peneliti lakukan karena peneliti kesulitan untuk mengisi lembar observasi pada saat yang bersamaan peneliti melaksanakan model pembelajaran MDR.</p>
<p><strong>1.	Subjek Penelitian</strong><br />
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo semester 1 tahun pelajaran 2005/2006. Warga belajar di kelas tersebut memiliki karakteristik yang sama atau hampir sama, yaitu kurang terampil dalam kegiatan mendengarkan. Hal itu, dapat dilihat dari ketuntasan belajar klasikalnya masih di bawah skor 60.</p>
<p><strong>2.	Sumber Data</strong><br />
<strong> a.	Siswa</strong><br />
Peneliti mencermati keterampilan siswa dalam menyimak dan membuat rangkuman. Data diperoleh dari nilai tes hasil rangkuman siswa.</p>
<p><strong> b.	Guru/Peneliti</strong><br />
Peneliti mencermati rancangan kegiatan pembelajaran menyimak. Data diperoleh dari hasil observasi selama pembelajaran MDR berlangsung.</p>
<p><strong>1.	Teknik dan Alat Pengumpulan Data</strong><br />
<strong> a.	Teknik Pengumpulan Data</strong></p>
<p><strong>1) Teknik Tes</strong><br />
Teknik tes dilakukan untuk mengukur keterampilan siswa dalam menyimak dan membuat rangkuman. Data diperoleh dari nilai tes hasil rangkuman siswa.</p>
<p><strong>2) Teknik Observasi</strong><br />
Teknik observai dilakukan untuk mencermati rancangan kegiatan pembelajaran menyimak. Data diperoleh dari hasil observasi selama pembelajaran MDR berlangsung.</p>
<p><strong>b.	Alat Pengumpulan Data</strong></p>
<p>1) Soal Tes<br />
Soal tes digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam menyimak dan membuat rangkuman.<br />
2)  Lembar Pengamatan<br />
Untuk mencermati pelaksanaan kegiatan pembelajaran MDR dipakai lembar  pengamatan yang siap diisi oleh observer.</p>
<p><strong>c.	Validasi Data</strong></p>
<p>1) 	Data Hasil Tes<br />
Data hasil tes berupa keterampilan siswa dalam menyimak dan membuat rangkuman. Pada setiap siklus terdapat soal tes yang berbeda. Setiap soal tes disusun dan dilengkapi dengan kisi-kisi penulisan soal.<br />
Untuk mengetahui tingkat keterbacaan, maka sebelum digunakan telah diteliti oleh guru teman sejawat peneliti.<br />
Dengan demikian instrumen tes itu sendiri telah valid dan siap digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam menyimak dan membuat rangkuman.</p>
<p>2) 	Data Observasi<br />
Untuk mengisi lembar pengamatan peneliti meminta bantuan kepada teman sejawat sesama guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri 15 Purworejo. Hal ini dilakukan agar data observasi yang diperoleh valid.</p>
<p><strong>d.	Teknik Analisis Data</strong><br />
1) Uji Komparatif<br />
Uji komparatif dilakukan pada rata-rata nilai hasil tes setiap siklus, yaitu rata-rata nilai hasil tes siklus I dibandingkan dengan rata-rata nilai hasil tes siklus II, rata-rata nilai hasil tes siklus II dibandingkan dengan rata-rata nilai hasil tes siklus III. Hal ini dilakukan untuk melihat perkembangan keterampilan siswa dalam menyimak dan membuat rangkuman.<br />
Di samping itu uji komparatif juga dilakukan dengan membandingkan rata-rata nilai hasil tes setiap siklus dengan indikator kinerja siklus yang bersangkutan.</p>
<p>2)  Analisis Deskriptif<br />
Tingkat keterampilan menyimak siswa kelas VIII-C  SMP Negeri 15 Purworejo juga dilihat dari hasil rangkumannya setelah mengikuti kegiatan pembelajaran menyimak. Dalam hasil rangkuman  terdapat data berupa ejaan, struktur kalimat, kosa kata dan isi rangkuman. Oleh karena itu dalam penelitian ini juga digunakan analisis deskriptif.</p>
<p>Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui skor hasil rangkuman siswa dalam empat kategori, yaitu amat baik, baik, kurang baik, atau tidak baik.</p>
<p><strong>e.	Indikator Kinerja</strong></p>
<p>Selama ini kegiatan pembelajaran menyimak cenderung menggunakan pola tradisional, yaitu menymak bacaan dari siswa yang ditunjuk kemudian diberikan pertanyaan lisan tentang isi bacaan. Pola konvensional ini tidak efektif karena siswa yang mendapat giliran membaca berikutnya sudah dapat menduga gagasan yang akan menjadi bahan pertanyaan guru, sehingga siswa kurang kreatif dalam berfikir. Tindakan yang direncanakan untuk mengatasi keadaan adalah menerapkan model pembelajaran yang tidak membelenggu kreativitas siswa, tidak menjerumuskan konsep berpikir siswa pada suatu rangkaian kalimat, dan dapat memberikan citraan yang kongkret, yaitu dengan model pembelajaran MDR.</p>
<p>Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahapan (siklus). Tiap tahapan dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Untuk mengetahui hasil penerapan model pembelajaran menyimak dengar – rangkum dapat dilihat dari hasil tulisan siswa pada akhir pembelajaran. Adapun indikator kinerja untuk untuk mengetahui tindakan yang tepat dalam menerapkan model pembelajaran MDR adalah sebagai berikut.</p>
<p>Adapun indikator kinerja pada setiap siklus penerapan model pembelajaran MDR sebagai berikut.<br />
1.    Indikator kinerja pada siklus I<br />
-	Rata-rata nilai hasil tes menyimak  60.<br />
-	Skor rata-rata nilai hasil rangkuman berkategori baik.<br />
Jika rata-rata nilai hasil tes kurang dari 60 dan skor hasil rangkuman pada siklus I kurang baik atau tidak baik, peneliti merencanakan tindakan pada siklus II.</p>
<p>2.  Indikator kinerja pada siklus II<br />
-	Rata-rata nilai hasil tes menyimak  62,5.<br />
-	Skor rata-rata nilai hasil rangkuman berkategori baik.<br />
Jika rata-rata nilai hasil tes kurang dari 62,5 dan skor hasil rangkuman pada siklus II kurang baik atau tidak baik, peneliti merencanakan tindakan pada siklus III.</p>
<p>3.  Indikator kinerja pada siklus III<br />
-	Rata-rata nilai hasil tes menyimak 65.<br />
-	Skor rata-rata nilai hasil rangkuman berkategori baik atau sangat baik.<br />
Pada siklus III diharapkan 75% siswa kelas VIII-C nilai hasil tes menyimak 65,0 atau lebih dan skor hasil rangkumannya berkategori baik atau amat baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peningkatan Keterampilan Mendengarkan (Bagian II)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-ii/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 16:28:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KTI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[PENINGKATAN KETERAMPILAN MENDENGARKAN DALAM PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MDR BAGI SISWA KELAS VIII-C SMP NEGERI 15 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2005/2006 Oleh : Riyadi Guru SMP Negeri 15 Purworejo, Sekretaris Agupena Kabupaten Purworejo LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Landasan Teori 1. Hakikat Menyimak Menyimak ialah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/05/riyadi-125x150.jpg" alt="riyadi" title="riyadi" width="125" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1267" />
<p style="text-align: center;"><strong>PENINGKATAN KETERAMPILAN MENDENGARKAN DALAM PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MDR BAGI SISWA KELAS VIII-C SMP NEGERI 15 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2005/2006</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Oleh : Riyadi<br />
Guru SMP Negeri 15 Purworejo, Sekretaris Agupena Kabupaten Purworejo </strong>
</p>
<p style="text-align: center;"><strong>LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS</strong></p>
<p><strong>A.	Landasan Teori</strong></p>
<p><strong> 1. Hakikat Menyimak</strong></p>
<p>Menyimak ialah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya (Sabarti Akhadiah, 1992). Dalam keterampilan menyimak, kemampuan menangkap dan memahami makna pesan baik yang tersurat maupun yang tersirat yang terkandung dalam bunyi, unsur kemampuan mengingat pesan, juga merupakan persyaratan yang harus dipenuhi. Dengan demikian menyimak dapat dibatasi sebagai suatu proses mendengarkan, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan (Anderson dalam H.G. Tarigan,   1987).</p>
<p>Menurut Tarigan (1993:19) menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi, untuk memperoleh informasi menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Sebagai aspek keterampilan berbahasa, mendengarkan merupakan suatu kegiatan yang diperlukan dalam berkomunikasi antaranggota masyarakat. Suatu komunikasi dikatakan berhasil apabila pesan yang disampaikan pembicara dapat dipahami dengan baik oleh pendengar sesuai dengan maksud pembicara tersebut. Dengan demikian mendengarkan merupakan  suatu keterampilan berbahasa yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia sehari-hari baik di lingkungan formal maupun informal.</p>
<p><strong>2. Pembelajaran Menyimak di SMP</strong></p>
<p>Salah satu standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP mengarahkan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa dan sastra Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis, serta menumbuhkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Standar kompetensi ini dimaksudkan agar siswa siap mengakses situasi multiglobal dan local yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan (Depdiknas, 2003:2).<br />
Adapun standar kompetensi dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP adalah :<br />
(1)	mampu mendengarkan dan memahami beragam wacana lisan;<br />
(2)	mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan;<br />
(3)	mampu membaca dan memahami suatu teks bacaan sastra dan nonsastra dengan kecepatan yang memadai;<br />
(4)	mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan; dan<br />
(5)	mampu mengapresiasi berbagai ragam sastra<br />
Dilihat dari aspek standar kompetensi, mendengarkan/menyimak merupakan aspek kemampuan  pertama yang harus dimiliki siswa SMP (Depdiknas, 2003:4).</p>
<p><strong>3.  Keterampilan Menyimak / Mendengarkan</strong><br />
Kompetensi dasar pada standar kompetensi kelas aspek menyimak / mendengarkan yang diharapkan dimiliki siswa SMP meliputi hal-hal :<br />
(1)	Kelas VII<br />
-	Kemampuan Berbahasa 	:    Mampu mendengarkan dan memahami ragam wacana lisan melalui menanggapi isi berita dan menyampaikan isi wawancara.<br />
-	Kemampuan Bersastra 	:   Mampu mendengarkan dan memahami serta menanggapi berbagai ragam  wacana lisan nonsastra : mendengarkan dan merefleksi pembacaan puisi dan memahami dongeng yang diperdengarkan.<br />
(2)	Kelas VIII<br />
-	Kemampuan Berbahasa 	:   Mampu mendengarkan dan memahami ragam wacana lisan : mengungkapkan kembali isi berita dari radio/televisi, dan menangggapi pembacaan laporan perjalanan.<br />
-	Kemampuan Bersastra 	:   Mampu mendengarkan dan memahami serta menanggapi berbagai ragam  wacana lisan sastra  melalui mendengarkan pembacaan kutipan novel terjemahan.<br />
(3)	Kelas IX<br />
-	Kemampuan Berbahasa 	:   Mampu mendengarkan dan memahami ragam wacana lisan melalui mendengarkan pidato/khotbah/ceramah dan mendengarkan dialog beberapa nara sumber dalam dialog interaktif di televisi/radio.<br />
-	Kemampuan Bersastra 	:   Mampu mendengarkan dan memahami serta menanggapi berbagai ragam  wacana lisan sastra: mendengarkan pembacaan kutipan novel tahun 20 – 30 – an.</p>
<p>Berdasarkan uraian kompetensi dasar pembelajaran keterampilan menyimak di SMP tersebut di atas dapat diasumsikan bahwa siswa SMP kelas VIII dapat ditingkatkan keterampilan menyimaknya melalui proses pembelajaran.</p>
<p><strong>4.  Model  Pembelajaran Menyimak</strong></p>
<p>Proses komunikasi berlangsung melalui tiga media, yaitu:<br />
a.	nonverbal (visual);<br />
b.	lisan (oral); dan<br />
c.	tulis (written).</p>
<p>Komunikasi lisan dan tulis sangat erat hubungannya, karena isi dan kegunaannya yang saling berkaitan. Dalam bahasa terdapat sejumlah satuan yang sekaligus membutuhkan  kedua-duanya, dan situasi-situasi lainnya yang embutuhkan dua bahkan tiga media yang telah diutarakan di muka. (Woolcatt dan Unuru dalam Tarigan, 1993: 19).</p>
<p>Menyimak sebagai salah satu kegiatan berbahasa merupakan keterampilan yang cukup mendasar dalam aktivitas berkomunikasi. Dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP sudah sering diajarkan menyimak cerita, menyimak berita, menyimak pengumuman, menyimak laporan, dan sebagainya, tetapi tidak semua siswa mampu menyimak dengan baik.<br />
Djago Tarigan (1980:50:51) mengemukakan beberapa alasan yang menyebabkan pengajaran menyimak dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia belum terlaksana dengan sempurna antara lain:<br />
a.	pelajaran menyimak relatif baru dinyatakan dalam kurikulum sekolah;<br />
b.	teori, prinsip dan generalisasi mengenai menyimak belum banyak diungkapkan;<br />
c.	pemahaman terhadap apa dan bagaimana menyimak itu masih minim;<br />
d.	buku teks, buku pegangan guru dalam pengajaran menyimak sangat langka;<br />
e.	guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia kurang berpengalaman dalam melaksanakan pengajaran menyimak;<br />
f.	bahan pengajaran menyimak sangat kurang;<br />
g.	guru-guru Bahasa dan sastra Indonesia belum terampil menyusun bahan pengajaran menyimak; dan<br />
h.	jumlah murid per kelas terlalu besar.</p>
<p>Menurut Djago Tarigan (1980:50:51) model pembelajaran menyimak yang dapat diterapkan untuk  siswa SMP antara lain sebagai berikut.<br />
(1)	Menyimak Dengar – Ucap (MDU)<br />
(2)	Menyimak Dengar – Tanya (MDTa)<br />
(3)	Menyimak Dengar – Cerita (MDC)<br />
(4)	Menyimak Dengar – Suruh (MDS)<br />
(5)	Menyimak Dengar – Teriak (MDTe)<br />
(6)	Menyimak Dengar – Bisik Berantai (MDBB)<br />
(7)	Menyimak Dengar – Rangkum (MDR)<br />
(8)	Menyimak Dengar – Lakukan (MDL)<br />
(9)	Menyimak Dengar – Simpati (MDSi)<br />
(10)	Menyimak Dengar – Kata Simon (MDKS)</p>
<p><strong>4. Model Pembelajaran MDR (Menyimak Dengar – Rangkum)</strong><br />
Yang dimaksud dengan model pembelajaran MDR adalah siswa menyimpulkan isi bahan simakan secara singkat. Siswa mencari intisari dari bahan yang dilisankan yang berupa paragraf-paragraf, cerita-cerita pendek, dan wacana-wacana singkat. Dalam model pembelajaran ini siswa dituntut untuk menyimak secara kritis, yaitu jenis menyimak intensif dengan maksud dan tujuan untuk mencapai tingkatan fakta-fakta yang diperlukan untuk membuat suatu kesimpulan (Anderson dalam H.G. Tarigan, 1984:22).</p>
<p>Menurut Anderson dalam H.G. Tarigan yang termasuk dalam menyimak kritis antara lain sebagai berikut:<br />
1.	memperhatikan kebiasaan-kebiasaan ujaran yang tepat, kata, pemakaian kata, dan unsur-unsur kalimat yang lainnya;<br />
2.	menyimak untuk menentukan alasan “mengapa”;<br />
3.	menyimak untuk membedakan antara fakta dan fantasi;<br />
4.	menyimak untuk menarik kesimpulan-kesimpulan;<br />
5.	menyimak untuk membuat keputusan-keputusan;<br />
6.	menyimak secara objektif dan penuh penilaian untuk menentukan keaslian, kebenaran, atau hadirnya prasangka dan ketidakadilan-ketidakadilan.</p>
<p><strong>B.	Kerangka Berpikir</strong></p>
<p>Kerangka teoritik di atas mengasumsikan bahwa model pembelajaran MDR merupakan alternatif yang dapat diterapkan untuk mencari solusi kegagalan pembelajaran aspek mendengarkan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, serta menumbuhkan iklim belajar pada siswa, karena pada tingkatan simak dengar – rangkum siswa tidak akan loyo dan malas. Dalam penelitian ini Model Pembelajaran MDR (Teori Anderson) diduga dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo. Dugaan peneliti proses pembelajaran di kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo akan menjadi menarik karena terdapat variasi penyampaian pembelajaran oleh guru, yaitu dengan model pembelajaran MDR.</p>
<p>Peneliti menduga sebagai berikut.<br />
1.	Keterampilan mendengarkan siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo tahun pelajaran 2005/2006 diduga dapat meningkat sekurang-kurangnya mencapai batas tuntas nilai 65%.<br />
2.	Peningkatan keterampilan mendengarkan tersebut, diduga dapat tercapai dengan diterapkannya model pembelajaran MDR.<br />
3.	Penerapan model pembelajaran MDR diduga dapat dilakukan secara berjenjang dalam putaran-putaran (siklus).</p>
<p>Penerapan model pembelajaran MDR dalam siklus penelitian sebagai berikut.<br />
<img src="http://sawal64.googlepages.com/siklus.GIF" alt="siklus" /></p>
<p>Keterangan:<br />
1.	Jika rata-rata nilai hasil rangkuman pada siklus I kurang dari 60 peneliti merencanakan tindakan pada siklus II.<br />
2.	Jika rata-rata nilai hasil rangkuman pada siklus II kurang dari 62,5 peneliti merencanakan tindakan pada siklus III.<br />
3.	Pada siklus III diharapkan 75% siswa kelas VIII-C nilai hasil rangkumannya 65,0 atau lebih.</p>
<p><strong>D.	Hipotesis Tindakan</strong></p>
<p>Berdasarkan kerangka teoretik dan kerangka berpikir di atas hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:<br />
Melalui Model Pembelajaran MDR dapat meningkatkan keterampilan mendengarkan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bagi siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo tahun pelajaran 2005/2006.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peningkatan Keterampilan Mendengarkan (Bagian I)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-i/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-i/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 16:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KTI]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[PTK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[PENINGKATAN KETERAMPILAN MENDENGARKAN DALAM PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MDR BAGI SISWA KELAS VIII-C SMP NEGERI 15 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2005/2006 Oleh : Riyadi Guru SMP Negeri 15 Purworejo, Sekretaris Agupena Kabupaten Purworejo ABSTRACT Riyadi, Classroom Action Research in form of educational research of language lesson and Indonesian Art at Junior High [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/05/riyadi-125x150.jpg" alt="riyadi" title="riyadi" width="125" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1267" />
<p style="text-align: center;"><strong>PENINGKATAN KETERAMPILAN MENDENGARKAN DALAM PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MDR BAGI SISWA KELAS VIII-C SMP NEGERI 15 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2005/2006</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Riyadi<br />
Guru SMP Negeri 15 Purworejo, Sekretaris Agupena Kabupaten Purworejo </p>
<p><strong>ABSTRACT</strong><br />
Riyadi, Classroom Action Research in form of educational research of language lesson and Indonesian Art at Junior High School Student. Specification of this research problem was listening study model with used local area networking (LAN). This matter was done because writer see the existence of language skill aspect which do not expand among all student specially in State Junior High School 15 Purworejo. Population of this research was the VIII class student of State Junior High School 15 Purworejo at 1 semester academic year 2005-2006, a number of 200 students owning same characteristic, that is less skillful in listening and permeating immeasurable information of oral discourse. The research sample was number of 39 students of VIII-C class of State Junior High School 15 Purworejo. The data was taken with the enquette, interview, test, observation and analyze electronic portofolio. This research action was apply listening to hear – embrace study model (MDR) with used local area networking (LAN) in class laboratory. This action was executed in three-cycle study with each procedure every cycle consisted of planning, action execution, observation and reflection. At third cycle, the result of student’s skill of VIII-C class is 65.6 and there is only 7 student getting value under 60.0. The conclusion of the writer is that listening study more precise uses the MDR model than traditional model.</p>
<p><strong>Keyword: the wonder of listening</strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong>a.	Latar Belakang Masalah</strong></p>
<p>Berdasarkan Kurikulum 2004 standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, standar kompetensi bahan kajian Bahasa Indonesia di SMP mencakup 5 (lima) aspek, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan apresiasi sastra (Depdiknas, 2003:3). Kelima aspek tersebut diharapkan mendapat porsi pembelajaran yang seimbang dan dilaksanakan secara terpadu.</p>
<p>Tanpa mengesampingkan peranan dan fungsi aspek yang lain, mendengarkan (menyimak) merupakan aspek keterampilan berbahasa yang potensial dalam penyerapan informasi dan pemahaman beragam wacana lisan. Mengingat pentingnya keterampilan mendengarkan bagi siswa SMP, maka guru harus mampu menyampaikan pembelajaran mendengarkan dengan model pembelajaran yang sesuai agar tujuan pembelajaran mendengarkan dapat tercapai secara optimal.</p>
<p>Data hasil observasi pada ulangan harian, dan ulangan umum semester 2 tahun pelajaran 2004/2005 lebih dari 75% siswa kelas VII SMP Negeri 15 Purworejo tidak mampu menyerap informasi lisan dengan baik. Nilai hasil menyimak pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia rata-rata 53. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar pada ulangan-ulangan harian maupun pada akhir semester mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya nilai aspek menyimak yang masih kurang dari batas tuntas minimal nilai yang direncanakan, yaitu 65,0.</p>
<p>Berdasarkan hasil pengamatan dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sehari-hari sebagian besar siswa kelas VII SMP Negeri 15 Purworejo yang pada tahun pelajaran 2005/2006 yang saat ini menduduki kelas VIII-C mengalami kesulitan dalam menyerap informasi dari berbagai bentuk wacana lisan. Kenyataan ini menguatkan asumsi bahwa pengajaran keterampilan mendengarkan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia memang terasa sulit.</p>
<p>Kesulitan tersebut terindikasi  dalam pembuatan rancangan pembelajaran, penetapan sumber belajar, maupun dalam penilaian hasil belajar aspek mendengarkan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Pembelajaran aspek mendengarkan perlu dikaji ulang, ditingkatkan, bahkan diperbaharui, agar tidak timbul dampak yang lebih buruk terhadap proses pembelajaran aspek-aspek Bahasa dan Sastra Indonesia yang lain.<br />
Mengingat pentingnya pembelajaran aspek mendengarkan bagi siswa SMP Negeri 15 Purworejo, perlu diadakan penelitian guna menemukan model pembelajaran aspek mendengarkan yang sesuai kepada siswa, terutama melatihkan bagaimana siswa menyimak secara intensif, sungguh-sungguh dan termotivasi untuk menemukan  informasi secara optimal.</p>
<p><strong>b.	Identifikasi Masalah</strong></p>
<p>Hasil pembelajaran Bahasa Indonesia aspek keterampilan mendengarkan pada kelas VII semester II tahun pelajaran 2004/2005 menguatkan adanya permasalahan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia aspek keterampilan mendengarkan di SMP Negeri 15 Purworejo, antara lain:</p>
<ol>
<li> Apakah pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia aspek keterampilan mendengarkan  belum optimal?</li>
<li> Adakah hubungan metode mengajar yang diterapkan guru dalam pembelajaran menyimak bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Purworejo dengan hasil pembelajaran aspek mendengarkan?</li>
<li> Adakah model pembelajaran menyimak yang tepat untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Purworejo?</li>
<li> Apakah dengan Model Pembelajaran Menyimak Dengar – Suruh (MDS) dapat meningkatkan hasil pembelajaran aspek mendengarkan?</li>
<li> Apakah melalui Model Pembelajaran Menyimak Dengar – Rangkum (MDR) dapat meningkatkan keterampilan mendengarkan bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Purworejo?</li>
</ol>
<p><strong>c.	Pembatasan Masalah</strong></p>
<p>Penelitian ini akan memberikan peningkatan keterampilan mendengarkan bagi siswa sekaligus menjadi realisasi solusi permasalahan dalam pembelajaran aspek mendengarkan pada kelas VIII SMP Negeri 15 Purworejo Tahun Pelajaran 2005/2006. Indikator keberhasilan akan tampak pada perolehan nilai siswa pada akhir semester yang diharapkan sebagian besar berkategori baik bahkan sangat baik, yaitu rata-rata nilai aspek mendengarkan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 65 atau lebih. Guru dan siswa akan semakin bergairah dalam menyikapi pembelajaran mendengarkan, yang akan terbukti pada banyaknya siswa yang senang melaksanakan aktivitas menyimak dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia maupun dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran yang lain.</p>
<p>Mengingat siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Purworejo tahun pelajaran 2005/2006 berjumlah 200 anak dan terbagi dalam 5 kelas, dan mengingat pula akan keterbatasan kesempatan dan banyaknya permasalahan, maka peneliti tidak mungkin melakukan penelitian secara menyeluruh.</p>
<p>Oleh karena itu, peneliti hanya akan meneliti variabel-variabel sebagai berikut.</p>
<ol>
<li> Model Pembelajaran Menyimak Dengar – Rangkum selanjutnya disebut dengan Model Pembelajaran MDR.</li>
<li> Peningkatan keterampilan mendengarkan dalam Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bagi siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo pada semester 1 tahun pelajaran 2005/2006.</li>
</ol>
<p>Dengan demikian fokus penelitian ini adalah   peningkatan keterampilan mendengarkan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bagi siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo Tahun Pelajaran 2005/2006 dengan tindakan secara berjenjang melalui model pembelajaran MDR. Sedangkan masalah yang diteliti dibatasi pada masalah yang kelima, yaitu : Apakah melalui Model Pembelajaran Menyimak Dengar – Rangkum (MDR) dapat meningkatkan keterampilan mendengarkan bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Purworejo.</p>
<p><strong>d.	Perumusan Masalah</strong></p>
<p>Hasil pengamatan sehari-hari dalam kegiatan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia memberikan asumsi bahwa sebagian besar siswa kelas VII SMP Negeri 15 Purworejo yang pada tahun pelajaran 2005/2006 ini menduduki kelas VIII-C mengalami kesulitan dalam menyerap informasi dari berbagai bentuk wacana lisan. Permasalahan ini memerlukan alternatif model pembelajaran menyimak, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.<br />
Apakah melalui Model Pembelajaran MDR dapat meningkatkan keterampilan mendengarkan bagi siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo tahun pelajaran 2005/2006?</p>
<p><strong>e. 	Tujuan Penelitian</strong></p>
<p>Berdasarkan permasalahan di atas tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan mendengarkan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bagi siswa kelas VIII-C SMP Negeri 15 Purworejo tahun pelajaran 2005/2006 dengan Model Pembelajaran MDR.</p>
<p><strong>f.	Manfaat Penelitian</strong></p>
<p>Penelitian ini merupakan pengembangan ilmu pendidikan khususnya pendidikan bahasa Indonesia yang hasilnya akan bermanfaat sebagai acuan dalam penelitian-penelitian selanjutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF DESKRIPSI DENGAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL (BAB IV DAN V)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-iv-dan-v/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-iv-dan-v/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 10:32:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KTI]]></category>
		<category><![CDATA[guru kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Izzul Hasanah, S.Pd BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) siklus I, dan siklus II. Hasil tes.  Hasil tes tindakan siklus I adalah keterampilan siswa menulis paragraf deskripsi dengan tema pasar malam dan siklus II berupa keterampilan siswa menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung. Hasil tes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Izzul Hasanah, S.Pd<br />
<img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/04/izz.jpeg" alt="izz" title="izz" width="200" height="294" class="alignleft size-full wp-image-1128" /></p>
<p align="center"><strong>BAB IV</strong></p>
<p align="center"><strong>HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>A. Hasil Penelitian </strong></p>
<p>Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) siklus I, dan siklus II. Hasil tes.  Hasil tes tindakan siklus I adalah keterampilan siswa menulis paragraf deskripsi dengan tema pasar malam dan siklus II berupa keterampilan siswa menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung. Hasil tes siklus I dan siklus II disajikan dalam bentuk data kuantitatif.</p>
<p><strong>1. Hasil Siklus I</strong></p>
<p>Siklus I merupakan tindakan awal penelitian tanpa menggunakan teknik pembelajaran. Tindakan siklus I ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah dibelajarkan kompetensi dasar menulis paragraf deskripsi pelaksanaan pembelajaran menulis pada siklus I terdiri atas data tes dan nontes. Hasil kedua data tersebut diuraikan secara rinci sebagai berikut.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>a. Hasil Tes</strong></p>
<p>Hasil tes menulis paragraf deskripsi siklus I ini dengan pembelajaran  yang dilaksanakan di dalam kelas serta tema untuk menulis paragraf deskripsi pun ditentukan oleh guru. Adapun kriteria penilaian pada siklus I ini meliputi 10 aspek</p>
<p>penilaian kemampuan menulis paragraf deskripsi di antaranya sebagai berikut.</p>
<p><strong>Tabel 4 Hasil Tes Kemampuan Menulis Paragraf  Deskripsi Siklus I </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="38" valign="top">No.</td>
<td width="110" valign="top">Keterangan</td>
<td width="77" valign="top">Interval</td>
<td width="79" valign="top">Frekuensi</td>
<td width="61" valign="top">Nilai</td>
<td width="68" valign="top">%</td>
<td width="103" valign="top">Keterangan</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="38" valign="top">1.</p>
<p>2.</p>
<p>3.</p>
<p>4.</p>
<p>5.</td>
<td width="110" valign="top">Sangat Baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat Kurang</td>
<td width="77" valign="top">
<p align="center">84-100</p>
<p align="center">73-  83</p>
<p align="center">62-  72</p>
<p align="center">51-  61</p>
<p align="center">0-  50</p>
</td>
<td width="79" valign="top">
<p align="center">-</p>
<p align="center">5</p>
<p align="center">21</p>
<p align="center">13</p>
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="61" valign="top">
<p align="center">-</p>
<p align="center">379</p>
<p align="center">1356</p>
<p align="center">782</p>
<p align="center">47</p>
</td>
<td width="68" valign="top">
<p align="center">-</p>
<p align="center">12,5 %</p>
<p align="center">32,5 %</p>
<p align="center">52,5 %</p>
<p align="center">2,5 %</p>
</td>
<td width="103" valign="top">40</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="188" valign="top">
<p align="center">Jumlah</p>
<p align="center">
</td>
<td width="79" valign="top">
<p align="center">40</p>
</td>
<td width="61" valign="top">2564</td>
<td width="68" valign="top">
<p align="center">100 %</p>
</td>
<td width="103" valign="top">
<p align="center">64,1</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="right">
<p>Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati dalam menulis paragraf deskripsi dapat dikatakan masih sangat kurang dan belum mencapai kriteria ketuntasan minimal . Hal ini terlihat dari rata-rata nilai klasikal yang mencapai 64,1 dan termasuk kategori cukup baik. Rincian data tersebut dijelaskan sebagai berikut. Dari jumlah keseluruhan 40 siswa, 5 di antaranya atau sebesar 12,5 % termasuk kategori baik dengan nilai antara 73-83. Kategori cukup dengan nilai antara 62-72 dicapai oleh 21 siswa atau sebesar 32,5 %. Sedangkan, kategori kurang dengan nilai 51-61 dicapai oleh 13 siswa atau sebesar 52,5 % . Sementara itu, nilai sangat kurang 1 siswa atau 2,5 % dengan nilai 0-50.</p>
<p><strong>b. Hasil Nontes </strong></p>
<p>Hasil penelitian nontes pada siklus I ini didapatkan dari hasil observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi (foto). Hasil selengkapnya dijelaskan pada uraian berikut ini.</p>
<p><strong>c. Hasil Observasi Siswa </strong></p>
<p>Obaservasi dilakukan selama proses pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Observasi dilakukan oleh guru mata pelajaran (peneliti). Dari observasi yang dilakukan dapat diketahui bahwa siswa benar-benar siap mengikuti pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Siswa yang memperhatikan dan merespons dengan antusias (bertanya, menanggapi, dan membuat catatan sebesar 85 % (34 siswa). Sedangkan, siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan melakukan kegiatan yang tidak perlu seperti :  berbicara sendiri, mondar-mandir, tiduran, dan membuat catatan yang tidak penting sebesar 15 % (6 siswa).</p>
<p>Dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, terdapat 85,4 % siswa yang menulis paragraf deskripsi dengan sikap yang baik, serius dan memberikan tanggapan yang baik terhadap tugas yang diberikan guru. Kemudian, diperoleh  14,6 % siswa melakukan kegiatan yang tidak perlu pada saat menulis paragraf deskripsi (mencontek, tiduran, bercanda, dan sebagainya). Namun, setelah mendapat teguran dan motivasi dari guru akhirnya mereka mau mengerjakan tugas yaitu membuat paragraf deskripsi.</p>
<p><strong>2. Hasil Siklus II </strong></p>
<p>Tindakan siklus II dilaksanakan karena hasil yang diperoleh pada siklus I masih belum memuaskan dan masih dalam kategori baik serta belum mencapai target pencapaian secara maksimal nilai yang telah ditentukan yaitu sebesar 70. Selain itu, masih terdapat tingkah laku siswa yang kurang mendukung dalam pembelajaran. Tindakan siklus II ini dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada pada siklus I dan berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf deskripsi sehingga dapat mencapai target yang telah ditentukan.</p>
<p>Penelitian siklus II ini dilakukan dengan rencana dan persiapan yang lebih matang dibandingkan dengan siklus I. Dengan adanya perbaikan-perbaikan dalam pembelajaran di siklus II ini, maka hasil penelitian yang berupa nilai tes kemampuan menulis paragraf deskripsi mengalami peningkatan dari kategori baik ke kategori lebih baik lagi. Meningkatnya nilai tes ini diikuti pula dengan adanya perubahan perilaku siswa. Siswa menjadi aktif dan kreatif serta lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran yang menggunakan teknik objek langsung. Hasil selengkapanya mengenai tes dan nontes pada siklus II diuraikan terinci berikut ini.</p>
<p><strong>a. Hasil Tes </strong></p>
<p>Hasil tes menulis paragraf deskripsi pada siklus II ini menggunakan teknik objek langsung yang disertai dengan upaya perbaikan pembelajaran. Dalam teknik objek langsung ada 5 objek dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi yaitu : (1) ruang bengkel mesin, (2) ruang bengkel listrik, (3) ruang broadcast, (4) ruang 26, (5) lingkungan SMK Tunas Harapan Pati. Kriteria penilaian dalam siklus II ini masih tetap sama dengan siklus I yang meliputi 10 aspek penilaian yaitu: (1) kesesuaian antara judul dengan isi; (2) diksi atau pemilihan kata; (3) ejaan dan tanda baca; (4) kerapian tulisan; (5) kohesi dan koherensi; (6) imajinasi; (7) keterlibatan pancaindera; (8) menunjukkan objek yang ditulis; (9) memusatkan uraian pada objek yang ditulis; (10) kesan hidup.</p>
<p>Secara umum, hasil tes menulis paragraf deskripsi pada siklus II dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tabel 5 Hasil Tes Kemampuan Menulis Paragraf  Deskripsi Siklus II </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="38" valign="top">No.</td>
<td width="110" valign="top">Keterangan</td>
<td width="77" valign="top">Interval</td>
<td width="79" valign="top">Frekuensi</td>
<td width="61" valign="top">Nilai</td>
<td width="68" valign="top">%</td>
<td width="103" valign="top">Keterangan</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" width="38" valign="top">1.</p>
<p>2.</p>
<p>3.</p>
<p>4.</p>
<p>5.</td>
<td width="110" valign="top">Sangat Baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat Kurang</td>
<td width="77" valign="top">
<p align="center">84-100</p>
<p align="center">73-  83</p>
<p align="center">62-  72</p>
<p align="center">51-  61</p>
<p align="center">0 -  50</p>
</td>
<td width="79" valign="top">
<p align="center">8</p>
<p align="center">22</p>
<p align="center">10</p>
</td>
<td width="61" valign="top">
<p align="center">678</p>
<p align="center">1647</p>
<p align="center">646</p>
<p align="center">-</p>
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="68" valign="top">
<p align="center">20 %</p>
<p align="center">55 %</p>
<p align="center">25 %</p>
<p align="center">-</p>
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="103" valign="top"><strong>!Unexpected End of Formula</strong></p>
<p>40</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="188" valign="top">
<p align="center">Jumlah</p>
</td>
<td width="79" valign="top">
<p align="center">40</p>
</td>
<td width="61" valign="top">
<p align="center">2971</p>
</td>
<td width="68" valign="top">
<p align="center">100 %</p>
</td>
<td width="103" valign="top">
<p align="center">74,28</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati dalam menulis paragraf deskripsi dapat dikatakan sudah baik dan ada peningkatan dari siklus I. Hal ini terlihat dari rata-rata nilai klasikal yang mencapai 74,28 dan termasuk kategori baik. Rincian data tersebut dijelaskan sebagai berikut. Dari jumlah keseluruhan 40 siswa, 8 di antaranya sebesar 20 % termasuk kategori sangat baik dengan nilai antara 84-100. Kategori baik dengan nilai antara 73-83 dicapai oleh 22 siswa sebesar 55 %. Sedangkan, kategori cukup dengan nilai 62-72 dicapai oleh 10 siswa sebesar 25 % .</p>
<p><strong>b. Hasil Nontes </strong></p>
<p>Hasil nontes pada siklus II ini didapatkan dari hasil observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi (foto). Keempat hasil penelitian nontes tersebut dijelaskan pada uraian berikut ini.</p>
<p><strong>c. Hasil Observasi</strong></p>
<p>Pada siklus II ini terdapat perilaku siswa yang terdeskripsi melalui kegiatan observasi yang dilakukan peneliti. Selama membelajarkan menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung, guru (peneliti) merasakan ada perubahan perilaku siswa. Siswa yang sebagian besar pada siklus I tidak mengikuti pembelajaran dengan baik, pada siklus II ini sebagian besar sudah mulai mengikuti dan menikmati pembelajaran yang diterapkan guru (peneliti). Siswa sudah memberikan respon yang positif terhadap kegiatan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat menulis paragraf deskripsi dan menangkap materi pembelajaran yang diajarkan sekaligus menangkap makna dari pembelajaran itu bagi kehidupan mereka sehari-hari.</p>
<p>Berdasarkan hasil observasi, dapat diketahui bahwa siswa yang siap mengikuti pembelajaran menulis paragraf deskripsi sebesar  95  % dan 5  % siswa cukup siap untuk mengikuti pembelajaran.</p>
<p align="center"><strong>Grafik Peningkatan Menulis Paragraf Deskripsi</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://lh6.ggpht.com/_epolj7U39RY/Sdx3-Hb9C-I/AAAAAAAAAKU/1U2GSst8QTQ/grafik.png" alt="grafik" width="590" /></p>
<p>Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis paragraf deskripsi merupakan prestasi siswa yang patut dibanggakan. Sebelum diberlakukan tidakan siklus II kemampuan siswa masih sangat kurang, jadi guru (peneliti) menggunakan teknik objek langsung dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi pada siklus II dan diharapkan dengan teknik tersebut dapat terjadi peningkatan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknik objek langsung yang diterapkan pada pembelajaran menulis paragraf deskripsi dapat membantu siswa dalam menulis paragraf deskripsi lebih baik. Selain itu, kreativitas dan kerjasama siswa juga semakin baik.</p>
<p>Diterapakan teknik objek langsung dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati terbukti mampu membantu, efektivitas, dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran. Adanya penerapan teknik objek langsung ini dengan tujuan agar siswa mengalami proses pembelajaran yang tidak menjenuhkan. Lain halnya yang telah diajarkan oleh guru selama ini yaitu dengan cara mengajar guru yang monoton dan selalu belajar di dalam kelas saja sehingga siswa merasa bosan atau pun jenuh. Oleh karena itu, guru (peneliti) menggunakan teknik objek langsung ini agar daya khayal dan daya cipta siswa dapat berkembang dengan melihat objek secara langsung tanpa menghayal dan mengangan-angan saja, sehingga dengan objek tersebut siswa dapat menggambarkan sesuatu lebih jelas lagi dan lebih mengena. Pengetahuan yang diperoleh siswa pun menjadi lebih bermakna karena siswa memahami sendiri dan bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Guru (peneliti)</p>
<p>dalam hal ini hanya bertindak sebagai fasilitator dan motivator dalam proses belajar-mengajar siswanya.</p>
<p>Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis paragraf deskripsi ini diikuti pula dengan adanya perubahan perilaku siswa dari prasiklus sampai siklus II. Berdasarkan hasil nontes yaitu observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi (foto) pada siklus I dapat disimpulakan bahwa kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung kurang begitu memuaskan. Sebagian siswa masih menunjukkan perilaku yang negatif dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dalam proses pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan beberapa siswa yang terlihat ramai dan berbicara sendiri dengan teman sebangkunya. Namun, hal itu dapat diatasi oleh guru (peneliti).</p>
<p>Kondisi yang bergambar pada siklus I tersebut merupakan permasalahan yang harus dipecahkan unuk upaya perbaikan pada siklus II. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)harus lebih matang dan diperbaharui lagi dari siklus I. Pada pembelajaran siklus II juga merupakan pertimbangan pendapat dari siswa yang tercantum pada jurnal, wawancara, dan pengamatan guru. Dengan demikian, pembaharuan yang dilakukan diantaranya : (1) guru (peneliti) memberikan motivasi kepada siswa, yaitu dengan membuat suasana pembelajaran menjadi lebih santai sehingga siswa merasa senang untuk mengikuti pembelajaran; (2)  guru (peneliti) memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih objek dengan cara siswa mengambil undian yang telah disediakan oleh guru (peneliti); (3) guru memberikan perpanjangan waktu dalam mengerjakan tugas, agar hasil yang diperoleh siswa lebih baik.</p>
<p>Hasil dari penerapan perbaikan-perbaikan pada siklus II ini ternyata berdampak positif dan cukup memuaskan. Berdasarkan hasil observasi siklus II tergambar suasana kelas yang lebih kondusif. Siswa tampak lebih siap dalam mengikuti pembelajaran dengan segala tugas yang diberikan guru. Siswa terlihat lebih senang dan menikmati pembelajaran yang disampaikan guru (peneliti). Selain itu, siswa lebih aktif dan lebih kreatif dalam kegiatan pembelajaran. Dengan latihan, siswa semakin terlatih dan hasil siswa dalam menulis paragraf deskripsi akan semakin baik. Kenyataan ini telah dibuktikan pada hasil tes menulis paragraf deskripsi siswa dari prasiklus sampai siklus II yang semakin meningkat. Siswa pun menjadi semakin terampil dalam menulis paragraf deskripsi.</p>
<p>Berdasarkan serangkaian analisis data dan situasi pembelajaran di atas dapat dijelaskan bahwa perilaku siswa dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi mengalami perubahan yang mengarah pada perilaku positif. Siswa semakin aktif dan bersungguh-sungguh dalam belajar. Suasana kelas pun menjadi lebih aktif dan lebih hidup. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung sangat baik karena dapat membantu siswa untuk menulis paragraf deskripsi yang lebih baik lagi, menambah wawasan, dan mengurangi kejenuhan siswa di dalam kelas dalam pembelajaran. Siswa memiliki pengalaman yang mengesankan dan bermakna bagi kehidupannya. Siswa pun menjadi lebih termotivasi dapat menulis paragraf deskripsi yang lebih baik.</p>
<p align="center"><strong>BAB V</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>A. Simpulan </strong></p>
<p>Berdasarkan hasil analalisis dan pembahasan penelitian tindakan kelas ini, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.</p>
<p>1.      Terdapat peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi pada siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati setelah diadakan penelitian keterampilan menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung. Berdasarkan analisis data penelitian keterampilan menulis paragraf deskripsi pada siklus I dan siklus II menunjukkan peningkatan sebesar 10,18 %. Pada siklus I nilai rata-rata masih sangat kurang yaitu 64,1 dan pada siklus II mengalami peningkatan yaitu 74,28 dan bisa dikategorikan baik.</p>
<p>2.      Sikap atau perilaku siswa mengalami perubahan dari perilaku negatif berubah menjadi positif. Kesiapan siswa dalam menerima pelajaran belum terlihat pada siklus I, siswa masih memperlihatkan perilaku negatif, seperti berbicara sendiri dengan teman sebangkunya, tiduran dan lain sebagainya. Pada siklus II, mereka sudah siap menerima pelajaran, siswa menjadi lebih akrab dengan guru (peneliti) dan senang menerima pelajaran bahkan berani bertanya maupun berkomentar. Dengan demikian, terjadi peningkatan perubahan sikap atau perilaku siswa dari perilaku negatif menjadi positif.</p>
<p><strong>B. Saran </strong></p>
<p>Penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran menulis paragraf deskripsi dan mengatasi masalah-masalah yang dialami siswa. Setelah penelitian dilaksanakan, peneliti memberikan saran sebagai berikut.</p>
<ol type="1">
<li>Bagi guru Bahasa dan Sastra Indonesia, dapat menggunakan teknik objek      langsung dalam pembelajaran keterampilan menulis;</li>
<li>Bagi siswa, disarankan aktif mengikuti kegiatan pembelajaran dan selalu berlatih menulis terutama menulis paragraf deskripsi; dan</li>
<li>Bagi peneliti, disarankan agar ada penelitian lanjutan dari penelitian ini dengan teknik atau pun metode yang lain, untuk menambah khasanah ilmu bahasa.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p><strong>IZZUL HASANAH, S.Pd</strong><br />
Guru SMK Tunas Harapan Pati, Pengurus Agupena Jawa Tengah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-iv-dan-v/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF DESKRIPSI DENGAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL (BAB III)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-iii/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 10:31:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KTI]]></category>
		<category><![CDATA[guru kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Izzul Hasanah, S.Pd BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan prosedur tindakan kelas. Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana praktik pembelajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Izzul Hasanah, S.Pd<br />
<img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/04/izz.jpeg" alt="izz" title="izz" width="200" height="294" class="alignleft size-full wp-image-1128" /></p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>METODE PENELITIAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>A. Desain Penelitian </strong></p>
<p>Penelitian ini menggunakan prosedur tindakan kelas. Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana praktik pembelajaran tersebut dilakukan.</p>
<p>Penelitian Tindakan Kelas ini, dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus 1 dan siklus II. Setiap siklus memiliki empat tahap, yaitu: (1) perencanaan (persiapan), (2) tindakan (aksi), (3) observasi (pengamatan), (4) refleksi (evaluasi). Siklus-siklus tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://lh5.ggpht.com/_epolj7U39RY/SdxztMK8R4I/AAAAAAAAAKA/VSJVPjZNO7Q/siklus.png" alt="siklus" width="590" /><!--[if gte mso 9]><xml> <w :WordDocument> </w><w :View>Normal</w> <w :Zoom>0</w> <w :Compatibility> <w :BreakWrappedTables /> <w :SnapToGridInCell /> <w :WrapTextWithPunct /> <w :UseAsianBreakRules /> </w> <w :BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w>  </xml>< ![endif]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"><strong><span style="font-family: Georgia;" lang="SV">Gambar 1 Siklus Pembelajaran Menulis Paragraf Deskripsi</span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>B. Prosedur Penelitian pada Siklus I </strong></p>
<p>Proses tindakan yang dilakukan pada siklus I ini meliputi tahapan sebagai berikut.</p>
<p><strong> 1) Perencanaan </strong></p>
<p>Pada tahap ini, peneliti melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) membuat RPP sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan, (2) menentukan objek yang akan ditulis siswa sebagai bahan tulisan, (3) membuat pedoman observasi, (4) mempersiapkan alat evaluasi, dan (5) mempersiapkan alat dokumentasi.</p>
<p><strong>2) Tindakan </strong></p>
<p>Tindakan-tindakan yang dilakukan pada penelitian ini adalah:</p>
<p><strong>a. </strong><strong>Pendahuluan </strong></p>
<p>Pada bagian pendahuluan ini guru memberikan apersepsi pembelajaran. Dengan tujuan untuk mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran dengan baik. Kegiatan ini berupa pemberian ilustrasi mengenai pembelajaran menulis paragraf deskripsi, ilustrasi tentang objek yang akan digunakan dan menyampaikan tujuan serta manfaat pembelajaran menulis paragraf deskripsi yang akan dicapai pada hari itu.</p>
<p><strong>b. </strong><strong>Kegiatan Inti </strong></p>
<p>Pada kegiatan inti ini, guru menyampaikan materi paragraf deskripsi dan memberikan atau suatu objek yang akan digunakan untuk pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Kemudian, siswa siswa berkelompok untuk menemukan permasalahan yang terdapat pada paragraf seperti isi paragraf, ciri-ciri, dan pengertian paragraf deskripsi. Perwakilan dari masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi, dan kelompok yang lain menanggapinya. Melalui kegiatan ini siswa dilatih untuk menilai hasil kerja kelompok lain. Guru membantu siswa untuk menyimpulkan permasalahan yang ditemukan.</p>
<p>Kegiatan dilanjutkan siswa ditugasi untuk membuat paragraf deskripsi sesuai dengan objek yang mereka amati secara individu. Pada tahap akhir, siswa dan guru membahas paragraf deskripsi yang ditulis oleh siswa.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Penutup </strong></p>
<p>Kegiatan menulis paragraf deskripsi dengan tema pasar malam. Jadi, siswa dituntut untuk bisa mendeskripsikan pasar malam dalam bentuk paragraf deskripsi. Langkah berikutnya adalah ditutup dengan merefleksi hasil pembelajaran pada hari itu. Guru memberikan kesempatan pada siswa yang belum paham untuk bertanya mengenai materi menulis paragraf. Melalui kegiatan ini, dapat diketahui kesulitan-kesulitan yang siswa hadapi. Kemudian pembelajaran ditutup dengan siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran menulis paragraf deskripsi. tidak lupa guru selalu memberikan dorongan dan motivasi pada siswa untuk terus belajar menulis paragraf deskripsi.</p>
<p><strong>3) Observasi </strong></p>
<p>Observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Peneliti mengikuti kegiatan pembelajaran sampai akhir pembelajaran. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pedoman observasi siswa yang berisi pernyataan mengenai perilaku siswa selama pembelajaran berlangsung.            Observasi dilakukan terhadap data tes dan nontes. Data tes yang diobservasi berupa hasil tes menulis paragraf deskripsi dan sikap siswa pada waktu menulis paragraf deskripsi. Hasil observasi ini sebagai bukti observasi terhadap data tes menulis paragraf deskripsi. Melalui observsi data ini, dapat diketahui beberapa kekurangan dan kelebihan hasil tes menulis paragraf deskripsi. Sehingga, kekurangan yang terdapat pada hasil observasi data tes siklus I dapat diperbaiki pada siklus II dan kelebihan-kelebihannya yang terus dipertahankan dan ditingkatkan.</p>
<p>Adapun cara untuk mendata hasil data tes dan non tes adalah dengan (1) tes yang digunakan untuk mengetahui peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi siswa melalui dua siklus, (2) lembar pedoman observasi dan memotret tingkah laku siswa selama pembelajaran berlangsung, (3) wawancara yang dilakukan di luar jam pelajaran. Wawancara dilakukan terhadap siswa yang memperoleh nilai tinggi, sedang, rendah. Dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran menulis paragraf deskripsi, (4) jurnal siswa berisi pesan dan kesan mengikuti pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan membayangkan objek yaitu tentang pasar malam, (5) dokumentasi foto sebagai laporan yang berupa gambar aktivitas siswa selama penelitian. Hasil observasi ini digunakan sebagai acuan untuk melakukan perbaikan pada siklus II. Sehingga, kekuranngan yang terdapat pada siklus I dapat diatasi pada siklus II dan kelebihan-kelebihannya dapat terus diperahankan dan ditingkatkan.</p>
<p><strong>4) Refleksi </strong></p>
<p>Setelah pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan analisis terhadap hasil tes, hasil observasi, hasil jurnal, dan hasil wawancara yang telah dilakukan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui (1) kelebihan dan kekurangan teknik objek langsung yang digunakan oleh peneliti dalam proses pembelajaran siklus I, (2) kelebihan dan kekurangan materi menulis paragraf deskripsi, (3) tindakan-tindakan yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran. Berdasarkan analisi pada data tes dan nontes dapat dilakukan perbaikan-perbaikan atau revisi terhadap rencana selanjutnya pada siklus II.</p>
<p><strong>C.  Prosedur Penelitian pada Siklus II </strong></p>
<p>Pelaksanaan siklus II melalui tahap yang sama dengan siklus I, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Siklus II merupakan kelanjutan siklus I dan merupakan perbaikan hasil kegiatan pada siklus I. Paparan tiap tahap diuraikan berikut ini.</p>
<p><strong>1) Perencanaan</strong></p>
<p>Perencanaan kegiatan siklus II dibuat dengan memperhatikan hasil kegiatan siklus I. Tahap peencanaan siklus II ini meliputi: (1) menyempurnakan RPP pada siklus I, (2) memperbaiki pedoman observasi, (3) mempersiapkan pertanyaan untuk wawancara, (4) mempersiapkan pertanyaan untuk jurnal siswa, (5) mempersiapkan alat evaluai, (6) mempersiapkan alat dokumentasi.</p>
<p><strong>2) Tindakan </strong></p>
<p><strong> </strong>Pelaksanan tindakan pada siklus II merupakan skenario pembelajaran sebai perbaikan pada siklus I. Tindakan yang dilakukan pada siklus II meliputi:</p>
<p><strong>a. </strong><strong>Pendahuluan </strong></p>
<p>Pada tindakan siklus II ini, guru mengawali pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan memberikan salam dan mempresensi siswa serta mengkondisikan siswa agar tidak ramai. Guru menyampaikan apersepsi pembelajaran menulis paragraf deskripsi sama seperti pada siklus I. Kemudian, guru bertanya pada siswa mengenai materi pertemuan kemarin. Guru bersama siswa mengulas kembali sedikit materi pertemuan yang lalu. Dengan tujuan untuk memancing ingatan siswa mengenai materi menulis paragraf deskripsi yang telah diajarkan oleh guru.</p>
<p><strong>b. </strong><strong>Kegiatan Inti </strong></p>
<p>Ada beberapa perubahan tindakan pada tahap ini. Sebelum siswa menulis paragraf deskripsi, guru terlebih dahulu menjelaskan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada siklus I. Guru menjelaskan mengenai kriteria penilaian yang digunakan dalam tes menulis paragraf deskripsi. Guru memberikan arahan dan bimbingan kepada siswa agar dalam tahap ini atau pada siklus II akan menjadi lebih baik. Guru menjelaskan kembali tentang bagaimana menulis paragraf deskripsi dengan baik. Dan guru memberikan kesempatan kepada siswa yang merasa belum paham untuk bertanya. Pertanyaan tersebut akan dilemparkan kepada siswa lain, jika siswa lain tidak bisa menjawab, maka guru akan memberikan pemecahannya atau menjawab permasalahan yang dialami oleh siswa. Maka, terjadilah Tanya jawab dan kesulitan-kesulitan itu dapat teratasi.</p>
<p>Guru kembali menyuruh siswa untuk berkelompok dan guru menjelaskan mengenai perintah dalam mengerjakan tugas tersebut. Masing-masing kelompok terdiri dari delapan sampai dengan sembilan. Kemudian perwakilan masing-masing kelompok maju untuk mengambil undian tentang objek yang akan mereka amati. Objek yang mereka amati tidak sama dengan siklus I. Pada siklus II ini objek yang diamati adalah (1) ruang bengkel mesin, (2) ruang bengkel listrik, (3) ruang 26, (4) ruang broadcast, (5) lingkungan sekolah SMK Tunas Harapan Pati. Siklus I guru menentukan tema tentang pasar malam tetapi siswa tidak melihat objek secara langsung. Jadi hanya membayangkan objek yang akan ditulis dalam paragraf deskripsi. Tetapi pada siklus II ini guru menentukan objek  yaitu dengan mengambil undian. Perintah mengerjakannya sama dengan siklus I. Siswa menulis paragraf deskripsi berdasarkan objek yang mereka amati dan berdasarkan kriteria penilaian yang telah dijelaskan oleh guru. Setelah siswa selesai membuat paragraf deskripsi, perwakilan masing-masing kelompok membacakan dan mempresentasikan hasil menulis pargraf deskripsi untuk kemudian ditanggapi oleh kelompok lain. Selain itu, guru juga selalu memberikan  dorongan dan semangat pada siswa sebagai bentuk perhatian guru dan penghargaan pada siswa.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Penutup </strong></p>
<p>Kegiatan pembelajaran ditutup dengan guru bersama siswa merefleksi hasil pembelajaran pada hari itu. Guru mengulas kembali materi yang baru saja diajarkan. Guru bertanya pada siswa apakah masih ada kesulitan dalam menulis paragraf deskripsi. Guru selalu memberikan semangat, motivasi dan dorongan kepada siswa untuk terus belajar menulis paragraf deskripsi. Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.</p>
<p><strong>3) Observasi </strong></p>
<p>Observasi yang dilakukan pada siklus II masih sama dengan siklus I. Adapun observasi yang dilakukan berupa observasi tes dan nontes. Observasi tes digunakan untuk mengetahui nilai tes menulis paragraf deskripsi serta melihat perilaku siswa pada saat menulis paragraf deskripsi. Observasi pada data nontes dilakukan pada observasi perilaku siswa selama pembelajaran, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto. Observasi data nontes digunakan sebagai penguat hasil observasi data tes.</p>
<p><strong>4) Refleksi </strong></p>
<p>Refleksi pada siklus II merupakan tahap akhir dalam penelitian ini. Dari hasil observasi, wawancara, dan jurnal pada siklus II peneliti dapat mengetahui bagaimana tanggapan siswa mengenai pembelajaran menulis paragraf deskripsi yang sudah dilakukan. Peneliti dapat melihat respon siswa terhadap pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Selain itu, melalui refleksi dapat diketahui adanya peningkatan keterampilan siswa dalam menulis paragraf deskripsi berkategori baik. Selain peningkatan hasil tes menulis paragraf deskripsi ini diikuti pula adanya perubahan perilaku pada siswa kearah positif. Siswa sudah tidak ada lagi yang bersikap negatif. Hasil tersebut dibuktikan melalui hasil nontes berupa observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto.</p>
<p><strong>D. Subjek Penelitian </strong></p>
<p>Subjek penelitian ini adalah keterampilan siswa dalam menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung pada siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati. Penelitian yang dilakukan hanya pada kelas X Mesin 3, yang jumlah siswanya 40 siswa, yang terdiri atas: 40 siswa putra.</p>
<p><strong>E. Variabel Penelitian </strong></p>
<p>Variabel pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terbagi menjadi dua variable yaitu variable penggunaan teknik objek langsung dan variable keterampilan menulis paragraf deskripsi.</p>
<p>1) <strong>Variabel Keterampilan Menulis Paragraf Deskripsi </strong></p>
<p><strong> </strong>Keterampilan menulis paragraf deskripsi merupakan keterampilan siswa dalam menulis paragraf deskripsi. Dalam hal ini, keterampilan menulis paragraf deskripsi siswa X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati diperoleh hasil tes sesuai dengan objek yang siswa lihat. Adapun target yang diharapkan adalah siswa mampu menulis paragraf deskripsi sesuai dengan aspek yang dinilai atau rubrik penilaian. Rubrik penilaian tersebut adalah: (1) kesesuaian judul dengan isi, (2) diksi (pemilihan kata), (3) ejaan dan tanda baca, (4) kerapian tulisan, (5) kohesi dan koherensi, (6) imajinasi, (7) keterlibatan pancaindera, (8) menunjukkan objek yang ditulis, (9) memusatkan uraian pada objek yang ditulis, (10) kesan hidup. Pada penelitian tindakan kelas ini, siswa dikatakan berhasil dalam pembeljaran menulis paragraf deskripsi, apabila telah mencapai nilai ketuntasan belajar sebesar 65 atau telah mencapai 75% di atas nilai minimal (standar ketuntasan). Standar ketuntasan ini ditentukan atas dasar hasil nilai tes menulis paragraf deskripsi sebelum dilakukan tes tindakan siklus I dan siklus II.</p>
<p><strong>2) Variabel Penggunaan Teknik Objek Langsung </strong></p>
<p>Penggunaan teknik objek langsung sebagai bahan untuk menulis paragraf deskripsi. Objek yang digunakan pada siklus I sama dengan objek yang digunakan pada siklus II, hanya saja perbedaannya adalah jika objek I guru yang menentukan objek pada tiap kelompok. Sedangkan, pada siklus II perwakilan tiap kelompok  memilih objek dengan mengambil undian yang telah dipersiapkan guru. Objek yang dipilih adalah (1) ruang bengkel mesin, (2) ruang bengkel listrik, (3) ruang 26, (4) ruang broadcast, (5) lingkungan sekolah SMK Tunas Harapan Pati. Proses penjelasannya yaitu, siswa mendeskripsikan atau mengambarkan objek yang mereka lihat dengan pancaindera, kemudian dituliskan kedalam sebuah paragraf deskripsi.</p>
<p>Melalui teknik objek langsung ini siswa diharapkan dapat termotivasi dan mempunyai bayak ide yang akan mereka tulis  untuk menggambarkan objek yang mereka lihat secara langsung dan dibuat ke dalam sebuah paragraf deskripsi. Dengan demikian, siswa memiliki perubahan perilaku dalam menulis paragraf deskripsi.</p>
<p><strong>F. Instrumen Penelitian </strong></p>
<p>Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, menggunakan dua instrumen yaitu tes dan nontes. Berikut ini penjelasan masing-masing instrumen tersebut.</p>
<p><strong>1) Instrumen Tes </strong></p>
<p>Tes yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sesuai dengan objek yang siswa lihat. Tes ini digunakan untuk mengetahui keterampilan siswa dalam menentukan ketepatan isi paragraf sesuai dengan objek yang siswa lihat.</p>
<p>Adapun beberapa aspek yang dinilai dalam tes menulis paragraf deskripsi antara lain: (1) kesesuaian judul dengan isi, (2) diksi (pemilihan kata), (3) ejaan dan tanda baca, (4) kerapian tulisan, (5) kohesi dan koherensi, (6) imajinasi, (7) keterlibatan pancaindera, (8) menunjukkan objek yang ditulis,(9)  memusatkan uraian pada objek yang ditulis, (10) kesan hidup.</p>
<p><strong>Tabel 1 Kriteria Aspek Penilaian Tes Keterampilan Menulis Paragraf Deskripsi </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="34" valign="top">No</td>
<td rowspan="2" width="176" valign="top">Aspek   yang Dinilai</td>
<td colspan="5" width="151" valign="top">Rentang   Nilai</td>
<td rowspan="2" width="61" valign="top">Bobot</td>
<td rowspan="2" width="61" valign="top">Nilai</td>
</tr>
<tr>
<td width="33" valign="top">1</td>
<td width="27" valign="top">2</td>
<td width="30" valign="top">3</td>
<td width="30" valign="top">4</td>
<td width="30" valign="top">5</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">1.</p>
<p>2.</p>
<p>3.</p>
<p>4.</p>
<p>5.</p>
<p>6.</p>
<p>7.</p>
<p>8.</p>
<p>9.</p>
<p>10</td>
<td width="176" valign="top">Kesesuain judul dengan isi</p>
<p>Diksi (pemilihan kata)</p>
<p>Ejaan dan tanda baca</p>
<p>Kerapian tulisan</p>
<p>Kohesi dan koherensi</p>
<p>Imajinasi</p>
<p>Keterlibatan pancaindera</p>
<p>Menunjukkan objek yang ditulis</p>
<p>Memusatkan uraian pada objek yang ditulis</p>
<p>Kesan   hidup</td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="27" valign="top"></td>
<td width="30" valign="top"></td>
<td width="30" valign="top"></td>
<td width="30" valign="top"></td>
<td width="61" valign="top">1</p>
<p>1</p>
<p>1</p>
<p>1</p>
<p>1</p>
<p>3</p>
<p>3</p>
<p>3</p>
<p>3</p>
<p>3</td>
<td width="61" valign="top">5</p>
<p>5</p>
<p>5</p>
<p>5</p>
<p>5</p>
<p>15</p>
<p>15</p>
<p>15</p>
<p>15</p>
<p>15</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top"></td>
<td width="176" valign="top">Jumlah</td>
<td width="33" valign="top"></td>
<td width="27" valign="top"></td>
<td width="30" valign="top"></td>
<td width="30" valign="top"></td>
<td width="30" valign="top"></td>
<td width="61" valign="top">20</td>
<td width="61" valign="top">100</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Keterangan :</p>
<p>Sangat Baik (SB)       : Nilai 5</p>
<p>Baik (B)                      : Nilai 4</p>
<p>Cukup (C)                  : Nilai 3</p>
<p>Kurang            (K)                 : Nilai 2</p>
<p>Sangat Kurang (SK) : Nilai 1</p>
<p><strong>Tabel 2 Kriteria Penilaian Tes Keterampilan Menulis Paragraf  Deskripsi </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="34" valign="top">No</td>
<td width="190" valign="top">Aspek Penilaian</p>
<p>(1)</td>
<td width="72" valign="top">Rentang Skor</p>
<p>(2)</td>
<td width="163" valign="top">Kategori</p>
<p>(3)</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">1.</td>
<td width="190" valign="top">Kesesuain   judul dengan isi</p>
<ol type="a">
<li>sangat sesuai</li>
<li>sesuai</li>
<li>cukup sesuai</li>
<li>kurang sesuai</li>
<li>tidak sesuai</li>
</ol>
</td>
<td width="72" valign="top">5</p>
<p>4</p>
<p>3</p>
<p>2</p>
<p>1</td>
<td width="163" valign="top">Sangat   baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat   kurang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">2.</td>
<td width="190" valign="top">Diksi   (pemilihan kata)</p>
<ol type="a">
<li>sangat tepat</li>
<li>tepat</li>
<li>cukup tepat</li>
<li>kurang tepat</li>
</ol>
<p>e.      tidak tepat</td>
<td width="72" valign="top">5</p>
<p>4</p>
<p>3</p>
<p>2</p>
<p>1</td>
<td width="163" valign="top">Sangat baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat kurang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">3.</td>
<td width="190" valign="top">Ejaan   dan tanda baca</p>
<ol type="a">
<li>sangat tepat</li>
<li>tepat</li>
<li>cukup tepat</li>
<li>kurang tepat</li>
<li>tidak tepat</li>
</ol>
</td>
<td width="72" valign="top">5</p>
<p>4</p>
<p>3</p>
<p>2</p>
<p>1</td>
<td width="163" valign="top">Sangat   baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat   kurang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">4.</td>
<td width="190" valign="top">Kerapian   tulisan</p>
<ol type="a">
<li>sangat rapi</li>
<li>rapi</li>
<li>cukup rapi</li>
<li>kurang rapi</li>
<li>tidak rapi</li>
</ol>
</td>
<td width="72" valign="top">5</p>
<p>4</p>
<p>3</p>
<p>2</p>
<p>1</td>
<td width="163" valign="top">Sangat   baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat   kurang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">5.</td>
<td width="190" valign="top">Kohesi   dan koherensi</p>
<ol type="a">
<li>sangat sesuai</li>
<li>sesuai</li>
<li>cukup sesuai</li>
<li>kurang sesuai</li>
<li>tidak sesuai</li>
</ol>
</td>
<td width="72" valign="top">5</p>
<p>4</p>
<p>3</p>
<p>2</p>
<p>1</td>
<td width="163" valign="top">Sangat   baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat   kurang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">6.</td>
<td width="190" valign="top">Imajinasi</p>
<ol type="a">
<li>sangat sesuai</li>
<li>sesuai</li>
<li>cukup sesuai</li>
<li>kurang sesuai</li>
<li>tidak sesuai</li>
</ol>
</td>
<td width="72" valign="top">13-15</p>
<p>10-12</p>
<p>5-9</p>
<p>4-6</p>
<p>0-3</td>
<td width="163" valign="top">Sangat   baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat   kurang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">7.</td>
<td width="190" valign="top">Keterlibatan   pancaindera</p>
<ol type="a">
<li>sangat tepat</li>
<li>tepat</li>
<li>cukup tepat</li>
<li>kurang tepat</li>
<li>tidak tepat</li>
</ol>
</td>
<td width="72" valign="top">13-15</p>
<p>10-12</p>
<p>5-9</p>
<p>4-6</p>
<p>0-3</td>
<td width="163" valign="top">Sangat   baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat   kurang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">8.</td>
<td width="190" valign="top">Menunjukkan   objek yang ditulis</p>
<ol type="a">
<li>sangat tepat</li>
<li>tepat</li>
<li>cukup tepat</li>
<li>kurang tepat</li>
<li>tidak tepat</li>
</ol>
</td>
<td width="72" valign="top">13-15</p>
<p>10-12</p>
<p>5-9</p>
<p>4-6</p>
<p>0-3</td>
<td width="163" valign="top">Sangat   baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat   kurang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">9.</td>
<td width="190" valign="top">Memusatkan uraian pada objek yang ditulis</p>
<ol type="a">
<li>sangat tepat</li>
<li>tepat</li>
<li>cukup tepat</li>
<li>kurang tepat</li>
<li>tidak tepat</li>
</ol>
</td>
<td width="72" valign="top">13-15</p>
<p>10-12</p>
<p>5-9</p>
<p>4-6</p>
<p>0-3</td>
<td width="163" valign="top">Sangat   baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat   kurang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">10.</td>
<td width="190" valign="top">Kesan   hidup</p>
<ol type="a">
<li>sangat        sempurna</li>
<li>sempurna</li>
<li>cukup sempurna</li>
<li>kurang sempurna</li>
<li>tidak sempurna</li>
</ol>
</td>
<td width="72" valign="top">13-15</p>
<p>10-12</p>
<p>5-9</p>
<p>4-6</p>
<p>0-3</td>
<td width="163" valign="top">Sangat   baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup</p>
<p>Kurang</p>
<p>Sangat   kurang</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Keterangan pedoman penilaian tes keterampilan menulis paragraf  deskripsi sebagai berikut.</p>
<p>1. Kesesuain judul dengan isi</p>
<p>a. sangat sesuai             : isi sangat sesuai dengan judul, sangat sesuai dengan objek yang diamati, dan sangat jelas.</p>
<p>b. sesuai                          : isi sesuai dengan judul, sesuai dengan objek yang  diamati, dan cukup jelas.</p>
<p>c. cukup sesuai               : isi cukup sesuai dengan judul, cukup sesuai dengan objek yang  diamati, dan cukup jelas.</p>
<p>d. kurang sesuai            : isi kurang sesuai dengan judul, sesuai dengan objek yang  diamati, dan kurang jelas.</p>
<p>e. tidak sesuai               : isi tidak sesuai dengan judul, tidak sesuai dengan objek yang  diamati, dan tidak jelas.</p>
<p>2. Diksi (pemilihan kata)</p>
<p>a. sangat tepat            : pilihan kata tepat dengan isi paragraf, baik, dan  mudah dipahami.</p>
<p>b. tepat                            :  tata kalimat tepat, dan unsur-unsurnya jelas.</p>
<p>c. cukup tepat                : tata kalimat cukup tepat, dan unsur-unsurnya cukup jelas.</p>
<p>d. kurang tepat             : tata kalimat kurang tepat, dan unsur-unsurnya kurang jelas.</p>
<p>e. tidak tepat                 : tata kalimat tidak tepat, dan unsur-unsurnya tidak jelas.</p>
<p>3. Ejaan dan tanda baca</p>
<p>a. sangat tepat               : tidak ada kesalahan ejaan dan tanda baca.</p>
<p>b. tepat                           : jumlah kesalahan antara 1 sampai 3</p>
<p>c. cukup tepat                : jumlah kesalahan antara 4 sampai 7.</p>
<p>d. kurang tepat             : jumlah kesalahan lebih dari 7.</p>
<p>e. tidak tepat                 : semua penggunaan ejaan dan tanda baca salah.</p>
<p>4. Kerapian tulisan</p>
<p>a. sangat rapi                 : tulisan mudah dibaca, jelas maksudnya, dan rapi.</p>
<p>b. rapi                             : tulisan masih dapat dibaca, jelas maksudnya, dan rapi.</p>
<p>c. cukup rapi                  : tulisan masih dapat dibaca, cukup jelas maksudnya, dan cukup rapi.</p>
<p>d. kurang rapi                : tulisan masih dapat dibaca, kurang jelas maksudnya, dan tidak rapi.</p>
<p>e. tidak rapi                   : tulisan kurang bisa dibaca, tidak jelas, dan tidak rapi.</p>
<p>5. Kohesi dan koherensi</p>
<p>a. sangat sesuai             : tata kalimat sangat sesuai dan sempurna.</p>
<p>b. sesuai                         : tata kalimat sesuai dan sempurna.</p>
<p>c. cukup sesuai              : tata kalimat cukup sesuai dan kurang jelas.</p>
<p>d. kurang sesuai            : tata kalimat kurang sesuai dan kurang jelas.</p>
<p>e. tidak sesuai                : tata kalimat tidak sesuai dan tidak jelas.</p>
<p>6. Imajinasi</p>
<p>a. sangat sesuai             : kualitas pengolahan idenya sangat sesuai.</p>
<p>b. sesuai                         : kualitas pengolahan idenya sesuai.</p>
<p>c. cukup sesuai              : kualitas pengolahan idenya cukup sesuai.</p>
<p>d. kurang sesuai            : kualitas pengolahan idenya kurang sesuai</p>
<p>e. tidak sesuai                : kualitas pengolahan idenya tidak sesuai.</p>
<p>7. Keterlibatan pancaindera</p>
<p>a. sangat tepat               : melibatkan semua indera.</p>
<p>b. tepat                           : melibatkan empat indera.</p>
<p>c. cukup tepat                : melibatkan tiga indera.</p>
<p>d. kurang tepat             : melibatkan dua indera.</p>
<p>e. tidak tepat                 : melibatkan satu indera.</p>
<p>8. Menunjukkan objek yang ditulis</p>
<p>a. sangat tepat               : menunjukkan objek secara keseluruhan.</p>
<p>b. tepat                           : menunjukkan warna, letak, dan kondisi objek.</p>
<p>c. cukup tepat                : menunjukkan letak dan warna objek.</p>
<p>d. kurang tepat             : menunjukkan letak objek.</p>
<p>e. tidak tepat                 : tidak menunjukkan objek secara keseluruhan.</p>
<p>9. Memusatkan uraian pada objek yang ditulis</p>
<p>a. sangat tepat               : uraian sangat terpusat pada objek yang ditulis.</p>
<p>b. tepat                           : uraian sedikit melibatkan objek yang lain.</p>
<p>c. cukup tepat                : setengah tulisan melibatkan objek yang lain.</p>
<p>d. kurang tepat             : uraian terpusat pada objek yang lain.</p>
<p>e. tidak tepat                 : uraian tidak menunjukkan objek apapun.</p>
<p>10. Kesan hidup</p>
<p>a. sangat sempurna      :melukiskan objek tulisan secara nyata dan sempurna.</p>
<p>b. sempurna                  : melukiskan objek sempurna.</p>
<p>c. cukup sempurna       : melukiskan objek cukup sempurna.</p>
<p>d. kurang sempurna     : melukiskan objek kurang sempurna.</p>
<p>e. tidak sempurna         : melukiskan objek tidak sempurna.</p>
<p><strong>Tabel 3 Kategori Penilaian Tes Keterampilan Menulis Paragraf Deskripsi </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="34" valign="top">No</td>
<td width="167" valign="top">
<p align="center">Kategori</p>
</td>
<td width="95" valign="top">
<p align="center">Nilai</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">1.</p>
<p>2.</p>
<p>3.</p>
<p>4.</p>
<p>5.</td>
<td width="167" valign="top">Sangat baik</p>
<p>Baik</p>
<p>Cukup baik</p>
<p>Kurang baik</p>
<p>Sangat kurang</td>
<td width="95" valign="top">
<p align="center">84-100</p>
<p align="center">73-  83</p>
<p align="center">62-  72</p>
<p align="center">51-  61</p>
<p>0-    50</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>2) Instrumen Nontes </strong></p>
<p>Instrumen nontes yang digunakan dalam penelitian ini antara lain observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi foto.</p>
<p><strong>a.</strong> <strong>Observasi </strong></p>
<p>Observasi digunakan untuk mengambil data penelitian yang dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Adapun aspek yang diamati dalam observasi ini adalah sikap, baik sikap positif maupun sikap negative yang ditunjukkan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung antara lain: (1) siswa memperhatikan dan merespons dengan antusias (bertanya, menanggapi, dan membuat catatan); (2) siswa berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan diskusi kelompok; (3) siswa merespons positif (senang) terhadap teknik objek langsung; (4) siswa aktif menjawab dan selalu bertanya apabila menemukan kesulitan; (5) sikap menulis paragraf deskripsi dengan sikap yang baik; (6) siswa tidak memperhatikan penjelasan guru dan melakukan kegiatan yang tidak perlu (berbicara sendiri, mondar-mandir, tiduran, dan membuat catatan yang tidak penting); (7) siswa kurang berpartisipasi atau pasif dalam kegiatan diskusi kelompok; (8) siswa merespons negatif (acuh) terhadap media animasi yang digunakan guru; (9) siswa pasif dan malas untuk bertanya mengenai materi menulis paragraf deskripsi yang sedang diajarkan; (10) siswa melakukan kegiatan yang tidak perlu pada saat menulis paragraf deskripsi (mencontek, tiduran, bercanda, dan sebagainya)</p>
<p>Peneliti dibantu oleh salah seorang rekannya dan guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X Mesin 3 dalam mengobservasi dengan menggunakan lembar pedoman observasi yang telah dipersiapkan. Observasi dilaksanakan dari awal sampai akhir pembelajaran atau bersamaan dengan pelaksanaan tindakan sambil memberikan penilaian dengan memberikan tanda check list ( √ ) pada lembar pedoman observasi yang sudah disediakan.</p>
<p><strong>b. Wawancara </strong></p>
<p>Wawancara ini dilakukan oleh peneliti dengan tujuan untuk mendapatkan informasi atau pendapat siswa secara langsung terhadap pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Wawancara berpedoman pada lembar pedoman wawancara yang telah disiapkan oleh peneliti. Wawancara ini dilakukan di luar jam pelajaran.</p>
<p>Ada beberapa hal yang ditanyakan dalam wawancara adalah sebagai berikut: (1) apakah selama ini anda berminat dengan pembelajaran menulis paragraf deskripsi; (2) bagaimana pendapat anda dengan pembelajaran menulis paragraf deskripsi yang telah diberikan guru selama ini; (3) kesulitan apakah yang anda hadapi selama mengikuti pembelajaran menulis paragraf deskripsi; (4) apa yang menyebabkan anda kesulitan dalam menulis paragraf deskripsi; (5) bagaimana pendapat anda tentang pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung; (6) apa harapan anda mengenai pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.</p>
<p><strong>c. Jurnal </strong></p>
<p>Ada dua jurnal yang digunakan dalam penelitian ini yaitu jurnal siswa dan jurnal guru. Melalui jurnal siswa dapat diketahui (1) bagaimana perasaan anda selama mengikuti pembelajaran menulis paragraf deskripsi pada hari ini; (2) apa kesulitan yang anda alami dalam menulis paragraf deskripsi; (3) bagaimana tanggapan anda mengenai teknik objek langsung yang digunakan; (4) bagaimana kesan anda terhadap gaya mengajar yang dilakukan oleh guru; (5) saran apa yang dapat anda berikan untuk pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.</p>
<p><strong>d. Dokumentasi Foto </strong></p>
<p>Dokumentasi foto merupakan instrument nontes yang cukup penting, yaitu sebagai bukti kegiatan yang dilaksanakan selama penelitian. Melalui dokumentasi foto ini, akan memperkuat data baik observasi, wawancara, maupun jurnal, sehingga data menjadi lebih jelas dan lengkap.</p>
<p>Adapun gambar yang diambil melalui foto adalah pada saat guru atau peneliti memberikan apersepsi, penyampaian materi menulis paragraf deskripsi Adapun gambar yang diambil adalah pada saat guru memberikan apersepsi, penyampaian materi menulis paragraf deskripsi, pembagian kelompok, pembelajaran pada saat mengamati objek di luar kelas maupun di dalam kelas, pada saat siswa praktik menulis paragraf deskripsi, dan siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya. Hasil dari dokumentasi ini, selanjutnya dideskripsikan sesuai dengan keadaan yang ada dan dipadukan dengan data yang lainnya.</p>
<p><strong>G. Teknik Pengumpulan Data </strong></p>
<p>Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes dan nontes. Teknik tes digunakan untuk mengetahui keterampilan siswa dalam menulis paragraf deskripsi. Teknik nontes digunakan untuk mengetahui tanggapan atau respon siswa terhadap pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.</p>
<p><strong>1) Teknik Tes </strong></p>
<p>Teknik tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung. Objek yang akan digunakan untuk menulis paragraf deskripsi adalah ruang laboraturium, ruang perpustakaan, kantin sekolah, lingkungan sekolah, ruang kelas X Mesin 3. Bentuk tes ini adalah sebuah objek, jadi dari objek tersebut, siswa disuruh mengamati kemudian dibuat ke dalam bentuk paragraf deskripsi. Dalam penelitian ini tes diberikan pada siklus I dan siklus II.</p>
<p><strong>2) Teknik Nontes </strong></p>
<p>Teknik nontes yang digunakan adalah observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi foto.</p>
<p><strong>a. Observasi </strong></p>
<p><strong> </strong>Observasi dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung atau bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi dilakukan terhadap perilaku siswa, baik yang positif maupun yang negatif. Pada kegiatan observasi ini, peneliti dibantu oleh seorang rekannya dan guru Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X Mesin 1 dengan menggunakan lembar pedoman observasi. Adapun aspek-aspek yang diamati adalah (1) siswa memperhatikan dan merespons dengan antusias (bertanya, menanggapi, dan membuat catatan); (2) siswa berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan diskusi kelompok; (3) siswa merespons positif (senang) terhadap teknik objek langsung; (4) siswa aktif menjawab dan selalu bertanya apabila menemukan kesulitan; (5) sikap menulis paragraf deskripsi dengan sikap yang baik; (6) siswa tidak memperhatikan penjelasan guru dan melakukan kegiatan yang tidak perlu (berbicara sendiri, mondar-mandir, tiduran, dan membuat catatan yang tidak penting); (7) siswa kurang berpartisipasi atau pasif dalam kegiatan diskusi kelompok; (8) siswa merespons negatif (acuh) terhadap media animasi yang digunakan guru; (9) siswa pasif dan malas untuk bertanya mengenai materi menulis paragraf deskripsi yang sedang diajarkan; (10) siswa melakukan kegiatan yang tidak perlu pada saat menulis paragraf deskripsi (mencontek, tiduran, bercanda, dan sebagainya)</p>
<p>Melalui observasi dihasilkan data observasi berupa keterangan kegiatan siswa selama pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan mulai dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran.</p>
<p><strong>b. Wawancara </strong></p>
<p><strong> </strong>Wawancara dilakukan setelah diketahui nilai tes keterampilan menulis paragraf deskripsi. Siswa yang diwawancarai adalah siswa yang nilai tesnya tinggi, sedang, rendah. Wawancara dilakukan terhadap enam orang siswa. Pada siklus I ada tiga siswa yang diwawancarai, yaitu satu siswa dengan nilai tinggi, satu siswa dengan nilai sedang, dan satu siswa dengan nilai rendah. Pada siklus II juga dilakukan wawancara terhadap tiga siswa, satu siswa dengan nilai tinggi, satu siswa dengan nilai sedang, dan satu siswa dengan nilai rendah.</p>
<p>Wawancara dilakukan oleh peneliti setelah pembelajaran menulis paragraf deskripsi berakhir dengan menggunakan pedoman wawancara yang berisi daftar pertanyaan. Responden bebas menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti tanpa terikat oleh suatu jawaban. Wawancara dilakukan oleh peneliti di luar jam pelajaran dengan menggunakan alat perekam. Pada kegiatan wawancara ini, peneliti masih dibantu oleh rekannya. Melalui wawancara dapat diketahui respons siswa terhadap pembelajaran dan kesulitan-kesulitan dalam menu;lis paragraf deskripsi.</p>
<p><strong>c. Jurnal </strong></p>
<p>Jurnal dibagikan kepada siswa pada akhir pembelajaran. Guru menjelaskan kepada siswa bahwa pengisian jurnal sesuai dengan pendapat mereka sendiri. Siswa bebas menuliskan pendapatnya, kritik maupun saran terhadap pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.</p>
<p><strong>d. Dokumentasi Foto </strong></p>
<p><strong> </strong>Pengambilan data melalui dokumentasi foto ini dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Peneliti meminta bantuan rekan untuk mengambil gambar, sehingga siswa tetap fokus dan tidak terjadi perubahan perilaku siswa pada saat pengambilan gambar. Adapun gambar yang diambil adalah pada saat guru memberikan apersepsi, penyampaian materi menulis paragraf deskripsi, pembagian kelompok, pembelajaran pada saat mengamati objek di luar kelas maupun di dalam kelas, pada saat siswa praktik menulis paragraf deskripsi, dan siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya.</p>
<p>Dokumentasi ini akan memperkuat analisi hasil penelitian pada setiap siklus. Selain itu, melalui dokumentasi foto dapat memperjelas data yang lain yang hanya dideskripsikan melalui observasi, wawancara, dan jurnal. Hasil dokumentasi ini, kemudian dideskripsikan sesuai dengan keadaan yang ada dan dipadukan dengan data yang lainnya.</p>
<p><strong>H. Teknik Analisis Data </strong></p>
<p><strong> </strong>Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.</p>
<p><strong>1) Teknik Kuantitatif </strong></p>
<p><strong> </strong>Teknik kuantitatif dipakai untuk menganalisis data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes menulis paragraf deskripsi pada siklus I dan siklus II. Nilai dari masing-masing siklus kemudian dihitung jumlahnya dalam satu kelas dan selanjutya jumlah tersebut dihitung dalam presentase dengan rumus sebagai berikut.</p>
<p>Presentase Keterampilan menulis paragraf deskripsi:</p>
<p><img src="http://lh3.ggpht.com/_epolj7U39RY/Sdx3nPnm4XI/AAAAAAAAAKM/4fTM6i6f41Y/rumus.png" alt="rumus" width="155" height="89" /></p>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<p>SP       : Skor Persentase</p>
<p>SK       : Skor Kumulatif</p>
<p>R         : Jumlah Responden</p>
<p>Hasil perhitungan dari masing-masing siklus kemudian dibandingkan. Melalui perhitungan ini akan diketahui persentase peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung.</p>
<p><strong>2) Teknik Kualitatif </strong></p>
<p>Teknik kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif yang diperoleh dari tes nontes. Hasil analisis digunakan untuk mengetahui siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung. Hasil analisis ini sebagai dasar untuk menentukan siswa yang akan diwawancarai sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangan dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Melalui analisis data kualitatif ini dapat diketahui peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung dan perubahan perilaku siswa setelah mendapatkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi.</p>
<p><strong>IZZUL HASANAH, S.Pd</strong><br />
Guru SMK Tunas Harapan Pati, Pengurus Agupena Jawa Tengah</p>
<p><strong>(BERSAMBUNG)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF DESKRIPSI DENGAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL (BAB I DAN II)</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-i-dan-ii/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-i-dan-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 10:28:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KTI]]></category>
		<category><![CDATA[guru kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Izzul Hasanah, S.Pd PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF DESKRIPSI DENGAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL KOMPONEN PEMODELAN PADA SISWA KELAS X MESIN 3 SMK TUNAS HARAPAN PATI KABUPATEN PATI TAHUN PELAJARAN 2008/2009 =================================================================================== BAB I PENDAHULUAN A.  Latar Belakang Masalah Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dan kondisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Izzul Hasanah, S.Pd<br />
<img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2009/04/izz.jpeg" alt="izz" title="izz" width="200" height="294" class="alignleft size-full wp-image-1128" /></p>
<p align="center"><strong>PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF DESKRIPSI DENGAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL</strong></p>
<p align="center"><strong>KOMPONEN PEMODELAN PADA SISWA KELAS X MESIN 3 SMK TUNAS HARAPAN PATI KABUPATEN PATI </strong></p>
<p align="center"><strong>TAHUN PELAJARAN 2008/2009</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center">===================================================================================</p>
<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>A.  Latar Belakang Masalah </strong></p>
<p>Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi dan kebudayaan, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
<p>Pada hakikatnya fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, mengungkapkan gagasan, perasaan, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa dan kemampuan memperluas wawasan. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia haruslah diarahkan pada hakikat Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai alat komunikasi. Sebagaimana diketahui bahwa sekarang ini orientasi pembelajaran bahasa berubah dari penekanan pada pembelajaran aspek bentuk ke pembelajaran yang menekankan pada aspek fungsi. Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses negoisasi pesan dalam suatu konteks atau situasi menurut Sampson (dalam Depdiknas 2005:7).</p>
<p>Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya penting dalam kehidupan pendidikan, tetapi juga sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Keterampilan menulis itu sangat penting karena merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki. Selain itu, dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis.</p>
<p>Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Bahwa menulis adalah suatu kegiatan yang aktif dan produktif serta memerlukan cara berpikir yang teratur yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Keterampilan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sebagai suatu keterampilan yang produktif. Menulis dipengaruhi oleh keterampilan produktif lainnya, seperti aspek berbicara maupun keterampilan reseptif yaitu aspek membaca dan menyimak serta pemahaman kosa kata, diksi, keefektifan kalimat, penggunaan ejaan dan tanda baca. Pemahaman berbagai jenis karangan serat pemahaman berbagai jenis paragraf dan pengembangannya.</p>
<p>Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang yang ditetapkan sebagai Kurikulum 2006 telah diberlakukan di sekolah-sekolah mulai tahun 2006. Kurikulum 2006 ini juga diterapkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan perlu ditegaskan bahwa tugas sebagai guru adalah membelajarkan siswa, bukan mengajar. Siswalah yang harus didorong agar secara aktif berlatih menggunakan bahasa khususnya pada keterampilan menulis. Tugas guru adalah menciptakan situasi dan kondisi agar siswa belajar secara optimal untuk berlatih menggunakan bahasa agar komopetensi yang diharapkan dapat tercapai.</p>
<p>Berkaitan dengan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, dalam Kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis. Standar kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu Standar kompetensi adalah dasar bagi siswa untuk dapat memahami dan mengakses perkembangan lokal, regional, dan global.</p>
<p>Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi dan kebudayaan, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru merupakan kunci dan sekaligus ujung tombak pencapaian misi pembaharuan pendidikan, mereka berada di titik sentral untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang untuk mencapai tujuan dan misi pendidikan nasional yang dimaksud. Oleh karena itu,  secara tidak langsung guru dituntut untuk lebih profesional, inovatif, perspektif, dan proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran.</p>
<p>Pada kesempatan ini, peneliti (guru) membahas tentang keterampilan menulis khususnya menulis paragraf deskripsi. Selama ini berdasarkan hasil observasi, keterampilan siswa untuk menulis masih sangat terbatas, terlebih lagi untuk dapat menulis paragraf deskripsi mereka kesulitan untuk dapat membedakan jenis-jenis paragraf. Agar dapat menulis kadang-kadang siswa perlu dipacu dengan menggunakan teknik dan media yang menarik. Untuk itu guru perlu mencari upaya yang dapat membuat siswa tertarik agar siswa dapat menulis dengan baik.</p>
<p>Dalam menulis dibutuhkan adanya ketelitian, kepaduan, keruntutan dan kelogisan antara kalimat satu dengan kalimat yang lain, antara paragraf dengan paragraf berikutnya sehingga akan membentuk sebuah karangan yang baik dan utuh. Pengajaran menulis, khususnya menulis paragraf deskripsi adalah keterampilan yang bertujuan untuk mengajukan suatu objek atau suatu hal yang sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan kepala pembaca.</p>
<p>Melalui penelitian ini, peneliti mencoba satu pembaharuan untuk meningkatkan keterampilan menulis paragraf deskripsi yaitu melalui penggunaan teknik objek langsung. Penggunaan teknik objek langsung ini sebagai alternatif pembelajaran menulis paragraf deskripsi sehingga diharapkan siswa akan lebih tertarik untuk menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan dan diharapkan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam pembelajaran menulis. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang baru agar dapat memberdayakan siswa. Strategi pembelajaran itu antara lain pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa belajar dengan bermakna. Pendekatan kontekstual diharapkan dapat mendorong siswa agar menyadari dan menggunakan pemahamannya untuk mengembangkan diri dan penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendekatan kontekstual yang demikian diharapkan siswa dapat mengerti makna belajar, manfaat belajar, status mereka, serta bagaimana mereka mencapai semua itu. Mereka akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari akan berguna bagi hidupnya nanti.</p>
<p>Pendekatan kontekstual komponen pemodelan dengan teknik objek langsung diharapkan dapat mengenalkan atau menunjukkan, memotivasi, dan menarik minat siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati dalam menulis paragraf deskripsi, dan diharapkan keterampilan menulis paragraf deskripsi akan meningkat.</p>
<p><strong>B. Rumusan Masalah </strong></p>
<p>Berdasarkan latar belakang yang telah disimpulkan, permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut ini.</p>
<p>1.    Bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi siswa  kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati setelah mendapatkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ?</p>
<p>2.    Bagaimanakah perubahan sikap dan tingkah laku siswa setelah mendapatkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ?</p>
<p><strong>C. Tujuan Penelitian </strong></p>
<p>Tujuan yang akan dicapai dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut.</p>
<p>1.    Mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran  menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung pada siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati.</p>
<p>2.    Mendeskripsikan perubahan sikap dan tingkah laku siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati setelah mendapatkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi melalui teknik objek langsung.</p>
<p><strong>D. Manfaat Penelitian </strong></p>
<p>Dalam penelitian ini, peneliti mempunyai dua manfaat teoretis dan manfaat praktis.</p>
<p>1. Manfaat Teoretis</p>
<p>Hasil penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan manfaat teoretis, yaitu dapat memberikan sumbangan pemikiran dan tolok ukur kajian pada penelitian lebih lanjut yaitu berupa alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam usaha memperbaiki mutu pendidikan dan mempertinggi interaksi belajar mengajar, khususnya dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Manfaat teoretis lainnya adalah menambah khasanah pengembangan pengetahuan mengenai pembelajaran menulis paragraf deskripsi. Selain itu, juga mengembangkan teori pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.</p>
<p>2.  Manfaat Praktis</p>
<p>Secara praktis manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini dibagi menjadi empat yaitu: bagi siswa, guru, sekolah.</p>
<p>a.   Manfaat bagi siswa</p>
<p>Dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis pada umumnya dan menulis paragraf deskripsi pada khususnya, dan meningkatkan kreativitas dan keberanian siswa dalam berpikir.</p>
<p>b.   Manfaat bagi guru</p>
<p>Untuk memperkaya khasanah metode dan strategi dalam pembelajaran menulis, untuk dapat memperbaiki metode mengajar yang selama ini digunakan, agar dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan tidak membosankan, dan dapat mengembangkan keterampilan guru Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya dalam menerapkan pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.</p>
<p>c.   Manfaat bagi sekolah</p>
<p>Dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam rangka memajukan dan meningkatkan prestasi sekolah yang dapat disampaikan dalam pembinaan guru ataupun kesempatan lain bahwa pembelajaran menulis khususnya menulis paragraf deskripsi dapat menggunakan teknik objek langsung sebagai bahan pencapaian hasil belajar yang maksimal.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>LANDASAN TEOREI DAN HIPOTESIS TINDAKAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>A. Kajian Pustaka </strong></p>
<p>Upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis pada siswa telah banyak dilakukan. Hal ini terbukti dengan banyaknya penelitian yang dilakukan oleh para ahli bahasa maupun para mahasiswa. Penelitian tersebut belum semuanya sempurna. Oleh karena itu, penelitian tersebut memerlukan penelitian lanjutan demi melengkapi dan menyempurnakan penelitian sebelumnya.</p>
<p>Beberapa hasil penelitian yang berhubungan dengan topik penelitian ini yaitu penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis yang akan dijadikan sebagai kajian pustaka dalam penelitian. Penelitian tersebut dilakukan oleh Esti (2004), Anis (2005), Ishmah (2006).</p>
<p>Penelitian Esti (2004) yang berjudul <em>Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Menggunakan Elemen Bertanya Pembelajaran </em>Kontekstual<em> Pada Siswa Kelas IIE SMP Negeri 1 Garung Kabupaten Wonosobo</em>, menyimpulkan bahwa dengan digunakannya elemen bertanya pembelajaran kontekstual sangat mendukung peningkatan kemampuan menulis siswa. Hal ini terbukti dari hasil penelitian tersebut yang menunjukkan adanya peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi dengan menggunakan elemen bertanya. Skor rata-rata kelas pada tahap prasiklus sebesar 50,37. Pada siklus I skor rata-rata kelas meningkat sebesar 15,54 menjadi 65,91. Sedangkan pada siklus II skor rata-rata kelas meningkat sebesar 12 menjadi 77,91. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran keterampilan menulis karangan deskripsi dengan menggunakan elemen bertanya dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa kelas IIE SMP Negeri 1 Garung Kabupaten Wonosobo.</p>
<p>Penelitian Anis (2005) yang berjudul <em>Peningkatan Keterampilan Menulis Deskripsi dengan Teknik Menulis Terbimbing pada Siswa Kelas IIB SLTP Negeri 3 Kradenan Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan, </em>membahas tentang bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa melalui teknik menulis terbimbing, dengan tujuan untuk meningkatkan keterampialn menulis deskripsi dan meningkatkan prilalu positif siswa kelas IIB SLTP Negeri 3 Kradenan Kabupaten Kudus.</p>
<p>Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian keterampilan menulis siswa kelas IIB SLTP Negeri 3 Kradenan. Setelah dilaksanakan penelitian teknik terbimbing pada siswa, ternyata ada peningkatan pada keterampilan menulis deskripsi siswa. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi pada aspek isi karangan, aspek bahasa, aspek ejaan dan tanda baca, aspek kesatuan gagasan, aspek diksi,  dan aspek judul karangan. Dari semua aspek tersebut, dapat disimpulkan nilai rata-rata siklus I 38,33 %, nilai rata-rata siklus II 44,04 %, sedangkan dari siklus I ke tes siklus II sebesar 96,54 %.</p>
<p>Penelitian Ishmah (2006) yang berjudul <em>Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Eksposisi dengan Menggunakan Media Animasi Berbasis Komputer pada Siswa Kelas X3 SMA Negeri 7 Semarang</em>, meneliti penggunaan media animasi sebagai alternatif menulis paragraf eksposisi. Penelitian ini didasarkan pada hasil tindakan siklus I dan hasil tindakan siklus II. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pada siklus I ke siklus II. Pada siklus I hasil rata-rata nilai adalah 65,07. Setelah dilakukan tindakan siklus II, Nilai rata-rata meningkat menjadi 76,27. Hasil tersebut mengalami peningkatan sebesar 11,19 atau 17,19 % dari siklus I. Hasil tersebut membuktikan bahwa pembelajaran menulis paragraf eksposisi menggunakan media animasi berbasis komputer dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa. Selain itu, terdapat juga perubahan tingkah laku siswa dalam menulis paragraf eksposisi yaitu siswa menjadi lebih berminat dan aktif dalam mengikuti belajar mengajar.</p>
<p>Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan tersebut, terdapat persamaan, yaitu penelitian yang dilakukan sama mengenai keterampilan menulis. Namun, ada beberapa perbedaan yaitu objek kajian dan teknik pembelajaran. Terkait dengan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan, penelitian tersebut dapat menjadi panduan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut.</p>
<p>Berdasarkan kajian pustaka tersebut, dapat diketahui bahwa Penelitian Tindakan Kelas tentang menulis memiliki persamaan, yaitu bahwa penelitian menulis sudah dilakukan oleh beberapa peneliti, keterampilan siswa untuk menulis masih relatif rendah sehingga perlu adanya peningkatan keterampilan menulis bagi siswa melalui percobaan penggunaan metode, media, dan pendekatan yang berbeda.</p>
<p>Perbedaannya, setiap penelitian mempunyai ide yang baru dalam hal cara sehingga hasilnya pun berbeda. Akan tetapi, penelitian tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu meningkatkan keterampilan menulis siswa. Para peneliti menggunakan teknik, metode, dan media maupun pendekatan yang bervariasi tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan keterampilan menulis siswa. Berdasarkan penelitian yang sudah pernah dilakukan maka pada kesempatan ini peneliti akan melakukan penelitian tentang menulis paragraf deskripsi. Tentunya dengan metode, dan teknik yang berbeda. Dalam penelitian ini guru menggunakan teknik objek langsung sebagai teknik dalam pembelajaran keterampilan menulis paragraf deskripsi. Penelitian yang akan dilakukan adalah bagaimana peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan pada siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati.</p>
<p>Penelitian ini sebagai tindak lanjut dari penelitian-penelitian yang sudah ada, dengan tujuan untuk memberikan pemikiran dan tolok ukur kajian pada penelitian-penelitian lebih lanjut sehingga dapat menambah khasanah pengembangan pengetahuan mengenai pembelajaran menulis khususnya menulis paragraf deskripsi dengan teknik objek langsung. Dengan teknik objek langsung yang pembelajarannya dilakukan di dalam dan di luar kelas diharapkan siswa tidak merasa jenuh dan dapat menungkan ide serta gagasannya. Selain itu,  kelebihan dalam menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung ini, agar pembaca dapat merasakan dan masuk ke dalam inspirasi penulis. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi dan mengubah perilaku siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati.</p>
<p><strong>B. Landasan Teori</strong></p>
<p>Teori-teori yang akan dipaparkan dalam landasan teoretis ini berkaitan dengan penelitian ini yaitu meliputi teori tentang keterampilan menulis, hakikat menulis paragraf deskripsi, hakikat objek langsung, pembelajaran kontekstual, kaitan antara pendekatan kontekstual dengan pembelajaran menulis, dan pembelajaran menulis paragraf deskripsi melalui teknik objek langsung. Teori-teori ini akan menjadi landasan dalam penelitian ini.</p>
<p><strong>1) Keterampilan Menulis </strong></p>
<p>Keterampilan menulis adalah keterampilan yang paling kompleks, karena keterampilan menulis merupakan suatu proses perkembangan yang menuntut pengalaman, waktu, kesepakatan, latihan serta memerlukan cara berpikir yang teratur untuk mengungkapkannya dalam bentuk bahasa tulis. Oleh sebab itu,  keterampilan menulis perlu mendapat perhatian yang lebih dan sungguh-sungguh sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa.</p>
<p><strong>2) Hakikat Menulis </strong></p>
<p>Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan dan pengetahuan. Dalam kegiatan menulis ini, maka penulis haruslah teampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Disebut sebagai kegiatan produktif karena kegiatan menulis menghasilkan tulisan, dan disebut sebagai kegiatan yang ekspresif  karena kegiatan menulis adalah kegiatan yang mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan penulis kepada pembaca (Tarigan 1983:3-4).</p>
<p><strong>3) Hakikat Menulis Paragraf Deskripsi </strong></p>
<p>Deskripsi adalah semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu obyek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga obyek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan para pembaca melihat sendiri obyek itu (Keraf 1995:16). Deskripsi memberi satu citra mental mengenai sesuatu hal yang dialami, misalnya pemandangan, orang atau sensasi.</p>
<p>Fungsi utama dari deskripsi adalah membuat para pembacanya melihat barang-barang atau obyeknya, atau menyerap kualitas khas dari barang-barang itu. Deskripsi membuat kita melihat yaitu membuat visualisasi mengenai obyeknya, atau dengan kata lain deskripsi memusatkan uraiannya pada penampakan barang. Dalam deskripsi kita melihat obyek garapan secara hidup dan konkrit, kita melihat obyek secara bulat.</p>
<p>Misalnya kita akan membuat deskripsi tentang sebuah rumah, diharapkan menyajukan banyak penampilan individual dan karakteristik dari rumah itu, dan beberapa aspek yang dapat dianalisis seperti : besarnya, materi konstruksinya, dan rancangan arsitekturnya. Demikian pula deskripsi suatu daerah pedesaan kurang bertalian dengan ciri-ciri studi topografis, tetapi lebih terfokus pada macam-macam keistimewaan umum, dan suasana lokal yang menarik. Karena sasaran yang dituju adalah memberi perhatian pada penampilan yang khas dari obyeknya. Deskripsi lebih memberikan citra yang menarik mengenai objek itu. Deskripsi banyak kaitannya dengan hubungan pancaindera dan pencitraan, maka banyak tulisan deskripsi di klasifikasikan sebagai tulisan kreatif.</p>
<p>Tujuan menulis deskripsi adalah membuat para pembaca menyadari dengan hidup apa yang diserap penulis melalui pancaindera, merangsang perasaan pembaca mengenai apa yang digambarkannya, menyajikan suatu kualitas pengalaman langsung. Objek yang dideskipsikan mungkin sesuatu yang bisa ditangkap dengan pancaindera kita, sebuah pemandangan alam, jalan-jalan kota, tikus-tikus selokan atau kuda balapan, wajah seseorang yang cantik molek, atau seseorang yang putus asa, alunan musik atau gelegar guntur, dan sebagainya.</p>
<p>Paragraf deskripsi merupakan penggambaran suatu keadaan dengan kalimat-kalimat, sehingga menimbulkan kesan yang hidup. Penggambaran atau lukisan itu harus disajikan sehidup-hidupnya, sehingga apa yang dilukiskan itu hidup di dalam angan-angan pembaca.</p>
<p>Deskripsi lebih menekankan pengungkapannya melalui rangkaian kata-kata. Walaupun untuk membuat deskripsi yang baik, penulis harus mengadakan identifikasi terlebih dahulu, namun pengertian deskripsi hanya menyangkut pengungkapa melalui kata-kata. Dengan mengenal ciri-ciri obyek garapan, penulis dapat menggambarkan secara verbal obyek yang ingin diperkenalkan kepada para pembaca.</p>
<p>Maka dapat disimpulkan bahwa paragraf deskripsi merupakan paragraf yang melukiskan suatu objek sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal yang ditulis pengarang.</p>
<p><strong>4) Hakikat Objek Langsung </strong></p>
<p><strong> </strong>Teknik pembelajaran menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan objek yang dilihat. Guru menunjukkan objek kepada siswa di depan kelas, misalnya sebuah patung, vas bunga, mobil-mobilan, dan lain-lain. Dari objek tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan objek yang dilihatnya. Alat yang dibutuhkan adalah objek-objek yang bervariasi sesuai dengan tema pembelajaran. Teknik ini dapat dijalankan secara perseorangan maupun secara kelompok (Suyatno 2004:82).</p>
<p>Penerapan yang digunakan dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung ini, guru menyampaikan pengantar kemudian guru memajang beberapa objek di depan kelas, setelah siswa melihat objek tersebut, siswa mulai mengidentifikasi objek, lalu siswa membuat tulisan secara runtut dan logis. Teknik pembelajaran menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan objek yang dilihat. Teknik ini dapat dijalankan secara perseorangan maupun secara kelompok dengan cara observasi langsung. Siswa secara langsung dapat menuangkan ide atau gambaran sesuai apa yang mereka lihat sesuai dengan pancaindera jadi kesannya membuat tulisan itu menjadi hidup. Model observasi langsung memang akan memuaskan harapan pembaca karena dianggap sebagai jalan menuju obyektivitas dan pembaca benar-benar dapat merasakan apa yang mereka baca seolah-olah mereka melihat sendiri objek yang ada dalam tulisan tersebut.</p>
<p><strong>5) Pembelajaran Kontekstual</strong></p>
<p>Sumber daya manusia yang semakin maju, maka dunia pendidikan sangat menuntut untuk menciptakan lingkungan belajar yang alamiah sesuai dengan pola pikir siswa. Belajar akan lebih bermakna jika anak &#8220;mengalami&#8221; sendiri apa yang dipelajarinya, bukan hanya sekedar mengetahuinya saja. Oleh karena itu, melalui pembelajaran kontekstual diharapkan target penguasaan materi akan lebih berhasil dan siswa dapat semaksimal mungkin untuk mengembangkan kompetensinya.</p>
<p><strong>a. Pengertian Pembelajaran Kontekstual </strong></p>
<p>Pembelajaran kontekstual (<em>Contextual Teaching and Learning</em>) adalah konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat (Nurhadi dan Senduk 2003:13).</p>
<p>Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup.</p>
<p>Banyak manfaat yang dapat diambil oleh siswa dalam pembelajaran kontekstual yaitu terciptanya ruang kelas yang di dalamnya siswa akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat yang pasif, dan mereka akan lebih bertanggung jawab dengan apa yang mereka pelajari. Pembelajaran akan menjadi lebih berarti dan menyenangkan. Siswa akan bekerja keras untuk mencapai tujuan pembelajaran, mereka menggunakan pengalaman dan pengetaBABhuan sebelumnya untuk membangun pengetahuan baru.</p>
<p>Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual ini adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Selain itu guru juga memberikan kemudahan belajar kepada siswa, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk belajar. Lingkungan belajar yang kondusif sangat diperlukan, maksudnya belajar dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari &#8220;guru akting di depan kelas, siswa menonton&#8221; ke &#8220;siswa aktif bekerja dan berkarya guru mengarahkan&#8221;. Pengajaran harus berpusat pada &#8220;bagaimana cara&#8221; siswa menggunakan pengetahuan baru mereka sehingga strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan dengan hasilnya.</p>
<p>Guru bukanlah sebagai yang paling tahu, melainkan guru harus mendengarkan siswa-siswanya dalam berpendapat mengungkapkan ide atau gagasan yang dimiliki oleh siswa. Guru bukan lagi sebagai penentu kemajuan siswa-siswanya, tetapi guru sebagai seorang pendamping siswa dalam pencapaian kompetensi dasar. Menurut Zahorik (dalam Mulyasa 2006:219) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual yaitu (1) Pembelajaran harus memperhatikan, pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik; (2) Pembelajaran dimulai dari keseluruhan menuju bagian-bagiannya secara khusus; (3) Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara : menyusun konsep sementara, melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain, merevisi dan mengembangkan konsep; (4) Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apa-apa yang dipelajari; (5) Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.</p>
<p>Pendekatan kontekstual maksudnya adalah suatu konsep belajar di mana menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan keluarga dan masyarakat. Hasil pembelajaran diharapkan akan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjang (Nurhadi dan Senduk 2003:4).</p>
<p>Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang mereka pelajari.</p>
<p>Pembelajaran kontekstual ini memungkinkan proses belajar yang tenang dan menyenangkan, karena pembelajaran dilakukan secara alamiah, sehingga peserta didik dapat mempraktekkan secara langsung apa yang telah mereka pelajari.</p>
<p>Pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk memahami hakikat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memungkinkan mereka rajin, dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan untuk belajar. Kondisi ini akan terwujud, ketika siswa menyadari tentang apa yang mereka perlukan untuk hidup, dan bagaimana cara untuk menggapainya.</p>
<p><strong>b. Komponen Pembelajaran Kontekstual </strong></p>
<p>Pembelajaran kontekstual mempunyai tujuh komponen utama pembelajaran, diantaranya yaitu (1) kontruktivisme (<em>contructivism</em>), (2) bertanya (<em>questioning</em>), (3) menemukan (<em>inquiry</em>), (4) masyarakat belajar (<em>learning community</em>), (5) pemodelan (<em>modeling</em>), (6) refleksi (<em>reflection</em>), dan (7) penilaian sebenarnya (<em>authentic assessement</em>).</p>
<p>Kontruktivisme (<em>contructivism</em>) merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan satu informasi komplek ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik sendiri.</p>
<p>Bertanya (<em>questioning</em>) adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk menganalisis dan mengeksplorasi gagasan-gagasan. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai keterampilan berpikir siswa. Hal ini merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan pada aspek yang belum diketahuinya.</p>
<p>Menemukan <em>(inquiry)</em> merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengikat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam inkuiri terdiri atas siklus yang mempunyai langkah-langkah antara lain (1) merumuskan masalah, (2) mengumpulkan data melalui observasi, (3) menganalisi dan menyajikan hasil tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, atau audiens yang lain.</p>
<p>Masyarakat belajar (<em>learning community</em>), hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari <em>sharing</em> antarteman, antarkelompok, dan antarmereka yang tahu ke mereka yang sebelum tahu. Dalam masyarakat belajar, anggota kelompok yang terlibat dalam kegiatan masyarakat memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan juga meminta informasi yang diperlukan dari teman bicaranya.</p>
<p>Pemodelan (<em>modeling</em>) yaitu dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaiman guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar.</p>
<p>Refleksi (<em>reflection</em>) adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Kunci dari itu semua adalah, bagaimana pengetahuan mengendap dibenak siswa. Siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru.</p>
<p>Penilaian yang sebenarnya (<em>authentic assessement</em>), merupakan prosedur penilaian pada pembelajaran konekstual yang memberikan gambaran perkembangan belajar siswanya. <em>Assessement</em> adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Jika data yang dikumpulkan oleh guru mengidentifikasi bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera mengambil tindakan tepat agar siswa terbebas dari kemacetan tersebut.</p>
<p>Melalui penelitian ini, peneliti mencoba untuk menerapkan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf deskripsi dengan menggunakan teknik objek langsung.</p>
<p><strong>6) Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan </strong></p>
<p>Menulis merupakan keterampilan yang harus dilatih, karena menulis bukan merupakan keterampilan alami. Oleh karena itu, bagi setiap penulis diharapkan untuk dapat menuangkan ide dan gagasannya dengan baik dan jelas agar pembaca tidak bingung dalam membacanya. Menurut Owens (dalam Soenardji 1998:102) dalam hubungannya dengan pengajaran bahasa, menulis adalah menggabungkan sejumlah kata menjadi kalimat yang baik dan benar menurut tata bahasa dan menjalinnya menjadi wacana yang tersusun menurut penalaran yang tepat.</p>
<p>Dalam Kurikulum 2006 atau yang sekarang ini disebut sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), bahwa pembelajaran diserahkan kepada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator. Siswa tidak lagi menjadi objek belajar melainkan sebagai subjek belajar. Oleh karena itu, siswa harus aktif dalam belajar, termasuk juga dalam pembelajaran menulis.</p>
<p>Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi  ini adalah pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Kaitan antara pembelajaran menulis dengan pendekatan ini adalah terdapat pada langkah pembelajarannya. Langkah yang pertama yang dilakukan oleh guru adalah memberikan contoh sebuah paragraf deskripsi dengan menunjukkan satu objek misalnya saja<em> bunga, </em>dari objek itu diharapkan siswa mampu mengembangkan sebuah paragraf karena mereka melihat sendiri objek yang akan ditulis ke dalam sebuah paragraf deskripsi .</p>
<p>Melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ini diharapkan siswa merasa lebih mudah dalam menulis karena mereka sudah mempunyai gambaran yang telah diberikan oleh guru melalui sebuah contoh, dan diharapkan siswa dapat mengembangkan ide, pikiran, dan gagasan mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.</p>
<p><strong>7) Pembelajaran Menulis Paragraf Deskripsi Melalui Teknik Objek  Langsung </strong></p>
<p>Tujuan teknik pembelajaran menulis paragraf deskripsi agar siswa dapat menulis paragraf deskripsi melalui pengamatan secara langsung, dengan begitu siswa dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan, ide, mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis.</p>
<p>Berdasarkan teori (Suyatno 2004:82) dapat dirumuskan beberapa cara yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran menulis dengan teknik objek langsung yaitu (1) Guru memberikan pengantar singkat tentang teknik pembelajaran menulis paragraf deskripsi; (2) Guru membagi kelompok berdasarkan objek yang akan diamati oleh siswa; (3) Guru menyuruh siswa untuk keluar kelas selama 45 menit; (4) Setelah siswa selesai menulis paragraf deskripsi sesuai dengan objek yang ditentukan oleh guru, kemudian siswa mempresentasikan secara individu sesuai dengan pembagian kelompok objek yang berbeda; (5) Setiap kelompok dengan objek yang berbeda mengomentari hasil yang ditulis oleh siswa; (6) Guru merefleksi proses kegiatan hari itu.</p>
<p>Upayakan pembelajaran menulis paragraf deskripsi ini dirancang dengan tepat agar siswa senang, tertarik, dan menantang. Guru menentukan objek yang akan ditulis kedalam paragraf deskripsi pada setiap kelompok, tetapi dikerjakan secara individu agar siswa bebas dalam berekspresi dan menuangkan ide dalam bentuk tertulis.</p>
<p><strong>C. Kerangka Berpikir </strong></p>
<p>Kemampuan menulis memberikan makna yang penting untuk berkomunikasi secara tidak langsung dalam kehidupan. Memiliki kemampuan menulis tidaklah semudah yang dibayangkan oleh banyak orang. Semakin banyak kita berlatih menulis, maka akan semakin menguasai keterampilan tersebut. Tidak ada orang yang dapat langsung terampil menulis tanpa melalui suatu proses latihan.</p>
<p>Sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis khususnya menulis paragraf deskripsi, guru harus menerapkan pengetahuannya mengenai teknik dalam mengajar. Peneliti dalam hal ini sebagai guru menggunakan teknik objek langsung guna mengaktifkan siswa dalam pembelajaran.</p>
<p>Penggunaan teknik objek langsung akan menuntut siswa berpikir aktif menuangkan apa yang ia pikirkan dan ia rasakan. Teknik objek langsung juga dapat membantu siswa untuk mengalirkan secara bebas apapun yang telah tersimpan di dalam pikiran dan perasaan siswa.</p>
<p>Lingkungan fisik, sosial, atau budaya merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar siswa. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan membuat anak merasa senang dalam belajar. Mengalami langsung apa yang sedang dipelajari akan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang lain atau guru menjelaskan. Membangun pengamatan dan pemahaman serta pengalaman langsung akan lebih mudah daripada membangun pemahaman dari uraian lisan guru. Belajar dengan cara mengalami langsung akan meningkatkan kreatifitas siswa dalam menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan.</p>
<p><strong>D. Hipotesis Tindakan </strong></p>
<p>Hipotesis tindakan dalam penelitian ini yaitu keterampilan menulis paragraf deskripsi sikap, dan tingkah laku siswa kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati akan mengalami peningkatan jika guru menerapkan teknik objek langsung dalam pembelajaran menulis paragraf deskripsi ke arah yang positif.</p>
<p><strong>IZZUL HASANAH, S.Pd</strong><br />
Guru SMK Tunas Harapan Pati, Pengurus Agupena Jawa Tengah</p>
<p><strong>(BERSAMBUNG)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/04/08/peningkatan-keterampilan-menulis-paragraf-deskripsi-dengan-teknik-objek-langsung-melalui-pendekatan-kontekstual-bab-i-dan-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru sebagai Peneliti</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2009/02/14/guru-sebagai-peneliti/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2009/02/14/guru-sebagai-peneliti/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 11:08:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KTI]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[profesionalisme guru]]></category>
		<category><![CDATA[PTK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sawali Ketika Depdiknas meluncurkan model penelitian berbasis tindakan kelas (PTK), predikat guru pun bertambah. Guru tak hanya sebatas menjadi “tukang ajar” yang ruang geraknya dibatasi empat dinding ruang kelas, tetapi diharapkan juga menjadi seorang peneliti. Melalui PTK yang dilakukan, guru diharapkan menjadi “pionir” sekaligus “inovator” pembelajaran yang mampu menciptakan atmosfer pembelajaran secara menarik dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Sawali</p>
<p>Ketika Depdiknas meluncurkan model penelitian berbasis tindakan kelas (PTK), predikat guru pun bertambah. Guru tak hanya sebatas menjadi “tukang ajar” yang ruang geraknya dibatasi empat dinding ruang kelas, tetapi diharapkan juga menjadi seorang peneliti. Melalui PTK yang dilakukan, guru diharapkan menjadi “pionir” sekaligus “inovator” pembelajaran yang mampu menciptakan atmosfer pembelajaran secara menarik dan memikat sehingga siswa didiknya merasa nyaman dan menyenangkan ketika mengikuti proses pembelajaran.</p>
<p><img class="alignleft" title="presentasi" src="http://sawali64.googlepages.com/fig1.jpg" alt="FIG" width="275" height="206" />PTK sangat memberikan peluang kepada para guru untuk melakukan hal itu. Mereka memiliki kebebasan secara kreatif untuk mengujicobakan berbagai pendekatan, strategi, metode, media, atau bahan ajar ke dalam proses pembelajaran yang dikelolanya. <span lang="SV">Ibarat dokter, gurulah yang tahu persis “penyakit” yang diderita “pasien”-nya. Berdasarkan diagnosis yang dilakukan, guru diharapkan dapat memberikan obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan sang pasien. </span></p>
<p>”Naluri” seorang guru sudah pasti akan terus berupaya untuk mencari cara-cara yang tepat agar siswa didiknya tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang cerdas, kreatif, kritis, dan mandiri; terbebas dari cengkeraman berbagai macam ”penyakit” akut. Sayangnya, cara-cara yang diterapkan guru dalam kegiatan pembelajaran seringkali berlangsung secara dadakan, tidak terencana dan terpola, berlangsung sesaat, dan (hampir) tak ada tindak lanjutnya. Itulah sebabnya, gagasan-gagasan brilian dari para ”mahaguru” dari generasi ke generasi tak bisa terwariskan kepada para guru yang lahir kemudian. Mereka tak bisa belajar dari pengalaman dan sejarah masa silam akibat parahnya proses dokumentasi dan minimnya akses informasi terhadap cara-cara jitu dalam mengelola pembelajaran secara menarik dan menyenangkan. Tidak berlebihan jika dinamika pembelajaran dalam dunia pendidikan kita tampil begitu stagnan dan membosankan. Imbasnya, generasi yang lahir dari ”rahim” dunia pendidikan kita (nyaris) gagal menjadi sosok yang cerdas dan berkarakter.</p>
<p><img class="alignleft" title="presentasi2" src="http://sawali64.googlepages.com/fig2.jpg" alt="FIG2" width="275" height="206" />Atmosfer pembelajaran yang stagnan dan membosankan semacam itu agaknya mendapatkan banyak respon dari para pakar, pengamat, dan pemerhati dunia pendidikan. Harus ada perubahan paradigma dalam pengelolaan pembelajaran; dari pengelolaan yang serba dadakan dan tak terpola menjadi pengelolaan pembelajaran yang terencana, terprogram, dan jelas tindak lanjutnya. Oleh karena itu, guru perlu terus dirangsang untuk menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran yang lebih kontekstual dan selaras dengan semangat zamannya.</p>
<p>PTK sejatinya merupakan upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengelola pembelajaran secara menarik dan menyenangkan sehingga memiliki imbas positif terhadap lahirnya generasi masa depan yang cerdas, kritis, dan berkarakter melalui kegiatan perencanaan, pelaksanaan aksi (tindakan), observasi, dan refleksi berdasarkan prosedur ilmiah. Setiap perubahan yang terjadi, baik yang berkaitan dengan proses pembelajaran maupun hasil-hasilnya, perlu didokumentasikan dengan baik, untuk selanjutnya dianalisis dan direfleksi sehingga memiliki kejelasan alur dan penalaran dari sisi keilmuan.</p>
<p>Namun, harus diakui, meraih predikat guru sebagai peneliti agaknya juga bukan perkara gampang. Selain dukungan kebijakan, apresiasi, dan finansial yang masih minim, juga belum kondusifnya budaya meneliti di kalangan guru. Ini artinya, perlu ada kesadaran kolektif dari segenap komponen pendidikan untuk menciptakan atmosfer yang benar-benar kondusif agar predikat guru sebagai peneliti itu tak terjebak ke dalam slogan belaka. *** </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2009/02/14/guru-sebagai-peneliti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

