<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena Jawa Tengah &#187; Ilmiah Pop</title>
	<atom:link href="http://agupenajateng.net/category/ilmiah-populer/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupenajateng.net</link>
	<description>Membangun Semangat Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 04:35:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>BEBAN PSIKOEDUKATIF GURU</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/02/beban-psikoedukatif-guru/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/02/beban-psikoedukatif-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 12:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[beban guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2991</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: YULIANI EKA SAPUTRA PNS di Kecamatan Jiwan Madiun, Jawa Timur Baru-baru ini pemerintah mewacanakan menambah jam mengajar guru dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu. Penambahan jam mengajar itu mengundang polemik di kalangan para guru. Pemerintah beralasan dengan hanya 24 jam per minggu belum sebanding dengan beban kerja aparat birokrasi pemerintah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>YULIANI EKA SAPUTRA</strong><br />
<em>PNS di Kecamatan Jiwan Madiun, Jawa Timur</em></p>
<p><img alt="" src="http://smkpancasila.ppl.fkip.uns.ac.id/files/2011/09/PPL-mendampingi-GurubPamong-Mengajar-di-Kelas.jpg" class="alignleft" width="324" height="241" />Baru-baru ini pemerintah mewacanakan menambah jam  mengajar guru dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu. Penambahan jam mengajar itu mengundang polemik di kalangan para guru. Pemerintah beralasan dengan hanya 24 jam per minggu belum sebanding dengan beban kerja aparat birokrasi pemerintah yang mempunyai jam kerja lebih dari 30 jam per minggu. Lantas apa makna penambahan jam mengajar itu bagi profesi guru?</p>
<p>Pertama, penambahan jam mengajar dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu mencerminkan guru hanya dihargai ketika mengajar. Gaji guru pun dihitung hanya berdasarkan jam mengajar kepada siswa. Jerih payah guru mengerjakan tugas lain yang mendukung pembelajaran tidak termasuk dalam pengajaran. Padahal kegiatan seorang guru tidak hanya pada saat jam mengajar. Sebagai konsekuensi dari pendidik guru juga membuat soal ujian, koreksi, menambah pengetahuan dengan pelatihan, pertemuan kelompok kerja guru (KKG).</p>
<p>Selain itu seorang guru juga diwajibkan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebelum mengajar di depan kelas. Dengan demikian guru tidak dihargai karena disamakan dengan buruh belaka. Kerja keras guru di luar kelas seperti tidak mendapat penghargaan. Semua persiapan yang melelahkan sebelum mengajar di depan kelas cenderung diabaikan. Dengan penambahan jam mengajar itu bisa saja guru kehilangan kreativitas dan proses belajar mengajar tidak menarik.</p>
<p>Kedua, guru tidak dapat disamakan dengan kompetensi profesi lain seperti pegawai kelurahan, buruh, aktivis LSM dan karyawan pabrik. Guru memiliki kompetensi khusus yang sering dikenal dengan panggilan jiwa. Tidak semua orang dapat menjadi  dapat guru sekalipun memiliki jenjang pendidikan yang sama. Jam terbang seorang guru mencerminkan kualitas pengajaran yang dilakukan. Menjadi guru membutuhkan ketekunan profesi dan kompetensi yang tidak dapat dilakukan semua orang. Begitu pun ketika berhadapan dengan beragam karakter siswa membutuhkan seni dan keterampilan tersendiri.</p>
<p>Seorang guru berperan sebagai guru tidak hanya ketika berhadapan dengan siswa dalam proses belajar mengajar melainkan dalam keseluruhan pekerjaan guru. Maka aktivitas seorang guru terjadi baik dalam keadaan mengajar maupun dalam keadaan tidak mengajar karena mengerjakan tugas-tugas lain yang mendukung pembelajaran di kelas. Nyaris tidak banyak waktu tersedia bagi seorang guru ketika menunaikan panggilan profesinya.</p>
<p>Guru pun bekerja 24 jam. Seorang guru akan selalu dipanggil dengan sebutan Pak Guru dan Ibu Guru sekalipun sedang tidak mengajar di depan kelas. Di tengah-tengah masyarakat pun guru tetap melekat panggilan profesinya sehingga guru harus mampu menjadi teladan dan panutan dalam kehidupan bermasyarakat. Tutur kata seorang guru adalah keteladanan. Karena itu kebijakan bagi guru sebenarnya akan berdampak pada pendidikan secara keseluruhan.</p>
<p>Ketiga, seorang guru ketika berangkat ke sekolah dalam otaknya sudah dipersiapkan semua materi yang hendak diajarkan kepada peserta didik. Karena itu bukan seorang guru namanya kalau tidak pernah belajar, jarang membaca,  jarang mencari informasi di internet dan terus mengembangkan diri baik dengan studi lanjutan,  berdiskusi, menghadiri pertemuan-pertemuan guru. Bukan guru namanya kalau tidak pernah membaharui alat-alat peraga pendidikan yang dipergunakan. Dan guru harus terus didorong untuk mengembangkan ilmunya melalui penelitian-penelitian.</p>
<blockquote><p>Karena itu kalau menghitung jam mengajar dan pernak-pernik lain yang mendukung pembelajaran waktu guru sudah amat terbatas. Akan menjadi seperti apa proses pembelajaran ketika jam mengajar guru ditambah dari 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu. Apakah beban guru tidak kian bertambah berat? Lantas kemanakah para guru yang mempunyai bobot mengajar lebih sedikit seperti Olah Raga, Pendidikan Agama, Geografi? Jelas mereka membutuhkan kelas baru untuk menambah jam mengajar hingga memenuhi standar.</p></blockquote>
<p>Itu pun artinya kalau tidak ada penambahan kelas baru akan membawa dilema. Di satu sisi proses belajar mengajar kian padat bagi siswa yang berarti harus bertatap muka dengan guru melebihi biasanya. Itu tidak hanya membosankan! Melainkan proses pembelajaran bisa kian tidak menarik karena lebih lama dan lebih membutuhkan kreativitas.  Proses belajar mengajar dapat menjadi kering karena guru hadir tanpa persiapan Tanpa kejelian guru membaca peserta didik proses ini bisa sangat membosankan bin menjenuhkan.</p>
<p>Pada sisi yang lain ketika guru-guru harus memenuhi kuota mengajar 27,5 jam per minggu dapat saja mengurangi loyalitas guru karena berarti harus mengajar di tempat lain. Guru-guru PNS harus mengajar di sekolah-sekolah swasta yang tentu akan  berdampak pada etos mengajar guru yang bersangkutan. Tuntutan di sekolah yang berbeda-beda dapat membuat guru stress hanya demi memenuhi kuota mengajar.</p>
<p>Oleh karena itu kebijakan dalam pendidikan sebenarnya hanya dapat diaplikasikan kalau berdampak positif bagi peserta didik. Kebijakan pendidikan tidak dapat lahir dalam konteks eksperimentasi atau coba-coba belaka karena yang dirugikan adalah peserta didik. Setiap bentuk perubahan dalam pendidikan selalu berdampak pada proses belajar mengajar. Dan ketika pembelajaran tidak menarik peserta didiklah yang sangat dirugikan.</p>
<p>Boleh-boleh saja Kemdiknas terus membuat kebijakan termasuk dengan guru karena memang sudah menjadi ciri penting ganti menteri ganti kebijakan. Namun jangan sampai kebijakan itu justru menjadi beban bagu guru. Lagipula kebijakan yang lahir tanpa rencana justru akan menjadi bola liar yang merugikan dunia pendidikan. Terlampau banyak aspek yang hendak diatur menyebabkan kebingungan dalam merumuskan kebijakan yang tepat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/02/beban-psikoedukatif-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEKOLAH, MAMPUKAH MENDIDIK ANTI KORUPSI?</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/12/02/sekolah-mampukah-mendidik-anti-korupsi/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/12/02/sekolah-mampukah-mendidik-anti-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 12:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[budaya korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2988</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muh. Muslih Guru MA Ma’arif Borobudur Magelang dan Ketua LP Maarif Muntilan, Magelang Jawa Tengah Adalah Mahfud MD, sang Ketua Mahkamah Konstitusi, yang sangat geram melihat kasus korupsi yang senakin tinggi.&#8221;Akibat korupsi, negara saat ini dalam bahaya.&#8221; katanya beberapa waktu yang lalu seperti dilansir dalam www.mahkamahkonstitusi.go.id (31/1/2011). Berita korupsi tiap hari menghiasi halaman media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Muh. Muslih</strong><em><br />
Guru MA Ma’arif Borobudur Magelang dan Ketua LP Maarif Muntilan, Magelang Jawa Tengah</em></p>
<p><img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_d5oQmIKyuw8/S3uZS61vNAI/AAAAAAAAAAc/2diKZG8txvo/S220/foto.jpg" class="alignleft" width="165" height="200" />Adalah Mahfud MD, sang Ketua Mahkamah Konstitusi, yang sangat geram melihat kasus korupsi yang senakin tinggi.&#8221;Akibat korupsi, negara saat ini dalam bahaya.&#8221; katanya beberapa waktu yang lalu seperti dilansir dalam www.mahkamahkonstitusi.go.id (31/1/2011).  </p>
<p>Berita korupsi tiap hari menghiasi halaman media pemberitaan kita. Entah sampai kapan akan berakhir. Bertahun-tahun Indonesia menempati daftar salah satu negara terkorup di dunia. Persepsi masyarakat terhadap kasus korupsi menjadi sangat menyedihkan. Masyarakat menjadi imun alias kebal terhadap kasus korupsi. Sehingga terdapat  opini masyarakat bahwa korupsi telah menjadi budaya bangsa kita sehingga sulit dihilangkan.</p>
<p>Survei yang dilakukan majalah Intisari terhadap 1.044 pembaca mengenai kebiasaan korupsi di masyarakat memperkuat anggapan di atas. Dalam survey itu semua responden setuju bahwa korupsi tergolong tindakan tercela. Tapi sekitar sepertiga responden secara jujur mengakui bahwa mereka bersedia menyuap petugas saat mengurus SIM, KTP, atau ketika ditilang polisi (Intisari,Oktober 2011). Lalu kepada siapa kita bisa berharap untuk mencegah terjadinya korupsi? Jawaban yang paling masuk akal adalah pada sekolah.</p>
<p>Sampai saat ini sekolah masih diyakini sebagai lembaga penyemai benih-benih pengetahuan dan nilai-nilai kebaikan. Lewat pengajaran dan pendidikan ditaburkan nilai-nilai kejujuran, amanah, ketelitian, kerapian dll. Namun di sisi lain masyarakat mengenal para koruptor sebagian besar adalah produk lembaga pendidikan. Ini terlihat dari pelaku-pelaku korupsi dilakukan oleh eksekutif maupun legislative bahkan yudikatif yang nota bene orang-orang berpendidikan. Orang pun bertanya apa peran lembaga pendidikan selama ini dalam pencegahan tindak korupsi?<br />
<strong><br />
Korupsi Kecil di Sekolah</strong><br />
Harapan masyarakat pada sekolah/madrasah terhadap pencegahan korupsi sangatlah tinggi. Namun kenyataannya sekolah memang belum sepenuhnya mampu melaksanakannya. Dalam praktek sekolah sering memberikan contoh yang tidak jujur. Benarkah? Lihat saja praktek-praktek korupsi kecil di sekolah, masih ada guru-guru PNS pulang sebelum waktunya pulang. Bukankah itu korupsi waktu? Apakah para guru selalu mengoreksi PR yang telah mereka berikan pada siswa?  Hal ini penting dalam menanamkan nilai kejujuran dan sportifitas pada anak. Sebab teladan guru lebih berharga dari sekedar himbauan.</p>
<p>Selain itu dalam hal ujian, apakah urusan contek-menyontek sudah mendapat perhatian yang memadai ? Artinya antara si penyontek dan yang di contek telah diberikan pengertian yang mendalam dan mendapat sangsi. Karena tanpa disadari kebiasaan buruk mencontek akan menjadi bibit yang merugikan karakter anak nantinya. Bila tak pernah ada sangsi dari guru, maka anak yang baik dan pintar akan menjadi apatis dalam belajar sebab nilainya akan selalu di bawah mereka yang bodoh namun trampil menyontek. Dan yang bahaya anak akan mempunyai anggapan bahwa perbuatan buruk ( mencontek ) boleh saja dilakukan asal tidak ketahuan orang lain ( guru ). Mungkin para pembaca masih ingat teman-teman anda yang masih rajin menyontek, meski telah menyandang predikat mahasiswa? Atau mungkin anda sendiri pernah menjadi pelakunya? Inilah kelemahan sistem pendidikan kita. Terlalu permisif pada hal-hal yang mestinya prinsip.</p>
<p>Dan yang lebih mengerikan lagi adalah upaya sulapan nilai yang dilakukan oleh beberapa guru agar siswanya bisa lulus dalam EBTANAS tahun 1980an hingga UAN sekarang ini. Kasus yang diindikasikan sebagai upaya menyontek masal dalam ujian nasional 2011 di Surabaya beberapa waktu lalu mungkin bisa kita kaitkan dengan fakta ini. Kalau ini nampaknya sudah terstruktur, mulai dari pejabat birokrasi pendidikan hingga kepala sekolah dan guru sebagai pelaksananya. Maka jangan heran bila mutu pendidikan kita tak kunjung meningkat karena nilainya hanya sulapan saja. Jadi ibarat makan buah simalakama, dimakan bapak mati tak dimakan emak mati. Tak dilakukan banyak anak tak lulus, kalau dilakukan berarti berlaku tidak jujur. Terus kapan kita akan mendidik anak anti korupsi? Tentu jawabnya adalah sejak dini..<br />
<strong><br />
Mendidik Anti Korupsi Sejak Dini</strong><br />
Sejak anak dilahirkan mereka perlu mendapatkan pendidikan karakter atau akhlak mulia. Pembiasaan nilai-nilai keagamaan yang sarat dengan nilai-nilai anti korupsi sangat ber pengaruh dalam pembentukan karakter mereka. Sejak lahir hingga usia 8 tahun merupakan masa keemasan dalam pembelajaran. Masa itu sering diistilahkan the golden age oleh para pakar psikologi dan neurologi dimana anak paling gampang dibentuk. Di sini anak dalam taraf belajar yang paling alamiah, termasuk dalam menerima nilai-nilai anti korupsi. Guru-guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), TK dan SD bersama orang tua menjadi tulang punggung keberhasilan mendidik anti korupsi pada usia ini. Inti dari pendidikan anti korupsi adalah mengajarkan kejujuran. Sebab pangkal korupsi adalah ketidak jujuran terhadap nurani..</p>
<p>Ada tiga tingkatan dalam menerima pembelajaran, yaitu tingkatan perasaan, tingkatan pemahaman dan tingkatan ungkapan (Intisari, Mei 2004). Pada tingkatan perasaan, anak akan mendengarkan apa saja yang diberikan padanya. Anak seperti ini seolah-olah merupakan anak yang patuh, tidak neko-neko. Namun pada dasarnya anak telah mengenal rasa senang, sedih, jengkel, dll. Hati-hati dengan kebiasaan orang tua yang sering berjanji, namun tak menepati. Secara tak langsung itu adalah pembelajaran kebohongan pada anak kita. Seringkali untuk membujuk anak yang menangis orang tua berkata,”Ayo,diamlah, nak, nanti ibu belikan permen.” Setelah sang anak terdiam ternyata sang bunda lupa dengan janjinya. Kadang-kadang seorang bapak yang kecapekan pulang kerja berkata pada anaknya,” Nak, nanti kalau Pak RT datang atau telepon mengajak kerja bakti, katakan bapak sedang tidak ada, ya!. Bila sang anak sudah tak protes dengan perilaku bapaknya itu, maka berarti dalam diri anak sudah ada bisa memahami perlunya berbohong. Sebenarnya orang tua yang bijak akan mengatakan pada anaknya, “Nak, kalau ada telepon atau Pak RT datang, tolong katakana Bapak sedang capek sekali, tidak bisa ikut kegiatan saat ini.” Itu akan lebih jujur dan memberi teladan baik pada anak. Di sekolah, guru yang tak pernah mengoreksi PR siswa, akan diterima dengan perasaaan jengkel dan akan menimbulkan apatisme anak. Bila guru tidak fair sesungguhnya ia menggambarkan dirinya sebagai model yang buruk. </p>
<blockquote><p>Bila perilaku tidak jujur dan curang terus menerus diterima siswa, maka ia akan memahami bahwa tidak jujur dan curang itu kadang-kadang perlu, karena itu akan menguntunmgkan dirinya. Inilah yang dimaksud dengan tahap selanjutnya, yakni tingkatan pemahaman. Pada  tahap ini anak akan memperhatikan berbagai cara orang memberikan pelajaran. Anak mampu membedakan mana perintah yang perlu diturut atau dibantah. Dengan panca inderanya mereka mampu mengolah pelajaran bukan hanya yang diberikan namun juga bisa menggabungkan dengan apa yang mereka lihat, alami dalam kehidupan sehari-hari. Hati-hati dengan contoh-contoh buruk yang anda berikan pada mereka. Anak akan mencatatnya dengan pemahamannya sendiri. Termasuk nilai-nilai sidiq ( kejujuran ) dan amanah ( bisa dipercaya ) akan tertanam lewat pemahaman mereka atas perilaku orang tua atau guru pada mereka.</p></blockquote>
<p>Untuk tingkatan ungkapan atau ekspresi, mereka umumnya memperhatikan orang tua atau guru memberikan pelajaran dan mencari tahu makna dari pelajaran itu. Anak seperti ini tak akan tinggal diam bila yang dipelajari dan dirasakannya tidak sama. Orang dewasa kadang kewalahan menghadapi anak pada tingkatan ini. Misalnya, ketika ia harus belajar dan tak boleh menonton TV sementara orang tuanya tetap asyik memelototi TV. Pelajaran ini akan masuk dalam konsep pengetahuan si anak, bahwa perintah / larangan yang dikeluarkan ternyata tidak berlaku bagi si pembuat keputusan. </p>
<p>Demikian pula kasus guru yang tidak mengoreksi PR. Mereka akan memiliki konsep bahwa orang yang berkuasa (dalam hal ini guru) boleh melakukan sekehendak hatinya.Karena dendam, anak merindukan dirinya memiliki kekuasaan kelak dan berlaku seenaknya. Maka pada tingkatan ekspresif ini, anak yang sebenarnya baik, namun karena pengalaman dalam ulangan-ulangan yang diadakan dalam suasana permisif, teman-temannya yang mencontek justru mendapat nilai lebih baik dan tidak mendapat sangsi dari guru bisa menyebabkan si anak baik menjadi ikut curang atau kurang percaya diri. </p>
<p>Untuk itu peran guru di sekolah sangat menentukan bagi pembentukan mental anti korupsi. Ia adalah model bagi anak yang sedang menuju masa kedewasaan. Maka sungguh bijak adanya peribahasa Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari. Kalau guru sebagi model saja tidak disiplin, tidak jujur, dan tidak adil bagaimana anak didiknya? Tentu kita berharap dengan dikembangkannya pendidikan karakter mulai dari Pra-TK hingga mahasiswa menyadarkan guru untuk lebih hati-hati dalam mendidik anak-anak bangsa ini. Lebih baik mencegah korupsi daripada membasmi. Dan itulah tugas sekolah..Untuk itu sekolah sebagai tempat menyemai nilai-nilai itu tentulah harus memberikan teladan bagi siswa dalam praktek penanamannya. Keberhasilan sekolah tidak hanya terwujud dalam real curriculum ( kurikulum nampak ) seperti yang tertuang dalam nilai-nilai pelajaran mereka, namun masyarakat juga mengharapkan keberhasilan dalam hidden curriculum ( kurikulum tersembunyi ) yang tercermin dalam perilaku siswa atau lebih dikenal sebagai pendidikan karakter seperti kejujuran, amanah, sopan santun, sportif dll. Semoga sekolah bisa mewujudkan harapan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/12/02/sekolah-mampukah-mendidik-anti-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaum Muda, Kekerasan, dan Perubahan Sosial</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/12/kaum-muda-kekerasan-dan-perubahan-sosial/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/12/kaum-muda-kekerasan-dan-perubahan-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 05:44:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Dewan Kesenian Kendal. Sawali]]></category>
		<category><![CDATA[sawali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2960</guid>
		<description><![CDATA[Drs. Sawali, M.Pd. Sekum Dewan Kesenian Kabupaten Kendal, Pengurus Agupena Pusat Apa yang akan terjadi dengan masa depan negeri ini kalau kaum mudanya gemar tawuran? Bisakah perubahan sosial yang didambakan memberikan pencerahan ketika prosesnya selalu diwarnai darah dan air mata? Ini sepenggal pertanyaan menyesak di dada ketika menyaksikan makin maraknya perilaku kaum muda (mahasiswa) kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Drs. Sawali, M.Pd.</strong><br />
Sekum Dewan Kesenian Kabupaten Kendal, Pengurus Agupena Pusat </p>
<p><img alt="" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/fotoku.jpg?t=1310755988" class="alignleft" width="300" height="308" />Apa yang akan terjadi dengan masa depan negeri ini kalau kaum mudanya gemar tawuran? Bisakah perubahan sosial yang didambakan memberikan pencerahan ketika prosesnya selalu diwarnai darah dan air mata? Ini sepenggal pertanyaan menyesak di dada ketika menyaksikan makin maraknya perilaku kaum muda (mahasiswa) kita yang suka “memanjakan” naluri agresivitasnya. Mereka bukannya getol memperjuangkan idealisme melalui mimbar akademik yang sarat dengan debat dan argumentasi bermutu, melainkan justru suka pamer otot dengan membawa batu dan pentungan untuk menyakiti sesamanya.</p>
<p>Peran kaum muda dalam setiap perubahan sosial yang terjadi sejak awal kemerdekaan hingga era reformasi memang tak seorang pun yang bisa membantahnya. Peran mereka yang mengagumkan dalam melahirkan gerakan-gerakan pro-rakyat juga sulit untuk dipungkiri. Meski demikian, kita juga sulit untuk menghindari munculnya stigma kaum muda sebagai “pionir” kekerasan ketika belakangan ini sebagian fakta berdarah-darah di ruang publik juga dipicu oleh kaum muda.</p>
<p>Dalam terminologi sosial, kaum muda (mahasiswa) sejatinya bisa digolongkan sebagai kalangan klas menengah yang senantiasa berdiri di garda depan dalam melakukan perubahan sosial. Peran mereka sebagai “motor” penggerak perubahan benar-benar teruji oleh sejarah. Soempah Pemoeda, misalnya, benar-benar momentum bersejarah ketika dengan amat sadar kaum muda saat itu mampu menanggalkan nilai-nilai primordialisme berbasis kesukuan yang masih kuat melekat di berbagai etnis di negeri ini. Dengan pandangan visioner untuk mewujudkan sebuah negeri yang terhormat dan bermartabat, mereka berikrar untuk mengikat nilai-nilai kesukuan menjadi sebuah kekuatan dahsyat untuk menyatukan berbagai suku, bahasa, dan berbagai perbedaan menjadi sebuah bangsa yang multinetik, multibahasa, dan multikultur.</p>
<p>sumpah pemudaKilas balik sejarah ini penting kita kemukakan sebagai manifestasi ingatan kolektif bangsa yang tidak akan pernah melupakan peristiwa besar itu. Kaum muda (mahasiswa) yang saat ini masih suka “memanjakan” naluri agresivitasnya di jalanan perlu banyak menimba ilmu dari para “founding fathers”. Kearifan para pendahulu negeri yang telah berhasil menorehkan tinta emas dalam prasasti sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara perlu dijadikan sebagai kiblat dan “khittah” kaum muda dalam memperjuangkan sebuah perubahan sosial tanpa pamrih. Sungguh, di alam keabadiannya, bisa jadi mereka akan terus menangis dan meratap ketika ide besar untuk menyatukan nilai-nilai kesukuan dan primordialisme yang sudah berhasil diwujudkan pada akhirnya harus porak-poranda akibat penafsiran sempit dan sesaat terhadap makna nasionalisme sejati.</p>
<p>    Maraknya aksi kekerasan yang dengan vulgar ditampilkan oleh kaum muda (mahasiswa) kita di ruang-ruang publik belakangan ini jelas amat tidak menguntungkan, baik bagi kaum muda sendiri maupun idealisme yang hendak mereka perjuangkan. Sungguh terlalu naif kalau proses reformasi dan demokratisasi dibawa-bawa dalam aksi demo yang sarat dengan ulah destruktif dan vandalisme semacam itu. Terlalu picik juga kalau reformasi dijadikan sebagai topeng untuk melakukan aksi-aksi perusakan yang ujung-ujungnya hanya melahirkan sejumlah masalah yang kian rumit dan kompleks. </p>
<p>Tiga belas tahun sudah reformasi bergulir. Namun, secara jujur mesti diakui, perubahan sosial yang didambakan untuk mewujudkan tatanan hidup berbangsa dan bernegara yang aman, damai, makmur, dan adil, justru kian menjauh dari substansi yang sesungguhnya. Maraknya korupsi, meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran, atau amburadulnya upaya penegakan hukum, merupakan persoalan serius yang tidak akan pernah selesai dituntaskan hanya dengan berteriak dan berdemo secara anarkhis.</p>
<p>Kaum muda memang perlu menyuarakan berbagai ketimpangan dan kesenjangan sosial secara masif dan terus-menerus untuk mendorong para pengambil kebijakan agar benar-benar berpihak pada rakyat. Kaum muda juga perlu terus berjuang untuk “melawan” upaya sistemik yang hendak menggagalkan agenda-agenda pemberantasan korupsi, pemberangusan kemiskinan dan pengangguran, atau mandulnya penegakan supremasi hukum. Namun, sekali lagi, agenda-agenda besar semacam itu tak akan pernah bisa terwujud jika cara-cara purba yang sarat dengan kekerasan, darah, dan air mata, masih terus berlangsung. Kini, setelah Sumpah Pemuda memasuki usia ke-83, kaum muda kita perlu segera kembali ke “khittah” perjuangan untuk mewujudkan tatanan hidup berbangsa dan bernegara dengan cara-cara yang penuh empati dan sejauh mungkin meninggalkan aksi-aksi kekerasan.</p>
<p>Nah, Dirgahayu Sumpah Pemuda, semoga Tuhan tak akan pernah berhenti menurunkan rahmat-Nya di negeri yang besar ini dan senantiasa memberikan teguran kepada mereka yang dengan amat sadar melakukan tindakan zalim dan menyengsarakan rakyat. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/12/kaum-muda-kekerasan-dan-perubahan-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Duka Suka Menjadi Penulis Buku</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/12/duka-suka-menjadi-penulis-buku/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/12/duka-suka-menjadi-penulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 05:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2949</guid>
		<description><![CDATA[Johan Wahyudi, S.Pd., M.Pd Guru SMP Negeri 2 Kalijambe Sragen, Bendahara Umum Agupena Jateng Berbincang tentang kegiatan menulis buku tentu mengenakkan diri. Banyak duka terdapat di dalamya. Namun, banyak suka juga ditemukan. Keduanya dapat dibandingkan sebagai semangkok bakso dengan kuahnya. Mana enak makan bakso tanpa kuah? Nah, kedukaan justru semakin menambah kelezatan perjuangan untuk mendapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Johan Wahyudi, S.Pd., M.Pd </strong><em><br />
Guru SMP Negeri 2 Kalijambe Sragen, Bendahara Umum Agupena Jateng</em></p>
<p><img alt="" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/u/prf/13119471361817823721.jpg" class="alignleft" width="200" height="204" />Berbincang tentang kegiatan menulis buku tentu mengenakkan diri. Banyak duka terdapat di dalamya. Namun, banyak suka juga ditemukan. Keduanya dapat dibandingkan sebagai semangkok bakso dengan kuahnya. Mana enak makan bakso tanpa kuah? Nah, kedukaan justru semakin menambah kelezatan perjuangan untuk mendapatkan kesukaan. Ketika menekuni profesi sebagai penulis buku, saya menemukan tiga buah kedukaan dan tiga buah kesukaan.<br />
<strong><br />
Mesti Berjaga Setiap Malam</strong><br />
Menulis buku memerlukan konsentrasi tingkat tinggi. Suara bising akan membuyarkan angan penulis. Oleh karena itu, penulis mesti berusaha mencari waktu yang dapat mendukung suasana itu. tak lain adalah keheningan malam. Maka, tak ayal setiap malam, saya berjaga untuk menyelesaikan naskah-naskah itu. Semalam berkisar lima hingga sepuluh halaman. Tahu-tahu, sebulan saya sudah menghasilkan sebuah naskah.<br />
<strong><br />
Dikejar Deadline</strong><br />
Saya paling benci jika ditelepon penerbit seraya berkata, “Besok naskah harus dikirim!” Begitu mendapat perintah lewat telepon itu, tak ayal saya harus berjibaku dengan waktu, tenaga, pikiran, keluarga, dan aktivitas lain. Begitu selesai mengajar anak didik, saya langsung menyepikan diri ke ruang kerjaku di lantai atas. Dan di sanalah, saya bertapa seraya berusaha memenuhi tuntutan deadline dari penerbit.<br />
<strong><br />
Harus Merevisi</strong><br />
Kebanyakan bukuku adalah buku pelajaran dan buku teks. Itu berarti bahwa saya harus meng-up date informasi yang berasal dari kutipan berita dan soal-soalnya. Saya mesti menyesuaikan isi dengan perkembangan informasi dan teknologi. Untuk itulah, penerbit pasti menghubungiku setiap tiga tahun untuk melakukan revisi naskah. Meskipun kurang menyukainya, saya mesti bertanggung jawab kepada pengguna. Tentunya pengguna tidak ingin dikecewakan penulisnya. Dan itu juga menjadi cita-cita: tak mengecewakan pengguna bukuku.</p>
<p>Selain kedukaan di atas, saya pun menemukan tiga kesukaan sebagai penulis buku. Ketiganya adalah mendengar kabar pengguna, buku laris di pasaran, dan menerima royalti.<br />
<strong><br />
Mendengar Kabar Pengguna</strong><br />
Secara tidak sengaja, saya sering bertemu dengan pengguna bukuku. Seperti kemarin, saya bertemu dengan dua orang guru dari sekolah yang berbeda. Seorang menjadi kepala sekolah internasional dan seorang menjadi guru bahasa Indonesia di sekolah favorit. Kedua guru itu bercerita bahwa sekolahnya menggunakan bukuku. Ketika bertemu itulah, saya berusaha mendapatkan masukan tentang isi buku. Saya harus berusaha berbenah agar bukuku dapat memenuhi permintaan pasar, tak lain adalah guru dan siswa.<br />
<strong><br />
Buku Laris di Pasaran</strong><br />
Setiap hari minggu, saya sering mengajak anak-anak untuk berbelanja. Pada kesempatan itulah, saya sering berkunjung ke toko buku ternama, swalayan, supermarket, dan hypermarket. Jika diadakan pameran buku, saya pun jarang melewatkan momen itu dengan mengunjunginya. Selain menuruti keinginan anak-anak untuk membeli buku-buku baru, saya sering memantau tingkat penjualan. Alhamdulillah, bukuku cukup laris di pasaran. Setidaknya, saya mendapatkan informasi itu berdasarkan informasi dari pegawai toko.<br />
<strong><br />
Mendapat Kiriman Royalti</strong><br />
Tadi pagi (Jumat, 4 November 2011), HP-ku berdering. Ketika melihat nomor pemanggil, saya cukup terkejut. Ternyata, nomor itu berasal dari penerbit bukuku. Sontak saya menerima panggilan itu dan mencari tempat yang teduh dan mudah menangkap sinyal. Ternyata, penerbit itu memberitahukan bahwa royalti tiga bukuku untuk tahun ini baru saja dikirimkan. Secara iseng, saya bertanya, “Pak, berapa royalti ketiga bukuku?” Langsung saja penerbit menjawab bilangan yang sangat lumayan. Insya Allah, saya akan menggunakan royalti itu untuk melunasi ONH-ku dan istri. Selain itu, saya ingin membelikan hadiah istimewa untuk istri tercinta. Sisanya dimasukkan kantong saja untuk membeli kambing buat disate pada Minggu nanti.</p>
<p>Begitulah romantikaku menjadi penulis buku. Kadang sedih jika harus berbetah-betah di kamar. Namun, hati begitu gembira jika mendapat kabar baik. Tidak selamanya kabar baik itu tentang uang dan uang. Jika sudah menjadi penulis buku, uang tak lagi menjadi masalah utama. Justru masalah akan muncul pada kekuatan untuk menjaga konsistensi semangat. Mengapa? Godaan selalu menari-nari di depan mata untuk bersantai ria. Itulah godaan penulis buku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/12/duka-suka-menjadi-penulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru adalah Pemimpin</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/12/guru-adalah-pemimpin/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/12/guru-adalah-pemimpin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 04:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2934</guid>
		<description><![CDATA[Prajna Bhadra Darmastuti, S.Si, S.Kom Guru SMK di Kebumen, kontributor di buku Mukjizat Doa Ibu (2010) dan Antologi Banyumasan (2011) Pada saat ini, profesi guru tengah menjadi sorotan, menyusul dengan naiknya anggaran pendidikan sebesar 20 % dan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Terlebih dengan adanya program sertifikasi. Tidak jarang masyarakat menuding bahwa guru adalah `pegawai` [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Prajna Bhadra Darmastuti, S.Si, S.Kom </strong><em><br />
Guru SMK di Kebumen, kontributor di buku Mukjizat Doa Ibu (2010) dan Antologi Banyumasan (2011)</em></p>
<p><img alt="" src="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/pra.jpg" class="alignleft" width="156" height="236" />Pada saat ini, profesi guru tengah menjadi sorotan, menyusul dengan naiknya anggaran pendidikan sebesar 20 % dan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Terlebih dengan adanya program sertifikasi. Tidak jarang masyarakat menuding bahwa guru adalah `pegawai` yang dimanjakan dengan beragam fasilitas namun dengan pekerjaan yang `ringan`. </p>
<p>Hal tersebut menjadikan tuntutan masyarakat terhadap guru juga semakin tinggi. Guru tidak hanya dituntut menjadi pendidik yang harus bisa mentransfer ilmu, namun juga harus membentuk akhlak dan moral yang baik pada generasi penerus bangsa. dan kerap masalah-masalah bangsa dilimpahkan begitu saja sebagai kesalahan seorang guru dalam kegagalan mendidik muridnya. </p>
<p>Menurut Sofa (2008) ada berbagai permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia.  Pertama masalah kualitas/mutu. Kedua jumlah guru yang masih kurang. Ketiga masalah distribusi guru dan keempat masalah kesejahteraan guru. Dari keempat hal tersebut yang mampu diubah oleh seorang guru secara pribadi, adalah masalah kualitas/mutu guru tersebut. </p>
<p>Guru (dari Sanskerta: yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah &#8220;berat&#8221;) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalambahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. </p>
<p>Dalam Kamus Bahasa Indonesia, definisi kualifikasi adalah keahlian yang diperlukan untuk melakukan sesuatu, atau menduduki jabatan tertentu. Jadi, kualifikasi mendorong seseorang untuk memiliki suatu “keahlian atau kecakapan khusus”. Menurut Anwar Jasin dalam Mujtahid (2010) untuk mengukur kemampuan kualifikasi guru dapat ditilik dari tiga hal. Pertama, memiliki kemampuan dasar sebagai pendidik. Kedua, memiliki kemampuan umum sebagai pengajar. Ketiga, mempunyai kemampuan khusus sebagai pelatih. Sedangkan menurut Sugito (2007) kualifikasi minimal seorang guru memiliki standar kognisi (intelektual) dan afeksi (perilaku dan sikap) diatas rata-rata. Sesuai sejarah guru dalam ekspetasi kita, guru harus memiliki kualifikasi yang melampaui sekedar penguasaan pelajaran (kognisi), tetapi juga memenuhi prasyarat untuk mampu menggarap rasa, cipta, karsa dan sikap seseorang. Hal tersebut tidaklah berbeda dengan tugas seorang pemimpin. Sehingga dapat diistilahkan bahwa profesi guru adalah profesi yang setara dengan pemimpin, bukan sebagai bawahan atau pegawai biasa. Karenanya kualifikasi dasar yang harus dimiliki oleh guru di Indonesia, tentu adalah kualifikasi seorang pemimpin bukan pegawai apalagi buruh.</p>
<blockquote><p>Sebagai seorang pemimpin, maka mendidik dan mencerdaskan bangsa adalah visi pribadi bukan beban tugasnya. Mengajar sepenuh hati adalah misi-nya bukan kewajibannya. Tanpa dituntut seorang guru akan melaksanakan pendidikan secara independent dan berpusat pada murid, dan bukan berpusat pada peraturan atasan. Jikalau menurutnya peraturan atasan baik, maka akan dilaksanakan. Namun jika peraturan hanya menjadi halangan dalam mencerdaskan murid, maka akan ditinggalkan. Visi dan misi yang sudah tertanam dalam jiwanya adalah mencerdaskan bangsa, dan bukan sekedar `bekerja` untuk mendidik orang lain.
</p></blockquote>
<p>Ada banyak guru yang memiliki kualifikasi pemimpin dan menghasilkan generasi-generasi pemimpin. Dalam sejarah, kita mengenal Boedi Oetomo. Yang mengajar dan mendidik murid-muridnya dalam sekolah Boedi Oetomo sesuai dengan kebutuhan zamannya, yaitu pendidikan dan organisasi. Walaupun pada akhirnya sekolah tersebut ditutup, namun bekas pendidikannya terus melahirkan generasi muda yang akhirnya mampu memerdekakan bangsa. Kemudian, Soekarno sebelum menjadi seorang pemimpin, beliau pernah mengajari anak-anak mulai berhitung hingga sejarah di tempat pembuangannya, Bengkulu. </p>
<p>Begitupun dengan Bung Hatta yang aktif menjadi guru anak-anak di lingkungannya. Beliau mengajari pengetahuan formal sekaligus non-formal, seperti organisasi dan kecintaan kepada bangsa Indonesia. Meskipun pada saat itu beliau sedang ditahan dan dilarang keras untuk mengajar, namun tetap dilakukan secara diam-diam. Karena visi dan misi para pemimpin diatas adalah mencerdaskan sesuai kebutuhan zamannya, dan bukan menuruti keinginan penguasa dan pemerintah saat itu, yaitu kolonial Belanda. Selain beliau, masih banyak pemimpin yang juga memberikan pendidikan layaknya guru mulai dari Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka, Djuanda, Nasution, bahkan Jenderal Soedirman pun pernah menjadi kepala sekolah di SD Muhammadiyah di Cilacap. </p>
<p>Keberhasilan para guru bangsa diatas, bukanlah karena mereka bekerja sebagai guru, namun karena mereka berjiwa sebagai guru. Disamping itu mereka memiliki kualifikasi pemimpin yang cukup hebat, sehingga mampu menghasilkan generasi penerus yang hebat pula. Visi dan misi mendidik ada dalam jiwa mereka, sehingga dimanapun mereka berada, ada atau tidak kesejahteraan, dalam posisi tenang atau genting, jiwa mendidik mereka tidak pernah padam. </p>
<p>Demikianlah seharusnya kualifikasi yang dimiliki oleh seorang guru. Posisi guru saat ini sedang bergeser kepada pemahaman, bahwa guru adalah seorang pengajar yang digaji oleh negara. Kualifikasi yang dimilikipun cukup sebatas yang ditentukan negara. Padahal seharusnya kualifikasi seorang guru tidaklah dibatasi oleh negara, namun lebih dari itu. Sebelum dirumuskan dalam UU Sisdiknas 2003, guru harus sudah mematri jiwanya dengan kualifikasi seorang pemimpin. </p>
<p>Al-Ghazali, menjelaskan bahwa orang alim yang bersedia mengamalkan pengetahuannya adalah orang besar di semua kerajaan langit. Mengutip kitab Ihya `Al-Ghazali yang mengatakan bahwa siapa yang memilih pekerjaan mengajar maka ia sesungguhnya telah memilih pekerjaan besar dan penting. Meski demikian, hubungan guru-murid bukanlah dalam konteks ekonomi seperti seorang pemberi ilmu dan penerima ilmu, atau seperti seorang yang memberi jasa dan penjual jasa, tetapi justru hubungan guru-murid dalam konteks keagamaan atau melakukan perintah Tuhan. Sehingga seorang murid akan menghormati dan menuruti muridnya karena apa yang diajarkan oleh seorang guru adalah ilmu dari Tuhan. Penghormatan itu sama dengan penghormatan terhadap seorang pemimpin, dimana pemimpin adalah seorang yang dianggap memiliki ilmu tentang Tuhan lebih dari rakyatnya. Kesejahteraan yang diberikan pada guru, juga merupakan bentuk penghargaan kepada seorang pemimpin, bukan sekedar gaji atau imbalan. Namun tentu, penghargaan tersebut juga harus diimbangi dengan sikap guru yang layak dihormati bukan karena materinya atau kedudukannya, tetapi karena kepemimpinannya.  </p>
<p>Tentu, seandainya guru di Indonesia mampu meningkatkan jiwa pemimpinnya, maka pendidikan di Indonesia akan semakin maju peradabannya.</p>
<p>Daftar Pustaka :</p>
<p>http://ath-thullab.blogspot.com/2009/07/kedudukan-guru-dalam-pandangan-islam.html</p>
<p>http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/01/memahami-tentang-kualifikasi-guru.html</p>
<p>http://id.wikipedia.org/wiki/Guru</p>
<p>http://massofa.wordpress.com/2008/10/12/permasalahan-guru-di-indonesia/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/12/guru-adalah-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ENERGI POSITIF BELAJAR</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/10/23/energi-positif-belajar/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/10/23/energi-positif-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 11:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Supandi]]></category>
		<category><![CDATA[supandi Daroji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2927</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : SUPANDI, S.Pd., MM.&#8212;Penulis buku “Menyiapkan Kesuksesan Anak Anda”, penerbit Gramedia Jakarta, Pengurus Agupena Kab. Cilacap&#8212; Ketika seorang anak ditanya “Mengapa kamu kok rajin sekali belajarnya, Nak?”. Atas pertanyaan yang demikian, beragam jawaban akan mereka lontarkan, seperti ; “Saya rajin belajar supaya pandai, supaya naik kelas, supaya lulus ujian, supaya gampang mencari kerja, atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : SUPANDI, S.Pd., MM.&#8212;Penulis buku “Menyiapkan Kesuksesan Anak Anda”, penerbit Gramedia Jakarta, Pengurus Agupena Kab. Cilacap&#8212;</p>
<p><img class="alignleft" title="Supandi Daroji" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/187238_1725146775_5516314_n.jpg" alt="" width="220" height="328" />Ketika seorang anak ditanya “Mengapa kamu kok rajin sekali belajarnya, Nak?”. Atas pertanyaan yang demikian, beragam jawaban akan mereka lontarkan, seperti ; “Saya rajin belajar supaya pandai, supaya naik kelas, supaya lulus ujian, supaya gampang mencari kerja, atau supaya bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri”.</p>
<p>Ragam jawaban seperti tersebut diatas merupakan jawaban yang sangat logis. Bisa dipastikan, sebagian pelajar akan menjawab dengan jawaban-jawaban yang tidak jauh dari itu. Namun, tahukah Anda bahwa kegiatan belajar, seperti membaca buku, menghafalkan, berlatih mengerjakan soal-soal, diskusi, dan lain-lain, ternyata memiliki kandungan prinsip yang sangat dalam?. Kandungan prinsip yang kelak akan sangat berguna bagi kehidupan Anda di masa depan, masa yang penuh dengan kesuksesan dan kebahagiaan.</p>
<p>Sebelum mambaca tulisan ini lebih lanjut, mari kita renungi sebuah cerita nyata berikut : Cerita ini bermula dari hasil observasi saya, ketika saya melakukan acara bali ndeso beberapa waktu yang lalu dan mengunjungi beberapa teman sekolah saya dulu. Saya menjumpai beberapa teman yang saat ini memiliki profesi yang beragam ; ada yang berprofesi sebagai abang becak, ada yang sebagai pemulung, tukang potong rambut, dan ada yang menjadi pedagang kecil-kecilan. Jelasnya, nasib mereka berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Mereka hidup dalam keterbatasan dan himpitan ekonomi.</p>
<blockquote><p>Puluhan tahun yang lalu saya ingat betul apa yang mereka lakukan ketika mereka bersekolah. Mereka jarang sekali belajar. Berangkat sekolah semata-mata hanya sebagai kesibukan saja, asal berangkat, dan bertemu dengan teman-temannya, bersenda gurau. Di benaknya nyaris tidak ada gairah untuk menimba ilmu.</p></blockquote>
<p>Lantas, apa hubungan antara cerita nyata diatas dengan prinsip yang terkandung dalam kegiatan belajar? Anda mungkin sudah mengenal Hukum Kekekalan Energi bukan? Dalam Hukum Kekekalan Energi (HKE) dinyatakan bahwa energi yang dikeluarkan oleh sebuah benda itu tidak akan hilang, tetapi akan berubah dalam ujud yang lain.</p>
<p>Berdasarkan prinsip alam, ternyata Hukum Kekekalan Energi (HKE) berlaku juga terhadap kehidupan manusia, terhadap upaya yang dilakukan oleh manusia. Bahwa energi yang dikeluarkan oleh seseorang ternyata tidak akan sia-sia, melainkan akan kembali dalam bentuk yang lain. Disinyalir, bahwa yang dimaksud dengan bentuk yang lain antara lain berupa kesuksesan hidup di kemudian hari.</p>
<p>Seorang siswa yang jauh-jauh hari sudah menerapkan prinsip Hukum Kekekalan Energi (HKE), yakni sudah melakukan belajar giat, berarti dia sudah mengeluarkan energi sejak dimulainya belajar giat, apakah mulai kelas III SD atau mungkin sejak kelas V SD. Energi yang telah dia keluarkan sejak kelas III SD atau mungkin sejak kelas V SD, selanjutnya merupakan Tabungan Energi (TE). Seorang siswa yang sampai dengan kelas IX SMP belum juga mau belajar giat berarti dia belum memiliki Tabungan Energi (TE).</p>
<p>Contoh yang dialami oleh teman-teman saya sebagaimana yang saya ilustrasikan diatas adalah contoh dari sebagian kecil orang-orang yang nyaris tidak memiliki Tabungan Energi (TE). Besar kecilnya Tabungan Energi (TE) yang dimiliki seseorang akan berpengaruh pada besar kecilnya Hasil Usaha Tabungan (HUT). Dalam realitas kehidupan, orang-orang yang sukses pastilah orang yang pada awalnya memiliki Tabungan Energi (TE) yang banyak. Sudahkah Anda memiliki TE yang banyak?</p>
<p>Buat anak-anakku dimanapun kalian berada, silahkan direnungkan, “Sudah berapa besarkah Tabungan Energi yang kalian miliki?”. Untuk menjawab pertanyaan ini kalian sendirilah yang lebih tahu. Segeralah singsingkan lengan bajumu, langkahkan kakimu menapaki lorong-lorong panjang berliku menuju gerbang masa depan. Jadikan dirimu sebagai sosok yang bisa membanggakan orang tua dan andalan Indonesia.</p>
<blockquote><p>Milikilah Tabungan Energi yang banyak demi kehidupan kalian di masa depan. Bukankah kalian ingin menjadi orang yang sukses? Tidak ada yang menjawab tidak kan? Nah, mulailah belajar yang giat sekarang juga. Salam “Long life education”.</p></blockquote>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/10/23/energi-positif-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENULIS DENGAN HATI, TEMBUS GRAMEDIA</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/07/08/menulis-dengan-hati-tembus-gramedia/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/07/08/menulis-dengan-hati-tembus-gramedia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2011 02:23:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2866</guid>
		<description><![CDATA[Oleh SUPANDI, S.Pd, MM. Satu hal yang sering mengganjal hasrat saya dalam menulis buku adalah bagaimana buku saya bisa menembus penerbit. Keraguan itu telah beberapa kali menghentikan langkah saya dalam menulis. Sebelumnya saya pernah membayangkan sulitnya bisa menembus penerbit. Bayang-bayang ketidakmungkinan (impossibility) selalu menghantui pikiran saya saat itu. Dampak buruk dari Bayang-bayang impossibility tersebut seringkali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh SUPANDI, S.Pd, MM.</p>
<p><img alt="" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/hs325.snc4/41455_100000410331721_9663_n.jpg" class="alignleft" width="250" height="278" />Satu hal yang sering mengganjal hasrat saya dalam menulis buku adalah bagaimana buku saya bisa menembus penerbit. Keraguan itu telah beberapa kali menghentikan langkah saya dalam menulis. Sebelumnya  saya pernah membayangkan sulitnya bisa menembus penerbit. Bayang-bayang ketidakmungkinan (impossibility) selalu menghantui pikiran saya saat itu. Dampak buruk dari Bayang-bayang impossibility tersebut seringkali mengendorkan semangat saya dalam menulis.<br />
Hal itu sebenarnya bertentangan dengan prinsip menulis. Prinsip menulis yang benar adalah “tuangkan seluruh ide atau gagasan yang ada di benak kita kedalam bentuk tulisan”. Abaikan dulu kualitas tulisan. Yang terpenting adalah tumpahkan seluruh amunisi (materi tulisan) yang Anda miliki dan jangan berhenti sebelum amunisinya habis. Yang demikian ini adalah prinsip menulis yang benar. </p>
<p>Bagaimana dengan kualitas tulisan? Kualitas tulisan dapat Anda lakukan pada sesi editing. Secara singkat dapat saya simpulkan bahwa menulis yang efektif dapat Anda lakukan melalui dua langkah yaitu Proses Menulis dan Proses Editing. Proses menulis adalah saat bagi seorang penulis untuk menumpahkan seluruh ide/gagasan yang sudah terkumpul di kepala. Sedangkan proses editing merupakaan saat dimana seorang penulis memperbaiki kualitas tulisan.</p>
<p>Manakala kedua langkah itu sudah Anda lakukan, saatnya bagi Anda untuk mengirimkan hasil tulisan Anda ke media masa/media cetak, situs di dunia maya, atau ke penerbit. Di era teknologi informasi seperti sekarang ini, menerbitkan tulisan ternyata tidak sesulit yang kita bayangkan. Hanya dengan mengirimnya via email keinginan Anda mengembangkan semangat berbagi bisa terwujud.</p>
<p>Bentuk tulisan yang Anda kirim bisa berupa artikel atau naskah buku, tergantung pilihan Anda. Mengirim artikel relatif sama prosesnya dengan mengirim naskah buku ke penerbit. Menulislah dengan hati, didasari oleh hasrat untuk mengembangkan semangat berbagi, tulus agar bisa mengispirasi orang lain. </p>
<p>Jika Anda menjatuhkan pilihannya ke penerbit kelas kakap seperti Gramedia Pustaka Utama atau mungkin Elek Media Komputindo, maka dominasi buku-buku yang Anda beli sebaiknya buku-buku terbitan Gramedia, Elek Media Komputindo, atau penerbit-penerbit yang lain. Hal ini dimaksudkan agar Anda bisa mengetahui dan menyesuaikan hasil karya Anda dengan mutu dan bentuk buku-buku yang menjadi selera mereka. Agendakan waktu Anda dan alokasikan sebagian rejeki Anda untuk membeli buku secara rutin dan nikmati manfaat yang luar biasa dari membeli buku. Nikmati juga kebahagiaan Anda dari berbagi ilmu pengetahuan khususnya lewat hasil karya tulisan Anda.</p>
<p>Selamat berbagi, semoga bisa mencerahkan Indonesia.</p>
<p>SUPANDI, S.Pd, MM.<br />
Penulis Buku “Menyiapkankan Kesuksesan Anak Anda” Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.<br />
Pengurus Agupena Kabupaten Cilacap<br />
Pengurus ISPI Kabupaten Cilacap<br />
Ketua MGMP Bahasa Inggris SMP Kabupaten Cilacap<br />
Staf Pengajar di SMP Negeri 2 Binangun Kab. Cilacap<br />
email : supandi_mm@yahoo.com Hp. 081391274742. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/07/08/menulis-dengan-hati-tembus-gramedia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengemban Amanah Guru Berprestasi</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/05/07/2841/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/05/07/2841/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 08:26:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[gupres]]></category>
		<category><![CDATA[herry nugroho]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2841</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Herry Nugroho &#8212;-Wasekum Agupena Jateng&#8212;- Menjadi guru berprestasi peringkat pertama di tingkat Kota Semarang 2011 tidak kubayangkan sebelumnya. Karena sejak awal saya tidak mempunyai target untuk menjadi juara. Dalam pikiranku, saya harus melaksanakan tugas Kepala SMP 7 Semarang, Drs. Widodo, M.Pd sebaik-baiknya. Tanggal 28 April 2011 saya mendapatkan info untuk ke Dinas Pendidikan Kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Herry Nugroho  &#8212;-Wasekum Agupena Jateng&#8212;-</p>
<p><img alt="" src="http://i302.photobucket.com/albums/nn91/Deni_076/heri.jpg" class="alignleft" width="169" height="164" />Menjadi guru berprestasi peringkat pertama di tingkat Kota Semarang 2011 tidak kubayangkan sebelumnya. Karena sejak awal saya tidak mempunyai target untuk menjadi juara. Dalam pikiranku, saya harus melaksanakan tugas Kepala SMP 7 Semarang, Drs. Widodo, M.Pd sebaik-baiknya. Tanggal 28 April 2011 saya mendapatkan info untuk ke Dinas Pendidikan Kota Semarang.</p>
<p>Singkat cerita, saya ke Dinas Pendidikan Kota Semarang bertemu dengan Bapak Budi Susetyo (Kabdi PTK -sekarang sekretaris DPKAD). Saat itu saya disodori undangan mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional (hardiknas) dan HUT Semarang ke 464 di Balaikota dan diberi ucapan selamat. Awalnya saya tidak percaya kalau saya mendapatkan juara. Selain saya tidak mentarget, melihat peserta yang ikut saya sempat minder. Karena pesertanya kebanyakan adalah senior saya semua.</p>
<p>Tiba waktunya tanggal 2 Mei 2011, mengikuti upacara hardiknas dan HUT Kota Semarang yang dipimpin walikota Semarang, Drs. H. Soemarmo, M.Si. Saat itu saya senang karena bisa duduk di tamu undangan bersama para guru dan kepala sekolah berprestasi lainnya. Setelah itu, saya bersama dengan teman-teman bertolak ke kantor Dinas Pendidikan untuk mengambil piagam dan hadiah.</p>
<p>Di Dinas Pendidikan kami diterima Kabid PTK yang baru bapak Tri Waluyo SH. Beliau berpesan agar kami selalu meningkat diri dalam mengemban tugas, memberi contoh ke teman-teman lainnya, dan sukses untuk lomba ke jenjang Provinsi Jawa Tengah. Perkiraan pelaksanan lomba di tingkat Provinsi adalah minggu kedua bulan Juni 2011.</p>
<p>Saya berfikir ini adalah amanah yang saya pikul untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Mohon doa restunya, semoga dapat melaksanakan tugas mulia ini dengan hasil terbaik di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Amiin.</p>
<p>Taqabbalallaahu minni wa nafa’ani wa iyyaakum min al-dzikril hakiim.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/05/07/2841/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenalkan Benda Cagar Budaya Pada Siswa</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/05/07/2838/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/05/07/2838/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 08:23:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[retno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2838</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Retno Winarni, S.S (Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMAN Kerjo Karanganyar) Sudah beberapa tahun ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jateng mengadakan lomba karya tulis ilmiah Benda Cagar Budaya Generasi Muda Se Jawa Tengah. Tahun ini final lomba akan diselenggarakan di Klaten tanggal 18 s.d 20 Mei 2011. Peserta babak final adalah mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh : Retno Winarni, S.S (Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMAN Kerjo Karanganyar)</p>
<p><img alt="" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/u/prf/12993744391850776302.jpg" class="alignleft" width="200" height="250" />Sudah beberapa tahun  ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jateng mengadakan lomba karya tulis ilmiah Benda Cagar Budaya Generasi Muda Se Jawa Tengah. Tahun ini final lomba akan diselenggarakan di Klaten tanggal 18 s.d 20 Mei 2011. Peserta babak final adalah mereka yang lolos penilaian tahap 1  , yaitu penilaian sistematika dan isi karya tulis ilmiah. Sebagai guru pembimbing KIR saya sangat bersemangat setiap kegiatan ini digelar. Bagaimana tidak dengan menjadi pembimbing siswa saya ikut mendapat ilmu yang bermanfaat dan ikut mengenal benda cagar budaya di daerah saya Kabupaten Karanganyar. Tahun lalu saya membimbing siswa saya Awalia Lulu Lutfiah menulis tentang Candi Sukuh. Sebagai pendatang saya hanya mengenalcandi Sukuh dari cerita atau dari gambar. Nah dengan adanya lomba tersebut saya bisa melihat langsung candi yang dibangun pada abad ke 15 tersebut.</p>
<p>Tahun ini kembali lomba itu digelar. Pilihan obyek benda cagar budaya yang menarik hati kami adalah Pabrik Gula Tasik Madu, Pura Pamasekan dan Makam raja Mangkunegaran. sebelum lebih jauh lebih dulu saya akan menyampaikan tentang benda cagar budaya. Benda cagar budaya  adalah benda buatan manusia , bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagiannya atau sisa-sisa yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas serta dianggap mempunyai nilai yang penting bagi sejarah , ilmu pengetahuandan kebudayaan (UU No 5 th 1992)</p>
<p>hari senin 11 April 2011 , kami tiga orang siswa dan dua orang guru pembimbing sengaja mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kabupaten Karanganyar tersebut untuk melakukan observasi lapangan serta penggalian data untuk menunjang penyusunan karya tulis ilmiah benda cagar budaya tersebut. Tujuan pertama kami adalah Pabrik Gula Tasikmadu. Pabrik Gula Tasik Madu didirikan oleh Mangkunegoro IV raja kerajaan Mangkunegaran yang paling kaya pada tahun 1826. Bangunan yang menjadi cagar budaya adalah bangunan pabrik yang masih asli. Di dalam pabrik terdapat mesin-mesin tua berukuran besar . Manajemen PG Tasikmadu saat ini mengembangkan potensi sejarah dengan agrowisata Sondokoro. Pengunjung  diajak mengelilingi pabrik dengan naik kereta tebu yang telah dimodifikasi. Disamping bisa menikmati nilai sejarah, pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai fasilitas pendukung seperti kolam renang, kolam air cerdas, flying fox, taman hiburan dan yang paling dinikmati adalah terapi ikan. Di taman hiburan bisa dilihat mesin-mesin tua yang dudah tidak terpakai yang sengaja di pajang untuk menghadirkan nilai estetis. Konon  di rumah kediaman administratur PG Tasikmadu terdapat sebuah kamar yang selalu menebar bau wangi. Kamar itu tidak pernah dibuka untuk umum. karena menurut kepercayaan kamar tersebut adalah kamar Mangkunegoro IV saat melakukan kunjungan ke PG Tasikmadu. di bagian lain taman terdapat kepala loko dan bendi dengan angka tahun 1926 yang merupakan kendaraan yang dipakai oleh Mangkunegoro untuk inspeksi lapangan.</p>
<p>Perjalanan kami lanjutkan menuju daerah Karangpandan  sekitar 35 km dari Solo menuju ke arah Tawangwangu . Beberapa meter sebelum  patung Semar yang berdiri megah di tengah hamparan sawah,akan kita temukan sebuah tempat pemujaan bernama Pura Pamasekan.pura ini adalah patilasan (peristirahatan)  Kyai I Gusti Ageng Pemacekan. Pura ini lebih dikenal sebagai pura Pasek . Pura merupakan salah satu tujuan perjalanan spiritual tirta yatra yaitu perjalanan mengunjungi pura-pura di Jawa maupun Bali bagi penganut agama Hindu.Ki Ageng Pasek  atau yang dikenal sebagai Pangeran Arya Kusuma dipercaya merupakan menantu raja Brawijaya V (raja terakhir Majapahit ). Bangunan dalam Pura merupakan tempat peristirahatan Ki Ageng Pasek . Bangunan Pura Pasek didominasi warna merah dan kuning. Pura ini telah mengalami pemugaran pada masa pemerintahan Pakoe Boewono XII.</p>
<p>Tujuan terakhir kami adalah makam raja-raja Mangkunegaran. Makam Raja mangkunegoro I-III berada satu komplek dengan astana giri bangun, makam mantan presiden II RI Soeharto. Hanya untuk mencapai makam kita harus mendaki , meniti anak tangga menuju puncak bukit. Sebelum mencapai makam kita akan sampai di pos penjaga makam yang akan memberi kita surat pengantar menuju ke makam. Di depannya berdiri dengan tegak tugu Tri Darma. Konon di tempat itulah Mangkunegoro I atau yang terkenal sebagai Pangeran Sambernyawa mendapatkan wangsit(wahyu) dari Sang Pencipta. Di puncak bukit berdirilah makam Mangkunegoro I-III. komplek makam ini dibagi menjadi dua bagian. bagian pertama terletak didekat pintu masuk merupakan komplek makam Mangkunegoro II dan III. Bagian yang lebih dalam adalah komplek makam Mangkunegoro I dan keluarganya. Menurut penjaga makam terdapat 125 makam secara keseluruhan . Untuk memasuki makam utama Mangkunegoro I kita harus mengikuti tradisi Keraton Mangkunegaran , yaitu laku dodok, nyembah dan berpakaian sesuai dengan ketentuan ( baju dinas, baju kejawen/beskap dan nyamping ). Tradisi ini ternyata mempunyai nilai filosofi yang dalam . Laku dodok dimaksudkan agar manusia selalu menyentuh tanah artinya selalu membumi atau merakyat. Nyembah berarti menyembah kepada Tuhan , manusia diharapkan  selalu ingat kepada Tuhannya . Seusai dua orang siswa saya nyekar (tabur bunga) dan ziarah ke makam utama Pangeran Sambernyawa, Kuncen (juru kunci) makam kemudian menceritakan tentang perjuangan Panegeran Sambernyawa. Pangeran Sambernyawa atau R.M. Said adalah raja pertama keraton Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegoro I. Beliau adalah seorang pejuang yang gigih melawan Belanda. Karena kesaktiannya kemudian mendapat sebutan Pangeran Sambernyawa (menghabisi nyawa). Di bagian lain makam terdapat silsilah raja-raja  Mangkunegaran yang digantung di dinding. Tetapi pada silsilah tersebut tidak terdapat foto atau lukisan Pangeran Sambernyawa/Mangkunegoro I sebagai pendirinya. Hal itu karena pangeran Sambernyawa tidak berkenan untuk dilukis . Masih menurut Juru kunci makam pernah suatu kali seorang pelukis spiritual terkenal yang telah melukis banyak tokoh berniat untuk melukis Pangeran Sambernyawa. Pada malam ke-38 si pelikis berpuasa dan bersemadi ia mendapat perintah untuk mengentikan puasa dan semadinya. Demikian pula pada hari ke 39 dan 40. Dengan demikian gagallah usaha pelukis tersebut untuk melukis Pangeran Sambernyawa.</p>
<p>Saya mendampingi siswa melakukan observasi adalah karena tugas saya sebagai pembimbing KIR di sekolah. Dalam pandangan saya lomba Karya ilmiah benda cagar budaya  Se Jawa Tengah ini cukup efektif untuk mengenalkan benda cagar budaya kepada siswa. Dengan mengunjungi secara langsung benda cagar budaya di daerahnya siswa dilatih untuk mencintai warisan budaya bangsa. Selanjutnya siswa diharapkan mampu untuk mengungkap kehidupan masa lampau melalui benda-benda peninggalan  arkeologis. Meskipun bukan guru Sejarah, saya memakai dokumen presentasi siswa yang mengikuti lomba serupa tahun lalu untuk proses pembelajaran mata pelajaran saya Bahasa dan Sastra Indonesia Kompetensi Dasar : Presentasi Hasil Penelitian. Lewat dokumen presentasi kakak kelasnya siswa saya ajak untuk mengenal benda cagar budaya. Tanggapan dari siswa cukup antusias. kebanyakan dari mereka tidak menyadari ,tidak tahu tentang sejarah tentang benda cagar budaya tersebut. Sebagian besar dari mereka hanya tahu nama dan sedikit yang mengetahui tempat dan mengunjunginya. Menjadi pembimbing siswa ternyata memberi saya pengalaman dan pengetahuan yang sungguh sangat berharga. Tidak hanya siswa, guru pun harus terus belajar. Karena berhenti belajar berarti memproklamirkan diri menjadi orang bodoh</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/05/07/2838/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MASIH PERLUKAH  HUKUMAN  BADANIAH</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/04/10/masih-perlukah-hukuman-badaniah-2/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/04/10/masih-perlukah-hukuman-badaniah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2011 10:49:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[hukuman badan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2750</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Agus Suwarno, S.Pd Jika Kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan,  kamu akan sakit secara fisik, mental, atau spiritual. Bahkan, bisa jadi,  kamu akan membikin orang lain sakit. ( Lorraine Monroe ) Sebagai seorang pendidik tentunya sudah terbiasa menamui para siswa yang melanggar tata tertib, berperilaku menyimpang, mengganggu kegiatan pembelajaran dan perilaku-perilaku sejenis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Agus Suwarno, S.Pd</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;">Jika Kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan,  kamu akan sakit secara fisik, mental, atau spiritual. Bahkan, bisa jadi,  kamu akan membikin orang lain sakit.</span><br />
<span style="color: #ff0000;"> (<em> Lorraine Monroe </em>)</span></p>
</blockquote>
<p><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_FZGzecmdZrM/TSKayG9ABRI/AAAAAAAAACc/jtw9sm1I-yQ/S220/DSC_4182a.jpg" alt="" width="157" height="220" />Sebagai seorang pendidik tentunya sudah terbiasa menamui para siswa yang melanggar tata tertib, berperilaku menyimpang, mengganggu kegiatan pembelajaran dan perilaku-perilaku sejenis . Tentunya terhadap siswa berperilaku demikian sebagai seorang pendidik tidak akan tinggal diam. Perlu adanya punishment atau hukuman bagi siswa yang berperilaku negatif. Sering dalam memberikan hukuman guru terprovokasi untuk menggunakan hukuman badaniah guna menghentikan perilaku negatif siswa. Tidak jarang dalam menggunakan hukuman badaniah guru cenderung berlebihan.Dalam kasus-kasus tertentu bahkan hukuman badaniah yang dilakukan oleh guru berakhir di meja hijau.</p>
<p>Saat ini hukuman  badaniah yang berlebihan dapat dikategorikan  sebagai bentuk malpraktik yang dilakukan guru.Guru dituntut menghindari pemberian hukuman badaniah untuk mengatasi perilaku negatif siswa. Guru diharapkan menggunakan cara-cara yang bersifat mendidik dalam memberikan hukuman kepada siswa. Pada kenyataannya sulit dihindari untuk tidak menggunakan hukuman badaniah kepada siswa yang cenderung berperilaku negatif secara berulang-ulang dan dapat membahayakan bagi siswa lainnya. Posisi dilematis semacam inilah yang tampaknya perlu dicermati agara kasus-kasus terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan guru kepada siswa dalam konteks pemberian hukuman terulang lagi.</p>
<p>Penggunaan hukuman badaniah saat ini memang perlu dikaji ulang. Meskipun ada yang masih melihat hukuman badaniah sebagai cara efektif menghentikan perilaku negatif siswa dan penggunaannya sebagai hukuman yang  terakhir. Cukup menarik apa yang diungkap oleh Roland L. Partin dalam bukunya yang berjudl “Kiat nyaman Mengajar di Kelas “ berkaitan dengan hukuman badaniah kepada siswa. Diungkapkan beberapa fakta tentang praktik-praktik hukuman badanih diantaranaya sebgai berikut :<br />
- Hukuman badaniah lebih sering terjadi di tingkat dasar dan menengah .<br />
- Anak laki-laki lebih sering dipukul daripada anak perempuan.<br />
- Anak-anak minoritas menerima hukuman badaniah empat atau lima kali lebih banyak.<br />
- Guru yang sering menggunakan hukuman badaniah cenderung bersifat diktaktor, dogmatis,relatif tidak berpengalaman, impulsif dan penggugup dibanding rekan-rekannya.<br />
- Guru yang menggunakan hukuman badaniah kecenderungan mempunyai masa lalu sering diberi hukuman pada masa kecilnya.</p>
<p>Di samping fakta-fakta di atas penggunaan hukuman badaniah mempunyai dampak negatif.Beberapa dampak negatif tersebut diantaranya :<br />
-Hukuman badaniah tidak serta merta menghapus perilaku yang tidak diinginkan. Ia hanya bersifat menekan.<br />
-Seringnya anak mengalami hukuman fisik mempunyai kecenderungan melakukan kekerasan fisik dalam kehidupan sesudahnya.<br />
-Hukuman badaniah memunculkan ketidakadilan tentang siapa yang akan dihukuman. Hukuman badaniah cenderung mempertimbangkan suku,ras, gender dan tingkat sosio-ekonomi siswa yang akan mendapat hukuman.<br />
-Hukuman badaniah menuntun kepada reaksi stres, rasa takut ke sekolah, mimpi buruk, kehilangan selera makan, dan perasaan gugup.</p>
<p>Sekolah yang sangat mengandalkan hukuman badaniah cenderung mengalami tingkat absensi, pembolosan dan  tidak melanjutkan sekolah yang tinggi.</p>
<p>Hukuman badaniah dapat meracuni hubungan guru-sisa dan rasa ketidakpercayaan. Rasa takut siswa tida sama dengan rasa segan.</p>
<p>Pelarangan hukuman badaniah tidak mengakibatkan peningkatan siswa yang nakal bahkan tingkat vandalisme berkurang.<br />
Meningkatnya resiko tuntutan atau tuduhan malpraktik oleh guru  karena penerapan hukuman badaniah.<br />
Meskipun hukuman badaniah ditengarai  lebih banyak dampak negatinfya daripada positifnya, tidak semua negara melarang penggunaan hukuman badaniah. Adapun negara-negara yang melarang penggunaan hukuman badaniah diantaranya, negara-negar Eropa, Jepang Israel, Rusia, China, Turki, Irkandia , Puerto Rico.</p>
<p>Di Amerika sendiri penggunaan hukuman  badaniah masih tolerir meskipun mendapat tentangan dari berabgai lembaga swadaya masyarakat. Di beberapa negara bagian Amerika penggunaan hukuman badan dibatasi dengan ketat. Hukuman badaniah hanya dapat dilakuakan setelah mendapat izin orang tua, harus ada saksi , dilakukan tidak di depan siswa lainnya.</p>
<p>Di Indonesia sendiri penggunaan hukuman badaniah belum ada pelarangan secara eksplisit. Namun demikian tampaknya dengan adanya wacana tentang hal-hal yang dapat dkategorikan sebagai malpraktik guru,diterbitkannya kode etik guru, kemudian Undang-Undang Perlindungan anak,  tampaknya penggunaan hukuman badaniah sangat tidak dianjurkan.<br />
Selanjutnya sebagi seorang pendidik guru diharapkan lebih kreatif  menggali cara-cara yang lebih mendidik dalam menerap hukuman kepada siswa. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah dalam memberikan hukuman hendaknya dilandasi dengan rasa kasih sayang.Penerapan hukuman dilandasi dengan tujuan untuk mencegah siswa terjebak dalam perilaku negatif yang berkelanjutan sehingga berdampak kurang baik bagi masa depannya.</p>
<p>Kunci utama dari pemberian hukuman kepada siswa adalah kasih sayang dan ketulusan. Dengan kasih sayang dan ketulusan siswa akan dapat menerima hukuman sebagai bentuk konskuensi dari perbuatan yang dia lakukan. Selanjutnya dengan bimbingan yang tulus siswa kan menyadari kekeliuran dan dengn kesadaran kan memperbaiki perilakunya.Pemberian hukuman yang dilandasi rasa emosional atau pelampiasan kekesalan justru berpotensi menambah masalah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Patut direnungkan sebuah ungkapan berikut :<br />
“Seorang guru sebaiknya hanya dipersenjatai dengan pengetahuan.  Hukuman badaniah adalah senjata yang kejam dan sudah kuno “ ( Tajuk Renacana USA Today, 22 Agustus 1990 )</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/04/10/masih-perlukah-hukuman-badaniah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Sepelekan KEPUTIHAN</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/03/19/jangan-sepelekan-keputihan/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/03/19/jangan-sepelekan-keputihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 10:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Atun Raudotul Ma’rifah]]></category>
		<category><![CDATA[keputihan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2735</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Atun Raudotul Ma’rifah, S.Kep.,Ns, M.Kep &#8212;Dosen STIKES Harapan Bangsa Purwokerto&#8212; KEPUTIHAN merupakan hal yang normal bagi wanita. Namun, hati-hati karena keputihan yang sering dialami bisa berubah menjadi penyakit berbahaya akibat terinfeksi oleh jamur atau virus. Lebih parah, jika tidak ditanggulangi akan menyebabkan kanker leher rahim, bahkan bisa menjadi salah satu penyebab sulitnya mempunyai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Atun Raudotul Ma’rifah, S.Kep.,Ns, M.Kep &#8212;Dosen STIKES Harapan Bangsa Purwokerto&#8212;</p>
<p><img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_opCYVzydZus/SYQhIkaLCsI/AAAAAAAAACI/jGqT_Wi2qmw/s200/umi+sdri+coss+up.jpg" class="alignleft" width="143" height="200" />KEPUTIHAN merupakan hal yang normal bagi wanita. Namun, hati-hati karena keputihan yang sering dialami bisa berubah menjadi penyakit berbahaya akibat terinfeksi oleh jamur atau virus. Lebih parah, jika tidak ditanggulangi akan menyebabkan kanker leher rahim, bahkan bisa menjadi salah satu penyebab sulitnya mempunyai anak atau kemandulan. </p>
<p>Keputihan adalah cairan yang keluar melalui vagina (alat kelamin perempuan) secara berlebihan, dan memberikan keluhan subjektif pada penderita. Keputihan sendiri dibedakan menjadi dua yaitu keputihan normal dan keputihan abnormal </p>
<p>Keputihan normal merupakan respon tubuh di mana vagina memproduksi cairan berwarna bening, tidak berbau, tidak berwarna, jumlahnya tak berlebihan, dan tidak disertai rasa gatal. Cairan ini berfungsi sebagai alat pelindung alami, mengurangi gesekan dinding vagina saat berjalan maupun saat melakukan hubungan seksual, biasanya muncul sesaat menjelang haid dan setelah haid.  Sedangkan keputihan abnormal harus diwaspadai karena berwarna kekuningan hingga kehijauan. Jumlahnya sangat banyak, kental, lengket, berbau tidak sedap, terasa sangat gatal atau panas, dan menimbulkan luka di daerah mulut vagina. Keputihan abnormal ada tiga macam. Pertama, karena jamur ciri-cirinya seperti ampas tahu dan kental. Kedua, keputihan parasit Trichomonas yang ditandai dengan keluarnya cairan kuning berbusa dan gatal. Ketiga, keputihan berwarna seperti nanah.</p>
<p>Hampir semua wanita Indonesia pernah mengalami keputihan abnormal dan kecenderungan wanita Indonesia malu bila harus memeriksakan diri ke dokter, sehingga biasanya datang sudah dalam kondisi parah, tentunya hal itu akan lebih menyulitkan dalam pengobatan. Bahkan seringkali wanita merasa mampu mengenali sendiri keputihan yang dialaminya, tanpa merasa perlu memeriksakan diri ke dokter untuk memperoleh pemeriksaan secara lebih detail, namun langsung diobati sendiri dengan obat – obat keputihan yang dijual bebas. Pada kasus ini, tindakan tersebut cukup berisiko, karena apabila kurang tepat dalam pengenalan penyakitnya dapat menyebabkan kurang tepat pula obat yang dipilih, sehingga selain efektivitas terapi tidak tercapai juga akan berisiko pada munculnya resistensi sehingga jamur/bakteri semakin kebal dengan obat. </p>
<p>Keputihan salah satunya bisa dicegah dengan kebiasaan higiene pribadi yang baik, sedangkan kebisaan ini sendiri merupakan perilaku yang harus dibiasakan oleh setiap individu, untuk itu dalam hal ini perawat mempunyai peranan penting untuk mendidik masyarakat tentang pentingnya higiene pribadi yang baik untuk mencegah kejadian keputihan. Keadaan yang lembab pada daerah kewanitaan akan lebih mendukung berkembangnya jamur penyebab keputihan. Sangat disarankan untuk menjaga agar daerah kewanitaan ini dalam keadaan bersih dan tidak lembab dengan menggunakan pakaian dalam yang cukup menyerap keringat atau terbuat dari jenis kain katun. Dianjurkan setiap habis BAK, daerah kewanitaan dikeringkan dengan menggunakan handuk atau tisu yang bersih. Usahakan bersihkan daerah kemaluan satu arah mulai dari atas ke bawah.  Ketika habis Buang air besar  bersihkan daerah  vagina dahulu, setelah itu bersihkan daerah anus (untuk meminimalisir perpindahan bakteri dari anus ke daerah kemaluan). setiap Penggunaan cairan pembasuh vagina harus dilakukan secara bijaksana dengan mengetahui suatu prinsip bahwa lingkungan vagina bersifat asam yang juga merupakan lingkungan normal bagi mikroorganisme yang dalam jumlah normal tidak menyebabkan penyakit di vagina. Adanya perubahan lingkungan normal tersebut, misalnya dengan penggunaan cairan pembilas vagina yang bersifat basa / alkali (mengandung sabun) dapat memicu pertumbuhan kuman secara abnormal yang salah satu akibatnya adalah keputihan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/03/19/jangan-sepelekan-keputihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMPELAJARI SELERA PENERBIT</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/03/19/mempelajari-selera-penerbit/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/03/19/mempelajari-selera-penerbit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 09:49:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmiah Pop]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[kiat]]></category>
		<category><![CDATA[pangsa pasar buku]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[selera]]></category>
		<category><![CDATA[supandi Daroji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2731</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : SUPANDI, S.Pd, MM. &#8212;Staf Pengajar di SMP Negeri 2 Binangun Kab. Cilacap, Penulis Buku “Mengantarkan Kesuksesan Anak Anda” Penerbit Gramedia Jakarta, Pengurus Agupena Cilacap&#8212; Pernahkah terbersit di pikiran Anda untuk menulis buku yang bisa diterbitkan oleh penerbit? Jika jawaban Anda iya, kukuhkan keinginan Anda, sebab suatu keinginan akan mampu membakar semangat Anda untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : SUPANDI, S.Pd, MM. &#8212;Staf Pengajar di SMP Negeri 2 Binangun Kab. Cilacap, Penulis Buku “Mengantarkan Kesuksesan Anak Anda” Penerbit Gramedia Jakarta, Pengurus Agupena Cilacap&#8212;</p>
<p><img alt="" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/hs325.snc4/41455_100000410331721_9663_n.jpg" class="alignleft" width="200" height="238" />Pernahkah terbersit di pikiran Anda untuk menulis buku yang bisa diterbitkan oleh penerbit? Jika jawaban Anda iya, kukuhkan keinginan Anda, sebab suatu keinginan akan mampu membakar semangat Anda untuk mewujudkannya. Tiba saatnya bagi Anda untuk menggeser keinginan lama yang selama ini berkecamuk di benak Anda menjadi keinginan baru. Keinginan yang belum sempat terwujud lantaran belum menemukan pemicu yang mampu menggetarkan hasrat yang masih terbelenggu.</p>
<p>Ingat akan sebuah kata bijak berikut; “Keinginan kecil tidak akan menghasilkan tindakan besar”. Andai saja menulis buku merupakan keinginan besar, maka segerakan untuk melakukan tindakan besar dengan cara memulai dari sekarang. Segala sesuatu memerlukan tindakan nyata. Dan ingat, pekerjaan yang tidak kunjung selesai adalah pekerjaan yang tidak pernah dimulai.</p>
<p>Milikilah sebuah <em>passion</em>, buku Anda terpajang di toko buku, sementara itu buku Anda menantang mata si kutu buku untuk segera membaca dan membelinya. Sebagian besar diantara mereka mengambil buku Anda, mempelajarinya, kemudian membawanya ke kasir. Ketika para pembaca merasa terinspirasi dengan tulisan Anda, maka ada dobel nilai plus yang bisa Anda dapatkan yaitu point dan koin. Point bisa berupa penghargaan atas ilmu yang telah Anda tebarkan lewat buku, sedangkan koin diantaranya berupa sejumlah royalti dari penerbit.</p>
<p>Untuk bisa mewujudkan keinginan Anda membuat karya tulis berupa buku populer, ada baiknya Anda mempelajari asumsi-asumsi tertentu yang dimaui oleh penerbit. Secara prinsip, sebenarnya pertimbangan utama yang diinginkan penerbit adalah bagaimana agar buku Anda bisa terjual laris. Dengan demikian antara pihak penerbit dan penulis sama-sama diuntungkan.</p>
<p>Langkah yang bisa Anda ambil untuk bisa membidik selera penerbit adalah dengan mempelajari gaya tulisan para penulis melalui buku yang Anda miliki atau buku yang Anda beli serta kualitas materi yang terkandung di dalamnya. Dengan mempelajari gaya tulisan yang terdapat di dalam buku dan isinya, maka akan muncul sugesti yang akan mengusik hati Anda. Pikiran yang selama ini menganggap “tidak mungkin” akan berubah menjadi “mungkin”.</p>
<p>Untuk sampai pada target penerbit, yakni buku Anda bisa diterima oleh penerbit, perlu kiranya Anda memerhatikan asumsi-asumsi dasar yang pada akhirnya bisa memenuhi selera penerbit. Pertama, siapakah yang akan membaca buku Anda? Apakah kalangan tertentu, ataukah untuk kalangan yang lebih luas?  Jika buku Anda ditujukan untuk kalangan masyarakat luas berarti Anda sudah memenuhi selera penerbit. </p>
<p>Kedua, tema apa yang paling diminati oleh pembaca? Untuk menjawab pertanyaan ini berikut saya sampaikan beberapa karakteristik tema yang paling diminati oleh kalangan luas :<br />
1.	Bersifat unik dan relatif baru. Contoh : Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu.<br />
2.	Tentang pengembangan diri dengan perspektif religius. Contoh : ESQ Power-nya Ary Ginanjar.<br />
3.	Menguak rahasia. Contoh : Detik-Detik Yang Menentukan karya B.J. Habibie.<br />
4.	Kontroversial. Contoh : Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian karya Valentino Dinsi.<br />
5.	Tema menurut Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/03/19/mempelajari-selera-penerbit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

