<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agupena Jawa Tengah &#187; Fiksi</title>
	<atom:link href="http://agupenajateng.net/category/fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agupenajateng.net</link>
	<description>Membangun Semangat Berbagi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 04:35:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Teh Tawar Hangat</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/11/12/teh-tawar-hangat/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/11/12/teh-tawar-hangat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 05:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Sukmadji]]></category>
		<category><![CDATA[prosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2941</guid>
		<description><![CDATA[Ir. Bambang Sukmadji Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak Semenjak beberapa bulan silam Sasmito ditinggal istrinya menghadap Illahi, lelaki muda itu terus saja mengunci mulutnya. Tiap hari, pagi pagi benar dia sudah menyapu halaman rumahnya yang cukup luas dari sampah plastik, daun mangga kering dan bungkus makanan anak anak yang dibuang begitu saja oleh anak anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ir. Bambang  Sukmadji</strong><br />
<em>Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak</em></p>
<p><img alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-QYwEJkv_XtA/TXSrdyMmgSI/AAAAAAAACRY/-fuinQyQEro/s220/BAMBANG%2BMERAH.jpg" class="alignleft" width="220" height="165" />Semenjak  beberapa bulan silam Sasmito ditinggal istrinya menghadap Illahi, lelaki muda itu terus saja mengunci mulutnya. Tiap hari, pagi pagi benar dia sudah menyapu halaman rumahnya yang cukup luas dari sampah plastik, daun mangga kering dan bungkus makanan anak anak yang dibuang begitu saja oleh anak anak tetangganya. Dia tetap mengunci mulut, sorot mata dan senyumnya.</p>
<p>Namun belakangan ini, dia berubah sikapnya lantaran dia melihat semakin banyak sampah yang menumpuk  di halaman rumahnya. Maka pagi hari ini lelaki muda itu menyapu dengan agak membanting bantingkan tangkai sapu lidinya dan menjadi sering memaki kepada banyak orang.</p>
<p>“Kamu buang saja bungkus makananmu ke tempat sampah di sebrang jalan sana !” sesekali lelaki tua itu menunjamkan keberanganya kepada anak anak tetangganya yang kerap main di halaman  rumahnya yang hanya beralas tanah liat yang mengeras, dengan disana sini masih ditumbuhi ilalang yang meranggas.</p>
<p>Tapi memang dasar anak, betapapun lelaki kesepian itu dongkol dan marah, tetap saja mereka masih anak anak. Mereka itu adalah sosok yang mampu menyerap segala sesuatu dengan pembelajaran yang berkelanjutan dan sedikit demi sedikit.</p>
<p>***</p>
<p>“Apa perlu aku buat papan pengumuman yang besar, agar semua anak anak itu tidak membuang sampah di halaman rumah saya, Pak RT ?” . Suatu pagi, Pak RT mendapat giliran menjadi sasaran makian , setelah beberapa hari lalu beberapa warganya sudah kena getahnya.</p>
<p>“Ah, tidak perlu repot repot Pak Sas !, hanya masalah sepele seperti itu cukup dengan pendekatan kekeluargaan saja, agar tidak menimbulkan dendam tetangga “</p>
<p>“Aku sudah tak sabar lagi !”</p>
<p>“Jangan emosi dulu Pak Sas!, semuakan bisa dirembug, mereka cuma anak anak !”</p>
<p>“Tapi ini sungguh keterlaluan, mereka semakin berani saja dengan aku”</p>
<p>“Ini hanya perasaan Pak Sasmito saja, mereka kan belum tahu kalau Pak Sas marah. Lagian selama ini Pak Sas kan tidak pernah  menegur mereka. Pak Sas hanya diam membisu setiap kali di tengah mereka dan tetangga kita semua”</p>
<p>Mata lelaki muda itu perlahan meredup,  jaket lusuh yang kerap menutupi tubuhnya kini dilepas dan tak lama dia menyandarkan seluruh punggungnya di sofa berkulit hijau di ruang tamu rumah Pak RT. Pak RT masih terlihat menyunggingkan seberkas senyum di wajahnya yang sudah mulai dipenuhi kulit yang melonggar. Sebuah  senyuman yang mampu menyihir wajah laki laki muda itu tidak seperti semula, yang membara ditusuk bara api.</p>
<p>Serpihan bara api kini sudah terlumat ditelikung angi pagi di Hari Minggu kala itu, Pak RT segera mempersilakan Pak Sas untuk meneguk teh tawar hangat yang berada persis di depanya. Singkong rebus berwarna agak keruh, lantaran sudah agak tua, kini masih</p>
<p>2</p>
<p>mengepulkan asapnya, bersma dengan teh hangat tawar kini mampu menjadi kawan mereka . Kabut pagi yang semula menyamarkan pandangan mereka kini berganti dengan kuning sinar mentari. Namun dalam hati laki laki muda itu, masih saja terselip rasa rindu yang berat pada istrinya yang kini sedang bermandi air bunga di cakrawala senja.</p>
<p>“Pak Sas, sedang  galau karena rindu, kan ?” Sepotong kalimat dari Pak RT meluncur begitu saja hingga jauh menunjam ke jantung Pak Sas. Namun tiada sedikitpun Pak RT takut bila Pak Sas terluka hatinya dengan pertanyaanya itu. Lantaran beberapa tahun silam dia juga pernah ditinggal istrinya menghadap Illahi. Kala itu Pak RT ingin segera meruntuhkan langit biru atau menghentikan perputaran bumi, agar semua manusia merasakan penderitaan sama seperti dirinya.</p>
<p>“Pak Sas, aku juga pernah merasakan seperti anda, dan kini rindu itu belum semuanya sirna. Apalagi bila aku berada di tengah anak anaku. Tapi mau apa lagi kita, hanya tulang dan daging yang tak berdaya menghadapi suratan takdir.</p>
<p>Sasmito mulai menyemaikan bunga berseri di hatinya, ketimbang beberapa saat yang lalu, hatinya hanya dipenuhi belukar yang mernggas. Diapun mulai menemukan kawan curhat, untuk menyiram bara api rindu yang membakar dinding jantungnya, beberapa teguk teh hangat tawar kini sudah memenuhi tenggorokanya.</p>
<p>Penulis : Bambang Sukmadji-Semarang </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/11/12/teh-tawar-hangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SURAT TERAKHIR UNTUK BU GURU DARSIH</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2011/03/19/surat-terakhir-untuk-bu-guru-darsih/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2011/03/19/surat-terakhir-untuk-bu-guru-darsih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 09:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Sukmadji]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[surat terakhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2733</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Bambang Sukmadji &#8212;Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak JATENG&#8212; KADARWASIH berkali kali mengusap tas hitamnya yang ditebari debu-debu yang hinggap di kulit hitam tasnya, hingga kelihatan kumal. Lantaran debu debu itu masih saja terus beterbangan terbawa angin kemarau yang ditiupkan dari Gunung Slamet, setelah debu debu nakal itu menjelajahi hutan hutan pinus yang mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Bambang Sukmadji &#8212;Guru MA Futuhiyyah-1 Mranggen Demak  JATENG&#8212;</p>
<p><img alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GH6uf54UMBU/S-TBDN1X-bI/AAAAAAAAAas/CLMH873bxIo/s1600/BAMBANG+BLOG.JPG" class="alignleft" width="300" height="150" />KADARWASIH berkali kali mengusap tas hitamnya yang ditebari debu-debu yang hinggap di kulit hitam tasnya,  hingga  kelihatan kumal. Lantaran debu debu itu masih saja terus beterbangan terbawa  angin kemarau yang ditiupkan dari Gunung Slamet, setelah debu debu nakal itu menjelajahi hutan hutan pinus yang mulai tandus. Apalagi di tengah hari, saat matahari benar benar lurus di atas kepala, debu itu semakin liar menempel apa saja sesukanya. Seteguk air teh dingin yang terakhir kini membasahi tenggorokanya.  Nafas kelelahan kembali terdengar dari bibir guru sekolah dasar yang terpencil itu. Setelah sehari di bawah udara yang gerah, dia masih setia menyelipkan setetes pengabdian kepada bangsa ini, dengan membimbing anak anak didiknya yang berkubang dengan kesusahan hidup di dusun Sirampok, Kabupaten Brebes.</p>
<p>Kadang dia merenung, meski dia masih di meja kerjanya yang sudah mulai kusam warnanya, mungkinkah dia harus kembali ke Semarang yang segalanya lebih menjanjikan ketimbang hanya terselip di tengah pohon pinus dan masyarakat desa yang hanya memiliki selembar hidup, tanpa guratan warna warni eksotisnya hidup. Ataukah memang mereka tidak butuh itu semua. </p>
<p>Siang itu memang udara begitu panasnya, Kadarwasih menjadi bertambah heran. Mengapa di kaki Gunung Slamet yang dulunya sejuk kini mulai terasa gerah sejak beberapa tahun belakangan ini. Ataukah karena manusia sudah tidak mampu menjadi sahabat setia dengan bumi, yang justru telah menjadi rumah kehidupanya sendiri. Dalam hatinya sering dia berbisik, mengapa tidak mulai sekarang anak anaknya diperkenalkan dengan ras cinta pada lingkunganya, kepedulian terhadap sesama, penuh tanggung  jawab dan disiplin. </p>
<p>Ruang guru kini makin bertambah lengang, setelah semua anak anaknya pulang ke rumah masing masing. Hanya tiupan angin kemarau yang meriuhkan daun daun pinus. Yang serempak mendendangkan kidung alam tanpa nada dan birama. Kadarwasih tambah bertambah sepi hatinya. Lambat laun bayang bapak,  ibu serta saudara saudaranya mulai menguat di hatinya, kini bagaikan gemerincing logam yang saling beradu terdengar dekat dengan telinganya. Tawa canda mereka kala pagi hari sebelum berangkat ke sekolah masing masing dan malam hari sebelum semua beranjak ke peraduan.</p>
<p>Kadarwasih dengan sayap sayapnya kini terbang melintasi jarak dan waktu, yang larut dalam dunia lamunan. Hingga sebuah usapan tangan halus terasa menyentuh pundaknya. Dia segera melipat sayap sayapnya dan kembali ke ruang guru yang bertambah berdebu.</p>
<p>“Memang Sirampok dusun yang sepi, ya Bu ?”</p>
<p>“Oh Bu Endang, saya tidak tahu kedatangan ibu, tahu tahu sudah di depan saya”</p>
<p>“Ya, karena Bu Darsih sedang asik melamun, apa kangen dengan yang di Semarang to Bu ?”</p>
<p>“Ah, sekarang sudah tidak rindu lagi, Bu. Tapi maklum saja ya Bu !, saya di sini baru bertugas belum genap satu tahun. Kadang jading seperti tadi,kenangan hidup di tengah saudara saudara saya dan lebih lebih sama mama sering datang. Tapi nanti juga akan hilang, Bu ?”</p>
<p>“ Itulah tantangan seorang pendidik yang bertumpu pada perasaan moral, demi anak anak kita yang sudah tidak punya masa depan lagi. Kita rela bertugas di daerah terpencil jauh dari keluarga. Ini sudah rame dusun Sirampok dibanding saat pertama saya datang di sini, tahun 1974 silam. Saat itu belum  ada penerangan listrik, jalanya masih tanah dan masih banyak anak anak yang tidak mau sekolah”.</p>
<p>“Gimana perasaan Bu Endang saat itu ?’</p>
<p>“Wah seperti Bu Darsih saat ini, aku meninggalkan Klaten dengan tetesan air mata kesedihan. Apalagi saat iru aku baru saja lulus SPG dan langsung ditempatkan di daerah terpencil seperti ini. Bayngkan saja Bu, usia saya saat itu baru 17 tahun, masih berat meninggalkan emak dan bapak di desa. Tapi itulah pendidik !”</p>
<p>“Apa Bu Endang pernah mengajukan pindah ke Klaten ?”</p>
<p>“Awal awalnya memang sering, tapi setelah aku berumah tangga. Semua niat untuk kembali ke Klaten menjadi hilang. Menjadi manusia yang hidup bersama dengan keluarga yang saling mencintai adalah kebagian yang kita dambakan semua, apalagi bagi pendidik seperti kita yang bertugas mencerdaskan masyarakat. Sungguh suatu makna hidup yang berati “</p>
<p>Kadarwasih hanya diam sejenak, anganya berusaha menelanjangi hatinya sendiri. Mengapa dia tidak bisa seperti Bu Endang kepala sekolahnya, yang begitu mampu memaknai hidup sebagai pendidik di daerah terpencil. Ingin rasanya dia membunuh rasa sepi dan berkonsentrasi pada tugas memberi pembelajaran</p>
<p>Namun wajah Hardiman teman sekolah di SMP dulu masih saja terus menempel di benang otaknya. Tautan hati yang berjalan lebih dari 4 tahun serasa begiitu kuat bersimpul di hatinya. Hardiman kini memilih menjadi seorang pengusaha di Kota Jakarta, yang menurut surat terakhir yang dia terima Hardiman telah sukses dan mengajaknya ke Jakarta untuk bersama mengarungi bahtera kehidupan, ketimbang jadi guru SD di daerah terpencil. Kakalutan kina menghinggapi selembar hatinya, dalam keadaan terjepit seperti itu dia harus memilih jawaban ya apa tidak. Namun ini adalah realita, realita dimana dia harus menjadi pendidik yang sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil. Sebuah realita yang dia rencanakan sejak lulus SMP untuk menjadi seorang pendidik.</p>
<p>“Sebenarnya ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku, Bu ?” sela Kadarwasih memecah keheningan.</p>
<p>“Tentunya masalah pribadi kan Bu ?, kalau masalah dinas sepenuhnya aku Bantu, Bu ?”</p>
<p>“Betul Bu, tapi meski ini masalah pribadi, Bu Endang tidak merasa terganggukan kalau aku mau curhat ?”</p>
<p>“Oh sama sekali tidak Bu Darsih ?”</p>
<p>Matahari hampir berada tepat di atas atap sekolah, angin gunung dan debu yang bersuka ria selalu bercanda berkejaran dengan angin yang cukup cepat langkahnya. Mereka tidak pernah memerdulikan apa yang didera oleh manusia, termasuk pada guru yang masih gadis dan berperawakan tinggi semampai serta berwajah ayu, yang kini sedang didera kebimbangan hati. </p>
<p>“Yang paling berat bagi saya adalah menentukan pilihan, saya harus ke Jakarta menyusul seseorang yang saya cintai ataukah saya tetap di sini. Inilah yang selama ini membuat saya bimbang, Bu ?”. Terdengar dengusan nafas panjang dari Bu Endang kepala sekolah yang beberapa tahun lagi akan pensiun.</p>
<p>“Maafkan aku ya Bu, bila ini masalah privasinya ibu, Tapi aku juga pernah mengalami hal semacam itu. Tapi waktu itu saya memilh dua duanya.  Saat kami masih pengantin baru, kegiatan kami hanya hilir mudik Sirampog dan Klaten. Saya sarankan Bu Darsih memilih kedua jalan”</p>
<p>“Memang suatu pilihan yang berat bgi aku, sebenarnya sering aku meminta Hardiman seperti itu Bu, tapi karena ambisinya yang besar untuk sukses di Jakarta dia tidak mau mengalah. Dia memaksaku untuk ke Jakarta dan saya belum memberi jawaban”</p>
<p>‘Huuh..kalau gitu bisa repot, Bu !”<br />
“Betul, Bu. Dia orangnya sangat teguh pada pendirianya dan memiliki hati yang keras, selama ini saya hanya mengalah dan mengalah.”</p>
<p>“Betul Bu, jangan membuat keputusan yang gegabah. Tapi pada saatnya nanti Bu Darsih harus mampu membuat putusan yang berani. Saya hanya menyarankan bahwa kebahagian itu bukan datang dari seseorang, tapi dari Tuhan”</p>
<p>Baru kali ini Bu Endang menyaksikan senyuman bu guru yang cantik di depanya, sejak dari pagi tadi. Bu Endangpun membalas senyuman itu dengan perasaan hati yang tersentuh, meski dia yakin Kadarwasih adalah figure prbadi yang tangguh, terbukti dia selama ini bersedia bertugas di daerah terpencil. Bu Endang masih saja menyodorkan senyuman simpatik meski dia bergegas untuk segera pulang, karena hari sudah cukup siang. </p>
<p>***<br />
Hujan sekali sekali sudah mul;ai turun membasahi lereng Gunung Slamet. Daun daun pinus dan semak kini mulai dibasahi air hujan. Beberapa diantaranya yang dahulu mengering kini mulai bersemi lagi, Jalan jalan desa yang kini beraspal sudah tak berdebu lagi. Beberapa petani mulai membersihkan ladangnya dari semak semak untuk bertanam padi.</p>
<p>Memang sudah seharusnya Kadarwasih yang mendambakan  hidup berprofesi sebagai pendidik, apalagi berstatus PNS, perlahan lahan mampu mengarungi segala apa yang dia harus geluti. Mulai dari alam lingkungan tempat dia mengajar, anank anak peserta didik yang tiap hari dibimbingnya, masyarakat sekitarnya dan terlebih-lebih terhadap rekan rekan seprofesi, yang tiap hari berperan terhadap dirinya guna menemukan Kadarwasih yang sebenarnya. Hingga akhirnya bayangan Hardiman, dan bukan itu saja bayangan untuk tinggal di Jakarta telah perlahan lahan telah sirna,</p>
<p>Tidak terasa kemudian musimpun telah berganti, silih berganti berkejaran dengan pergantian siang dan malam. Sebagaimana yang sering dialami Kadarwasih dalam menapaki lamunanya antara menitipkan hidupnya di pangkuan Hardiman di Jakarta atau menggapai masa depan di kaki Gungnug Slamet. Hingga akhirnya Kadarwasih bertambah dewsa dan berbesar hati, untuk menghadapi segala resiko hidup sebagai seorang pendidik. Bukankah semua teman sekantornya, berasal dari kota kota di Jawa Tengah yang jauh dari tempat mengajarnya kini.</p>
<p>Mengapa dia harus cengeng, mengapa kadang kata hati lebih menuntutya untuk bersifat rapuh. Namun Kadarwasih adalah seorang manusia apalagi wanita yang belum banyak makan garam. Perasaan bimbang dan bersedih kembali memenuhi ruang batinya, saat dia menerima surat bersampul putih dengan tulisan nama dan alamat dari coretan tangan Hardiman yang terkesan ditulis dengan perasaan kecewa. Secara perlahan dia buka sampiul tersebuit, seketika nyanyian kutilang, jalak, kenari dan alunan suara alam berenti sejenak, sementara riuh daun paku yang bergesek di terpa angina menjadi diam sesaat pula.</p>
<p>Dari kedua mata yang bening itu, mulailah menitik air mata kesedihan dan kedua tanganya menjadi tergetar setelah membaca isi surat itu. </p>
<p>“Aku tidak menghendaki ini terjadi pada diri kita, namun apa artinya sebuah kasih sayang tanpa adanya kehadiranmu di sisiku. Aku mencoba menggapai kehidupan yang sarat dengan tantangan di kota yang buas ini demi kita. Namun tiadapun kamu bergeming barang sesaat untuk memenuhi permintaanku demi masa depan kita. </p>
<p>Sehingga inilah yang terpaksa aku lakukan agar kita mampu  membenahi masa depan kita sendiri sendiri, tanpa adanya kehadiran kita berdua dalam satu pelaminan. Selamat Berbahagia”</p>
<p>Berkali kali tulisan dari Hardiman ini dia baca, hingga yakin betul apa yang seharusnya dia sikapi, sebuah perpisahan harus dia alami dengan perasaan yang terguncang Jauh dari lubuk hatinya yag paling dalam, timbul sesuatu yang mampu menepiskan kegontaian hatinya itu, yaitu nasehat Bu Endang yang mengatakan bahwa kebahagian bukan dari manusia datangnya, tapi dari yang Maha Kuasa. Kata kata itu kini menjadi seteguk air dingin yang mampu membasahi jiwanya yang sedang meradangkan bara asmara.<br />
***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2011/03/19/surat-terakhir-untuk-bu-guru-darsih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>REMBULAN DI HARI KEMENANGAN</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/09/09/rembulan-di-hari-kemenangan/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/09/09/rembulan-di-hari-kemenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 10:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2308</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Ir. Bambang Sukmadji, Guru MA Futuhiyyah 1. Mranggen Demak, Jateng Ada keraguan di kalbu yang menyelip jauh di kalbu Sebastian, untuk menyambangi Carolin yang hampir 5 tahun tenggelam dalam peraduan egonya. Antara dia dan gadis lesung pipit ini memang selalu dibatasi “langit bersusun tujuh”,karena masing terpagut dengan hasrat yang bertanam di halaman hati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Ir. Bambang Sukmadji, Guru MA Futuhiyyah 1. Mranggen Demak, Jateng<br />
<img alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GH6uf54UMBU/TG1h0rJhZuI/AAAAAAAAAco/_kxetLuFbbY/S350/BAMBANG+PRIMMA.jpg" class="alignnone" width="261" height="350" />Ada keraguan di kalbu yang menyelip jauh di kalbu Sebastian, untuk menyambangi Carolin yang hampir 5 tahun tenggelam dalam peraduan egonya. Antara dia dan gadis lesung pipit ini memang selalu dibatasi “langit bersusun tujuh”,karena  masing terpagut dengan hasrat yang bertanam di halaman hati masing-masing. Sebastian bagaikan karang terjal, selalu menjinjing ego yang kuat. Kala dia sudah berniat mengapai apapun , semuanya adalah harus menjadi miliknya. Meski hingga sampai kini diapun merasa hanya hidup bagaikan daun hijau yang berteman angina kembara.</p>
<p>Sedangkan Caroline anak mama, putra seorang developer di kota Semarang, hanya  bayangan semu selama dekat di hati Sebastian sejak mereka duduk di kelas XI sebuah SMU. Caroline laksana Madam Julia Peron dari Argentina, yang hidup merengkuh emas dan berlian si singasananya da kehidupan sekelilingnya. Meski jauh dalam hatiya dia merasa kagum dengan cowok eksentrik namun cerdas yang senang berphose apa adanya. Dasar Sebastian adalah cowok ganteng dengan rambut ikal, maka apapun perangainya selalu saja menrik simpatik Carolin. </p>
<p>Kemanapun kaki sang Romie ini melangkah, Juli pasti membayanginya. Mereka berdua bagaikan angina laut yang liar dan ombak laut yang bergelora. Namun ombak yang bergelora tersebut tidak pernah mampu menyatukan tangan dengan angina yang memusarinya.</p>
<p>Gema takbir hari kemenangan mulai menggema dari cakrawala semua arah, senja kali ini menjadi senja yang paling benderang di muka bumi. Seribu malaikat telah menggelarkan sayapnya, menaburkan maghfiroh untuk insan yang mengusung keteduhan hati, termasuk Sebastian, yang sudah lima tahun setelah berpisah dengan Caroline bagaikan perahu yang koyak layarnya, sehingga untuk menepikan sauhnya di pelabuhan hatinya, diapun tidak memiliki keberanian. Kerap kali memang Carolinn melintas di hatinya, namun seketika itu juga bayangan itu menghilang tersapu angin badai yang ganas. </p>
<p>Untuk menyelipkan hidup yang dia inginkan hanya ada di guratan wajah bulan, yang dia perhatikan kala sendiri duduk di beranda rumah kontrakan di pinggir kota. Mungkinkah Caeolin ada di wajah bulan, yang bertaut dengan kuning sinarnya yang selalu saja merajut warna warna pelangi di cakrawala senja hidupnya,desah hati seperti itu selalu saja hadir di bilah hidupnya.</p>
<p>Namun manusia tetap saja manusia, yang semua nasib kodrat dan suratan takdir manusia berada di tanganNYA, gema takbir, tahlil dan tahmid telah meresap jauh ke jantung hatinya. Telaga sejuta warna dalam hatinya, menepis menjadi warna putih bersih yang mampu  mencelupkan semuanya asanya untuk menemui Carolin, yang sekarang berada di istana kehidupanya.</p>
<p>Rumah itu masih seperti dulu, berasiktur “jawa kuno” dengan dinding dan genteng yang kokoh. Namun warna tembok dan keramik lantainya telah berganti dengan warna putih polos. Bukankah papi Carolin sangat menyukai variasi warna yang mencolok, mengapa sekarang warna warna itu telah hilang. Ataukah mungkin ini selera Carolin, yang dia tahu persis adalah cewek yang tidak suka variasi warna yang mencolok. Degup jantungnya segera memburu anganya,maka kini di hatinya muncul. Jari telunjuknya tanpa keraguan kini memencet tombol bel yang ada di samping pintu gerbang yang juga telah berganti dengan warna hitam legam.</p>
<p>“Maaf Om, Carolin ada?”<br />
“Anda siapa?” jawab pria setengah baya yang ada di depan pintu gerbang.</p>
<p>Belum pernah Sebastian merasakan badai yang dasyat yang menerpa halaman hatinya. Kemana Carolin, kemana papi dan mamanya yang dulu sangat akrab dan simpatik sama dia.</p>
<p>“Saya teman SMU Carolin, Om !. Apa Carolin sudah pindah Om ?”<br />
“Oh, silakan masuk Mas, Om ceritakan di dalam saja “</p>
<p>Satu demi satu kata yag keluar mulut laki-laki itu di dengarkan oleh Sebastian,yang kiniterbang tak menyentuh bumi lagi, melayang entah kemana.</p>
<p>“Itulah Mas, sejak Pak Benhard meninggal karena kanker ganas, Karolin dan maminya sekarang pindah entah kemana. Semua hartanya telah habis terjual untuk obat dan biaya hidup keluarga itu yang terlanjur mewah. Aku beri alamat terakhir Karolin. Sekarang tinggal di Padang”. Kertas kumal berisi alamat Carolin kini disimpan di domper dekilnya Sebastian. Kedua tanganya kini bergetar, Carolin mengapa kau tidak memberi kabar untukku. Akupun siap  mengatarmu dalam merajut hidup yang tiada menentu.</p>
<p>Beruntung Sebastian masih kebagian tiket pesawat yang langsung terbang dari Semarang ke Padang.Tanpa menemui kesulitan Sebastian kini berada di ujung gang yang dituju. Kota Padang masih menyisakan nafas peayaan Hari Kemenanga. Sebuah rumah sederhana kini berada di depannya, halamanya tiada seberapa luasnya dan di pojok depan halaman itu telah berdiri warung panganan yang banyak dikunjungi pembeli.</p>
<p>Darah yang mengalir di nadi Sebastian kini terasa berhenti, kerongkonganya kini tesumbat bara api yang panas hingga menyesakan dadanya. Diamati cewek yang berada di dalam warung panganan itu, ternyata dia Caroline, ya Carolin, aku tidak pangling.</p>
<p>“Mari Mas, silakan duduk, silakan merasakan cendol dan panganan lainnya, oh,kau..kau..benarkah kamu Ian. Mengapa kau disini. Mari masuk ke dalam Yan !”</p>
<p>Tubuh yang menyisakan ketidakpercayaan itu kini direbahkan pada kursi penjalan tua yang lusuh dan masih ditebari debu, pertanda tidak pernah dirawat pemilikya dengan baik.<br />
“Yan, kamu dari mana saja, mengapa kamu sekarang di Padang, dari mana kamu tahu alamatku, Yan, dari Pak Stewart ?. Dan kini kau tahu semuanya tentang aku ?”.<br />
“Aku kemarin memang ke Gajah Mungkur dan ketemu Pak Stewart,lantas dia memberiku alamat ini?”<br />
“Sekarang inilah aku, ini aku Carolin maka wajar saja kamu nggak pernah mau calling aku, setelah aku jatuh”<br />
“Buktinya sekarang aku ke sini”<br />
“Lantas apa maumu, kamu mau berteriak sekeras kerasnya pada semua orang, kalau Carolin sekarang jatuh miskin ?”<br />
“Ah,simpan saja perasaanmu itu Carolin. Aku memang lama nggak ngasih kabar,  maafkan aku Carolin. Inika suasana yang baik untuk saling memaafkan”<br />
“Lantas kemana saja kamu selama ini ?”<br />
“Aku hidup tiada menentu selama lima tahun, aku kerja dari studio ke studio lainnya. Pengalaman yang aku miliki hanya bagian produksi di studio radio atau design grafis. Penghasilanku tiada menentu, padahal aku harus hidup mandiri”<br />
“Keadaanmu tidak jauh berbeda dari aku, Yan. Aku hanya seorang pedagang cendol”<br />
“Sudahlah. Carolin. Semuanya pasti akan berakhir. Mengapakamu tinggal di sini?”<br />
“Ini rumah milik Om Hendra, aku dan mama serta Devi hanya bisa menempati sesukaku. Sementara mama mbantu catering di perusahaan Om Hendra. Aku dan Devi bergantian di warung itu, Yan”<br />
“Bagiku kehidupan seperti itu sudah akrab sejak aku di SMA. Bapaku hanya pegawai kecil kecilan,sedangkan ibuku pedagang di pasar Karang Jati. Maka waktu SMA dulu aku selalu menjauh darimu”<br />
“Sudahlah, tolonglah Yan, aku minta kau lupakan masa masa itu”<br />
“Namun aku kini sudah ada di depanmu. Kau masih Carolin yang dulu kan?”</p>
<p>Karolin hanya menghiasi wajahnya dengan senyuman kecilnya. Senyuman yang membuat Sebastian hendak merengkuh dunia dan isinya. Senyuman itulah yang lima tahun selalu menjaga pintu hatinya. Sekarang diapuntak mau lagi kehilangan wangi bunga di taman hatinya.</p>
<p>“Karolin, pulanglah ke Semarang lagi. Aku sekarang udah punya studio grafis sendiri, dan designku telah banyak dicari biro iklan da lain sebagainya. Aku butuh bantuanmu dan juga dirimu. Kita akhiri saja semuanya, Kita berpisah dulu tiada satu patah katapun kita sepakati, demikian juga hari ini, sebuah pertemuan lagi tiada banyak kata yang dapat aku tuturkan”</p>
<p>Bintik air mata kini muali merebak di benung mata Karolin, menambah pesona wajahnya yang ayu. Sebastianpun tehu persisi bahwa rembulan kini telah memenuhi ruang dadanya pada hari kemenangan ini.<br />
Penulis : Ir. Bambang Sukmadji, Guru MA Futuhiyyah 1. Mranggen Demak, Jateng</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/09/09/rembulan-di-hari-kemenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEPILUT DEWI SRENGGI</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/06/18/kepilut-dewi-srenggi/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/06/18/kepilut-dewi-srenggi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 15:48:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerita cekak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2051</guid>
		<description><![CDATA[Dening: Narwan Sastra Kelana AKU ora maido yen Parto kang nduweni titel Sarjana Pendidikan iku lantip pikire. Aku oleh pengalaman lan wawasan maneka warna saka dhewekke. Maklum wae aku mung lulusan SMP. Aku ora bisa nerusake ing SMA amarga wong tuwaku sakloron ora nyarujuki, awit dadi wong nggunung kang kasile ora tetep ora saguh nggragati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dening: Narwan Sastra Kelana</p>
<p>AKU ora maido yen Parto kang nduweni titel Sarjana Pendidikan iku lantip pikire. Aku oleh pengalaman lan wawasan maneka warna saka dhewekke. Maklum wae aku mung lulusan SMP.  Aku ora bisa nerusake ing SMA amarga wong tuwaku sakloron ora nyarujuki, awit dadi wong nggunung kang kasile ora tetep ora saguh nggragati aku nerusake. Aku nrima, kepiye maneh wong wektu semana aku isih cilik, mung manut ngendikane wong tuwa.</p>
<p>Parto piyantune pancen nalar saben-saben micara. Dhewekke mung guneman bab-bab kang mlebu akal kang diarani logis miturut dhewekke, bab-bab kang tinemu nalar, ora percaya marang bab-bab kang ngayawara, luwih-luwih kang klebu takhayul, blas dhewekke  ora percaya. Ing mangka ing desaku isih akeh bab-bab kang dipercaya ana senadjan ora mawujud. Aku ngajeni marang penemune mangkono, amarga pancen anggone sinau mesthine piwulang kang tinemu nalar nganti Parto nyandhak titel sarjanane.</p>
<p>***</p>
<p>Prayakan merti desa ing desaku mung diadani kanthi prasaja. Nanging ing desa kang papane sadhuwure desaku, katon regeng. Pirang-pirang kesenian digelar ing kana. Dhasare Parto wong kutha, durung nate meruhi prayaan merti desa, dhewekke ngeyel ajak aku ngancani nonton prayaan. Nadyan anyes-anyes aku nuruti Parto nuju desa nduwur kana kang ngadani merti desa.</p>
<p>Tetabuhan saya cedhak saya banter keprungu. Tekan papan prayaan Parto katon sumringah. Ana rasa gumun meruhi kesenian tradisional kanthi langsung. Parto nyeneng tanganku. Nggeret aku nyedhaki panggung lengger. Ora maido. Parto kang isih legan mesthine pengin weruh saka cedhak. Kang maraga ing panggung pancen ayu. Ayu lan prigel, eseme tansah agawe anyes atine kang nyawang. Mesthine Parto yo anyes atine.</p>
<p>Parto menehi esem nalika kenya ing panggung mau mandeng Parto. Wah, blaik. Parto ora gelem owah saka papane ngadheg. Ing sisih panggung, ing ngarep pisan. Aku nganti kanyesen ngancani Parto kang kesengsem marang eseme paraga lengger iku. Bareng kenya mau mudhun, Parto gita-gita ngrangsek nuju papan mburi panggung. Aku dadi kisinan ngetutake dhewekke.</p>
<p>“Tepangaken Mbak, kula Parto. Kersa ta tetepangan kaliyan kula?” ngono celathune Parto karo ngulungake astane.</p>
<p>“Matur nuwun Mas Parto. Kula Narti. Mas Parto lenggahipun pundi?” semaure kenya mau kanthi esem kang nengsemake.</p>
<p>“Kula aslinipun kutha Mbak. Nanging kula kost wonten dusun ngandhap mriku. Kula nembe tigang wulan wonten mriki kok Mbak.”</p>
<p>Parto kanthi lugu nyauri pitakon-pitakon kenya kang aran Narti mau. Aku rada ngadoh, nalika saklorone katon saya rumaket anggone padha guneman. Cara bocah saiki aku lagi dadi obat nyamuk. Ngancani wong padha seneng, nanging aku dhewe nyemamem.</p>
<p>“Dadi Jon!” dumadakan Parto celathu banter saka sisihku.</p>
<p>“Apane sing dadi?” pitakonku gumun.</p>
<p>“Narti gelem tak ajak temon ing ngarep pasar sesuk sore. Jebul dhewekke omahe cedhak pasar. Edan, ayune ngedap-edapi tenan.”</p>
<p>Aku mung ngempet guyu nalika Parto mipril nyritakake Narti. Dhewekke ora ngerti yen pancen paraga lengger iku mesthi ayu-ayu. Aku meh paham kenya-kenya paraga lengger ing wewengkon kene. Ananging aku ora becik yen nepungake marang Parto. Kareben dhewekke tetepungan dhewe.</p>
<p>“Dingapura ya Jon, yen sesuk aku arep temon? Sliramu ora tak ajak. Nek wis tepung banget sliramu tak ngerteni, Jon.” Kandhane Parto nalika mulih saka nonton lengger ing prayaan mau.</p>
<p>“Iya, iya. Aku ngerti. Sliramu lagi kasmaran karo kenya mau.”</p>
<p>Sadawane mlaku mulih, ora leren anggone Parto mipril ngomongake Narti, ngalembana, lan malah nggagas menawa dadi sisihane Narti. Tekan ngomah, nganti nyelehake awak, mbok menawa isih ana Narti nggandul ing tlabukan. Parto mesti kethap-kethip ora merem-merem.</p>
<p>***</p>
<p>Bali saka ziarah kuburan, aku liwat omahe Pakde. Ora katon Parto ing ngarepan. Adate Parto sore-sore ngene iki maca buku ing emperan. “Wah iki mesti sida temon karo Narti.” mangkono pandugaku. Wong yen lagi kasmaran adate ora ndelok wayah. Wayahe wong padha ziarah leluhure ing Kemis sore, eh Parto malah kansen karo Narti. Oalah Parto&#8230;Parto!</p>
<p>Mudun yasinan, katon Pakde Carik nemoni wong-wong kang lagi wae bubar yasinan lan kondur. Pakde Carik gita-gita ngendika lan katon krenggosan.</p>
<p>“Nuwun sewu sedulur-sedulur, kula nyuwun tulung&#8230;.. Dik Parto..Dik Parto&#8230;..”</p>
<p>“Parto wonten punapa Pakde? Sajak ndrawasi temen Pakde?” Aku matur marang Pakde Carik.</p>
<p>“Anu&#8230;Jon, tulungi&#8230;Parto mlaku ijen nuju alas kana&#8230;.tak undang-undang ora nggape&#8230;aja-aja&#8230;..” Ngono ngendhikane Pakde Carik karo krenggosan.</p>
<p>“Sareh&#8230;.sareh Pak Carik. Dik Parto ijen punapa kaliyan sinten?” pitakone Pak Umar karo nyaketi Pak Carik.</p>
<p>Kabeh padha ngrubung Pakde Carik. Awit padha mangerteni yen alas kang dituding Pakde Carik mau, kondhang alas kang wingit. Akeh siluman celeng manggon ing alas kuwi. Blaik! Aja-aja Parto digawa siluman utawa lelembut liyane.</p>
<p>Pak Umar banjur ngajak wong-wong kampung padha nggawa obor. Bareng-bareng nututi Parto. Aku uga melu cancut. Aku mlaku ing ngarep pisan. aku sing dadi kanca kenthele Parto ora pengin dhewekke kena godha utawa nganti kagawa siluman alas kuwi.</p>
<p>***</p>
<p>“Narti, aku ora ngira yen omahmu apik banget. Wah wah&#8230; kabeh katon mencorong. Sregep anggonmu reresik Nar.”</p>
<p>“Ah, Mas Parto ana-ana wae. Iku rak wis dadi kewajibane bocah wadon. Resik-resik lan ngopeni omah. Mbiyantu wong tuwa, rak ngono ta Mas?” wangsulane Narti karo lelingseman ngadi-adi.</p>
<p>“Lha wong tuwamu endi?” pitakone Parto.</p>
<p>“Sssst! Sampun sare. Kesel, sedina-dina ing ngalas&#8230;”</p>
<p>“Oooo&#8230;.”</p>
<p>“Mas Parto wis nduweni pacangan ing kutha?” Dumadakan Narti takon kang marakake Parto bingung anggone arep wangsulan.</p>
<p>“E &#8230;.anu&#8230;ngene Nar!”</p>
<p>“Sampun, sampun. Aku ngerti Mas Parto. Ora perlu kok wangsuli. Sing penting, wengi iki Mas Parto ana kene. Karo aku, ngono ta Mas Parto sayang..”</p>
<p>Lagi wae Narti arep ambruk ing dhadhane Parto. Kabeh obor diuripake, aku lan wong-wong kampung padha alok banter nderek aba-abane Pak Umar.</p>
<p>“Parto..! Parto&#8230;! Parto&#8230;.!”</p>
<p>Mak jenggirat! Parto kaget sanalika. Dhewekke ngadheg katon pucet. Ing sandhinge ana celeng gedhe mandheng dhewekke. Irung celeng kang ana anting-antinge iku cengar-cengir. Matane landhep mandeng Parto. Banjur mak sranthal, celeng mau mlayu ilang ing petenge gegrumbulan.</p>
<p>“Syukur Dhik Parto durung kedlarung&#8230;.” Ngendikane Pak Carik karo ngrangkul Parto kang isih pucet lan awake anyes ndrejes.</p>
<p>“K&#8230;.k&#8230;.kepripun niki Pak Carik?” Parto nyuwara kaweden.</p>
<p>“Sliramu mau kepilut Dewi Srenggi, Dhik Parto&#8230;.mula aku ngajak warga nututi sliramu.”</p>
<p>“Dewi Srenggi?”</p>
<p>“Bener To, Dewi Srenggi. Siluman celeng wadon kang manggon ing alas kene. Siluman mau pancen seneng nggodha wong lanang kanthi memba dadi wong ayu.”</p>
<p>“Lho Jon? Mau kuwi Narti, dudu siluman&#8230;.!” kandhane Parto isih kurang percaya.</p>
<p>“Ngertiya Dik Parto. Narti kuwi paraga lengger Putrane Pak Mbarep. Narti kuwi kembange desa, tur ora bakalan yen ramane kang priyayi kae ngidini metu mbengi yen ora ditanggap lan diterake ibune.” Pakde Carik ningkasake babagab sapa Narti.</p>
<p>“Lajeng&#8230; wau kok manggihi kula?”</p>
<p>“Kuwi dudu Narti, To. Mbok menawa saiki Narti lagi ngimpi ing kasure. Sedulur-sedulur iki kabeh wiwit mau mung nyumerepi sliramu ijen. Malah omong-omong dhewe. banjur padha maspadakake tenan. Eh jebule sliramu guneman karo celeng kang banjur mlayu mau.”</p>
<p>“Dadi ing wewengkon kene isih ana siluman? Lelembut?”</p>
<p>“Bener. Nanging ora ana ing buku-buku lan piwulanganmu nalika kuliyah. Dewi Srenggi ora bakalan klebu ing istilahmu ‘logis’ kae. Wis ayo ndang mulih!” wangsulanku ngguyoni karo ngajak Parto mulih.</p>
<p>“Sik, sik! Topiku mau&#8230;” Parto lingak-linguk nggleki topine.</p>
<p>“Niki Mas Parto&#8230;cemanthel wonten pang wit puspa..” semaure Dikun karo ngranggeh-ngranggeh topi ing pang wit puspa kang mau kanggo sendheyan Parto.</p>
<p>“Lho&#8230;mau tak canthelke ing&#8230;.”</p>
<p>“Wis, ayo mulih. Tambah ora logis sliramu mengko&#8230;”</p>
<p>Wiwit kedadeyan iku, Parto wis ora kerep guneman nganggo istilah logis maneh. Awit wis nemahi dhewe kedadeyan kang ora logis. Kepilut karo siluman celeng. Kepilut Dewi Srenggi.****</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/06/18/kepilut-dewi-srenggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>P r e n j a k</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/05/14/p-r-e-n-j-a-k/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/05/14/p-r-e-n-j-a-k/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 06:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2007</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Narwan Sastra Kelana MATAHARI telah memancarkan cahayanya di atas Gunung Merapi. Dwijo masih asyik dengan tiga burung prenjaknya. Prenjak-prenjak itu baru didapatnya dari seorang petani kemarin siang di pasar desa dengan harga yang dianggapnya murah. Dia berharap akan mendapat keuntungan besar bila prenjak-prenjak itu dijual lagi ke Sasana Kukila, pasar burung di lembah Tidar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Narwan Sastra Kelana</p>
<p>MATAHARI telah memancarkan cahayanya di atas Gunung Merapi. Dwijo masih asyik dengan tiga burung prenjaknya. Prenjak-prenjak itu baru didapatnya dari seorang petani kemarin siang di pasar desa dengan harga yang dianggapnya murah. Dia berharap akan mendapat keuntungan besar bila prenjak-prenjak itu dijual lagi ke Sasana Kukila, pasar burung di lembah Tidar. </p>
<p>Dwijo kini memang menekuni pekerjaan sambilan sebagai blantik burung ocehan. Membeli burung dari satu orang kemudian menjual lagi ke orang lain. Atau dari pasar satu ke pasar yang lain. Pekerjaan pokok Dwijo adalah sebagai guru SD. Tadinya memang ia nyambi menanam lombok dan tomat. Namun setelah mendengar berita bahwa demo guru-guru beberapa waktu yang lalu, yang menuntut peningkatan kesejahteraan tidak membuahkan hasil, ditambah lagi dengan panen lombok dan tomatnya gagal, Dwijo banting stir nyambi sebagai blantik burung ocehan. </p>
<p>”Pak… sudah siang, nanti terlambat lagi,” peringatan dari suara yang tak asing lagi bagi Dwijo mengusik keasyikannya. </p>
<p>”Ya, ya sebentar!” sahut Dwijo. </p>
<p>”Nanti ditegur kepala sekolah lagi karena terlambat.” </p>
<p>Dwijo segera memberesi makanan burung. Setelah menempatkan prenjak-prenjaknya di longkang segera ia menuju meja makan untuk sarapan. </p>
<p>Sepeda motor Dwijo melaju membawanya ke tempat kerja. Sebuah SD yang jauh dari keramaian kota. Di perjalanan Dwijo bertemu dengan teman seprofesinya di pasar burung. </p>
<p>”Hei, Pak Dwijo! Sampeyan punya dagangan apa?” tanya Kodir temannya itu. </p>
<p>”Prenjak!” jawab Dwijo singkat. </p>
<p>”Bagus nggak?” </p>
<p>”Sip. Lincah dan cerewet!” jawab Dwijo sembari mengacungkan jempol. </p>
<p>”Buat saya saja, Pak.” </p>
<p>”Boleh. Kapan kau ke rumahku?” </p>
<p>”Nanti siang sepulang dari pasar.” </p>
<p>”Oke, aku tunggu.” </p>
<p>Hati Dwijo gembira. Angannya segera melayang pada lembaran seratus ribuan yang bakal menjadi keuntungannya.<br />
*** </p>
<p>Sepulang mengajar, Dwijo kembali asyik dengan prenjak-prenjaknya. Masih terbayang lembaran seratus ribuan di kelopak matanya. Terdengar suara motor berhenti di halaman rumah. Dwijo segera menggantung prenjak-prenjaknya di longkang. Bergegas dia ke halaman rumah. </p>
<p>”Mana Pak, prenjaknya ” tanya Kodir. </p>
<p>”Di longkang. Ayo masuk dan lihat sendiri,” kata Dwijo mengajak. </p>
<p>Seperti dikomando, prenjak-prenjak Dwijo ngoceh riuh dan nyaring. Dwijo tersenyum bangga. Ocehan prenjak-prenjaknya seakan tahu isi hati Dwijo. Mereka ngoceh seperti mengeja lembaran seratus ribuan. </p>
<p>”Minta berapa, Pak?” </p>
<p>”Seekor lima puluh ribu. Jadi bila kau ambil semua, seratus lima puluh ribu,” kata Dwijo menawarkan. </p>
<p>”Mahal, Pak.” </p>
<p>”Lho, kamu dengar sendiri, Dir. Cerewet dan nyaring begitu kok kamu minta murah…,” bela Dwijo sambil tersenyum. </p>
<p>”Bagaimana kalau tujuh puluh lima, Pak ” </p>
<p>”Belum boleh, Dir. Kalau kamu nggak mau, besok Pahing aku bawa sendiri ke pasar. Bagaimana, Dir?” </p>
<p>”Tidak berani, Pak.” </p>
<p>Padahal sebenarnya, bila Dwijo menjualnya tujuh puluh lima ribu pun sudah untung dua puluh lima ribu rupiah. Tapi Dwijo tak memberikannya kepada Kodir. Dia yakin prenjak-prenjak itu akan laku mahal besok Pahing. Pas pasaran di pasar burung Sasana Kukila di lembah Tidar itu. </p>
<p>”Coba nanti sore, Pak. Aku pikir-pikir dulu.” </p>
<p>”Baiklah Dir, aku tunggu nanti sore.” </p>
<p>Kodir biasa memanggil Dwijo dengan sebutan Pak Dwijo. Kodir menghormati betul, seperti juga teman-teman yang lain di pasar burung. Mereka tahu kalau Dwijo adalah seorang guru.<br />
*** </p>
<p>”Kenapa tidak sampeyan berikan saja, Pak?” tanya istri Dwijo sore harinya. </p>
<p>”Rugi, Bu. Prenjak itu bagus, aku yakin di pasar bisa laku lima puluh ribu per ekornya,” sanggah Dwijo. </p>
<p>”Kapan sampeyan akan membawanya ke pasar? Menunggu Minggu Pahing?” </p>
<p>”Tidak, Bu. Besok Selasa Pahing.” </p>
<p>”Mbolos lagi?” </p>
<p>”Ya, tak apa-apa, Bu. Kan nggak ada salahnya nututi rejeki?” </p>
<p>”Betul, Pak. Tapi kalau sering mbolos mengajar, apa kata teman-teman sampeyan di sekolah? Apa sampeyan tidak malu sering ditegur kepala sekolah?” </p>
<p>”Apa kamu tidak lihat, Bu ? Sepeda motor kita itu bannya sudah gundul. Aku harus segera menggantinya. Kalau sampai mbledos, wah malah bisa libur mengajar nanti ….” Bela Dwijo memberi alasan. </p>
<p>”Ah, terserah sampeyan saja, Pak. Sudah, aku berangkat kumpulan PKK dulu,” kata istrinya pamitan dengan muka cemberut. </p>
<p>Dwijo menggeleng-gelengkan kepalanya manakala istrinya melangkah meninggalkan pintu rumahnya. Segera Dwijo menghampiri prenjak-prenjaknya yang masih saja cerewet di longkang. Dengan hati berbunga-bunga diturunkannya sangkar-sangkar prenjaknya ke tanah. Belum sempat memberi ulat pada prenjaknya, terdengar suara sepeda motor berhenti di halaman rumahnya. Bergegas Dwijo  berlari ke halaman, tangannya masih memegang ulat Hongkong untuk prenjaknya. </p>
<p>Ternyata bukan Kodir yang datang, melainkan Pak Kadus dengan undangan di tangannya. </p>
<p>”Pak Dwijo diminta hadir, karena penting.” </p>
<p>”Soal apa, Pak?” </p>
<p>”Rencana rehab balai desa.” </p>
<p>”Banyak yang diundang?” </p>
<p>”Banyak juga. Oh, ya sulingannya sudah laku?” </p>
<p>”Sudah, Pak. Sekarang ada prenjak, mau Pak?” </p>
<p>”Ah, lain kali saja. Saya permisi dulu Pak Dwijo,” kata Pak Kadus pamit. </p>
<p>Setelah Pak Kadus meninggalkan halaman rumah, bergegas Dwijo kembali ke longkang lagi. Perasaannya was-was, karena prenjak-prenjaknya berhenti ngoceh. Lama juga ia meninggalkan longkang. </p>
<p>Betapa kagetnya Dwijo, ketika dilihatnya sangkar prenjak-prenjaknya jungkir balik dan pintunya terbuka semua. Kosong melompong. Prenjak-prenjak itu telah raib dari sangkarnya yang terbuat dari bambu itu. Bingung sekali Dwijo tiba-tiba. Dia memutar-mutar keliling longkang. Matanya mengedar ke atas, ke bawah, dan ….. </p>
<p>”Celaka!” teriaknya dalam hati. </p>
<p>Didapatinya bulu-bulu prenjak yang bercampur darah, berserakan di sudut longkang. </p>
<p>”Kucing sial! Awas kau!” umpat Dwijo mengancam kucing yang entah milik siapa dan entah lari ke mana. </p>
<p>Pupus sudah harapan Dwijo menerima lembaran seratus ribuan. Dwijo lemas duduk tertunduk. Di matanya kini tak lagi terbayang lembaran seratus ribuan, namun terbayang roda sepeda motornya yang gundul dan melindas batu jalanan. Dor!! *(NSK )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/05/14/p-r-e-n-j-a-k/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAWITRI</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/05/14/sawitri/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/05/14/sawitri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 06:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=2004</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Narwan Sastra Kelana SAWITRI duduk di teras rumah bambunya sambil mengelus-elus perutnya yang telah besar. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum. Pagi itu ia tampak membayangkan sesuatu. Rumah sawitri menghadap arah utara. Menghadap deretan pegunungan Menoreh yang panjang membiru. Dipandangnya puncak-puncak Menoreh sambil berharap suaminya yang hingga kini belum juga pulang mengikuti pentas keliling ketoprak tobongnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Narwan Sastra Kelana </p>
<p>SAWITRI duduk di teras rumah bambunya sambil mengelus-elus perutnya yang telah besar. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum. Pagi itu ia  tampak membayangkan sesuatu. Rumah sawitri menghadap arah utara. Menghadap deretan pegunungan Menoreh yang panjang membiru. Dipandangnya puncak-puncak Menoreh sambil berharap suaminya yang hingga kini belum juga pulang mengikuti pentas keliling ketoprak tobongnya. </p>
<p>Saat itu –Sawitri ingat betul- di desanya hadir rombongan ketoprak tobong yang menyajikan tontonan rakyat itu berlangsung hampir satu setengah bulan. Semula Sawitri tidak begitu tertarik. Namun Minul selalu merayunya agar pergi nonton. Dengan berat hati Sawitri menemani sahabat karibnya menikmati pentas ketoprak tobong, hampir setiap malam. </p>
<p>Sajian yang begitu berkesan bagi Sawitri adalah gelaran lakon “Rara Mendut dan Pranacitra”. Kidung kasmaran yang ditembangkan Pranacitra begitu mengusik telinga dan hatinya. Terlebih lagi, yang memerankan Pranacitra adalah seorang lelaki tampan yang menjadi rol di tobong itu. Pranacitra begitu memikat hatinya. Ingin ia menjadi Rara Mendut dan digandrungnya. Sejak terpikat oleh sang Pranacitra, Sawitri jadi ketagihan nonton. Kini gantian Sawitri yang merengek-rengek kepada Minul untuk tidak melewatkan pentas ketoprak tobong itu, setiap malamnya.<br />
¬¬¬<br />
Akhirnya, Sawitri berhasil pacaran dengan sang Pranacitra yang bernama Martoyo. Kedua insan itu sepakat untuk menikah. Rencana pernikahan Sawitri dengan Martoyo semula ditolak oleh keluarganya. Terutama ayah Sawitri. Mereka menganggap bahwa kehidupan tobong tidak cocok dengan kehidupan mereka. Apalagi nantinya Sawitri harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti suaminya.<br />
Sawitri berusaha meyakinkan ayah dan keluarganya. Ia katakan bahwa setelah pernikahan nanti, Sawitri tetap akan tinggal bersama orangtuanya. Biar suaminya yang berkeliling mengikuti rombongannya. Juga meyakinkan keluarganya, bahwa tidak semua laki-laki dalam tobong suka beristri lebih dari satu. </p>
<p>“ Apakah kamu tahu kehidupan dalam tobong, Witri ?” tanya ayahnya. </p>
<p>“ Saya tahu, Pak. Kang Martoyo sudah banyak cerita tentang itu.” </p>
<p>“ Ah, itu kan cerita Martoyo saja. Agar kamu mau diperistri. Apa kamu tahu, jangan-jangan Martoyo itu sudah beristri, punya anak, dan mungkin istrinya tidak hanya satu ….!” </p>
<p>“ Mengapa Bapak berpikiran seperti itu ?” </p>
<p>“ Iya ! Karena sedikit-banyak Bapak tahu kehidupan di dalam tobong. Bapakmu ini dulu keluar dari tobong karena tidak tahan dengan kehidupan yang bertolak belakang dengan hati Bapak. Bapak tidak ingin kamu terseret dalam kesengsaraan batin, hanya karena sebagai istri seorang pemain ketoprak tobong. Sekali lagi Bapak tidak menghendaki itu, Witri !” </p>
<p>Sawitri masih bersikukuh. Berkali-kali alasan ia utarakan untuk meyakinkan ayahnya. Entah bagaimana, Sawitri yang lugu itu kini berubah lebih berani berkata-kata, lebih dari biasanya. Sawitri lebih dewasa, layaknya gadis-gadis perpendidikan tinggi yang pernah KKN di desanya. </p>
<p>Akhirnya pernikahan itu terjadi juga. Sejak itu, Sawitri harus menanggung resiko yang dipilihnya. Ia sering ditinggal suaminya yang berpindah-pindah tempat mengikuti rombongannya. Martoyo pulang kadang seminggu sekali, dua minggu sekali, bahkan sering sebulan sekali. Sementara buah cinta mereka semakin tumbuh di perut Sawitri. Semakin hari semakin membesar.<br />
¬¬¬<br />
Martoyo mulai mengikuti rombongannya lagi setelah sepuluh hari menunggui Sawitri yang telah melahirkan. Mereka dikaruniai seorang bayi laki-laki yang diberi nama Misran. Bayi mungil itu sangat membanggakan Sawitri, meski ibunya justru bertambah pekerjaan. Karena Martoyo tidak di rumah, praktis ibu si Sawitri yang mencuci popok, menjerangkan air, dan membopong cucunya manakala Sawitri bepergian. </p>
<p>Sebulan, dua bulan Martoyo tak kunjung pulang. Sawitri jadi cemas. Jangan-jangan apa yang dikatakan ayahnya benar. Martoyo beristri lagi !<br />
Kecemasan Sawitri terobati ketika suatu pagi datang dua perempuan bersama anak-anak mereka. Kedua perempuan itu membawa kabar bahwa Martoyo sehat-sehat saja. Masih aktif di tobong. Masih pula sebagai rol dalam setiap pementasan. Mendengar itu, hatinya agak tenang. </p>
<p>Memang kedua perempuan itu telah dikenalnya. Mereka juga pemain ketoprak satu tobong dengan suaminya. Sawitri mengenal mereka sejak ketoprak itu pentas di desanya. Mereka sering menjadi pasangan Martoyo di atas  panggung.<br />
¬¬¬<br />
Ketiga perempuan bercengkerama hingga matahari di atas kepala. Akrab sekali mereka. Sementara dua anak laki-laki mereka bermain-main di belakang rumah bersama ayah Sawitri. </p>
<p>Seketika mereka berhenti bercengkerama saat seorang laki-laki berada di ambang pintu. Tak lain, dia adalah Martoyo. Suami Sawitri yang dirindukannya. Segera Sawitri memapasnya dengan mesra. Ingin dia memeluk suaminya andai saja tak ada dua perempuan di depannya. </p>
<p>“ Bagaimana anak kita, Witri ?” </p>
<p>“ Sehat-sehat saja, Kang ! Dia kangen sekali sama bapaknya…” </p>
<p>“ Dia apa ibunya ?” sela kedua perempuan bersamaan. Sawitri yang diledek hanya tersenyum. </p>
<p>“ Kalian jam berapa sampai di sini ?” tanya Martoyo kepada mereka. </p>
<p>“ Masih pagi …” </p>
<p>“ Anak-anak ?” </p>
<p>“ Bermain di belakang bersama Kakek .” </p>
<p>Martoyo manggut-manggut, kemudian duduk di bangku panjang. Obrolan pun berlanjut, sementara Sawitri membuatkan minuman untuk suaminya. Martoyo tampak gelisah. Entah apa yang membuatnya demikian. Mungkin ia terlalu capek. </p>
<p>“ Tadinya saya cemas Kang Martoyo tidak pulang-pulang. Jangan-jangan Kakang punya simpanan yang lain …..” kata Sawitri sembari menyodorkan minuman. Martoyo hanya tersenyum simpul mendengarnya. </p>
<p>“ Tapi sekarang saya percaya kalau Kakang tidak beristri lagi atau punya simpanan wanita lain. Tadi Yu Ginah dan Yu Sarni sudah banyak cerita tentang Kakang di tobong…” </p>
<p>“ Apa yang diceritakan ?” </p>
<p>“ Ya, macam-macam !” </p>
<p>“ Tentang kejelekanku ?” </p>
<p>“ Tentu tidak, Kang !” </p>
<p>“ Jadi kamu percaya kan, tidak semua pemain ketoprak tobong itu jelek ? Meskipun ada di antara mereka yang beristri lebih dari satu. Tapi toh mereka bertanggungjawab…” </p>
<p>“ Jadi Kang Martoyo ingin beristri lagi ?” </p>
<p>“ Tidak, Witri !” </p>
<p>Terdengar suara anak-anak  berlarian dari belakang rumah, memutar dan masuk menuju mereka. </p>
<p>“ Bapak datang…! Bapak datang…..!” </p>
<p>Kedua anak laki-laki itu berhamburan menuju tempat duduk Martoyo dan terus merangsek di pelukannya. Yu Ginah dan Yu Sarni berusaha mencegahnya, tapi kedua anak itu semakin merangsek ke pelukan Martoyo. Sawitri yang duduk di samping Martoyo hanya melongo melihat pemandangan di depannya. (NSK) </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/05/14/sawitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog Ular dan Ubi</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/04/22/dialog-ular-dan-ubi/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/04/22/dialog-ular-dan-ubi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 22:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1940</guid>
		<description><![CDATA[(Drama Renungan Satu Babak ditulis oleh : Riyadi) Dua makhluk terjebak di ladang harapan. Berdebat antara pikiran dan perasaan. Memporakporandakan semak belukar dan perdu-perdu yang tengah merindu laju. Ular : (berhenti di depan Ubi sambil tetap berlenggang lenggok sejak lehar hingga kepala, walu tubuh diam ekor tetap berkeliaran) “Kwak… kwak … kwak … akulah raja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Drama Renungan Satu Babak ditulis oleh : Riyadi)</p>
<p>Dua makhluk terjebak di ladang harapan. Berdebat antara pikiran dan perasaan. Memporakporandakan semak belukar dan perdu-perdu yang tengah merindu laju.</p>
<p>Ular  : (berhenti  di depan Ubi sambil tetap berlenggang lenggok sejak lehar hingga kepala, walu tubuh diam ekor tetap berkeliaran) “Kwak… kwak … kwak … akulah raja penari sepanjang jalan”<br />
Ubi   : (sembunyi di dalam semak ilalang dengan tubuh terkapar) “Berjalan saja harus meliuk kelok, huh … dasar pikiranmu memang bengkok!”<br />
Ular  : “Kwak … kwak … kwak… Bah! Tak tahu diuntung kau ini. Diri semata sepi, berani-beraninya kau colek badanku yang molek?!”<br />
Ubi   : “Xixixixixi…. Molek apaan? Udah jelek mudah mencaci maki karena iri….”<br />
Ular  : “Kwak … kwak … kwak… Cih!  Iri…? Apa yang dapat kuirikan dari persona jelata macam kamu? Hah?!”<br />
Ubi   : “Aku ini disuka manusia, sedang Kau musuhnya yang tak berguna! … Aku bangga mengabdi pada lidah manusia bukan pada lidah jelekmu itu!”<br />
Ular  : ““Kwak … kwak … kwak… Bah! Kurangajar kau berkata. Tak tahukah kau kalau lidahku ini berbisa tinggi. Sekali saja ku muak denganmu kan kusembur kau pasti hancur lebur badan tak terkubur”<br />
Ubi   : “Xixixixixi … Sombong amat kau ular jelek ! Tidakkah kau tahu juga tubuhku ini berkalang garam. Lakukanlah jika kau berani!”</p>
<p>Ular  : (Mendengar celoteh ubi, berhenti menari, berhenti memaki. Dalam pikir mempertimbangkan kejadian ngeri kalau benar kulit ubi berkalang garam. Seumur hidupnya ia takut bersentuh dengan garam. Entah kenapa. Barangkali karena memang kodratnya. Pikiran kerdilnya tak menjangkau lagi untuk berkata-kata. Beberapa saat lamanya ia tidak bergeming menatap ubi dengan tatapan yang jauh bertubi-tubi. Pikiran tercenung merenungi tantangan ubi. Diri terkurung lamunannya sendiri dalam dilema antara rasa takut dan berani.)</p>
<p>Ubi   : (Terkesima kata sendiri. Betapa sesal dengan kebohongan yang terlanjur ia ucapkan. Demi melihat ular berhenti memaki, perasaan bersalah menjalar di sekujur tubuhnya. Seumur hidup baru hari ini dia berbohong. Ia sangat yakin bahwa kulit tubuhnya tiada bergaram, melainkan jika dimasak manusia.  Betapa terkejutnya kala kebohongannya berpengaruh besar pada sesama mkhluk, terutama ular. Nuraninya tak menjangkau lagi untuk berkata. Beberapa lamanya ia tidak bergeming menatap ular dengan tatapan yang jauh bertubi-tubi. Pikiran tercenung merenungi nasib pecundang ular. Diri pun terkurung lamunannya sendiri dalam dilema antara kejujuran dan kebohongan.)</p>
<p>Ular  : “….”<br />
Ubi   : “….”</p>
<p>Kedua makhluk itu taklagi berkata-kata. Pikiran dan perasaannya menjadi beku tiba-tiba. Semakin beku hingga tertutup semak belukar dan perdu-perdu yang terus tumbuh melaju. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/04/22/dialog-ular-dan-ubi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEBUAH SENJA DI LAHAN SAWIT</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/04/18/sebuah-senja-di-lahan-sawit/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/04/18/sebuah-senja-di-lahan-sawit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 09:12:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1837</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Bambang Sukmadji Barangkali saja manusia memang harus mengenal dirinya sendiri, semata untuk menghilangkan sifat ego yang biasa didera oleh insan di dunia ini. Lantaran ini pula Pak Guru Sofyan harus mengerti akan kesendiriannya, tanpa ada lagi Sugiarti yang dia tambatkan pada tepi hatinya, ketika mereka berdua menjadi guru SD Warga Baru di Bumi Transmigrasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Bambang Sukmadji</p>
<p>Barangkali saja manusia memang harus mengenal dirinya sendiri, semata untuk menghilangkan sifat ego yang biasa didera oleh insan di dunia ini. Lantaran ini pula Pak Guru Sofyan harus mengerti akan kesendiriannya, tanpa ada lagi Sugiarti yang dia tambatkan pada tepi hatinya, ketika mereka berdua menjadi guru SD Warga Baru di Bumi Transmigrasi Kalsel. Setelah lima tahun mereka menjadi anak bangsa yang merelakan hidupnya, demi untuk mencerdaskan anak anak petani sawit yang datang dari Jawa. Sesuai tekad mereka berdua ketika berniat mengukir makna pada sebuah kehidupan.</p>
<p>      Sementara Sugiarti kini lebih memilih untuk menambatkan hatinya pada Dimas Hardiman yang sukses di areal transmigrasi, sebagai petani sawit. Keteguhan hatinya sebagai guru pejuang mampu Sugiarti hadapi, meski beribu duka lara telah mengakrabi hingga hampir separo hidupnya. Namun menambatkan cinta Sofyan yang senasib sebagai guru dari Jawa begitu rapuhnya. Mereka berdua pun telah cukup sudah menyematkan sebuah pengabdian yang besar kepada petani sawit  dengan rela menjadi pendidik, tanpa memperdulikan makna hidup mereka sendiri. Namun apalah artinya mengukur kedalaman sebuah hati, ketika Sugiarti begitu saja memalingi Sofyan dan membuka kedua tanganya pada Dimas yang piawai menebar pesona.</p>
<p>      “Itulah kenyataannya, Mas. Memang aku harus memikirkan biaya adiku yang masih ada di Jawa” tutur Sugiarti di awal senja ketika mereka berdua berada di ruang tamu rumah kos Sugiarti.</p>
<p>      “Yah kalau memang itu maumu, kita berdua memang telah menjadi figur yang sarat dengan perjuangan semata-mata untuk lebih memaknai hidup ini, dan nyatanya kita berduapun berhasil. Meski harus hidup pas-pasan. Tapi ya itu memang hak kamu”.</p>
<p>      “Aku harap engkau mengerti, Mas “</p>
<p>      “Nggak jadi masalah, Toh aku sudah pernah katakan ketika kita berdua berangkat dari Jawa, dengan selembar SK penempatan dari pemerintah untuk mengabdi di bumi transmigrasi ini. Bahwa kita harus siap menerima tantangan apa saja”</p>
<p>      “Tapi bagi kamu, Mas. Masalah ini kan lain. Aku merasa bersalah harus mengambil langkah ini. Namun aku juga kasihan dengan ortuku yang hanya semata menghidupi adik-adiku dari hasil panenan. Aku tak berdaya, Mas”</p>
<p>      “Akupun mengerti,  Giarti. Hanya aku berharap kamu harus berbahagia dengan Hardiman. Kamu jangan menyia-nyiakan separo umurmu hanya untuk masa depan anak anak didik kita. Kamu juga manusia yang berhak mendapatkan bahagia”</p>
<p>      “Betul, Mas !, apa hanya di bibir saja ?”</p>
<p>      “Pernahkah aku bohong padamu ?”</p>
<p>      “Nggak, pernah Mas !”</p>
<p>      Giarti tidak mampu lagi menjawab ucapan Sofyan yang tiga tahun lebih tua darinya. Dari sisi hatinya, diapun masih mengagumi kebesaran hati Sofyan yang entah hanya pandai menyimpan perasaan ataukah memang datang dari lubuk hatinya saat menerima kenyataan ini. Sugiartipun telah tahu bahwa tindakannya itu jelas melukai hati kekasihnya itu, yang sejak lima tahun yang lalu saling menambatkan janji untuk berbahagia di tengah kehidupan petani sawit.Bumi trabsmigrasi yang berhias temaram senja menjadi saksi perpisahan dua hati yang sama sama menyadari kata hati mereka masing-masing. Sebuah perpisahanpun Nampak indah bila insan yang saling melepas ikatan dan janji saling mengerti.</p>
<p>      Memang merekapun masih berharap bahwa senja itu adalah bukan senja terakhir, namun pada kenyataannya senja itu memang banyak digayuti awan hitam, yang menyimpan badai dan mungkin petir yang ganas menerjang siapa saja yang berhadapan. Dari jauh kelihatan pada kaki langit ufuk barat semburat warna merahpun sudah mulai kelihatan, layaknya sebuah kanvas raksasa yang digunakan untuk mengukir keindahan alam.</p>
<p>      Bagi Sofyan liku-liku hidup adalah ibarat bayangan tubuhnya yang selalu saja melekati erat tubuhnya yang terbawa hasrat hati, maka senja itupun ia biarkan berlalu begitu saja, meski dia juga manusia biasa yang terlanjur menorehkan harapan untuk menyandarkan sebelah hatinya pada Sugiarti. Betapa sesak dadanya bila mengingat senja itu. Namun diapun merasa bahwa dunia yang selebar genggamanya itupun harus dia tapaki dengan realita.</p>
<p>      Sang waktu pula yang membawanya menukilkan hidup yang lebih realitas. Apalagi bagi dia yang sudah terlanjur hidup di pedalaman Kalimantan. Diapun dengan sigap membunuh bayangan Sugiarti yang terlanjur berkarat di hatinya. Yang jelas tantangna hidup ke depan jauh lebih menyita kehidupannya ketimbang memburu  bayangan Sugiarti. Meski setiap datang senja diapun selalu teringat senja terakhir di tengah lahan sawit. Hingga pada suatu senja dia pun kembali teringat Sugiarti,  meski saat itu usianya hampir mencapai 50 tahun, saat itu pula dia mendambakan untuk pulang ke Jawa bersama Herningsih, pendamping hidupnya yang menggantikan kehadiran Sugiarti untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama tiga putranya di Kec. Prembun Kab. Kebumen.</p>
<p>      Herningsihpun dengan senyum tulus dan ceria menerima rencana suami tercintanya, lagian diapun mengharap anak-anaknya kuliah di Jawa yang lebih baik mutunya. Akhirnya pada senja kali ini, kebahagiaan mereka berdua dan putra-putranya itu telah semakin merebak menyingkirkan kenangan bersama Sugiarti. Namun sejenak canda riang mereka terhenti, ketika mereka melihat kedatangan Hardiman, yang dari arah kejauhan berjalan menghampiri mereka.</p>
<p>      “Silakan masuk Bang Hardiman, mari ! “. Hati Sofyan menjadi penasaran dan mencob menerka, pasti sesuatu terjadi antara Hardiman dan Sugiarti.</p>
<p>      “Trimakasih, Bang Sofyan. Maaf manganggu  acara kalian semua”</p>
<p>      “Oh sama sekali tidak, kami hanya sedang ngobrol nggak karuan. Tumben Bang Hardiman datang kesini, sepertinya ada perlu penting, ya Bang ?”</p>
<p>      “Betul Bang, ini semua tentang adikmu Sugiarti”. Mendengar nama itu disebut berdesir hati Sofyan. Herningsihpun menjadi tambah penasaran tentang apa yang terjadi dengan Sugiarti.</p>
<p>      “Kenapa dengan Kak Sugiarti, Bang” Tanya Herningsih, lantaran dia sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar sebenarnya tentang mantan kekasih suaminya itu.</p>
<p>      “Ah aku sudah tidak mampu berbuat apa Bang. Semua harta miliku telah aku jual, demi kesembuhan Sugiarti”</p>
<p>      “Sugiarti, sakit apa, Bang ?”</p>
<p>      “Dokter menemukan adanya kanker pada kedua ginjalnya, Bang “</p>
<p>      “Lantas, menurut dokter bagaimana cara penyembuahanya ?”</p>
<p>      “Itulah, Bang yang membuat saya menjadi setengah gila. Hidup Sugiarti tidak mungkin mampu ditolong lagi, kecuali ada ada donator ginjal yang bersedia diambil sebelah. Hingga saat ini aku dan dokternya Sugiarti belum mampu menemukan, kalau toh aku berhasil menemukan belum tentu organ ginjalnya mampu diterima tubuhnya Giarti”</p>
<p>      Terlihat menegang wajah Sofyan mendengar berita tentang Sugiarti, meski Sugiarti pernah menyayat hatinya, namun bagaimanapun juga dia adalah teman lama seperjuangan kala mereka berdua mulai meninggalkan Jawa. Sementara Herningsih tidak henti-hentinya mengamati ulah suaminya, lantaran dalam hatinya telah bersemayam perasaan cemburu.</p>
<p>      “Mam, gimana bila Bapak mencoba untuk menjadi donator organ untuk adikmu ?”</p>
<p>      “Silakan saja Papi, tapi apa kesehatan papi mendukung ?. Ingat papi, akhir akhir ini sering masuk angin”</p>
<p>      “Gimana Bang, aku sebenarnya pengin menyumbang ginjalku sebelah, tapi umur dan kesehatanku kayanya sudah tidak memungkinkan”</p>
<p>      “Ah saya sendiri tidak tahu, Bang Sofyan ?. Tapi sebaiknya Abang ikut aku ke rumah sakit, siapa tahu dokter mengijinkan”</p>
<p>      Herningsih tertunduk lesu, dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan tak menentu. Di salah satu sisi hatinya dia menahan rasa cemburu, sisi lainnya dia juga mengkhatirkan kesehatan suaminya yang sudah mulai sakit=sakitan. Namun di belahan hati lainyapun dia merasakan iba terhadap nasib Sugiarti, yang berprofesi guru SD seperti suaminya itu.</p>
<p>      Namun apapun alasanya , Herningsih hanya menilai dari sorot mata suaminya yang terus memandanginya dan menyiratkan kemauan yang hanya semata-mata menolong nasib temanya  dan juga menyisakan sorot mata yang meminta ijin darinya. Maka Herningsihpun hanya bisa menganggukan kepala pertanda dia menyutujui niatan mulia dari suaminya. </p>
<p>      Di kamar ICU itu Sugiarti masih terbujur kaku dan seluruh tubuhnya mulai mendingin, akibat racun racun dari seluruh tubuhnya mencemari darahnya. Tanpa seberkas senyumpun Sofyan dan Herningsih berdiri di sisi pembaringan Sugiarti, yang sudah seperti mayat. Dokter Burhan yang mengawasi intensif kesehatan Sugiarti kini menggelengkan kepalanya dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Dimas Hardiman lantaran tidak mampu berbuat banyak.</p>
<p>      Hardiman kini hanya mampu meneteskan airmata kesedihan, sedangkan bagi Sofyan kali ini dia merasakan hadirnya senja yang kedua di Bumi Transmigrasi lahan sawit. Dia segera merapatkan badanya kea rah Herningsih, sembari memegang kuat tangan istrinya, pertanda dia tidak mau ada perpisahan diantara mereka, kecuali bila Tuhan Yang Kuasa menghendaki. ***</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Ir. Bambang Sukmadji, Guru MA Futuhiyyah 1. Mranggen, Demak JATENG </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/04/18/sebuah-senja-di-lahan-sawit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STASIUN SUNYI</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/04/14/stasiun-sunyi/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/04/14/stasiun-sunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 12:07:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1834</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Marsus Ala Utsman* Akhirnya aku sampai di stasiun Lempuyangan. Dengan raut wajah malu-malu seperti pengantin yang baru keluar dari kamarnya. Dari gerbong bibir pintu kereta perlahan aku turun. Saat cahaya yang melesat sudah semakin keruh. Dan angin sedikit berdesau membawa air dingin meraba tubuhku. Dinginpun tak mampu kutepis yang senantiasa membelit belit mengajakku ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Marsus Ala Utsman*</p>
<p>Akhirnya aku sampai di stasiun Lempuyangan. Dengan raut wajah malu-malu seperti pengantin yang baru keluar dari kamarnya. Dari gerbong bibir pintu kereta perlahan aku turun. Saat cahaya yang melesat sudah semakin keruh. Dan angin sedikit berdesau membawa air dingin meraba tubuhku. Dinginpun tak mampu kutepis yang senantiasa membelit belit mengajakku ke sebuah warung untuk sekedar mencicipi kopi hangat dan sebatang rokok filter untuk mengurangi rasa dingin yang semakin dahsyat.</p>
<p>Berjam-jam kulalui perjalanan panjang ini. Dari stasiun Purwokerto menuju stasiun Lempuyangan. Aku sendiri tanpa seorang pun  yang menemani, atau sekedar menyapaku saat aku duduk di kursi dalam gerbong kereta tersebut. Maskipun di samping kananku—dua orang perempuan, yang salah satunya menggendong anaknya yang sedang tidur lelap. Dan yang satunya lagi seorang gadis se-umuran denganku. Tapi mereka tidak sekedar menyapaku atau sekedar bertanya, mau pergi ke mana? Aku pun juga begitu, karena aku tak tahu apa yang harus aku ungkap kepada mereka.</p>
<p>Jam sembilan malam aku meluncur dari stasiun Purwokerto. Setelah beberapa lama aku menunggu keberangkatan kereta yang hendak meluncur itu. Dari stasiun itulah aku bersama dua perempuan yang tak kukenal. Di perjalanan kita sama-sama diam. Tak dapat mengurai sebuah cerita apa pun yang bisa membuat kita saling kenal. Sebelum akhirnya kereta itu sampai di stasiun yang aku tuju. Ya, stasiun Lempuyangan yang cukup mengesankan dalam sebuah perjalan.</p>
<p>Dia turun perlahan dari pintu kereta, dengan menggendong seorang anak yang masih tertidur lelap. Sebentar dia beranjak pelan menuju tempat duduk yang sedang aku duduki itu. Sesekali gadis yang seumuran denganku perlahan berjalan menuju seseorang yang mungkin dia memang menunggunya sejak tadi. Kemudian gadis itu lenyap dari pandanganku bersama lelaki yang entah siapa aku tidak mengenalnya. Wajahnya gagah tampan. Rambutnya lurus tertata rapi.</p>
<p>Sambil memperbaiki buayan anaknya. Perempuan itu tersenyum semba. Senyumnya getir dipaksakan. Lalu duduk di sampingku. Aku memandangnya lekat-lekat, ada yang merayap tiba-tiba di dadaku. Aku mencoba untuk membalas senyumnya yang gugup. Tapi entah kenapa mataku seakan basah. Tidak! Aku tidak ingin membiarkan kedua mataku basah di depan perempuan ini. Aku masih  ingin mengenal lebih dalam lagi perihal perempuan ini. Aku merasakan sesuatu yang begitu kuat merasuk batinku paling dalam. Sesuatu yang tak pernah muncul sebelumnya. Oh, kasian sekali perempuani ini&#8230;, batinku.</p>
<p>Kembali kita membisu. Tak ada kalimat baru yang dapat kuungkap untuk memulai perbincangan. Sama halnya ketika aku sedang duduk di dalam gerbong kereta tadi. Aku merasakan denyut yang gugup dalam hati yang tersimpan paling dalam. Begitu dengan degup jantung yang melompat-lompat kencang, aku tak paham pada suasana kali itu. Denyut hati dan jantung yang tampak sulit untuk kuterjemahkan. Aku hanya dapat menumpuk segudang tanya: kenapa setibanya perempuan itu di dekatku seolah tergugup-gugup dengan keragu-raguan yang sulit ku terjemahkan? Padahal perempuan itu masih baru saja kukenal. Ah tidak! Aku hanya beru bertemu kali ini saja.</p>
<p>Malam sudah reba. Jarum jam yang berputar telah menunjukkan dua belas tiga puluh malam. Suasana hening dan sunyi kian merambat menyelimuti bagian tubuh-tubuh terdalam. Perempuan itu tetap saja membisu. Sesekali kedipan sepasang mata sayunya sudah mulai hangat. Pelan-pelan kuperhatikan, katub matanya telah membungkam. Tertutup rapat dengan kepala tertunduk, menyandangkan seorang anak yang entah ada di mana ayah anak itu.<br />
Aku tetap saja bermain-main dengan kepulan asap rokok yang semulai tadi kuhisap. Dengan secangkir kopi hangat untuk menepis suasana dingin malam itu. Malam yang tidak seperti biasanya sering kurasa. Apakah udara di sini memang beda dengan suasana yang kurasa sejak di stasiun Purwokerto? Ah, entahlah…, aku tak perlu hiraukan itu.<br />
Malam semakin mencekam. Sepoi angin terus berdatangan menyisir rambut perempuan itu. Rambutnya yang keperakan tersingkap oleh desau angin yang semakin kencang. Raut wajahnya semakin tampak dari kejauhan. Sesekali kuperhatikan wajah perempuan itu. Seperti ada sesobek catatan. Ya, sebuah catatan silam yang pernah kusimpan. Yang sulit lekang dengan terhapusya waktu. Di sebuah stasiun yang sunyi ini, telah kujemput kembali peristiwa-peristiwa menyakitkan. Yang masih belum lama kulewati akhir-akhir ini.</p>
<p>Ya, pernah pada suatu waktu, aku tak yakin kalau sebenarnya dia adalah ayahku. Duduk dengan seorang perempuan, perpegangan tangan, mengelumitkan sebuah kata-kata, lalu berpelukan, kemudian pergi dengan memasuki gerbong kereta yang entah ke mana tujuan kereta tersebut.</p>
<p>Aku sengaja tak memberi tahu ibuku tentang kejadian yang kulihat jelas dengan mata kepalaku sendiri saat itu. Karena aku takut akan terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan antara ayah dan ibuku. Setahuku, dan juga ibuku, ketika pagi sudah muncul butiran-butiran cahanya mengumbar di ujung timur, saat itu pula ayah sudah hendak pamit berangkat ke tampat kerjanya. Yang entah di mana aku tidak tahu di kantor apa ayahku bekerjaan.</p>
<p>Tapi sekarang, di tempat ini, di stasiun yang sunyi ini, ada sesuatu yang membuat aku terus tergagap-gagap hingga merasuk ke hati paling dalam. Tentang perempuan yang pernah kutemui  bersama ayahku. Dan wajah perempuan itu seperti hadir kembali di hadapanku. Siapakah sebenarnya perempuan itu? Aku terus bertanya tampa ada ujung jawabnya. Yang ada hanya tampak raut wajah perempuan itu yang membuatku terperangkap dengan sebentuk keruh mukanya. Dia seakan menyimpan sesuatu yang tak mampu ia ungkap dari batinnya. Dia juga seperti menanggung sesuatu yang berat membebani hidupnya.</p>
<p>Pagi tak lama lagi akan menyingsing. Di sepanjang ruas rel kereta membentang lengang. Perempuan itu masih tertidur lelap, sesekali sayup-sayup cicit burung, kokok ayam, gemericik daun-daun di terpa angin, sulur cahaya fajar bermekaran membentuk butiran-butiran, menghambur dari rerimbun daun dan rerumputan. Lalu perempuan itu tergagap ketika sepasang matanya di terpa butiran-butiran cahaya pagi itu. Sesekali suara isak tangis anaknya.<br />
Kuamati wajah perempuan itu. Tak salah lagi, dia adalah perempuan yang pernah kutemui di sebuah stasiun saat diam—bermesraan dengan ayahku. Wajahnya masih cantik, tubuhnya langsing, modis. Rambutnya terpotong rapi. Ia sedikit mengulum senyum padaku. Aku mengangguk seadanya. Hatiku gemuruh penuh tanya.</p>
<p>Isak senik anak kecil yang ia gendong masih saja mendesah. Dia merengek-rengek seperti kehausan. Setelah sebentar perempuan itu memeluknya erat-erat, dan kudengar perempuan itu berbisik lirih pada anaknya: sabar dulu, jangan menangis, sebentar lagi ayahmu akan datang menjemput kita.</p>
<p>Aku tercengang tiba-tiba saat mendengar kata-kata itu. Ingin sekali aku menghampirinya, dan akan bertanya: siapa nama ayah dari anak itu? Apakah dia juga ayahku? Atau bahkan perempuan ini juga ibuku? Ah, entahlah, aku semakin penasaran dengan perempuan ini. Terutama pada ayah dari anak yang sedang ia gendong, yang serta merta terus membuat batinku berta-tanya. Kuperhatikan lagi wajah anak itu: cantik, manis, imut, mengigatkan pada adikku yang masih belum genap berumur sepuluh tahunan.</p>
<p>Pagi itu, awan putih semakin menipis. Butiran-butiran cahaya menaburkan pernak-pernik indahnya ke seluruh penjuru. Menerpa karut marut wajah perempuan itu. Lalu dia berdiri, berjalan pelan, langkahnya tertatih-tatih menuju tempat duduk yang lebih nyaman. Sabarlah, Nak…, sebentar lagi ayahmu akan datang. Suaranya mendesah pelan membuntuti langkah kakinya yang agak gontai.</p>
<p>Sejenak terdengar deru mesin kereta dari arah berlawanan. Kereta warna kuning penjang entah seberapa panjang gerbong kereta tersebut. Setelah sebentar, perempuan itu mengulum senyum. Persis seperti senyum panjang yang pernah kutemui beberapa waktu silam. Ya, ketika aku sedang di stasiun kereta—memergoki ayahku saat bersama seorang perempuan yang entah siapa sebenarnya perempuan itu. Yang kini wajah perempuan itu hadir kembali di hadapan mataku.</p>
<p>Di sepanjang ruas gerbong kereta. Dari bibir pintu pertama, perempuan itu tergagap melempar pandang mengamati seseorang yang keluar dari berbagai pintu tersebut. Sepasang matanya menerawang. Sesekali berdiri. Melangkah pelan. Suamiku, desisnya. Sambil melongok mengedar pandang.</p>
<p>Di ujung tembok, dia duduk tertunduk. Wajahnya canggung, dia marasa kecewa dengan apa yang sedang ia harapkan. Dengan cemas dan hati terus bergolak, aku menatapnya lekat-lekat, kalau-kalau ada laki-laki yang memergokinya. Ayahmu masih belum datang, Nak. Tunggulah sebentar, dia pasti akan datang, desisnya.<br />
Ingin sekali aku menghampirinya, dan akan bertanya perihal perempuan itu. Tapi keberanianku masih terlalu tipis. Batinku menumpuk berjuta kegetiran dan kegalauan yang sulit untuk ku terjemahkan. Sementara perempuan itu masih saja duduk termangu, tak lain untuk menunggu suaminya yang sedari tadi ia tunggu.</p>
<p>Pagi semakin cerah dengan butiran cahaya yang bertambah panas. Sementara orang-orang di belataran depan pandangnya pada berlalu lalang keluar—masuk dari bibir pintu kereta. Sepasang matanya melotot—terfokus—mencari seseorang yang tak kunjung ia temukan. Kapankah ia akan datang?</p>
<p>Akhirnya, kegetiran dan kegalauan yang kini menipis, harus ku akhiri menjadi segudang keberanian yang kutuangkan menjadi kepastian. Lalu aku melangkah pelan. Melawan degup jantung yang begitu kencang. Aku menghampirinya. Hendak kutanya perihal perempuan itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki paruh baya yang terlebih dulu mendekatinya.</p>
<p>“Suamimu tidak bisa menjemputmu, dia kecelakaan,” suara laki-laki itu membuat bibirku terbungkam. Dan mengalihkan pikiranku pada dunia lain.</p>
<p>Setelah sejenak, barulah aku tersadar dari lamunanku mendengar suara handphone yang berdering kencang.</p>
<p>“Kamu ada di mana, cepat pulang, ayahmu kecelakaan,” kudengar suara ibu di sebrang telepon sana. Aku terkejut, dan entah kenapa, hatiku menjadi begitu sesak tiba-tiba.</p>
<p>Lempuyangan, Maret 2010</p>
<p>*)Marsus Ala Utsman, cerpenis dan penyair, tinggal di Jogja.<br />
HP.081935178562<br />
e-mail:marsus_nu@yahoo.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/04/14/stasiun-sunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI MARSUS ALA UTSMAN</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/03/27/puisi-marsus-ala-utsman/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/03/27/puisi-marsus-ala-utsman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 10:53:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1818</guid>
		<description><![CDATA[MALAM /1/ malam kutiduri air mengalir dari peluh sesakku mencipta cerita sedih mengenang puing-puing runtuh seperti kantuk katup mata yang tak lelap bercerita dengan nyanyian menguntit sebilah dinding-dinding suara makhluk malam mengusik membaringkan lelap terdengar indah mendesis dengan wajah kapan mengulum senyum, jauh mengurung jalan hidup kerap seperti air kian mengalir tak susut di pipi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>MALAM /1/</p>
<p>malam kutiduri air mengalir dari peluh sesakku<br />
mencipta cerita sedih mengenang puing-puing runtuh<br />
seperti kantuk katup mata yang tak lelap<br />
bercerita dengan nyanyian menguntit sebilah dinding-dinding<br />
suara makhluk malam mengusik membaringkan lelap<br />
terdengar indah mendesis dengan wajah</p>
<p>kapan mengulum senyum, jauh mengurung jalan hidup<br />
kerap seperti air kian mengalir tak susut di pipi<br />
mengiris pecahan logam dan bibir tersendat sedih<br />
berjalan dengungkan kalimat yang tak kumengerti<br />
tak pernah patah dari sisa airmata pedih</p>
<p>sekarang tinggal karang dan batu-batu hitam mengelupas di dada<br />
dan kerikil-kerikil belukar hancur dari retakan hujan<br />
menggelora memandikan malam kelam saja<br />
tak sedikit bintang dari cahanya redup sorot mata lenyap</p>
<p>Jogja, 11 Februari 2010</p>
<p>MALAM /2/</p>
<p>malam semerbak rintik hujan bercampur aroma-aroma<br />
kucium bibir petang terdampar di atas khayal<br />
kalian tak merasa seperti angin dingin menjadi panas<br />
gugurkan keagungan niat tak pernah luntur dari harap<br />
hanya yang tak tidur lelap di malam memanggil-manggil<br />
menyanyikan rindu sebentuk keinginan tak pernah berujung</p>
<p>di malam yang lain, aku melihat sesungging wajah<br />
tak lekat dari senyum dengan goresan hidup mewarnai asa<br />
sujud malam mungkin sering rebah dari sebilah niatnya<br />
tapi wajah kulihat tiba-tiba hilang dari pandangan mata</p>
<p>Jogja, 12 februari 2010</p>
<p>MALAM /3/</p>
<p>malam sesaat terbit sinar rembuan, gugusan cahaya bening<br />
memantul ke sebilah hidup tampak keabadian<br />
sorot sepasang mata mulai cekung<br />
hendak terpejam merindui tanah lapang<br />
berubah menjadi suka cita<br />
suka dan surga</p>
<p>sebentuk linang empedu mengalir mengiris pipi putihnya<br />
menuruni lembah aib mungkin tak berujung<br />
dengan bentuk lekuk tubuh keriput menagih janji-janji<br />
dari sekian harap tertuang lewat lembaran-lembaran hari kusam<br />
tersisa sekisah cerita tentang malam yang hampa<br />
dan kehampaan merajut penggalan sejarah kealpaan</p>
<p>sampai di mana malam rebah menuangkan lirik-lirik sedih<br />
menuliskan arti hidup semakin rentang dibuat susah<br />
dari yang menebar senyum dan memendam perih<br />
tak ada lagi perbedaan yang bisa kupetik tentang sebuah arti<br />
setelah sekian lama malam terus menjadi sikap keangkuhan<br />
pada setiap makhluk menjadikan budak tak bernyawa<br />
seperti patung-patung tak di samba</p>
<p>Jogja, 13 Februari 2010</p>
<p>MALAM /4/</p>
<p>malam itu, tak sempat oretan kecil dari bibir yang tertidur<br />
dari selimut terkulai di kasur batu<br />
karena mataku telah mati!</p>
<p>Jogja, 15 Februari 2010</p>
<p>MALAM /5/</p>
<p>malam dari kabar langit tentang hujan, jatuh gerimisnya kecil<br />
menuai sebait kenangan dan penggalan, pecahannya menjadi airmata<br />
kemudian mengalir, adalah air yang jatuh dari muara hujan<br />
dan irisannya membelah putih pipi beningku</p>
<p>Jogja 16 Februari 2010</p>
<p>*Penulis adalah penyair kelahiran pesisir Sumenep Madura, tinggal di Jogja.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/03/27/puisi-marsus-ala-utsman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Momen Bagi Sahabatku</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/03/23/catatan-momen-bagi-sahabatku/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/03/23/catatan-momen-bagi-sahabatku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 12:10:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1802</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Trisiana Rahma Dewi Waktu kan terus melaju, tiada apapun yang mampu membujuknya tuk menunggu. Detik demi detik, hari demi hari, Bulan pun berjalan dan berganti. Dan pedang itu, kan sangat berguna bagi yang trampil dan bijak menggunakannya, namun akan menebar luka bagi yang ceroboh dan melalaikannya. Manusia, makhluk mulia, namun bisa jadi hina bagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Trisiana Rahma Dewi</p>
<blockquote><p> Waktu kan terus melaju,<br />
    tiada apapun yang mampu membujuknya tuk menunggu.<br />
    Detik demi detik, hari demi hari,<br />
    Bulan pun berjalan dan berganti.</p>
<p>    Dan pedang itu,<br />
    kan sangat berguna bagi yang trampil dan bijak menggunakannya,<br />
    namun akan menebar luka bagi yang ceroboh dan melalaikannya.</p>
<p>    Manusia,<br />
    makhluk mulia,<br />
    namun bisa jadi hina bagai hewan melata.<br />
    Pilihannyalah yang bicara,<br />
    akan jadi manusia macam apakah ia,<br />
    jika kelak menghadapNYA</p>
<p>    Wahai jiwa,<br />
    Kepakkan sayapmu seluas bumi,<br />
    Galilah rahmatNYA sepenuh hati.<br />
    Bahkan meski kiamat di esok hari,<br />
    Tanamlah walau hanya sebutir biji.</p>
<p>    Dan ketika gelap menyelubungi bumi,<br />
    Tundukkan segenap jiwa dan hati.<br />
    Tumpahkan air mata pembasuh luka,<br />
    mohon ampunNYA, pinta rahmatNYA<br />
    Tak peduli kau senang ataupun merana.</p>
<p>    Dan kala kau merasa goyah,<br />
    Genggamlah ALLAH dalam hatimu,<br />
    sertakan IA dalam setiap helai nafasmu<br />
    Serahkan padaNYA semua masalahmu,<br />
    Adukan padaNYA segenap kesahmu.</p>
<p>    Jika kau merasa sendiri,<br />
    kunjungilah hati saudara saudarimu,<br />
    Kuaklah tabir rahasia mereka,<br />
    ringankan beban berat yang mereka derita.<br />
    Berikan senyum dan perhatian setulusnya,<br />
    Sertakan mereka dalam setiap lantunan doa.</p>
<p>    Saaat kau merasa sempit,<br />
    sedekahkanlah sesedikitpun dari yang kau punya,<br />
    Berikan sekecil apapun yang kau bisa.<br />
    Dan kau akan merasa sangat kaya.</p>
<p>    Ketika hati terasa gundah,<br />
    Segeralah bermuhasabah<br />
    Perbaiki selalu niat,<br />
    dan ikhlaskan setiap langkah.<br />
    Hingga tergapai ridloNYA,<br />
    hingga teraih maghfirohNYA.</p>
<p>    Dan pabila kau merasa bosan, ataupun lelah,<br />
    sesekali, . . . .<br />
    Biarkan emosi kanak-kanakmu menari-nari.<br />
    Bermainlah bersama mereka di taman surga,<br />
    bersama makhluk-makhluk mungil tiada dosa.<br />
    Tirulah pantang menyerah mereka,<br />
    Jiplaklah semangat dan keriangan mereka.<br />
    Nikmati kebebasan dan tanpa beban mereka.</p>
<p>    Dan persangkaan ALLAH kan slalu bersama hambaNYA.<br />
    Maka senantiasa yakin dan optimislah.<br />
    Lakukan kini dengan sebaik-baiknya,<br />
    Songsong esok dengan keyakinan jiwa.<br />
    Yakinlah bahwa kau pasti bisa,<br />
    menjadi apapun yang kau damba.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/03/23/catatan-momen-bagi-sahabatku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SENDIRI</title>
		<link>http://agupenajateng.net/2010/03/15/sendiri/</link>
		<comments>http://agupenajateng.net/2010/03/15/sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 02:15:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agupenajateng.net/?p=1770</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Achmad Nastain (Siswa MA Ma&#8217;arif 7 Sunan Drajat Paciran Lamongan) Ku arungi smudra jiwaku Tertimpa batu dari hatiku berenang melampui batas pikiranku menuju keramaian itu kala aku menghampirinya malah kau menolak dia dan di kala aku membutuhkan tak ada satu pun yang menoleh wajah kepadaku berjalan&#8230;berlari&#8230; mencari jati diri orang-orang disekelilingku ini tak ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Achmad Nastain (Siswa MA Ma&#8217;arif 7 Sunan Drajat Paciran Lamongan) </p>
<blockquote><p>Ku arungi smudra jiwaku<br />
Tertimpa batu dari hatiku<br />
berenang melampui batas pikiranku<br />
menuju keramaian itu</p>
<p>kala aku menghampirinya<br />
malah kau menolak dia<br />
dan di kala aku membutuhkan<br />
tak ada satu pun<br />
yang menoleh wajah kepadaku</p>
<p>berjalan&#8230;berlari&#8230;<br />
mencari jati diri<br />
orang-orang disekelilingku ini<br />
tak ada yang sendiri<br />
kecuali aku ini&#8230;
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agupenajateng.net/2010/03/15/sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

