Menimbang Purbalingga Lewat Film
Thursday, 14 January 2010 (05:17) | Fiksi, Opini | 48 views | 1 komentar

Oleh Teguh Trianton SECARA kasat mata, pembangunan di wilayah selatan (kota) Kabupaten Purbalingga memang berhasil. Pemandangan di wilayah kota mampu menerjemahkan kondisi ideal wajah sebuah kota yang terus bergerak maju. Usai membangun (memindah) pasar kota ke lokasi baru, pemkab membangun taman kota di bekas lokasi pasar. Keberhasilan ini dianggap sebagai salah satu kado terindah dari pemerintah bagi masyarakat dalam perayaan hari jadi ke- 179 Purbalingga. Kado ini juga menandai momen tutup tahun... (more...)
Friday, 6 November 2009 (00:31) | Fiksi | 30 views | 0 komentar

oleh Umu Sulaim Inikah Kematian 1 Kengerian tak berujung/ Meratap merayap hinggap/ Sekujur tubuh tak lagi bertuan/ Tuan tak lagi berpunya Deretan kisah brcerita/ Mengumpat sempat/ Menyayat kerap/ Mengiris keris/ Meluka sukma/ Lahir tak mampu menjunjung/ Batin tak sanggup menanggung/ … Inikah Kematian 2 Menghampiriku tiba-tiba Tanpa permisi tanpa berkata Bayang hitam kelam Menerawang Seutas senyumpun tak kau terbitkan Hanya kengerian yang terlukiskan Inikah yang disebut orang, kematian … Berhenti... (more...)
Wednesday, 23 September 2009 (04:58) | Fiksi, sastra | 57 views | 1 komentar
PUASA Mentari, Ramahtamahlah kau padaku di bumi Selinapkan terikmu Di balik pekat awan Agar kurasa segar nyaman Njalani ujian Tuhan Mentari, Hari ini kurangilah panasmu Nelan tenggorokan Ngisap cucur keringat di badan Agar ku tak dahaga berlebihan Lapar, dan…..pingsan! Mentari, Saat puasa seperti ini Kudamba selalu persahabatanmu. Pekalongan,1986-2009 SAJAK SEGELAS AIR PUTIH Segelas air putih Telah membinasa rasa dahaga Segelas air putih Sia-sia tertumpah Duh, diri terancam lemah, Yah! Pekalongan,1986-2009 DOA... (more...)
Sunday, 19 July 2009 (17:48) | Fiksi | 22 views | 0 komentar
Oleh Sardono Syarief Setiap kali bepergian, Papa selalu membawa dompet. Kadang dompet itu dimasukkan ke dalam saku celana bagian belakang.Kadang disimpan di balik jok sepeda motor. Entah Rani tak tahu apa alasan Papa membawa dompet kulit bila setiap pergi. Yang Rani tahu, dompet Papa selalu berisi uang cukup banyak. “Sudah siap, Rani?”tanya Papa. Pagi yang cerah itu, Papa hendak mengajak Rani membeli peralatan sekolah ke kota. “Sudah, Pa,”jawab Rani singkat. “Kita berangkat sekarang, Pa?” “Mau... (more...)
Monday, 27 April 2009 (10:19) | Fiksi | 54 views | 0 komentar

Oleh Kak Sardono Syarief Dio murung. Ia duduk mematung di lincak bambu. Sebuah lincak tua peninggalan alamarhum ayahnya 8 tahun silam. Lincak yang kini terbalut debu menyendiri di ruang tengah. Ruang sepi yang jarang disentuh suasana ramai pemiliknya. Karena memang penghuni rumah tua itu cuma Dio dan ibunya berdua. “Kenapa kau murung begitu, Dio?”tegur ibunya begitu dilihatnya Dio tak ceria. “Tumben, pulang sekolah kau tak seperti biasa,”ujar ibunya lebih lanjut. “Biasanya,”masih... (more...)
Wednesday, 22 April 2009 (09:56) | Fiksi | 69 views | 0 komentar

OLEH: NIKMAH NURBAITY Lihat! Hujan turun lagi. Perempuanku masih duduk di teras rumah itu. Tangannya menengadah ke langit, membiarkan butir butir air hujan membasahi tangannya. Matanya menerawang jauh, mengamati butir butir hujan yang jatuh dari langit. Kakinya dibiarkan terjulur ke tepi teras dan menjuntai di tanah, seolah ia ingin hujan merasuk ke dirinya lewat pori pori tubuhnya, membasahi jiwanya, Selalu ia begitu, menghitung air hujan.. ... (more...)
Tuesday, 17 March 2009 (10:15) | Fiksi, sastra | 104 views | 0 komentar
Puisi Zulmasri Laut laut itu, sejuta kenangan telah tercecer di sepanjang pantai ketika kuingat: pantaimu masih saja seperti dulu dalam landainya ombak yang selalu meninggalkan buih dal laut, selalu kurindu itu ketika tanganmu terentang menggapai kapal dan batas cakrawala malam, telah sama kita dengar bait lagu di antara gemuruh dan mendung yang bergayut lautmu beriak di antara pantai-pantai yang selalu saja mendeburkan ombak apa kabar angina yang dating dari barat? (tangismu masih disini), ketika... (more...)
Friday, 6 March 2009 (11:20) | Fiksi, Refleksi | 1,379 views | 32 komentar
Oleh: Zulkarnaen Syri Lokesywara Akhirnya kesempatan itu datang. Setelah berpuluh tahun. Menjadi kepala sekolah! Tim seleksi sekolah merekomendasikan aku dan salah satu teman untuk mengikuti seleksi kepala sekolah SMA yang lowong karena berbagai hal. Ada yang pensiun, telah menjabat dua periode, dan ada pula yang lowong karena kepala sekolah lama meninggal dunia. Pernah aku sangat berharap ada kepala sekolah yang mengundurkan diri karena merasa gagal dalam tugas, namun harapan itu tidak pernah menjadi... (more...)
Catatan terhadap Cerpen-cerpen Sawali Tuhusetya *)
Wednesday, 18 February 2009 (06:32) | Esai, Fiksi | 287 views | 1 komentar

Oleh: Kurnia Effendi Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan pengalaman luar biasa dengan membaca cerpen-cerpen panjang (yang seolah melawan kaidah istilahnya sendiri)... (more...)
Wednesday, 18 February 2009 (06:19) | Fiksi | 97 views | 1 komentar

Cerpen: Sawali Tuhusetya Bulan sepotong semangka menggantung di bibir langit yang berkabut. Temaram. Angin malam berkesiur lembut, menaburkan hawa busuk kematian. Seisi kampung seperti tenggelam di bawah jubah gaib Malaikat Maut. Sesekali terdengar samar lolong serigala di hutan jati yang jauh seperti memanggil-manggil arwah para penghuni lembah kematian. “Sampeyan masih melihat sosok perempuan bergaun putih itu?” “Ya! Perempuan itu masih setia menunggui rembulan setiap malam di bukit itu.” “Siapa... (more...)
Thursday, 12 February 2009 (13:23) | Esai, Fiksi, Opini | 65 views | 1 komentar

Oleh: Sawali Tuhusetya Untuk ke sekian kalinya, Aula Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi, Kabupaten Kendal, menjadi saksi sebuah perhelatan sastra. Minggu, 24 Agustus 2008 (pukul 09.00-13.30), penyair Dharmadi (Purwokerto) hadir menemui publik sastra Kendal. Tak kurang, sekitar 100 peminat dan pencinta sastra dari kalangan guru, mahasiswa, siswa SMP/SMA/MAN, dan masyarakat umum mengapresiasi sekaligus membedah teks-teks puisi karya penyair kelahiran Semarang, 30 September 1948, itu. Secara... (more...)



