Friday, 24 August 2012 (14:12) | 136 views | 0 komentar
Puisi Selendang Sulaiman
Sajak Rindu
- Ode Zainal Arifin Toha, alm.-
Asbak hitam berukir itu
Masih tercium abu rokok di bibirmu
Dedak yang tersisa saling cumbu dalam tinta
Terkenang wajahmu memuncak rindu
Jauh kuterka dan kuraba
Aura jidatmu, senyum ramahmu: kharismamu
Semakin jauh jejak kujejaki
Dan kata-kata titahmu sukar untuk kuhafal
Kecuali satu: Kenang rindu
Yogyakarta, Nopember 2008-2012
Lelaki Hujan
-Terkenang Ayah-
Dia sangat merindukan bulan
Nasib ia peluk sebagai kembang
Di dinding-dinding kesunyian dan fana
Semerbak mayang menjadikannya nafas
Yang mengikat sang jiwa di pohon kemarau
Kupu-kupu dari timur dan utara
Bertemu di ujung rambutnya
Lalu bercinta saat mendung gagal
Meminang langit dengan laut
Dia terus merindukan bulan
Nasib ia peluk sebagai kembang
Seperti menggumuli sepi yang melingkar
Di lehernya setiap pagi dan senja
Dia pula yang terlanjur akrab dengan petir
Terlampau dekat dengan badai
Tetapi dia lupa dengan dirinya
Sebab sangat merindukan bulan
Dan nasib menjelma kembang
Langitpun hitam bersama daun gugur
Seekor kumbang bunting tertidur di jendela
Lelaki hujan berbisik “Aku ingin bulan!”
Yogyakarta, 30 November 2011
Kesaksian Sang Penyair
-Kepada Ibu-
“Bila rindu membundar matahari dan rembulan
hari dan malam adalah kata dalam sajak-sajakku
mangalir teduh bersama sungai ke muara
-Bila musim dingin menyergap alam raya
hujan dan embun adalah bagian dari tubuhku
yang menggigil dalam rindu yang basah
-Bila sajak-sajakku berwangi rindu asmara
dialah ibu yang berenang-renang di muara
membersihkan diri atas dosa-dosaku.”
kenangan berenang sendiri dalam ingatan
menjadi sungai kecil di kepala
menjadi hilir berbatu dalam keras hati
menjadi muara di atas ketiadaan diri
sementara, pekabar dari kampung halaman
seperti hujan tanpa kenal musim
seperti angin jujur sampaikan bau
ia bercerita; ibu selalu setia mengiris bawang
namun, mendung tebal menutup jalan pulang
mendung yang mengandung anak jalang
atas waktu yang aku tiduri dengan nakal
waktu titipan hati ibu yang surga
waktu yang kubuai dengan sia-sia
kini, ia lahir bernama aku ibu
aku yang kau aliri dengan air teduh sumurmu
aku yang kau titip pada angin di tanah rantau
aku yang nakal menyebutmu dalam doa
aku yang kian mengalir bersama doamu
ibu, kepadamu aku akan pulang
biar waktu kini aku menutup pintu-pintunya
Yogyakarta, 2011-2012
Ciuman Tanggal Satu
Aroma rindu di keningmu itu,
iL
Pertanda kecupan dari puisiku
Isyarat hati dari ciuman
sang penyair
Tak perlu kau bertanya,
iL
Bila kau melihat bayangan bunting
Itulah bulan rindu dalam puisi
:rindu kamu
Mengapa harus rindu,
iL
menjelma kata dalam sajak
Bila hasrat terapung sepi
dalam jarak
Mengapa harus rindu,
iL
;menyanyi luka-
-menggebu biru,
-mencipta duka
Mengapa harus rindu
iL
Bila
terkenang nanamu
Sumenep- Yogyakarta, 2007-2008
Menjahit Luka Ingatan
- Shesilia-
Janur hijau tiba-tiba rapuh dan jatuh
Anak nyiur tanggal tak menangis sebelum subuh
Kita disini manjahit luka ingatan
Berpagar tanaman-tanaman hias pekarangan
Sesekali menjenguk ikan kolam meliuk-liuk
Melompat ke bibirmu dan keningku tertusuk
Pada senja yang lalu bangau-bangau kemarau berdendang
Kita tersenyum pada sayapnya yang bertukar pandang
Sepakat kita melepas pertemuan sebelum surup menawan
Entah apa yang telah kita titipkan disana untuk kenangan
Tetapi kesetiaan jarum jam luput dari perkiraan janji
Persis saat bibirmu yang celurit menebas urat nadi
Kau berteriak pedih -sampai tak sanggup mencipta tangis-
Senyeri liang lukalu menimba mata air di lubuk yang amis
Kau masih menatap bengkak yang tak sempat aku jahit
Dan aku memang tak suka jahitan dari jarum karatan
Aku masih menunggu; berharap kau datang
Bawakan aku setusuk lidi dan menyuguh tabik tenang
“Aku jahit lukamu, sayang” semilir bibirmu bertiup
Sementara aku tak mengira kau datang tepat waktu
Yogayakarta, 24 Maret 2012
Sebelum Kemarau Panjang Diramalkan
Sebelum kemarau panjang diramalkan dan terjadi dalam mimpi
Mimpi seorang empu dan seorang hamba di kubin penjara kerajaan
Hutan di mulutmu dipenuhi satwa dan marga yang terlindungi
Dewa-dewa, dirawat seorang raja, di puja orang-orang kelaparan
Pohonan subur mengukur putaran waktu di rahin nasib dan takdir
Binatang-binatang gemuk menjaga kehidupan -bunga-bunga ranum-
Tangan dan kaki menyanggah hidup di semak belukar yang meruang
Di tubuh usia yang mengalir sungai sampai di perbatasan samudra
Danau mewaktu-meruang di perut orang-orang pemuja cinta
Lalu kodok-kodok menyembul keluar dari tempurung
Berenang ke kali, bercinta tanpa lenguh, bertelur sampai berudu
Istirah rindu bunga bakung menunggu hujan semusim
Berudu ajaib anak-anak kuman di lumut-lumut tak bernama
Dan orang-orang merangkai batang pohonan kering
Membangun gubuk kehidupan di bawah langit Tuhan
Doa-doa dipanjatkan, harapan anak cucu di antar
Ke meja matahari dengan sekeranjang buah-buahan
Tetapi hujan tetaplah hujan yang mengantar badai
Dan banjir melumat segala yang hidup dan mati
Yogyakarta Februari 2012
Selendang Sulaiman, Lahir di Pajhagungan, Sumenep 1989. Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puisinya dimuat diberbagai Media Masa: Seputar Indonesia, Suara karya, Metro Riau, Majalah Literasia, Advo-pos, Jurnal Maddana, Buletin Sampan. Dan beberapa antologi bersama; Sang Penyair (Perpust Press 2007), Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (GREAT! Publisher 2011), Bima Membara (Halaman Moeka 2012), Presidin Untuk Presidenku (SANY Publishing 2012), Jembatan Sejadah (SP 2012). Saat menjadi Lurah Sanggar Jepit Yogyakarta.
Tulisan lain yang berkaitan:


0 komentar terhadap “Puisi Selendang Sulaiman”
Komentar Anda?