Guru dan Kultur Sesat Plagiarisme

Thursday, 19 April 2012 (01:49) | 89 views | 1 komentar

Penulis: Ari Kristianawati, S.Pd
Guru SMA Negeri 1 Sragen

Guru adalah kunci keberhasilan capaian kualitatif pendidikan. Capaian kualitatif pendidikan yang ditakar dengan standar peningkatan Indeks pembangunan manusia (IPM) secara general dan peningkatan capaian prestasi akademik pembelajaran siswa.

Upaya peningkatan kompetensi dan mutu guru, dilakukan pemerintah sejak tahun 2007 dengan proyek sertifikasi. Proyek sertifikasi yang aturan setiap tahun selalu berubah, mencoba melakukan seleksi ketat terhadap guru sehingga konon guru yang lulus uji kompetensi dan sertifikasi yang memiliki kualitas edukatif.

Banyak guru yang kini juga memiliki spirit mengejar pendidikan paska sarjana dari jenjang S2 sampai S3. semangat belajar—-mencari gelar?—–merupakan implikasi bermata ganda dari tawaran komersialisasi pendidikan di level PT. Banyak program pendidikan paska sarjana yang ditawarkan untuk guru yang lebih bernuansa kepentingan bisnis.

Tercatat banyak paket pendidikan S2 yang ditawarkan dengan sistem pembelajaran “borongan” dengan biaya yang konon bisa didiskon untuk kepentingan akseptabilitas. Memang baik dan positif guru mengejar jenjang pendidikan paska sarjana, karena belajar adalah sepanjang usia. demikian petuah bijak filsuf pendidikan dimasa lalu. Namun yang menjadi persoalan, dibalik gemerlap pendidikan paska sarjana yang diikuti guru atau banyak guru yang meraih gelar S2/S3, ternyata menyuburkan praktek plagiarisme dikalangan guru.

Praktek ketidakjujuran akademik/intelektual, dalam bentuk penjiplakan karya intelektual orang lain menyubur dikalangan guru. Praktek plagiarisme, menjadi virus yang mempengaruhi kultur edukatif para guru. Hal tersebut memang sulit dibuktikan namun ketika kasusnya terbukti dan terungkap dimedia sangat mencengangkan. beberapa waktu yang lalu di Luar Jawa 150-an guru membuat karya PTK hasil jiplakan utuk kepentingan naik pangkat. Di Bandung, beberapa guru yang menempuh gelar S2 terbukti tesisnya menjiplak karya orang lain atau dibuatkan oleh agen pembuatan tesis dengan imbalan tertentu.

Kultur plagiarisme yang menyubur dikalangan guru adalah paradoks dengan klaim capaian proyek sertifikasi yang konon membabtis guru menjadi tenaga profesional dan sekaligus memiliki wawasan intelektual.Kultur plagiarisme memerosotkan kualitas guru meski menyandar gelar doktor sekalipun.

Untuk itulah sebuah catatan kritis: Guru jika ingin masih memiliki integritas dan legitimasi moral mendidik harus menghindarkan diri dari budaya plagiarisme. karena guru bergelar doktor sekalipun tanpa karya intelektual yang orisional dan hasil riset yang aktif tidak akan memiliki integritas sebagai pendidik. budaya plagiarisme adalah potret rendahnya kualitas pendidikan, yang seolah tidak diajadikan indikator capaian keberhasilan pendidikan.

Tulisan lain yang berkaitan:

img GURU DAN REDESAIN OTONOMI EDUKATIF (26 November 2011, 158 views, 3 respon)
img SITUS ALTERNATIF SUMBER SEJARAH (27 December 2010, 94 views, 0 respon)
img Pengumuman 5 (Lima) Karya Tulis Terbaik Agupena Jateng 2010 (24 November 2010, 588 views, 13 respon)

1 komentar terhadap “Guru dan Kultur Sesat Plagiarisme”

  1. rina damayanti | Thursday, 19 April 2012 @ 4:19 am

    bener apa yang diungkap bu ari, kini banyak guru bergelar master atau doktor, namun kualitas mereka banyak yang meragukan. ukuran bukan gelar tapi karya!

    Reply

Komentar Anda?


«
»
IP