Saturday, 12 November 2011 (23:04) | 65 views | 2 komentar
PROFESI guru pada zaman digital seperti sekarang, dituntut tidak hanya mengajar siswa di depan kelas. Guru harus kreatif mengembangkan keterampilan, bahkan menjadi penulis.
Guru penulis atau pendidik yang berminat menuangkan ide dan kreativitasnya dalam tulisan, saat ini belum banyak. Akan tetapi, Hery Nugroho guru SMP 7 Semarang mencoba memeloporinya. Lelaki kelahiran Demak 18 Januari 1980, belum lama ini meluncurkan buku ”Cara Mudah Menjadi Guru Penulis”.
Buku tersebut lahir atas keprihatinannya masih banyak guru yang belum bisa menulis. ”Selama ini ada anggapan antara guru dan menulis adalah kegiatan berbeda. Mereka menganggap, guru ya tugasnya mengajar, dan menulis adalah tugas penulis. Padahal, kegiatan menulis sangat bermanfaat bagi guru, karena ini juga menunjang untuk kenaikan pangkat,” ungkapnya yang pernah menjuarai Sayembara Menulis Buku Pengayaan Tingkat Nasional itu.
Dalam buku yang isinya lebih pada tutorial mengajak guru menjadi penulis tersebut, dia mencoba menanamkan bahwa menulis bukan hal sulit. Sebab, penyusunannya juga berangkat dari pengalaman sebagai guru dan penulis. Selain itu, penjelasan dalam pustaka, sangat disesuaikan dengan dunia pendidik dan mudah dipahami.
Lalu jika menulis itu mudah, kendala apa yang membuat guru merasa sulit? Wakil Sekretaris Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Jateng menjelaskan, biasanya mereka bingung harus memulai darimana dan dengan kata-kata seperti apa. Bahkan meskipun sudah ikut pelatihan menulis berkali-kali, tetap saja belum bisa menuangkan idenya dalam tulisan.
Sehingga langkah yang perlu dilakukan, yakni dengan sering melakukan latihan.
Ya, bagaimanapun menulis memang penting, sebab kedepannya pada tahun 2013 nanti kenaikan golongan guru dimulai dari IIIB ke IIIC, dan menulis karya ilmiah menjadi syarat mutlak untuk dipenuhi. Sehingga, guru mata pelajaran Agama yang sudah mengabdi selama 8 tahun ini berharap, agar para guru dapat mulai berlatih menulis, dari yang sederhana saja, seperti membuat catatan di media sosial atau surat kabar.
(Anggun Puspita -61)
Herry Nugroho, Wasekum Agupena Jateng
Tulisan lain yang berkaitan:


Mukhlis | Sunday, 13 November 2011 @ 10:58 am
Betul sekali Pak Nu, maksud hati ya, ingin bisa menulis, tapi … itu belum apa-apa macet. Bagaimana apa Agupena bisa membuat acara pelatihan lagi? Di Pekalongan ada Agupena tetapi kok sepi tidak aktif. Saya ingin bergabung terus ke mana?
Reply
BAPAK TUKIJO | Sunday, 29 January 2012 @ 8:28 pm
tolong ditampilkan ya
Reply