Friday, 8 July 2011 (20:19) | 39 views | 0 komentar
Oleh Agus Pribadi —PNS Guru Biologi SMP N 4 Rembang Purbalingga Jawa Tengah—
Kami adalah Pasukan Gili Rokel. Sekumpulan siswa-siswa, guru-guru dan karyawan, serta Komandan Gili Rokel yaitu Kepala Sekolah. Pasukan kami menghuni sebuah markas. Sekolah SMP milik pemerintah yang berada di pucuk pohon Cemara.
Gili Rokel. Sebutan yang kami namai sendiri untuk sebuah jalan penghubung antara sebuah balaidesa dengan sekolah kami. Jalan berkelok naik turun sepanjang kurang lebih dua kilometer. Jalan yang aspalnya sudah hampir mengelupas seluruhnya. Keloknya seperti ular yang sedang menggeliat. Aspalnya seperti kulit dan daging yang telah mengelupas dari tulangnya. Keadaannya seperti sungai kering di musim kemarau. Jalan itu menyisakan batu-batu dan kerikil-kerikil yang siap menggelincirkan setiap kendaraan yang melewatinya.
Kami menyebut sekolah kami berada di pucuk pohon Cemara karena letaknya berada di atas sebuah pegunungan. Pohon-pohon yang menghasilkan udara segar, matahari, suara kicau burung, kupu-kupu dan bunga-bunga menjadi latar yang menghiasi sekolah kami.
Kadang kami menghibur diri dengan pergi ke sebuah air terjun. Jaraknya sekitar dua kilometer dari sekolah kami. Di sana kami mandi dan bermain-main sepuas hati. Seperti ikan-ikan, kami berenang dan menyelam.
Kepala sekolah kami bernama Pak Rohman. Orangnya sangat ramah, kocak, dan bijaksana. Paling senang jika upacara bendera, dan Pak Rohman memberi amanatnya. Kami akan mendengarkan dengan khidmat. Petuah-petuahnya yang bermakna dan bermanfaat diselingi leluconnya yang menghibur.
“Anak-anak, kalian harus selalu rajin belajar, bekerja dan berlatih. Apapun keadaannya, apapun rintangannya. Jangan cengeng, jangan lembek, dan jangan mudah menyerah. Kita harus meneladani Panglima Besar Jenderal Soedirman yang lahir di daerah kita ini. Tekad dan keinginannya sangat kuat. Meski dalam keadaan sakit. Meski harus ditandu menaiki bukit dan menuruni lembah. Paham???” amanat Pak Rohman dalam suatu upacara bendera.
“Paham Pak…!!!” seru kami serentak.
“Kita adalah Pasukan Gili Rokel yang tak mudah takluk oleh keadaan. Senjata kita adalah tekad, kemauan, semangat, dan ketekunan,” amanat lanjutan dari Pak Rohman.
Kami tidak memiliki fasilitas sekolah yang mewah seperti teman-teman kami di kota. Kami tidak mempunyai lapangan futsal yang mewah. Siswa-siswa sekolah kami tidak mengikuti bimbingan belajar di lembaga bimbingan belajar yang bertebaran di kota-kota. Mereka tidak semuanya melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi jika telah lulus SMP. Selepas lulus SMP, ada yang bekerja ke kota atau ke luar Jawa, bahkan sebelum ijazahnya sempat diambil. Siswa putri ada yang dilamar oleh seorang pemuda bersamaan dengan mendapatkan ijazah SMP. Hanya sebagian kecil lulusan SMP dari sekolah kami yang melanjutkan sekolah lagi.
Mungkin karena itu semua, tak ada guru di sekolah lain yang bermimpi pindah ke sekolah kami. Membayangkannya pun mungkin tidak pernah.
Namun tidak demikian dengan guru-guru kami. Mereka orang-orang yang tangguh tak pernah mengeluh. Meski kerap terjatuh penuh peluh. Rumah mereka banyak yang jauh dari sekolah. Tapi mereka tidak pernah menyerah apalagi kalah. Mereka kerap terjatuh jika datang musim hujan yang membuat jalan menjadi licin. Keadaan terburuknya adalah terjadi longsor. Jika itu yang terjadi, anak-anak diliburkan demi keselamatan bersama.
Kami selalu berangkat tanpa pernah terlambat dan merasakan penat. Aku dan teman-temanku biasa berjalan kaki menuju dan pulang sekolah. Atau kadang naik mobil bak terbuka. Kami selalu rajin belajar demi sebuah cita-cita yang kami kejar. Kami tidak pernah mengeluh. Karena mengeluh hanya membuat kami jenuh.
Namaku Parman. Aku duduk di kelas sembilan bersama teman-temanku yang bernama Turid, Zaenal, Mahyo, Marno, Rudi, Soendi, dan lain-lain. Kami akan mengikuti lomba Futsal tingkat kecamatan. Aku menjadi kapten tim futsal dari sekolah kami, dan anggota timku adalah Turid, Zaenal, Mahyo, dan Marno. Di bawah bimbingan Pak Anto guru olahraga kami, kami senantiasa giat berlatih.
Pak Anto berpesan, “Kalian harus mampu membuktikan bahwa sekolah kita pun layak menjadi juara. Sekolah kita pun layak mengangkat piala. Meskipun sekolah-sekolah lain memandangnya sebelah mata.”
Dengan lapangan seadanya, kami berlatih setiap hari. Pak Anto mengajarkan teknik membawa, menggiring dan mengumpan bola. Pak Anto juga mengajarkan kerjasama tim. Dalam satu tim tidak boleh ada yang egois. Kami harus kompak. Kami adalah Pasukan Gili Rokel.
Pertandingan Futsal dimulai. Kami bekerja keras menaklukkan sekolah-sekolah lain yang berada di satu kecamatan. Satu persatu tim futsal dari sekolah lain kami kalahkan. Tibalah babak final. Kami berhadapan dengan tim futsal sekolah favorit. Kami tidak gentar. Skor telak 5-0 kami ciptakan. Dan kami pun menjadi juara pertamanya. Sungguh kami bangga menjadi Sang Juara. Kami bangga bersama teman-teman tim futsal mengangkat piala kemenangan diiringi tepuk tangan yang membelah langit dari siswa-siswa dan guru karyawan dalam sebuah upacara bendera. Pak Anto menyalami aku dan teman-teman tim futsalku. Diangkatnya piala kemenangan dengan bangga. Tepuk tangan pun kembali membelah langit.
Kami bangga dengan sekolah kami. Kami bangga dengan siswa-siswa, guru dan karyawan serta kepala sekolah. Kami bangga dengan pasukan Gili Rokel. Namamu akan terkenang dan menang di hati kami yang tenang.
***
Sepuluh tahun kemudian.
Aku sudah menjadi seorang guru olahraga. Turid menjadi seorang tentara. Zaenal menjadi seorang pegawai kecamatan. Mahyo menjadi seorang dokter. Marno menjadi seorang dosen. Dan teman-teman yang lainnya ada yang menjadi polisi, bidan, dan lain sebagainya. Namun ada juga yang tidak melanjutkan sekolah sejak lulus dari SMP dulu. Kami mengadakan reuni di sekolah kami. Markas Pasukan Gili Rokel. Jalan Gili Rokel sudah beraspal tebal dan halus. Sekolah kami pun sudah berdiri megah dan gagah. Seperti sebuah puri di pegunungan yang indah. Di huni oleh guru-guru profesional dan siswa-siswa pilihan. ()
Tulisan lain yang berkaitan:


0 komentar terhadap “PASUKAN GILI ROKEL”
Komentar Anda?