Mengenalkan Benda Cagar Budaya Pada Siswa
Saturday, 7 May 2011 (02:23) | 182 views | 1 komentar
oleh : Retno Winarni, S.S (Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMAN Kerjo Karanganyar)
Sudah beberapa tahun ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jateng mengadakan lomba karya tulis ilmiah Benda Cagar Budaya Generasi Muda Se Jawa Tengah. Tahun ini final lomba akan diselenggarakan di Klaten tanggal 18 s.d 20 Mei 2011. Peserta babak final adalah mereka yang lolos penilaian tahap 1 , yaitu penilaian sistematika dan isi karya tulis ilmiah. Sebagai guru pembimbing KIR saya sangat bersemangat setiap kegiatan ini digelar. Bagaimana tidak dengan menjadi pembimbing siswa saya ikut mendapat ilmu yang bermanfaat dan ikut mengenal benda cagar budaya di daerah saya Kabupaten Karanganyar. Tahun lalu saya membimbing siswa saya Awalia Lulu Lutfiah menulis tentang Candi Sukuh. Sebagai pendatang saya hanya mengenalcandi Sukuh dari cerita atau dari gambar. Nah dengan adanya lomba tersebut saya bisa melihat langsung candi yang dibangun pada abad ke 15 tersebut.
Tahun ini kembali lomba itu digelar. Pilihan obyek benda cagar budaya yang menarik hati kami adalah Pabrik Gula Tasik Madu, Pura Pamasekan dan Makam raja Mangkunegaran. sebelum lebih jauh lebih dulu saya akan menyampaikan tentang benda cagar budaya. Benda cagar budaya adalah benda buatan manusia , bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagiannya atau sisa-sisa yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas serta dianggap mempunyai nilai yang penting bagi sejarah , ilmu pengetahuandan kebudayaan (UU No 5 th 1992)
hari senin 11 April 2011 , kami tiga orang siswa dan dua orang guru pembimbing sengaja mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kabupaten Karanganyar tersebut untuk melakukan observasi lapangan serta penggalian data untuk menunjang penyusunan karya tulis ilmiah benda cagar budaya tersebut. Tujuan pertama kami adalah Pabrik Gula Tasikmadu. Pabrik Gula Tasik Madu didirikan oleh Mangkunegoro IV raja kerajaan Mangkunegaran yang paling kaya pada tahun 1826. Bangunan yang menjadi cagar budaya adalah bangunan pabrik yang masih asli. Di dalam pabrik terdapat mesin-mesin tua berukuran besar . Manajemen PG Tasikmadu saat ini mengembangkan potensi sejarah dengan agrowisata Sondokoro. Pengunjung diajak mengelilingi pabrik dengan naik kereta tebu yang telah dimodifikasi. Disamping bisa menikmati nilai sejarah, pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai fasilitas pendukung seperti kolam renang, kolam air cerdas, flying fox, taman hiburan dan yang paling dinikmati adalah terapi ikan. Di taman hiburan bisa dilihat mesin-mesin tua yang dudah tidak terpakai yang sengaja di pajang untuk menghadirkan nilai estetis. Konon di rumah kediaman administratur PG Tasikmadu terdapat sebuah kamar yang selalu menebar bau wangi. Kamar itu tidak pernah dibuka untuk umum. karena menurut kepercayaan kamar tersebut adalah kamar Mangkunegoro IV saat melakukan kunjungan ke PG Tasikmadu. di bagian lain taman terdapat kepala loko dan bendi dengan angka tahun 1926 yang merupakan kendaraan yang dipakai oleh Mangkunegoro untuk inspeksi lapangan.
Perjalanan kami lanjutkan menuju daerah Karangpandan sekitar 35 km dari Solo menuju ke arah Tawangwangu . Beberapa meter sebelum patung Semar yang berdiri megah di tengah hamparan sawah,akan kita temukan sebuah tempat pemujaan bernama Pura Pamasekan.pura ini adalah patilasan (peristirahatan) Kyai I Gusti Ageng Pemacekan. Pura ini lebih dikenal sebagai pura Pasek . Pura merupakan salah satu tujuan perjalanan spiritual tirta yatra yaitu perjalanan mengunjungi pura-pura di Jawa maupun Bali bagi penganut agama Hindu.Ki Ageng Pasek atau yang dikenal sebagai Pangeran Arya Kusuma dipercaya merupakan menantu raja Brawijaya V (raja terakhir Majapahit ). Bangunan dalam Pura merupakan tempat peristirahatan Ki Ageng Pasek . Bangunan Pura Pasek didominasi warna merah dan kuning. Pura ini telah mengalami pemugaran pada masa pemerintahan Pakoe Boewono XII.
Tujuan terakhir kami adalah makam raja-raja Mangkunegaran. Makam Raja mangkunegoro I-III berada satu komplek dengan astana giri bangun, makam mantan presiden II RI Soeharto. Hanya untuk mencapai makam kita harus mendaki , meniti anak tangga menuju puncak bukit. Sebelum mencapai makam kita akan sampai di pos penjaga makam yang akan memberi kita surat pengantar menuju ke makam. Di depannya berdiri dengan tegak tugu Tri Darma. Konon di tempat itulah Mangkunegoro I atau yang terkenal sebagai Pangeran Sambernyawa mendapatkan wangsit(wahyu) dari Sang Pencipta. Di puncak bukit berdirilah makam Mangkunegoro I-III. komplek makam ini dibagi menjadi dua bagian. bagian pertama terletak didekat pintu masuk merupakan komplek makam Mangkunegoro II dan III. Bagian yang lebih dalam adalah komplek makam Mangkunegoro I dan keluarganya. Menurut penjaga makam terdapat 125 makam secara keseluruhan . Untuk memasuki makam utama Mangkunegoro I kita harus mengikuti tradisi Keraton Mangkunegaran , yaitu laku dodok, nyembah dan berpakaian sesuai dengan ketentuan ( baju dinas, baju kejawen/beskap dan nyamping ). Tradisi ini ternyata mempunyai nilai filosofi yang dalam . Laku dodok dimaksudkan agar manusia selalu menyentuh tanah artinya selalu membumi atau merakyat. Nyembah berarti menyembah kepada Tuhan , manusia diharapkan selalu ingat kepada Tuhannya . Seusai dua orang siswa saya nyekar (tabur bunga) dan ziarah ke makam utama Pangeran Sambernyawa, Kuncen (juru kunci) makam kemudian menceritakan tentang perjuangan Panegeran Sambernyawa. Pangeran Sambernyawa atau R.M. Said adalah raja pertama keraton Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegoro I. Beliau adalah seorang pejuang yang gigih melawan Belanda. Karena kesaktiannya kemudian mendapat sebutan Pangeran Sambernyawa (menghabisi nyawa). Di bagian lain makam terdapat silsilah raja-raja Mangkunegaran yang digantung di dinding. Tetapi pada silsilah tersebut tidak terdapat foto atau lukisan Pangeran Sambernyawa/Mangkunegoro I sebagai pendirinya. Hal itu karena pangeran Sambernyawa tidak berkenan untuk dilukis . Masih menurut Juru kunci makam pernah suatu kali seorang pelukis spiritual terkenal yang telah melukis banyak tokoh berniat untuk melukis Pangeran Sambernyawa. Pada malam ke-38 si pelikis berpuasa dan bersemadi ia mendapat perintah untuk mengentikan puasa dan semadinya. Demikian pula pada hari ke 39 dan 40. Dengan demikian gagallah usaha pelukis tersebut untuk melukis Pangeran Sambernyawa.
Saya mendampingi siswa melakukan observasi adalah karena tugas saya sebagai pembimbing KIR di sekolah. Dalam pandangan saya lomba Karya ilmiah benda cagar budaya Se Jawa Tengah ini cukup efektif untuk mengenalkan benda cagar budaya kepada siswa. Dengan mengunjungi secara langsung benda cagar budaya di daerahnya siswa dilatih untuk mencintai warisan budaya bangsa. Selanjutnya siswa diharapkan mampu untuk mengungkap kehidupan masa lampau melalui benda-benda peninggalan arkeologis. Meskipun bukan guru Sejarah, saya memakai dokumen presentasi siswa yang mengikuti lomba serupa tahun lalu untuk proses pembelajaran mata pelajaran saya Bahasa dan Sastra Indonesia Kompetensi Dasar : Presentasi Hasil Penelitian. Lewat dokumen presentasi kakak kelasnya siswa saya ajak untuk mengenal benda cagar budaya. Tanggapan dari siswa cukup antusias. kebanyakan dari mereka tidak menyadari ,tidak tahu tentang sejarah tentang benda cagar budaya tersebut. Sebagian besar dari mereka hanya tahu nama dan sedikit yang mengetahui tempat dan mengunjunginya. Menjadi pembimbing siswa ternyata memberi saya pengalaman dan pengetahuan yang sungguh sangat berharga. Tidak hanya siswa, guru pun harus terus belajar. Karena berhenti belajar berarti memproklamirkan diri menjadi orang bodoh
Tulisan lain yang berkaitan:


Riyadi | Saturday, 7 May 2011 @ 7:21 pm
… Mesin-mesin tua hingga kini masih ada yang bisa ditemui di pabrik ini seperti ada yang bernomor tahun 1926. Nilai wisata sejarah tampaknya menjadi sisi lain yang ditawarkan. Pasalnya beberapa turis asing tertarik dengan mesin-mesin tua ini. …
sumber : http://www.arkeologi.web.id
saya kutip dari sini :
http://www.facebook.com/topic.php?uid=5998906588&topic=15185
pada paragraf ketiga akhir kalimat ketiga tulisan Ibu tertulis 1826. Dan akhir paragraf ketiga tertulis 1926. Barangkali hanya salah cetak ya Bu. Mohon maaf sekedar mencocokkan data. Salam Agupena.
Reply