AIR MATA GURU (untuk Guru Indonesia di Hari Guru)

Wednesday, 24 November 2010 (06:46) | 145 views | 0 komentar

Oleh Budiyono Dion (Anggota Agupena Jateng)
Siang itu udara panas. Seperti biasanya sehabis makan siang, sepulang dari tugas mengajarnya, Pak Bachri leyeh-leyeh di lincak yang berada di bawah pohon mangga di samping rumahnya, sambil menangkap angin yang lewat agar dapat mendinginkan badannya yang terasa gerah.

Belum lama pak Bachri merebahkan tubuhnya di atas lincak, tiba-tiba di jalan depan rumahnya berhenti sebuah mobil mewah berplat nomor B, ‘Mobil Jakarta.’ Batin pak Bachri menduka. Hati pak Bachri bertanya-tanya, siapa yang baru datang. Ia perhatikan seorang pria turun dari mobil berjalan menuju halaman rumahnya. Siapa ya ? Kata hati pak Bachri lagi. Pria berbaju batik itu menjadi tamu pak Bachri siang itu.

“ Apakah Pak Bachri sudah tidak mengenali saya lagi ? “

“ Siapa ya ? “

“ Saya anak Bapak. Saya alumni SMA Swasta Mandiri dua puluh lima tahun yang lalu. Saya Imam Pak. “ Kata-kata Imam mengenalkan diri, layaknya seorang presenter pada seminar sebelum menyajikan makalahnya.

Di dalam hati pak Bachri berkecamuk perasaan antara rasa banggga dan haru atas kedatangan seorang mantan muridnya. Seorang alumni SMA Swasta Mandiri tiga puluhan tahun lalu.

Lama sekali pak Bachri menatap wajah Imam. Pak Bachri hampir tak percaya, kalau yang datang mantan muridnya yang telah tiga puluhan tahun meninggalkannya. Rasa bangga dan haru campur aduk menjadi satu, membuat dada pak Bachri terasa sesak. Begitu lama pak Bachri menatap wajah Imam dan serasa tak kuasa mengeluarkan kata-kata. Tak terasa air matanya meleleh perlahan jatuh ketangannya yang terpangku di atas lutut kedua kakinya.

“ Lalu… sekarang….? “

“ Sekarang saya bekerja di Jakarta Pak, menjadi staf di kementerian pendididikan nasional Pak. Kebetulan saya baru melaksanakan tugas di daerah ini. Sekalian saya silahturohim ke rumah Bapak. Mumpung ada kesempatan baik Pak. Saya dapat menyisihkan waktu untuk menyempatkan sowan Bapak. ” Imam menjawab pertanyaan pak Bachri yang terputus-putus, tidak selesai itu. Imam menjelaskan maksud kedatangannya. Bukannya ia sombong dan pamer jabatan kepada mantan gurunya. Tetapi Imam tahu dari nada pertanyaan pak Bachri yang tersendat-sendat itu mau kesitu juga arah pertanyaannya. Makanya, Imam tahu diri, menjelaskan semua itu tanpa diminta satu persatu pertanyaan dari mantan gurunya.

Perasaan bangga dan haru itu masih membahana di dalam dada pak Bachri. Pak Bachri merasa heran, jaman modern, jaman maju seperti sekarang ini masih ada seorang murid yang sukses hidupnya dan menjadi pejabat di pusat pemerintahan masih ingat kepada gurunya. Apalagi seperti Imam ini yang sudah mempunyai sederet gelar akademik baik dari dalam maupun luar negeri, dan menjadi pejabat penting, masih mau mengunjungi mantan gurunya. Sikap Imam kepada mantan gurunya yang seperti itu hampir sudah menjadi barang langka dan mahal di jaman moderen, jaman globalisasi seperti sekarang ini.

Jaman globalisasi manusia cenderung besifat kapitalistik, materialistik dan idividualistik. Kebanyakan orang hanya berlomba mengejar harta kekayaan dan kekuasaan, sehingga sering meninggalkan rasa kebersamaan dan tidak peduli pada orang yang lebih tua, orang yang pernah membesarkannya, dan tidak peduli pada orang lain. Kadang pula orang malah tega menerkam teman sendiri atau keluarga dan saudara sendiri, demi kepentingan individu atau kelompoknya. Yang satu ingin menguasai yang lain. Walaupun sifat ini naluriah sifatnya. Ya naluriah ! Karena, secara naluri orang memang cenderung kepingin menguasai orang lain.
Begitulah sifat dan sikap kebanyakan orang jaman sekarang, jaman yang disebut-sebut sebagai era teknologi informasi. Itu semua karena begitu kuatnya pengaruh jaman sekarang yang berkecenderungan kapitalis dan materialis.

Udara siang hari akhir Juni begitu panas. Terik matahari begitu menyengat. Panas di luar, panas di dalam rumah. Untung di sudut ruang tamu ada kipas angin kecil. Walaupun kecil hembusan angin dari kipas itu, lumayan bisa sedikit menawar suasana kegerahan disiang hari . Imam sesekali menyika keringat yang merembes dari tubuhnya yang gendut dengan sapu tangan.

Walaupun udara panas, namun tak mengganggu obrolan mereka berdua. Obrolan dua insan anatara guru dan murid yang sudah lama tak bersua. Pembicaraan mengalir bagai air yang mengalir di ledeng dari sumber air Cakra. Semakin lama perbincangan itu semakin asyik saja. Sikap canggung dari keduanya telah mulai lenyap. Tidak seperti awal-awal pembicaraan. Sikap keduanya diliputi rasa canggung karena lama tidak berjumpa. Atau mungkin karena waktu yang merubah sikap keduanya. Dulu Imam sebagai murid yang harus tunduk kepada guru. Sekarang, Imam adalah seorang tamu jauh dari Jakarta dan seorang pejabat penting.

Kedudukan Imam yang sekarang inilah barangkali yang menjadikan pak Bachri menjadi canggung .berhadapan dengan Imam, yang mantan muridnya. Pak Bachri ada perasaan seperti halnya sikap seorang bawahan menghadapi atasannya.

Ada satu sikap pada pak Bachri yang menurut Imam hingga kini belum berubah. Yaitu sikap kemalu-maluan setiap dikunjungi murid-muridnya. Ya sikap itu sejak dulu hingga kini belum berubah. Sikap pak Bachri yang macam itu mengingatkan Imam pada puisinya Piek Ardianto yang pernah diajarkan pak Bachri pada Imam dan kawan-kawan di SMA dulu. Sepenggal bait puisi itu berbunyi :

DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA
Apakah yang kupunya, anak-anakku
Selain buku-buku dan sedikit ilmu
Sumber pengabdianku kepadamu

Kalau dihari minggu engkau datang kerumahku
Aku takut, anak-anakku
Kursi-kursi tua yang ada di sana
Dan meja tulis sederhana
Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya.
Semua padamu akan bercerita
Tentang hidupku di rumah tangga

Sejenak pembicaraan antara keduanya terhenti. Mata pak Bachri menatap keluar rumah. Pandangan itu tampak kosong. Air matanya kembali menetes perlahan jatuh di tangan di atas pangkuannya.
Tetesan air mata pak Bachri kali ini bukan karena bangga dan haru menelorkan murid seperti Imam. Tidak. Tetapi air mata Pak Bachri kali ini menangisi moral bangsanya yang sedang mengalami degradasi. Degradasi moral yang melahirkan berbagai tindak unmoral. Ia merasa semua itu terjadi tak lepas dari tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Ia merasa prihatin dan berdosa telah melahirkan koruptor-koruptor di negerinya. Koruptor dari kelas teri hingga kelas kakap. Korupsi terjadi di mana-mana, hampir di setiap departemen, dan disetiap segi kehidupan.

Ia merasa berdosa telah melahirkan premanisme di hampir segala segi kehidupan. Dimana-mana terdapat preman. Dari preman berdasi, preman kantoran, hingga preman-preman jalanan, preman kubangan, preman prapatan, preman lampu merah, preman pasar, perman perpajakan, preman kehutan, preman beacukai, preman peradilan, dan preman-preman lainnya.

Kabar dari berbagai mass media mengabarkan, diberbagai tempat masih terjadi mapia. Peradilan, satu-satunya lembaga di negeri ini yang diharapkan rakyat memperoleh keadilan, dan dapat menegakkan keadilan, malah menjadi lembaga mapia, mapia peradilan. Lagi pula selama ini peradilan hanya dapat mengadili para koruptor kelas teri yang sudah tak berdaya. Peradilan hanya mengadili rakyat kecil. Sedang koruptor kelas kakap dari pejabat tinggi hampir belum tersentuh tangan peradilan, lepas dari jerat hukum.

Air mata pak Bachri terus menetes dan semakin deras. Pak Bachri menangisi anak-anak muda jaman sekarang yang telah teracuni oleh narkoba, yang menyebabkan mereka kehilangan jatidirinya. Budaya asing yang tak lagi cocok dengan nilai budaya bangsanya, telah mengambil alih dan menjadi tren anak muda jaman sekarang. Sopan santun tak lagi menghiasi perilaku mereka. Tatakrama hilang dari sanubari mereka. Sikap hormat kepada orang tua, kepada yang lebih tua, kepada guru, kepada orang lain tak lagi mereka indahkan. Tawuran antar pelajar sering menjadi pemandangan dan hiasan berita Koran setiap hari. Geng-geng pelajar menjadi tren kaum muda.

Hati Pak Bachri sangat sedih kalau sampai soal moral bangsanya. Untung ia masih punya mantan murid seperti Imam yang siang itu menyempatkan berkunjung kerumahnya. Ia merasa kunjungan Imam adalah kunjungan kehormatan. Kehormatan dari seorang siswa yang ingat dan menghargai jasa gurunya. Penghargaan cara ini lebih nyata daripada pak Bachri dinyanyikan himne guru.

Himne guru menurutnya, hanyalah lagu untuk meninabobokan guru, yang hanya menambah deritanya. Baik derita seorang guru dalam hidupnya di rumah tangga, maupun terpuruknya moral bangsa yang semakin hari semakin memprihatinkan. Sehingga profesi guru menjadi momok bagi generasi muda. Guru sering dicaci karena kinerjanya yang tidak mampu mampu membangun karakter bangsanya dan gajinya yang mencukupi kebutuhan hidupannya karena gaji yang belum memadai. ‘Guru itu berpangkat jendral, tapi gajinya kopral.’ Ungkapan yang sering didengar pak Bachri dari orang-orang disekelilingnya dengan nada agak sinis.

“ Tolong…bagaimana saya harus memanggil Anda sekarang ? Mas… atau Pak ?” Kata pak Bachri meminta klarifikasi dan konfirmasi dari Imam, soal pagilan sapaan untuk Imam.

“ Ah Bapak…biasa saja Pak. Panggil saja saya Mas atau Mam atau Imam begitu saja Pak. Seperti yang dulu saja Pak. Biar terasa akrab dan mengeluarga. Anak tetap anak. Tidak sebutan mantan anak Pak. Kalau mantan istri ada, tetapi kalau mantan anak saya kira tidak ada Pak.” Penjelasan Imam yang demian, menjadikan pak Bachri tertawa meriah. Keduanya tertawa lepas hingga melumat kekakuan perbincangan siang itu.

“ ya sudahlah, aku pilih panggil kamu Mas sajalah. Dan maafkan saya berkamu-kamu pada Mas Imam. Begini lho Mas, Anda kan kini menjadi pejabat penting di jajaran pendidikan pusat. Tolong benahi departemen ini. Dari pusat hingga di tingkat bawah. Tolong benahi moral para pejabatnya dan seluruh insan tenaga kependidikan. Tolong benahi sistem pendidikan kita. Masih banyak yang harus kita benahi di departemen ini. Agar kelak lembaga pendidikan yang bernama sekolah, dapat melahirkan anak bangsa yang maju dan bermartabat.

Hindarkan lembaga pendidikan kita ini bebas dari kepentingan-kepentingan. Kepentingan pribadi, kepentingan kelompok dan golongan, serta kepentingan politik. Perhatikan nasib anak miskin. Ajukan kepada pemerintah anggaran yang cukup untuk pendidikan. Agar dapat meningkatkan mutu pendidikan. Pendidikan bermutu memang butuh dana yang tidak sedikit. Dana pendidikan harus memadai. Tapi biaya pendidikan jangan dibebankan kepada masyarakat, khususnya masyarakat miskin. Angka kemiskinan di negeri kita masih cukup banyak

Dengarkan suara guru. Perhatikan nasib guru. Kalau profesi guru nasibnya seperti profesi yang lain, saya kira guru nantinya menjadi profesi pilihan. Bukan menjadi pilihan yang kesekian. Kalau profesi guru menjadi pilihan utama, wah… hebat nanti pendidikan kita. Dan bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. ” Pinta pak Bachri pada Imam.

Imam terdiam mendengar masukan dan keluhan pak Bachri tentang dunia pendidikan di negeri ini. Baginya, apa yang diceritakan pak Bachri merupakan realita dunia pendidikan di negeri ini, di saat ini. Pernyataan mantan gurunya itu memang benar adanya.

Di hati Imam berjanji, apa yang menjadi keluhan dan permintaan pak Bchri tentang berbagai permasalahan di dunia pendidikan ini, akan diperjuangkan bersama teman-temannya yang memiliki andil dalam pengambilan kebijakan di dunia pendidikan. Tapi yang menjadi kendala bagi Imam, belum semua para pengambil kebijakan mempunyai sikap dan niat yang sama. Kepentingan pribadi dan golongan sering masih di kedepankan.
Tak terasa perbincangan antara pak Bachri dan Imam, antara guru dan mantan muridnya itu, telah berjalan dua jam lebih. Imam segera pamitan untuk kembali ke Jakarta.

Pak Bachri berdiri di pinggir jalan melepas tamunya. Dipandanginya mobil Imam yang telah mulai merambat berjalan, hingga akhirnya melaju meninggalkan dirinya, lepas dari pandangannya. Air mata pak Bachri kembali menetes ke bawah, di atas bumi. Bumi pertiwi yang ia cintai.

Sepeninggalan Imam dari pandangannya, air mata pak Bachri berubah. Air mata bahagia itu kembali menjadi air mata kesedihan. Sebab, pak Bachri sadar, ia akan kembali berhadapan dengan murid-murid jaman sekarang yang nakal, yang bandel dan isu-isu miring anak-anak bangsa yang masih banyak membuat kepala pusing bagi orang tua, guru dan masyarakat dan pemerintah. Betapapun mereka yang membuat kesedihan itu adalah pruduk guru. Makanya, gurulah yang pertama-tama di tuding, jika terjadi anak-anak bangsa ini bertindak immoral.

Dalam perjalanan pulang Imam membawa catatan-catatan penting dari akar bawah, tentang pr yang harus dikerjakan di dunia pendidikan. Imam sadar bahwa jabatan penting yang ada dipundaknya, adalah amanat dari akar bawah. Itulah sebabnya Imam sering turun ke bawah, untuk memperjuangkan nasib akar bawah. Ia sadar, ia menjadi besar dan bermakna karena dukungan akar bawah.
***

Cawas, Akhir April 2008

Tulisan lain yang berkaitan:

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP