Lelaki di Hari Ulang Tahun

Wednesday, 27 October 2010 (07:30) | 171 views | 0 komentar

Marsus Banjarbarat*
Tepat di bawah jendela rumahnya. Lelaki itu duduk merenung. Menghitung telunjuk jari-jarinya. Diam sejenak. Ada yang ganjil dalam benaknya. Setelah sesaat, dia hampiri kalender yang sedang menggantung rapuh di dinding kamarnya. Sorot pandangnya tertuju tajam pada angka dua puluh. Ya, tangal dua puluh September: hari ulang tahun lelaki itu.

Oh, ternyata dia baru ingat, kalau hari itu adalah hari ulang tahunnya.

Selama belasan tahun, tak pernah sekali pun dia merayakan hari ulang tahun. Jangankan merayakan, mengingatnya saja tak pernah. Baru kali itu, ya baru kali itu dia ingat kalau tapat pada hari ulang tahunnya.

Entah, apa yang membuatnya tiba-tiba teringat akan hari ulang tahun. Bukan hanya ingat, bahkan lelaki itu ingin sekali merayakannya. Walau sekali saja dalam hidupnya. Seperti teman-temannya ketika mengundang ke hari ulang tahunnya. Pikirnya. Tapi, tak mungkin untuk dia lakukan. Bukan tak ada teman yang ingin di undang, atau sepeser uang membeli kue untuk di potong, bukan! Bukan sebab itu. Tapi, jika dia merayakan hari ulang tahunnya, dia akan merasa salah dan durhaka pada almarhumah ibunya.

“Jangan sekali-kali kamu merayakan hari ulang tahun,” begitu ucap ibunya sewaktu lelaki itu masih berumur sepuluh tahunan.

“Memangnya kenapa, Bu?” Tanyanya pada sang ibu.

“Jangan banyak tanya, patuhi saja apa kata ibu jika kamu ingin selamat dalam hidupnya,” sang ibu pergi tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. Dan beberapa hari kemudian, sang ibu itu meninggal karena penyakit kangker otak yang di deritanya.

Bermula dari ucapan ibulah lelaki itu tak pernah mengingat-ingat hari ulang tahunnya. Ia pikir, lupa akan hari ulang tahun—sama dengan selamat dalam hidupnya. Dan juga sebaliknya.

Tapi, entah kenapa pada hari itu. Hari di mana dia sudah menginjak umur dua puluh tahun, tiba-tiba saja dia serasa di undang ingatannya untuk merayakan hari ulang tahunnya. Apakah ini salah satu pertanda akan datangnya kehancuran hidupku? Tanyanya dalam hati. Ah, tidak! Ucapnya, ia tepis dugaan-dugaan aneh dalam benaknya.

Lelaki itu masih berdiri tagap di depan kalender yang menggantung di dinding kamar. Sesekali dia berpikir, apa maksud ucapan ibu beberapa tahun silam? Benarkah jika aku merayakan hari ulang tahun akan menutup kebahagiaan dalam hidupku? Desisnya. Lelaki itu hanya diam, menduga-duga tentang kebenaran ucapan almarhumah ibunya beberapa tahun silam.

“Tapi, apa salahnya jika aku mencoba sekali-kali untuk merayakan hari ulang tahun? Mengundang teman-teman serta keluarga yang sudah lama tak jumpa denganku? Bukankah apa yang ibu katakan hanya ia pinta sewaktu masih berada. Dan sekarang ibu sudah bahagia hidup di alam surga sana,” ucapnya lirih, selirih angin yang masuk dari pintu jendela yang sedikit terbuka.

Kemudian, lelaki itu beranjak menyisihkan kakinya menuju tempat kuburan ibunya. Seperti biasa, setiap hari Jum’at, ketika hari sudah hempir petang, lelaki itu mendatangi kuburan ibunya. Mengaji, membacakan ayat-ayat suci yang dia khususkan pada almarhumah ibunya. Dan pada saat itu pula, lelaki itu seraya minta izin, untuk sekali saja merayakan hari ulang tahunnya.

Seusai lelaki itu mengaji, dia pulang. Dan mengundang semua teman-temannya agar meraka hadir pada acara hari ulang tahun yang dia rencanakan. Ya, hari ulang tahun yang baru pertama kali ingin dia rayakan.

Rasa getir, takut, sebenarnya juga dia rasakan. Apakah yang akan terjadi kalau lelaki itu benar-benar merayakan hari ulang tahunnya? Dan benarkah apa yang pernah sang ibu wasiatkan akan benar-benar menjadi kenyataan? Lelaki itu tak bisa menjawabnya. Biarlah kenyataan apa pun nantinya yang menjadi jawaban yang sebenarnya. Dia hanya pasrah saja.

Malam itu, sebelum para tamu undangan datang menghadiri acara hari ulang tahunnya. Dan lelaki itu sudah siap dengan berbagai menu makanan untuk menyambut teman-teman dan keluarga yang di undangannya. Tiba-tiba saja lelaki itu mendengar ada suara-suara aneh yang sedang memanggilnya. Menyuruhnya keluar untuk menemui kuburan ibunya.

Sontak, setelah tak seberapa dari jedah suara-suara itu, lelaki tersebut seperti kebingungan, tak tentu arah, mengamuk, melempar semua barang-barang yang sudah tersusun rapi di atas mija: piring, gelas, sendok, semuanya hacur ia lempar ke lantai.

“Dia kesurupan”

“Dia kemasukan setan” celetuk yang lain.

“Segera panggil ibunya, hanya dialah yang bisa menyembuhkan!” perintah yang lain.

Mereka para undangan hanya diam kebingungan. Setelah sejenak, seseorang mengahampiri lelaki yang kesurupan itu. Melihatnya penuh selidik. Ia usap ubun-ubunnya. Lalu di tiupnya.

“Celaka! Mana ibunya. Hanya dialah yang bisa menyembuhkan.”

“Ibunya sudah meninggal” jawab yang lain.

“Lalu, bagaimana? Apa tak ada cara lain selain mendatangkan ibunya?” tanya seseorang menghampirinya.

“Tidak! Karena laki-laki ini pernah disumpah oleh ibunya untuk tidak mengadakan acara ulang tahun, tapi dia sekarang melanggarnya. Jadi, hanya dengan ridha ibunya dia bisa sembuh.”

“Kalau begitu, kita gagalkan saja acara hari ulang tahun ini.”

Satu persatu para undangan pergi meninggalkan rumah lelaki itu. Di susul juga teman-teman dekatnya, juga keluarganya. Hingga lelaki itu hanya tingal sendiri. Dan entah bagaimana kini nasibnya?***

Jogja, Oktober 2010

*)Penulis adalah penikmat sastra, tinggal di Jogja.

Tulisan lain yang berkaitan:

Tidak ada tulisan lain yang berkaitan!

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP