CARA CERDAS MELAKUKAN PENYIMPANGAN

Saturday, 23 October 2010 (22:20) | 187 views | 15 komentar

Oleh Supandi Daroji (Pengurus Agupena Kabupaten Cilacap)
“Pak..” sapa seseorang kepada saya di ruang guru. Spontan saya menoleh ke asal suara panggilan tersebut.

“Anda memanggil saya” jawab saya.

“Iya pak. Bapak masih ingat saya? Tanyanya.

Sambil menjabat tangannya, saya perhatikan wajah si tamu tersebut. Sekilas nampak asing. Tetapi setelah saya perhatikan dengan seksama wajahnya, seketika saya teringat dan yakin bahwa saya pernah melihatnya beberapa tahun yang silam.

Dari pengakuannya, benar bahwa dia adalah salah seorang siswa saya sepuluh tahun yang lalu. Obrolan panjangpun terjadi diantara kami. Ada kebanggaan yang saya rasakan setelah dia menceritakan tentang kesuksesannya. Hidup saya terasa bermakna setelah saya mengetahui bahwa dia sekarang sudah menjadi seorang pejabat teras di Departemen Luar Negeri. Seorang siswa yang ketika masa sekolahnya nampak biasa-biasa saja, kini telah menjadi seorang pejabat yang sukses.

Dari obrolannya saya juga bisa menikmati alur pembicaraan yang begitu mengalir, padat, dan bermakna. Seakan saya sedang ngobrol dengan orang yang jauh diatas saya tingkat intelektualitasnya. Hampir-hampir tidak menyadari bahwa dia adalah murid saya. Berwibawa, banyak pengalamannya, rapi, dan bersih. Sungguh tidak disangka bahwa seorang anak yang pada saat menjadi siswa termasuk anak yang pendiam ternyata menyimpan sebuah misteri. Diam-diam menghanyutkan, karena ada visi pribadi didalam pikirannya.

Kesempatan ngobrol yang cukup lama, terasa sangat singkat. Yang demikian itu dapat Anda rasakan jika Anda berkesempatan ngobrol dengan orang-orang sukses, orang-orang bijak, ataupun para intelek.
Ada satu konsep tentang kesuksesan yang bisa saya ambil dari prinsip hidup yang diaplikasikan dalam langkah hidup dia selama ini.

Konsep tersebut dikemas dalam sebuah slogan yang sarat dengan makna. Bunyi slogan tersebut berbunyi “be the unique” (Jadilah orang yang berbeda). Menjadi orang yang berbeda merupakan sebuah urgensi. Mengapa demikian? Karena sebagian besar orang berpikir apa adanya. Artinya mereka menjalankan kehidupan ini sebagaimana adanya, bebas dari tirani prinsip, visi, dan misi yang jelas.
Orang dengan tipe apa adanya memiliki konsekuensi mudah hanyut ke dalam konformitas. Konformitas adalah perilaku seseorang yang cenderung sama atau seragam dengan perilaku kelompoknya. Ketika sebagian anggota kelompok memiliki kebiasaan berperilaku positif, maka akan sangat bermanfaat bagi seseorang. Dalam skala yang luas, konformitas saya maknai sebagai bentuk komunitas manusia dengan jangkauan wilayah yang tidak terbatas. Dari beberapa survey yang dilakukan oleh para pakar menunjukkan bahwa sebagian besar orang berpikir dan bersikap seadanya. No action think only.

Perbedaan individual dalam konformitas dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok non conformist dan kelompok conformist. Kelompok non conformist dalam mensikapi fenomena yang berlaku dalam kelompoknya lebih independent. Sedangkan kelompok conformist menerima norma yang berlaku di kelompoknya apa adanya. Mereka memiliki need for affiliation yang besar.
Seseorang dengan tipe conformist memiliki keengganan untuk menghindar dari konformitas. Mereka takut jika harus membelot dari kelompoknya. Dengan entengnya mereka masuk kedalam dan mengekor perilaku yang dilakukan oleh orang-orang yang ada didalam, tidak peduli apakah itu perilaku positif atau perilaku negatif. Alasannya cukup sederhana, yaitu khawatir jika dia dianggap melakukan penyimpangan dari kebiasaan yang sudah ada.

Menjadi the unique (berbeda dengan orang lain) merupakan sesuatu yang urgen. Dengan menjadi orang yang memiliki tipe the unique, maka Anda akan memiliki visi pribadi yang handal. Sikap ini merupakan cara yang cerdas untuk melakukan penyimpangan dari konformitas ketika mereka membiasakan diri dengan perilaku yang kontradiktif dengan suara hati dan panggilan jiwa.

Sebagai penutup, saya mohon maaf kepada Anda, pembaca yang budiman, atas ilustrasi yang saya gambarkan diatas tentang murid saya, karena cerita tentang murid saya diatas semata-mata hanya obsesi saya belaka. Obsesi untuk memiliki murid yang memliki paradigma the unique. Murid yang memiliki cakrawala pandang berbeda dengan sebagian besar teman-temannya. Ketika teman-temannya belum memiliki konsep diri yang jelas, dia mampu tampil dengan visi pribadi yang terarah. Dia mampu mengumpulkan energi positif, tekun menghadapi kesulitan, dan tampil sebagai pribadi yang berprestasi. Dia mampu membangun konsep masa depan yang jelas.

Supandi Daroji, Alumni Writer Schoolen angkatan 16, Pengurus Agupena Kabupaten Cilacap.

Tulisan lain yang berkaitan:

img ENERGI POSITIF BELAJAR (23 October 2011, 212 views, 0 respon)
img Pengumuman 5 (Lima) Karya Tulis Terbaik Agupena Jateng 2010 (24 November 2010, 509 views, 13 respon)

15 Responses to “CARA CERDAS MELAKUKAN PENYIMPANGAN”

  1. Mirza GM. on Sunday, 24 October 2010 (pukul 7:43 am)

    Tapi lebih penting bagi seseorang adalah “menjadi diri sendiri”, karena siapapun yang berpura-pura menjadi orang lain suatu saat akan capek, karena kehabisan energi …

    Good luck Mr. Supandi

    Reply

  2. supandi Cilacap on Monday, 25 October 2010 (pukul 8:34 am)

    Terima kasih pak Mirza telah membaca tulisan saya. Jadi tambah semangat.

    Salam sukses.

    Reply

  3. saeri on Monday, 25 October 2010 (pukul 8:38 am)

    Scara fitrah manusia tercipta sudah berbeda, tinggal bagaimana kita dapat memperbesar atau memperkecil perbedaan terhadap manusia lain. Ada kalanya kita harus berbeda, namun suatu ketika kita memang harus sama dengan manusia lain. Semoga, perbedaan yang positif, yang bermanfaat, dan yang membesarkan jiwa, yang perlu ditumbuhkembangkan

    Reply

  4. Supandi Cilacap on Monday, 25 October 2010 (pukul 7:05 pm)

    Betul pak Saeri. Membesarkan the unique diperlukan apabila ingin melakukan change. selama lingkungan dlm keadaan kondusif dan memotivasi, maka menjadi the unique tdk diperlukan.

    Salam.

    Reply

  5. Zaenal Arifin on Tuesday, 26 October 2010 (pukul 8:02 am)

    Sebagian besar orang di sekitar kita justru nyaman dengan status ‘biasa-biasa saja’. Jadi guru yang biasa-biasa saja, karena takut dicap ambisius dan ‘ngolor’, jadi muslim yang biasa-biasa saja karena takut dicap ‘radikal’, dsb…

    Reply

  6. Supandi Cilacap on Wednesday, 27 October 2010 (pukul 12:17 am)

    Pak Zaenal, itulah yg mendasari tulisan saya. Trm kasih kunjungannya.

    Reply

  7. Istikumayati on Wednesday, 27 October 2010 (pukul 2:16 am)

    Kalau kita memandang “the unique”, hanya dari kata itu saja, akan banyak persepsi yg muncul. Termasuk anggapan bahwa untuk menjadi unique berarti menjadi bukan diri sendiri. Namun, dalam konteks ini, “the unique” lebih ditekankan pada kemajuan diri seseorang untuk menjadi “beda” yang plus, tidak serta merta berserah diri pada apa yang ada saat ini.
    Banyak bahkan terlalu banyak pemandangan orang2 yang “berusaha” menjadi orang biasa-biasa saja, akhirnya menghambat segala potensinya untuk maju. Banyak hal, salah satunya kurangnya motivasi dan tidak ada target kemajuan ke depan, yang logis dan terukur.
    Wallahu alam bi showab.
    Kuma
    SMAN 1 Krian

    Reply

  8. Deni Kurniawan As'ari on Wednesday, 27 October 2010 (pukul 2:22 am)

    Aku seneng banget melihat diskusi dan komunikasi ini.

    Lanjutkan kawan!

    Salam agupena! :razz:

    Reply

  9. Supandi Cilacap on Wednesday, 27 October 2010 (pukul 11:47 pm)

    @Mba Isti : Cerdas sekali mba, Betul, Menjadi the unique dalam artian beda yang plus.

    @Mas Deni : Membangun semangat berbagi sbgmana semboyan Agumena. Trm dukungannya.

    Reply

  10. Agata Diah Timoryawati on Friday, 29 October 2010 (pukul 2:15 am)

    Jazakillah tuk tulisan yg sarat dg hikmah…semoga sy mampu menjadi bunda yang berbeda dg bunda2 yang pada umumnya.. tidak hanya sekedar memenuhi kewajiban dan pulang tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk anak didiknya…sy ingin ketika sy pulang dari tempat sy mengajar sy memiliki pengalaman yang membuat sy bisa mengambil hikmah dari interaksi kami di sekolah…Insyaallah

    Reply

  11. supandi Cilacap on Saturday, 30 October 2010 (pukul 1:56 am)

    Mba Diah : Trm kasih telah membaca tulisan sy. Marilah kita laksanakan tugas kita dgn banyak memberikan manfaat kpd anak2 dan org lain.

    Salam

    Supandi
    Penulis buku Setting Up Your Children’s Success, insya Allah terbit Desember 2010, Gramedia Jkt.

    Reply

  12. atik on Saturday, 30 October 2010 (pukul 9:09 am)

    Memang Pak…banyak orang sekarang orang (guru) yang nyari amannya saja, banyak yang berkompromi dengan ketidakbenaran…meski kadang nggak sesuai hati nurani mereka…boro-boro mau jadi diri sendiri… apalagi musim sertifikasi sekarang idealismenya banyak yang sudah tergilas dengan roda “tunjangan”…

    Reply

  13. supandi Cilacap on Saturday, 30 October 2010 (pukul 11:15 am)

    Mba Atik : Itulah fenomena yang terjadi. Marilah kita awali dari diri sendiri.
    Trima kasih komennya.

    Reply

  14. Ki Sabda Asih on Monday, 1 November 2010 (pukul 6:54 am)

    Prinsipnya, saya setuju dengan tulisan ini yang menekankan pentingnya menjadi seorang yang berbeda yang melakukan sesuatu yang tidak umum dilakukan orang lain, jika kita ingin sukses dunia dan akhirat.

    Jadi ingat nasihat Pak Kyai, bahwa di akhir jaman ini kalau kita mengikuti apa yang kebanyakan dilakukan orang pada umumnya, kita sering terjerumus pada jurang kesalahan dan dosa. Dalam pergaulan pun, ada dua konsekuensi, terpengaruh atau mempengaruhi. Nah,senada dengan tulisan di atas, jadikan diri kita selalu mengilhami orang lain berbuat baik, berbuat kreatif, inovatif dan …. lakukan bid’ah khasanah (penyimpangan yang baik).

    Reply

  15. Supandi Cilacap on Wednesday, 3 November 2010 (pukul 10:50 am)

    KSA : Komen yg sangat cerdas. Setuju mas, kita seharusnya bs mengilhami orang lain, kreatif, inovatif, dan mampu melakukan bid’ah khasanah atau bid’ah yg baik. Thank you.

    Reply

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP