Menyongsong Gareng “Dadi Bupati”

Monday, 11 October 2010 (06:58) | 56 views | 1 komentar

Oleh ROTO (Ketua Umum Agupena Kab. Semarang)
NAMA Gareng dalam dunia pewayangan bukan nama yang asing, sebab dia adalah bagian dari punakawan,: “Semar, Gareng, Petruk lan Bagong.” Punakawan dapat diidentikkan penggambaran (bermakna filosofis) perwakilan rakyat jelata. Berprofesi sebagai pamamong atau pembantu seorang satria yang berwatak jujur, berani dan pembela kebenaran.

Di mana ada punakawan disitu ada Arjuna/Janaka/Permadi. Arjuna adalah penggambaran satria berperawakan sempurna. Orangnya halus budi pekertinya, tenang pembawaannya dan berwajah tampan yang selalu mengembara untuk bertapa (mencari ilmu). Makna filosofisnya adalah penggambaran watak kesatria yang jujur, pemberani, pencari ilmu dan pembela kebenaran.

Gareng secara individual digambarkan sebagai pamamong, orangnya berbadan kecil, tangannya cekot diartikan manusia tidak ada yang sempurna. Dan kakinya bubulen, sehingga jalannya jinjit (terkesan pincang). Jinjit dapat ditafsirkan dalam menentukan langkah penuh pertimbangan, hati-hati, namun cermat.

Walau sebagai rakyat jelata, dia termasuk mewakili orang yang tidak asal bunyi (asbun). Dia, berperan sebagai penghibur dan penenang kepada bendoro atau juragan. Dalam hal ini bendoronya adalah Janaka. Jika Janoko sedang dalam kekalutan, maka Gareng berperan untuk membantu dan memberi saran kepada bendoronya, agar dalam mengambil keputusan bisa tepat dan bijak demi kepentingan rakyatnya secara luas.

Nama Gareng walau digambarkan hanya sebagai pamamong, namun dia telah banyak makan asam garam kehidupan dan berperilaku andap asor atau rendah hati dan tidak congkak.
Artinya dia telah banyak berpengalaman dalam mengarungi kehidupan bersama rakyat, dan bersama satria yang mengelola negara. Sehingga figur Gareng dapat dikategorikan bukan orang yang bodoh, jika hanya diserahi sebagai bupati, sekalipun diserahi sebagai ratu (presiden)-pun dia akan sanggup menjalankan amanah rakyatnya.

Dia selama ini lebih banyak terlibat secara langsung mengetahui sekaligus ikut merasakan, suka dan dukanya rakyat jelata. Sekalipun sebagai kacung ia jalankan, asal mendapat rejeki yang halal. Dia lebih memahami sulitnya mencari rejeki tambahan untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Dengan tekat bulat dan kuat, dia menjalani kehidupan dengan senang hati dan bergembira tanpa mengenal lelah. Kemana bendoronya pergi dengan setia dia akan selalu mendampingi dalam suka atau pun duka. Justru kehadirannya sangat diperlukan bendoronya bila sedang gundah gulana saat memikirkan derita rakyatnya.

Program bupati
Berkait dengan jabatan terbarunya sebagai bupati, berarti dia sekarang mempunyai peran yang sangat strategis dan riel untuk menciptakan keadialan dan kesejahteraan rakyatnya. Berbekal pengalamannya semasa menjadi pamamong yang bisa ajur ajer (mudah menyesuaikan) kepada rakyat kelas bawah dan pengalaman mendampingi kesatria atau orang-orang raja pemerintahan.

Maka dalam menentukan program kerjanya sebagai bupati, lebih mendahulukan atau mengutamakan kepentingan rakyat kelas bawah, kemudian meningkat kepada aparatur pegawai pemerintah.

Adapun skala prioritas rancangan programnya adalah: Pertama, berusaha mewujudkan kesejahteraan rakyat miskin atau rakyat prasejahtera. Contoh konkritnya mewujudkan pendidikan dasar gratis dari 9 tahu, dan secara berjenjang menuju pendidikan gratis 12 tahun.

Dilanjutkan pada pendidikan perguruan tinggi murah, dengan cara memberi bantuan biaya kuliah dan mengganti secara mengangsur setelah bekerja. Kedua, memberi bantuan berobat murah sampai gratis, dengan cara menunjukkan kartu miskin atau kurang mampu.
Ketiga, mengglontorkan program padat karya di masing-masing desa. Dengan cara memperbaiki infrastruktur jalan dan mengadakan jalan baru. Meliputi perbaikan selokan, pengadaan sumur umum, WC umum, pengadaan embung, pengadaan penghijauan, dan lain-lain. Didukung pula pemeliharaan gedung SD, SMP dan pengadaan gedung baru SMP, sampai pada SMA/SMK, dengan computer serta internetnya.

Keputusan tersebut didasarkan pada kebijakan agar tersedia lapangan kerja seluas-luasnya di desa. Jika itu terwujud maka perekonomian di desa menggeliat dan hidup. Secara tidak langsung mencegah terjadinya urbanisasi. Itu artinya slogan gubenur “Bali ndeso, mbangun desa” benar-benar terasa manfaatnya.

Agar perwujudan pembangunan pedesaan akan cepat terwujud, maka harus didukung kesepakatan pemekaran kota kecamatan, dan kota kabupaten, serta dibarengi pemindahan letak ibu kota kabupaten.

Memberdayakan pemberian ijin berdirinya industri baru oleh pihak swasta secara merata. Memperbaiki kondisi pasar tradisional, agar mampu bersaing secara sehat dengan berdirinya berbagai super market/mol.

Pentingnya kompromi
Untuk mewujudkan program tersebut tentu membutuhkan dana yang tidak kecil, bahkan besar. Mengingat bupati (lembaga eksekutif) tidak bekerja sendirian, maka dia harus bersinergi dengan pihak legislatif (DPR), untuk memaparkan program-programnya.

Guna mendapat dukungan riel dari pihak legislatif maupun lembaga lain-lainnya. Begitu juga dengan pihak pemerintahan ditingkat propinsi dan tingkat pusat. Dan tidak kalah pentingnya harus mampu menjalin kerjasama yang harmonis dengan pihak-pihak swasta.

Bupati terpilih yaitu Gareng sangat lantang dan berapi-api untuk mewujudkan program yang sangat pro rakyat tersebut, tiba-tiba dia terjatuh dari amben (tempat tidur), tanpa kasur alias hanya selembar tikar klaso. Akhirnya dia menangis sesengguan, karena menyesali nasibnya, mengapa saya menjabat Bupati hanya dalam hitungan menit.

Semestinya saya harus bisa menikmati terlebih dahulu indahnya naik mobil mewah, dan uang melimpah. Kemudian pergi ke luar negeri dengan alasan studi banding, naik pesawat terbang, didampingi penyanyi pop, rock dan dangdut yang cantik en bahenol. Setara dengan Dewi Persik, Luna Maya, Cut Tari, Yulia Peres, disertai penginapan hotel berbintang.

Pergi selalu dikawal polisi, dokter pribadi dan lain-lain. Tapi apa hendak dikata, memang nasib Gareng hanya sebatas rakyat jelata. Namun, dia masih bisa berbangga dan berkelakar: “Saya justru bersyukur, karena tidak jadi berkorupsi.”

Roto, Guru SMP N 1 Sumowono Kab. Semarang, Mahasiswa Pascasarjana UMS

Tulisan lain yang berkaitan:

Tidak ada tulisan lain yang berkaitan!

1 komentar terhadap “Menyongsong Gareng “Dadi Bupati””

  1. roto | Tuesday, 12 October 2010 @ 1:18 am

    Halooo… sedulur-sedulur, terimakasih ya atas terbacanya artikel saya ini. Saya akan merasa tersanjung jika para pembaca berkenan mengomentari artikel tersebut. TQ BUUUAAANGEEETTT. SAMPAI KETEMU PADA SESI LANJUTNYA… YAAA.

    Reply

Komentar Anda?


«
»
IP