Refleksi Seni dalam Pendidikan Karakter
Saturday, 2 October 2010 (05:07) | 849 views | 0 komentar
oleh ROTO (Ketua Umum AGUPENA Kab. Semarang, Pendidik di SMP N 1 Sumowono Kab. Semarang)
MEMASUKI minggu kedua setelah libur lebaran, selaku guru seni budaya (seni musik, seni tari, seni rupa & seni teater) khususnya dan selaku guru tingkat SMA & SMP umumnya. Sewajarnya untuk berkenan merefleksi kembali apa, mengapa, dan bagaimana yang harus dilakukan dimasa mendatang, berkait dengan pendidikan karakter.
Pendidikan seni merupakan bagian dari rumpun pendidikan nilai. Dalam konteks kebangsaan pendidikan nilai erat kaitannya dengan pembentukan dan pengembangan watak bangsa. Artinya bagaimana watak bangsa dibentuk sangat bergantung pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional (Jazuli, 2008 hal: 24).
Semenjak tahun 2009 pemerintah telah menggulirkan paradigma pendidikan karakter. Hal tersebut terjadi berkait dengan merosotnya nilai moral generasi penerus bangsa. Contoh kasus Artalyta Suryani, Kasus Gayus Tambunan, kasus rekening gendut polri dan lain-lain. Namun, sampai tahun ajaran 2010/2011 implementasi pendidikan karakter yang sebenarnya bagi masing-masing guru mata pelajaran (mapel) di setiap sekolah masih gelap gulita.
Berkait hal tersebut, selaku guru di tingkat sekolah mencoba meraba-raba apa dan bagaimana menjabarkan pendidikan karakter, untuk diimplentasikan secara riel dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu pendidikan yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Pendidikan karakter menjadi sangat penting diterapkan di sekolah. Hasil penelitian Dr Marvin Berkowitz dari University of Missouri St Luois menegaskan, bahwa penerapan pendidikan karakter di sekolah pasti akan diikuti dengan meningkatnya motivasi peserta didik dalam meraih prestasi akademik, (SM, 14/8/10).
Pendidikan budi pekerti plus dapat ditafsirkan menekankan pada pola piker (mindset) dan perilaku rendah hati. Dalam arti semakin meningkatnya kejujuran, kedisiplinan, sopan santun, bertanggungjawab, mandiri, kreatif, percaya diri, etos kerja tinggi, pantang gagal, dan lain-lain. Serta berani menentukan pilihan sekaligus berani menghadapi segala resikonya.
Pendidikan Seni
Pendidikan seni umumnya dan pendidikan seni rupa khususnya merupakan bagian dari mapel Seni Budaya. Materi seni rupa secara umum mencakup pokok materi pengertian seni; cara-cara melukis; menggambar; membuat seni pakai (kerajinan/seni kria); membuat patung; membuat batik; dan lain-lain.
Penjabaran pokok materi tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah. Dalam arti dapat mengembangkan dan mewujudkan hasil seni untuk pruduk unggulan dari masing-masing sekolah, sejalan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Menurut M. Nuh, penanaman karakter yang paling penting adalah kejujuran, karena kejujuran bersifat universal. Nano Riantiarno (Teater Koma) mengatakan: “Permasalahan seni selalu ada dalam setiap bangsa dan menjadi akar budaya bangsa itu” (Derap Guru, Juli 2010: 24).
Melukis secara umum merupakan materi yang menarik bagi siswa tingkat SD, SMP, dan SMA. Adapun cara yang dapat dijadikan rujukan dalam menanamkan pendidikan karakter antara lain: Pertama, pemahaman pengertian melukis. Melukis merupakan ungkapan jiwa, meliputi rasa duka dan bahagia atau rasa sedih dan gembira, dengan media utama pewarna, kertas gambar, kanvas, dan lain-lain.
Menurut Affandi (http://id.wikipedia.org,9/9/2010) dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme.
Merujuk pada batasan pengertian lukis tersebut, dapat ditafsirkan bahwa melukis merupakan sarana mengungkapkan jiwa sebebas-bebasnya tetapi tetap dalam koridor tanggungjawabnya. Dengan tujuan membebaskan segala kepenatan, keresahan dan atau rasa bahagia yang ada pada masing-masing pribadinya.
Dengan mewujudkan karya lukis, pesan pendidikan karakter yang dapat disampaikan kepada siswa antara lain, 1) Siswa mampu membebaskan gejolak yang ada pada dirinya. 2) Dengan melukis dapat diartikan menanamkan kejujuran, kedisiplinan & ketertiban; 3) Menghargai karya orang lain; dan 4) Yang utama menanmkan rasa cinta kepada Tuhannya; dan lain-lain.
Mencermati realitas tersebut, dapat disimpulkan bahwa materi melukis dapat dijadikan sarana menanamkan pendidikan karakter pada siswa secara langsung dan tidak langsung. Karena dengan sarana melukis dapat dimaknai menamkan kejujuran, keberanian, ketegasan, kemandirian, keterampilan, etos kerja, kreatifitas, kedisiplinan dan lain-lainnya.
Muaranya menjadikan siswa jujur, kreatif dan rendah hati, bukan rendah diri. Berarti, merefleksi seni merupakan awal langkah nyata untuk mengimplementasikan pendidikan karakter sesuai yang diprogramkan Mendiknas M. Nuh.
Oleh ROTO
Pendidik Seni Rupa di SMP1 Sumowono. Ketua Agupena Kab. Semarang. Mahasiswa Pascasarjana UMS
Tulisan lain yang berkaitan:



Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!