Puisi-puisi Religius Sardono Syarif

Wednesday, 25 August 2010 (18:53) | 833 views | 3 komentar

Oleh Sardono Syarief (Ketua Umum Agupena Cabang Kabupaten Pekalongan)

JIKA SUDAH SIAP
Jika sudah siap
Apalagi yang engkau pikirkan
Sementara keranda telah menunggumu di halaman

Jika sudah siap
Apalagi yang engkau ragukan
Sementara adzan telah lama diperdengarkan

Jika sudah siap
Apalagi yang engkau renungkan
Sementara Munkar Nakir telah menunggumu di kuburan

Jika sudah siap
Cepat berangkat
Bukankah para pelayat
Telah usai sholat
Siap mengiringimu dengan kalimat sahadat

Jika sudah siap
Berangkat
Cepat !

Pekalongan, 25 Mei 2010

MAU APA?
Mau apa
Jika nafas telah meninggalkan raga
Menangis
Meronta
Mengharap iba
Semua tak berguna
Sia-sia!

Mau apa
Jika raga telah tak bernyawa
Mengharap kembali ke dunia
Mana bisa
Sedang pentas sandiwara
Telah ditutup tirainya

Mau apa
Jika yang Esa
Telah memanggilmu pulang ke asalnya?

Pekalongan, 25 Mei 2010

KITA INI APA?
Kita ini apa
Raja
Presiden
Menteri
Hakim
Penguasa
Semua tak berarti apa-apa

Kita ini apa
Selain sebutir debu
Yang mudah ditiupNya
Dan kan lenyap begitu saja
Kita ini bukan apa-apa

Kita ini apa…..?

Pekalongan, 25 Mei 2010

SEBENTAR LAGI
Sebentar lagi
Jangan Kaujemput aku detik ini

Sebentar lagi
Biarkan dulu aku selesai mengaji

Sebentar lagi
Kautunggu aku di sini

Sebentar lagi
Aku kan berkemas diri

Sebentar lagi
Nanti Kau kan kukabari

Sebentar lagi
Silakan Kauajak aku berlari
Menghadap Illahi

Pekalongan , 25 Mei 2010

SAJADAH
Kau saksiku berdiri lima kali
Menghadap Gusti

Kau saksiku berdiri seringkali
Tiap malam sepi begini

Kau saksiku berdiri
Meratap harap ridlo Illahi

Sajadah
Masih bisakah
Noktah dosaku
Diampuni Allah?

Pekalongan, 25 Mei 2010

DI ATAS GUNDUKAN TANAH MERAH
Di atas gundukan tanah merah
Diri tertegun
Siapakah di dalamnya jasad yang ditimbun?

Di atas gundukan tanah merah
Diri senantiasa berpikir
Pernahkah selama hidup si jasad mengalunkan dhikir?

Di atas gundukan tanah merah
Diri tak habis bertanya
Sedang mengapakah si jasad di sana?

Ditanyaikah
Dihukumkah
Bahagiakah
Menderitakah

Ah, sungguh diri tak mengerti
Sebab jarak pandang mata kita
Terbatas sudah
Antara hidup dan mati

Di atas gundukan tanah merah
Di dalamnya kita bakal menyerah!

Paninggaran, 1991/2009

Sardono Syarief, merupakan Ketua Umum Agupena Kab. Pekalongan dan Pengurus Dewan Kesenian Daerah Kab. Pekalongan

Tulisan lain yang berkaitan:

img Puisi-puisi: Sardono Syarief (11 October 2010, 104 views, 0 respon)
img Puisi Zulmasri (17 March 2009, 211 views, 2 respon)

3 Responses to “Puisi-puisi Religius Sardono Syarif”

  1. Deni Kurniawan As'ari on Wednesday, 25 August 2010 (pukul 11:09 pm)

    Membaca dan menikmati puisi ini, sungguh membuat hatiku berdebar kencang.

    makasih Bos…. :idea:

    Reply

  2. Im Tri Suyoto on Friday, 3 September 2010 (pukul 5:52 pm)

    ada tiga hal yang tak kumengerti bahkan empat
    jalan garuda ketika membelah angkasa
    jalan bahtera di tengah samudra
    jalan ular saat melata
    bahkan engkau, ternyata bung syarif sardono
    yang masih punya seperti itu

    Reply

  3. Isah Susilawati on Wednesday, 24 November 2010 (pukul 1:30 am)

    ;-) saat kubaca puisi-puisi ini cukup menggetarkan hati dan menyadarkanku dari mimpi panjangku. sangat bagus..

    Reply

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP