SAWITRI

Friday, 14 May 2010 (00:04) | 119 views | 1 komentar

Cerpen Narwan Sastra Kelana

SAWITRI duduk di teras rumah bambunya sambil mengelus-elus perutnya yang telah besar. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum. Pagi itu ia tampak membayangkan sesuatu. Rumah sawitri menghadap arah utara. Menghadap deretan pegunungan Menoreh yang panjang membiru. Dipandangnya puncak-puncak Menoreh sambil berharap suaminya yang hingga kini belum juga pulang mengikuti pentas keliling ketoprak tobongnya.

Saat itu –Sawitri ingat betul- di desanya hadir rombongan ketoprak tobong yang menyajikan tontonan rakyat itu berlangsung hampir satu setengah bulan. Semula Sawitri tidak begitu tertarik. Namun Minul selalu merayunya agar pergi nonton. Dengan berat hati Sawitri menemani sahabat karibnya menikmati pentas ketoprak tobong, hampir setiap malam.

Sajian yang begitu berkesan bagi Sawitri adalah gelaran lakon “Rara Mendut dan Pranacitra”. Kidung kasmaran yang ditembangkan Pranacitra begitu mengusik telinga dan hatinya. Terlebih lagi, yang memerankan Pranacitra adalah seorang lelaki tampan yang menjadi rol di tobong itu. Pranacitra begitu memikat hatinya. Ingin ia menjadi Rara Mendut dan digandrungnya. Sejak terpikat oleh sang Pranacitra, Sawitri jadi ketagihan nonton. Kini gantian Sawitri yang merengek-rengek kepada Minul untuk tidak melewatkan pentas ketoprak tobong itu, setiap malamnya.
¬¬¬
Akhirnya, Sawitri berhasil pacaran dengan sang Pranacitra yang bernama Martoyo. Kedua insan itu sepakat untuk menikah. Rencana pernikahan Sawitri dengan Martoyo semula ditolak oleh keluarganya. Terutama ayah Sawitri. Mereka menganggap bahwa kehidupan tobong tidak cocok dengan kehidupan mereka. Apalagi nantinya Sawitri harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti suaminya.
Sawitri berusaha meyakinkan ayah dan keluarganya. Ia katakan bahwa setelah pernikahan nanti, Sawitri tetap akan tinggal bersama orangtuanya. Biar suaminya yang berkeliling mengikuti rombongannya. Juga meyakinkan keluarganya, bahwa tidak semua laki-laki dalam tobong suka beristri lebih dari satu.

“ Apakah kamu tahu kehidupan dalam tobong, Witri ?” tanya ayahnya.

“ Saya tahu, Pak. Kang Martoyo sudah banyak cerita tentang itu.”

“ Ah, itu kan cerita Martoyo saja. Agar kamu mau diperistri. Apa kamu tahu, jangan-jangan Martoyo itu sudah beristri, punya anak, dan mungkin istrinya tidak hanya satu ….!”

“ Mengapa Bapak berpikiran seperti itu ?”

“ Iya ! Karena sedikit-banyak Bapak tahu kehidupan di dalam tobong. Bapakmu ini dulu keluar dari tobong karena tidak tahan dengan kehidupan yang bertolak belakang dengan hati Bapak. Bapak tidak ingin kamu terseret dalam kesengsaraan batin, hanya karena sebagai istri seorang pemain ketoprak tobong. Sekali lagi Bapak tidak menghendaki itu, Witri !”

Sawitri masih bersikukuh. Berkali-kali alasan ia utarakan untuk meyakinkan ayahnya. Entah bagaimana, Sawitri yang lugu itu kini berubah lebih berani berkata-kata, lebih dari biasanya. Sawitri lebih dewasa, layaknya gadis-gadis perpendidikan tinggi yang pernah KKN di desanya.

Akhirnya pernikahan itu terjadi juga. Sejak itu, Sawitri harus menanggung resiko yang dipilihnya. Ia sering ditinggal suaminya yang berpindah-pindah tempat mengikuti rombongannya. Martoyo pulang kadang seminggu sekali, dua minggu sekali, bahkan sering sebulan sekali. Sementara buah cinta mereka semakin tumbuh di perut Sawitri. Semakin hari semakin membesar.
¬¬¬
Martoyo mulai mengikuti rombongannya lagi setelah sepuluh hari menunggui Sawitri yang telah melahirkan. Mereka dikaruniai seorang bayi laki-laki yang diberi nama Misran. Bayi mungil itu sangat membanggakan Sawitri, meski ibunya justru bertambah pekerjaan. Karena Martoyo tidak di rumah, praktis ibu si Sawitri yang mencuci popok, menjerangkan air, dan membopong cucunya manakala Sawitri bepergian.

Sebulan, dua bulan Martoyo tak kunjung pulang. Sawitri jadi cemas. Jangan-jangan apa yang dikatakan ayahnya benar. Martoyo beristri lagi !
Kecemasan Sawitri terobati ketika suatu pagi datang dua perempuan bersama anak-anak mereka. Kedua perempuan itu membawa kabar bahwa Martoyo sehat-sehat saja. Masih aktif di tobong. Masih pula sebagai rol dalam setiap pementasan. Mendengar itu, hatinya agak tenang.

Memang kedua perempuan itu telah dikenalnya. Mereka juga pemain ketoprak satu tobong dengan suaminya. Sawitri mengenal mereka sejak ketoprak itu pentas di desanya. Mereka sering menjadi pasangan Martoyo di atas panggung.
¬¬¬
Ketiga perempuan bercengkerama hingga matahari di atas kepala. Akrab sekali mereka. Sementara dua anak laki-laki mereka bermain-main di belakang rumah bersama ayah Sawitri.

Seketika mereka berhenti bercengkerama saat seorang laki-laki berada di ambang pintu. Tak lain, dia adalah Martoyo. Suami Sawitri yang dirindukannya. Segera Sawitri memapasnya dengan mesra. Ingin dia memeluk suaminya andai saja tak ada dua perempuan di depannya.

“ Bagaimana anak kita, Witri ?”

“ Sehat-sehat saja, Kang ! Dia kangen sekali sama bapaknya…”

“ Dia apa ibunya ?” sela kedua perempuan bersamaan. Sawitri yang diledek hanya tersenyum.

“ Kalian jam berapa sampai di sini ?” tanya Martoyo kepada mereka.

“ Masih pagi …”

“ Anak-anak ?”

“ Bermain di belakang bersama Kakek .”

Martoyo manggut-manggut, kemudian duduk di bangku panjang. Obrolan pun berlanjut, sementara Sawitri membuatkan minuman untuk suaminya. Martoyo tampak gelisah. Entah apa yang membuatnya demikian. Mungkin ia terlalu capek.

“ Tadinya saya cemas Kang Martoyo tidak pulang-pulang. Jangan-jangan Kakang punya simpanan yang lain …..” kata Sawitri sembari menyodorkan minuman. Martoyo hanya tersenyum simpul mendengarnya.

“ Tapi sekarang saya percaya kalau Kakang tidak beristri lagi atau punya simpanan wanita lain. Tadi Yu Ginah dan Yu Sarni sudah banyak cerita tentang Kakang di tobong…”

“ Apa yang diceritakan ?”

“ Ya, macam-macam !”

“ Tentang kejelekanku ?”

“ Tentu tidak, Kang !”

“ Jadi kamu percaya kan, tidak semua pemain ketoprak tobong itu jelek ? Meskipun ada di antara mereka yang beristri lebih dari satu. Tapi toh mereka bertanggungjawab…”

“ Jadi Kang Martoyo ingin beristri lagi ?”

“ Tidak, Witri !”

Terdengar suara anak-anak berlarian dari belakang rumah, memutar dan masuk menuju mereka.

“ Bapak datang…! Bapak datang…..!”

Kedua anak laki-laki itu berhamburan menuju tempat duduk Martoyo dan terus merangsek di pelukannya. Yu Ginah dan Yu Sarni berusaha mencegahnya, tapi kedua anak itu semakin merangsek ke pelukan Martoyo. Sawitri yang duduk di samping Martoyo hanya melongo melihat pemandangan di depannya. (NSK)

Tulisan lain yang berkaitan:

img Senthir (23 December 2011, 50 views, 0 respon)
img P r e n j a k (14 May 2010, 227 views, 4 respon)
img Kotak Wasiat (28 April 2010, 112 views, 3 respon)
img Gerimis yang Menenggelamkan Hati (25 April 2010, 258 views, 6 respon)
img SEBUAH SENJA DI LAHAN SAWIT (18 April 2010, 115 views, 0 respon)

One Response to “SAWITRI”

  1. Riyadi on Friday, 14 May 2010 (pukul 11:33 am)

    Bukit Menoreh? Hmmm Sawitri… Sawitri. Kita ini bertetangga. Aku di sisi barat bukit itu. Koordinat titik pandang sudut siku-siku tempat tatap kita bertemu di pelataran Gua Kiskenda. Kau pilih Martoyo kenapa tidak kaupilih Kang Sastro. Makanya manis jangan keburu ditelan, dan pahit tetaplah bertahan. Sekarang kau baru sadar bahwa Kang Sastro lah Pranacitra yang paling imajiner. ha ha ha … Maaf Pak Narwan, aku meminang tokoh cerpen Bapak, sebab latar dan alur cerpen ini terlanjur bagus untuk dinikmati pembacanya. Aku rindukan cerpen-cerpen Bapak berikutnya. Salam Agupena.
    .-= Riyadi´s last blog ..Dinding Waktu =-.

    Reply

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP