P r e n j a k

Friday, 14 May 2010 (00:10) | 213 views | 4 komentar

Cerpen: Narwan Sastra Kelana

MATAHARI telah memancarkan cahayanya di atas Gunung Merapi. Dwijo masih asyik dengan tiga burung prenjaknya. Prenjak-prenjak itu baru didapatnya dari seorang petani kemarin siang di pasar desa dengan harga yang dianggapnya murah. Dia berharap akan mendapat keuntungan besar bila prenjak-prenjak itu dijual lagi ke Sasana Kukila, pasar burung di lembah Tidar.

Dwijo kini memang menekuni pekerjaan sambilan sebagai blantik burung ocehan. Membeli burung dari satu orang kemudian menjual lagi ke orang lain. Atau dari pasar satu ke pasar yang lain. Pekerjaan pokok Dwijo adalah sebagai guru SD. Tadinya memang ia nyambi menanam lombok dan tomat. Namun setelah mendengar berita bahwa demo guru-guru beberapa waktu yang lalu, yang menuntut peningkatan kesejahteraan tidak membuahkan hasil, ditambah lagi dengan panen lombok dan tomatnya gagal, Dwijo banting stir nyambi sebagai blantik burung ocehan.

”Pak… sudah siang, nanti terlambat lagi,” peringatan dari suara yang tak asing lagi bagi Dwijo mengusik keasyikannya.

”Ya, ya sebentar!” sahut Dwijo.

”Nanti ditegur kepala sekolah lagi karena terlambat.”

Dwijo segera memberesi makanan burung. Setelah menempatkan prenjak-prenjaknya di longkang segera ia menuju meja makan untuk sarapan.

Sepeda motor Dwijo melaju membawanya ke tempat kerja. Sebuah SD yang jauh dari keramaian kota. Di perjalanan Dwijo bertemu dengan teman seprofesinya di pasar burung.

”Hei, Pak Dwijo! Sampeyan punya dagangan apa?” tanya Kodir temannya itu.

”Prenjak!” jawab Dwijo singkat.

”Bagus nggak?”

”Sip. Lincah dan cerewet!” jawab Dwijo sembari mengacungkan jempol.

”Buat saya saja, Pak.”

”Boleh. Kapan kau ke rumahku?”

”Nanti siang sepulang dari pasar.”

”Oke, aku tunggu.”

Hati Dwijo gembira. Angannya segera melayang pada lembaran seratus ribuan yang bakal menjadi keuntungannya.
***

Sepulang mengajar, Dwijo kembali asyik dengan prenjak-prenjaknya. Masih terbayang lembaran seratus ribuan di kelopak matanya. Terdengar suara motor berhenti di halaman rumah. Dwijo segera menggantung prenjak-prenjaknya di longkang. Bergegas dia ke halaman rumah.

”Mana Pak, prenjaknya ” tanya Kodir.

”Di longkang. Ayo masuk dan lihat sendiri,” kata Dwijo mengajak.

Seperti dikomando, prenjak-prenjak Dwijo ngoceh riuh dan nyaring. Dwijo tersenyum bangga. Ocehan prenjak-prenjaknya seakan tahu isi hati Dwijo. Mereka ngoceh seperti mengeja lembaran seratus ribuan.

”Minta berapa, Pak?”

”Seekor lima puluh ribu. Jadi bila kau ambil semua, seratus lima puluh ribu,” kata Dwijo menawarkan.

”Mahal, Pak.”

”Lho, kamu dengar sendiri, Dir. Cerewet dan nyaring begitu kok kamu minta murah…,” bela Dwijo sambil tersenyum.

”Bagaimana kalau tujuh puluh lima, Pak ”

”Belum boleh, Dir. Kalau kamu nggak mau, besok Pahing aku bawa sendiri ke pasar. Bagaimana, Dir?”

”Tidak berani, Pak.”

Padahal sebenarnya, bila Dwijo menjualnya tujuh puluh lima ribu pun sudah untung dua puluh lima ribu rupiah. Tapi Dwijo tak memberikannya kepada Kodir. Dia yakin prenjak-prenjak itu akan laku mahal besok Pahing. Pas pasaran di pasar burung Sasana Kukila di lembah Tidar itu.

”Coba nanti sore, Pak. Aku pikir-pikir dulu.”

”Baiklah Dir, aku tunggu nanti sore.”

Kodir biasa memanggil Dwijo dengan sebutan Pak Dwijo. Kodir menghormati betul, seperti juga teman-teman yang lain di pasar burung. Mereka tahu kalau Dwijo adalah seorang guru.
***

”Kenapa tidak sampeyan berikan saja, Pak?” tanya istri Dwijo sore harinya.

”Rugi, Bu. Prenjak itu bagus, aku yakin di pasar bisa laku lima puluh ribu per ekornya,” sanggah Dwijo.

”Kapan sampeyan akan membawanya ke pasar? Menunggu Minggu Pahing?”

”Tidak, Bu. Besok Selasa Pahing.”

”Mbolos lagi?”

”Ya, tak apa-apa, Bu. Kan nggak ada salahnya nututi rejeki?”

”Betul, Pak. Tapi kalau sering mbolos mengajar, apa kata teman-teman sampeyan di sekolah? Apa sampeyan tidak malu sering ditegur kepala sekolah?”

”Apa kamu tidak lihat, Bu ? Sepeda motor kita itu bannya sudah gundul. Aku harus segera menggantinya. Kalau sampai mbledos, wah malah bisa libur mengajar nanti ….” Bela Dwijo memberi alasan.

”Ah, terserah sampeyan saja, Pak. Sudah, aku berangkat kumpulan PKK dulu,” kata istrinya pamitan dengan muka cemberut.

Dwijo menggeleng-gelengkan kepalanya manakala istrinya melangkah meninggalkan pintu rumahnya. Segera Dwijo menghampiri prenjak-prenjaknya yang masih saja cerewet di longkang. Dengan hati berbunga-bunga diturunkannya sangkar-sangkar prenjaknya ke tanah. Belum sempat memberi ulat pada prenjaknya, terdengar suara sepeda motor berhenti di halaman rumahnya. Bergegas Dwijo berlari ke halaman, tangannya masih memegang ulat Hongkong untuk prenjaknya.

Ternyata bukan Kodir yang datang, melainkan Pak Kadus dengan undangan di tangannya.

”Pak Dwijo diminta hadir, karena penting.”

”Soal apa, Pak?”

”Rencana rehab balai desa.”

”Banyak yang diundang?”

”Banyak juga. Oh, ya sulingannya sudah laku?”

”Sudah, Pak. Sekarang ada prenjak, mau Pak?”

”Ah, lain kali saja. Saya permisi dulu Pak Dwijo,” kata Pak Kadus pamit.

Setelah Pak Kadus meninggalkan halaman rumah, bergegas Dwijo kembali ke longkang lagi. Perasaannya was-was, karena prenjak-prenjaknya berhenti ngoceh. Lama juga ia meninggalkan longkang.

Betapa kagetnya Dwijo, ketika dilihatnya sangkar prenjak-prenjaknya jungkir balik dan pintunya terbuka semua. Kosong melompong. Prenjak-prenjak itu telah raib dari sangkarnya yang terbuat dari bambu itu. Bingung sekali Dwijo tiba-tiba. Dia memutar-mutar keliling longkang. Matanya mengedar ke atas, ke bawah, dan …..

”Celaka!” teriaknya dalam hati.

Didapatinya bulu-bulu prenjak yang bercampur darah, berserakan di sudut longkang.

”Kucing sial! Awas kau!” umpat Dwijo mengancam kucing yang entah milik siapa dan entah lari ke mana.

Pupus sudah harapan Dwijo menerima lembaran seratus ribuan. Dwijo lemas duduk tertunduk. Di matanya kini tak lagi terbayang lembaran seratus ribuan, namun terbayang roda sepeda motornya yang gundul dan melindas batu jalanan. Dor!! *(NSK )

Tulisan lain yang berkaitan:

img Senthir (23 December 2011, 5 views, 0 respon)
img SAWITRI (14 May 2010, 112 views, 1 respon)
img Kotak Wasiat (28 April 2010, 108 views, 3 respon)
img Gerimis yang Menenggelamkan Hati (25 April 2010, 246 views, 6 respon)
img SEBUAH SENJA DI LAHAN SAWIT (18 April 2010, 110 views, 0 respon)

4 Responses to “P r e n j a k”

  1. Riyadi on Friday, 14 May 2010 (pukul 10:32 am)

    Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Mengharap prenjak laku tinggi, kucing di longkang asik berpesta … Maaf Pak Dwijo, aku hanya bisa turut berduka. Semoga kita menjadi pembelajar sejati …. Salam
    .-= Riyadi´s last blog ..Dinding Waktu =-.

    Reply

  2. Narwan, S.Pd. on Thursday, 20 May 2010 (pukul 8:43 am)

    begitulah….. buah keserakahan sungguh tidak manis. Bukan begitu Pak?

    Reply

  3. Amy on Thursday, 3 June 2010 (pukul 7:00 pm)

    begitulah….. buah keserakahan sungguh tidak manis. Bukan begitu Pak?

    Reply

  4. Kaitlyn on Monday, 14 June 2010 (pukul 1:19 pm)

    Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Mengharap prenjak laku tinggi, kucing di longkang asik berpesta … Maaf Pak Dwijo, aku hanya bisa turut berduka. Semoga kita menjadi pembelajar sejati …. Salam
    .-= Riyadi´s last blog ..Dinding Waktu =-.

    Reply

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP