Kotak Wasiat

Wednesday, 28 April 2010 (20:45) | 124 views | 3 komentar

Cerpen Narwan Sastra Kelana

AKU sungguh tak mengerti apa yang menjadi kemauan Kang Ratno. Aku baru saja kembali kerja setelah mengambil cuti sebulan yang lalu. Padahal jarak tempuh Surabaya ke kotaku, bagiku cukup melelahkan. Naik kereta atau bus malam, bagiku sama-sama membuat capek. Sebulan yang lalu aku pulang karena ayahku meninggal. Aku pun mengambil cuti lima hari,terus kembali lagi ke Surabaya.

Aku anak keempat dari lima bersaudara. Namun hanya aku yang merantau. Maklum, keluargaku adalah keluarga kami adalah keluarga tak mampu, jadi aku berusaha untuk mencari penghidupan yang layak. Dengan berbekal ijazah STM, aku merantau ke Surabaya, dan dalam waktu relatif singkat aku diterima di sebuah pabrik, sebagai maintenance.

Yang menjadikanku heran terhadap Kang Ratno adalah tidak maunya mengerti akan keadaanku yang hanya menjadi tenaga buruh di perantauan. Namun setiap ada keperluan, meskipun tak ada sangkut-pautnya denganku, aku diminta kirim uang atau disuruh pulang. Padahal aku sudah pernah bilang, bila bukan sesuatu yang penting sekali, aku cukup diberitahu lewat surat saja. Kalau penting dan mendesak, baru telpon aku lewat pabrik. Tapi lagi-lagi Kang Ratno, hanya masalah sepele saja sering telpon lewat pabrik. Aku jadi sering kena teguran atasanku.

Pernah suatu ketika Kang Ratno menelponku lewat pabrik, waktu itu aku sedang memperbaiki mesin yang harus segera selesai. Atasanku memanggilku untuk segera ke kantor menerima telpon dari kakakku. Dengan lari aku segera ke kantor. Namun betapa dongkol hatiku setelah Kang Ratno mengatakan maksud menelponku.

”Man, kambingmu yang babon, mendem. Aku potong saja ya? Nanti aku ganti uang. Daripada mati sia-sia kan eman-eman?”

”Oalah, Kang …Kang! Cuma soal kambing mendem saja kok ya nelpon, mbok sudah diputusi sendiri kenapa to?” Betapa dongkolnya aku. Sudah dikejar-kejar pekerjaan, masih diganggu soal-soal sepele,

Kali ini aku disuruh pulang karena ada hal yang penting mengenai kelima anak ayah. Kini kami tinggal memiliki ibu. Ayah meninggal sebelum sempat melihat aku dan adikku Ratmin berumahtangga. Maka otomatis Kang Ratno sebagai anak tertua yang menggantikan posisi ayah dalam hal-hal yang menyangkut keluarga kami. Ibu kami jelas sudah tak mampu berbuat banyak untuk anak-anaknya. Usianya kini hampir 70 tahun.
***

Sampai di halaman rumah masih pagi. Tampak Yu Sarmi, istri Kang Ratno, sedang menyapu halaman. Halaman rumah yang luas, sesuai dengan rumah peninggalan kakek kami yang besar. Rumah itu yang diwariskan kakek kepada ayah sebagai anak tunggal beliau. Kakek kami dahulu termasuk orang terpandang, cukup kaya lagi terhormat. Namun kakek meninggal, tak lama setelah pemerintah mengumumkan devaluasi rupiah. Seribu rupiah menjadi satu rupiah. Mendengar berita itu, kakek jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sejak itu nenek dan ayah hidup sederhana, bahkan lama-kelamaan menjadi miskin karena ayah sewaktu muda kurang bisa bekerja membantu nenek. Nenek pun meninggal tak lama setelah ayah menikah dengan ibu. Baru setelah berumahtangga, ayah bekerja dengan tekun.

Rumah itu kini dihuni oleh ibu, adikku Ratmin, dan keluarga Kang Ratno yang memiliki tiga anak perempuan semua. Sementara dua kakak perempuanku, Yu Ratmi dan Yu Ratminah, mengikuti suami mereka masing-masing dan tinggal di kampung sebelah. Dari lima bersaudara hanya Kang Ratno yang sifatnya mirip ayah. Suaranya keras dan memiliki sifat pemarah.

Aku segera tidur setelah semalaman tubuhku serasa digoyang-goyang dalam bus yang lajunya ndat-ndet karena macet. Kang Ratno baru mencari rumput kata Yu Sarmi, sementara ketiga keponakanku sudah berangkat sekolah. Di dapur beberapa perempuan tetangga kami mulai sibuk mempersiapkan uba rampe untuk nanti malam. Malam ini tepat empat puluh hari meninggalnya ayah. Namun kang Ratno bilang bahwa selesai acara matang puluh nanti akan diadakan acara khusus.

Saat membersihkan kamar ayah, Kang Ratno menemukan sebuah kotak. Kang Ratno yakin bahwa kotak itu berisi harta pusaka, surat-surat berharga, atau surat-surat wasiat dari ayah. Maka sebagai anak tertua Kang Ratno merasa perlu mengumpulkan adik-adiknya untuk membuka kotak itu. Maka dari itu aku pun disuruh harus pulang. Siapa tahu kotak itu berisi emas yang akan diwariskan ayah kepada kami, atau berisi surat pembagian harta yang tidak kami ketahui dan akan diwariskan kepada kami, namun ayah keburu meninggal?

Aku bangun ketika mendengar suara Yu Ratmi dan Yu Ratminah yang baru saja datang. Mereka berama suami dan anak-anaknya.

”Mana Ratman, Kang? Katanya sudah datang?” Tanya Yu Ratmi kepada Kang Ratno. Suara Yu Ratmi membuatku segera keluar kamar.

”Wo, barusan tidur to Man? Capek?”

”Iya, Yu. Jalanan macet, jadi sebentar-sebentar berhenti, sebentar-sebentar jalan. Bikin badan seperti dikepruki Yu,” jawabku setelah menyalami mereka.

”Yo wis. Sana mandi dulu, nanti dilanjutkan ngobrolnya!”

Aku segera menuju kamar mandi. Kamar mandi yang dulu. Masih sama, ketika aku masih SMP. Airnya yang dingin membuat badanku kembali segar. Serasa capek-capek hilang terguyur air dari gayung. Selesai mandi dan makan, kami lima bersaudara bersama kakak-kakak iparku berkumpul di ruang tamu. Kami membicarakan temuan Kang Ratno di kamar ayah.
***

Acara tahlil memeperingati empat puluh hari meninggalnya ayah, dihadiri kurang lebih dua puluh lima orang. Kang Ratno bilang, hanya mengundang tetangga satu RT. Kecuali itu juga Ketua RW dan Kepala Dusun diundang selaku sesepuh dusun, sekaligus untuk dijadikan saksi acara pembukaan kotak wasiat.

Selesai acara tahlil, hanya tinggal Pak Mulud selaku ketua RW dan Pak Jawahir selaku Kepala Dusun kami. Yang lain sudah pamitan dengan membawa besek berisi nasi brekat. Aku menyalami kepulangan mereka. Hampir semua menanyakan tentang kabarku di Surabaya. Maklum rata-rata mereka memiliki anak yang tidak bekerja di perantauan.
Segera Kang Ratno memanggil adik-adiknya untuk duduk di tikar yang tadi untuk kenduri. Kang Ratno keluar sambil membawa sebuah kotak kayu yang sudah kusam, dan sebuah obeng besar. Meskipun kusam, namun ukiran kotak kayu itu cukup bagus, sehingga memberi kesan bahwa kotak itu cukup tua umurnya. Kotak itu diletakkan di tengah-tengah lingkaran kami duduk.

”Bapak RW dan Bapak Kadus, saya minta menjadi saksi kami berlima. Bahwa malam ini kami akan membuka kotak wasiat peninggalan ayah kami atau kakek kami. Kami tidak tahu apa isi kotak ini, karena masih terkunci dan anak kuncinya tidak saya temukan.”

”Baiklah Dik Ratno. Tapi mengapa kami perlu menjadi saksinya?” tanya Pak Jawahir sambil mematikan puntung rokoknya di asbak.

”Begini, Pak Kadus. Bila kotak ini berisi harta, emas atau harta warisan lain yang kami tak tahu sebelumnya misalnya, maka dalam membaginya kami rasa perlu ada saksi di luar keluarga kami. Agar nantinya tidak ada perselisihan. Namun bila berisi surat amanat yang dibebankan kepada kami, Bapak-Bapak dapat memberi nasihat kepada kami, bagaimana melaksanakan amanat ayah kami, sehingga arwah ayah kami tenang di alam kelanggengan.”

”Baiklah Dik Ratno. Sekarang silakan dibuka kotak ini. Kita saksikan bersama-sama apa isinya.”
Dengan mencongkel gemboknya dengan obeng besar, Kang Ratno berhasil membuka pengunci kotak itu. Pelan-pelan tutupnya dibuka, tampak di dalam kotak sesuatu dibungkus kain beludru merah. Kulihat senyum bibir Kang Ratno menyiratkan kegembiraan. Namun sejurus kemudian terlihat beda ketika tangannya mengeluarkan bungkusan kain itu dari dalam kotak. Ringan sekali terlihat dikeluarkan. Pelan-pelan Kang Ratno membuka kain beludru merah. Empat gulungan kertas yang sudah kecoklat-coklatan.

”Coba, dibuka satu persatu, Man!”

Aku pun segera mengambil satu gulungan dan melepas tali pengikatnya. Gulungan tersebut ternyata berlapis-lapis. Terdiri dari beberapa lembar kertas, ada yang besar, ada pula yang kecil-kecil,

”Baca, apa isinya Man?”

Kubaca kata demi kata, baris demi baris. Dari lembar satu ke lembar berikutnya, dan selesailah satu gulungan tadi. Kulanjutkan membuka tiga gulungan yang lain. Aku menyembunyikan senyum geliku, namun Kang Ratno tahu dan segera bertanya.

”Apa Man? Soal warisan atau harta terpendam?”

Lagi-lagi aku tak mengerti pikiran Kang Ratno. Yang ada hanyalah harta benda saja. Apa karena hidup miskin terus selalu memikirkan harta benda? Bahkan karenanya, sering merepotkanku dalam hal keuangan? Tak mengertikah kesulitanku dalam bekerja untuk membiayai si bungsu Ratmin yang masih butuh biaya sekolah? Seharusnya Kang Ratno mengerti, mengapa aku belum juga menikah meski umurku sudah cukup untuk berumahtangga. Itu karena Kang Ratno juga menyerahkan tugas membiayai Ratmin sekolah, sementara ketiga kakakku yang menanggung keperluan sehari-hari.

Ratmin, Kang Ratno dan Mbakyuku semua. Kertas-kertas ini bukan berisi wasiat, amanat, atau bahkan pembagian harta warisan yang terpendam dari ayah untuk kita.”

”Lalu apa isi kertas-kertas itu?”

”Kertas-kertas ini bukan peninggalan ayah, tapi peninggalan kakek. Isinya hanya surat-surat piutang dan surat-surat pelunasan hutang. Tidak ada artinya bagi kita.”

”Jadi ini semua peninggalan kakek? Bukan peninggalan ayah?” Yu Ratmi masih belum percaya.

”Wela, kukira wasiat tenan? Jebul kotaknya saja to?”

Akhinya Kang Ratno menyadari kekeliruannya, kemudian meminta maaf kepada bapak-bapak sesepuh dusun itu. Juga kepada adik-adiknya termasuk aku. Aku masih geli membayangkan kejadian itu. Ada-ada saja acara Kang Ratno agar aku pulang. Masih hal-hal yang sepele ternyata. Kejadian itu tetap merupakan kenangan yang menjadi hiburanku tatkala aku agak kesal dengan Kang Ratno yang masih saja menelponku untuk hal-hal yang sepele.***

Tulisan lain yang berkaitan:

img Senthir (23 December 2011, 66 views, 0 respon)
img P r e n j a k (14 May 2010, 239 views, 4 respon)
img SAWITRI (14 May 2010, 127 views, 1 respon)
img Gerimis yang Menenggelamkan Hati (25 April 2010, 279 views, 6 respon)
img SEBUAH SENJA DI LAHAN SAWIT (18 April 2010, 118 views, 0 respon)

3 komentar terhadap “Kotak Wasiat”

  1. Riyadi | Friday, 30 April 2010 @ 9:45 pm

    Kiranya Kang Ratno gak jauh beda dengan Kang Sastro, selalu saja menjalin informasi melalui hal yang sepele. Informasi mungkin sepele, tetapi dampak kekeluargaannya… luar biasa!!! Mas Narwan … Jangan Ndhongkol kalau aku sedikit membela tokoh imajinermu… Salam Agupena
    .-= Riyadi´s last blog ..Balada Cemara =-.

    Reply

  2. narwan sastra kelana | Monday, 10 May 2010 @ 10:01 am

    Makasih Mas Riyadi. Jangan dongkol juga kalau Anda nanti saya uber di Purworejo… Saya ajak saling tukar buku/antologi.Salam Agupena!
    .-= narwan sastra kelana´s last blog ..MENGAKRABI PELAWAK =-.

    Reply

  3. Ballroom Dancing Instructional DVD | Wednesday, 2 June 2010 @ 11:30 pm

    Have you ever considered adding a lot more videos to your weblog posts to keep the readers more entertained? I mean I just study via the whole article of yours and it had been very great but since I’m more of a visual learner,I discovered that to be a lot more helpful nicely let me know how it turns out! I love what you guys are usually up too. This kind of clever work and reporting! Keep up the great functions men I’ve added you men to my blogroll. This is an excellent article thanks for sharing this informative information.. I will visit your weblog frequently for some latest post.

    Reply

Komentar Anda?


«
»
IP