Gerimis yang Menenggelamkan Hati

Sunday, 25 April 2010 (22:23) | 279 views | 6 komentar

Penulis: Narwan Sastra Kelana

gerimisGERIMIS masih mengguyur bumi. Jalan aspal di depan rumah kuyup oleh genangan air. Sesekali kendaraan lewat menciptakan suara air pecah terbelah roda-roda. Di beranda rumah perempuan pemulung itu masih duduk menanti gerimis reda. Dia kira-kira seumurku, tapi raut mukanya terlihat lebih tua dari umurnya. Mungkin akibat berat beban hidup yang harus dipikulnya.

Sejak pertama datang, dari tutur kata dan tindak tanduknya, aku menaruh simpati padanya. Betapa tegarnya dia menjalani hidup. Dia banyak bercerita tentang dirinya., tentang nasib yang dijalaninya. Dan ternyata dia hidup sebagai seorang janda beranak satu. Dia bercerita, suaminya pergi entah ke mana. Yang jelas ketika dia hamil, suaminya berpamitan hendak mencari pekerjaan. Demikian pula yang dikatakan teman-teman suaminya kepadanya, ketika dia mencari-cari sang suami di tempat biasa dia kumpul-kumpul mabuk dan judi.

Saat dia menikah, sang suami baru saja selesai kuliah. Tapi anehnya, sang suami malas mencari kerja. Dia hanya mengandalkan uang pemberian ayahnya. Memang waktu itu mereka tinggal seatap dengan orangtua sang suami. Ibu mertua adalah ibu tiri sang suami. Semula memang enak. Segala kebutuhan sehari-hari tercukupi. Mereka berdua tak perlu repot-repot mencari nafkah. Itu sebabnya suaminya tak mau mencari pekerjaan. Gelar kesarjanaannya digantung di langit, seolah dia tak membutuhkan, meski untuk mendapatkannya tidak sedikit biaya yang telah dikeluarkan ayahnya.

Perempuan itu masih duduk di lantai beranda. Aku semakin tertarik dengan kisah kesahnya. Kini aku duduk berdua di kursi bambu. Kutawarkan segelas teh hangat dan kue kering kepadanya. Dia berkali-kali mengucapkan terimakasih. Setelah kutanya namanya, baru dia menyebut sebuah nama yang singkat tapi sesuai dengan pribadinya, Murni ! ya, perempuan pemulung itu bernama Murni.
***

Gerimis belum juga berhenti. Murni melanjutkan kisahnya. Kejadian pahit dia alami tatkala ayah mertuanya meninggal. Saat itu dia baru hamil muda. Sejak itu, ibu mertuanya mulai memperlihatkan sifat buruknya. Suami Murni tak lagi menerima uang dari ibu tirinya. Ibu tirinya tak sudi lagi memberi uang, karena kecuali rumah, tak ada warisan untuknya atau anaknya. Selama menjadi ibu tiri, dia pula yang menjadi tumpuan keluarga.

Murni mendesak suaminya untuk mencari pekerjaan, selain untuk menopang hidup sehari-hari juga untuk persiapan kelahiran si bayi. Murni juga mengajak suaminya untuk tinggal di rumah ibu Murni, karena tak tahan dengan omelan ibu mertuanya.
***

Pagi itu suaminya pamit mencari pekerjaan. Berbekal ijazah kesarjanaannya dia akan melamar di sebuah perusahaan di kotanya. Namun itulah awal derita bagi Murni. Sejak itu suaminya tak pernah pulang. Murni mencari di berbagai alamat teman-teman suaminya. Tapi nihil. Semua mengatakan tidak tahu. Bahkan ada yang marah-marah sewaktu ditanya. Ternyata orang itu uangnya dipinjam oleh suami Murni dan belum dikembalikan. Begitu sakit hati Murni mendengar caci maki orang itu. Maka ia putuskan untuk menunggu suaminya di rumah saja.
Sebulan, dua bulan, hingga anaknya lahir, sang suami belum juga kembali. Sakit. Sungguh sakit. Melahirkan seorang bayi tanpa ditunggui suami. Bahkan kabarnya pun tidak diketahui, di mana kini suaminya berada, Murni tak tahu rimbanya.

” Umur anak Ibu sekarang ?” Kusela ceritanya agar dia tak larut dalam kesedihan kisahnya.

” Enam tahun, masih TK, Bu !”

” Oh, beruntungnya Ibu memiliki anak. Sudah enam tahun menikah, saya belum juga dikaruniai momongan. Ah, tentu dia cantik seperti ibunya.” Aku berusaha menyegarkan raut mukanya yang mulai dihiasi garis-garis umur itu.

Sebuah senyum tersungging menghapus kedukaan di wajahnya. Tiba-tiba dia balik bertanya.

”Suami Ibu, belum pulang ?”

” Oh, belum. Mungkin sebentar lagi.”

” Bekerja di mana ?”

” Di kota ini. Di perusahaan milik ayah saya.”

” Oh ….. begitu. Wah, pasti suami Ibu juga baik seperti Ibu.” Ah , perempuan ini pintar juga membalikkan pujian.

” Beruntunglah Ibu memiliki suami yang tentu sangat baik dan Ibu tentu merasa terlindungi, tidak seperti saya ……”

Murni menunduk setelah mengucapkan kata-kata itu. Gerimis sore ini benar-benar menambah pedih di hatinya.
***

Sebuah mobil masuk pekarangan. Suamiku telah pulang dari perusahaan. Kusambut kedatangannya dengan senyum. Pasti dia capek. Aku lihat air mukanya menyiratkan keletihan meski ia mencoba menutupinya dengan senyum. Mungkin pekerjaannya begitu banyak.

” Siapa dia ?” Suamiku menanyakan perempuan yang duduk di beranda.

” Oh…dia ? Dia seorang pemulung yang numpang berteduh. Murni namanya, Mas.”

” Murni ?”

” Iya ! Kenapa Mas ?” Kulihat kening Mas Pras berkerut, mengingat-ingat sesuatu.

” Ada apa Mas ? Mas kenal dia ?”

” Ah, tidak !”

Aku merasakan sesuatu yang ganjil di wajah suamiku. Belum lagi aku sempat menerka-nerka, tiba-tiba Murni tergopoh-gopoh menghampiri kami dan bersimpuh di depan suamiku. Seketika ia menangis. Dipegangnya tangan Mas Pras dan ditarik-tariknya.

” Mas Pras ! Pulang Mas! Teganya Mas Pras meninggalkan kami. Pulang Mas! Anak kita perempuan Mas, dia sangat ingin bertemu ayahnya. Ayo pulang Mas !”

Air mata membanjiri wajah Murni. Deras! Sederas gerimis senja ini. Kecantikan Murni tenggelam dalam cucuran air matanya. Aku hanya terbengong. Seolah aku jadi patung bisu. Bibirku kaku, lidahku kelu. Hatiku kini tenggelam oleh gerimis yang tercurah dari langit. Sekelilingku menjadi gelap, dan semakin pekat …..ah!***

————–
Narwan Sastra Kelana (Narwan, S.Pd.)
e-mail: narwan_sk@yahoo.com
Blog: www.pemahatrupadhatu.blogspot.com

Tulisan lain yang berkaitan:

img Senthir (23 December 2011, 66 views, 0 respon)
img P r e n j a k (14 May 2010, 239 views, 4 respon)
img SAWITRI (14 May 2010, 127 views, 1 respon)
img Kotak Wasiat (28 April 2010, 124 views, 3 respon)
img SEBUAH SENJA DI LAHAN SAWIT (18 April 2010, 118 views, 0 respon)

6 komentar terhadap “Gerimis yang Menenggelamkan Hati”

  1. Sungkowoastro | Monday, 26 April 2010 @ 7:37 pm

    Cerpen Anda demikian menyentuh perasaan. Mantap. Terus berkarya. Salam kretaif dan kekerabtan.
    .-= Sungkowoastro´s last blog ..Menjelang PPDB, Orangtua Mengencangkan Ikat Pinggang =-.

    Reply

  2. Sardono Syarief | Tuesday, 27 April 2010 @ 3:05 pm

    Waaahhh….Kejadian yang amat mengejutkan, Pak Narwan :?: Sungguh bagus :!:
    .-= Sardono Syarief´s last blog ..Puisi “PEKALONGAN, KOTA SANTRIKU” =-.

    Reply

  3. Sardono Syarief | Tuesday, 27 April 2010 @ 3:07 pm

    Waaahhh….Kejadian yang amat mengejutkan, Pak Narwan :!: Sungguh bagus :cry: :cry:
    .-= Sardono Syarief´s last blog ..Puisi “PEKALONGAN, KOTA SANTRIKU” =-.

    Reply

  4. Riyadi | Friday, 30 April 2010 @ 9:38 pm

    Cerpen dengan plot yang cukup tajam. Didukung diksi yang puitis… hebat… Indah!!! Selamat!!!
    .-= Riyadi´s last blog ..Balada Cemara =-.

    Reply

  5. thohuroh | Saturday, 4 December 2010 @ 5:03 am

    Penggunaan diksi yang menarik…I like that.

    Reply

  6. purwanto | Tuesday, 15 November 2011 @ 8:06 pm

    Saya terhanyut dalam jalinan cerita ini. Cerpennya sederhana tapi tampak hidup. Terus berkarya mas. Congrat.

    Reply

Komentar Anda?


«
»
IP