Wednesday, 14 April 2010 (05:57) | 199 views | 3 komentar
Oleh Johan Wahyudi*
“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya” merupakan nasihat Ali bin Abi Thalib yang sangat popular di kalangan penulis. Sepintas pesan itu tak bermakna begitu luas. Namun, jika pesan itu dikaji lebih dalam, maka akan terkuak suatu keajaiban luar biasa. Ada lima keajaiban menjadi penulis, yaitu pencatat sejarah, pendakwah, pemikir, berkarakter, dan mulia.
Penulis merupakan pencatat sejarah karena ia telah mendokumentasikan semua peristiwa yang didengar, dilihat, dan diketahuinya. Ia telah menorehkan sesuatu untuk diketahui orang lain. Untuk mendapatkan informasi yang akurat, penulis sering berjibaku dengan waktu, dana, kondisi sosial politik, bahkan keamanan dirinya. Penulis tidak hanya menulis sesuatu yang disukai. Ia harus jujur bahwa informasi itu layak untuk diketahui. Karena itu, sejarahlah yang mencatat bahwa seorang penulis adalah sejarawan.
Penulis juga merupakan pendakwah paling bijaksana. Ia menyampaikan ilmu untuk mengubah keadaan buruk menjadi lebih baik tanpa berinteraksi langsung. Ia mengajarkan ilmunya tanpa memaksa pembacanya. Ia menawarkan buah pikirnya untuk menjadi solusi alternatif bagi pembacanya. Sering sekali ditemui sebuah kesulitan yang tidak ditemukan pemecahan secara verbal. Justru kemudahan itu diperoleh ketika ia membaca tulisan orang lain.
Menjadi penulis berarti menjadi pemikir. Ia akan berusaha memikirkan setiap ide dan gagasannya agar dapat diterima pembacanya. Ia selalu mencari pikiran-pikiran baru sehingga tercipta pribadi kreatif, inovatif, dan kritis. Penulis berusaha untuk menawarkan gagasannya agar sebuah situasi menjadi kondusif. Selain itu, sikap kritis itu sering memunculkan penilaian negatif. Situasi demikian sering dialami dan merupakan risiko menjadi seorang penulis.
Seorang penulis adalah pribadi berkarakter kuat dan cerdas. Idealismenya tidak dapat dibeli. Ia akan berusaha untuk mempertahankan karakteristik tulisannya. Mengutip pendapat Mario Teguh, begawan motivator, penulis harus berekspektasi dirinya sebagai penulis, bukan penjual ide. Ia harus menunjukkan diri dengan ciri khusus yang dimilikinya. Kemampuan menjaga karakteristik tulisannya itulah yang sangat sulit.
Karena sedemikian besar jasa seorang penulis, ia berhak untuk mendapatkan kemuliaan. Mengutip sebuah ayat suci yang menyatakan bahwa Tuhan akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, di situlah kebenaran akan ditemukan. Seiring dengan semangat berbaginya, seorang penulis diangkat tinggi-tinggi oleh pembacanya. Ia dijadikan rujukan melalui kutipan karya-karyanya. Perhatikanlah sejarawan, perawi hadis, dan ilmuwan. Mereka dikenal dan dikenang sepanjang sejarah.
Pada masa modern, kemuliaan seorang penulis tidak hanya sebatas dikenal dan dikenang. Karya-karyanya akan dihargai tinggi oleh para penerbit. Mereka berhak atas royalti terhadap buku-buku yang tulisnya. Maka, sebenarnya menjadi penulis telah menjadi alternatif masa depan yang menjanjikan. Belum pernah ditemukan adanya seorang penulis yang miskin. Karena janji Tuhan memang pasti tidak akan diingkari. Ayo menjadi penulis.*
BIOGRAFI PENULIS
Johan Wahyudi lahir di Sragen, 4 Agustus 1972. Gelar sarjana pendidikan diperoleh dari Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Yogyakarta. Gelar Magister Pendidikan Bahasa Indonesia diperoleh dari Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Selain aktif mengajar, ia juga aktif menulis beragam karya ilmiah, seperti modul, buku, artikel, esai, dan penelitian. Karya ilmiah berbentuk artikel dapat dibaca di media lokal dan nasional, sedangkan karya ilmiah berbentuk esai dapat dibaca di jurnal ilmiah kebahasaan. Ada juga beberapa karya ilmiah berbentuk PTK dan penelitian lain. Karya ilmiah berbentuk modul bahasa Indonesia Maestro (SMK), Master (SMA/MA), serta Pakar (SMP/MTs). Karya ilmiah berbentuk buku di antaranya Cakap dan Kreatif Berbahasa Indonesia SMP (Wangsa Jatra Lestari), Bahasaku Bahasa Indonesia SMP (Tiga Serangkai), Model Pengembangan Silabus Bahasa Indonesia SMP (Tiga Serangkai), buku Pendidikan Budi Pekerti SMP (Diknas Sragen), 30 Panduan Praktis Kemahiran Berbahasa, dan Modul Pengayaan Bahasa Indonesia SMP (Primagama). Pada tahun 2009, naskah bukunya yang berjudul Juara Pidato dinyatakan Pusbuk sebagai Juara I Nasional pada Sayembara Naskah Buku Pengayaan. Selain aktif menulis, ia juga menjabat Bendahara Umum Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Provinsi Jawa Tengah, staf pengajar UT dan beberapa PTS, Instruktur Nasional SMART Primagama, motivator, dan pembicara kegiatan ilmiah. Yang ingin berkomunikasi dapat menghubungi nomor 0271-2015778, 08562517895 atau di email jwah04@yahoo.co.id.
Tulisan lain yang berkaitan:



saia ingin menjadi penulis
Reply
Ya, saya sangat setuju dengan pemikiran, Bapak.
Reply
Betul pak Johan. Selain itu, Menulis juga tidak mengenal pensiun.
Reply