”PENJARAHAN NASIONALISME” YANG DITEBAR KONFLIK POLITIK

Friday, 2 April 2010 (04:37) | 947 views | 5 komentar

Oleh : Ir. Bambang Sukmadji
Sejenak marilah kita merenung untuk mengevaluasi sebuah kehidupan politik yang ditorehkan oleh anak bangsa yang menamakan diri Bangsa Indonesia, yang bersemayam di belahan bumi yang bernama Nusantara. Tidak perlu lagi kita membeberkan kekisruhan politik, demo anarkis, SBY dan Century, malang melintangnya markus, korupsi berjamaah, pendoliman UN, kepahlawaan Susno, fenomena kawin siri dan lain sebagainya. Namun marilah kita menapak tilasi kiprah anak bangsa yang barangkali mampu merevitalisasikan nasionalisme yang hilang atau terselip di panggung sandiwara humor yang berepisode kekisruhan politik.

Seperti kita ketahui bersama bahwa dengan kondisi geografis alam yang melingkungi negara kita, menyebabkan terbentuknya ± 316 suku bangsa dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Wilayah Indonesia, masing –masing dengan corak budaya yang berbeda. Hal ini tentunya membawa berkah tersendiri bagi kita , yang secara dialektis menempatkan keberagaman ini bukan sebagai faktor penghalang dalam upaya pencapaian hidup bersama.

Tetapi justru malah mampu melatarbelakangi upaya pencarian instrumen yang mampu menjembatani perbedaan tersebut . Hingga lahirlah suatu instrurnen pemersatu yang mampu diterima semua komponen penyusun bangsa dan negara ini, yang tak lain adalah Idiologi Pancasila, yang telah terpenetrasi jauh ke kalbu setiap anak bangsa ini.

Sebagai negara yang baru saja memperoleh prestis politik yang monumental (Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945), beragam langkahpun telah diderapkan oleh putra-putra bangsa guna membangun negara ini dalam kerangka ekonom, politik, pendidikan, kesehatan dan semua sendi kehidupan Rakyat Indonesia . Dinamika inipun tak luput dari perbedaan politik / pandangan umum tentang negara, yang meliputi sistim politik, ideologi, arah pembangunan dan lain sebagainya.

Tercatatlah dalam sejarah pembentukan negara cinta damai ini, peran Soekarno sebagai “The Founding Father” yang menyodorkan konsep nasionalisme tulen untuk melanggengkan berdirinya negara ini, berlatar belakang pengorbanan anak bangsa terhadap nafsu angkara para penjajah, dengan latar belakang inilah sebuah konsep nasionalisme bertumbuh kembang. Hingga lahirlah sebuah negara yang melingkungi semua anak bangsa yang berbeda agama, ras, suku bangsa dan lain sebagainya. Dalam kontek seperti inilah seharusnya sebuah nasionalisme mampu bersemayam di tiap benak anak bangsa, untuk dijadikan landasan pacu untuk mengurai benang kusut konflik yang menerjang kita semua.

Namun karena dinamika politik yang diusung oleh bergulirnya jaman, maka Soekarnopun lengser meninggalkan koridor Orde Lama dan lahirlah sebuah orde penggantinya yang diidentifikasikan sebagai Orde Baru.

Selama berlangsungnya rezim Orde Baru tercapailah pembangunan di segala bidang, dengan konsep pembangunan Rencana Pembangunan Lima Tahun, yang pada finalnya pemerintah era Orde Baru berniat membawa Rakyat Indonesia ke era tinggal landas menuju Masyarakat Adil Makmur berdasarkan Pancasila, setelah semua kerangka landasan dan setiap sendi kebutuhan Masyarakat Indonesia disiapkan terlebih dahulu pada Pelita sebelumnya. Perekonomian Indonesia pada Tahun 1966 berada pada titik paling rendah. Setelah itu upaya pembangunan yang sistematis mulai dilaksanakan melalui serangkaian pembangunan lima tahunan dan berjangka dua puluh lima tahun berdasarkan arahan-arahan GBHN.

Repelita I dalam PJP I dimulai pada tahun 1969/70. Agar pencapaian sasaran pembangunan dapat terwujud secara optimal dan sesuai dengan yang digariskan, maka sasaran-sasaran pembangunandipilah dalam berbagai bidang dan sektor pembangunan. Seluruh kebijaksanaan dirancang dandilaksanakan dalam kerangka Trilogi Pembangunan. Selama PJP I, laju pertumbuhan ekonomi mencapai rata-rata 6,8 persen dengan laju pertumbuhan penduduk telah dapat ditekan rata-rata di bawah 2 persen per tahun, pendapatan per kapita meningkat lebih dari 11 kali (dinyatakan dalam US$ pada harga yang berlaku) menjadi di atas US$ 800.

Dalam dua tahun Repelita VI, laju pertumbuhan ekonomi mencapai 7,5 persen dalam tahun1994 dan 8,1 persen dalam tahun 1995. Pertumbuhan itu telah melampaui sasaran (baru) yangditargetkan dalam Repelita VI yaitu sebesar 7,1 persen rata-rata per tahun.Dalam Repelita VII, pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk ditargetkan di atas 7persen dan 1,4 persen rata-rata per tahun. Dengan kedua sasaran ini, pendapatan per kapita padaakhir Repelita VII diharapkan dapat mencapai sekitar US$ 1.400 (berdasarkan US$ 1993), atau sekitar US$ 2.000 pada harga yang berlaku. Pada saat itu ekonomi Indonesia telah dapat digolongkan kedalam negara industri baru ( Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Ketua Bapenas, 1996 ).

Namun demikian karena tuntutan Rakyat Indonesia terhadap kepemimpinan Soeharto, maka diapun mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998. Mundurnya Soeharto tersebut menandai lahirlah sebuah sistim politik baru sebagai Sistim Politik Reformasi, yang lebih mengfokuskan berbagai transparansi multidimensional. Sehingga dengan sendirinya melahirkan berbagai krisis multidimensional pula, terlebih lebih nilai nasionalisme yang disakralkan para pendahulu kita.

Selama berkibarnya Sistim Politik Reformasi, kehidupan politik berjalan monoton meski telah tiga kali Bangsa Indonesia mengamanatkan empat putra bangsa menjadi Presiden RI, masing – masing adalah BJ Habibi, KH Abdurahman Wakhid, Megawati Soekarnoputri dan SBY. Selama kurun waktu dari Tahun 1977 – 2009, hanya kita temui padatnya aksi demo, manuver politik para elit poltik guna mendapatkan dukungan publik, kasus PHK dan dinamka politik lannya yang justru membosankan Rakyat Indonesia. Dari berbagai kasus sosial yang tak lebih adalah The New Social Behaviour Performance”, adalah sebuah pertanda menipisnya nasionalisme yang ditelan ego kepentingan.

Dinamika politik kembali menggelora di akhir Tahun 2009 mengawali masa jabatan ke – II SBY sebagai Presiden RI hingga kini, lantaran telah terjadinya kemelut bercampur dengan carut- marut pengucuran bailout sebesar 6 ,7 trilyun rupiah kepada Bang Century yang dianggap sebagai bang kolaps yang akan menyipkan pengaruh sistemik perbangkan di Indonesia. Wacana tersebut memang telah berlangsung pada awal awal Tahun 2010 ini, sebagai wacana yang usang. Namun terbesit dalam gambaran hati kita bahwa dibalik upaya pencerahan tersebut telah terdapat ”penjarahan nasionalisme” yang sudah mencapai titik mengkhawatirkan, Karena hingga kini yang dapat kita ambil kesimpulan adalah hanya permainan untuk ”Kursi Keprabon” SBY. Kasus ini hanya sebuah ”replay” dari Gus Dur dengan Bulog Gate.

Lebih memiliki urgensi yang vital untuk pencerahan politik publik, adalah sikap keteladanan para pemimpin kita dalam melokomotifi gerbong naasionalisme yang sudah sarat beban, terutama untuk rakyat kecil yang telah sarat dengan keterpurukan ekonomi. Berbagai wacana kekisruhan tersebut adalah pada hakekatnya adalah sebuah ”Warning System” akan terjarahnya nasionalisme oleh semua anak bangsa, yang lebih jauh lagi mampu mengancam integrasi negara kesatuan ini.

Oleh : Ir. Bambang Sukmadji Guru MA Futuhiyyah 1. Mranggen Demak

Tulisan lain yang berkaitan:

5 Responses to “”PENJARAHAN NASIONALISME” YANG DITEBAR KONFLIK POLITIK”

  1. Riyadi on Friday, 2 April 2010 (pukul 7:08 pm)

    Rerevitalisasi nasionalisme yang hilang atau terselip di panggung sandiwara humor yang berepisode kekisruhan politik, betapa kehidupan politik yang berjalan monoton memang dapat menghilangkan karakter bangsa. Prihatin pula atas hal ini, terutama untuk rakyat kecil yang telah sarat dengan keterpurukan ekonomi…. Terima kasih tulisan Bapak mengingatkan sebuah cakrawala karakter bangsa. Semoga ke depan dapan menemukan jalan terbaik. Amin. Salam.

    Reply

  2. AGUS SUWARNO on Thursday, 8 April 2010 (pukul 9:16 am)

    Revitalisasi Nasionalisme syarat mutlak bagi kejayaan negeri ini. Betapa saat ini banyak anak bangsa yang mencabik-cabik negeri ini hingga berdarah-darah. Hilangnya kesadaran sebagai bangsa indonesia berakibat pada ketidak pedulian, apatisme bahkan sinisme terhadap bangsa sendiri.
    Mari para guru,untuk mengambil tanggung jawab besar ini melalui ruang-ruang kelas, kita membangun kepedulian dan kesadaran sebagai bangsa indonesia kepda anak didik kita.
    “Jangan tanyakan apa yang diberikan oleh negeri ini kepada kita, tapi tanyakan apa yang bisa kita berikan kepada negeri ini”.(JFK)

    Reply

  3. ari handoko on Thursday, 22 April 2010 (pukul 8:24 pm)

    semoga tuhan menaburkan benih-benih keimanan, kejujuran, kepedulian pada rakyat, keteladanan kepada para elit politik dan pemimpin negeri. semoga tugan mencabut keserakahan, keangkuhan, kesombongan, yang masih melekat di dalam diri kita semua seluruh umat di negeri yang indah ini. semoga di negeri ini tidak ada lagi murka tuhan, tak ada lagi bencana, malapetaka sehingga banyak korban berjatuhan.

    Reply

  4. Ir. Bambang Sukmadji on Saturday, 29 May 2010 (pukul 10:02 pm)

    KeoadaYth Bpk.RIYADI, AGUS SUWARNO, ARIMHANDOKO….Matur nuwuinatas komentarnya terhadaptulisan kami.Semoga kita bisa bersatu dalam idealisme anak bangsa …amin.Maturmnueun

    Reply

  5. Megha Lay on Monday, 24 January 2011 (pukul 10:42 pm)

    ;-) SEMOGA GENERASI MUDA KITA DAPAT MEMBANGUN POLITIK YANG JUJUR :grin:

    Reply

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP