MENJADI MANUSIA INDONESIA YANG KEMBALI SANTUN

Sunday, 14 March 2010 (21:15) | 200 views | 0 komentar

Oleh : Ir, Bambang Sukmadji
Telah berabad abad lamanya masyarakat sosial yang menempati Bumi Nusantara ini hidup bersama dengan damai, saling bertoleransi terhadap perbedaan unsur – unsur budaya masing masing dan saling bekerjasama dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya. Meski bangsa ini memiliki sebanyak 316 suku bangsa dan banyak bahasa daerah, namun interaksi sosial antara mereka tetap terjalin serasi. Sehingga semakin berjalannya waktu semakin pula kita mencermati terjadinya peningkatan laju asimilasi budaya antar suku bangsa tersebut satu sama lainnya., untuk membentuk suatu Budaya Nasional yang kita tempatkan sebagai jati diri bangsa.

Apalagi dengan semakin berkembangnya sistim tarnsportasi dan informatika di tanah air kita, maka semakin lebih dekat lagi jarak antara sesama suku bangsa ini satu dengan lainnya, meski sebagian besar suku bangsa ini menyebar hingga ke pelosok wilayah negara kita. Hal ini tentunya membawa konsekuensi logis bagi suku suku bangsa ini untuk melepaskan secara sistematis sikap primordialisme yang mengakibatkan berkembangnya sikap etnosentris.

Namun bukan fenomena itu saja yang melatar belakangi timbulnya pergaulan sosial antar suku bangsa di Nusantara ini. Hal yang paling fundamental adalah rasa senasib dan sepenanggungan dalam upaya mencapai maksud dan tujuan bersama ( reach of achievment ). Karena sebagai bangsa yang berbudaya dan bermartabat tentunya memiliki komitmen bersama dalam hal faith against survive untuk memperjuangkan nasibnya sendiri tanpa adanya intervensi Ipoleksosbud dari bangsa lain, yang dalam hal ini adalah Bangsa Belanda dan Jepang.

Perjuangan untuk memperoleh status merdeka telah mencapai puncaknya pada saat dideklarasikan kemerdekaan negara kita pada tanggal 17 Agustus 1945, yang secara yuridis formal telah mengukuhkan berdirinya suatu bangsa yang meliputi semua suku bangsa seantero nusantara ini. Sehingga secara kultur kita bisa membuktikan adanya kerukunan sosial atau konsesus nasional yang timbul dari bangsa yang multikultur ini sehingga mampu membuahkan even puncak yang merupakan bagian integral dari perjuangan panjang terbentuknya bangsa yang merdeka dan santun ini.

Sikap tersebut sangat riil membuktikan bahwa kepentingan nasional untuk semua suku bangsa selalu dikedepankan ketimbang kepentingan suku, agama, ras dan antar golongan itu sendiri, yang eksis di Bumi Nusantara ini. Bukankah ini pula dapat untuk membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang terbuka, mau mengedapankan kepentingan bersama,

Toleran terhadap semua perbedaan yang ada dan bersifat demokratis sekaligus adalah bangsa yang santun. Bukan bangsa yang senang mengumbar kekerasan dan kekejian, amuk masa dan bukan pula bangsa yang berperange seperti Bangsa Barbar. Kita bukan pula bangsa yang rasialis dan fasis.

Sebagai gambaran sosiologis kita sebenarnya tidak perlu untuk menggunakan kekerasan yang berupa amuk masa, tawuran antar kelompok, demo dengan disertai tindakan anarkis. Atau tindakan kekerasan/kekejian ( Violence ) lainnya. Sebab perilaku tersebut sangat tidak kondusif dan tidak bisa dibenarkan engan pendekatan disiplin ilmu apapun.

R.J. Rummel merinci dengan jelas tentang tindak kekerasan ( violence ) yang terjadi pada suatu masyarakat, dalam laporan penelitiannya Understanding Conflict and War : Vol 2 The Conflict Helix , menyatakan bahwa kekerasan yang merebak ke masyarakat, berupa pembunuhan, perkelahian missal, penganiayaan dan lain sebagainya dan bukan sebagai akibat dari timbulnya suatu konflik sosial , melainkan suatu perilaku pemaksaan secara lahiriah tergantung besar kecilnya kepentingan pelaku. Kekerasan yang ada di masyarakat lebih mengarah ke pemaksaan pada pihak lain untuk merampas atau menghilangkan sesuatu dari lainnya. Kekerasan biasanya terjadi karena adanya kemauan sesuatu pihak yang berlawanan dengan kepentingan umum. Hal ini tentunya akan mengakibatkan kerusuhan atau peperangan antara kedua belah pihak.

Lebih jauh dia menandaskan bahwa kekerasan itu sendiri adalah bukan suatu tindakan sosial, alasan ini dikarenakan kekerasan adalah suatu tindakan yang tidak menguntungkan pihak lain. Dengan demikian setiap bertuk kekerasan sudah barang tentu bukan suatu konflik sosial. Sebagai gambaran umum R.J. Rummel menyatakan bahwa kekerasan atau kekejian hanya semata mata mengarah kepada fisik saja bukan mengarah ke sosial.

Bangsa Indonesia yang lahir sebagai bangsa Asia Timur tentulah sangat jauh dari sifat sifat seperti tersebut di atas. Sebab struktur budaya timur lebih mengacu kepada bentuk penghargaan kepada orang lain, bersifat terbuka dengan inovasi baru dan lebih berorientasi kepada mufakat bersama serta mendahulukan bentuk sosial gotong royong untuk menylesaikan kendala bersama. Fenomena ini telah menjadi suatu peradaban sejak jaman dahulu yang harusnya tetap dipertahankan hingga sekarang.

Namun demikian gambaran sosial yang ada pada era sekarang adalah jauh sekali dengan budaya Bangsa Indonesia sebagai bangsa timur yang telah memiliki potensi yang besar sebagai bangsa yang santun. Keterbukaan antara unsur / lembaga / kelompok yang membangun struktur sosial ini seharusnya adalah merupakan ciri khas dari bangsa ini. Apakah kita akan begitu saja kehilangan predikat sebagai bangsa yang ramah, murah senyum, santun dan terbuka bila kenyataan yang ada adalah sebaliknya ?.

Yang lebih ironis lagi adalah gejala menguatnya gejala perilaku individu yang memanipulasikan jabatanya hingga mengakibatkan kekisruhan yang mewarnai kehidupan sosial poliitik bangsa kita sepanjang beberapa tahun belakangan ini. Karena kepentingan individu tersebut mampu menginternalisasikan ke arah institusi yang dipimpinnya. Lebih parah lagi kekisruhan ini mampu merubah wajah sosial yang santun menjadi wajah yang beringas, lebih berorientasi kepada amuk masa untuk menyelesaikan kepentingan kelompoknya ketimbang mencari mufakat bersama.

Bukankah dengan kesantunan yang menjadi ciri khas kita bersama akan lebih mampu menyelesakan konflik yang merebak. Hal ini disebabkan karena kesantunan yang mewajahi bangsa kita adalah gambaran komprehensif dari tabiat transparan baik intern maupun ekstern, selalu mengutamakan mufakat bersama dan lain sebagainya, yang sebenarnya merupakan landasan utama bagi semua penetu kebijakan. Karena hampir semua konflik yang mencuat ke atas adalah konflik yang berakar pada hilangnya tabiat kesantunan setiap individu dari bangsa ini, yang sebenarnya tabiat itu sudah menjadi jati diri bangsa dan menginternalisasi selama berabad-abad.

Sebab apabila social behavior ini telah dilanggar maka akan berakibat fatal seperti terjadinya tragedi kemanusiaan pada tahun 1965 – 1966 yang menewaskan 2 juta anak bangsa dan lebih dari 200 ribu dipenjarakan akibat krisis ideologi yang dipacu oleh tindakan kontrev G 30 S PKI. Selain itu masih ada pula benturan politik dan aksi disintegrasi bangsa yang sebenarnya suatu aksi politik sebagai akibat adanya social-changes yang pesat di Pulau Jawa, tetapi gaungnya tidak sampai ke daerah terpencil di luar Pulau Jawa.

Kita tidak bisa memungkiri begitu saja tragedi yang memilukan ini, sebab apapun alasanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdiri diatas masyarakat yang multiculture pastilah akan menimbulkan konflik ideologis hingga dikukuhkan bersama ideologi yang diterima. Ideologi yang paling nyaman dikenakan adalah ideologi yang menopang aspek idealis, realis dan fleksibel. Hanya Ideologi Pancasilalah yang terbukti terinternalisasi ke dalam tiap benak Rakyat Indonesia.

Namun segala macam pertikaian ideologis dan aksi politik lainnya di masa lalu telah kita selesaikan bersama, Oleh karena itu guna menerapkan kehidupan berbangsa dan berpolitik yang santun mulai tahun 2010 dan terus ke depan nanti, marilah kita berkepala lebih dingin lagi. Upaya penyelesain hukum terhadap konflik apa saja dilaksanakan dengan lebih santun lagi, dengan tidak meninggalkan azas – azas hukum yang berlaku. Apalagi bentuk penyelesaikan dengan amuk masa, power public , menyisihkan aspek moralitas dan lain sebagainya sebaiknya segera kita tanggalkan saja.

Oleh : Ir, Bambang Sukmadji Pendidik MA Futuhiyyah 1 Mranggen Demak

Tulisan lain yang berkaitan:

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP