Mengelola Mading yang Menggugah Kreativitas Siswa

Tuesday, 9 March 2010 (05:11) | 776 views | 5 komentar

Oleh Sungkowo, S.Pd
Diakui atau tidak, kenyataan yang ditemukan di banyak sekolah, ekstrakurikuler majalah dinding (mading) tidak banyak diminati siswa. Siswa lebih menyukai ekstrakurikuler menjahit, sepak bola, basket, pencak silat, dan karya ilmiah remaja. Di benak siswa bisa jadi mading memang tidak “menjanjikan” jika dibandingkan dengan jenis ekstrakurikuler yang disebut kemudian. Yang terbayang di benak siswa adalah terampil menjahit, bisa berprofesi sebagai penjahit. Terampil sepak bola, basket, atau pencak silat bisa menjadi olahragawan. Terampil dan cerdas dalam karya ilmiah, dapat berkecimpung dalam bidang keilmuan. Sebaliknya, kalau terampil dan piawai dalam mading tidak bisa mengarah pada profesi berprospek. Ini gambaran bahwa ekstrakurikuler menjahit, sepak bola, basket, dan karya ilmiah remaja lebih “menjanjikan” daripada mading, yang di samping tak ”menjanjikan” juga cenderung menjenuhkan.

Menjenuhkan karena umumnya siswa yang masih memerlukan bimbingan dan arahan dari pembina ekstrakurikuler kurang mendapat perhatian karena mungkin pembina ekstrakurikuler mading kurang memahami dunia jurnalistik sehingga siswa pasif. Yang sering ditemukan, siswa hanya menggunting atau menyalin tulisan yang ada di media cetak, lalu menempelkan pada mading. Tidak banyak siswa yang mau menulis sendiri. Kalau pun ada yang mau menulis sendiri jumlahnya tidak banyak bahkan cenderung menurun dari waktu ke waktu karena kurangnya bimbingan, arahan, dan rangsangan. Kondisi ini berdampak siswa malas bergabung dalam ekstrakurikuler mading.

Mading memang harus ada di sekolah, lebih-lebih sekolah yang tidak memiliki majalah sekolah. Sebab, mading memiliki beberapa manfaat. Pertama, mading dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk mewadahi kreativitas siswa berbakat menulis dan melukis termasuk juga yang menyukai fotografi. Bakat mereka harus disalurkan lewat wahana yang tepat agar bisa berkembang dan bertumbuh maksimal. Keragaman bakat yang ada justru dapat saling membangun, mendukung, dan memotivasi. Bakat mereka sungguh akan tergali. Tentu sangat bermanfaat, baik kini maupun masa mendatang.

Kedua, mading sebagai media informasi yang mencerdaskan. Karya kreasi siswa yang dimuat di mading, yang tentu telah lewat seleksi di meja redaksi, perlu mendapatkan penghargaan. Karya terpilih yang mendapat penghargaan merupakan karya yang memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan karya lain. Karya terpilih itu menjadi sajian yang menarik bagi para siswa. Minat ketertarikan dapat mendorong keinginan untuk berkarya. Menggugah imajinasi, menggali inspirasi. Kecerdasan-kecerdasan dalam bidang menulis, melukis, dan keterampilan-keterampilan lain bisa bermunculan karena ada rangsangan dan penghargaan.

Ketiga, mading sebagai media rekreasi-edukasi. Muatan materi pembelajaran dan proses pembelajaran di kelas membutuhkan konsentrasi yang sungguh-sungguh. Kenyataan ini memberi beban tersendiri bagi pikiran dan emosi siswa. Oleh karena itu, mading, yang menyajikan karya-karya siswa yang ringan, lucu, dan kontekstual bisa menjadi alternatif untuk memulihkan kondisi pikiran dan emosi kembali segar. Siswa memasuki proses pembelajaran berikutnya dalam suasana menyenangkan dan menggairahkan.

Keempat, mading sebagai jembatan menuju ke karya kualitas media publik. Mading menjadi semacam “kawah candradimuka” karya-karya siswa. Karya-karya siswa yang lolos seleksi dengan adanya penyempurnaan oleh redaksi mading, yang telah dipajang pada mading bisa dikirim ke media publik atas bantuan redaksi mading. Kalau karya-karya siswa itu dimuat paling tidak ada dua keuntungan dapat diperoleh. 1) siswa yang karya ciptanya dimuat di media publik tentu akan semakin bergairah untuk memproduksi karya-karya baru karena ternyata jerih lelahnya membuahkan “nilai tambah”, baik intelektual maupun finansial. Dan, sekaligus ini akan menciptakan kompetisi berkarya antarsiswa. Implikasinya, para siswa akan memperkaya pengetahuan diri melalui kegiatan-kegiatan kreatif-produktif. 2) secara tidak langsung nama baik sekolah akan terangkat oleh karena prestasi siswa. Sekolah akan semakin luas dikenal masyarakat.

Memahami betapa mading memberi sumbngan bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa sekaligus sekolah, perlu upaya nyata mengelola mading secara lebih profesional.

Tim redaksi yang diperkaya
Mengingat sering dijumpai sekadar merekrut saja sulit, maka perlu banyak pihak terlibat. Guru-guru bahasa dan seni bisa menjadi penggagas. Namun, bukan berarti guru-guru lain tidak ambil bagian. Guru-guru lain lebih-lebih yang bertalenta di bidang tulis-menulis-lukis dianjurkan berpartisipasi sejak awal. Melalui pelajaran seni lukis ada peluang luas ditemukan siswa berbakat melukis. Melalui pelajaran bahasa ada peluang luas ditemukan siswa berbakat menulis atau terampil berbicara. Melalui pelajaran teknologi informasi komunikasi (TIK) ada peluang luas ditemukan siswa yang senang menggeluti keterampilan ketik-mengetik, cetak-mencetak, fotografi, dan konumikasi. Bisa juga tanpa melalui pelajaran tertentu ditemukan siswa minat di bidang jurnalistik. Semua disatukan dalam wadah ekstrakurikuler mading.

Kompetensi siswa yang direkrut dalam tim redaksi mading memang relatif terbatas. Oleh karena itu, perlu tambahan pengetahuan dan motivasi. Tidak ada salahnya jika sekolah berinisiatif menghadirkan wartawan ke sekolah, misalnya, untuk memberikan pelatihan kepada para siswa utamanya yang tergabung dalam tim redaksi. Sebab, diakui atau tidak, guru-guru termasuk guru bahasa masih minim pengetahuan bidang jurnalistik. Melalui pelatihan, tim redaksi diperkaya intelektual dan keterampilan di bidang jurnalistiknya. Dan, manakala tim redaksi atau siswa bersentuhan langsung dengan praktik kerja wartawan yang penuh tantangan dan keunikan, dipastikan siswa tertarik bidang tersebut. Mereka mulai menyadari bahwa ekstakurikuler yang diikuti sebenarnya berprospek, menjanjikan, seperti halnya menjahit, sepak bola, pencak silat, dan karya ilmiah remaja.

Sekolah agaknya perlu juga memerhatikan sarana yang diperlukan tim redaksi mading bekerja, misalnya, kamera, tape recorder, komputer sehingga kerja mereka lebih profesional. Sekolah pada akhirnya memiliki wartawan-wartawan cilik yang dapat meliput segala kegiatan yang diadakan sekolah. Segala aktivitas sekolah akhirnya dapat terdokumentasikan dengan baik.

Rubrik mading yang dipercantik
Banyak tim redaksi mading menyederhanakan tata letak papan mading. Tidak jarang ditemukan mading dengan naskah tersusun ala kadarnya. Tidak ada pembagian rubrik yang jelas. Naskah bertema sama, yang semestinya diletakkan dalam satu rubrik bisa berjauhan. Sebaliknya, naskah bertema beda terletak berdekatan. Dengan begitu, mading tampak kurang menarik untuk dibaca karena pembaca kurang dapat terfokus. Oleh karena itu, perlu penataan lebih kreatif. Papan mading perlu dipetak-petak sesuai dengan rubrik yang disediakan. Misalnya, ada rubrik komentar pembaca, rubrik warta utama, rubrik kreasi karya siswa, rubrik psikologi, rubrik seni budaya, rubrik iptek, rubrik konsultasi, dan yang lainnya sesuai dengan kebutuhan redaksi.

Agar menarik, setiap nama rubrik ditulis mencolok di segi warna dan lebih besar di segi ukuran serta lebih unik di segi bentuk hurufnya. Yang tidak boleh dilupakan adalah nama mading. Tata letak nama mading harus diatur sedemikian rupa karena sebagai pusat pandangan. perlu ditulis lebih mencolok dan unik agar dari kejauhan sudah tampak jelas dan menarik.

Untuk memaksimalkan fungsi rubrik yang ada, perlu ada penjaga rubrik (jabrik). Jabrik dianjurkan siswa yang menguasai materi isi rubrik. Siswa berbakat menulis tentang iptek, misalnya, cocok jika diminta menjadi jabrik iptek. Siswa yang terampil dalam bidang seni budaya, tepat kalau menjabat jabrik seni budaya. Begitu seterusnya sehingga keterampilan khusus yang dimiliki jabrik-jabrik lebih tergali.

Akan tetapi, jabrik-jabrik tersebut bukanlah menjadi penulis utama untuk rubrik yang dijaga. Ia lebih difungsikan untuk mengelola rubrik yang dijaga itu. Naskah untuk rubrik tersebut memang menjadi tanggung jawabnya. Naskah yang masuk ke meja redaksi sesuai dengan rubrik yang dia jaga, dialah yang harus menyeleksi dan mengedit hingga terbit di mading. Agaknya perlu dimengerti juga bahwa jabrik tidak harus melulu siswa. Bisa saja guru. Keterlibatan guru BK dalam rubrik psikologi dan konsultasi, misalnya. Sangat menarik karena pembelajaran terkait dengan psikologi dan bimbingan karier dapat muncul di mading untuk dikonsumsi banyak siswa. Sehingga permasalahan beberapa siswa yang mungkin sama dapat terselesaikan meskipun hanya melalui membaca tulisan di mading. Tidak harus berkonsultasi langsung dengan guru BK. Guru BK bukan satu-satunya sumber pemecah masalah siswa. Bisa saja pengalaman nyata siswa dalam memecahkan masalahnya dituliskan untuk rubrik tersebut. Pengalaman itu mungkin lebih mujarab karena sangat kontekstual dengan alam pikiran siswa sendiri.

Jabrik tentu dapat lebih optimal bekerja karena tugas terfokus. Terus tertantang untuk menggali sumber naskah secara aktif. Jabrik dianjurkan terjun langsung di kegiatan-kegiatan sekolah yang ada kaitannya dengan isi rubrik yang dijaga. Ia tidak hanya meliput kegiatan tersebut, tetapi juga dapat membangun jejaring dengan orang-orang atau para siswa yang terlibat dalam kegiatan itu. Sangat baik jika kemudian di dalam kegiatan itu ditemukan orang atau siswa yang mau diajak menulis tentang aktivitasnya itu untuk dikirim pada redaksi. Dengan demikian, rubrik tidak akan kekurangan naskah. Jabrik dengan demikian lebih bisa leluasa untuk menyiapkan penerbitan mading tepat waktu secara berkala.

Bahwa bisa saja jabrik tidak sendiri. Artinya terdiri atas kelompok siswa karena mereka memiliki kesamaan talenta. Ini justru baik sebab mereka dapat saling mendukung. Lebih ada peluang untuk berdiskusi tentang materi setiap menjelang terbit. Kualitas muatan materi pun lebih baik.

Dengan adanya pembagian tugas seperti itu, antarjabrik tampaknya terpisah. Namun sejatinya mereka bersatu. Mereka memiliki tanggung jawab sama dalam membangun eksistensi mading. Justru kebersatuan mereka tampak nyata saat mading akan diterbitkan. Mereka bertemu dalam satu meja redaksi, berdiskusi, dan memutuskan bersama mengenai bakal terbitan. Kerja tim diuji di sini. Keberhasilan milik bersama. Kegagalan juga milik bersama. Itulah sebabnya, tidak ada sikap satu menyalahkan yang lain. Yang ada saling memotivasi. Bukan tidak mungkin lewat kegiatan ini karakter kepribadian anak-anak terbentuk.

Pemberian penghargaan yang bermakna
Jerih lelah siswa pengirim naskah yang naskahnya dimuat di mading harus diberi apresiasi. Apresiasi yang diberikan tidak cukup berhenti pada memberi ucapan selamat atau bingkisan berupa alat-alat keperluan sekolah, tetapi penghargaan yang lebih bermakna. Naskah-naskah yang pernah dimuat di mading perlu didokumentasikan. Cara mendokumentasikan naskah bisa berdasarkan rubrik. Naskah-naskah rubrik komentar pembaca, misalnya, dijilid menjadi satu. Naskah-naskah di rubrik karya kreasi siswa dibukukan. Demikian juga naskah-naskah di rubrik yang lain diperlakukan secara sama. Naskah-naskah yang telah dijilid atau dibukukan tersebut dimasukkan ke perpustakaan sekolah. Tentulah dapat dimanfaatkan untuk materi pembelajaran di kelas dari tahun ke tahun disesuaikan dengan keperluan dan kepentingannya sehingga naskah lama pun masih bisa dikenal generasi siswa yang kemudian. Upaya ini di samping untuk memperkenalkan generasi pendahulu dan karyanya kepada gererasi kemudian, juga dimungkinkan dapat menggugah kreativitas generasi kemudian.

Selain itu, penghargaan dapat diberikan dalam bentuk membantu mengirimkan karya siswa yang pernah dimuat di mading ke media publik seperti yang telah penulis singgung di awal tulisan ini. Sebab, sering siswa bersikap malas untuk mengirimkan naskah ke media publik. Kalau toh bersedia mengirimkan kadang tidak konsisten. Tidak jarang siswa –bahkan guru dan orang dewasa juga- malas mengirim lagi jika naskah kiriman yang dulu-dulu tidak pernah dimuat. Di sini tim redaksi mading sangat berperan untuk mensuport agar siswa tersebut tetap bergairah untuk memproduksi karya-karya baru. Tim redaksi terus membantu mengirimkan karya tanpa merasa bosan sembari memberi bimbingan agar karya-karya yang dicipta kemudian lebih berkualitas dan berpeluang dimuat di media publik. Mading dapat mengantar siswa menjadi sosok terampil yang profesional. Ini sebuah penghargaan yang bermakna.

Siswa yang menjadi jabrik juga memiliki peluang untuk menjadi sosok terampil yang profesional. Siapa tahu di kelak kemudian hari karena ketekunan dan semangat belajar, jabrik seni budaya di mading dapat berprofesi menjadi penulis tetap kolom seni budaya di media publik. Tekun dalam tim redaksi mading ketika sebagai siswa, menjadi wartawan saat dewasa. Semua bisa terjadi jika ada semangat dan keberanian menekuni bakat minat sendiri.

Jembatan menuju ke majalah sekolah
Sebagai sebuah media, majalah sekolah lebih luas dan jauh menjangkau konsumen ketimbang mading. Kalau mading hanya dibaca warga sekolah, majalah sekolah dapat dibaca warga masyarakat. Dengan demikian, majalah sekolah tentu lebih ampuh untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan siswa sekaligus sekolah. Majalah sekolah memiliki keberadaan yang tidak jauh berbeda dengan media publik. Keduanya membangun komunikasi dengan masyarakat luas. Oleh karena itu, penting kiranya menerbitkan majalah sekolah apabila sekolah memiliki kemampuan. Gagasan membuat majalah sekolah lebih cepat terwujud kalau mading sekolah telah terkelola secara baik. Mading dapat menjadi jembatan untuk menuju ke majalah sekolah. Tim redaksi mading pada tahap awal dianjurkan menjadi tim redaksi majalah sekolah tanpa menutup kemungkinan merekrut anggota baru jika dipandang perlu.

Meskipun tim redaksi mading membidani majalah sekolah, tidak serta merta terbitan mading berhenti. Mading harus tetap eksis terbit. Periode terbit mading dan majalah sekolah berbeda. Katakan saja kalau mading terbit satu bulan dua kali, karena hal baru, majalah sekolah diprogram dua bulan atau tiga bulan terbit satu kali. Dengan demikian redaksi tidak repot. Pada masa perkembangannya kemudian -setelah melalui pengkaderan- tim redaksi mading harus berpisah dengan tim redaksi majalah sekolah. agar masing-masing tim redaksi lebih terfokus. Akan tetapi, kerja sama harus tetap terjalin. Tidak mengurangi kewibawaan majalah sekolah andai saja karya yang pernah dimuat di mading dimunculkan lagi di majalah sekolah dan tentu setelah melalui pertimbangan matang.

Sungkowo, S.Pd.
Guru SMP 1 Jati Kudus

Tulisan lain yang berkaitan:

5 komentar terhadap “Mengelola Mading yang Menggugah Kreativitas Siswa”

  1. Atik | Friday, 12 March 2010 @ 9:21 am

    Sayangnya di beberapa sekolah sekarang mading tidak dikelola dengan baik Pak… hanya dikelola kalau pas ada tugas Bahasa Indonesia saja. Kadang-kadang informasinya jarang diupdate.
    .-= Atik´s last blog ..Sekolahku, Guruku: 24 Tahun Lalu dan Selamanya =-.

    Reply

  2. Sungkowoastro | Friday, 12 March 2010 @ 10:49 am

    Mari sama-sama kita gairahkan Bu, di sekolah kita masing-masing! Salam kenal dan kekerabatan.
    .-= Sungkowoastro´s last blog ..TERGERUS, PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP =-.

    Reply

  3. Irus | Saturday, 21 August 2010 @ 6:25 pm

    Di sekolah saya, osis yang ikut mengelola mading sekolah, termasuk saya. Namun, dari anak2 osis sendiri malas untuk mengelolanya. Apalagi para siswa yang masa bodoh akan ada dan tidaknya mading. Saya keberatan bila menanggung sendirian. Bagaimana caranya menghidupkan mading lagi?
    Terima kasih,.

    Reply

  4. jupe dx | Monday, 23 August 2010 @ 12:29 am

    MBak, I’m confused.
    Mading di skolah q terlantar. Aq kerja sendiri, jadi aq malas. Gimana nih mbak? Kasih solusi donk,

    Kirim via email aj klo k mbak, :razz:

    Reply

  5. sardono syarief | Tuesday, 24 August 2010 @ 10:30 pm

    Bagus! Setuju dengan pendapat Pak Sungkowo :roll:

    Reply

Komentar Anda?


«
»
IP