GURU PENULIS DAN NYAMUK

Tuesday, 2 March 2010 (06:44) | 183 views | 0 komentar

Oleh: Asip Kurniawan, S.Pd
Bukan hal yang biasa bila setiap kali kita membicarakan mengenai kehidupan dunia pendidikan. Karena pendidikan kini suatu bukti kesaktian akal, bahkan suatu keberhasilan seseorang, meskipun faktanya belum membuktikan. Kenyataannya kita kerap kali terburu-buru terpana akan mutu, kualitas, dan kesejahteran yang semakin lama semakin kurang menggairahkan namun terlalu menyenangkan untuk tidak membicarakannya. Pendidikan acap kali di cap sebagai kejeniusan, padahal sama sekali salah. Jika kemiskinan identik dengan kebodohan, itu juga suatu bandrol yang meleset dari pasaran, pemikiran tersebut hanya bersifat temporal. Dari satu sisi banyak yang menerima tapi dari sisi yang lain banyak yang menolak. Apakah karena faktor yang mendasar atau hanya gengsi dengan pemikirin tersebut.

Dimana-mana terjadi proses-proses perubahan yang dipaksakan. Ini memaksa yang dipaksa menjadi memaksakan diri dalam pemenuhan keinginan sesuai yang memaksakan. Dalam hal ini adalah kesejahteraan pengajar (bukan pendidik). Sampai akhirnya segala sesuatu menjadi seperti sebuah keterpaksaan. Terpaksa menerima upah mengajar yang relatif dianggap kurang, terpaksa mandi pagi dan dua sampai empat jam berdiri di depan kelas.
Terjadinya proses-proses penyejahteraan diri yang entah karena terpaksa atau memaksa, yang jelas banyak mengundang banyak pertanyaan. Demonstrasi-demonstrasi menuntut adanya perbaikan kesejahteraan bagi pengajar baik negeri maupun yang belum negeri sebetulnya sudah delik untuk memberikan sebutan bahwa kita sebagai pengajar mengalami kemunduran mental dan kemerosotan kedisiplinan etika, atau karena banyak disebabkan oleh iklim demokrasi. Sehingga, profesi guru yang pekerjaannya identik dengan menulis dan membaca akan tetap hanya sebatas keidentikan semata.

Membaca maupun menulis bagi sebagian guru dirasakan terlampau memuakkan. Disamping membutuhkan waktu luang untuk menyalurkan ide maupun argumentasi, tapi juga tidak memberikan finansial yang pasti.
Tanpa membaca manusia akan buta segalanya. Membaca memanfaatkan waktu luang. Mungkinkah membuat artikel tanpa membaca artikel yang dibuat orang lain? Menulis memerlukan ketrampilan khusus, tidak hanya memanfaatkan bahasa. Dalam arti bahwa menulis tidak hanya memerlukan satu buah disiplin ilmu. Karena menulis timbul dari pikiran setelah berhadapan dengan sebuah kenyataan. Namun, semuanya bisa dimulai dari keinginan mencoba dan belajar.
Banyak diantara kita yang lihai menerjemahkan suatu keadaan atau menanggapi sesuatu tapi tidak pandai dalam memaparkannya. Karena apa yang kita tulis bukan hanya dapat terpahami oleh penulis tapi juga oleh pembaca. Bukankah kita menulis atas dasar keinginan agar terkomunikasikan?
Budaya membaca sudah sejak lama diteriakkan oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun di lingkungan akademik. Namun sejauh ini belum menuai hasil yang signifikan.

Untuk menjadi seorang penulis, beberapa hal yang sifatnya material sangat berpengaruh. Seorang penulis barang tentu tidak akan dapat membuat suatu cerita pendek maupun novel tanpa mempelajarinya. Untuk itu dibutuhkan perbendaharaan buku sastra. Begitu pula dengan menulis artikel, dibutuhkan beberapa reverensi yang memadai dan sesuai. Sementara itu, kepuasan per individu penulis terlalu muluk-muluk. Bukan sekadar pada terpublikasikannya sebuah karya, tapi juga adanya unsur komersial ‘yang lumayan’.

Seperti kita ketahui sebagian besar beranggapan bahwa menulis adalah hobi. Sehingga apabila sudah menjadi sebuah hobi, maka menulis hanya akan terbentur pada waktu dan ide. Tapi, bagaimana menulis itu bisa menjadi sebuah hoby bagi guru yang sebelumnya apatis jika mendengar kata-kata ‘menulis’ itu?

Di lingkungan pendidikan, khususnya guru yang suka menulis-mengarang, kesempatan menulis kerapkali tidak didapatkan karena faktor waktu. Namun waktu juga bukan menjadi kendala apabila masih adanya keinginan untuk menulis. Pada dasarnya, seorang guru yang biasa menulis dengan tanpa sadar ia tidak akan bisa berhenti menulis. Keinginan menulis itu selalu muncul dengan berbagai alasan. Salah satunya keinginan untuk memamerkan pemikiran., baik berupa karya ilmiah maupun tulisan sastra. Menulis cerpen maupun membuat penelitian tindakan kelas merupakan sebuah presentasi dari hasil kita menyimpulkan sebuah wacana yang telah ada. Jika mengenai penelitian tindakan kelas, berarti persinggungan kita dengan anak-anak didik.

Beberapa guru ketika disodori sebuah blangko yang berisi mengenai lomba menulis, baik karya ilmiah maupun karya fiksi, selalu menolak untuk mengetahui informasi yang ada dalam pamflet tersebut atau terlampau acuh. Sebagai seorang pendidik, hal semacam itu sangatlah wajar, apalagi dengan kondisi keuangan yang tidak mendukung mereka. Psikologinya, bagaimana mereka mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidup dengan kepastian keberhasilan 90% diluar pendapatan dari mengajar itu sendiri. Lalu, bagaimana kita bisa memberikan sugesti yang persuasif mengenai manfaat menulis agar tumbuh dan tertanam sepersit semangat menulis? Alangkah baiknya, jika dimungkinkan, kalau setiap sekolah ditempatkan seorang pendidik yang telah berhasil menjadi seorang penulis. Salah satu contohnya adalah apabila organisasi seperti Agupena Jawa Tengah meratakan seluruh anggotanya untuk ditempatkan di sekolah-sekolah di Jawa Tengah yang belum ada pendidik  penulis.

Baik guru yang memang menyukai menulis dan guru yang belum menyukai pekerjaan yang disebut menulis itu sebenarnya sama-sama mempunyai kesamaan sebab tidak mau menulis, yaitu ketakutan. Takut apabila pada akhirnya nanti terbukti bahwa kita memang tidak mampu menulis seperti yang telah diyakini sebelumnya. Karena ketakutan adalah hakiki dimiliki setiap manusia. Di lain pihak, jika berhasil menjadi penulis apakah menulis dapat merubah hidup? Atau hanya sebatas menopang hidup? Hal itu sama halnya jika seorang anak kecil memberi tahu keberadaan Hp kita yang hilang, padahal Hp itu masih baru dengan nilai nominalnya yang besar, tentu kita akan mempercayai omongan anak itu meskipun ia hanya seorang anak kecil, karena memang terbukti Hp itu ditemukan kembali. Tapi apabila kemudian anak itu menasehati agar kita tidak sombong dan agar sering bersedekah, tentu saja kita tidak akan menggubrisnya, karena ia seorang anak kecil. Nah, anak kecil itu tentunya harus memberikan alasan-alasan dan dasar yang tepat, atau bukti yang autentik.

Sebagai seorang guru, ide muncul ketika menemui realita yang dihadapkan pada kita. Baik berupa ide untuk menentukan tindakan kelas atau mencari alternatif dalam mengambil keputusan yang tepat dan paling tidak dijadikan sebagai eksperimen. Namun ide-ide yang telah kita dapatkan kerapkali  mengalami kesulitan ketika ingin menuangkannya dalam bentuk tulisan. Sehingga untuk merealisir sebuah ide sudah terlebih dahulu terbentur pada bagaimana kita mempresentasikan dalam bentuk tulisan itu atau bagaimana cara memulainya. Tapi, bolehlah apabila kita memulainya dengan iseng atau dengan sebatas mencari kesibukan.

Menulis-mengarang maupun menulis sebuah penelitian tindakan kelas bukan hanya sekedar bisa dilakukan setiap profil guru. Sering kita menemui guru yang segala sesuatu dihitung secara ekonomis, dalam arti profesi sebagai seorang guru hanya sepenggal status. Padahal dengan mengkomersilkan sebuah profesi tersebut merupakan sebuah tindakan yang kurang profesional dan proporsional. Kita bisa mengambil contoh dengan adanya guru yang membagi-bagikan foto copy yang seharusnya tidak perlu karena kurang efektif, memaksa siswa untuk membeli buku paket atau LKS dan lain-lain. Jadi untuk memulai pekerjaan yang dengan nama ‘menulis’ itu menjadi sesuatu hal yang sangat tidak efisien dalam meraup sisi finansial. Bahkan di lingkungan guru tidak tetap, sering kali terjadi perebutan jam mengajar namun tidak balance dan kurang konsekwensif. Sebab pekerjaan untuk menjadikan anak menjadi tahu dari ketidaktahuan itu tidak terealisir. Bukankah guru secara profesional adalah pendidik bukannya pengajar? Kalau hanya mengajarkan materi bukan barang aneh jika banyak orang yang mampu melakukannya. Karena jika kita melihat dari etimologinya, profesi itu sendiri adalah sebuah pekerjaan yang didapat melalui pendidikan yang berkelanjutan dan dilakukan secara sadar.

Berbicara mengenai menulis, baik menulis-mengarang maupun merealisasikan sebuah ide penelitian tindakan kelas dalam bentuk tulisan belumlah pekerjaan yang banyak digemari kalangan pendidik saat ini. Bukan saja karena membutuhkan pemikiran dan waktu yang ekstra, namun juga terkendala oleh prospek atau untung ruginya, yang pada dasarnya berupa materi.

Meskipun kita sering sekali mendengar bahwa pekerjaan yang disebut ‘menulis’ itu adalah jenis pekerjaan mudah yang bisa kita lakukan sejak kita mengenal tulisan. Hal-hal yang biasanya menjadi alasan mengapa kita malas-malasan untuk menulis banyak disebabkan oleh beberapa persepsi berikut ini.
Pertama adalah karena kurangnya apresiasi. Apresiasi itu bisa datang dari rekan kerja maupun instansi-instansi terkait. Dengan begitu penilaian yang kita berikan untuk karya kita sendiri seakan tidak mempunyai nilai, tanpa penilaian orang lain. Sehingga mengakibatkan ketika membaca sebuah karya milik orang lain, penulis akan merasa karyanya buruk. Hal tersebut membuat penurunan semangat untuk menulis atau pun keinginan memperbaiki tulisannya. Sedangkan jalan merealisasikan keinginan untuk memamerkan karya kita pun kerap kali terhambat atau melalui prosedur pengiriman yang dirasa menyulitkan. Contohnya seperti harus dengan menggunakan CDRW atau syarat-syarat pengiriman lainnya. Bahkan kita sering mendengar adanya keterlibatan orang dalam redaksi dalam pemuatan sebuah karya tulis.

Yang kedua adalah mengenai bagaimana seorang penulis memelihara dan mengelola semangat menulis. Semangat menulis itu akan terus terpelihara jika penulis mendapatkan pemikiran-pemikiran baru, pengetahuan-pengatahuan baru, konsep-konsep baru. Untuk itu perlu adanya sebuah bimbingan atau pendidikan-pendidikan yang berkesinambungan atau rutin dengan menghadirkan narasumber yang kompeten. Sedangkan agenda seperti itu jarang kita temui. Bahkan seminar-seminar yang marak diadakan  akhir-akhir ini disinyalir hanya didikuti oleh sebagian guru yang hanya ingin mendapatkan sertifikat, sebatas formalitas yang tujuannya sebagai pelengkap sertifikasi.

Sedangkan yang terakhir adalah tidak adanya komunitas yang menampung kreatifitas menulis guruMedia khusus, baik berupa buletin, majalah lokal, maupun media yang setaraf nasional. Alasan guru tidak mau menulis biasanya terkendala karena hal yang ketiga ini. Meskipun penulis kerap kali cenderung mendapatkan materi yang diharapkan dari termuatnya sebuah karya di sebuah media cetak, namun sedikit banyak penulis mendapatkan kepuasan tersendiri dari termuatnya sebuah karya yang diciptakannya. Baik karangan fiksi  maupun berupa penelitian tindakan kelas. Dari sini kita bisa melihat bahwa banyak sekali penulis yang melempar bulpennya dan meremas naskah-naskahnya karena terlalu bosan setiap kali mengirim tulisannya ke media cetak tidak pernah termuat. Padahal tidak temuatnya tulisan tersebut bukan saja karena tidak sesuai tema, tidak up to date, tapi bisa saja karena birokrasi.

Komunitas yang dimaksud dalam hal ini adalah adanya sebuah tempat atau media yang khusus menyalurkan kreatifitas menulis yang dikotomikan. Seperti dalam grand prix, ada kelas 125 CC, kelas 250 CC, kelas 500 CC, kelas 650 CC, maupun kelas 750 CC, begitu juga dengan penulis. Jika penulis pemula harus bersaing dengan penulis senior dalam mendapatkan tempat dalam kolom rubrik cerpen maupun artikel di sebuah media massa yang populer, tentu saja akan kurang sebanding. Jadi, seharusnya perlu adanya media massa yang menampung kreatifitas menulis guru dari taraf pemula sampai yang lebih senior. Kita tidak bisa menyamakan kegiatan menulis itu dengan kegiatan seorang anak dua tahun yang belajar berjalan, merangkak, andan-andan, merayap dari dinding ke dinding, sampai akhirnya mampu berjalan, karena berbeda kebutuhan. Ketiga faktor tersebut memang kerap kali kita jumpai sebagai kendala yang mendasar dalam menulis.

Bagi sebagian guru, menulis bahkan menjadi sebuah kegiatan yang mengasyikkan, bisa dikatakan penulis tersebut sudah tercukupi secara materi atau bisa saja memang tidak terlalu memikirkan meteri. Seperti asyiknya seekor nyamuk yang asik menusuk kulit dan pelan-pelan mengumpulkan tetes demi tetes darah kita di perutnya, hingga ia tak sanggup lagi mengepakkan sayapnya ketika telapak tangan kita akhirnya kembali mengeluarkan darah itu dengan sekali tebas.

Nyamuk. Pada musim pancaroba, awal musim penghujan, maupun di akhir musim kemarau, adalah masa dimana nyamuk-nyamuk menyerang kita. Bertengger di kelambu, di bak sampah, di tumpukan makalah kita, maupun di balik tikar ranjang kita, menunggu kita terlena lalu menghisap darah kita, kabur, kawin, dan berbertelur. Namun bukan persoalan mengenai masa nyamuk keluar dari sarangnya, kapan musim kawinnya, maupun jenis nyamuk-nyamuk yang berbahaya yang dipermasalahkan, tetapi bagaimana cara seekor nyamuk bertahan hidup secara biologis.

Pada musim tertentu nyamuk datang begitu banyaknya dengan gigitan yang sangat menyengat. Dengan begitu, otomatis manusia yang menjadi korban akan mengambil tindakan penanggulangan. Salah satunya yang sering kita jumpai adalah dengan menggunakan obat nyamuk bakar. Pada hari pertama kita menggunakan obat nyamuk bakar, mungkin skala nyamuk yang menyerang akan berkurang. Namun itu hanya akan bertahan satu sampai tiga atau empat hari. Pada hari ke-lima nyamuk akan datang sebegitu rupa banyaknya seperti sebelum kita menggunakan obat nyamuk bakar, seperti semula. Karena nyamuk dengan sendirinya akan membentuk antibody, sehingga berubah menjadi kebal dari asap obat nyamuk bakar tersebut. Penulis yang selalu siap kapan saja untuk menulis, kapan saja siap menuangkan idenya, meskipun ratusan kali mengirim tulisan namun tidak pernah dimuat serta membuang-buang prangko percuma, artinya sudah terbentuk antibody, seperti halnya seekor nyamuk. Setiap kali mengirim naskah atau tulisan ke redaksi namun tidak pernah dimuat, menjadi hal yang biasa dan menjadi makanan empuk sehari hari. Tidak memudarkan keinginan menulis dan semangat untuk tetap menulis, serta tidak bisa membendung dan menghentikan. Keberhasilan pasti akan terengkuh, dan kepuasan itu sama halnya ketika kita menempeleng nyamuk dan kena, lalu darah nyamuk menodai sarung kita.  Karena penulis adalah nyamuk. Nyamuk super yang tidak akan mati dengan tempelengan maupun hanya dengan sebutir peluru. Artinya, mengapa penulis bisa tidak mati ditempelang maupun diberondong tembakan timah panas sama dengan ketika kita melontarkan pujian selepas membaca karya masterpiece-nya Umar Kayam atau Handtrymatika-nya Tri Budiono, karena semuanya ada sejarahnya.

Kita mengirim sebuah tulisan atau menawarkan sebuah ide di sebuah media. Pada awal bulan berikutnya tulisan orang lain yang ternyata terpaksa harus kita baca. Maka, tentu saja harus hanya ada cibiran yang berbau delusi dalam hati kita, sehingga keinginan untuk stop dan berhenti berkarya akan teranulir dan pergi meninggalkan benak kita. Namun, setiap kita harus tetap berada atau memilih satu sisi dari dua sisi. Dengan membuat penelitian, dengan menulis, kita bisa memberikan kemajuan pada anak bangsa, kita menymbangkan sedikit pemikiran kita yang besar manfaatnya. Atau berkutat dalam kebingungan. Jadi, bagaimana kita mengukir sejarah kita?

Selamat menulis.

Daftar Pustaka
Hasnun, Anwar. 2004. Pedoman dan Petunjuk Praktis Karya Tulis.Yogyakarta:
Absolut
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Malang. 1996. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Skripsi, Tesis, Disertasi,
Artikel, laporan   penelitian. Malang.

Asip Kurniawan, S.Pd
Guru Bahasa Indonesia SMP 4 Sale, Rembang, Peserta Lomba Penulisan Artikel Pendidikan Agupena Jateng.

Tulisan lain yang berkaitan:

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP