Thursday, 11 February 2010 (06:35) | 4,569 views | 3 komentar
Oleh: Budi Wahyono
PAGI itu, menyadari memiliki tugas tambahannya sebagai guru piket, seorang guru bergegas memasuki ruang kelas. Tujuannya sangat mulia: menyampaikan tugas yang dititipkan seorang guru yang berhalangan masuk kepada para siswa yang menjadi ampuannya.
Langkah semacam ini cukup strategis untuk menyelamatkan anak-didik agar tetap melakukan pembelajaran secara mandiri, sekaligus ”membungkam” kalau mungkin terjadi kegaduhan yang praktis mengganggu kelas lain.
Celakanya, bukannya respons sekadar ikut prihatin yang semestinya ditunjukkan para siswa, namun malah sorak kemenangan hanya karena Bu Guru pagi itu tidak jadi memberikan ulangan seperti yang dijanjikan. Sungguh, para siswa seperti tidak pernah terlatih memberikan empati secara imajinatif, semisal: pagi itu Bu Guru berhalangan hadir karena harus mendekap anaknya antre menunggu obat di puskesmas. Kalau kita mau merenung sejenak: apakah ini bukan gambaran serpihan paradoksal yang luput dari perhatian serius kita?
Menjadi rasional ketika orang tua seorang guru meninggal, guru yang lain tidak tega menyampaikannya di hadapan murid. Takut mendapat respons getir, menyakitkan. Kondisi semacam ini sangat menuntut teknik komunikasi tinggi agar harga diri guru tidak jatuh menggelepar di hadapan anak-didik. Di wilayah inilah kita bisa mengambil hikmah, bagaimana seorang guru senantiasa dituntut kampiun menyampaikan pesan-pesan moral agar anak-didik lebih bisa memberikan apresiasi yang semestinya.
Namun, realitas yang terjadi masih jauh dari harapan. Rasa empati siswa mustahil ditumbuhkan kalau perilaku para pendidik kurang menunjukkan keteladanan yang berarti. Guru yang sering terlambat masuk kelas, mudah meledakkan emosi, kurang pintar menerangkan, menyampaikan materi terlalu text-book, berwawasan sempit, suka meneror, gagal menjaga wibawa, serta sederet kelemahan lain, akan menyulut terjadinya degradasi tata krama.
Degradasi tata krama tidak hanya mudah kita temukan di lembaga pendidikan kita. Beberapa teman yang bekerja di industri mapan pernah mengeluhkan kesan serupa. Secara bergurau, seorang teman yang saban hari selalu berdasi mengeluh: sebelum kantornya kemasukan para siswa PKL, bau kamar kecilnya terjaga. Tetapi baru dua hari ada siswa magang di sana, berembus bau macam-macam. Tentu bukan rasa stroberi.
Ketika ada siswa magang yang bernasib sial menabrak pagar pada waktu mengendarai mobil, bukannya improvisasi rasa maaf yang muncul, tapi malah sikap ngotot ingin segera mengganti beban kerugian. Pernyataan-pernyataan yang secara tersirat maupun tersurat mengklaim pentingnya mempertahankan tata krama sebagai syarat kepemilikan adanya SDM yang unggul dan komparatif, semestinya tidak tersekap dalam wacana. Guru sebagai pendidik dan siswa sebagai subjek didik harus menyadari peran maksimalnya masing-masing.
Dalam bahasa sederhana: jika para guru mampu memberikan yang terbaik kepada para anak-didiknya, niscaya para siswa akan tahu diri sebatas apa memberikan imbalan apresiasi. Sebaliknya jika tidak memahami secara holistik terhadap perannya, akan bergegas berkaca: yang kami kerjakan belum apa-apa. (89)
- Drs Budi Wahyono, guru SMK Negeri 7 Semarang, Ketua Terlantik Agupena Kota Semarang 2010-2013
Tulisan lain yang berkaitan:



tolong donx di sajikan materi tata krama untuk siswa…trimakasih sblmnya…
Reply
Reply
Hello.This post was extremely interesting, particularly because I was looking for thoughts on this matter last week.
Reply