BERDAYAKAN DIRI, SEBELUM TAK BERDAYA: MEMETIK BERKAH LOMBA DARI HOBI NGE-NET

Sunday, 24 January 2010 (03:18) | 389 views | 13 komentar

Oleh Mulyati Rahman
Pertama kali dikenalkan internet oleh suami pada akhir tahun 2000 saya ogah-ogahan dan selalu berpikir negatif tentang internet. Meskipun saya familiar dengan komputer waktu itu saya belum merasa tertarik dengan internet. Ketika ikut suami ke warnet pun saya sering hanya jalan-jalan sambil momong anak. Jika terlalu lama kadang saya lebih sering jengkel menunggui suami saya. Tapi rupanya suami saya tidak henti-hentinya membujuk saya untuk mencoba nge-net (istilah saya menjelajah dunia maya). Entahlah, pada akhirnya saya termakan juga bujukan suami dan saya mulai mencoba-coba ikut nge-net. Setelah mencoba ternyata mengasyikkan dan membuat saya ketagihan sampai sekarang.

Saat menunggu jeda waktu mengajar saya selalu menyempatkan diri ke warnet tidak jauh dari sekolah saya. Atau libur pun kadang-kadang saya pasti tiap hari ke warnet bareng anak dan suami. Banyak rekan-rekan saya sesama guru sering bertanya “apa yang kau cari” di warnet. Saya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan bbeberapa guru. Tapi ibarat seorang anak yang mendapat mainan baru saya makin asyik dengan kegiatan nge-net. Semakin hari kegiatan ke warnet sudah menjadi suatu kebutuhan. Saya download apa saja dan tidak terfokus pada satu bidang tertentu, mulai topik-topik pendidikan, psikologi, kesehatan, manajemen dan berbagai artikel lain dari jurnal online yang menurut saya menarik. Bahkan artikel dalam bahasa Inggris pun banyak saya ambil, padahal kadang-kadang saya hanya tahu judulnya saja tapi tidak tahu isinya.

Artikel-artikel tersebut saya edit di rumah dengan font lebih kecil agar bisa ngirit kertas ketika saya print. Saking asyiknya nge-net, saya sampai kewalahan (dari segi biaya tentunya). Dalam satu minggu saya hampir tiap hari mampir ke warnet selama 2 – 3 jam (waktu itu 1 jam akses biayanya Rp 6.000,00). Untuk ukuran guru seperti saya, tentu sangat mengganggu anggaran rumah tangga. Belum lagi menghabiskan kertas dan tinta untuk nge-print. Jika mayoritas perempuan saat itu hobi mengkoleksi baju, sepatu atau tas, maka saat itu bagi saya sudah berlalu. Koleksi saya sudah mulai berganti berupa tumpukan kertas dan file-file yang kadang saya tidak sempat membacanya. Sampai saya mendapat julukan baru dari suami “petugas administrasi perpustakaan”, karena hobi mengumpulkan berbagai macam artikel yang kadang tidak berhubungan dengan profesi saya sebagai guru.

Saya sendiri lama kelamaan juga merasakan berat karena mengganggu kebutuhan rumah tangga. Selain itu dari segi waktu, juga harus bolak-balik ke warnet karena tidak punya akses internet di rumah. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya saya memutuskan memakai modem internet dengan pulsa pasca bayar. Meski saat itu masih lebih mahal dibanding warnet, tapi ketika saya bandingkan dengan kenyamanan karena akses internet di rumah lebih santai rasanya tidak terlalu mahal. Belum lagi saya bandingkan dengan waktu yang harus terbuang dalam perjalanan ke warnet. Beruntung sekali, meski kami bukan orang yang berlebih secara materi sudah ada komitmen dan saling pengertian dari awal antara saya dengan suami untuk ikhlas menyisihkan dana “belajar dan mencari ilmu” (termasuk nge-net dan membeli buku).

Sering waktu kegilaan saya nge-net pada akhirnya pernah membuat saya bingung “untuk apa saya mengumpulkan semua ini”. Apalagi yang saya kumpulkan tidak banyak yang bisa saya terapkan langsung dalam pembelajaran dengan anak didik saya di kelas. Maklumlah, sekolah tempat saya mengajar meski di pusat kota, input siswanya secara akademik maupun secara ekonomi rendah. Mayoritas dari mereka juga lemot (lemah motivasi) dan juga susah sekali diajak aktif. Kondisi ini ternyata sudah berlangsung sejak saya belum mengajar di sekolah ini, sejak mulai menjadi sekolah peralihan dari Sekolah Teknik (ST) menjadi SMP. Kondisi ini makin diperparah dengan sistem penerimaan siswa baru secara online yang tidak memihak pada ”keberagaman” sehingga calon anak didik masuk sekolah sudah terjaring dengan sendirinya. Anak-anak dari input akademik yang baik sudah terjaring di sekolah-sekolah yang katanya “favorit”.

Dalam pembelajaran di kelas pun ketika saya iming-imingi trik-trik belajar matematika yang menarik dari internet, anak didik saya juga apatis sekali. Tapi seiirng berjalannya waktu, tidak mengurangi ketagihan saya nge-net. Dengan ketekunan lama kelamaan siswa saya mulai banyak yang rela menyisishkan uang jajannya untuk akses internet. Waktu itu saya hanya bisa menugaskan kepada siswa untuk membuat kliping-kliping artikel yang berkaitan dengan matematika dari internet. Waktu itu karena sekolah tidak mempunyai akses internet, siswa saya arahkan untuk mengakses internet di warnet depan sekolah. Meski tidak berdampak langsung terhadap peningkatan prestasi siswa, saya menguatkan pikiran bahwa apa yang saya lakukan suatu saat nanti akan bermanfaat untuk saya dan anak didik saya.

Juara I Guru Berpretasi Tk Kota Surakarta Tahun 2005
Saya bersyukur Allah SWT akhirnya menghargai jerih payah saya. Pertengahan tahun 2005 saya “dipaksa” mewakili sekolah mengikuti seleksi Guru Berprestasi Tingkat Kota Surakarta, karena guru-guru senior yang disiapkan untuk mengikuti seleksi sebelumnya tidak sanggup membuat karya tulis ilmiah. Saya yang paling muda waktu itu dengan masa kerja batas minimal yang dipersyaratkan (8 tahun) dengan terpaksa menjalankan amanah yang berat tersebut. Meski hanya persiapan satu minggu termasuk menulis karya ilmiah dan dokumen portofolio yang sangat minim, saya akhirnya ikut seleksi. Saya hanya mengandalkan karya tulis dengan tema e-learning dalam pembelajaran matematika yang saya angkat dari pengalaman saya mengajar dengan memperkenalkan internet kepada siswa yang belum banyak diterapkan rekan-rekan guru di Solo. Berkat hobi nge-net saya punya banyak bahan untuk menulis karya ilmiah tersebut.

Meskipun dokumen penunjang lainnya minim, berkat dukungan karya tulis ilmiah yang saya susun, saya mendapat peringkat I dan dan mendapat hadiah Rp 16.500.000,00 untuk subsidi kuliah S2. Saya bersyukur dan berterima kasih sekali kepada Pemerintah Kota dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Solo yang merupakan satu-satunya kota yang memberi penghargaan paling baik pada pemilihan guru berprestasi di antara 35 kab/kota di Jawa Tengah. Perlu diketahui untuk juara tingkat provinsi waktu itu hanya Rp 3.000.000,00.

Sebagai juara pertama di tingkat kota akhirnya saya juga harus melanjutkan seleksi berikutnya di tingkat provinsi. Ketika maju di tingkat provinsi saya justru mendapat pengalaman dan kesan yang menarik, karena harus berkompetisi dengan guru SMP saya dulu. Meski tidak mendapat peringkat pertama beruntung saya masuk 10 besar. Saya pun menyadari, memang bekal saya sangat minim, terutama untuk materi tes tertulis saya tidak mempersiapkan diri dengan baik. Awalnya saya juga tidak mengira, kalau akan menjadi pemenang di tingkat Kota. Selain itu saya juga tidak mempunyai banyak dokumen portofolio sebagai penunjang seperti halnya peserta dari kabupaten lain yang mayoritas instruktur (guru inti) atau guru-guru senior yang membawa piagam kegiatan bertumpuk-tumpuk. Yang membuat saya termotivasi adalah dorongan dari salah satu yuri penilaian karya tulis ilmiah ketika kegiatan berakhir sempat memotivasi saya dengan kalimat “karya ibu bagus, tapi tidak cocok dengan lomba yang mensyaratkan banyak administrasi dan macam tes seperti ini, ikut saja yang lomba per mata pelajaran”. Kalimat itu yang membuat saya semangat, meski perjalanan saya terhenti ti tingkat provinsi.

Seperti komitmen awal yang dijanjikan oleh Pemkot dan Dikpora kota Solo, saya akhirnya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Dengan banyak pertimbangan akhirnya saya memutuskan mengambil jurusan Magister Manajemen (MM) pada program Pascasarjana di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Solo. Karena uang hadiah belum turun, berkat jaminan pejabat Dikpora saya bisa kuliah dengan ngutang SPP dan biaya administrasi lainnya terlebih dulu. Banyak teman yang ”menanyakan sekaligus menyesalkan” mengapa saya mengambil jurusan MM yang banyak dipandang miring oleh beberapa orang. Selain itu teman-teman saya juga menganggap kuliah yang saya ambil tidak linier dengan profesi keguruan dan yang saya ajarkan sehingga kelak akan menyulitkan karir saya. Bahkan ada yang mengira saya akan mengincar jabatan kepala sekolah (KS) karena waktu itu banyak KS yang berlomba-lomba kuliah MM. Seperti biasanya saya tidak pernah menanggapi serius apa yang dipersepsikam orang, tapi justru saya kasihan dengan pemikiran-pemikiran sempit mereka.

Saya berpikir bahwa ilmu apapun asal kita bisa memanfaatkan dengan baik dan mengamalkan dengan ikhlas pasti akan bermanfaat bagi saya, syukur-syukur juga untuk orang lain. Saya juga berpikir bahwa sekarang bukan jamannya lagi guru untuk berpikir linier, terpaku pada satu ilmu saja. Mengingat perkembangan jaman yang semakin kompleks sudah saatnya guru berpikir multi dimensi, sehingga seorang guru juga harus mahir di berbagai bidang agar mampu mengatasi pemasalahan dengan berbagai sudut pandang. Sudah saatnya guru kini merubah mindset mereka bahwa ilmu pengetahuan tertentu tidak berhubungan dengan bidang lainnya.

Meski awalnya saya merasa asing dengan mata kuliah yang saya pelajari, tapi alhamdulillah saya sangat menikmati materi demi materi. Meski banyak belajar tentang manajemen perusahaan, namun banyak juga materi tentang organisasi, manajemen sumber daya manusia (SDM) dan kepemimpinan (leadership). Dua mata kuliah terakhir inilah yang sangat saya nikmati dan kelak membawa dampak terhadap pemikiran saya, karena dari dua mata kuliah ini akhirnya saya banyak belajar tentang bagaimana seharusnya kita bersikap, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dari sisni pula akhirna saya tertarik mengoleksi berbagai buku tentang motivasi, inspirasi, dan manajemen diri. Meski saya tidak menjadi manajer di perusahaan, alhamdulilla saya berusaha menjadi manajer untuk diri saya sendiri. Dari berbagai buku yang saya koleksi dan saya baca alhamdulillah saya merasa lebih mensyukuri hidup saya. Saya berusaha belajar lebih peka, peduli, toleran dan berempati kepada orang lain.

Hal ini juga akhirnya membawa pemahaman saya bahwa setiap orag tidak terlepas dari keterbatasan dan permasalahan. Demikian juga permasalahan yang saya hadapi dalam membelajarkan anak didik saya. Sebelumnya saya hampir putus asa dan tiap pulang sekolah di hadapan suami saya sering mengeluh karena saya merasa gagal menjadi guru. Berbagai jerih payah dan upaya yang saya lakukan tidak banyak berdampak nyata pada peningkatan prestasi belajar siswa. Sering pula saya merasa tertekan secara psikologis karena tuntutan (kepala) sekolah yang selalu berorientasi pada kesuksesan siswa lulus Ujian Nasional, tanpa melihat input dan sumber daya yang ada.

Saya dulu juga sering merasa iri dan berpikir alangkah beruntungnya guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah yang input akademiknya baik. Yang membuat saya makin iri mayoritas guru-guru di sekolah ini juga mendapat akses yang lebih luas dalam mendapatkan pelatihan, diklat atau sejenisnya. Sementara guru-guru dari sekolah ’’biasa” seperti saya sangat sulit mendapatkan kesempatan. Kadang-kadang banyak juga guru-guru dari sekolah-sekolah favorit yang sering membangga-banggakan prestasi anak didiknya, padahal sebenarnya mereka ibarat hanya nemu (menemukan siswa) karena mayoritas siswa secara akademik sudah mapan dari rumah masing-masing. Banyak juga guru yang hanya nunut mulya atas prestasi anak didiknya.

Pemikiran-pemikiran negatif dan keluhan-keluhan saya lama kelamaan juga mengganggu dan mengusik pikiran suami saya. Hingga ada satu kalimat yang dilontarkannya sempat menyinggung saya “kalau kesempatan tidak datang padamu ya ciptakan saja kesempatan sendiri. Carilah kesempatan yang membuat diri lebih maju. Daripada mengeluh dan meratapi ketidakberuntungan lebih baik memberdayakan dan memotivasi diri dengan hal yang bermanfaat”.

Hingga di pertengahan tahun 2007 sambil menunggu wisuda S2 saya mulai merenung dan mengevaluasi diri. Mungkin ada yang salah cara saya membimbing anak didik saya selama ini. Atau barangkali saya merasa terlau tinggi menuntut murid-murid saya. Saya mulai menata diri dan merefleksi cara mengajar saya. Dengan hobi nge-net saya, saya mulai mencari kiat-kiat bagaimana memotivasi diri sendiri. Bekal pengetahuan dari kuliah dan berbagai buku motivasi, manajemen SDM dan kepemimimpinan mulai saya kembali buka-buka lagi, saya tekuni satu per satu dan tak lupa browsing di internet. Hingga banyak artikel motivasi dari berbagai sumber pun saya baca, termasuk artikel-artikel untuk majalah bisnis. Kadang-kadang saya juga menyisihkan dana untuk membeli ke toko buku atau jika ada pameran.

Juara Harapan I Lomba Integrasi Imtaq – Iptek Tahun 2007
Di pertengahan tahun 2007, ketika tidak menemukan buku-buku strategi pembelajaran pada pameran buku di salah satu mal di Solo, saya tertarik membeli buku ESQ karangan Ary Ginanjar Agustian. Mungkin saya bisa mendapat “pencerahan” dari buku tersebut. Ternyata benar, setelah membaca beberapa bab, saya tertarik tentang keistimewaan bilangan 19 dalam Al Qur’an yang ditulis dalam buku tersebut (Ary Ginanjar Agustian, 2005: 192). Dari sinilah muncul ide dalam pikiran saya untuk menyampaikannya kepada anak didik saya. Kebetulan waktu itu saya mendapat tugas mengajar kelas VII di mana bilangan adalah salah satu kompetensi dasar yang harus diajarkan kepada siswa.

Mengingat ulasan tentang bilangan 19 dalam buku tersebut minim, saya berusaha mencari sumber-sumber penunjang lainnya di internet. Akhirnya saya menemukan banyak sumber yang salah satunya dari sebuah situs blog (www.assyarif.blogspot.com) dan menemukan artikel tentang Matematika Alam Semesta. Selain itu saya juga menemukan ulasan tentang buku Ketika Kyai Mengajar Matematika (buku aslinya baru saya dapatkan setengah tahun kemudian). Berdasarkan sumber-sumber dari internet tersebut, saya bisa menjelaskan tentang keistimewaan-keistimewaan bilangan 19 dalam pembelajaran bilangan bulat.

Bilangan 19 diketahui mempunyai keistimewaan karena merupakan struktur prima dalam Al Qur’an. Salah satu contohnya adalah jumlah surat dan jumlah juz dalam Al Qur’an. Jumlah surat dalam Al Qur’an adalah 114. Angka 114 adalah angka ajaib, karena bilangan prima ke-114 adalah 619, dan 114 adalah (6 x 19). Bilangan 619 merupakan prima kembar dengan pasangan 617. Diketahui pula Al Qur’an terbagi dalam 30 juz. Angka 30 adalah bilangan komposit yang ke-19, yaitu: 4, 6, 8, 9,10,12,14, 15, 16, 18, 20, 27, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 30.

Keistimewaan itu saya sampaikan kepada siswa bahwa dalam belajar matematika tidak mutlak belajar tentang operasi hitung bilangan tetapi benyak terkandung makna yang berhubungan dengan kebesaran-kebesaran Allah dan ciptaanNya. Selain itu pembelajaran tersebut juga saya kaitkan dengan buku karya Toto Tasmara tentang Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence). Membentuk Kepribadian Yang Bertanggung Jawab, Profesional dan Berakhlak. Pengalaman tersebut kemudian saya tuliskan dalam bentuk karya ilmiah dan saya kirimkan ke Lomba Integrasi Imtaq –Iptek Tk Nasional 2007 pada bulan September 2007. Saya bersyukur sekali, dari 1402 naskah yang masuk panitia karya saya dihargai’ meski hanya Juara Harapan I.

Memang benar bahwa Allah SWT selalu menghargai setiap usaha yang kita lakukan. Selain penghargaan berupa finansial, dampak yang menurut saya luar biasa saya peroleh karena berkat referensi-referensi yang saya baca untuk membuat naskah tersebut membuat menjadikan saya makin mensyukuri apa yang saya peroleh selama ini. Jika awalnya saya merasa “kurang beruntung” karena kebetulan mengajar di sekolah dengan input akademik rendah, saya pelan-pelan mulai menyadari setiap siswa mempunyai kemampuan yang beragam. Dan saya makin tersadar ketika saya membaca salah satu buku yang saya koleksi yaitu Chicken Shoup for the Teache’s Soul (Canvifield & Hansen, 2004:369) bahwa ’’Hutan akan sunyi jika yang berkicau hanya burung yang merdu suaranya”. Di halaman lain (295) juga dikutip pendapat Geoge Evans bahwa bahwa setiap murid bias belajar, hanya saja tidak pada hari yang sama atau cara yang sama.

Dari beberapa sumber yang saya baca, saya menemukan kesadaran bahwa utuk sukses seseorang tidak hanya membutuhkan keunggulan akademik saja namun yang lebih penting kecerdasan emosi dan spiritual yang merupakan basis tumbuhnya karakter seseorang. Banyak contoh di sekitar kita orang yang memiliki kecerdasan otak saja, memiliki gelar tinggi belum tentu sukses di dunia pekerjaan, tetapi seringkali justru yang berpendidikan formal lebih rendah banyak yang lebih berhasil, karena memiliki kecakapan khusus seperti: empati, disiplin diri, dan inisiatif yang merupakan sebagian dari dimensi kecerdasan emosi (Ary Ginanjar Agustian, 2005: 41-44).

Berpijak dari situlah keikutsertaan saya dalam lomba Integrasi Imtaq – Iptek menyadarkan saya bahwa saya berusaha menerima kemampuan murid saya apa adanya. Mungkin secara akademik mereka terlambat, namun kemampuan-kemampuan mereka barangkali sangat luar biasa. Namun saya juga menyadari saya juga mempunyai keterbatasan menggali kemampuan mereka karena kebijakan pendidikan selama ini yang hanya memihak pada keberhasilan UN dan mengabaikan pendidikan karakter. Meski kadang-kadang timbul rasa apatis dan putus asa namun setiap kesempatan saya selalu menyampaikan kepada anak didik saya tentang nilai-nilai budi pekerti dan basis pendidikan karakter lainnya.

Pada tahap selnjutnya semangat dan hati saya makin terbuka ketika di akhir tahun 2007 saya membeli dan membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Ada salah satu kalimat yang sangat menyentuh di halaman tentang kisah Pak Harfan yang mengobarkan semangat belajar, dan menanamkan pelajaran tentang keteguhan pendirian, ketekunan dan keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai keikhlasan berkorban untuk sesama. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya (Andrea Hirata, 2007: 24). Sejak saya membaca buku Laskar Pelangi saya menjadi merasa beruntung diberi kesempatan membimbing anak didik saya sekarang. Dampak lainnya adalah sejak saat itu saya mulai tertarik terhadap karya-karya sastra berupa cerita fiksi maupun novel.

Pendidikan Sertifikasi Jalur Pendidikan 2008 – 2009

Berkah lainnya, berkat nge-net pula saya tidak sengaja masuk situs Sertifikasi Guru dan saya mendapatkan informasi tentang Program Sertifikasi Jalur Pendidikan (melalui jalur prestasi). Meski angkatan pertama sudah terlambat, masih dibuka angkatan kedua. Dengan dua piagam dari guru prestasi dan lomba Integrasi Imtaq – Iptek bisa saya gunakan untuk tiket mendaftarkan program tersebut. Alhamdulillah, meskipun saya tidak merasa punya prestasi yang menonjol, saya bias lolos terseleksi dan berkesempatan mengikuti pendidikan sertifikasi jalur pendidikan. Berkah yang saya syukuri lagi, ketika awalnya saya berpikir bahwa saya harus kuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ternyata untuk angkatan II jurusan Matematika di Universitas Negeri Yogyakarta. Dengan demikian saya tidak perlu lagi “memperdalam galian” kredit saya untuk kuliah di Yogyakarta, karena living cost yang saya terima cukup untuk biaya wira-wiri saya ke Yogya. Selain itu saya masih bisa memenuhi hobi saya untuk membeli buku. Meski saya masih dibebani tugas mengajar 10 jam pelajaran, alhamdulillah saya bisa mengikuti pendidikan dan lulus dengan baik.

Finalis Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran (LKG) Tk Nasional Th 2008

Di sela kesibukan kuliah sertifikasi dan tugas mengajar saya menyempatkan diri untuk “uji nyali” di Lomba Keberhasilan Guru (LKG) tingkat Nasional tahun 2008 yang konon ajang bergengsi yang banyak diminati guru. Berkat hobi nge-net juga saya mendapat ide untuk menerapkan pembelajaran dengan mengintegrasikan seni dalam pembelajaran matematika (pecahan). Ide awalnya saya dapat dari membaca artikel di Jurnal The National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) dari situs www.nctm.org yang berjudul Mathematics, Art, Research, Collaboration, and Storytelling dan Using Art To Teach Fractions. Meskipun kemampuan memahami bahasa Inggris saya minim, dengan memadukan pengalaman ketika mengamati anak saya menggambar/mewarnai saya berusaha memodifikasi dan menerapkannya dalam pembelajaran di kelas untuk kompetensi dasar pecahan. Anak didik saya saya senang dan antusias, karena menurut mereka kegiatan ini belum pernah mereka lakukan ketika di SD dan merupakan hal pertama yang mereka lakukan di mana belajar matematika bisa dilakukan dengan menggali berbagai potensi dan bakat anak. Dalam pembelajaran ini saya ingin menekankan bahwa siswa mempunyai kecerdasan majemuk dengan mengoptimalkan fungsi otak kiri dan otak kanan. Mereka bebas mengkonstruksi pengalamannya, tidak dengan logika saja tetapi juga motorik dan intuisi.

Pengalaman tersebut saya tulis dalam bentuk laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Karya tersebut saya tulis dalam dua implementasi sekaligus dan saya ikutkan dalam dua even yaitu Lomba Inovatif Pembelajaran Tahun 2007 di tingkat provinsi dan LKG tahun 2009. Alhamdulillah saya sudah menikmati hasilnya. Di tingkat provinsi mendapat Juara III dan masuk 120 finalis (dari 1483 naskah) LKG Tk Nas 2008. Meskipun belum juara tapi banyak pengalaman yang saya peroleh, karena pada kesempatan tersebut saya bertemu dengan guru-guru hebat dari seluruh Indonesia (finalis LKG, guru berdedikasi, dan guru berprestasi) dari seluruh Indonesia. Di ajang LKG pula saya mendapat pengalaman berharga bertemu dengan Bu Muslimah (guru dari Andrea Hirata penulis Tetralogi Laskar Pelangi).

Juara Harapan I Lomba Kreasi dan Inovasi Media Pembelajaran Tingkat Nasional Tahun 2009

Pengalaman menikmati ”hasil” dari 2 tahun mengikuti lomba membuat saya ketagihan untuk mencoba lagi di tahun berikutnya. Sejak awal 2009 saya sudah ancang-ancang membuat karya ilmiah untuk lomba tahun 2009. Lagi-lagi, berkat kelincahan saya nge-net saya mendapatkan inspirasi dari jurnal NCTM lagi berjudul Pythagorean With Jelly Bean. Dari artikel tersebut saya mendapatkan ide untuk membuat alat peraga dalam pembuktian Teorema Pythagoras yang lain dari biasanya. Jika bukti-bukti teorema Pythagoras selama ini hanya mayoritas hanya menggunting dan menempel, maka ide yang saya temukan adalah dengan memanfaatkan peraga dari limbah lingkungan maupun benda-benda tak terpakai di sekitar siswa. Tidak cukup hanya di situ pembelajaran juga saya kombinasikan dengan pemanfaatan media teknologi. Lagi-lagi software yang saya gunakan juga saya download secara gratis di internet yaitu Geogebra (www.geogebra.org). Selain itu proses pembelajaran saya kemas dengan model pembelajaran kooperatif.

Tidak tanggung-tanggung masing-masing peraga dan model pembelajaran tersebut saya kemas menjadi karya ilmiah. Karena ada tiga even yang bersamaan naskah tersebut saya tulis dalam tiga pendekatan yang berbeda dan saya kirimkan di tiga even sekaligus, yaitu Lomba Inovatif Pembelajaran tingkat Provinsi Jawa Tengah, Lomba Kreasi dan Inovasi Media Pembelajaran Tingkat Nasional serta LKG Tingkat Nasional tahun 2009.

Lagi-lagi berkah keberuntungan serasa memihak kepada saya. Dari naskah yang saya kirimkan ketiga-tiganya masuk final. Sayangnya untuk tingkat provinsi karena waktunya bersamaan dengan Lomba Kreasi dan Inovasi Media Pembelajaran sehingga saya tidak bisa presentasi karena saya memilih untuk hadir di Lomba Kreasi dan Inovasi Media di Cipayung Bogor. Saya bersyukur meski hanya juara Harapan 1, karena mendapat undangan dari Mendiknas (Bp. Muh Nuh) dan Dirjen Pembinaan SMP (Prof Suyanto) di antara 30 orang pemenang (dari 6 mata pelajaran) untuk dialog di gedung Depdiknas di Senayan.

Sepulang dari Jakarta, masih di kereta ternyata saya sudah mendapat undangan untuk mengikuti Diseminasi Hasil Lomba Tingkat Provinsi (23 November 2009) yang kegiatan lombanya sendiri tidak sempat saya ikuti. Kegiatan ini ternyata dilanjutkan deengan undangan Seminar Nasional dalam rangka Hari Guru (26 Desember 2009). Hingga baru 2 hari masuk sekolah saya terpaksa harus meninggalkan anak didik saya lagi.

Juara II Lomba Keberhasilan Guru (LKG) dalam Pembelajaran Tingkat Nasional Tahun 2009.
Berkah yang saya terima di tahun 2009 yang sungguh luar biasa juga ketika tanggal (28 Nov – 2 Des 2009) kemarin saya termasuk 100 finalis LKG Tk Nasional 2009 yang diselingi dengan Puncak Peringatan Hari Guru tanggal 1 Desember 2009 bersama Presiden SBY di lapangan Tenis Indoor Senayan. Alhamdulillah meski pemenangnya tidak dikategori per mata pelajaran (seperti tahun 2008) saya sangat bersyukur mendapat kesempatan juara kedua untuk kelompok SMP Sains (Matematika, Fisika dan Biologi).

Barangkali akhir tahun 2009 kemarin benar-benar saya syukuri sebagai “Hari Guru” untuk saya karena kesempatan yang diberikan Allah SWT yang begitu luar biasa untuk saya. Meski di hati saya timbul rasa bersalah harus meninggalkan anak didik, namun saya berpikir kesempatan tidak akan datang dua kali. Saya rasa ini juga proses belajar saya yang pada akhirnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan untuk anak didik saya. Dari pengalaman ini saya juga sampaikan kepada anak didik saya, bahwa sukses hanya akan bersahabat dengan orang-orang yang mau belajar dan bekerja keras.

Saya berharap apa yang saya lakukan bisa menginspirasi anak didik saya untuk maju dan berprestasi, tidak hanya secara akademik tetapi juga pembentukan karakter anak didik saya sehingga kecerdasan emosional dan spiritualnya juga berkembang. Oleh karena itu saya sependapat dengan Steven Covey (2008: 89) bahwa dalam pembelajaran perlu menanamkan prinsip-prinsip tanggung jawab, integritas, kejelasan tujuan, kemampuan memahami orang lain, sinergi dan pembelajaran yang terus menerus agar kelak mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin yang baik. Menghadapi tuntutan jaman yang semakin kompleks maka saya mengajak kepada rekan-rekan guru untuk selalu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik yaitu beradaptasi, menyesuaikan diri dan lebih berdaya untuk mempertahankan dan meneruskan kehidupan (Rhenald Khasali, 2006: 74). Tanamkan harapan dan optimisme kepada anak didik kita. Marilah kita mulai dari diri sendiri, dari yang terkecil, mulai sekarang juga dan jangan menunda-nunda. Insyaallah keikhlasan dan ketulusan dari Bapak Ibu Guru akan menghasilkan guru-guru hebat yang mampu mengilhami anak didiknya kelak agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Amiin. Semoga Bermanfaat.

Mulyati Rahman, seorang guru yang berani dan aktif. Anggota Agupena Jawa Tengah

Sumber Rujukan:
Andrea Hirata, 2007. Laskar Pelangi. Yogyakarta: P.T. Bentang Pustaka.
Arifin Muftie, 2006. Serial: Matematika Alam Semesta. www.assyarif.blogspot.com. Akses: 21 September 2007.
Ary Ginanjar Agustian, 2005. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ). Jakarta: Arga Wijaya Persada.
Canfield, Jack & Hansen, Mark V., 2004. Chicken Soup for the Teacher’s Soul. Kisah-kisah untuk Membuka Hati dan Menyalakan Semangat Para Pendidik. Alih Bahasa: Rina Buntaran. Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka Utama.
Covey, R. Steven, 2008. The8th Habit. Melampaui Efektifitas Menggapai Keagungan. Penerjemah: Wandi S. Brata dan Zein Isa. Jakarta: P.T. Gramedia.
Rhenald Kasali, 2006. Change. Jakarta: P.T. Grsmedia Pustaka Utama.
Scott, CC., 2004. Trust Your Life. Alih Bahasa: Fistaulia FS. Jogjakarta: Inspirasi Buku Utama.
Toto Tasmara, 2001. tentang Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence). Membentuk Kepribadian Yang Bertanggung Jawab, Profesional dan Berakhlak. Jakarta: Gema Insani Press.

Tulisan lain yang berkaitan:

13 komentar terhadap “BERDAYAKAN DIRI, SEBELUM TAK BERDAYA: MEMETIK BERKAH LOMBA DARI HOBI NGE-NET”

  1. Riyadi | Sunday, 24 January 2010 @ 7:11 pm

    :roll: kurang satu referensi lagi …. kapan-kapan jadi juara lomba penulisan artikel ilmiah tingkat asia. biar nanti saya muat di http://riyadi.purworejo.asia hehe … salut tulisan ibu selalu menggelitik …
    .-= Riyadi´s last blog ..Pematang Malam =-.

    Reply

  2. sawali tuhusetya | Sunday, 24 January 2010 @ 7:39 pm

    sebuah upaya serius yang layak diapresiasi dan diteladani, bu atik. semoga ini bisa menjadi awal yang bagus yang untuk memberdayakan diri sekaligus menjadi inspirasi untuk rekan2 sejawat, termasuk saya. jangan pernah berhenti utk berinovasi, bu. salam kreatif dan salam sukses.
    .-= sawali tuhusetya´s last blog ..Negeri Kelelawar Menjadi Sarang Koruptor =-.

    Reply

    Deni Kurniawan Asari Reply:

    @sawali tuhusetya, Betul Pak Wali, Bu Atik ini sosok yang luar biasa….makanya tak motivasi untuk menjadi bagian utama dari Agupena. Bu Atik, mantap! :idea:

    Reply

  3. Supandi | Monday, 25 January 2010 @ 7:46 am

    Bu Mulyati Rahman telah memetik sebagian dari sebuah kreatifitas yang dibangun atas dasar cinta kepada ilmu. Sukses Bu Ati, lanjtkan!

    Salam
    Supandi-Kroya-Cilacap

    Reply

  4. johan wahyudi | Monday, 25 January 2010 @ 6:11 pm

    LUAA…AR BIAZZZ…ZAAAAA. Maju terus dan terus maju.

    Reply

  5. Atik | Friday, 29 January 2010 @ 8:59 am

    @Pak Wali: Maaf Pak Wali… saya jadi malu lho sebenarnya diupload di sini, ini kemarin hasil “provokasi” Pak Deni tapi nggak nyambung… he..he. Semoga jadi inspirasi rekan-rekan untuk terus belajar.
    @Supandi: Makasih apresiasinya Pak.
    @Johan: Panjenengan juga Luaar biasaaa lho Pak… Selamat ya… juara penulisan naskah buku pengayaan n selamat sudah lulus S2 nya.. Bagi-bagi dong ilmunya.
    .-= Atik´s last blog ..AKU NGEBLOG (lagi) KARENA AKU ADA… (2) =-.

    Reply

  6. poniyem S.Pd | Saturday, 30 January 2010 @ 10:38 am

    Yth ibu Atik…. pingin seperti anda tapi sayangnya jaman gini saya baru mau buka2 internet. itupun baru kenal- kenal dikit.terlambat gak ya bu…trus saya tuh keinginan untuk nulis kadang muncul tapi terkendala dengan bagaimana cara mengembangkan kalimat.memulai belajarnya dari mana baiknya ya..oya…saya guru fisika smp yang kata orang bisanya bicara hanya to the point..

    Reply

    Atik Reply:

    Yth. Bu Poniyem,
    Salam kenal ibu…Nggak ada kata terlamabat untuk belajar bu… saya sendiri juga merasakan seperti panjenengan. Kadang-kadang saya menggebu-gebu punya keinginan menulis, tapi terkendala idealisme saya harus begini harus begitu…
    Ternyata menurut orang yang sudah ahli, yang penting menulis dulu secara mengalir saja, baru nantinya kita perbaiki sambil belajar…
    Selamat berkarya Ibu, maturnuwn sharingnya
    .-= Atik´s last blog ..Belajar Menjadi Guru Inovatif (1) =-.

    Reply

  7. slamet widiantoro | Thursday, 11 February 2010 @ 7:08 pm

    Sepertinya pantas jadi sang juara :lol: !
    Terus berjuang guru Indoensia, anda layak dapat bintang!
    Memnang guru harus seperti itu, harus tidak puas dengan hasil yang ada, sehingga selalu memperbaiki diri untuk selalu mendapatkan prestasi!
    .-= slamet widiantoro´s last blog ..Lomba Animasi =-.

    Reply

  8. A.RIWI DWI SEMTARI | Tuesday, 23 February 2010 @ 7:51 pm

    selamat ya bu….. semangat ibu menambah semangat saya guru yang sudah tua,….. belajar dan berkarya tidak mengenal batas umur……
    Salam kenal dari yogya.

    Reply

  9. Sungkowoastro | Wednesday, 24 February 2010 @ 9:43 am

    Saripati tulisan Ibu sungguh bermanfaat. Merangsang dan mengilhami banyak pembaca, termasuk saya. Perjalanan panjang prestasi Ibu biarlah menjadi darah segar bagi guru-guru lain, termasuk diriku. Hehehe…….
    .-= Sungkowoastro´s last blog ..REALITAS YANG MENGGETIRKAN =-.

    Reply

  10. whida | Wednesday, 3 March 2010 @ 8:47 pm

    sepeti judul buku yang ada di woll ibu…
    “Pembelajaran Berbasis Fitrah, Balai Pustaka”
    buku itu sudah saya baca sebelum mengomen ibu.
    ternyata itu adalah Pendidikan adalah sebuah proses yang tak berkesudahan yang sangat menentukan karakter bangsa pada masa kini dan masa datang, apakah suatu bangsa akan muncul sebagai bangsa pemenang, atau bangsa pecundang sangat tergantung pada kualitas pendidikan yang dapat membentuk karakter anak bangsa tersebut.
    ibu jadilah contoh yang baik bagi guru-guru lainnya .

    Reply

  11. ties setyaningsih | Sunday, 16 May 2010 @ 11:37 pm

    Benarrrrrrrrrrrrrrrrrrrr benar angkat topi dan acuing jempol untuk ibu ya? hasil kerja keras panjenengan sebagai suru tauladan untuk guru-guru di tanah air ini./..yang selalu haus akan ilmu pengetahuan .

    Reply

Komentar Anda?


«
»
IP