Saatnya melek huruf di bumi Serasi
Tuesday, 22 December 2009 (17:26) | 226 views | 2 komentar
Penulis : Roto
BEGITU melihat judul artikel ini, warga masyarakat kabupaten Semarang tidak perlu tergesa-gesa gerah, bahkan cemberut. Untuk jelasnya mari kita ikuti ulasan artikel ini agar dimaknai sebagai cambuk untuk melecut pribadi kita, keluarga kita, bahkan masyarakat kabupaten Semarang. Judul tersebut, penulis maksudkan agar warga masyarakat tertantang untuk mau membuka lebar-lebar mata hatinya, untuk menerawang jauh ke depan dalam menaklukan dunia di era global yang serba cepat.
Dalam arti tidak hanya sekadar melek huruf. Berikut penulis kutifkan ungkapan Rendra dalam artikel Heni Purwono: “Penulis harus secukupnya saja menyesali kegagalan atau mensyukuri kesuksesan. Ia tidak boleh terjerat oleh sukses atau kegagalan karyanya. Kegemaran berkokok atas suatu sukses atau menangis pilu karena suatu kegagalan akan menyebabkan ia kerdil. Pikiran dan jiwa tak lagi merdeka tanpa beban, sehingga kemurnian jiwa sukar lagi didapatkan. Pada hakikatnya, seorang penulis harus memahami bahwa nama itu kosong dan ketenaran itu hampa, hanya jalan hidup yang nyata.”
Mencermati pendapat tersebut sudah seharusnya warga kabupaten Semarang mau dan selanjutnya mampu memancarkan cahaya terang tentang tulis menulis, sekaligus sebagai penerang tingkat lokal menjadi nasional, bahkan mendunia. Seirama cita-cita Bung Karno: “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit,” Luar biasa!
Serasi artinya Sehat, Rapi, Aman, Sejahtera & Indah. Itulah slogan kabupaten Semarang dengan ibu kota Ungaran, yang berada di lembah gunung Ungaran, yang sangat potensial objek wisatanya. Mulai dari kota Ungaran, tersimpan bumi perkemahan Penggaron nan indah. Dengan ditandai beribu pohon pinus, yang teduh, nyaman dan memadai. Sekaligus sebagai penyangga hutan lindung untuk masyarakat sekitar sampai dengan kota Semarang.
Jika dilanjutkan menuju ke arah selatan, maka disana akan dijumpai pemandian alami yaitu Siwarak dan air terjun Semirang. Kemudian belok ke kanan, sampailah ke pasar sayur-sayuran yang tersohor di tingkat Jawa Tengah yaitu Jimbaran. Perjalanan dapat dilanjutkan ke pemandian alam Umbul Sidomukti, PJKA Bandungan, Gedong Songo dan berikutnya menuju ke kota Palagan Ambarawa, dengan musium Kereta Api terbesar di Asia Tenggara.
Jika berbicara tentang objek pariwisata, di kabupaten Semarang-lah gudangnya. Maka, bukan sesuatu yang aneh jika kabupaten Semarang juga ber-trademerk kabupaten Intanpari, yaitu pertanian, industri dan pariwisata.
Serasi Bumiku, Membaca Kebiasaan Ku
Pada alinia di depan penulis sengaja mengungkap tentang slogan Serasi dan Intanpari, karena memang faktanya demikian. Sedang dari sudut pandang pendidikan penulis mencoba mengungkap keprihatinan untuk dijadikan pelecut potensi yaitu tentang: “Saatnya Melek Huruf di Bumi Serasi.” Mengapa judul tersebut diketengahkan? Sebab tepatnya pada tanggal 30 Juli sampai dengan 5 Agustus 2009, Plt. Bupati kabupaten Semarang Hj. Siti Ambar Fathonah berkenan membuka dan meresmikan pelaksanaan pameran buku murah. Bekerjasama dengan koran harian Suara Merdeka, disertai 200 penerbit.
Adapun tema yang diusung adalah: “Serasi Bumiku, Membaca Kebiasaan Ku.” Akankah slogan tersebut benar-benar membumi di kabupaten Semarang? Itulah persoalan yang harus dijadikan lecutan bagi warga kabupaten Semarang khususnya. Bermula dari terlaksananya pameran buku itulah, para pelaku pendidikan, masyarakat, lebih khusus para wali murid dan peserta didik untuk mau membuka mata hati, bahwa buku adalah sumber ilmu untuk membuka “jendela dunia.”
Dengan ilmulah kita akan mampu “menguasai dunia,” bukannya “manusia dikuasai dunia.” Masih ingat dan segar dipelupuk mata kita yaitu contoh beberapa kasus bencana yang meluluh lantakkan bumi pertiwi. Mulai dari bencana Tsunami, bencana lumpur Lapindo Sidoarjo, bencana tanah longsor di Karanganyar, bencana terbaru yaitu jebolnya waduk Situgintung. Belakangan disusul kasus kebakaran dibeberapa kota dan daerah. Belum usai persolan tersebut, warga Indonesia dikejutkan dan dihebohkan kasus teror bom di Kuningan Jakarta.
Itulah contoh kasus “dunia mengusai manusia.” Sudah seharusnya semua elemen bangsa untuk berfikir ulang agar bumiku terbebas dari segala bencana yang maha dahsyat. Dengan tujuan menyelematkan anak cucu kita sebagai penerus bangsa.
Mencermati fakta bencana tersebut, diperlukan kejernihan berfikir yang mendalam, sekaligus sebagai peringatan manusia hidup di muka bumi ini, untuk selalu berkenan mawas diri, dan mau mendekat pada Sang Khalik, agar selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun diantara bukti tindakan nyata adalah memanfaatkan buku. Buku adalah sumber ilmu, sebagai penghantar kita untuk mampu menguasai dunia demi kemaslakhatan umat manusia. Bermula dari perilaku membaca & membaca dengan muara akhir adalah mampu menulis. Baik berbentuk cerita fiksi dan non fiksi.
Melengkapi paparan ini rasanya kita perlu bercermin pada tokoh-tokoh yang berjajar di lapis intelektual kritis. Mereka menjadi melambung namanya tentu tidak bisa lepas dari kepiawiaannya menulis. Sekadar menyebut, lihatlah, Todung Mulya Lubis yang esei-esei hukumnya bagus, ternyata juga kampiun menulis puisi. Eep Saifullah Fatah, kolumnis politik ini bisa menulis cerpen dengan baik. Termasuk Hendrawan Nadesul, Faisal Basri, Yudi Latif serta sederet nama lain – tulisan-tulisannya terus mengalir. Baik berbentuk cerpen, artikel ilmiah populer, jurnal ilmiah, buku pembelajaran, penelitian dan lain-lain, (dalam artikel Drs. Budi Wahyono). Dengan tujuan mampu menyebarkan virus-virus (meminjam istilah dari Syawali, M.Pd.) kebenaran, kejujuran dan kedisiplinan pada generasi mendatang.
Peran stakholder di kabupaten Semarang sangat diharapkan untuk melakukan tindakan nyata, yaitu menggerakkan siswa didiknya untuk menyaksikan pelaksanaan pameran buku tersebut. Dikandung maksud menggugah peserta didik sekaligus menggugah alam sadar orang tua agar mau membuka wawasan dan bertangjawab berkenan melihat, mengamati, mencermati isi buku secara sekilas. Kemudian berinisiatif mau merogoh koceknya untuk membelikan buku demi kemajuan putra-putrinya. Sehingga tujuan mulia yang berbunyi: “Serasi Bumiku, Membaca Kebiasaan Ku” tidak hanya sebagai slogan belaka, melainkan tercapai segera.
Dengan harapan menerawang jauh ke depan yaitu mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan muda mulai dari tingkat lokal, nasional bahkan mendunia. Semoga.
Oleh Roto Perum Serasi Ambarawa
Email: roto_amb@yahoo.com
Rujukan:
1. Suasana pameran buku murah di Gedung Pemuda Ambarawa, dengan tema: “Serasi Bumiku, Membaca Kebiasaan Ku”
2. Wahyono Budi. 2009. Artikel. “Wahai Guru, Menulislah Apa Yang Kalian
Bisa!.”
3. Wagiran dan Mukh Doyin. 2005. Curah Gagasan. Rumah Indonesia.
4. Heni Purwono. 2009. Artikel. Guru Nirleka, Apa Kata Dunia. Juara 1 Agupena Jawa Tengah.
Berikut Biodata singkat penulis:
1. Penantian Panjang Kesejahteraan Guru, Kompas, 12 Maret 2007.
2. Aroma Program Sertifikasi, Derap Guru, April 2007.
3. Problem Fakta Kualitas Guru, Derap Guru, April 2008.
4. Bias Dampak Arus Informasi & Telekomunikasi, Jawa Pos Radar Kudus, 8 Mei 2008.
5. Susahnya Guru Memulai Menulis Artikel, Jawa Pos Radar Kudus, 19 Mei 2008.
6. Kekerasan Gank Nero Mencoreng Dunia Pendidikan, Jawa Pos Radar Semarang, 18 Juni 2008.
7. Problem Budaya Menulis, Derap Guru, Juli 2008.
8. Bali Deso Mbangun Deso Mampukah Menyejahterakan Masyarakat?, Jawa Pos Radar Semarang, 7 Juli 2008.
9. Kriteria Penentuan Peringkat Kelulusan Oleng?, Jawa Pos Radar Semarang, 14 Juli 2008.
10. Merombak Total Paradigma Study Tour, Jawa Pos Radar Semarang, 19 Juli 2008.
11. Mengejar Kemajuan Dalam Kemiskinan?, Jawa Pos Radar Semarang, 21 Juli 2008.
12. Sulitnya Menghentikan Uang SPI, Jawa Pos Radar Semarang, 25 Juli 2008.
13. Tingkatkan Kualitas Lulusan dengan Kelas Unggulan, Jawa Pos Radar Semarang, 27 Juli 2008.
14. Gonjang-Ganjing Pelaksanaan PPD 2008/2009, Derap Guru, Agustus 2008.
15. Mengadopsi Budaya Asing untuk Sekolah Kita, Jawa Pos Radar Semarang, 2 Agustus 2008.
16. Penyaji Makalah Dalam Seminar Nasional Mendongkrak Kualitas Pendidikan: “Mengadopsi Budaya Asing Untuk Kualitas Pendidikan,” Hotel Telo Moyo Semarang, Mutiara Wacana, 3 Agustus 2008.
17. Sepuluh Penyakit Guru Membudaya, Jawa Pos Radar Semarang, 13 Agustus 2008.
18. Memaknai Anggaran Pendidikan 20 Persen dari RAPBN, Jawa Pos Radar Semarang, 19 Agustus 2008.
19. Anggaran Pendidikan 20 Persen Bagai Bola Liar, Jawa Pos Radar Semarang, 26 Agustus 2008.
20. Perjuangan Menembus Kokohnya Tembok Pangkat IV/b, Jawa Pos Radar Semarang, 14 September 2008.
21. Mendidik Kebersihan Melalui Lomba Lukis, Jawa Pos Radar Semarang, 17 September 2008.
22. Menghidupkan Ekskul Demi Talenta Siswa, Jawa Pos Radar Semarang, 16 Oktober 2008.
23. Mencegah Merebaknya Budaya Jalan Pintas, Jawa Pos Radar Semarang, 23 Oktober 2008.
24. Penyaji Makalah: Menggali Bakat Seni Lukis Siswa SMP/MTs Melalui Lomba Dalam Seminar MGMP Mapel Seni Budaya di SMP 2 Ungaran 3 Juni 2009.
25. Peserta lomba Membudayakan Menulis Di Kalangan Guru, 25 Juni 2009, Agupena Jawa Tengah.
26. Perlukah Menggapai Pangkat IV/b Dengan Selingkuh?, Agupena Jawa Tengah, 28 Juni 2009.
27. Menjebak Rakyat Dengan Program Pro Pendidikan, http://ispi.or.id, 10 Juli 2009.
28. Pergulatan Budaya Dalam Pendidikan, Wawasan, 30 Juli 2009.
Tulisan lain yang berkaitan:



Horas Broer !! ternyata Museum Kereta kita itu terbesar se Asia Tenggara ya?? Saya harus bangga atau sebaliknya kalo lihat kondisinya seperti itu. Kok gak dikelola secara profesional gitu ya ?! Aset wisata langka dan bernilai historis tinggi lho Broer, ya nggak. He.he.he salam hangat dari adikmu, Gunungpati!
Reply
oke adinda moga-moga ada respon dari pengelolanya, ya ya ya….
Reply