Islamku, Islammu, Islam Kita: Apologetik, Identifikatif, atau Affirmatif
Saturday, 19 December 2009 (23:16) | 69 views | 2 komentar
Penulis : Mi’raj D. K., S.Pd.
Ada tiga bentuk pendekatan yang secara implisit mengemuka berkenaan respon kalangan dan para pemikir Muslim terhadap tantangan kemajuan atau hegemoni Eropa atau Barat umumnya. Antara lain: pendekatan apologetik, identifikatif, dan affirmatif.
Pendekatan apologetik (pembelaan diri) yang diutarakan Muslim biasanya tentang kelebihan-kelebihan Islam – tidak hanya untuk menjawab hegemoni politik Eropa, tetapi sekaligus tantangan intelektual Eropa yang mempersoalkan aspek-aspek tertentu ajaran Islam, misalnya, menyangkut jihad, poligami, kedudukan wanita, perbudakan, dan lain-lain.
Pendekatan apologetik cenderung normatif dan idealistik dengan mengabaikan realita sosial, juga mencerminkan sikap reaksioner. Karenanya pendekatan ini punya konotasi pejoratif dan negatif. Tetapi pada sisi lain, pada dasarnya apologisme merupakan defense mechanism (mekanisme pembelaan diri) terhadap ancaman, tantangan, dan kritik dari luar yang sering, sangat agresif.
Adapun dari perspektif umat Islam, apologisme menunjukkan keinginan untuk membebaskan diri dari tekanan situasi yang represif, yang menyebabkan alienasi karena terputus dari doktrin Islam yang pernah mengangkat harkat kaum Muslim dalam sejarah.
Pada batas tertentu, sikap apologetik bisa dipahami dan dibenarkan. Bahkan bisa disebut perlu dalam upaya membangkitkan kembali rasa kebanggaan kepada ajaran Islam dan sejarahnya yang pernah berjaya itu. Apologi pun bisa mendatangkan ‘kenyamanan’ psikologis, yaitu memberi kepuasan dan kebanggaan sebagai pemeluk Islam. Bahkan apologi juga bisa positif, karena ia dapat menjadi inspirasi, yang pada gilirannya bisa mendorong dinamisme sosial.
Tetapi harus segera diakui bahwa apologi sering tidak menyelesaikan masalah, karena ia memang tidak memberikan jawaban konkrit terhadap tantangan yang ada. Bahkan jika tingkat apologinya sangat tinggi, ia dapat memunculkan pemikiran dan tindakan yang tidak realistik. Di sini kalangan apologis terperangkap dalam kesibukan menjelaskan bahwa kemodernan yang ada di Barat, juga telah ada di dalam Islam sejak waktu yang lebih lama.
Muslim apologis mengagung-agungkan masa lalu seraya mengulang-ulang kesempurnaan Islam, yang sekaligus berarti menutup-nutupi masalah riil dan aktual yang dihadapi. Apologis bersifar restrospektif dan reaksioner, sehingga mendorong pemecahan masalah secara intelektual dengan kembali ke belakang, tidak ke depan, serta menimbulkan problem abstrak yang tidak ada hubungannya dengan realita yang dihadapi saat ini (kontemporer) dan di sini. Here and now.
Di pihak lain, pendekatan identifikatif diambil untuk merumuskan masalah-masalah yang dihadapi guna memformat respon sekaligus identitas Islam di masa modern. Nampaknya pendekatan ini lebih membuka peluang bagi kemunculan pemikiran dan usaha kreatif dan pro aktif yang bersifat problem solving (penyelesaian masalah).
Sedangkan pendekatan affirmatif ditempuh untuk menegaskan kembali kepercayaan kepada Islam, sekaligus menguatkan lagi eksistensi masyarakat Muslim.
Seraya menegaskan bahwa dalam banyak kasus, ketiga pendekatan tadi: apologetik, identifikatif, dan affirmatif, acap sulit dipisahkan satu sama lain, bahkan sering tumpang tindih, Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme Hingga Post Modernisme (1996: iv-vi), mengakhiri paparan singkatnya mengenai tiga respon pendekatan Muslim dalam berislam.
Pendekatan Islamku, Islammu, dan Islam Kita
Dalam perspektif hasil, dan bukannya proses, pendekatan berislam bolehlah ibarat mendekati calon istri. Dalam perspektif ini, bukannya lika liku rona mendekati si calon istri yang penting, melainkan hasil akhir bisa menikahinya. Dalam arti kata, mungkin, bukan apa pendekatan yang Muslim tempuh dalam berislam yang teramat penting, melainkan hasil akhir yaitu hadirnya kejayaan Islam kontemporer dan di masa depan: seperti atau berbeda dengan wajah kejayaan Islam masa silam.
Akan tetapi dalam perspektif kombinasi proses dan hasil, tentu hanya proses yang efektiflah yang akan mempersembahkan hasil yang baik. Maka, sulit dipungkiri, untuk mencapai hasil: kejayaan Islam, harus pula menempuh proses pendekatan, yang kemungkinan besar, akan membawa kaum Muslim ke akibat sejarah kejayaan. Yang manakah itu? Tentu tidak diharamkan memilih salah satunya, atau menjalankan ketiga pendekatan tadi. Toh, dalam situasi tertentu, masing-masing pendekatan tadi terbukti memiliki kesaktian berbeda. Dan, memang, dalam banyak kasus pula, membuat kaum Muslim survive, hingga kiwari.
Sangat beruntung di alam kontemporer bertebaran gerakan Muslim yang hendak mengembalikan kejayaan Islam. Ya semacam Islamnya gaya Himpunan Mahasiswa Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam, Al Irsyad, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, format Wilayatul Faqih ala mendiang Ayatullah Khomeini, Islam kiri model Dr. Hasan Hanafi, dan seterusnya. Banyak corak, gaya, model, pendekatan, perspektif, dan karenanya, tentu menjadi banyak pilihan. Kalau punya, tentu boleh pula menawarkan dan menjalankan pendekatan berbeda, selain ketiga pendekatan tadi.
At least, sebaiknya Islam dalam realita sosial berperan sebagai subyek yang mendinamisasi dan menentukan perkembangan sejarah. Dan bukan malah menjadi obyek akibat mengalami tekanan dari kekuatan dan faktor sosial lainnya. Semua itu demi Islamku, Islammu, dan Islam kita untuk Islam yang jaya di masa sekarang dan masa mendatang. Tabik.
Mi’raj D.K
Mantan Aktivis Kampus, Pendidik di Cianjur Jawa Barat




peluang usaha dunia akhirat | Sunday, 20 December 2009 @ 1:27 am
lam kenal
Reply
peluang usaha dunia akhirat | Sunday, 20 December 2009 @ 1:28 am
lam kenal
Reply