Wednesday, 16 December 2009 (08:46) | 214 views | 6 komentar
Oleh : SUPANDI, S.Pd, MM.
Keinginan untuk menjadi orang yang sukses sudah diidam-idamkan dan diperjuangkan oleh setiap orang semenjak seseorang masih berada dalam fase jabang bayi. Realita ini dapat kita lihat manakala seorang bayi belajar dengan tekun untuk bisa berjalan layaknya orang dewasa. Sebuah perjuangan yang tidak mengenal lelah, walaupun mereka harus jatuh bangun, atau mungkin sampai terluka, namun kegigihan demi sebuah kesuksesan yaitu agar bisa berjalan tidak mengendorkan semangat juangnya.
Fenomena kehidupan semacam ini agaknya sering dilupakan oleh kebanyakan manusia, termasuk di dalamnya para pelajar. Seringkali dijumpai seseorang yang mendambakan untuk menjadi orang yang sukses di kemudian hari, namun keinginan tersebut tidak dibarengi dengan usaha maksimal.
Diantara faktor yang menyebabkan seseorang enggan untuk melakukan usaha secara maksimal adalah :
1. Dalam melakukan usahanya manusia sering berhadapan dengan berbagai kendala atau kegagalan, sementara di sisi lain minimnya komitmen dan kesadaran diri yang dimiliki oleh seseorang dalam mengatasi kesulitan tersebut.
Dalam perjalanan hidupnya setiap orang sangat dipastikan akan menemui kegagalan dalam memperjuangkan cita-citanya. Orang yang bijak seyogyanya tidak mengambil kesimpulan dan mundur terlalu cepat ketika menghadapi kegagalan. Taufik Hidayat lebih banyak mengalami kegagalan dibandingkan dengan Anda dalam melakukan latihan smash karena shuttlecocknya lebih sering menyangkut di net. Tetapi apa yang terjadi dengan Anda? Frekwensi menyangkut di net shuttlecock Anda lebih sedikit karena memang frekwensi latihan bulu tangkis Anda lebih sedikit bila dibandingkan Taufik. Akan tetapi pada akhirnya Taufik jauh lebih sukses bila dibandingkan dengan Anda. Dengan demikian Anda sebaiknya jangan cepat mundur ketika menghadapi kegagalan.
2. Dalam melakukan usahanya manusia sering terjebak dalam sebuah zona nyaman (confort zone), suatu kondisi yang bisa meninabobokan seseorang untuk tetap berada dalam kenyamanan sesaat sehingga berakibat pada kecenderungan enggan melakukan tindakan nyata.
Sebagai contoh : Si “A” selama ini senantiasa tidak memiliki hasrat untuk belajar. Di kelaspun demikian. Minat untuk mau mengikuti pelajaran mengarah ke angka nol. Namun demikian tetap saja dia selalu naik kelas. Hal ini disebabkan karena teman-temannya begitu kompak ketika mengerjakan test. Dengan demikian dia merasa nyaman berada dalam kondisi semacam ini. Tidak belajar, bisa bermain sepuasnya, bisa PSan, bisa lihat sinetron berjam-jam tapi toh di sekolah tetap bisa naik
Orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak sangat perlu untuk memberi pengertian kepada mereka atas fenomena di atas. Orang tua harus senantiasa mengarahkan kepada anak-anaknya agar mereka tidak terjebak dalam kenyamanan sesaat. Dikhawatirkan apabila dibiarkan maka kenyamanan sesaat ini berakibat pada keengganan atau kemalasan. Sebagai orang yang belum memiliki kematangan penuh, bagaimanapun juga anak-anak Anda sangat membutuhkan perhatian, bimbingan, motivasi, kesabaran dan kasih sayang dari orang tua. Perlu dicamkan kepada anak bahwa sesungguhnya tidak ada kesuksesan yang bisa diraih tanpa melakukan usaha. Kesuksesan dan kegagalan bisa saja menjadi milik semua orang. Namun demikian ada kemungkinan kegagalan tidak dimiliki oleh semua orang manakala semua orang melakukan usaha (effort) dengan serius, komitmen, dan kesadaran diri yang tinggi.
Hirarki Jalur
Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan oleh seseorang dalam menuju ke arah cita-citanya adalah perlunya mengaplikasikan hirarki jalur dalam mencapai keberhasilannya. Hirarki jalur menuju sukses yang dimaksud adalah jalur “ridlo orang tua” dan “jalur ridlo Allah SWT”. Kedua jalur ini merupakan satu garis vertikal yaitu manakala orang tua ridlo maka Allah Swt akan memberi rekomendasi. Ridlo orang tua pada akhirnya akan bermuara pada ridlo Allah SWT. Ridlo orang tua akan menghadirkan sebuah kekuatan dan kualitas doa seseorang. Kekuatan dari Allah SWT inilah yang disebut dengan “Suara Tuhan”. Siapapun tidak bisa memungkiri bahwa dukungan spiritual dari orang tua kepada anak-anaknya dalam menggapai cita-citanya memiliki peran yang sangat tinggi, satu tingkat di bawah ridlo Allah SWT.
Bagaimana Menghadirkan ”Suara Tuhan”?
Untuk menghadirkan ”Suara Tuhan” pada diri seseorang dibutuhkan “lelaku” yang intensif. Hal ini dilakukan dengan usaha penghambaan penuh kepada Allah SWT dan perilaku karimah kepada kedua orang tua. Penjabaran dari kalimat diatas tentu tidak sesederhana seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Kebanyakan orang berperilaku apa adanya. Kebanyakan orang hanya mengandalkan usaha dan kemampuan yang tampak-tampak saja. Padahal Allah SWT telah memberikan kekuatan luar biasa kepada setiap orang, termasuk bagaimana menghadirkan ”Suara Tuhan’ dalam dirinya. Dan semua itu bisa diraih salah satunya melalui “lelaku” yang intensif.
Allah SWT sangat menyayangi hambanya. Oleh karenanya siapapun yang membutuhkan pertolongnnyNya pasti akan dikabulkan, demikian janji Allah Swt. Untuk inilah dibutuhkan kecerdasan emosi yang mengarah kepada kecerdasan spiritual dengan melakukan berbagai usaha pendekatan diri kepada Allah Swt.
Ridlo Allah SWT Adalah Jalur Tertinggi
Sebenarnya semua doa manusia hanya Allah yang akan mengabulkannya. Karena Dialah satu-satunya top decision maker. Namun demikian tanpa jalur yang tepat maka jauh dari kemungkinan doa manusia bisa terkabul. Disinilah pentingnya manusia memperhatikan hirarki jalur dalam memohon ridloNya baik untuk kepentingan jangka pendek maupun jangka panjang.
Agar bisa sampai ke top decision maker (pengambil keputusan akhir) yaitu Allah SWT terlebih dulu kita harus melalui jalur-jalur di bawahnya. Seorang anak harus senantiasa berbakti dan berakhlak baik kepada kedua orang tuanya. Bersikaplah yang baik sedemikian sehingga mereka senang. Berbicaralah yang hati-hati, jangan sampai sedikitpun menyinggung perasaan mereka. Bersikaplah yang terpuji sehingga mereka merasakan senang seperti pada saat mereka mendengar tangisan pertama kita pada waktu kita dilahirkannya dulu.
Perbaiki Nasib Dengan Memperbaiki Menu
Tidak ada satu-pun orang tua yang tidak menghendaki anak-anaknya berhasil. Tidak pandang bulu apakah anaknya baik maupun memiliki karakter yang jelek, tetap saja didoakan oleh orang tua agar kelak menjadi anak yang berhasil dan tercapai cita-citanya. Namun bagaimana dengan doa orang tuanya yang tidak kunjung terkabul dalam mendoakan anak-anaknya? Untuk menjawab pertanyaan ini alangkah baiknya kita menengok ke belakang. Yang perlu diingat adalah bahwa orang tua hanyalah manusia yang dalam konteks ini kapasitasnya hanya sebagai wasilah (perantara) saja. Keputusan akhir tetap saja berada di tangan Allah Swt.
Dalam konteks yang demikian, sebagai anak perlu bersikap bijak dengan melakukan perenungan dan kesadaran jiwa. Yang perlu disadari adalah seberapa besar “kabegjan” yang dimiliki oleh anak. Apabila kabegjan yang dimiliki oleh seorang anak besar maka dengan mudah Allah akan mengabulkan doa mereka. Tetapi sebaliknya manakala kondisi anak kurang bersih maka kondisi seperti ini akan menghalangi terkabulnya doa. Antara kedua faktor tersebut harus berjalan secara sinergis.
Kita sering menjumpai fenomena yang terjadi dalam sebuah keluarga atau barangkali juga dialami di keluarga Anda dimana antara anak satu dengan yang lainnya memiliki tingkat kabegjan yang berbeda. Ada yang mudah didoakan oleh orang tua tetapi ada juga yang sulit. Ada yang mapan tetapi ada juga yang masih bernasib kurang mujur. Kelapa satu truk biasanya ada satu atau beberapa yang busuk, demikian apabila diibaratkan. Agar hal semacam ini tidak terjadi pada keluarga maka dibutuhkan suatu kesadaran dan usaha yang serius dalam hal mendekatkan diri kepada Allah Swt. Anak harus bisa menghadirkan konsep doa yang acceptable (dapat diterima) oleh Allah. Anak harus bisa menghadirkan doa dari orang tua dengan doa yang berkualitas.
Anak yang belum memperoleh ridlo dari Allah Swt seyogyanya segera membekali diri dengan berbagai ikhtiar. Begitu juga harus senantiasa memperbaiki akhlak yang sekiranya tidak berkenan bagi orang tua, sesama, dan Tuhan Yang Maha Berkehendak. Langkah ini dilakukan agar dia memiliki tingkat kabegjan yang tinggi. Caranya yaitu dengan memperbaiki menu ritual kita kepada Allah Swt.
***
Profil Penulis
Nama : SUPANDI, S.Pd, MM.
Tempat/Tgl lahir : Cilacap, 10 Agustus 1965
Alamat : Puri Mujur 163 Kroya – Cilacap – Jawa Tengah
Pekerjaan : Guru SMP Negeri 2 Binangun
Riwayat Pendidikan : SMA 1 Cilacap lulus 1986 Diploma 2 Bahasa Inggris IKIP Semarang 1988
S1 Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Purworejo 2002
S2 MM Unsoed Purwokerto 2007
Riwayat Pekerjaan : Menjadi guru honorer di SMP PGRI 9 Maos – Cilacap selama 3 tahun (1990 – 1993). Tahun 1993 diangkat menjadi PNS sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun – Cilacap sampai saat ini. Tahun 2006 s.d 2009 dipercaya menjadi guru pemandu MGMP mapel Bahasa Inggris kabupaten Cilacap. Ketua MGMP Bahasa Inggris periode 2009 – 2011 dan pengurus Agupena (Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia) Kabupaten Cilacap periode 2009-2014.
Motto Hidup : Lakukan perubahan
Phone : (0282) 494921
HP. : 081391274742
e-mail : supandi_mm@yahoo.com2
Tulisan lain yang berkaitan:



Sukses itu hak semua orang ya…
Pak Pandi termasuk sosok yang telah sukses, semoga kita pembaca dapat memetik pengalaman beliau…
Reply
baguz Ayahnya Hanin..
ni pass bgt buwat pelajar hhehe
hhmm tapi lili ga mudeng kabegjan si apa lili gtw hihih
Ayahnya Hanin Lili tunggu tulisan yang baru lagiii
Reply
Makasih banget Om,bagus banget isinya,mudah-mudahan aku dapat mengambil hikmah serta merealisasikan apa yang ada pada tulisan itu,Doakan ya Om, Mudah-mudahan Allah meridhloi diriku menjadi orang sukses.
Reply
Iya…
Bagus
Satu pelajaran, supaya saya ga smudah itu menyerah dan putus asa…
Reply
@ Liliyani, Izal, Ane : Trm ksh juga kalian tlah berkunjung ke tulisan Om. Pokoknya pegang erat psn tsb. karena disitulah terdapat energi tanpa batas yg akan mendongkrak masa dpnmu.
@ Mas Deni : Sukses selalu buat kita.
Reply
Supaya doa kita dikabulkan oleh Allah sebaiknya, anak dibiasakan menanam kebaikan setiap hari termasuk jujur dalam meraih nilai di sekolah agar supaya mampu meraih kebahagian, kesejahteraan dan kesuksesan di masa depan.
Selamat pagi. Saya tunggu artikel berikutnya.
.-= Puspita W´s last blog ..Pemanfaatan Email Sebagai Media Pengayaan dan Remidi Siswa =-.
Reply