Si Koboi Shane dan Gerakan Mahasiswa
Friday, 20 November 2009 (06:19) | 81 views | 0 komentar
Oleh Mi’raj D. Kurniawan
Shane adalah nama tokoh sekaligus judul film koboi Hollywood. Dalam film ini, Shane diperankan oleh Alan Ladd. Adegan paling penting adalah ketika Shane datang ke sebuah kota kecil yang dikuasai para bandit. Shane lalu duel melawan kepala bandit yang dimainkan Jack Palance. Singkat cerita, Shane berhasil menembak sang bandit.
Penduduk kota merasa begitu bergembira, karena sesudah dikuasai rezim bandit selama bertahun-tahun, akhirnya mereka terbebaskan dari cengkraman pada bandit kejam dan bengis itu. Penduduk kota segera merayakan peristiwa ini dengan pesta pora.
Tiba saatnya ketika penduduk hendak memberikan balas jasa kepada Shane dengan menganugerahinya sebagai sherrif di kota itu, Shane ternyata sudah memacu kudanya dan pergi. Si koboi menghilang di bukit-bukit yang mengelilingi kawasan kota kecil. Ia datang tiba-tiba, dan pergi, juga, dengan tiba-tiba.
Film ini diakhiri dengan teriakan bergema yang mengharukan dan berulang-ulang dari seorang anak kecil pengagum Shane, si koboi, sambil mengejar kuda yang ditunggangi sang koboi. Alih-alih kembali, kuda Shane malah dipacu dan berlari cepat: “Shane, come back, Shane. Come back…..!!” Teriak anak kecil itu, tetapi Shane tak pernah “come back”. (Arief Budiman dalam Arbi Sanit. 1999. Pergolakan Melawan Kekuasaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Insist Press. Hlm xv).
Betapa heroiknya Shane. Ia datang ketika kota tengah dirundung kekacauan dan kegalauan. Shane lalu hadir menyelesaikan persoalan. Setelah tugasnya selesai, Shane berlalu begitu saja, tak meminta maupun menerima imbalan.
Tapi kisah heroik ini dari film, yang mana kita tahu, ceritanya disusun oleh penulis skenario berdasarkan fantasi, tanpa harus mempedulikan apakah kisahnya sesuai atau tidak sesuai, dengan kenyataan. Kendati begitu, tak jarang kita mendambakan fenomena heroisme dalam film, juga terjadi dalam realita.
Arief Budiman yang menceritakan kembali film itu adalah mahasiswa UI eksponen gerakan mahasiswa 1966, juga kakak Soe Hok Gie. Ia juga mendambakan langkah gerakan mahasiswa sebagaimana Shane dalam film ini. Menurutnya, mahasiswa sebaiknya memerankan “gerakan moral”. Mahasiswa turun meneriakkan aspirasi dari akar rumput menentang rezim anti rakyat, lalu setelah pendobrakan pintu perbaikan, “terlihat”, mulai terbuka, maka mahasiswa back to campus. Biarkan institusi politik yang sudah mapan, yang selanjutnya mengendalikan arah perbaikan. Mahasiswa tak perlu tampil terlalu jauh, apalagi meminta atau menerima balas jasa.
Namun seperti yang diakui Arief Budiman sendiri, berdasarkan pengalamannya terlibat dalam gegap gempita gerakan mahasiswa menggulingkan Orde Lama dan membangun tiang Orde Baru, fenomena seperti itu angan-angan belaka. Sebab ia melihat, ketika gerakan berhasil menggulingkan Orde Lama, ternyata lalu banyak aktivis mahasiwa angkatan 1966 memilih masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Beberapa di antaranya bahkan menjadi anggota legislatif dan menteri, menikmati berbagai fasilitas mewah. Dalam pandangannya, mahasiswa seperti ini telah menerima, bahkan – dalam banyak kasus – telah meminta, balas jasa. Menurut ia pula, dengan demikian, mahasiswa bukan lagi gerakan moral, tetapi menjadi gerakan kepentingan (interest group) sebagaimana para politisi di partai politik.
Tapi, ujar Arief Budiman (dalam Arbi Sanit. 1999: xvi), persoalannya adalah, bagaimana kalau pendobrakan sukses dilakukan, lalu tak ada kekuatan-kekuatan politik yang bisa meneruskan estafet gerakan perbaikan yang sudah dimulai oleh mahasiswa ini? Apakah mahasiswa, atas dasar konsep “gerakan moral,” tetap meninggalkan lapangan?
Mengenal Mahasiswa
Kalau melihat umurnya, mahasiswa bisa dikategorikan remaja atau pemuda. Dalam kontur umur inilah, tak jarang, perasaan gagah dan berani – sering nekad – mendekam dalam dadanya. Di sisi lain, kebanyakan mahasiswa belum menemukan garis mapan kehidupan, baik menurut parameter ekonomi maupun sosial. Namun intelektualitas yang dikonsumsinya, baik di bangku perkuliahan maupun pergaulan, menggiring cara berpikir mereka untuk membedakan sekaligus menghubungkan yang mana idealita dan mana yang nyata, juga menggerakkannya untuk meraih cita-cita ideal, baik untuk dirinya maupun bagi kehidupan kolektif.
Di samping itu, mitos mahasiswa sebagai aktor perubahan sosial politik acap dimunculkan oleh banyak pihak, juga diwariskan dari satu generasi mahasiswa ke generasi mahasiswa selanjutnya. Ibarat bahan makanan yang dimasukkan ke dalam blender jiwa, akhirnya individu dan kelas sosial mahasiswa di negeri ini, kerap merasa terikat dengan persoalan dan tantangan zamannya (melampaui massa rakyat yang bersikap nrimo), terutama dalam hal bersifat makro, sehingga membuat mereka merasa perlu untuk menciptakan, entah menggonggong, mengawal, maupun mengarahkan realita menjadi ideal menurut versinya.
Mahasiswa menjadi kelas sosial yang spesial, lantaran di satu sisi, ia dipercaya kelak, sebagai kelas pengganti bagi kelompok elite sosial politik yang kini manggung. Pada sisi yang lain, mitos modern telah mengelompokkannya sebagai kelompok elit dalam hal intelektualitas dan moralitas di tengah-tengah laju kehidupan masyarakat dan bangsanya. Itu sebabnya, narasi besar perubahan sosial politik di negara berkembang, seperti Indonesia, yang mengadaptasi model pendidikan modern (Barat), selalu memandang dan menampilkan kelas sosial mahasiswa sebagai salah satu aktor pelaku yang menentukan dalam narasi perubahan sosial politik.
Terkadang narasi yang memunculkan kelas sosial mahasiswa dalam narasi perubahan itu memang menemukan realitanya. Akan tetapi sayangnya, tidak jarang narasi ini dibumbui dongeng fantasi heroisme, seakan-akan mahasiswa merupakan aktor tersakti. Pengamat perubahan yang membuat narasi acapkali khilaf, bahwa senyatanya kekuasaan bersifat tersebar, karena itu sulit untuk memungkiri kenyataan bahwa di alam kehidupan yang multi kompleks ini, niscaya banyak aktor pelaku, selain mahasiswa, yang kadar pengaruhnya terhadap perubahan, boleh jadi masuk kategori lebih rendah, bahkan lebih tinggi ketimbang mahasiswa.
Akibat kesalahan menciduk kenyataan di sekitar fenomena perubahan sosial dan pelaku inilah, hampir dapat dipastikan kita selalu mengalami persoalan yang nyaris serupa, bahkan keliru menyuguhkan solusi. Jadilah ketimbang memperbaiki sajatining kehidupan individual dan kolektif kebangsaan, tema perubahan sosial malah lebih banyak terlampau mengapung tinggi ke atas langit kehidupan sebagai narasi yang menyelimuti namun tak melingkupi.
Tabiat kita memang tak bisa menerima kenyataan, begitu saja. Kita selalu merasa perlu untuk mendisain kenyataan menjadi narasi yang bersesuaian dengan parameter nilai-nilai normatif dan imajinasi yang kita pegang. Satu sisi, dengan cara ini pula kehidupan ini maju beberapa derajat, betapapun parsialnya, dibanding masa lampau. Namun sayangnya, kerap dengan cara ini pula, kehidupan ini mengarah ke situasi keterpurukan kembali, nyaris sama bahkan jauh lebih terpuruk ketimbang masa silam.
Demikianlah senarai pendahuluan untuk memahami identitas, relevansi, dan wujud terdalam dari kelas sosial mahasiswa, gerakan mahasiswa vis a vis perubahan sosial. Sampai di sini, uraian memadai untuk menjawab pertanyaan: bagaimanakah strategi terbaik bagi gerakan mahasiswa, belum juga muncul.
Gerakan Mahasiswa: Quo Vadis?
Setidak-tidaknya ada empat hal yang membuat gerakan mahasiswa terlihat sakti dan memiliki imej relatif luar biasa di negeri ini. Pertama, gerakan mahasiswa hampir selalu terlibat sebagai kekuatan pendobrak dalam arena perubahan sosial politik yang menentukan di negeri ini. Kedua, gerakan mahasiswa muncul ketika proses-proses politik mengalami kemacetan karena kekuatan-kekuatan politik yang mapan di negeri ini mandul. Ibarat kata, gerakan mahasiswa telah memberi kesan mendalam di benak masyarakat karena mereka muncul pada momentum dan tempat yang tepat. Ketiga, imej kadar kepentingan gerakan mahasiswa nyaris selalu diartikan untuk kepentingan kolektif ketimbang kepentingan kelompok, apalagi kepentingan individual mahasiswa. Keempat, mahasiswa masih dipercaya sebagai kelompok terpelajar yang memiliki tingkat intelektualitas dan moralitas tinggi.
Kalau saja salah satu atau keempat hal itu raib dari gerakan mahasiswa, maka sudah bisa dipastikan, akan hilanglah kesaktian dan imej baik (good image) gerakan mahasiswa. Dalam kondisi seperti ini, beruntung jika masyarakat masih memberi kepercayaan, betapa pun dalam kadarnya yang terendah. Lebih sial lagi dan sangat merugikan manakala gerakan mahasiswa sudah dibenamkan dalam imej buruk (bad image) sebagai kelompok yang tidak lebih baik dari para politisi busuk.
Dengan berpegang pada empat kesaktian yang membuat imej baik melekat pada gerakan mahasiswa, maka dengan mudah dapat kita katakan bahwa mahasiswa harus menjaga kualitas dan imej itu. Sebab kalau tidak, bukan saja akan merugikan kelas sosial mahasiswa, tapi juga akan merugikan kolektifitas kehidupan sosial. Mitos gerakan kaum terpelajar akan raib dari negeri ini, dan masyarakat negeri ini lalu harus bersusah-payah mencari alternatif lain untuk mengisi mitos kelompok penyelamat bangsa.
Akhirnya, mana yang lebih tepat: gerakan mahasiswa memerankan gerakan moral atau gerakan politik? Selama gerakan mahasiswa mampu menawarkan konsepsi perbaikan kehidupan bangsanya, sekaligus mengaplikannya di tataran praktik kenegaraan dan kebangsaan, tentu yang terbaik, memilih gerakan mahasiswa menjadi gerakan politik. Namun jika sulit mengeliminir kenyataan bahwa tidak sedikit oknum-oknum mahasiswa yang menyalip rekannya dengan meraih keuntungan untuk dirinya dari gerakan kolektif, terlebih bila merugikan efektifitas dan imej gerakan mahasiswa, maka sebaiknya mahasiswa bergerak dalam koridor gerakan moral saja.
Bukankah lebih baik mempertahankan kebaikan, betapa pun dalam sisi yang lain masih ada lemahnya, ketimbang mengejar bidikan lain yang lebih tinggi dan lebih luas yang malah akan menghancurkan semuanya? Dalam arti, tentu masih lebih baik menjaga efektifitas dan imej gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral, ketimbang mengubahnya menjadi gerakan politik yang gagal, dan malah meluluhlantakkan efektifitas dan imej gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral.
Arief Budiman tidak menceritakan bagaimana kehidupan kota kecil itu selanjutnya, setelah Shane pergi. Apakah situasi kota menjadi lebih baik, atau ada bandit lain yang menguasai kota itu, atau berlangsung konflik horizontal sesama warganya akibat berebut kepemimpinan di kota. Kita tidak tahu dan sebenarnya, tidak terlalu penting untuk tahu, memang. Yang lebih penting bagi kita dan mahasiswa ketahui dan jawab secara memadai adalah: apakah pasca mahasiswa back to campus, seluruh lini kehidupan bangsa (atau setidaknya lini kehidupan yang paling dibutuhkan masyarakat) menjadi lebih baik atau lebih buruk? Jika lebih baik, sebaiknya mahasiswa sungguh-sungguh back to campus untuk belajar. Tapi jika masih, atau malah lebih buruk, sebaiknya para mahasiswa kembali ke arena perjuangan, ketimbang berlindung di tumpukan buku atau menutup telinga dan terlalu asyik dalam pergaulan hedonis.
Hidup mahasiswa!
Hidup rakyat Indonesia!
Mi’raj D. Kurniawan
Termasuk sebagai mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung tahun 1999 lalu sukses menyabet Sarjana Pendidikan sebagai jebolan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tahun 2006. Semasa mahasiswa pernah mengikuti Masa Ta’aruf Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Pernah juga menjadi pimpinan di lingkungan organisasi intra kampus. Menjelang akhir masa perkuliahannya, penulis juga sempat menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandung. Berbagai artikel dan opininya tersebar di surat kabar Republika, Media Indonesia, Isola Pos, Majalah Bulanan Bhineka Karya Winaya, website Agupena Jawa Tengah dan ISPI Banyumas, serta di lembar stensilan pada acara seminar dan training keilmuan serta kepemimpinan.




0 komentar terhadap “Si Koboi Shane dan Gerakan Mahasiswa”
Komentar Anda?