Tuesday, 17 November 2009 (17:21) | 114 views | 1 komentar
Oleh Wardjito Soeharso
Korupsi itu bau kentut.
Ibaratnya, di suatu ruangan berkumpul para petinggi negeri,
tercium bau kentut busuk.
Mereka tahu, ruangan bau kentut,
tapi karena mereka juga tahu,
yang kentut adalah mereka sendiri,
ya apa boleh buat,
bau kentut itu mereka nikmati saja.
Begitulah,
karena lebih banyak yang kentut,
ruangan itu menjadi ruangan yang selalu berbau kentut.
Bau kentut sudah menempel di seluruh bagian ruangan.
Dinding, lantai, atap, pintu, jendela, meja, kursi,
bahkan tubuh mereka pun sudah meruapkan bau kentut,
karena bau kentut itu sudah menyatu dengan keringat di tubuh mereka.
Dan karena semua sudah bau kentut,
hidung mereka menjadi tidak sensitif alias kebal terhadap bau kentut.
Bau kentut sudah bukan bau di dalam hidung mereka.
Bagi mereka,
kentut bukan lagi aib.
Toh, tiap hari mereka kentut bersama,
dan bersama pula menikmati baunya.
Memang ada satu-dua yang tidak ikut-ikutan kentut,
tapi karena ruangan sudah begitu bau,
walau pun bau itu belum sampai menyatu dengan keringat di tubuhnya,
bau itu ikut menempel di baju mereka.
Alhasil, ke mana pun mereka pergi,
selama masih memakai baju itu,
bau kentut itu masih tercium juga,
dan tetap saja mereka dicurigai petinggi yang suka kentut.
Sementara itu,
rakyat yang berada di luar ruangan,
tahu belaka kalau ruangan para petinggi negeri itu
menyebarkan bau kentut busuk.
Ketika para petinggi negeri itu keluar ruangan
dan berkumpul dengan rakyat,
bau kentut dengan jelas tercium oleh hidung rakyat.
Cuma, rakyat tidak punya bukti untuk menuding
petinggi negeri mana yang sudah kentut.
Bagaimana rakyat bisa menuding
kalau ketika kentut pantat mereka tidak berbunyi?
Itulah masalahnya!
Mereka selalu kentut dengan diam-diam.
Jadi, di antara mereka sudah ada semacam kesepakatan
: boleh kentut kapan saja,
tetapi kentut itu tidak boleh berbunyi.
Kalau yang mendengar bunyi kentut itu kawan-kawan sendiri
sesama petinggi negeri, mereka bisa saling memaklumi.
Lha, kalau yang mendengar bunyi kentut itu rakyat?
Bisa runyam akhirnya.
Rakyat jadi punya bukti otentik dan obyektif,
siapa yang benar-benar sudah kentut,
dan yang ketahuan bunyi kentutnya akan dituding beramai-ramai.
Dihujat, dimaki, bahkan diadili hingga masuk bui.
Begitulah yang terjadi.
Para petinggi tidak takut kentut selama pantatnya tidak berbunyi.
Rakyat boleh tahu mereka kentut,
tapi tidak boleh tahu siapa yang benar-benar kentut.
Bunyi kentut sangat dihindari karena bisa menjadi bukti.
***
Hari-hari ini,
bau kentut itu menyengat sekali.
Rakyat sudah merasa muak dengan bau kentut busuk.
Rakyat marah melihat para petinggi negeri
yang masih saja tidak mengakui
bau kentutnya sudah mencemari udara seluruh negeri.
Ketika rakyat menuding,
mereka malah ganti saling tuding-tudingan di antara mereka sendiri.
Saya tidak kentut,
dia, dia, dia, dan dia, yang kentut,
sambil tangannya tuding kanan, kiri, depan, dan belakang.
Jadilah mereka sekarang tuding-tudingan,
saling tuduh sebagai biang kentut.
Mereka tidak sadar,
ketika bicara pun,
mulut mereka ternyata juga sudah meruapkan bau kentut,
tidak kalah busuknya dengan bau yang keluar dari pantat mereka.
Kalau sudah seperti itu,
apa lagi bedanya lubang mulut dengan lubang pantat?
Dan rakyat dibuat lebih tergagap-gagap,
ketika ada pedagang telor yang terus terang mengaku
sudah sejak lama mensuplai telor kepada para petinggi negeri.
Pedagang ini dengan lantang bilang,
bahwa dia sudah memberi mereka telor berkeranjang-keranjang.
Dia beralasan, telor-telor itu sebagai upeti
agar dia, saudara, dan teman-temannya,
bisa berdagang dengan aman.
Bahkan, bila memungkinkan,
dia dan kelompoknya mendapatkan kesempatan
menggelar dagangan persis di depan pintu ruangan.
Pedagang adalah pedagang.
Dia selalu saja mencari untung,
tidak peduli orang lain buntung.
Dia juga tidak peduli,
bila telor yang dikirimkan kepada petinggi negeri adalah telor basi.
Hebat bukan?
Fantastis!
Bombastis!
Sekarang rakyat baru tahu,
mengapa dan dari mana asalnya bau kentut petinggi negeri.
Ternyata memang ada kolusi
antara pedagang telor dan petinggi negeri.
Sudah sekian lama pedagang telor
mencekoki petinggi negeri dengan telor basi.
Pantas saja,
bau kentut mereka menjadi sangat khas,
bau kentut telor busuk!
***
Maka, ketika rakyat menggugat
agar mereka membersihkan diri,
mereka bingung sendiri.
Walau badan bau kentut,
mulut bau kentut,
baju bau kentut,
rumah bau kentut,
mereka tidak mau dibilang bau kentut.
Bau kentut sudah menjadi bagian dari diri mereka,
bagian dari hidup mereka.
Walau rakyat teriak mereka bau kentut,
mereka tidak peduli.
Di hidung mereka,
bau kentut sudah berubah menjadi parfum wangi.
Kalau sudah begini, masihkah ada solusi?
Ada! Rakyat harus berani.
Berani bersikap dan bilang,
tidak ingin lagi bau kentut mencemari negeri ini.
Rakyat harus berani.
Petinggi negeri yang sudah ketahuan pantatnya berbunyi,
harus diganti.
Petinggi negeri yang mulutnya juga bau kentut,
harus dicabut.
Rakyat harus berani.
Pedagang telor yang suka memberi upeti,
harus ditangkap, diadili, dan dijebloskan ke bui.
Sekarang tinggal menunggu rakyat menjadi berani.
Wardjito Soeharso
Pegiat Komunitas Penulis Muda (http://www.penulismuda.com), Pembina Agupena Jawa Tengah
Tulisan lain yang berkaitan:



Begitu keluar pejabat yang bau kentut, tangkap, adili dan gantung oleh rakyat.
Reply