Presiden Pemuda: Dagelan, Pemecah Gerakan, atau Solusi Masa Depan *

Saturday, 26 September 2009 (04:19) | 572 views | 2 komentar

Oleh Mi’raj Dodi Kurniawan
mirajTampilnya figur Ahmadinejad sebagai Presiden Republik Islam Iran dan Barack Husen Obama di tampuk Presiden Amerika Serikat kerap dipotret sebagai contoh fenomenal kepemimpinan pemuda dalam jagat perpolitikan kontemporer. Opini ini tidaklah salah, bahkan wajar belaka jika dilihat dari jiwa zaman (zeitgeist) yang mendambakan perubahan. Setidaknya itulah harapan yang mengemuka dengan tampilnya kedua sosok itu; Ahmadinejad dijadikan simbol perlawanan bangsa-bangsa di kawasan Timur – terutama Islam – terhadap praktik hegemoni Amerika Serikat. Obama diharapkan mampu mengubah peta kebijakan diskriminatif Amerika Serikat.

Demam perubahan juga melanda masyarakat di tanah air. Paling tidak hal itu tergambar dengan munculnya simpati warga bangsa terhadap kedua tokoh tadi (baca: Presiden Ahmadinejad dan Presiden Barack Obama). Bagaimana opini masyarakat terhadap kondisi politik Indonesia? Paralel dengan pandangan mereka terhadap kemunculan kedua tokoh dari luar negeri tadi, kadar opini perubahan di tengah-tengah masyarakat di akar rumput (grassroot) negeri ini kian menanjak dengan tensi yang samakin menguat.

Perkembangan opini perubahan jauh-jauh hari menjadi penumpang setia arus Reformasi sejak tahun 1998.. Dukungan luas terhadap pasangan Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga seiring sejalan dengan mencuatnya harapan masyarakat akan terjadinya perubahan. Tidak saja dalam pemilihan anggota legislatif di berbagai tingkatan, semangat dan harapan perubahan juga menjamur dalam setiap ajang pemilihan kepala daerah tingkat I dan II. Perubahan merupakan kata sakti dalam peta perpolitikan. Terlebih dalam kondisi masyarakat yang diliputi kondisi diskriminatif dan situasi sulit secara ekonomi.

Banyak hal dianggap sebagai manifestasi semangat dan harapan terhadap perubahan. Ahmadinejad dan Obama diyakini dapat membawa angin perubahan lantaran usia keduanya relatif masih muda. Khusus untuk Obama, perubahan sangat melekat dalam kemunculannya karena selain terlihat lebih simpatik, ia juga berasal dari keturunan kulit hitam, sebuah ras yang pernah diperlakukan sangat diskriminatif dalam sejarah negeri yang kini dipimpinnya.

Kepemimpinan perempuan juga, dalam kadar tertentu, acapkali dianggap sebagai manifestasi perubahan. Namun yang rasional dan lebih kentara opininya adalah kepemimpinan pemuda. Isu pemimpin pemuda dalam kancah perpolitikan tanah air, wabilkhusus sebagai Presiden RI menggelinding, setelah sebelumnya terbukti mencuat, dan dalam beberapa kasus di wilayah pemilihan, sering menjadi pilihan masyarakat untuk menduduki kepada daerah tingkat I dan II. Selain lebih segar, pemuda dipercaya memiliki trah semangat perubahan yang kental..

Dari pembacaan terhadap fenomena dan melihat betapa pentingnya pemuda dalam hiruk-pikuk kehidupan berbangsa dan bernegara, maka munculnya gagasan untuk mengusung pemuda – berdasarkan parameter usia dan semangat – sebagai Presiden RI tidak saja perlu, melainkan sudah semestinya diapresiasi dengan pemikiran yang terbuka dan analisa memadai. Pertanyaan pentingnya ialah mungkinkah menghadirkan pemuda di tampuk Presiden RI ? Yang lebih penting lagi, dapatkah kehadirannya membawa komunitas bangsa Indonesia ini ke lajur situasi yang lebih baik?


Rentang Usia, Semangat dan Karakter Pemuda

Umur dan watak atau semangat adalah dua unsur penting yang melekat dalam identitas pemuda, sekaligus pembeda dengan golongan-golongan lainnya: balita, anak-anak, remaja, dan orang tua. Identitas dan pembeda tersebut memiliki tendensi nilai baik dan kurang baik sekaligus, bagai dua mata uang pada koin yang sama. Perbedaan muda dan tua juga acap dipandang dalam hubungan saling bertentangan (binary opposition), meski tidak jarang keliru.

Sejumlah studi ilmiah menunjukkan parameter batasan umur mana yang termasuk kelompok pemuda dan kelompok umur mana yang tidak tergolong pemuda tidaklah seragam. Sekelompok pihak mengelompokkan antara 25 dan 35 tahun sebagai pemuda. Pihak berikutnya mengkategorikan pemuda berumur 20 sampai 40 tahun. Sebagian lainnya bahkan mengelompokkan umur 50 tahun sebagai batas akhir pemuda.

Ketimbang berpolemik dalam definisi yang bersifat relatif lantaran titik tekan pada parameter yang berbeda, ada baiknya menghimpun semua temuan tadi sebagai batasan umur pemuda. Tidak ada salahnya kita anggap saja rentang usia antara 20 tahun sampai 50 tahun sebagai pemuda.

Dari batasan umur itu, maka pemuda kerap dikesankan memiliki kondisi fisik prima dan bertenaga, sedangkan tua berarti renta dan lemah tenaga. Pemuda bergairah, sedangkan orang tua dilihat kurang gairah. Pemuda masih memiliki harapan panjang di masa depan lantaran dianggap masih jauh dari kematian, sementara orang tua acap dimaknai dekat pada fenomena tutup usia. Rasulullah Muhammad SAW yang meninggal pada usia 63 tahun kerap dilihat sebagai batas umur terakhir manusia rata-rata.

Unsur lain yang melekat dalam identitas pemuda adalah semangat dan karakteristiknya. Kendati tidak sepenuhnya benar, upaya memahami unsur ini kerap disandingkan dengan merelasikan secara bertentangan (binary opposition) dengan golongan tua. Pemuda dipahami sebagai kelompok pendukung perubahan dan berani mengobrak-abrik tatanan, sedangkan golongan tua disebut-sebut sebagai manifestasi kelompok manusia mapan yang anti perubahan alias pendukung status quo.

Pemuda lebih produktif dibanding golongan tua. Pengkategorian seperti ini lumrah dalam dunia usaha atau ketenagakerjaan. Pemuda dipercaya memiliki beban sejarah yang relatif kecil – bahkan dalam konteks tertentu dipandang tidak memiliki beban sejarah sama sekali – sehingga kelompok ini relatif tidak punya dosa sejarah yang teramat menumpuk, dibanding golongan tua. Hal ini terkait erat dengan inisiasi perubahan yang kerap digelorakan. Dibanding golongan tua, kaum muda relatif tidak membawa beban sejarah, karena itu sering lebih artikulatif dan bebas dalam merealisasikan suara hatinya.

Namun pada sisi yang lain, pemuda juga acapkali dipandang memiliki sejumlah kualitas kepribadian yang lemah. Kerap bergerak grasak-grusuk hanya mengikuti suara hati merupakan salah satu contohnya. Perbuatan ini biasanya lahir dari sikap nekad, yang dalam batasan tertentu absen nalar, cenderung berbahaya bagi diri dan lingkungan karena menunjukkan minimnya persiapan. Padahal sikap yang terbaik adalah menjadi pemberani, sebagai jalan tengah antara penakut dan nekad.

Kurang pengalaman juga merupakan sisi lemah lainnya yang kerap ditembakkan terhadap pemuda. Biasanya peluru ini muncul dari senjata golongan tua, untuk menunjukkan dan memupus harapan tampilnya kaum muda. Golongan tua mengemukakan betapa golongannya relatif mempunyai segudang pengalaman alias lebih berkualitas ketimbang pemuda. Jika arah perubahan dianggap tidak jelas, tak jarang klaim pengalaman ini disuarakan golongan tua, lantas menjadi pilihan khalayak karena dinilai lebih aman dalam menyongsong masa depan..

Terlepas dari debat dan klaim pemuda via a vis golongan tua, satu hal perlu dimunculkan untuk menetralisir polemik. Rosalyn S. Yallow pernah berujar, “Kesenangan belajar memisahkan kaum muda dengan kaum tua. Sepanjang Anda bersedia belajar, Anda tidak pernah menjadi tua”. Jadi poin penting identitas dan pembeda kaum muda dengan selainnya adalah kesediaannya menjadi pembelajar. Kesiapan mempelajari apa pun merupakan sentral tipologi pemuda. Ini melampaui batasan umur sama sekali.


Akar Sejarah Kepemimpinan Pemuda

Munculnya pemuda dalam pentas kepemimpinan lokal, nasional maupun global bukan fenomena terbaru dalam sejarah. Jauh-jauh hari Nabi Muhammad bin Abdullah telah menunjukkan talenta kepemimpinan sejak muda, bahkan tanda-tandanya telah manifes sejak belia. Beliau menikah dalam usia 25 tahun lalu diangkat sebagai Rasulullah dalam usia 40 tahun. Nyaris serupa dalam watak kepemimpinan yang mencuat dalam diri Sayidina Ali r.a.

Jejak sejarah negeri ini juga telah mencatat dengan tinta emas mengenai ketokohan dan sepak terjang kepemimpinan pemuda tidak saja dalam zaman perjuangan merebut kemerdekaan, namun juga pada zaman Orde Lama, Orde Baru, dan pada masa Reformasi. Ambil contoh, misalnya, mendiang Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Mohammad Natsir, serta figur pemuda lainnya yang berjuang dalam kisaran sejarah tanah air, sejak umur mereka yang relatif masih muda.

Apa yang mencuat dalam sejarah pergerakan merebut kemerdekaan adalah akselerasi perjuangan para pemuda bernama Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, serta kaum muda pejuang lainnya. Sepak terjang politisi Mohammad Natsir kemudian memukau di zaman Indonesia merdeka. Jika kita sepakat rentang maksimal umur pemuda adalah 50 tahun, maka mendiang Soekarno menapaki kursi Presiden RI sejak usia 44 tahun dan Hatta menjabat Wakil Presiden RI sejak umur 43 tahun. Jadi proklamator RI, juga pemegang kursi RI 1 dan RI 2 pertama negeri ini adalah pemuda.

Sejarah negeri ini terbilang kaya dengan khazanah kepemimpinan dan inisiasi pemuda. Sumpah Pemuda tahun 1928 merupakan salah satu contohnya. Fenomena ini kerap dimunculkan sebagai simbol persatuan komunitas yang belakangan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia . Selain itu peristiwa penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok oleh sekelompok pemuda yang menuntut proklamasi kemerdekaan RI segera dilaksanakan adalah contoh menonjol lainnya yang tercatat dalam sejarah Indonesia modern.

Inisiasi, kepeloporan dan kepemimpinan pemuda juga tercermin dalam gerakan massa (people power) melengserkan rezim Orde Lama dan Orde Baru. Bahkan dalam kadar tertentu, tidak sedikit sosok pemimpin pemuda dalam konteks Indonesia kontemporer beraktualisasi di berbagai lini kehidupan. Di antaranya tak sedikit yang terjun di dunia usaha, birokrasi, militer, dan juga dalam aktivitas-aktivitas organisasi kemasyarakatan, keagamaan, dan partai politik.


Menimbang Pemuda di Kursi Presiden RI

Alih-alih aspirasi mengusung sosok pemuda ke kursi Presiden RI dilihat sebagai sesuatu yang aneh, apalagi menyalahi hukum sejarah, malahan hal ini wajar belaka. Terminologi dan cermin sejarah telah menunjukkan kasat mata betapa mungkinnya mengusung sosok pemuda sebagai Presiden RI . Bahkan boleh dibilang jika pemuda tampil sebagai RI 1, hal ini akan memiliki prospek yang baik bagi bangsa ini. Asalkan sosok yang diusung merupakan pemuda yang tepat.

Jika gagasan ini dilembagakan secara mendasar dalam konstitusi dan niat masyarakat untuk memproyeksiakn pola dan suksesi kepemimpinan masa depan negeri kita, maka ini sungguh patut dipertimbangkan – untuk mengatakan betapa prospektifnya gagasan ini. Melembagakan dalam konstitusi dan semangat zaman tidak saja akan meneguhkan aspirasi pemimpin pemuda, melainkan juga akan semakin mengokohkan sistem kepemimpinan yang dijalankan.

Kendati bukan kesimpulan ilmiah yang bersifat absolut, namun apabila menganalisa tipikal kepemimpinan mendiang Soekarno dan Soeharto menjelang masa-masa akhir runtuhnya rezim yang dipimpinnya, terlihat aura kepemimpinan kedua tokoh itu mulai meredup. Bertepatan dengan itu, usia mereka mulai menua. Faktor umur tua dalam diri keduanya kemungkinan besar merupakan penyumbang saham terbesar terhadap melorotnya akselerasi kepemimpinan penguasa Orde Lama dan Orde Baru itu.

Setelah konstitusi negeri ini berhasil menetapkan batasan masa jabatan presiden hanya dalam dua periode saja, maka menggagas Presiden RI dari kaum muda tidak kalah pentingnya. Walhasil tiap kekuatan politik dituntut melakukan perkaderan sejak masih belia. Setali tiga uang dengan itu, masyarakat di akar rumput (grassroot) juga didorong untuk memberi kesempatan memadai terhadap kepemimpinan pemuda.

Tetapi pada sisi yang lain gerakan ini akan menghadapi resistensi dari golongan tua. Bahkan disinyalir penentangan tidak saja akan dilakukan golongan tua, melainkan juga dari oknum kaum muda. Gagasan kepemimpinan pemuda tidak sempurna total untuk menjawab persoalan kepemimpinan, terlebih bila melihat persoalan sesungguhnya adalah kualifikasi pemimpin itu sendiri, terlepas pemuda atau bukan. Apabila pemuda ditampilkan di kursi kepresidenan, maka dialektika dalam medan politik tanah air tidak dapat dielakkan. Jalan tengah untuk melerai polemik sehingga tak lahir resistensi yang berlebihan adalah rasionalisasi dan pembuktian realistik di lapangan.

Belakangan ini aktualisasi kepemimpinan pemuda ditampilkan oleh banyak wajah. Untuk menyebutkan beberapa nama di antaranya, dapat kita ambil contoh misalnya kepemimpinan yang diaktualisasikan Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Adhyaksa Dault. Sosok ini bukanlah orang baru dalam pentas nasional. Sebelumnya Menpora yang satu ini memangku jabatan sebagai Ketua KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia ).

Selain sosok tersebut, dapat juga disebutkan sejumlah figur lainnya seperti Anas Urbaningrum, Tifatul Sembiring, Andi Mallarangeng, Yuddy Chrisnandi, Muhaemin Iskandar, Fahri Hamzah, Budiman Sujatmiko, Fadjroel Rahman, dan sebagainya. Di dunia kampus juga kita temukan sosok pemimpin muda dalam diri Anies Baswedan sebagai Rektor Universitas Paramadina. Dalam kadar tertentu, Rektor Universitas Indonesia juga dapat dikategorikan ke dalam sosok pemimpin muda. Satu gambar menarik lainnya dari sepak terjang kepemimpinan pemuda ditonjolkan dalam tubuh Partai Keadilan Sejahtera.

Adalah langkah terobosan baru (new breakthrough) ketika melontarkan gagasan agar pemuda tampil di tampuk kepresidenan. Di zaman Orde Lama dan Orde Baru, sirkulasi kepemimpinan ke jenjang RI 1 pernah macet total. Bahkan berdasarkan ukuran umur, hingga saat ini pun belum ada lagi pemuda yang menyeruak ke permukaan menahkodari republik ini di kursi kepresidenan. Kaum muda masih sebatas menjadi penumpang gerbong, dan belum cukup artikulatif berperan sebagai lokomotif di tampuk kepresidenan.


Presiden Pemuda: Dagelan, Pemecah Gerakan, atau Solusi Masa Depan

Wacana apapun mengenai tema-tema kekuasaan selalu bersifat subversif. Apa yang mengemuka dalam tema-tema ini menuntut analisa luas dan mendalam, sembari mengikutsertakan rasa curiga – lebih tepatnya kewaspadaan. Sebab tidak menutup kemungkinan wacana dan isu yang ditonjolkan malah menjadi modus untuk memupus gerakan perubahan universal yang reformatif maupun revolutif.

Apa yang terpenting dalam gerakan perubahan adalah membumikan nilai-nilai universal. Namun kenyataan sejarah menunjukkan tidak jarang segelintir hal remeh ditonjolkan ke permukaan, bahkan acapkali mengalahkan tema-tema yang lebih perlu. Adakalanya wacana kebijakan yang berpijak pada nilai-nilai ilahiyah dan manusiawi lantas berada di tumpukan perhatian terbawah karena terkalahkan oleh penonjolan opini remeh yang sebenarnya kurang signifikan, namun menjadi terlihat seolah-olah signifikan karena propaganda besar-besaran.

Bukan fenomena baru jika munculnya individu Obama dan Ahmadinejad bisa mengeliminir isu-isu atau misi-misi universal. Opini yang diedarkan tidak jarang berputar-putar dalam kisaran terpilihnya Obama sebagai fenomena luar biasa dalam sejarah karena ia seorang pemuda kulit hitam pertama yang menjabat Presiden Amerika Serikat. Isu usia dan ras lantas lebih menonjol ketimbang kebijakannya, yang boleh jadi malah tidak jauh berbeda dengan kebijakan diskriminatif Amerika Serikat sebelumnya. Satu fenomena serupa bisa terjadi dalam ketokohan Ahmadinejad.

Gerakan melawan korupsi, peningkatan dan pemerataan pembangunan, merealisasikan nilai-nilai keadilan, perlakuan adil di muka hukum, menyelesaikan masalah kemiskinan, menindak praktik-praktik pelanggaran Hak Asasi Manusia, dan merealisasikan ketentraman dan keamanan dalam kehidupan, serta sejumlah misi universal lainnya, jauh lebih penting dari isu-isu sampingan seperti isu presiden wanita atau lelaki, bahkan isu presiden pemuda atau dari golongan tua.

Persoalan kebangsaan kita menuntut gerakan ideologi universal sekaligus praktis operasional perlawanan terhadap hegemoni sosial yang anti nilai-nilai ilahiyah dan manusiawi. Musuh sejati bangsa Indonesia adalah praktik-praktik hegemoni anti nilai-nilai ilahiyah dan manusiawi dalam konteks internal dan eksternal bangsa. Persoalan ini patut ditonjolkan melebihi wacana dan isu apapun yang beredar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Wacana pemuda di kursi kepresidenan boleh jadi alternatif solusi bagi permasalahan bangsa dan negara. Namun satu hal penting dicatat bahwa gerakan perlawanan terhadap hegemoni sosial anti nilai-nilai ilahiyah dan kemanusiaan tidak jarang menjadi prematur dan layu sebelum berkembang karena format gerakannya dikerdilkan oleh isu dan wacana parsial dan remeh. Sejauh ini masih harus diuji apakah gagasan Presiden RI dari pemuda adalah solusi dari masalah kepemimpinan negara atau bukan, atau malah pengerdilan gerakan itu sendiri.

Sistem sosial bangsa ini telah terfragmentasikan dalam kelas-kelas, status, kelompok kepentingan, dan lembaga-lembaga parsial. Dalam tema kekuasaan, fragmentasi yang berlangsung itu tak jarang dicurigai sebagai penyumbang saham terbesar mengapa gerakan perubahan universal belum terealisir secara signifikan. Alih-alih mengefektifkan gerakan perubahan, terjadinya fragmentasi sosial malah sering mengecilkan format aktivitas dan wilayah gerakan.

Disadari atau tidak, bentuk-bentuk pengecilan format tersebut dengan sendirinya mengecilkan aktivitas dan wilayah perlawanan. Lebih jauh, kelompok-kelompok gerakan perubahan hanya dijalankan dengan pandangan sentimentil kesukuan, keprofesian, kepartaian, keagamaan, keilmuan, dan sebagainya, dan bukan lagi sebuah gerakan ideologis yang universal maupun praktis operasional perlawanan terhadap hegemoni sosial. Apakah gagasan Presiden RI dari pemuda merupakan pengecilan format gerakan atau bukan? Jawabannya masih harus diuji dalam tungku sejarah masa depan negeri ini.

Namun fakta telah banyaknya kaum muda menonjol kepemimpinannya dalam berbagai lini kehidupan bangsa sulit dielakkan. Pemuda bukan lagi dagelan dalam pentas politik tanah air. Apabila satu di antara pemuda terbaik itu muncul ke permukaan mencalonkan diri sebagai Presiden RI , diprediksikan akan meraup dukungan besar.. Hanya saja mesin dan dukungan politik ideologis disertai intelektualitas dan moralitas yang tinggi harus menyertai kiprahnya.

Jika tipikal pemuda serupa itu yang tampil di kursi kepresidenan, maka bangsa ini dapat berharap banyak kepemimpinannya kelak menunjukkan prestasi memukau dalam merealisasikan misi-misi universal di pentas tanah air. Kalau ini benar-benar terjadi, Presiden RI dari pemuda bukanlah dagelan politik atau pemecah gerakan perubahan universal, tetapi solusi bagi masa depan Indonesia .

Tulisan ini pernah dikirim pada gelanggang lomba menulis yang digelar Menegpora RI bekerja sama dengan FLP (Forum Lingkar Pena).

Mi’raj Dodi Kurniawan, S.Pd
Lulusan Universitas Pendidikan Indonesia dan Mantan Ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Bandung.

Tulisan lain yang berkaitan:

2 Responses to “Presiden Pemuda: Dagelan, Pemecah Gerakan, atau Solusi Masa Depan *”

  1. Nugroho on Wednesday, 15 December 2010 (pukul 3:18 am)

    Mas Dodi Betul, saya sependapat dengan beliau. Tinggal bagaimana calon pemimpin muda mau belajar dan bekerja keras membangun kapabilitas dan kredibilitasnya. Karena 2 hal ini penting menurut saya pribadi.

    Reply

  2. MI'RAJ DODI K. on Sunday, 2 January 2011 (pukul 9:02 pm)

    Setuju.

    Reply

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





«
»
IP