Membudayakan Menulis Bagi Guru, Keniscayaan atau Kemustahilan?
Wednesday, 16 September 2009 (04:26) | 272 views | 0 komentar
Oleh Estu Pitarto,S.Pd
Ada dua pertanyaan tentang membudayakan menulis bagi guru, sebuah keniscayaan atau kemustahilan? Sejak zaman perang Diponegoro hingga perang melawan virus flu babi, dengung membudayakan menulis bagi guru sering bergema di aula-aula pada seminar. Suara merdu pakar kepenulisan memberikan trik menulis dalam sebuah pelatihan menulis untuk guru sering dilontarkan. Faktanya banyak guru yang masih saja enggan menggerakan alat tulis atau memencet tombol keyboard komputernya untuk memproduksi sebuah karya tulis. Saya membaca sebuah tulisan Hernowo dalam facebook-nya, menyatakan bahwa Profesor Tata Suhery (Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya) mengemukakan salah satu persoalan serius yang melanda tenaga pendidik adalah minimnya menulis karya ilmiah. Hal ini tidak hanya merugikan guru dari sisi kemampuan berpikir dan menuangkan ide dalam bentuk tulisan, tetapi lebih jauh lagi bisa menghambat kariernya. Saya lantas teringat dengan sebuah diskusi ringan di ruang guru bersama seorang teman.
“Bagi seorang guru, apakah menulis itu sangat penting?”
“Penting sekali, Pak” Jawab Beliau.
“Penting bagaimana maksud Anda?”
“Penting untuk mentransfer ilmu kepada murid-muridnya”
“Anda seorang guru?”
“Ya,saya seorang guru dan saya bangga dengan profesi ini” Jawab Beliau bersemangat.
“Kalau begitu, Anda suka menulis,dong?”.
“Nulis? Ojo ngasi!” Jawab beliau dengan lugas dan tegas. Saya tertawa terbahak-bahak. Heran dan tak habis pikir dengan sikap beliau. Bagaimana tidak, sebagai seorang guru beliau sadar bahwa menulis penting bagi murid-muridnya namun ia tak mau menulis. Saya yakin setiap guru sadar dengan hal tersebut. Saya percaya setiap guru mengetahui bahwa menulis dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dinamis, kreatif dan kemampuan menganalisis. Saya jamin bahwa setiap guru percaya bahwa menulis dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Saya percaya bahwa setiap orang bisa menulis termasuk guru. Guru membuat soal untuk ujian muridnya maka ia harus menulis dan seorang guru tentu sepakat jika menulis merupakan bagian yang tak terpisah dalam dunia pendidikan. Namun sampai sejauh ini saya sering menemui guru enggan untuk menulis. Menulis bagi seorang guru ibarat mengajak pecandu untuk menanggalkan kebiasaan merokok. Persoalan menulis bagi guru seperti menguraikan benang kusut yang tak kunjung usai. Sebuah alasan klise yang saya dengar jika guru diajak untuk menulis, saya tak punya ide atau tak bisa menulis. Apakah persoalan mampetnya budaya menulis bagi guru hanya sekadar tak punya ide atau tak bisa menulis saja?
Saya akan menceritakan sebuah kisah. Kisah ini merupakan hasil diskusi saya dengan beberapa rekan guru yang enggan menulis dengan berbagai alasan yang mereka sampaikan. Pertanyaan saya sederhana, “Mengapa Anda enggan menulis?”
“Maaf, saya tak punya ide untuk bahan menulis”
“Tahukah Anda bahwa ide atau bahan menulis bagi guru terhampar sangat luas. J.K Rowling seorang penulis novel terkaya di dunia saat ini mengatakan bahwa menulislah dari hal-hal yang engkau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dari perasaan diri sendiri. Itulah yang telah saya lakukan. Stephen King seorang penulis novel legendaris dari Amerika juga mengemukakan hal yang serupa yakni menulislah apa yang engkau ketahui. Guru dapat menuliskan topik berkenaan dengan kehidupannya sebagai seorang guru yang bergelut di bidang pendidikan. Guru dapat mengangkat topik seperti perubahan kurikulum yang berlaku. Kurikulum merupakan jawaban atas tuntutan tren yang berlaku di masyarakat. Kehidupan masyarakat yang dinamis membuat kurikulum mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Konsep-konsep baru mengenai metode pembelajaran tumbuh bak cendawan pada musim hujan. Misalnya konsep Contextual Teaching Learning (CTL), Quantum Learning, Quantum Teaching, The Accelerated Learning, Student Active Learning hingga mind mapping-nya Tony Buzan. Baca konsep tersebut lalu terapkan di kelas. Catatlah pengalaman menggunakan metode tersebut. Gunakan sebagai bahan evaluasi pembelajaran kita di kelas. Selain konsep pembelajaran tersebut, ada pula yang masih bisa dikaji yakni siswa. Permasalahan siwa mulai dari hubungannya dengan guru serta lingkungan sekolah bagaikan api abadi Mrapen yang tak kunjung padam. Setiap tahun ritual penerimaan siswa baru dapat pula kita jadikan bahan tulisan. Mulai dari penerimaan sekolah R-SBI ( Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang dilakukan secara online maupun permasalahan sekolah-sekolah gratis di beberapa sekolah negeri non R-SBI atau SSN. Konsultasi orangtua menyikapi masalah perkembangan anaknya atau kebijakan sekolah pun bisa kita kumpulkan menjadi bahan tulisan. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi guru untuk memberikan pernyataan tidak dapat menulis karena tidak ada ide atau gagasan yang akan dibuat tulisan”.
“Baiklah, kini saya punya gambaran ide yang bisa saya buat menjadi tulisan tetapi saya tak bisa menuliskannya. Bagaimana saya akan memulainya?”
“Luaskan wawasan! Ubah cara pandang Anda terhadap gaya hidup seorang guru yang melulu terkungkung di kantor. Ide sudah ada tetapi tak bisa menuliskannya atau bingung bagaimana harus memulai. Banyak komunitas atau kelompok-kelompok menulis yang dapat Anda ikuti. Misalnya saja Agupena, Klub Guru Jateng, Komunitas Wedang Jae, Forum Lingkar Pena atau Anda bisa memulai membentuk kelompok sendiri dari kegiatan KKG (Kelompok Kerja Guru). Komunitas atau kelompok-kelompok tersebut akan menjadi perantara Anda mengembangkan kemampuan di bidang penulisan. Melalui komunitas tersebut Anda bisa saling bertukar pikiran dan saling berbagi dengan teman-teman di komunitas tersebut. Yakinlah mereka akan membantu kita menemukan dan mengembangkan kemampuan Anda dalam menulis. Tak perlu gengsi dikatakan pemula karena tak seorangpun ahli berangkat dari seorang pemula.
“Hah? Masak guru goblok?”
“Go Blog yang saya maksud adalah menjadikan blog sebagai media berlatih menulis bagi guru. Blog gratisan yang banyak beredar di internet seperti wordpress, blogspot, multiply, edublogs dapat kita manfaatkan untuk mengembangkan dan membudayakan kegiatan menulis Anda. Anda dapat menuliskan apa saja berkenaan dengan kehidupan Anda sebagai tenaga pendidik maupun pribadi. Tidak usah ragu-ragu dengan ejaan karena tak akan ada polisi EYD meniup peluit pelanggaran ejaan Anda. Lakukan blogwalking, artinya mengunjungi blog lain milik teman. Tinggalkan jejak tulisan atau komentar Anda di blog mereka. Suatu ketika mereka pun akan melirik blog Anda dan meninggalkan komentar mereka pada tulisan Anda. Komentar mereka inilah yang dapat menjadi bahan masukan pengembangan diri Anda. Tengok saja milik sawali.info, lorongedukasi.wordpress.com atau doniriadi.blogspot.com serta blog lainnya!”
“Tetapi saya tak punya waktu untuk menulis. Bayangkan saja, berapa banyak tugas sekolah yang harus saya selesaikan. Sampai di rumah saya harus mengurus keluarga dan lingkungan tempat tinggal” kata Sang oknum dengan alibinya yang ketiga.
“Saya mau tanya berapa jam Anda mengajar dalam satu minggu?”
“24 jam. Tiap 1 jam selama 35 menit”
“Tuhan memberikan kesempatan kepada manusia 24 jam satu hari. Tiap individu dengan individu lainnya berbeda dalam menyikapi waktu ini. Ada yang bisa melakukan 24 kegiatan dalam satu hari, ada 12, 6, 3, 1 bahkan ada yang tidak menghasilkan apapun dalam 24 jam. Guru pun memiliki hak yang sama dalam memanfaatkan waktu. Berdasarkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) guru memiliki beban kewajiban mengajar 24 jam dalam satu minggu dari total waktu 144 jam. Artinya, masih ada sisa waktu 120 jam per minggu. Waktu tersebut bisa Anda manfaatkan untuk menyusun silabus, membuat rancangan pembelajaran, menyusun evaluasi hingga koreksi hasil belajar siswa serta kegiatan lainnya”
“Lantas, apa yang Anda lakukan saat waktu luang Anda di sekolah?”
“Ngobrol, dong”
“Tentang apa?”
“Yah, dari urusan dapur hingga gossip-gosip politik”
“Artinya Anda bisa meluangkan waktu untuk menulis bukan?”
“Maaf, saya tetap nggak mau nulis. Hasil menulis lebih sedikit dibandingkan dengan kerja sampingan lainnya” .
“Helvy Tiana Rosa pernah mengatakan bahwa uang, popularitas, penghargaan yang kita dapat dari tulisan kita hanyalah sebuah EFEK SAMPING. Sebagai seorang guru profesional, ada celah lagi yang bisa Anda manfaatkan dari menulis. Dari celah ini Anda akan mendapatkan tunjangan dan jenjang karier sebagai guru professional”
“Di mana?”
“Ya, melalui sertifikasi guru, dong. Sejak adanya Undang-undang Guru dan Dosen, guru telah diakui sebagai tenaga professional. Oleh karena itu pemerintah telah meluncurkan program sertifikasi profesional bagi guru. Syarat pengajuan sertifikat pendidik bilamana guru memiliki kualifikasi akademik serta kompetensi. Salah satu dari unsur kualifikasi akademik adalah memiliki karya pengembangan profesi. Jenis dokumen atau karya pengembangan profesi itu di antaranya adalah ; Buku yang dipublikasikan tingkat kabupaten / kota, propinsi atau nasional; Artikel yang dipublikasikan lewat jurnal yang terakreditasi maupun tidak, majalah atau koran tingkat lokal, nasional maupun internasional; Pernah menjadi reviewer buku; Penulis soal EBTA / EBTANAS / UAN; Membuat modul atau buku minimal untuk satu tahun atau dua semester; Pembuatan media pembelajaran; Laporan penelitian di bidang pendidikan; karya teknologi / seni yang meliputi teknologi tepat guna, patung, rupa, lukis, sastra. Nah, mau nggak mau Anda sebagai guru professional memiliki kewajiban untuk memiliki kompetensi tersebut maka menulislah”
“Wah, berat. Saya harus menulis hal-hal yang ilmiah kayak gitu. Membayangkan saja susah, bagaimana jika memulai menuliskannya?”
“Itu karena Anda tak membiasakan menulis hal-hal yang ringan. Jangan Anda mengharapkan sebuah pekerjaan yang besar jika pekerjaan yang kecil saja tak mau melakukannya. Menulislah dari hal-hal yang ringan. Dalam kehidupan Anda sehari-hari tentu banyak peristiwa atau buku yang Anda baca bukan? Tuliskan saja dalam satu kalimat. Kumpulkan kutipan-kutipan kalimat tersebut. Suatu ketika Anda bisa menggunakannya sebagai bahan artikel Anda”
“Nah, ini dia. Saya nggak suka membaca”
“Anda pernah mengajak murid membaca?”
“Oh ya, sering”
“Apakah murid-murid Anda melakukan hal yang sama dengan perintah Anda?”
“Yah, sebagian membaca sedangkan yang lainnya tidak”
“Itu karena Anda sebagai guru pun tidak mau membaca. Bagaimana Anda ingin murid membaca sedangkan Anda tak melakukannya? Percayalah jika kita mau membaca dan menulis, energi yang kita sebarkan agar anak-anak mau membaca dan menulis akan lebih besar efeknya”.
“Terimakasih Pak atas keterangan dan motivasinya. Namun, mustahil jika saya menulis karena saya malas untuk menulis. Saya ingin jadi manusia yang bersyukur apa adanya dengan kehidupan yang Tuhan berikan kepada saya. Gaji saya sudah cukup untuk menghidupi keluarga. Saya menikmati hari-hari saya tanpa direcoki dengan kegiatan menulis. Tolong, jangan berikan saya motivasi menulis lagi, tokh, saya sudah dewasa dan mampu memilih mana yang baik bagi saya dan karier saya”.
Budaya Menulis Membutuhkan Waktu Panjang
Beberapa ahli antropologi berpendapat bahwa kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia untuk pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohaninya. Kebudayaan menempati posisi penting dalam seluruh tatanan kehidupan manusia. Tak ada manusia yang hidup tanpa kebudayaan. Kebudayaanlah yang memberi nilai dan makna hidup manusia. Perkembangan budaya selalu megikuti perkembangan manusia. Pun dengan menulis, menulis akan menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan akan membudaya jika menulis sudah menjadi sebuah kebutuhan dan memberi nilai pada manusia. Kebutuhan akan mengarah kepada tujuan. Tujuan akan tercapai melalui proses yang berkesinambungan.
Teman saya tak pernah mau menulis. Namun ia menulis juga. Setelah saya selidiki lebih dalam ternyata ada tujuan pasti yang menjadi alasan baginya untuk menulis, Anak didiknya. Menjadi guru pengampu mata pelajaran sejarah boleh dikatakan sulit baginya. Bagaimana tidak, puluhan konsep angka tahun, bulan, tokoh dan peristiwa harus disampaikan kepada siswa. Ia bertekad agar anak didiknya ini mampu menguasai mata pelajaran sejarah hingga mencapai ketuntasan minimal. Teman saya ini lantas mengumpulkan bahan tulisan dari berbagai sumber. Mau tidak mau ia harus membaca. Akhirnya sebuah diktat kecil berhasil ia susun. Oleh karena itu jika guru malas untuk menulis, kembalikan lagi pada tujuan utamanya menjadi seorang pendidik.
Jangan pernah menyerah untuk berjuang mengkampanyekan menulis bagi guru. Tengoklah perjuangan rekan-rekan redaksi beberapa surat kabar. Radar Semarang dengan rubrik Untukmu Guru, Suara Merdeka dengan rubrik Sketsa Guru, bahkan Budi Maryono, pengasuh rubrik Kantin Banget ikut menyediakan ruang menulis untuk guru. Mereka yakin bahwa guru memiliki sebuah keniscayaan untuk dapat menulis. Tulisan guru-guru Indonesia inilah yang akan membawa perubahan konsep pendidikan bangsa. Belajarlah dari iklan sebuah produk pasta gigi. Sejak kecil hingga kini saya sudah mengenal produk ini. Masyarakat mengakui dan banyak yang menggunakan produk pasta gigi ini. Namun pihak produsen tidak mau berhenti begitu saja untuk memasarkan produknya. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga ingatan masyarakat dan mengingatkan bahwa produk ini benar-benar membantu mereka. Pun dengan menulis. Semoga bermanfaat
***
Estu Pitarto,S.Pd
Guru SD Islam Hidayatullah, Semarang, Pegiat Komunitas Wedang Jae,
Pegiat Komunitas Multimedia Education, Redaktur Buletin WAHID
dan Anggota Agupena Jawa Tengah
Tulisan lain yang berkaitan:



Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!