Menempa Diri di Madrasah Ramadhan
Friday, 28 August 2009 (00:59) | 41 views | 0 komentar
Oleh UMU SULAIMAH
Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia, didalamnya Allah telah menjanjikan keutamaan-keutamaan yang berlipat ganda. Menjadi madrasah ruhiyah bagi manusia yang menghendaki derajat taqwa di sisi Allah SWT. Seperti sebuah madrasah pada umumnya, maka ia akan menjadi tempat untuk melakukan proses pendidikan dan pembinaan. Selama kurang lebih 30 hari lamanya ruhiyah, jasadiyah dan fikriyah kita di tempa Allah melalui madrasah yang bernama Ramadhan. Dididik dan dibina agar menjadi pribadi-pribadi utama dan memiliki keutamaan. Allah SWT berfirman dalam ayatnya “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa ( Qs. Al Baqarah : 183).
Taqwa disini memiliki makna adanya ketertundukan dan kepasrahan serta keberterimaan untuk melaksanakan aturan-aturan Allah yang telah di gariskan dan menjauhi hal ihwal perbuatan yang mengundang murka Allah dengan tulus ikhlas dan sepenuh pengharapan kepadaNya. Derajat taqwalah yang membedakan kualitas manusia dengan manusia yang lainnya di sisi Allah. Derajat taqwa tidak ditentukan oleh melimpahnya harta kekayaan, tingginya jabatan, popularitas, kepandaian atau kepintaran semata. Yang tak jarang hal tersebut malah menjadi fitnah menyebabkan mata ini sering di buat silau karena memandang semuanya dari kacamata materi. Sehingga melupakan hal yang paling substansi, yakni agar diri menjadi pribadi-pribadi yang berbudi.
Hadirnya Ramadhan sebagai madrasah ruhani, jasadi maupun fikri mengisyaratkan kepada kita untuk lebih serius dalam menjalaninya. Tak sekedar menghitung hari menunggu Idul Fitri, karena menanti ketiban rejeki atau sekedar menanti berlipatnya gaji. Meskipun tak dapat di pungkiri sisi kemanusiaan kita menghajatkan hal yang demikian. Namun, setidaknya mari kita maknai Ramadhan dengan lebih istimewa. Ibarat sebuah hidangan dalam perjamuan, Ramadhan adalah jamuan istimewa diantara jamuan-jamuan di sebelas bulan sebelumnya. Karena di dalamnya terkandung nutrisi dengan kadar kalori yang tinggi.
Ramadhan sengaja dihadirkan Allah SWT sebagai ruang bagi kita untuk berbenah dan meningkatkan kualitas diri. Selama bulan Ramadhan, Allah SWT menyediakan ampunan dan melimpah lebihkan pahala. Amalan sunnah dinilai wajib dan amalan wajib dilipatgandakan pahala serta nilainya hingga tujuh puluh kali lipat. Hal yang sangat spektakuler kalau dihitung dengan kalkulasi ahli ekonomi. Sebuah motivasi dengan kekuatan tegangan tinggi yang membuat kita tergerak untuk beramal lebih banyak lagi. Bila perlu menjadi ibadahholic, sebab semua yang mengandung kebajikan akan dinilai ibadah.
Teringat sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari “Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah SAW adalah manusia yang paling derma, dan kedermaannya menjadi lebih baik pada bulan Ramadhan, bertemu malaikat Jibril setiap malam lalu keduanya melakukan tadarus Al Qur’an, maka sungguh Rasulullah SAW saat bertemu malaikat jibril menjadi lebih berderma dengan kebajikan dibandingkan dengan angin berhembus. Rasulullah sebagai manusia pilihan yang sudah di jamin terbebas dari dosa saja, semangatnya luar biasa untuk menorehkan prestasi terbaiknya selama bulan Ramadhan. Lalu bagaimana dengan kita, yang sudah jelas-jelas bukan manusia suci yang lepas dari kesalahan??
Tidak ada alasan untuk merasa berat menunaikan ibadah dan menambah kadar kuantitasnya serta kualitasnya. Karena Allah telah menjanjikan kemuliaan yang benar-benar nyata. Dalam sebuah hadits disebutkan, “ siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan karena mengharap pahala dari Allah SWT, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni, dan siapa yang melakukan shalat malam pada malam lailatul qadar, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni (muttafaqun ‘alaih). Hal ini mengajarkan agar kita melakukan optimalisasi di bulan Ramadhan dengan cara mendekatkan kepada Allah SWT, memperbanyak ibadah, shalat, tilawatil qur’an, dzikir, I’tikaf, infak, dan lain sebagainya.
Bukan sebuah alasan yang logis jika karena cuaca yang panas, menjadi enggan berpuasa. Kesibukan bekerja dan menuntut ilmu yang menyita waktu sehingga melupakan tilawah, berderma dan aktivitas ibadah lainnya. Dengan kelalaian inilah yang menyebabkan tidak berhasil menempa diri di madrasah Ramadhan, sehingga tawaran kemuliaan yang khusus disediakan oleh Allah tak mampu kita raih. Hasilnya kita hanya menjadi manusia biasa, dengan kadar keimanan yang biasa-biasa saja, derajat taqwa yang tak berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya.
Umu Sulaimah, S.Pd.I
Guru SDIT Ulul Albab Kota Pekalongan, Anggota Agupena Jawa Tengah




0 komentar terhadap “Menempa Diri di Madrasah Ramadhan”
Komentar Anda?