KAMPUS DAN KEMISKINAN MONUMENTASI INTELEKTUAL
Tuesday, 25 August 2009 (00:14) | 158 views | 0 komentar
Oleh ARI KRISTIANAWATI
Wibawa Kampus diera kapitalisasi pendidikan sekarang ini semakin merosot. Idiom kampus sebagai kawah candradimuka penggembleng komunitas pemikir yang rasional dengan karya yang menjadi academic reference sepanjang waktu, telah terkikis. Kampus saat ini menyerupa dengan supermarket yang menyajikan berbagai komoditi dan label. Komoditi dalam balutan beragam program studi yang bisa dinikmati oleh mereka yang ingin belajar dan memiliki dana lebih. Label diberikan sebagai tanda prestasi kelulusan, dalam aneka gelar yang acapkali digunakan sang pemakai untuk menaikkan derajat sosialnya.
Kampus masa kini, kampus diera liberalisasi dan swastanisasi tidak ubahnya seperti alat pemroduksi keuntungan ekonomis yang bisa dinikmati para pengelola dan pemilik sahamnya. Untuk menjadi alat pemroduksi bahkan berfungsi sebagai supermarket ilmu, kampus menawarkan fasilitas non sophisticated dengan kompensasi standar biaya sesuai “kualitas” pelayanan yang diberikan.
Tidak mengherankan hampir semua kampus setiap tahun bahkan setiap bulan mempersolek diri dengan pembangunan infrastrukrur yang menggambarkan kemegahan dan kemewahan (luxuritas). Kampus yang disebut unggulan tentu saja yang memiliki gedung dan prasarana fisik yang bemutu selain memiliki sertifikat sebagai kampus terakreditasi unggulan.
Hasrat untuk mendapatkan gelar, menikmati jasa program studi dan mencapai kehormatan status sosial memang semakin kuat diantara kelompok masyarakat yang berada dalam belahan sosial menengah ke atas. Tidak mengherankan, saban waktu banyak kaum profesional dan kelompok pengejar “ilmu” memburu gelar dikampus-kampus terkemuka sampai kampus yang tidak ada standar akreditasinya.
Banyak pejabat publik dan anggota parlemen, yang disibukkan kegiatan sampingan. Berkuliah paskasarjana untuk menambah pundi-pundi gelarnya agar semakin dihormati. karena dengan gelar yang dimiliki mereka akan masuk dalam lingkaran labelisasi sebagai kaum cendekia. Demikian para profesional multibidang termasuk para “oemar bakrie” yang kini rasio kesejahteraannya meningkat pesat juga sibuk berburu gelar paska sarjana diberbagai kampus. Harapannya agar semakin nampak intelektual dan terhormat dilingkungan kerjanya.
Menguatnya hasrat banyak kalangan menempuh berbagai program studi dan program studi lanjutan di Kampus-Kampus, adalah enerji positif yang akan mendorong peningkatan kualitas SDM dan pendidikan nasional. Hal tersebut setidaknya ada dalam konsep teori pendidikan yang mekanistik dan formalis. Tidak mengherankan saat ini produksi gelar paska sarjana dan alumni program paska sarjana di Indonesia semakin meluber setiap kuartal dan setiap musim wisuda kelulusan mahasiswa.
Jumlah peraih gelar paskasarjana yang diproduksi kampus-kampus, setara dengan jumlah Jendral ditubuh organisasi militer dan kepolisian dinegeri ini. Gelar master, doktor jumlahnya semakin banyak sebanyak jumlah perwira tinggi ditubuh militer. Padahal dinegara yang sistem dan kualitas pertahanan-militernya kuat dan canggih seperti Cina, Rusia, AS jumlah orang yang berpangkat Jendral sangat minimal. Karena pangkat tersebut adalah sesuatu yang sakral yang diraih dengan pengabdian dan karir yang melegenda.Jumlah master dan doktor diberbagai kampus berkualifikasi Internasional dinegara-negara maju juga proporsional sebanding dengan jumlah (kuantitas) karya ilmiah yang dinamis dalam perkembangannya.
Menjamurnya masyarakat yang kini meraih gelar master dan doktor adalah problem dari sistem-model pendidikan diberbagai kampus dinegeri ini. Karena sesungguhnya menjamurnya gelar paska sarjana tidak menggambarkan meningkatnya kecendikiawanan masyarakat terutama kalangan akademisi kampus.
Kampus masa kini berbeda dengan kampus tempo doeloe, kini dllanda kemiskinan monumentasi intelektual. Monumentasi intelektual adalah puncak pemikiran seseorang yang meraih gelar paska sarjana melalui riset akademik yang kental dengan dialektika keilmuan. Monumentasi intelektual adalah penanda (signed) dari kecakapan seseorang yang meraih gelar kesarjanaan atau kepaskasarjanaan dengan guratan-guratan sumbangan pemikiran yang relavan,.aktual sesuai dinamika zaman. Sumbangan pemikiran yang hadir dalam manuskrip tesis, disertasi yang menjadi bahan bacaan dan sumber wacana pemikiran.
Saat ini banyak orang bergelar master, doktor tanpa standar karya tulis yang berada dalam strata monumentasi intelektual. Bahkan diakui atau tidak banyak bertebaran tesis, disertasi yang justru kualitasnya tidak lebih baik dari skripsi mahasiswa S1. Berbeda dengan kampus dimasa lalu, yang meski sedikit—karena selektif—–menghasilkan alumni paska sarjana semacam master/doktor namun mereka yang meraih gelar tersebut melahirkan karya monumentalis, yang kini menjadi rujukan penelitian berbagai multidisiplin ilmu.
Di Masa lalu Kampus dinegeri ini menghasilkan sarjana, master,doktor yang karya monumentalisnya tetap up to dated sampai sekarang ini. Tengoklah Soe Hok Gie, seorang aktivis dan pemikir yang skripsinya memiliki kualitas yang memadai untuk dijadikan referensi membedah sejarah pergolakan ideologi tahun 40an. Karya Gie, yang dibukukan berjudul Orang-orang Di Persimpangan kiri Jalan, patut menjadi acuan pustaka bagi mereka yang hendak mencover untaian sejarah dibalik Provokasi solo-Madiun.
Karya disertasi Sartono Kartodirdjo, yang dibukukan berjudul “Pemberontakan Petani abad 18″, tetap menjadi referensi pokok bagi mereka yang hendak meneliti tentang gerakan petani dalam aras kultural. Demikian pula karya, Fachry Ali yang terdokumentasikan oleh penerbit komersial dengan judul : “Paham Kekuasaan Jawa”, tetap layak menjadi bahan bacaan bagi berbagai disiplin ilmu pengetahuan baik sosiologi, pemerintahan, kebudayaan.
Di Masa lalu mereka yang di-”baiat” sebagai cendekia dan berhak meraih gelar doktor/master adalah yang mampu melahirkan karya monumentasi intelektual. Ukuran kecakapan akademik, adalah melalui penilaian objektif karya tesis/disertasi yang dihasilkan melalui penelitian yang militan dan kaya bacaan.
Mengapa kampus saat ini mengalami kemiskinan monumentasi karya intelektual? Sindhunata pernah menjawab dalam esai kritisnya di Majalah Kebudayaan Basis: Kampus (PT) saat ini banyak memiliki doktor namun sedikit yang intelektual, karena tradisi pergulatan wacana, riset yang mengabdi kepada ilmu, serta kebiasaan berdialektika dalam tulisan telah terkikis oleh arus pragmatisme.
Tidak mengherankan memang, semakin banyak yang kini meraih gelar doktor/master namun banyak dari mereka yang gagal memproseskan diri menjadi sosok cendekia. Kampus masa kini, jika tidak ingin terus dilanda kemiskinan monumentasi intelektual harus mau menghilangkan hasrat ekonomisme dan mengeruk keuntungan dengan mengobral gelar dan program studi. Kampus harus selektif memilih mereka yang layak meraih gelar keilmuan dengan standar kompetensi yang memadai.
Ari Kristianawati, S.Pd
__________________
Guru SMAN 1 Sragen, Anggota Agupena Jawa Tengah.
Tulisan lain yang berkaitan:



Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!