Sunday, 23 August 2009 (01:53) | 479 views | 1 komentar
Oleh ZAENAL ABIDIN
Sesungguhnya ibadah puasa ramadhan adalah sebagai sarana latihan menundukkan dan menguasai hawa nafsu sehingga ia bisa tunduk untuk dikendalikan dan diarahkan menuju ketaqwaan sehingga membawa manusia kepada kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Karena pada dasarnya nafsu selalu mengajak kepada keburukan. Hal ini sesuai dengan tujuan dari ibadah puasa yaitu “la’allakum tattaquun” yang artinya: agar kamu sekalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.
Ada riwayat sebagaimana disebutkan dalam kitab Durrotun Nashihin bahwa disyari’atkannya puasa adalah setelah Allah menciptakan hawa nafsu. Ceritanya demikian:
Allah S.W.T telah menciptakan akal, maka Allah SWT telah berfirman: “Wahai akal mengadaplah engkau.” Maka akal pun mengadap kehadapan Allah SWT., kemudian Allah SWT berfirman: “Wahai akal berbaliklah engkau!”, lalu akal pun berbalik.
Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi: “Wahai akal! Siapakah aku?”. Lalu akal pun berkata, “Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang lemah.” Lalu Allah SWT berfirman: “Wahai akal, tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau.”
Setelah itu Allah SWT menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya: “Wahai nafsu, mengadaplah kamu!”. Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah SWT berfirman lagi: “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Lalu nafsu berkata, “Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau.”
Setelah itu Allah SWT menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah SWT berfirman: “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Lalu nafsu berkata, “Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.”
Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu’ selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah SWT berfirman: “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, ” Aku adalah hamba-Mu dan Engkau adalah Tuhanku.”
Diterangkan dalam kitab tersebut bahwa dengan sebab itulah maka Allah SWT mewajibkan puasa. Dari kisah itu dapatlah kita pahami bahwa hawa nafsu itu adalah sangat jahat, nakal, dan semaunya sendiri. Oleh karena itu hendaklah kita pandai mengawal dan mengendalikan nafsu itu, jangan sampai membiarkan hawa nafsu itu mengawal dan mengendalikan kita, sebab kalau dia yang mengawal dan mengendalikan diri kita maka kita akan menjadi musnah dan binasa.
Maka bisa dimaklumi ketika kembali dari satu peperangan yang dahsyat yaitu perang badar melawan kaum musyrikin, Rasulullah SAW tiba-tiba bersabda di tengah-tengah para sahabat: “Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar”. Sahabat terkejut dan bertanya, “Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ? “Beliau menjawab, “Peperangan melawan hawa nafsu.”
Menurut hemat penulis, Rasulullah bukan bermaksud meremehkan perang jihad melawan orang-orang kafir. Karena Rasullullah sendiri telah bersabda melakukan jihad adalah salah satu amalan yang paling utama. Beliau hanya ingin mengingatkan kepada kita bahwa masih ada musuh lagi yang tersembunyi dalam aliran darah kita yaitu hawa nafsu. Kalau kita tidak waspada dengan musuh itu, kemudian ia mengendalikan dan menguasai diri kita, maka kita akan terjerumus ke dalam kehinaan, kebinasaan dan kesengsaraan.
Kalau dipikir memang logis, kita lihat betapa banyak manusia tergelincir dari kejayaannya karena hawa nafsunya sendiri. Para pemimpin karismatik dan terhormat, terjungkal ke dalam jurang kehinaan karena hawa nafsunya. Banyak orang kaya dan berharta juga terbalik jatuh ke dalam jurang kebangkrutan karena hawa nafsu yang tidak terkendalikan. Tidak jarang, ilmuan dan agamawan sekalipun, juga berjatuhan karena hawa nafsu diri mereka sendiri. Dan ini dikuatkan lagi oleh sabda Rasulullah; “Musuh yang paling memusuhi kamu adalah nafsu yang ada di antara dua lambungmu “.
Puasa sebagai Fungsi Kontrol
Di sinilah fungsi utama disyariatkannya puasa. Puasa Ramadhan merupakan sarana latihan yang sangat hebat dalam keimanan dan ketakwaan. Selama Ramadhan inilah, kaum Muslim, berlatih mengendalikan hawa nafsunya. Secara fiqh definisi puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan sexual antara suami atau isteri sejak terbitnya fajar shodiq (subuh) hingga terbenamnya matahari karena Allah SWT. Jadi dalam sudut pandang hukum Islam, ada dua unsur penting dalam ibadah puasa yaitu niat karena Allah dan menahan diri dari makan, minum serta hubungan sexual dengan suami atau istri.
Namun perlu diketahui bahwa penyebutan tiga hal itu sebenarnya merupakan representatif pokok dari hawa nafsu secara menyeluruh yang terdapat pada diri manusia. Seperti disabdakan oleh rasulullah SAW: Manusia pada umumnya dirusak oleh dua hal; perut dan yang di bawah perut. Perut adalah representasi nafsu makan-minum, dan bawah perut adalah representatif hawa nafsu kebutuhan biologis manusia. Sehingga puasa sesungguhnya bukanlah sekedar tidak makan dan minum serta hubungan seksual, tapi yang terpenting adalah melatih diri dalam melakukan kontrol terhadap segala macam godaan-godaan hawa nafsu pada diri kita. Pengontrolan ini sesungguhnya merupakan bentuk jihad besar sebagaimana yang disinyalir oleh Rasulullah kepada para Sahabat setelah selesai melakukan perang Badar. Jihad yang diistilahkan sebagai jihad akbar karena menjadi basis semua jihad yang lain.
Sebagaimana telah disepakati para ulama bahwa puasa yang benar bukan sekedar menahan dari makan, minum dan hubungan sexual . Tetapi lidah, mata, telinga dan semua anggota badan harus juga melakukan puasa dari perbuatan yang terlarang. Kedua mata harus suci dari memandang hal-hal yang haram. Lidah harus suci dari dusta, ghibah, adu domba, caci maki, perkataan yang tidak bermanfaat. Kedua telinga harus suci dengar suara-suara, lagu-lagu dan perkataan yang buruk. Kita berpuasa dengan menahan diri dari apa yang dihalalkan oleh Allah, berupa makanan dan minuman. Namun kita melahap apa-apa yang diharamkan Allah, berupa maksiat, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan peng amalannya, maka tidak ada keperluan bagi Allah untuk meninggalkan makanan dan minumannya. ” (Diriwayatkan Al-Bukhary, Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa’y dan Ibnu Majah).
Rasulullah juga bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.” (Diriwayatkan Ibnu Majah, An-Nasa’y dan Al-Hakim).
Aisyah ra, Al-Auza’y, Azh-Zhahiri dan sejumlah fuqaha dari kalangan salaf berpendapat bahwa ghibah atau menggunjing, adu domba, dusta dan kedurhakaan membatalkan puasa. Menurut mereka, barangsiapa melakukan hal-hal itu, maka dia harus mengqadha’ puasanya pada hari yang lain. Sedangkan seluruh shahabat yang lain dan Jumhur fuqaha berpendapat hal-hal itu tidak membatalkan puasa, hanya saja pahalanya di sisi Allah menjadi hilang.
Apakah kita masih menganggap remeh hal ini? Kita lapar dan dahaga, tenggorokan kering sepanjang hari, kemudian setelah itu kita tidak memperoleh apa-apa di sisi Allah. kita keluar dalam keadaan hampa tangan, tidak memperoleh hasil apa pun.
Bulan Ramadhan telah datang! Bulan yang dianugerahkan Allah agar kita mensucikan diri, membersihkan diri dari keburukan dan dosa, membekali diri dengan kebaikan dan menambah tabungan kita di sisi Allah. Kini manusia berusaha untuk memperbanyak tabungan di bank. Maka mengapa kita tidak berusaha untuk menambah tabungan kita di sisi Allah SWT?
Zaenal Abidin, S.Pd., M.Si
_____________________
Guru MAN 1 Demak, Pengurus Agupena Jawa Tengah
Tulisan lain yang berkaitan:



Reply