EVALUASI 64 TAHUN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Sunday, 16 August 2009 (23:21) | 224 views | 7 komentar
Oleh Zaenal Abidin
Suatu karunia besar bagi kita karena kita masih dapat memperingati kembali HUT kemerdekaan RI diusianya yang ke-64. Kita yang setiap tahun merayakan hari kemerdekaan , sebagai umat beragama tentu tidak ingin hanya berbangga-bangga diri seolah semua itu kita peroleh karena perjuangan dan kemampuan kita sendiri, tanpa ingat bahwa di atas semua itu adalah rahmat dan karunia Allah SWT.
Di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, kita sudah komitmen bahwa kemerdekaan Negara RI diperoleh atas berkat rahmat Allah SWT. Secara logika bagaimana mungkin bambu runcing dapat mengalahkan penjajah Belanda dengan senjata-senjata moderennya. Namun sejarah telah menunjukkan demikian. Ini semua tentu berkat rahmat yang diberikan Allah kepada bangsa Indonesia di samping perjuangan dan keikhlasan anak bangsa ini, yang dipupuk dengan iman dan taqwa. Untuk hal ini, Allah SWT telah berjanji dalam Al-Qur’an, yang artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” ( Al-‘A’raaf 96).
Kemerdekaan bangsa Indonesia jelaslah bukan hadiah dari Belanda, dan Jepang, tapi kemerdekaan ini ditebus oleh seluruh rakyat Indonesia dengan cucuran air mata dan tetesan darah. Pada saat itu rakyat Indonesia bersatu untuk menegakkan negara kesatuan Republik Indonesia. Mereka tidak pernah berpikir apakah istrinya akan menjadi janda, anaknya akan menjadi yatim. Yang terpikir oleh pejuang-pejuang bangsa saat itu hanya merdeka…!
Hendaknya kita yang sedang menikmati kemerdekaan ini, harus banyak mengkoreksi diri, karena berkat jasa-jasa para pahlawan yang telah berpulang ke rahmatullah kita merdeka. Mereka mengorbankan darahnya demi kemerdekaan bangsa Indonesia agar terlepas dari cengkraman penjajahan. Supaya Indonesia, dipimpin oleh bangsanya sendiri yang bersih dan jujur, sehingga kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia tidak saja dinikmati oleh orang asing, tapi dinikmati oleh bangsa sendiri.
Maka marilah kita selalu mengoreksi diri kita sendiri, apakah kita sudah benar-benar berbuat untuk bangsa kita? Apakah bangsa Indonesia sudah diperintah oleh bangsa yang bersih, dipimpin oleh para pemimpin yang bersih, jujur, dan yang benar-benar memikirkan seluruh rakyatnya? Apakah seluruh kekayaan bangsa Indonesia benar-benar sudah dinikmati oleh rakyat kecil. Apakah kekayaan alam ini dinikmati oleh investor-investor asing bersama-sama dengan pejabat negara?
Kalau bangsa Indonesia yang sudah 64 tahun merdeka, semestinya bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa yang besar, bangsa yang mulia, bangsa yang sejahtera. Tetapi nyatanya bangsa Indonesia belum menjadi bangsa yang besar.
Kalau kita melihat potret wajah bangsa ini dalam konteks global, kita tertinggal jauh, hampir di semua bidang. Dunia pendidikan kita peringkat 107 dari 173 negara, SDM kita di bawah Vietnam sekarang ini. Bahkan di tingkat Asean kita tertinggal jauh, pendidikan kita ditingkat E, sementara Malaysia dan Thailand memperoleh di tingkat A, Sementara kita perhatikan aborsi, pornografi/pornoaksi dan korupsi luar biasa.
Negara Republik Indonesia yang merupakan anugrah dari Allah SWT, yang nikmat dan kekayaannya begitu berlimpah ruah, mestinya tidak pantas menjadi negara yang banyak hutang dan menjadi negara yang miskin, seandainya dikelola dengan penuh amanah. Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. 4 An-Nisaa 58).
Dalam ayat ini Allah menyuruh kita untuk memberikan kedudukan dan jabatan kepada ahlinya, mulai dari pejabat yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besarnya, berikanlah kepada yang pantas dan serahkan jabatan kepada yang betul-betul ahlinya, yang amanah, terpercaya, dan jujur, jangan sampai jabatan ini diduduki oleh orang-orang yang berkhianat, yang hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan pribadinya, sehingga rakyatnya menjadi sengsara. Dan juga apabila menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah tetapkan hukum dengan adil, tanpa membeda-bedakan manusia.
Ada kisah seorang wanita dari golongan Al-Mahzumiyah kedapatan mencuri. Tokoh-tokoh Quraisy Arab merasa bingung, karena wanita ini termasuk dari golongan bangsawan yang berjasa terhadap agama. Kemudian di saat tokoh-tokoh Quraisy itu merasa bingung, mereka bermusyawarah, maka mengutus Husamah bin Zaid untuk menghadap kepada Rasulullah SAW meminta supaya si wanita itu tidak dihukum dengan potong tangan. Ketika Husamah di hadapan Rasulullah SAW, ia menceritakan tentang wanita yang mencuri ini, sekaligus menyampaikan pesan tokoh-tokoh Quraisy. Mendengar ucapan Husamah, muka Rasulullah SAW merah (menunjukan Beliau itu marah). Kemudian Beliau bersabda : “Wahai Husamah, telah hancur bangsa-bangsa sebelum kamu, karena apabila yang mencuri itu orang besar, seluruhnya tutup mulut, tetapi kalau yang mencuri rakyat kecil, semuanya berteriak tegakkan kebenaran dan keadilan”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, yang artinya : “Wahai Husamah demi Allah, seandainya anak saya yang bernama Fatimah itu mencuri, pasti saya potong tangannya”.
Itulah sikap dan pendirian Rasulullah SAW dalam memegang amanah. Menurutnya, kedudukan manusia di depan hukum itu sama. Seluruh para pemimpin dan rakyat Indonesia harus bisa mengambil contoh hal ini.
Dalam kontek 64 tahun Republik Indonesia, marilah kita renungkan, kita lihat secara jujur wajah kita dalam konteks global, kita sudah tertinggal jauh, mengapa? Karena ada yang hilang dari bangsa ini, yang hilang itu adalah sesuatu yang sangat penting dan berharga yaitu amanah.
Maka kita teringat dengan hadits Rasulullah SAW, suatu waktu ketika Rasulullah duduk dengan para sahabatnya, tiba-tiba ada seorang lelaki yang datang dari tempat yang jauh, nampak dari pakaiannya yang lusuh dan rambutnya yang kumal, lalu ikut duduk bersama Rasulullah, lalu lelaki itu berkata kepada Nabi. Ya Rasulullah tolong anda jelaskan kepada kami tentang sesuatu yang berat di dalam agama ini dan jelaskan pula ya Rasulullah yang ringan. Rasulullah menjawab, yang ringan wahai saudaraku kata Rasulullah, adalah mengucap dua kalimah syahadat. Dan yang berat wahai saudaraku, adalah Amanah, lalu beliau mempertegas lagi, tidak beragama seseorang apabila tidak mempunyai amanah, amalan shalatnya percuma, amalan zakatnya pun sia-sia kata Rasulullah.
Marilah kita yang sudah merdeka selama 64 tahun ini mengoreksi diri kita, benarkah kita sudah menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah, baik para pemimpin bangsa maupun rakyatnya, benarkah sudah menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, baik pemimpinnya maupun rakyatnya, kalau negara ini ingin menjadi negara yang makmur dan diridhai Allah SWT.
Mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada para pemimpin dan seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi orang-orang yang solih yang selalu menjalankan amanat Allah, sehingga membawa bangsa ini menjadi sejahtera, adil dan damai, bangkit dengan kemampuannya, di bawah ridhlo dan perlindunganNya. Amin.
Zaenal Abidin, S.Pd., M.Si
_____________________
Guru MAN 1 Demak, Ketua Divisi Penulisan Buku Agupena Jawa Tengah
Tulisan lain yang berkaitan:



Semoga kita bisa mengisi kemerekaan ini dengan sebaik-baiknya…
.-= nuryanto´s last blog ..Format Teks untuk Rumus Kimia =-.
Reply
Semoga kita bisa mengisi kemerekaan ini dengan sebaik-baiknya…
Reply
Semoga kita bisa mengisi kemerekaan ini dengan sebaik-baiknya…
dan kita bisa menjadi generasi pembangunan yang terbaik
Reply
I loved your post and am saving the feed for future posts. Thanks!
Reply
Great post! I am just starting out in community management/marketing media and trying to learn how to do it well – resources like this post are incredibly useful. As our company is based in the US, it?s all a little bit new to us. The example above is something that I worry about as well, how to show your personal genuine enthusiasm and write about the truth that your item is useful in that case.
Reply
Hmm that was weird, my comment obtained eaten. Anyway I wanted to say that it is nice to realize that someone else also mentioned this as I experienced trouble finding the exact same info elsewhere. This was the very first location that told me the answer. Thanks.
Reply
kemerdekaan kita sepertinya masih dalam mimpi, buktinya kita masih banyak tekanan2 dari pihak asing.
Reply