Mendongkrak Prestasi, Mengelola Emosi

Friday, 7 August 2009 (04:34) | 228 views | 0 komentar

Oleh Hernani
hernani-editKasus yang menimpa Prita Mulya Sari tentang e-mail pembawa ‘petaka’ yang sampai menjadi headline di berbagai media sebulan terakhir, semoga tidak membuat jera para penulis pemula. Meraka mulai ada greget untuk menyalurkan aspirasinya ke media massa dengan mengubah budaya ngedumel (mengeluh di belakang) menjadi budaya menulis secara transparan dalam menyalurkan aspirasi. Meski Prita terlihat sudah tidak diperlakukan adil, masih ditambah lagi dengan penahanan namun banyak hikmah yang dapat dipetik dari kasus tersebut.

Kasus yang menimpa Prita mengingatkan saya pada profesi guru. Prefesi guru sebenarnya tidak pernah lepas persinggungan intim dengan berbagai individu. Artinya profesi ini juga tidak luput dari masalah. Berbagai masalah yang dihadapi guru sebenarnya bisa memicu stress, kerengganggan hubungan, kebuntuan komunikasi dan sebagainya. Apa yang dialami Prita sebenarnya efek samping dari kebuntuan komunikasi, sehingga Prita perlu mencari saluran atau media komunikasi yang lain yang lebih berterima.

Dalam kontekS guru, mereka sering marah, siswa dikatakan bodho, atau tidak tuntas belajar atau sekolah itu tidak bermutu, bahkan ada sekolah yang dikabarkan 100% siswanya tidak berhasil dalam UN, masihkan slogan-slogan itu terdengar di telinga guru sebagai kaum pendidik yang notabene sedang diperjuangkan pemerintah menjadi guru professional?. Bahkan jabatan guru sebagai profesi sudah dicanangkan pemerintah melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 2 Desember 2004.

Guru professional harus dapat menepis slogan tersebut. Pemerintah sudah berjuang seaksimal mungkin sampai dengan peningkatan aspek kesejahteraan yang sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Lantas apa yang dapat diperbuat guru sebagai kompensasi perjuangan pemerintah yang mengupayakan penghasilan guru di atas kebutuhan minimum yang meliputi gaji pokokj, tunjangan yang melekat dengan gaji pokok, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi (pasal 15 ayat 1). Maslahat tambahan merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, beasiswa, dan penghargaan bagi guru, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra-putri guru, pelayanan kesehatan atau bentuk kesejahteraan lain (pasal 19 ayat 1).

Budayakan menulis
Implementasi dari kompensasi dari semua itu antara lain dengan mem budayakan menulis di kalangan guru. Berawal dari pengalaman guru di dalam kelas, tulislah semua yang berkaitan dengan proess kegiatan belajar mengajar, yang baik atau yang kurang baik, dalam rangka untuk mengevaluasi kinerja diri sendiri (guru) di dalam kelas. Ini langkah awal yang dapat ditempuh untuk dapat memperoleh bahan penulisan,

Kusnandar, dalam Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi, mencantumkan bahwa Pedoman Pengkajian Data Dokumen dapat melalui silabus dan RPP, laporan diskusi, hasil tes, laporan tugas siswa, bagian-bagian buku teks yang digunakan dalam pembelajaran, contoh essaay yang ditulis siswa. Menurut Goetz dan LeCompte (dalam Rochiati 2005) dokumen yang menyangkut para partisipan penelitian akan menyediakan kerangka bagi data yang mendasar. Dokumen itu misalnya koleksi arsip guru berupa buku harian,catatan peristiwa penting dan kenang-kenangan dari siswa angkatan lama. Sedangkan dokumen yang dikaji dapat berupa daftar hadir, silabus, hasil karya peserta didik hasil karya guru; misal modul, lembar kerja siswa dan hal lain yang berkaitan dengan pembelajarn di kelas.

Dokumen data itu dapat diperoleh guru tanpa mengganggu tugas keprofesionalan dengan meninggalkan tugasnya untuk tidak mengajar. Dengan menuliskan semua kejadian yang ada di dalam kelas sama saja guru sudah mulai mendata permasalahan yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian (menulis). Teknik mencari permasalahan dapat dengan bantuan beberapa pertanyaaan; 1)Apa yang sekarang sedang terjadi, 2) Apakah yang sedang berlangsung itu mengandung permasalahan? 3) Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasinya 4) Saya ingin memperbaiki apa, 5) Saya mempunyai gagasan yang ingin dicobakan di kelas saya, 6) Apa yang dapat saya lakukan dengan hal semacam itu?(kusnandar, 2008;86). Pertanyaan-pertanyaan yang menuntun semacam itu tidak terlalu sulit dan dan tidak asing bagi guru., tidak ada yang tidak terjawab.

Mendongkrak Prestasi
Budaya menulis bagi guru sangat bermanfaat bagi guru dan siswa. Kenapa tidak?Apa yang sedang terjadi di kelas? Proses belajar mengajar yang tidak kondusif, yang kurang bersemangat. Apakah menimbulkan masalah? Ya, prestasi belajar siswa rendah. Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaikinya? Melakukan tindakan, mengubah, metode, strategi atau teknik pembelajaran. Apakah saya ingin memperbaikinya? Saya ingin agar peserta didik bersemangat. Apakah mempunyai gagasan untuk dicobakan di kelas? Saya akan mengkaji bahan pembelajaran bersama-sama siswa dengan media ICT, agar siswa tidak hanya di doktrin dari guru dalam memperoleh pengetahuan di kelas, tetapi guru hanya memberikan insprirasi dan motivasi agar siswa dapat menemukan sendiri materi dan hasil pembelajaran melalui pendekatan CTL (Contektual Teaching Learning).

Guru juga dapat menulis modul sendiri apapun adanya, meskipun bahasa dan sistematikanya masih amburadul tetapi hasil karya ini dapat dipakai siswa di kelas. Kemudian temuan berbagai kelemahan dalam modul secara bertahap dikoreksi sehingga dapat mendekati sempurna.
Kenyataan yang terjadi guru lebih suka instan menggunakan buku paket terbitan dengan kemasan yang menarik. Tidak menutup kemungkinan siswa untuk menulis bahan pembelajaran dengan terlebih dahulu diberikan indikator materi yang harus dipelajari. Konsekuensinya guru tetap sebagai fasilitaor untuk menambah atau mengkritik materi yang kurang relevan. Landasan teorinya harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam pembelajaran ini siswa tdak hanya dijadikan sebagai objek tetapi dapat pula diperlakukan sebagai suujek pembelajar. Dengan demikian prestasi siswa pasti akan meningkat. Pinjam isitilahnya Prof Ir Rasdi Eko Siswoyo, MSC.(Rektor Universitas Diponegoro periode 1998-2006, dan Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah) Guru yang baik itu memberi ilmu, selama ini guru berusaha masuk kelas terus langsung saja ceramah menyampaikan materi pembelajaran yang sudah disiapkan dari rumah. 2 kali 45 menit,dipakai untuk apersepsi 10 menit, ceramah materi pembelajaran yang harus dikuasai siswa 70 menit ,penutup dalam bentuk tanyajawab 10 menit, selesai.

Mengapa? Karena guru takut materinya tidak selesai, sebeb dulu prinsip kurikulumnya mengacu pada subjek mater, nah sampai sekarang sulit untuk diubah. Guru yang lebih baik memberi keteladanan. Jangan sampai memberi tugas pada siswa kalau guru itu sendiri belum pernah melaksanakan, minimal mempelajari. Guru yang terbaik adalah guru yang memberi inspirasi dan motivasi. Budaya menulis pasti diawali dengan budaya membaca.
Guru tidak akan dapat menulis apapun kalau tdak pernah membaca karena terbelenggu dengan materi pembelajaran yang harus diberikan pada siswa, mencatat, membuat rangkuman sibuk mengoreksi sampai berjam-jam berbagi rutinitas yang itu-itu saja. Bagaimana guru mengetahui dunia luar. Bagaimana guru akan dapat memberikan inspirasi yang sejalan dengan pemikiran sekarang.

Guru bukan teknokrat tetapi jangan sampai gagap teknologi. Siswa-siswa sekarang apalagi dengan adanya materi pembelajaran TIK di SMA Guru harus memberikan tugas yang menantang untuk menjelajah materi dengan teknologi, berikan motivasi dengan terlebih dahulu guru meberikan kasus-kasus yang menarik dan memang harus ditelusur melalui teknologi, internet misalnya. Jurus-jusrus tersebut sebagai langkah awal mengubah paradigma guru menjadi guru yang baik. Semua kegiatan itu jangan lupa didokumentasikan, ditulis, adakah perubahan dalam diri siswa baik motivasi ataupu prestasi.

Mengelola Emosi
Tindakan-tindakan yang telah dilakukan guru bersama siswa, jangan sampai kelewat untuk di dokumentasikan. Belajar dari DR Mulyadi HP, yang menjelaskan sebuah kasus yang terjadi saat proses belajar mengajar di suatu siklus ada siswa yang jalan-jalan. Guru yang baik pasti akan marah-marah atau emosi, akhirnya siswa jadi takut bahkan tidak semangat belajar, bahkan bisa membolos. Tetapi guru yang terbaik mengamati dulu mengapa siswa itu jalan-jalan saat diajar di kelas. Ternyata siswa tersebut sudah jelas dan sudah selesa imengerjakan tugas yang diberikan guru, guru perlu memberikan program pengayaan, buka saja program yang sudah ditulis guru apa yang harus diberikan saaat itu, berkaitan dengan materi apa, guru yang suka menulis tidak akan bingung. Atau sebaliknya ternyata siswa jalan-jalan minta penjelasan pada teman, karena dalam kelompoknya sudah ada yang dipercaya sebagai tutor sebaya.

Apabila guru dihadapkan pada situasi seperti ini, guru benar-benar dituntut untuk menjadi leader dan agen pembelajar di kelas yang arif dan bijaksana. Buka kembali catatan-catatan harian khusus masing-masing siswa, apa yang pernah dilakukan, apa penyebabnya, solusi apa yang pernah diberikan, prestasi apa yang pernah dicapai. Semua itu menjadi sesuatu yang mengasyikan untuk dibaca ulang bahkan dijadikan sebagai bahan penelitian. Kelola emosi dan tingkatkan prestasi saatnya guru berpikir plus minus sama dengan.

Pada dasarnya setiap individu pasti punya kelebihan, kekurangan dan jalan keluar permasalahan. Bila guru berpikir positif pada siswa pasti guru akan mendapatkan sesuatu yang positif pula, dan bila guru memandang siswa negatif, maka permaslahan-permaslahan negatif akan susul menyusul.
Refleksi dari membudayakan menulis di kalangan guru, akan berimbas pada peningkatan mutu hasil belajar siswa. Apalagi pengalaman-pengalam guru tadi diwujudkan dalam Penelitian Hasil Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas dapat dilakukan kelompok atau perorangan. Pada prinsipnya menulis penelitian tindakan kelas yaitu menulis pengalaman diri sendiri (guru) dalam prosese belajar mengajar, dalam rangka meningkatkan prestasi belajar. Dimulai dari perencanaan tindakan, melaksanakan tindakan, observasi pengamatan untuk mendapatkan data dan refleksi perenungan, mengingat kembali apa-apa yang sudah dilakukan saat melakukan tindakan.

Mengapa perlu ditulis? Sebagai bahan eveluasi diri dan juga agar pengalaman itu juga dapat diakses oleh orang lain dengan tujuan yang sama yaitu perbaikan proses belajar mengajar. Oleh sebab itu penelitian tindakan kelas dapat bermanfaat bagi guru itu sendiri untuk memperbaiki proses belajar mengajar agar prestasi yang dicapai meningkat, Untuk siswa akan mendapatklan prestai yang lebih baik, dan mempunyai poengalaman baru, untuk guru lain selaku praktisi pendidikan dapat memperoleh inovasi dari penelitian yang dilakukan teman sejawat dan bagi diknas dapat memberikan masukan pengambilan kebijakan karena berbagai kelemahan yang ada dilapangan dapat terekam dalam penelitian tindakan kelaas yang ditulis oleh guru.
Namun perlu saya garis bawahi, penelitian tindakan kelas ini hanya sebagai salah satu contoh penulisan atau penelitian yang dapat dilakukan oleh guru. Sebenarnya faktor utama seseorang untuk dapat mewujudkan tulisannya adalah kemauan bukan kemampuan. Bahan yang dapat dijadikan ajang untuk menulis bagi guru banyak sekali. Guru dapat menulis Modul pembelajaran yang secara tidak langsung dapat disempurnakan oleh siswa melalui pemakaian sehari-hari, semakin sering dipakai semakin jelas kejanggalan-kejanggalan yang dapat disempurnakan.

Dari Modul dilengkapi dengan LKS( Lembar kerja Sisa) sehingga soal-soal yang disajikan sesuai dengan bahan ajar yang disampaikan.Selain itu perilaku-perilaku iswa yang unik yang setiap tahun mempunyai warna tersendiri dapat ditulis dalam bentuk cerpen. Maka tidak ada alasan bagi guru sebetulnya untuk tidak mempunyai bahan dalam menulis selama masih ada kemauan.Akhir kata semoga harapan Agupena dapat terwujud memunculkan calon-calon penulis yang selama ini takut dan enggan nulis . Siapa yang mau membaca tulisan orang tak dikenal pikirnya itulah pengalaman penulis.(hernanispdmm@yahoo.com)

Hj. Hernani, S. Pd. MM
___________________
Guru SMA Negeri 1 Bobotsari Purbalingga, Pengurus Agupena Cabang Purbalingga.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

0 komentar terhadap “Mendongkrak Prestasi, Mengelola Emosi”

Komentar Anda?

CommentLuv Enabled

«
»
Subscribe IP